Anda di halaman 1dari 13

PERANCANGAN SIMULASI JARINGAN KOMPUTER IPv6 DI ATAS IPv4 DENGAN METODE TEREDO TUNNELING

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan teknologi jaringan komputer dewasa ini semakin pesat seiring dengan kebutuhan masyarakat akan layanan yang memanfaatkan jaringan komputer. Pada sistem jaringan komputer, protocol merupakan suatu bagian yang paling penting. Protokol jaringan yang umum digunakan adalah IPv4. Akan tetapi protocol jaringan yang telah berumur lebih dari 20 tahun ini masih terdapat beberapa kekurangan dalam menangani jumlah komputer dalam suatu jaringan yang semakin kompleks. Sekarang telah dikembangkan protokol jaringan baru, yaitu IPv6 yang merupakan solusi dari masalah diatas. IPv6 adalah solusi satu-satunya krisis alokasi IPv4. IPv6 memiliki banyak kelebihan seperti kemanan, kemampuan konfigurasi dan automatic routing serta jumlah pengalamatan yang mencapai 2128, setara dengan setiap inci permukaan bumi. Jauh lebih banyak dari IPv4 yang hanya sejumlah 4 Milyar. Melihat kondisi ini, penulis merasa perlu untuk memperdalam pengetahuan serta praktek tentang hal ini, terutama konfigurasi jaringan IPv6 dan topologinya dan menyusunnya menjadi suatu petunjuk yang akan dipraktekkan oleh mahasiswa teknik elektro sub jurusan informatika dan komputer dalam mata kuliah jaringan komputer.

2. Tujuan Mengetahui lebih jauh tentang konfigurasi dan topologi IPv6 yang merupakan hal penting untuk masa depan jaringan komputer, selain itu juga dapat dipelajari oleh mahasiswa lain sebagai suatu petunjuk dalam pembelajaran dan praktikum jaringan komputer.

3.

Pembatasan Masalah Penulisan laporan kerja praktek dibatasi pada pengkonfigurasian simulasi jaringan IPv6 sederhana dengan metode teredo tunneling, menggunakan Linux sebagai sistem operasi, hanya menggunakan jaringan lokal, dan tidak mengimplementasikan pada seluruh jaringan universitas serta perbandingannya dengan jaringan IPv4.

B. DASAR TEORI 1. Jaringan Komputer Jaringan adalah dua atau lebih computer yang dihubungkan secara fisik melalui sebuah media penghubung dan di antara keduanya terjadi interaksi.

2. IP Address IP address yang akan dibahas disini adalah IP versi 4 dan IP versi 6, IP address versi 4 terdiri dari 32 bit angka biner yangdapat ditulis dalam empat kelompok terdiri atas 8 bit (oktet) dengan dipisah oleh tanda titik. Contohnya adalah seperti berikut ini: 11000000.00010000.00001010.00000001 atau dapat juga ditulis dalam bentuk empat kelompok angka desimal (0255) seperti contoh berikut : 192.16.10.1 atau secara simbolik dapat ditulis sebagai 4 kelompok angka sebagai berikut : w.x.y.z IP Address terdiri dari 2 bagian yaitu network ID dan host ID, dimana network ID menentukan alamat dari jaringan dan host ID menentukan dari peralatan jaringan. Oleh karena itu IP address memberikan alamat lengkap dari suatu peralatan jaringan beserta alamat

jaringan dimana peralatan itu berada. Ini sama ibaratnya dengan pemberian alamat rumah dimana tempat tinggal kita berada. Dalam contoh ini, alamat jaringan (network ID) yang sering juga disebut network address adalah 192.16.10.0 yang merupakan nama jalan. Sedangkan alamat lengkap atau IP address dari masing-masing server dan workstation 192.168.10.4. Berapa kelompok angka yang termasuk network ID dan berapa yang termasuk host ID, bergantung kepada kelas dari IP address yang dipakai. Untuk mempermudah pemakaian, bergantung pada kebutuhan si pemakai. Oleh sebab itu IP address dibagidalam tiga kelas seperti tampak pada table berikut : adalah 192.16.10.1, 192.16.10.2, 192.168.10.3, dan

Untuk menandai kelas satu dengan kelas yang lain, maka dibuat beberapa peraturan bagai berikut : o Oktet pertama dari kelas A harus dimulai dengan angka biner 0. o Oktet pertama dari kelas B harus dimulai dengan angka biner 10. o Oktet pertama dari kelas C harus dimulai dengan angka biner 110. Oleh sebab itu, IP address dari masing-masing kelas harus dimulai dengan angka desimal tertentu pada oktet pertama, seperti terlihat pada Tabel berikut ini :

Disamping itu ada beberapa peraturan yang harus diketahui yaitu : o Angka 127 dioktet pertama digunakan untuk loopback o Network ID tidak boleh semuanya terdiri dari angka 0 atau 1 o Host ID tidak boleh semuanya terdiri dari angka 0 atau 1 Agar jaringan dapat mengetahui kelas mana yang dipakai oleh IP address, dipergunakan default subnet mask. setiap IP address default dari subnet mask. default subnet Angka desimal 255 atau bahwa harus biner oktet

memiliki 11111111

mask menandakan

yang bersangkutan dari IP address adalah untuk network ID. Sedangkan angka desimal 0 atau biner 00000000 dari default subnet mask menandakan untuk host ID. Contoh : 1. IP address 25.20.5.31 Default subnet mask 255.0.0.0 Berada dikelas A 2. IP address 172.20.5.31 Default subnet mask 255.255.0.0 Berada dikelas B 3. IP address 195.20.5.31 Default subnet mask 255.255.255.0 Berada dikeasl C Penulisan Alamat pada IPv6 Salah satu kelebihan yang dimiliki IPv6 adalah ruang alamat IP yang lebih besar dari pendahulunya, IPv4. Alamat IPv4 yang bahwa oktet yang bersangkutan dari IP address adalah

terdiri dari 32 bit hanya mampu menyediakan sebanyak 232 ( 4,3x109) alamat, sementara alamat IPv6 terdiri dari 128 bit sehingga mampu menyediakan sebanyak 2128 ( 3,4x1038) alamat.

Jumlah tersebut 296 kali lebih banyak dari yang dapat disediakan oleh IPv4. Dengan jumlah alamat IPv6 tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan alamat IP di masa depan.

Penulisan

alamat

IPv6

memiliki format yang berbeda

dengan alamat IPv4. Alamat IPv4 terdiri atas 32 bit biner ditulis dalam 4 oktet masing-masing 8 bit, dimana antar oktet dipisahkan dengan notasi titik (.). Setiap oktet nantinya diterjemahkan menjadi bilangan desimal dengan nilai 0-255. Contoh penulisan alamat IPv4 adalah seperti berikut ini.

Alamat IPv6 terdiri atas 128 bit biner ditulis dalam 8 blok masing-masing 16 bit, dimana antar blok dipisahkan dengan menjadi 4 bit

notasi colon (:). Tiap blok nantinya diterjemahkan bilangan heksadesimal dengan dapat dituliskan beberapa blok dengan

nilai antara 0000-FFFF. Untuk 0 saja, sedangkan untuk

memudahkan penulisan angka 0 maka blok yang bernilai 0000 sebuah

yang bernilai 0 berurutan

penulisannya dapat

digantikan dengan notasi dual colon (::). Notasi dual colon hanya boleh dituliskan satu kali pada setiap alamat IPv6. Contoh penulisan alamat IPv6 adalah seperti berikut ini.

Bentuk tersebut dapat disederhanakan menjadi

Selain penulisan alamat yang berbeda dengan IPv4, metode pengalamatan pada pengalamatan tidak IPv6 juga mengalami perubahan. Metode pada IPv4

broadcast

yang umum

digunakan

lagi digunakan pada IPv6. Metode broadcast mengirimkan

duplikasi paket ke seluruh jaringan yang berada dalam satu broadcast domain atau disebut broadcast storm. Hal ini dapat menurunkan

kinerja. jaringan secara keseluruhan sehingga dianggap tidak efisien. Oleh karenanya pada yang IPv6 digunakan 3 metode pengalamatan berbeda yaitu unicast, multicast dan

untuk kebutuhan anycast. Kelas IPv6

Ada beberapa kelas IPv6 yang penting yaitu : 1. Aggregatable Global Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit awal 001. 2. Link-Local Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit awal 1111 1110 10. 3. Site-Local Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat dengan bit awal 1111 1110 11. 4. Multicast Addresses : termasuk di dalamnya IPv6 dengan bit awal 1111 1111 Mekanisme Transisi IPv6 Bermacam-macam memudahkan teknologi telah tersedia untuk adalah alamat

proses transisi dari IPv4 ke IPv6. Secara garis besar,

teknologi-teknologi tersebut dibagi menjadi tiga metode, yaitu dual-stack, translation, dan tunneling Teredo Tunneling Teredo merupakan protokol tunneling yang didesain untuk memberikan konektivitas IPv6 ke node yang berada di belakang divais NAT. Teredo bekerja dengan cara mengenkapsulasi paket

IPv6 ke dalam datagram UDP IPv4 sehingga dapat menembus divais NAT yang berada pada internet IPv4. Teredo hanya merupakan solusi transisi sementara dan opsi terakhir bila divais tidak mendukung

metode tunneling lainnya seperti ISATAP, 6to4 maupun 6over4. Dalam jangka panjang, seluruh host IPv6 akan menggunakan

koneksi jaringan IPv6 yang sebenarnya, perlahan-lahan Teredo akan ditinggalkan. NAT (NETWORK ADDRESS TRANSLATION) NAT jaringan Router memungkinkan alamat IP lokal/private pada

private terhubung ke jaringan publik seperti Internet. NAT ditempatkan seperti di antara jaringan lokal dan jaringan yang memisahkan keduanya,

publik berfungsi

jembatan

NAT mentranslasikan alamat IP lokal/internal menjadi alamat IP global yang unik sebelum mengirimkan paket ke jaringan luar

seperti Internet. Untuk menjalankan NAT, dibutuhkan sebuah divais (firewall, computer, atau router). Jaringan internal umumnya berupa LAN (Local Area Network), biasanya dirujuk sebagai stub domain.

C. KONFIGURASI JARINGAN TEREDO 1. KONFIGURASI PADA TEREDO HOST IPv4 Konfigurasi yang dilakukan pada PC1 atau PC Teredo host dengan Ipv4 yang telah adalah: a. ifconfig eth0 up b. ifconfig eth0 inet 192.168.0.5 netmask 255.255.255.0 c. route add default gw 192.168.0.1 d. /etc/init.d/miredo restart Keterangan: a. Meng-up kan device eth0 atau mengaktifkan device eth0 b. Memberikan 255.255.255.0 c. Menambahkan gateway ke 192.168.0.1 d. Merestart service miredo Dan konfigurasi teredo-clientnya adalah: Pada file /etc/miredo.conf InterfaceName teredo perangkat eth0 ip 192.168.0.5 dengan subnet di install paket miredo client melaui shell linux

ServerAddress 167.205.0.2 ServerAddress2 167.205.0.3 BindPort 3545 Keterangan : InterfaceName teredo memberikan nama interface yaitu teredo ServerAddress 167.205.0.2 167.205.0.2 ServerAddress2 167.205.0.3 BindPort 3545 mensetting Bind port ke 3545 2. KONFIGURASI PADA TEREDO-NAT Konfigurasi yang dilakukan pada PC2 atau PC Teredo-nat dengan melaui shell linux adalah: a. ifconfig eth2 up b. ifconfig eth0 up c. ifconfig eth2 inet 192.168.0.1 netmask 255.255.255.0 d. ifconfig eth0 inet 167.205.0.1 netmask 255.255.255.0 e. echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward f. route add net 202.154.0.0 netmask 255.255.255.0 gw 167.205.0.3 memberikan alamat server kedua memberikan alamat server pertama

167.205.0.2 g. iptables t nat A POSTROUTING o eth2 j MASQUERADE h. iptables t nat A PREROUTING i eth2 j DNAT -to-destination 192.168.0.5 Keterangan : a. Meng-upkan device eth2 b. Meng-upkan device eth0 c. Memberikan 255.255.255.0 d. Memberikan 255.255.255.0 perangkat eth0 ip 167.205.0.1 dengan subnet perangkat eth2 ip 192.168.0.1 dengan subnet

e. Men-setting agar nat mem-forward dengan ipv4 yang lewat melalui nat. f. Menambah route net dengan ip lewat gateway 16.205.0.2

paket

dari

setiap perangkat

201.154.0.0

subnet 255.255.255.0

g. Perintah Masquerade untuk ethernet lokal dalam hal ini eth2 h. Perintah iptables memberikan perintah agar setiap paket yang

menuju eth2 akan diteruskan ke IP 192.168.0.5 3. KONFIGURASI PADA TEREDO-RELAY Konfigurasi yang dilakukan pada PC3 atau PC Teredo-relay dengan melaui shell linux adalah: a. 1ifconfig eth1 up b. 2ifconfig eth0 up c. 3ifconfig eth1 inet6 add 2001:d::2/64 d. ifconfig eth0 inet 167.205.0.2 netmask 255.255.255.0 e. ifconfig eth0:0 inet 167.205.0.3 netmask 255.255.255.0 f. echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward g. echo 1 > /proc/sys/net/ipv6/conf/all/forwarding h. /etc/init.d/miredo restart i. /etc/init.d/miredo-server restart Keterangan : a. 1Mengaktifkan device eth1 b. 2Mengaktifkan device eth0 c. 3Memberikan ipv6 2001:d::2 dengan subnet /64 pada device eth1 d. Memberikan device eth0 e. Memberikan device eth0:0 f. Men-setting agar relay mem-forward paket dari setiap ip 167.205.0.3 dengan subnet 255.255.255.0 pada ip 167.205.0.2 dengan subnet 255.255.255.0 pada

perangkat dengan ipv4 yang lewat melalui relay g. Men-setting agar relay mem-forward paket dari setiap

perangkat dengan ipv6 yang lewat melalui relay.

h. Merestart service miredo i. Merestart service miredo-server Dan konfigurasi teredo-relaynya adalah: Pada file /etc/miredo.conf RelayType relay InterfaceName teredo BindPort 2545 BindAddress 167.205.0.2 Keterangan : RelayType relay memberikan nama type relay yaitu relay InterfaceName teredo memberikan nama interface yaitu teredo BindPort 2545 mensetting Bind port ke 2545 BindAddress 167.205.0.2 Dan konfigurasi teredo-servernya adalah: Pada file /etc/miredo-server.conf ServerBindAddress 167.205.0.2 ServerBindAddress2 167.205.0.3 Prefix 2001:0:: InterfaceMTU 1280 Keterangan : ServerBindAddress 167.205.0.2 ServerBindAddress2 167.205.0.3 Prefix 2001:0:: Menset prefix IPv6 menjadi 2001:0:: InterfaceMTU 1280 Menset Interface MTU yaitu 1280 4. KONFIGURASI PADA SERVER IPv6 Konfigurasi yang dilakukan pada PC4 atau PC server dengan ipv6 melaui shell linux adalah: a. 1ifconfig eth0 up 167.205.0.3 mensetting BindAddress ke 167.205.0.2 mensetting BindAddress ke 167.205.0.2 mensetting BindAddress ke

b. 2ifconfig eth0 inet6 add 2001:d::5/64 c. 3route A inet6 add default gw 2001:d::2 Keterangan : a. Mengaktifkan device eth0 b. Memberikan device eth0 ipv6 2001:d::5/64 c. Memberikan gateway komputer ke 2001:d::2

D. HASIL PERCOBAAN

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa PC1 yang merupakan host dengan ipv4 dapat melakukan ping ke server ipv6 dengan menggunakan perintah ping6 ke ip server ipv6.

E. KESIMPULAN Setelah melakukan Kerja Praktek selama satu bulan di

Laboraturium komputer dan informatika, maka Penulis dapat beberapa kesimpulan, yaitu:

mengambil

1. Hubungan jaringan dengan IP address berbeda diperlukan router. 2. IPv6 dapat menyediakan lebih banyak alamat IP daripada IPv4. 3. Hubungan jaringan IPv4 dan jaringan IPv6 diperlukan beberapa

metode yaitu dual-stack, translation, dan tunneling. 4. Penggunaan metode tunneling teredo maka dapat dibuat tunnel bagi

node IPv6 di atas jaringan IPv4 yang menggunakan topologi NAT.

5. Teredo

tunneling

membutuhkan teredo client, teredo server dan NAT

dalam topologi yang diimplementasikan. 6. Sistem Operasi linux juga bisa dijadikan router yaitu dengan

menambahkan

routing, mengaktifkan IP forward dan jika diperlukan

menggunakan IP tables untuk membuat NAT nya. 7. Sistem Operasi linux juga bisa dijadikan teredo-relay dan teredomiredo, mengaktifkan IP

server yaitu dengan menambahkan paket

forward dan men-setting miredo relay dan miredo servernya. 8. Teredo relay yang digunakan sebenarnya difungsikan dari 4 node yaitu dua buah router, teredo-server, dan teredo-relay tersendiri. 9. Simulasi ini membutuhkan empat buah PC yang masing-masing

berfungsi sebagai client dengan IPv4, teredo-relay, NAT, dan server dengan IPv6 10. Dalam simulasi ini client IPv4 berhasil mengakses server IPv6

menggunakan topologi tunneling teredo.

DAFTAR PUSTAKA J. D. Houle, et. al. "The Evolving Internet - Traffic, Engineering, and Roles" University of Michigan, 2007 A. Godbole. "Data Communication and Technologies, 2003 Networks". Mumbai: Apar

T. LamLe. "CCNA Cisco Certified Network Associate". Jakarta: Elex Media Komputindo, 2005 Yunhe Zhang, et. al., "Session-based Tunnel Scheduling Model in Multi-link Aggregate IPSec VPN" in Third International Conference on Multimedia and Ubiquitous Engineering, 2009 Made, I.A, Simulasi dan Implementasi IPv6 Multicast untuk Jaringan Inherent, Skripsi-S1, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2008 R. Hinden, and S. Deering. IPv6 Addressing 2003 Architecture. RFC 3513, April

Rahmat Rafiudin. IPv6 Addressing. Jakarta : Gramedia, 2005

Shang-Ming Huang, Quincy Wu, Yi-Bing Lin. "Tunneling IPv6 through NAT with Teredo Mechanism". 19th International Conference on Adnvanced Information Networking and Applications, 2005 Thomas Hoeher, Martin Petraschek and Slobodanka Tomic. "Performance Evaluation of SIPv6 Transitioning".International Multi-Conference on Computing in the Global Information Technology, 2007