Anda di halaman 1dari 12

1

PENGEMBANGAN DAN PENGUATAN AGROFORESTRI BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


(Diabstraksikan oleh soemarno, fpub 2009) 1. PENGELOLAAN HUTAN BERWAWASAN AGROFORESTRY

Program pengelolaan hutan yang dilakukan pemerintah selama ini dilakukan bedasarkan asumsi bahwa hutan merupakan kekayaan alam yang harus diarahkan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan tetap menjaga kelestarian dan kelangsungan funsi hutan. Dalam usaha itu pelestarian sumberdaya alam merupakan kegiatan utama juga memelihara tataguna air, memperluas lapangan pekerjaan juga untuk meningkatkan sumber pendapatan negara. Dalam pengelolaan itu peran pemerintah dan masyarakat sekitar hutan sangat strategis sebagai obyek utama dalam pengelolaan hutan. Selain itu peningkatan pengusahaan hutan produksi, hutan tanaman produksi serta hutan alam juga harus dilakukan untuk meningkatkan produksi hutan. Hutan rakyat juga dikembangkan melalui penyediaan bibit bagi hutan yang baru dipanen juga pengamanan arus kayu dan penjagaan keharusan melakukan reboisasi bagi perusahaan dan rakyat apabila melakukan pengambilan terhadap hasil hutan. Seluruh pengusahaan hutan tersebut harus di arahkan untuk mencegah kerusakan hutan dan pengelolaan yang lestari terhadap hutan. Selain asumsi bahwa hutan harus dikelola untuk kemakmuran, hutan juga harus dikelola sebagai bagian yang integral dari ekosistem. Pengelolaan harus mampu untuk menjaga fungsi tanah, air, udara, iklim, dan lingkungan hidup. Setiap perubahan fungsi kawasan hutan harus diikuti dengan pengalihan fungsi lain agar hutan tetap lestari. Keseimbangan alampun tidak akan mengalami perubahan sehingga tidak mengganggu kehidupan masyarakat. Dengan kondisi itu maka plasma nuftah sebagai kekayaan lama yang tidak ternilai harganya selain fungsi lain dapat terjaga. Selain itu dalam pengelolaan hutan pemerintah juga mengasumsikan bahwa kondisi hutan kita saat ini perlu untuk segera ditangani apabila tidak ingin semakin rusak. Mendangkalnya banyak waduk dan semakin banyaknya lahan kritis merupakan fenomena actual yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu berbagai usaha perlu untuk segera dilakukan untuk melakukan konservasi terhadap lahan, hutan rawa, hutan alam, penataan DAS serta penyelamatan sumber sumber air alam dengan melakukan reboisasi pada daerah hulu sungai dan daerah sekitar sungai. Pemerintah selama ini juga menganggap bahwa pengelolaan hutan untuk kepentingan pembangunan harus selalu di sesuaikan dengan daya dukung sumberdaya alam yang ada. Diversifikasi hasil hutan dengan mengusahakan jenis tanaman hutan baru dan kompetitif serta berharga baik di dunia perlu dilakukan. Selain itu pengolahan kayu bagi ekspor sangat diperlukan agar ada nilai tambah. Ekspor kayu gelondongan tanpa sentuhan pengolahan terbukti sangat besar kerugian potensial yang kita dapatkan. Oleh karena itu pengelolaan hutan perlu didukung oleh analisis yang baik tentang kemampuan lahan dan melakukan sentuha teknologi pada hasil hutan agar memiliki daya saing tinggi dan nilai tambah. Pengelolaan hutan dengan mengikutkan masyarakat sekitar hutan tidak akan pernah berhasil apabila tidak didukung oleh pemahaman yang benar tentang fungsi dan peranan hutan bagi kehidupan. Program pendidikan untuk masyarakat menjadi sangat penting dilakukan guna meningkatkan kualitas dan empati masyarakat akan pentingnya fungsi hutan. Pada sisi lain kemapuan teknis pemerintah dan masyarakat dalam mengelola hutan juga perlu ditingkatkan. Selain itu perangkat hukum dan penegakan hukum perlu diwujudkan dalam mengawal pengelolaan hutan. Hal menarik yang perlu kita lihat adalah asumsi tentang kesia-siaanprogram apapun dalam mengusahakan hutan apabila tidak melibatkan penuh peran penduduk sekitar hutan. Meski kesadaran itu telah ada dan tercantum dalam tiap perencanaan akan tetapi hingga saat ini kita tidak pernah menemui bentuk yang ideal pada keikutsertaan masyarakat. Kedepan peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan tidak hanya memperbesar akses mereka kepada hutan

saja seperti yang dilakukan dalam pembinaan masyarakat hutan saat ini namun lebih pada pemberian peran pada penduduk bahwa hutan adalah milik mereka sehingga harus dijaga dan dibudidayakan bersama. Melihat kondisi demikian, maka pemerintah dalam pengelolaan hutan telah mencoba melibatkan masyarakat di sekitar hutan secara aktif sebagai mitra kerja untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui kegiatan : tumpangsari, subsidi temak dan pembinaan industri rumah tangga. Program pembinaan masyarakat pedesaan di sekitar butan yang telah dilaksanakan selama ini meskipun telah berhasil memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani di sekitar masyarakat pedesaan, akan tetapi masih banyak kekurangan dan masih belum mampu mengangkat masyarakat miskin. Sampai saat ini dalam pengelolaan hutan banyak dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat sekitar hutan. Pada dasarya masalah yang dihadapi di desa-desa dekat hutan tidak banyak berbeda dengan masalah di desa-desa lainnya di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura. Perum Perhutani (1995) mengemukakan beberapa permasalahan desa-desa yang berada di sekitar wilayah hutan adalah : kondisi lahan pertanian yang marginal; kurangnya lapangan pekerjaan dan terbatasnya keterampilan. Kondisi yang demikian tersebut menyebabkan rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat dan mendorong masyarakat untuk ekspansi ke dalam hutan secara tidak bertanggung jawab dalam bentuk pencurian kayu. Sedangkan Hadi Pumomo (1985) mengemukakan permasalahan di daerah pedesaan yang berbatasan dengan hutan (dengan mengambil kasus di DAS Konto) sebagal berikut : (1) Tanah subur akan tetapi sangat peka terhadap erosi ,(2) Topografi berbukit dengan lereng gunung yang curam dan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga faktor penyebab erosi sangat tinggi. (3) Angka pemilikan tanah sangat kecil. Sekalipun tanah subur tetapi belum mencukupi kebutuhan hidup petani. Kehadiran hutan yang relatif luas menimbulkan kecenderungan untuk berekspansi ke dalam hutan secara ilegal dalam bentuk pencurian kayu dan hasil hutan lainnya. Masalah yang selalu dihadapi Perum Perhutani dalam mengelola hutan di Pulau Jawa dan Madura antara lain kerusakan hutan yang disebabkan oleh pencurian kayu. Tingkat kerusakan hutan akibat pencurian kayu ini, disinyalir oleh Menteri Kehutanan akibat adanya kemiskinan masyarakat pedesaan di sekitar hutan. Sehingga untuk mengurangi tingkat kerusakan hutan harus diupayakan pengurangan kemiskinan. Nilai kerugian akibat pencurian kayu cukup besar, sebagai contoh yang terjadi di Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bojonegoro menunjukkan tingkat kerugian pada tahun 1991 sebesar Rp. 101.179.000,- dan pada tahun 1995 meningkat menjadi Rp. 141.982.790,Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, Perum Perhutani melibatkan masyarakat di sekitar hutan secara aktif sebagai mitra kerja untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melaui kegiatan : tumpangsari; subsidi temak dan pembinaan industri rumah tangga. Upaya yang dilakukan Perum Perhutani tersebut di kenal dengan istilah Prosperity Approach yang kemudian dikembangkan menjadi program Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) pada tahun 1982. PMDH disini adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk dan berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah hutan dalam rangka keberhasilan pembangunan perhutanan. Program ini meliputi kegiatan di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan berupa perbaikan biofisik pedesaan, peningkatan pendapatan, keterampilan dan pengetahuan masyarakat melalul berbagai penyuluhan dan pelatihan (Bratamihada, 1990). Komponen PMDH terdiri dari program perhutanan sosial dan program bantuan teknis, ekonomi. Program perhutanan sosial meliputi program agroforestry Hasil penelitian Universitas Brawijaya (1996) ditemukan beberapa kelemahan program Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) yang dilaksanakan Perum Perhutani sebagai berikut: (1) Sistem agroforestry yang ada pada saat ini belum layak secara sosial ekonomi, (2) Bantuan sosial ekonomi yang dilaksanakan pada saat ini belum efektif menyentuh kelompok sasaran, (3) Dalam mengelola program PMDH, Perum Perhutani masih bekerja sendirian (one man show) belum dapat bekerja sama secara terintegrasi dengan lembaga (instansi sektoral) yang lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Novita Lestanti (1998) di KPH Bojonegoro menunjukkan bahwa program PMDH masih menunjukkan beberapa kelemahan antara lain : (1) usahatani tanaman pangan di kawasan hutan, dengan memperhitungkan secara perusahaan temyata tidak efisien; (2) penggunaan faktor-faktor produksi belum mencapai tingkat optimal;

(3) sistem pemasaran komoditas pangan belum effisien hal ini ditunjukkan dengan distribusi margin yang belum merata; (4) infonnasi harga di tingkat konsumen belum ditransmisikan sepenuhnya kepada petani produsen. Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang dikemukakan diatas, dalam usaha meningkatkan secara maksimal kegiatan pembinaan masyarakat di sekitar hutan, diperlukan suatu kegiatan penelitian dan percontohan yang berkelanjutan untuk menghasilkan hutan yang produktif, lestari serta mampu memberdayakan masayarakat di sekitar hutan. Sejalan dengan terjadinya pergeseran paradigma pembangunan ke arah demokratisasi ekonomi serta adanya krisis ekonomi, dilain pihak banyaknya jumlah penduduk miskin di kawasan hutan, telah menimbulkan kesan dan pergeseran penilaian masyarakat di sekitar hutan bahwa pengelolaan hutan bersifat footlose industry (tidak berdampak ekonomi pada wilayah disekitarnya). Akibatnya apabila tidak ada upaya -upaya mengantisipasinya, maka dalam jangka panjang menimbulkan permasalahan pokok yakni: kerusakan hutan; tingkat erosi yang cukup tinggi dan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan. Secara konseptual hubungan antara pemerintah dan desa hutan dalam manajemen hutan dapat dilihat dalam bagan berikut : Decisions - where - when - who - what trees crops - how spasing - soil management Maintenance Protection - Crops - Animals - Non timbers Tree products + timbers

Environmental impact, soil & water conser.

Konsep agroforestry sebagai bagian dari konsep penguhatan sosial secara umum dijelaskan dalam frame work untuk analisis strategi sosial forestry ( K.F. Wiersum, 1994 ) sebagai berikut :

Frame Work Untuk Analisis Strategi Sosial Forestry ( K.F. Wiersum, 1994 )

Planting Harvesting

4 COMMUNITY

Objective FOREST for lokal Organitation MANAGEME forest of decisionNT managemen MANAGEMENT making and t CHARACTERISTIC Forest control direct management household practices presence of input into controlled different agricultural utilization groups of and protection & lokal livestock maintenance management production purposeful organization prosesses Objective of regeneration organizational sourse of rules interventions Provision of income and norm and improved forest external employment values management input cultural and Institutional according to technical improved land religious reajudsmens which asisten productivity values organizatio extension improved n tenure system operate finantial employment and legal codes intensive income land-use marketing policies produces basic cooperative forestry and need provision of other increase selfaccses to exstesion ( forest ) reliance services land emancipation of NATURE OF underprivileged INTERVENTION

groups SOCIAL FORESTRY INTERVENTIONS

2. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Hutan Usaha untuk mengembangkan hutan pada masa datang mendapat tantangan sejalan dengan tuntutan paradigma baru yang berkaitan dengan : (a) efisiensi pengelolan hutan dan kelestarian sumberdaya, (b) tuntutan otonomi daerah, (d) dan tuntutan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu dalam manajemen pengelolaan hutan ada tiga pihak yang terkait, yakni pihak Perum Perhutani selaku pengelolaan hutan khususnya dijawa, pemerintah daerah, serta masyarakat di kawasan hutan. Pihak pengelola hutan berkeinginan untuk meningkatkan efisiensi usahanya serta tetap terjaga kelestariannya baik secara alami maupun terjaga dari pencurian oleh masyarakat di sekitar hutan. Dari sisi masyarakat di sekitar hutan adanya hutan mempunyai harapan untuk tumpuan mencari pekerjaan ssehingga mampu memperbaiki keadaan sosial ekonominya, sedangkan dari sisi pemerintah daerah mempunyai harapan agar pengelolaan hutan berdampak terhadap pembangunan pedesaan di kawasan hutan. Dari permasalahan yang ada dan besarnya fungsi hutan bagi masyarakat maka model pengelolaan hutan secara kemitraan yang mampu menjawab tantangan paradigma baru yakni: efisiensi pengelolaan dan kelestarian sumberdaya dengan lebih memberdayakan masyarakat sekitar hutan sekaligus berdampak terhadap pembangunan wilayah disekitar hutan. Rancangan model pengelolaan hutan harus mempunyai manfaat sebagai berikut : bagi Pemerintah/Perhutani : (1) meningkatkan efesiensi pengelolaan hutan oleh Perhutani, (2) memperbaiki dan mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan, (3.) memperkecil resiko pencurian hutan. Bagi Masyarakat manfaat yang diperoleh adalah : (1) memperluas lapangan kerja masyarakat, (2) meningkatkan pendapatan masyarakat Sedangkan manfaat bagi pemerintah daerah setempat adalah : (1) menumbuhkan per-ekonomian wilayah, dan (2) menumbuhkan rasa memiliki hutan dari masyarakat. Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai ekternalitas lingkungan, apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara hati-hati maka akan menimbulkan kerusakan lingkungan (air, tanah, dan udara). Sehingga dengan demikian sumberdaya hutan tergolong public investment dimana pengelolaannya tidak saja dirorientasikan meningkatkan produksi hasil hutan tetapi harus dirorientasikan untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Kenyataan ini membawa konsekuensi pengelolaannya harus dilakukan oleh pemerintah (diawasi pemerintah) yang ditujukan tidak saja pada inter generasi namun juga antar generasi. Kebijakan ini ditempuh dimana pengelolaan hutan di Jawa diserahkan pada perusahaan negara Perhutani sedangkan di luar Jawa melalui Inhutani. Berdasarkan pendekatan diatas, maka ada empat kosep yang perlu diperhatikan dalam perumusan model pengelolaan hutan yang memberdayakan masyarakat dan wilayah, yakni: (1) pengelolaan hutan dengan model agroforestry melalui sistem mixed farming, (2) pengembangan agribisnis, (3) pengembangan aktifitas off farm, dan (4) pembangunan pedesaan. Secara rinci keempat aspek tersebut diuraikan sebagai berikut Apabilala konsep agroforestry diterima sebagai sistem pengelolaan hutan, maka perlu dirumuskan kebijaksanaan dasar pengelolaan hutan yang dapat menunjang keberhasilan konsep tersebut. Agus Pakpahan dan Erwidodo (1981) mengemukakan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan kebijaksanaan sistem perhutanan adalah : (1) Pola pengusahaan hutan perlu dikaitkan dengan pola pengembangan wilayah terutama dengan industri dan pasar, (2)Tujuan pengusahaan hutan yang berasaskan basil yang maksimurn dan lestari perlu diperluas dengan memasukkan suatu prinsip maksimisasi kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat, (3)Tujuan pengusahaan hutan perlu memasukkan asas maksimisasi lingkungan hidup. Secara teoritis pembangunan masyarakat pedesaan di sekitar hutan, merupakan subsistem dari pembangunan desa. Mosher dalam bukunya Thinking About Rural Development (1976) mengemukakan bahwa kegiatan esssensial yang harus ditangani yaitu:(1) Program yang berkaitan dengan pertanian meliputi : (a) penyediaan pasar untuk memasarkan hasil produksi pertanian, (b) penyediaan fasilitas pelayanan kebutuhan sarana produksi pertanian, (c) penyediaan fasilitas kredit pertanian, (d) pengadaan percobaan-percobaan lokal (verification Trials), (e) pengadaan jalan, untuk fasilitas transport dari wilayah usahatani;

(2) Program yang berkaitan dengan kegiatan di luar sektor pertanian, meliputi : (a) pengembangan industri pedesaan, (b) penyediaan fasilitas kesehatan, c) pelayanan masalah Keluarga Berencana, (d) penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, (e) penyediaan fasilitas kegiatan keagamaan, (f) kegiatan penyuluhan tentang keluarga sejahtera, (g) penyediaan fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Pada umumnya pembangunan pertanian dipandang sebagai tujuan utama dari perkembangan kehidupan pedesaan, setidak-tidaknya dilihat dalam kerangka nasional. Tujuan pembangunan pertanian pada dasamya bertujuan untuk meningkatkan posisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan. Faktor-faktor terpenting yang pengaruhnya menentukan dalam realisasi tujuan di atas adalah (Schoorl, 1980): (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) perbandingan manusia dan tanah, kepadatan dan pertambahan penduduk, perkembangan industri dan urbanisasi, sistem kebudayaan, struktur sosial, struktur Agraria, penggunaan metode dan teknik baru, adanya fasilitas informasi dan komunikasi yang baik, faktor infrastruktur pertanian yang baik. Apabila faktro-faktor tesebut terpenuhi maka kita akan dapat melakukan perbahan yang dinamis dalam upaya mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan pendekatan tersebut diatas, maka perlu untuk menyusun sebuah strategi, instrumen dan kelompok sasaran dalam perumusan model pengelolaan hutan yang memberdayakan rakyat dan wilayah di sekitar hutan. Perumusan itu perlu dilakukan mengingat kebijakan pemerintah dan tuntutan sosial dan ekonomi masyarakat pada hutan semakin besar. Strategi ini akan melahirkan berbagai pilihan alternative pengelolaan hutan dan dengan tetap akan menentukan kelompok sasaran yang akan dituju. Strategi merupakan bentuk rekayasa sosial yang dikenakan pada masyarakat sekitar hutan agar dapat memanfaatkan keberadaan hutan dan melakukan penjagaan terhadap kelestariannya. Paling tidak harus ada tiga strategi utama dalam pemberdayaan masyarakat hutan yakni pengelolaan hutan system agroforestry dengan system agribisnis, pengembangan usaha di luar hutan, dan pengembangan pedesaan yang meliputi fasilitas umum kawasan hutan. Ketiga strategi ini selanjutnya akan di jabarkan pada berbagai kegiatan yang akan dilakukan pada kelompok sasaran. Pengelolaan hutan system agroforestry dengan system agribisnis meliputi kegiatan penyediaan paket teknologi agroforestry berdasarkan karakteristik lahan hutan yang ada, management kerjasama antar kelompok tani dalamm pengelolaan hutan serta penanganan pasar hasil dari agroforestry. Selain itu penyediaan fasilitas kridit pertanian, pembinaan dan penyuluhan serta penanganan paska panen dan pengolahan hasil. Kegiatan ini ditujukan pada petani kecil dan buruh tani yang ada disekitar hutan agar dapat lebih meningkat kesejateraannya. Dari kegiatan ini akan terbina kelompok tani sekitar hutan yang produktif bagi pengembangan agroforestri. Kegiatan ini diarahkan pada usaha tani terutama pada pengelolaan hutan system agroforestry yang dikembangkan. Kemungkinan pengembangan lain adalah pada usaha di luar usaha tani terutama pada penunjang usaha tani terkait dengan input pertanian dan permodalan. Karena bagian ini tidak terkait dengan penyediaan lahan maka sangat cocok diberikan pada pemuda desa sekitar hutan. Merka diarahkan pada usaha diluar produksi namun pada bagian pendukung usaha tani. Selain itu usaha yang tidak terkait dengan pertanian juga dapat diberikan pada kelompok ini. Hampir sama dengan kegiatan pada pengelolaan hutan maka strategi ini perlu ditunjang oleh paket

teknologi, permodalan, penanganan pasar pembinaan juga memerlukan pembinaan kelompok usaha kecil of farm yang mandiri. Dari usaha ini akan terbentuk kelompok usaha di luar usaha tani dengan pemuda sebagai basis pembinaan. Bisa jadi usaha ini bisa digerakan perempuan atau ibu ibu PKK disekitar hutan. Strategi ketiga setelah usaha tani kemudian usaha of farm adalah pengembangan fasilitas umum di kawasan hutan sebagai penunjang strategi terdahulu. Kegiatan yang dilakukan dalam strategi ini adalah redistribusi pajak bagi kepentingan pembangunan wilayah, peningkatan koordinasi antar lembaga badges. Dan kegiatan lainnya. Dari sini akan terjadi peningkatan pada fasilitas kesehatan, pendidikan, KB, jalan, Air, Trasportasi, juga fasilitas lain yang sangat diperlukan masyarakat. Selain masyarakat sasaran strategi ini adalah pemerintahan desa sekitar hutan BPD dan pemerintahan kecamatan. Dari strategi ini akan terwujud pemerintahan desa yang dinamis bagi pembangunan pedesaan sekitar hutan terutama pada pengelolaan hutan sebagai basis pembangunan. Secara umum strategi pengembangan pengelolaan hutan kegiatan yang dilakukan serta digambarkan sebagai berikut :

Usaha of farm (saprodi, alat, permodalan)

Supporting modal, teknologi, dan manajemen

Pembinaan penyuluhan

Agrofor es-try On farm

Pengolahan dan penanganan paska panen

Pas al loka l dan pas ar nasi onal

Usaha di luar pertanian (jasa, perdagangan, pariwisata)

Supporting modal, teknologi, dan manajemen

3.

BEBERAPA MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT

3.1. Keterkaitan Jenis Usaha Dalam Kawasan Agroforestry Dari pengalaman berbagai model pengikutsertaan masyarakat tidak satupun dapat untuk menurunkan tingkat pencurian kayu dan kerusakan hutan. Oleh karena itu perlu untuk menentukan bentuk keterlibatan masyarakat tidak hanya pada poengelolaan tumpang sari dan bantuan modal usaha saja tapi juga pada besar akses pada hutan. Bentuk kelembaagaan tersebut hendaknya dirancang dengan model bagi hasil dan juga akses petani sekitar hutan pada hasil hutan terutama kayu. Memberikan kepemilikan hutan pada masyarakat akan menjadi pendorong mereka untuk menjaganya. Model kelembagaan harusnya dirancang agar masyarakat dapat berperan dan memperluas kesempatan berusaha dengan mengembangkan usaha diluar hasil pokok hutan. Pengembangan lebah madu, pengembangan sapi potong dan perah kambing dan juga pengembangan berbagai usaha lainya dan memungkinkan petani meningkatkan kesejahteraannya dan juga meningkatkan kapasitas ekonomi dan kapasitas sosial masyarakat sekitar hutan. Dalam kerangka itu perlu disusun sebuah model pengembangan agroforestry berbasis berbagai komoditi yang ada. Pemilihan model ini tentu sangat terkait dengan barang apa yang dapat dihasilkan dari agroforestry baik tanaman pokok maupun tanaman sela yang ada. Selain itu dukungan kegiatan lain diluar usaha tani sangat diperlukan dalam pengembangan kawasan hutan sebagai satuan pengembangan wilayah guna meningkatkan kapasitas sosial dan ekonomi sebagai tujuannya. Berikut beberapa model pengembangan hutan dengan berbagai komoditi yang dimungkinkan untuk dikembangkan.

10

Alur Pengelolaan Usaha Pada Usaha Tani Agroforestry

Kom oditi pang an

Sisa pangan

Indust ri Pakan ternak

Pangan segar

Sarana produksi dan teknologi

Al sint an

Pangan olahan
Pasa r loka l

Olahan ternak

Pas ar inte rnati onal

Kom oditi tern ak

Ternak hidup Indu stri Pupu k/ biom as

Sisa ternak

11

3.2. Pusat Penangkaran Sapi Potong dan Kambing Dalam mengembangkan suatu kawasan sangat tidak mungkin untuk menunggu keberdayaan masyarakat sekitar hutan untuk menbangun dirinya. Apalagi untuk memikirkan pengembangan usahanya dengan berbagai teknologi dan pengetahuan baru. Oleh sebab itu perlu suatu usaha penyadaran dan berbagai support terkait dengan teknologi maupun system baru. Untuk mengembangkan kapasitas ekonomi dan sosial sebagaimana pada tujuan awal pengembangan kawasan hutan maka dukungan pemerintah ataupun fihak lain mutlak diperlukan. Dukungan harus diarahkan pada perencanaan pengembangan yang dilakukan. Pada kwasan hutan dengan salah satu point pengembangan adalah ternak maka dukungan breeding center sapi potong dan kambing sangat diperlukan. Dukungan ini dilakukan mengingat sangat kecil sekali kemampuan penduduk untuk membuat usaha semacam itu. Selain permasalahan pendanaan keterbatasan pengusaaan teknologi juga menjadi faktor pembatas. Oleh karena itu untuk mendukung kegiatan tesebut perlu usaha penyediaan bibit unggul dari breeding center tersebut. Pemerintah juga dapat memetik hasil dan meningkatkan PADnya dengan pengelolaan bagian ini. 3.3. Pusat Penangkaran Lebah Madu Selain tanaman pangan dan peternakan kawasan hutan juga sangat memungkinkan untuk mengembangkan usaha lebah madu mengingat potensinya yang besar pada kebutuhan maupun ketersediaan makanan. Oleh karena itu sangatlah penting untuk membuat sebuah pusat penamgkaran lebah madu terutama untuk memenuhi kebutuhan lebah ratu bagi masyarakat. Hingga saat ini kelemahan peternak lebah adalah kemapuannya yang rendah pada system penangkaran lebah madu terutama ratunya. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut keberadaan breeding center lebah madu bisa diusahakan oleh pemerintah maupun suasta. Dan apabila memungkinkan pelatihan dan kemitraan pengelolaan breeding center ini dapat dilakukan. Magang dan bekerja bagi peternak pemula dapat dilakukan selain pembinaan intensif pada pengembangan peternakan. Sumber informasi teknologi perlebahan merupakan tujuan utama pendirian breeding center ini. 4.4. Pusat Pengembangan pohon keras komersil, Kopi, Kakao, buah, Tanaman Pangan Selain breeding center ternak baik sapi, kambing maupun lebah keberadaan breeding center tanaman seperti jati, akasia, tanaman hutan lainya serta tanaman perkebunan yang biasa ada disekitar hutan seperti kopi, kakao, salak dan tnaman pangan lainya juga sangat diperlukan. Keberadaan breeding center ini diarahkanuntuk menjadi pusat informasi teknologi yang terkait dengan tanaman tersebut. Selain itu breeding center diharpkan juga dapat dijadikan sebagai tempat belajar petani tanaman pangan dan perkebunan yang diusahakan baik bersama hutan maupun disekitarnya. Penyediaan bibit yang mudah dan sangat cocok dengan kondisi lokal dapat dilakukan melalui breeding center ini. Hal ini memungkinkan karena aplikasi perbenihan lokal atau uji coba baru benih dapat dilakukan pada breeding center ini dan tidak perlu lagi percobaan penyesuaian pada kondisi lingkungan budidaya. Ini tentu sangat memberikan keuntungan yang besar kepada petani akibat kemudahan pemeroleh dan harga yang tentu dapat murah. Selain itu transfer teknologi dapat dengan cepat dan mudah dilakukan karena keberadaan breeding center tesebut di tengahtengah masyarakat. Penyediaan sarana ini dapat dilakukan oleh suasta maupun pemerintah. Pengalaman yang terdahulu menunjukan bahwa pengelolaan bibit dan input pertanian lain apabila diserahkan pada suasta penuh seringkali membuat ketergantungan besar pada petani. Selain itu seringkali akses teknologi sangat kecil dilakukan oleh petani karena kepentingan bisnis perusahaan. Oleh karena itu diarahkan breeding center ini dikelola oleh pemerintah dan bila suasta kepemilikannya terbatas. Apabila kesuadaayaan masyarakat telah tumbun maka pengelolaannya dapat diserahkan langsng kepada masyarakat. 3.5. Industri Pakan Ternak Beberapa hasil dari usaha pertanian terutama tanaman pangan seperti jagung dan ketela

12

merupakan bahan baku pakan hewan yang berkualitas. Penjualan langsung pada produk segar hingga saat ini tidak dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi petani. Kerapkali harga jatuh dan naik tanpa bisa diprediksi petani. Oleh karena itu keberadaan industri oakan ternak dapat menjadi solusi yang baik bagi kondisi ini. Permasalahan yang dihadapi adalah teknologi yang akan digunakan. Teknologi tersebut harus teknologi tepat guna dan tidak mono purposes. Apabila bisa dapat didesain paket teknoligi yang multi guna sesuai dengan sifat produk pertanian yang musiman. Selain itu dukungan industri lain juga diperlukan agar keberadaan industri pakan hewan ini benar-benar mampu memberikan nilai tambah pada petani tanaman pangan juga akan menolong peternak sapi dan kambing untuk mendapatkan harga yang stabil pada faktor produksinya. Tentu saja kualitas dan standar mutu harus diperhatikan agar tidak terjadi keterpurukan mutu pakan sehingga kalah bersaing dengan produk lain. Sebagaimana pada model breeding center industri inipun sangat tidak memungkinkan untuk langsung dikelola oleh masyarakat sekitar hutan sehingga perlu campur tangan pemerintah dan suasta untuk mendorong keberadaan industri ini. Setelah keberdayaan masyarakat kuat dan dapat mengelolah secara bersama maka perlu disusun sebuah kelembagaan baru untu kewadahi jenis peran masyarakat tersebut. 3.6. Industri Pupuk Organik Sisa tanaman juga sisa dari peternakan merupakan bahan baku yang cukup baik bagi industri pupuk organic. Untuk mendukung pelestrian lingkungan dan menjaga kesuburan serta keawetan lahan industri ini sangat penting selain untuk menampun hasil ikutan usaha pokok baik pertanian maupun peternakan. Industri ini kedepan dengan semakin mencuatnya isu lingkungan akan menjadi industri yang cukup prospektif perkembangnannya. Teknologi yang dirancang untuk industri ini hendaknya merupakan industri tepat guna dan mampu diusahakan oleh masyarakat serta murah. Selain itu perlu pula dibentuk kelembagaan yang adil dalam pngelolaan industri ini. Pengalaman terdahulu, dengan ketergantungan pada pupuk petani yang begitu besar hendaknya monopoli penguasahaan pupuk ini terhindari. Efek langsung dari industri ini tentu pada penyerapan tenaga kerja dan tambahan penghasilan karena permintaan pada buangan limbahnya. Dari berbagai jenis usaha guna meningkatkan perkembangan kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat hutan selain dengan usaha pada usaha ternak juga dapat dikembangkan tanaman sela pada hutan dengan tegakan dan kanopi tertentu sebagaimana program PMDH dan PHBM. Hanya saja keikutsertaan masyarakat perlu kembali dirumuskan agar perusakan hutan akibat ketidak fahaman petani peserta PMDH maupun PHBM pada tugasnya tidak terjadi sehingga hutan lestari.