Anda di halaman 1dari 2

STEREOTIPE DAN PRASANGKA

Stereotipe

merupakan

suatu

kesimpulan

yang

ditarik

dari

penempatan seseorang ke dalam kategori tertentu. Implikasi proses stereotipe ada pada prasangka. Stereotipe dapat memiliki sifat positif, negative, ataupun netral.

Dari mana stereotipe berasal? Stereotipe berasal dari gambaran gambaran yang ada di kepala kita. Gambaran-gambaran tersebut berasal dari kebudayaan di mana mereka manusia tersebut di besarkan dan di mana dia tinggal. Dan bahwa manusia disampaikan dan direproduksi dengan segala macam cara yang bersifat sosio-kultural, melalui sosialisasi dalam keluarga dan di sekolah, melalui gambar yang di tayangkan berulang kali di buku, televise dan surat kabar. Menurut Allport, gambaran tersebut diatas merupakan sumber potensial sterotipe prejudicial, atau dengan kata lain stereotype yang mengandung prasangka. Sebenarnya, dalam penentuan suatu sifat stereotype kita harus tetap bersikap terbuka terhadap kemungkinan bahwa, paling tidak sebagian perubahan stereotype yang di rekam oleh teknik-teknik yang relatif sederhana ini disebabkan oleh faktor-faktor kehendak social dan bukan oleh keberadaan perubahan sikap yang telah diinternalisasikan. Asal mula stereotype mengacu pada suatu representasi atau gambaran yang berlebihan berbagai kelompok pada peran-peran social tertentu. Stereotype juga berakar pada jaring hubungan social antar kelompok dan tidak tumbuh sendirian namun, tumbuh dari sistem kognitif kita yang bekerja.

Dari mana Prasangka berasal?? Prasangka berasal dari suatu aspek realitas social tertentu. Jadi, setiap stereotype terhadap kelompok-kelompok luar tertentu secara objektif tidak berarti langsung dapat dianggap benar karena, mendeskripsikan karakteristik kelompok tersebut secara akurat.

Stereotipe sebagai korelasi khayalan Efek korelasi khayalan dapat berlaku baik pada atribut-atribut atau objek positif maupun negative. Di kehidupan nyata, orang-orang tidak merupakan pengamat terpisah yang mencatat dan mengingat kembali informasi tentang kelompok dan mereka justru menjadi bagian dari salah satu dari kelompok yang dimaksud. Besarnya korelasi yang dipersepsi subjek dapat di prediksikan terlalu tinggi akibat tindakan eksperimental sederhana seperti, menempatkan suatu subjek pada salah satu di antara dua kelompok dan membuat variasi pada frekuensi relative dari atribut yang baik dan kurang baik. Jadi, intinya rangsangan afektif berupa positif maupun negatif, dinilai mungkin mampu menghambat keterbentukan sterotipe yang di dasakan pada bias pemrosesan kejadian atau informasi yang frekuensinya berbeda. Begitu sebuah stereotype terbentuk maka, suasana hati yang baik atau buruk bisa meningkatkan kecenderungan untuk menggunakannya. Korelasi khayalan disebabkan oleh bias psikologis tertentu dalam menilai stimuli yang mudah di tengarai, baik pada tingkat perhatian awal maupun pada proses mengingatnya kembali. Menurut Fiedler, Fenomenon korelasi khayalan dapat dilacak secara lebih persuasive pada property-properti statistik seperti table kontingensi condong dari pada keunikan psikologis yang jarang.