Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Industri di Indonesia telah banyak berkembang. Terutama industri hasil pertanian. Setiap produk hasil pertanian selalu dikemas dalam suatu wadah. Kemasan yang digunakan bermacam-macam. Mulai dari gelas, kertas, plastik, kaleng dan lainnya. Pemilihan bahan pengemas harus disesuaikan dengan produk yang akan dikemas. Sebab, setiap bahan pengemas mempunyai karakteristik tersendiri dan akan mempengaruhi peoduknya. Bahan pengemas tersebut memiliki berbagai macam fungsi bagi produk yang dikemas. Biasanya pengemasan dilakukan untuk melindungi produk dari kemungkinan kontaminasi-kontaminasi. Namun, saat ini teknologi sudah semakin maju, sehingga kemasan bukan hanya melindungi produk tetapi juga sebagai alat untuk menarik konsumen agar menjatuhkan pilihannya pada produk tersebut. Selain itu juga digunakan untuk media informasi seberti pencantuman komposisi bahan, berat bahkan sampai fungsi dari bahan tersebut. Kemasan pun juga digunakan untuk media komunikasi dengan cara mencantumkan nomor telepon perusahaan agar konsumen tidak hanya dapat melakukan komplain tetapi juga bertanya mengenai produknya. Pada praktikum ini, praktikan diberi informasi mengenai pengertian kemasan dan fungsi kemasan. Praktikan juga mengetahui berbagai macam jenis pengemas dari praktikum ini. Selain itu pada praktikum ini, praktikan mencoba menganalisis dan mengidentifkasi pengemas pada beberapa macam produk sehingga dapat diketahui keunggulan dan kelemahannya. Juga diketahui kesesuaian produk dengan kemasannya. Jika tidak sesuai praktikan mencoba untuk melakukan analisa mengenai apa yang seharusnya diganti agar menjadi kemasan yang lebih baik. Praktikum ini dapat bermanfaat untuk praktikan sebagai penambah wawasan. Selain itu juga bermanfaat ketika sudah terjun di dunia perindustrian nanti. Baik ketika sudah bekerja, magang maupun kerja praktek. Sehingga

praktikan mempunyai nilai plus di mata perusahaan. Oleh karena hal tersebut, praktikum pengemasan ini sangatlah penting untuk dilakukan.

B. Tujuan Praktikum 1. Praktikan mengetahui jenis-jenis bahan pengemas beserta sifat, keunggulan dan kelemahannya. 2. Praktikan mampu memahami prinsip pengemasan dengan menggunakan masing-masing bahan pengemas

BAB II DASAR TEORI

Kemasan adalah totalitas dari semua elemen yang dibutuhkan untuk mengandung produk dalam amplop yang berfungsi sebagai barier antara produk dan lingkungan yang tidak bershabat dengan produk kecuali perlindungan hadir diberikan oleh kemasan. Lingkungan yang tidak bersahabat tersebut adalah suhu, kelembaban, oksigen, mikroorganisme, hewan, serangga, getaran dan lain-lain. Kemasan tersebut adalah material dalam bentuk struktural seperti botol, guci, kantong, tas, karton dan lain-lain. Elemen definisi yang paling penting adalah kemasan yang merupakan sarana perlindungan bagi produk ketika sedang dalam distribusi (Brody, 2006). Berdasarkan fungsinya, kemasan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kemasan primer dan kemasan sekunder. Kemasan primer merupakan kemasan yang langsung kontak dengan produk yang dikemas. Umumnya, kemasan primer ini dibuat dari bahan plastik (PE). Sementara kemasan sekunder merupakan kemasan yang digunakan setelah kemasan primer. Dengan demikian, kemasan sekunder ini digunakan untuk mengemas produk yang telah berada dalam kemasan primer. Umumnya kemasan sekunder ini dibuat dari plastik (PE), karton dan sebagainya (Prasetiyo, 2003). Kemasan bermanfaat untuk menjaga produk agar tetap terlindungi dan bersih dari kotoran serta kontaminasi. Selain itu, kemasan berguna agar daya tahan produk dapat meningkat, karena produk terjaga dari kerusakan fisik dan terlindungi dari pengaruh cuaca.Selain meningkatkan daya tahan, kemasan juga berguna dalam menyeragamkan ukuran atau bobot produk yang akan dijual dan konsumen juga diuntungkan dengan kemudahan pemakaian produk. Selain itu, kemasan juga dapat menambah daya jual produk. Kemasan yang bagus mampu menarik konsumen untuk membeli produk yang dijual. Kemasan juga dapat menampilkan informasi yang dapat membantu konsumen dalam menuntunkan keputusan pembelian. Informasi tersebut dapat berupa komposisi bahan baku, bobot produk, tanggal kadaluwarsa dan lainnya (Suryani, 2007).

Dalam industri perkalengan kita mengenal beberapa jenis material yaitu tin free steel, aluminium dan tin plate. Untuk kemasan makanan yang mengandung asam rendah wajib menggunakan enamel. Enamel merupakan bahan organic yang dilapiskan pada kaleng untuk melindungi metal dari kemungkinan terjadinya korosi karena kontak langsung dengan bahan makanan. Selain hal tersebut, enamel juga melindungi kontak makanan dengan metal yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan warna dan rasa. Enamel pada kaleng umumnya berupa bahan non metal yaitu seperti polibutadiena, epoxy, fenolik, epon, oleoresin dan vinil. Enamel terdapat beberapa warna yaitu gold ,aluminize dan transparent. Untuk pemilihan penggunaan enamel harus disesuaikan dengan bahan makanan yang akan dikemas (Tribowo, 2011).

BAB III PROSEDUR PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat a. Pulpen b. Kertas c. Penggaris d. Jangka sorong e. Micrometer scrub

2. Bahan a. Berbagai macam kemasan (You C 1000, Fruit Tea, Teh Cap Poci, Teh Kotak, Taro dan Indomie) b. Modul praktikum

B. Pelaksanaan Praktikum 1. Mencatat nama jenis kemasan 2. Menggambar masing-masing kemasan dalam lembar laporan sementara dan menyertakan keterangan sifat-sifatnya 3. Mengukur dimensi ketebalan kemasan 4. Melakukan identifikasi karakter khusus yang dimiliki masing-masing kemasan 5. Mempresentasikan hasil tersebut di hadapan praktikan lainnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. You C 1000

a. Jenis kemasan

: Gelas (monolayer)

b. Karakteristik bahan 1. Keunggulan a. Produk dapat digunakan tidak dalam satu waktu b. Praktis

c. Tahan air d. Kemasan dapat digunakan kembali e. Menarik f. Tahan tekanan g. Tahan panas 2. Kelemahan a. Mudah pecah b. Perlu perlakuan khusus c. Tembus cahaya d. Berat e. Kemasan mahal

c. Dimensi kemasan 1. Diameter 2. Jari-jari 3. Tinggi 4. Volume 5,15 cm 2,575 cm 12,5 cm = t = 3,14 x 2,5752 x 12,5 = 3,14 x 6,631 x 12,5 = 260,267 cm3 5. Netto 140 ml

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Kemasan sudah sangat sesuai dengan bahan yang dikemas yaitu berupa cairan. Hal ini dikarenakan menyebabkan cairan tidak mudah tumpah, sehingga dapat melindungi produk. Selain itu, dengan kemasan gelas yang berbentuk botol, produk dapat digunakan tidak dalam satu waktu karena memiliki tutup yang dapat menutup produk dengan aman meski telah dibuka. Kemasan seperti ini sesuai dengan bahan yang cair dan dapat juga digunakan untuk tepat selai.

2. Fruit Tea

a. Jenis kemasan

: Kaleng (monolayer)

b. Karakteristik bahan 1. Keunggulan a. Mudah dibentuk b. Ringan c. Tahan air d. Kemasan menarik e. Praktis f. Dapat didaur ulang

2. Kelemahan a. Memerlukan perlakuan khusus b. Mudah pnyok c. Mudah tergores d. Kemasan mahal e. Setelah dibuka, produk harus langsung dihabiskan

c. Dimensi kemasan 1. 2. 3. 4. Diameter Jari-jari Tinggi Volume 6,41 cm 3,205 cm 11,7 cm = t = 3,14 x 3,2052 x 11,7 = 3,14 x 10,272 x 11,7 = 377,373 cm3 5. Tebal 0,12 mm

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Sudah sesuai dengan bahan yang dikemas yaitu teh yang berbentuk cairan. Hal tersebut karea menyebabkan bahan tidak mudah tumpah dan dapat melindungi bahan (produk) yang dikemas. Kaleng dapat digunakan untuk melindungi produk wafer. Biskuit, kornet dan sarden. Tentunya dengan ketebalan yang berbeda-beda.

3. Teh Cap Poci

a. Jenis Kemasan

: Kertas (monolayer)

b. Karakteristik Bahan 1. Keunggulan a. Mudah dibentuk b. Ringan c. Ekonomis d. Tidak beracun 2. Kelemahan a. Mudah sobek b. Tidak tahan tekanan c. Tidak tahan air d. Perlu perlakuan khusus e. Tidak bisa dimanfaatkan lagi

c. Dimensi Kemasan 1. Panjang 2. Lebar 3. Tinggi 4. Ketebalan 5. Volume 6,5 cm 4,5 cm 5 cm 0,09 mm =pxlxt = 6,5 x 4,5 x 5 = 146,25 cm3

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Kemasan tidak sesuai dengan produk teh cap poci, karena kemasan tidak terlalu melindungi produk, sehingga produk mudah tercecer. Jenis kemasan ini kurang efektif menjadi kemasan utama, sebaiknya pada kemasan kertas ini, untuk lapisan dalamnya dilapisi alumunium foil. Seperti yang terdapat pada kemasan pembungkus coklat.

4. Teh Kotak

a. Jenis Kemasan

: Aseptic packaging / SIG combibloc (multilayer)

b. Karakteristik Bahan 1. Keunggulan a. Ringan b. Tidak mudah robek c. Mudah dibentuk d. Menarik e. Praktis 2. Kelemahan a. Mahal b. Harus langsing diminum habis / sekali pakai c. Kemasan tidak bisa dipakai lagi d. Warna mudah luntur e. Kemasan cepat rusak

c. Dimensi Kemasan 1. Panjang 2. Lebar 3. Tinggi 4. Ketebalan 5. Volume 6 cm 3,3 cm 12,5 cm 0,37 mm =pxlxt = 6 x 3,3 x 12,5 = 247,5 cm3

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Kemasan sesuai dengan produk karena kemasan tidak mudah robek atau berlubang sehingga produk tidak mudah tercecer dan rusak. Tipe kemasan seperti aseptic packaging ini cocok untuk produk jenis cair seperti teh, kopi, santan, susu dan lainnya yang membutuhkan kesterilan agar produk tidak mudah rusak.

5. Taro

a. Jenis Kemasan

: plastik dan alumunium foil (bilayer)

b. Karakteristik Bahan 1. Keunggulan a. Mudah dibentuk b. Ringan c. Tahan air

d. Kemasan menarik e. Praktis f. Dapat digunakan kembali 2. Kelemahan a. Kemasannya mahal b. Perlu perlakuan khusus c. Tidak tahan tekanan d. Tidak dapat didaur ulang

c. Dimensi Kemasan 1. Netto 10 gram

2. Panjang 12,9 cm 3. Lebar 4. Tebal 13 cm 0,06 mm

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Kemasan sudah sesuai dengan produk taro (padat kering) karena kemasan dapat melindungi produk. Selain itu dapat menjaga kerenyahan produk. Kemasan bilayer (alumunium foil dan plastik) dapat untuk mengemas coklat (padat basah), biskuit, bumbu masakan, santan (cair). Namun kemasan ini terbilang terlalu mahal, karena dengan kemasan yang seperti itu, produk taro yang dikemas, isinya hanya sedikit.

6. Indomie

a. Jenis Kemasan

: plastik (bilayer)

b. Karakteristik Bahan 1. Keunggulan a. Mudah dibentuk b. Tahan air c. Ringan d. Ekonomis e. Dapat dijadikan kerajinan tangan f. Menarik

2. Kelemahan a. Tipis b. Mudah sobek c. Warna kemasan mudah luntur d. Tidak tahan panas e. Tidak tahan tekanan f. Tidak bisa didaur ulang g. Perlu perlakuan khusus

c. Dimensi Kemasan 1. Netto 69 gram

2. Panjang 16,4 cm 3. Lebar 4. Tebal 11,4 cm 0,03 mm

d. Kesesuaian kemasan dengan bahan yang dikemas Kemasan tidak sesuai dengan produk mie instant (indomie), karena kemasan kurang melindungi produk. Kemasan tersebut memiliki bahan plastik yang tipis dan mudah robek, sehingga produk mudah keluar dan tingkat kerenyahan berkurang. Jenis kemasan ini dapat sesuai dengan bahan bersifat cair seperti minyak goreng isi ulang tetapi dengan ketebalan plastik yang lebih tebal.

B. Pembahasan Praktikum mata kuliah pengemasan acara pertama dilakukan pada Jumat tanggal 9 Maret 2012 di laboratorium mutu dan standardisasi. Pada praktikum acara pertama ini, praktikan mengamati enam buah kemasan. Kemasankemasan tersebut adalah You C 1000, Fruit Tea, Teh Cap Poci, Teh Kotak, Taro dan Indomie. Masing-masing produk tersebut memiliki jenis kemasan yang berbeda-beda. Tiap jenis kemasan mempunyai keunggulan dan

kelemahannya. Keunggulan dan kelemahan tersebut adalah salah satu yang diamati. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pulpen, kertas, penggaris, jangka sorong dan micrometer. Pulpen digunakan untuk menulis hasil pada kertas. Sedangkan penggaris, jangka sorong dan micrometer digunakan sebagai alat ukur. Prosedur praktikum yang pertama adalah mencatat nama jenis kemasan. Kemudian menggambar masing-masing kemasan dalam lembar laporan sementara dan menyertakan keterangan sifatsifatnya. Setelah itu mengukur dimensi ketebalan kemasan. Melakukan identifikasi karakter khusus yang dimiliki masing-masing kemasan. Seperti berat, jenis lapisan kemasan yaitu monolayer, bilayer atau multilayer, keunggulan, kelemahan dan kesesuaian dengan bahan yang dikemas. Setelah semua selesai dilakukan pada keenam macam kemasan, maka tiap kelompok mempresentasikan hasil tersebut di hadapan praktikan lainnya. Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang-barang hasil produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Kemasan juga dapat didefinisikan sebagai suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat yang dikemas dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Kemasan adalah wadah (pembungkus) yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan pada bahan yang dikemas. Menurut Brody dalam bukunya, kemasan adalah totalitas dari semua elemen yang dibutuhkan untuk mengandung produk dalam amplop yang berfungsi sebagai barier antara produk dan lingkungan yang tidak bershabat dengan produk kecuali perlindungan hadir diberikan oleh kemasan. Definisi kemasan memang berbeda-beda. Namun secara garis besar, intinya tidak jauh berbeda. Kemasan produk sangat banyak fungsinya. Fungsi-fungsi tersebut tentunya dari berbagai macam aspek. Fungsi kemasan yang paling utama adalah untuk menjaga produk agar tetap terlindungi dan bersih dari kotoran serta kontaminasi. Kemasan dapat membantu mencegah atau mengurangi

kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran. Dengan adanya kemasan, daya tahan produk dapat meningkat. Hal tersebut karena produk terjaga dari kerusakan fisik dan terlindungi dari pengaruh cuaca. Kemasan juga berguna dalam menyeragamkan ukuran atau berat produk yang akan dijual. Dengan adanya kemasan, konsumen juga diuntungkan dengan kemudahan pemakaian produk seperti membuka, menutup, memegang dan membawa tanpa mengurangi mutu ketahanan kemasan dalam melindungi produk. Selain itu, kemasan juga dapat menambah daya jual produk melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya. Dalam fungsi ini desain bentu kemasan selain menarik juga harus dapat menyampaikan keterangan dan pesanpesannya sendiri. Dari segi promosi kemasan berfungsi sebagai daya tarik pembeli dengan kemasan yang bagus. Mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadapproduk yang dikemasnya. Kemasan yang bagus mampu menarik konsumen untuk membeli produk yang dijual. Rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis isi barang yang dikemas. Kemasan juga berfungsi untuk menampilkan informasi yang dapat membantu konsumen dalam menuntunkan keputusan pembelian. Informasi tersebut dapat berupa komposisi bahan baku, bobot produk, tanggal kadaluwarsa dan lainnya. Kemasan juga menjadi media komunikasi dengan cara mencantumkan nomor telepon. Nomor tersebut dapat dihubungi konsumen untuk komplain dan bertanya. Perencanaan kemasan yang baik dalam ukuran dan bentuk akan membuat produk efisien dan tidak sulit dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, juga penyusunan dalam lemari. Bahan kemasan yang umum untuk pengemasan produk untuk tujuan pengangkutan atau distribusi adalah kayu, serat goni, plastik, kertas dan gelombang karton. Hermawan Kartajaya, seorang pakar di bidang pemasaran mengatakan bahwa teknologi telah membuat kemasan berubah fungsi. Dulu orang berkata

bahwa kemasan melindungi apa yang dijual. Sekarang, kemasan menjual apa yang dilindungi. Dengan kata lain, kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah tetapi harus dapat menjual produk yang dikemasnya. Pada praktikum ini digunakan enam macam kemasan, yaitu You C 1000, Fruit Tea, Teh Cap Poci, Teh Kotak, Taro dan Indomie. Jenis-jenis kemasan yang biasanya digunakan untuk mengemas makanan adalah plastik, kertas, fibreboard, gelas, tinplate dan alumunium. Pemilihan jenis-jenis kemasan harus berdasarkan prinsipnya yaitu kesesuaian antara bahan pengemas dan produk yang dikemas agar produk terlindungi dengan benar. Jenis-jenis lapisan kemasannya adalah monolayer yaitu satu lapis, bilayer yaitu dua lapis dan multilayer yaitu lebih dari dua lapis. Pengemasan berdasarkan fungsinya dibagi menjadi dua, yaitu pengemasan untuk pengangkutan dan distribusi serta pengemasan untuk perdagangan eceran atau supermarket. Pemakaian material dan pemilihan rancangan kemasan untuk pengangkutan dan distribusi berbeda dengan kemasan untuk perdagangan eceran. Kemasan untuk pengangkutan atau distribusi akan mengutamakan material dan rancangan yang dapat melindungi kerusakan selama pengangkutan dan distribusi. Sedangkan kemasan untuk eceran diutamakan material dan rancangan yang dapat memikat konsumen untuk membeli produk tersebut. Jenis-jenis kemasan berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi dua, yaitu kemasan primer dan kemasan sekunder. Kemasan primer merupakan kemasan yang langsung kontak (bersentuhan langsung) dengan produk yang dikemas. Sementara kemasan sekunder merupakan kemasan yang digunakan setelah kemasan primer. Dengan demikian, kemasan sekunder ini digunakan untuk mengemas produk yang telah berada dalam kemasan primer. Umumnya kemasan sekunder ini dibuat dari plastik (PE), karton dan sebagainya. Produk You C 1000, jenis kemasannya gelas dengan jenis lapisan

kemasan adalah monolayer. Keunggulan dari kemasan You C 1000 adalah produk dapat digunakan tidak dalam satu waktu, praktis, tahan air, kemasan dapat digunakan kembali. Selain itu kemasan menarik, tahan tekanan dan tahan panas karena bahan yang digunakan bukan bahan yang mudah meleleh.

Sedangkan kelemahannya adalah mudah pecah karena terbuat dari kaca. memerlukan perlakuan khusus karena perlu ditempatkan di tempat sejuk dan dihindarkan dari sinar matahari. Tembus cahaya menyebabkan matahari dapat masuk dan merusak produk. Berat dan kemasan mahal. Dimensi kemasan tersebut adalah diameter 5,15 cm sehingga jari-jarinya 2,575 cm. Tinggi 12,5 cm. Volume rumusnya adalah t sehingga 3,14 kali 2,575 kuadrat kali 12,5 sama dengan 3,14 kali 6,631 kali 12,5 sama dengan 260,267 cm3. Nettonya adalah140 ml. Kemasan tersebut sudah sangat sesuai dengan bahan yang dikemas yaitu berupa cairan. Hal ini dikarenakan menyebabkan cairan tidak mudah tumpah, sehingga dapat melindungi produk. Selain itu, dengan kemasan gelas yang berbentuk botol, produk dapat digunakan tidak dalam satu waktu karena memiliki tutup yang dapat menutup produk dengan aman meski telah dibuka. Botol bekasnya juga dapat dimanfaatkan lagi untuk hal yang lain. Kemasan seperti ini sesuai dengan bahan yang cair dan dapat juga digunakan untuk tempat selai, saos ukuran besar, kecap ukuran besar dan lainnya. Kemasan berikutnya adalah kemasan teh Cap Poci. Jenis kemasannya adalah kertas dengan jenis lapisan kemasan adalah monolayer. Keunggulannya adalah mudah dibentuk, ringan, ekonomis dan tidak beracun. Sedangkan kelemahannya adalah mudah sobek, tidak tahan tekanan, tidak tahan air, perlu perlakuan khusus dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Dimensi kemasan teh Cap Poci adalah panjang 6,5 cm, lebar 4,5 cm, tinggi 5 cm, ketebalan 0,09 mm. Volumenya adalah panjang kali lebar kali tinggi sama dengan 6,5 kali 4,5 kali 5 sama dengan146,25 cm3. Kemasan yang digunakan (kertas) tidak sesuai dengan produk teh cap poci. Hal tersebut dikarenakan kemasan tidak terlalu melindungi produk, sebab produk mudah tercecer. Jenis kemasan ini kurang efektif menjadi kemasan utama. Sebaiknya pada kemasan kertas ini, untuk lapisan dalamnya dilapisi alumunium foil. Seperti yang terdapat pada kemasan pembungkus coklat. Sehingga produk tidak akan berceceran keluar dari kemasan. Namun dengan seperti itu, kemungkinan harga jualnya akan lebih mahal.

Teh kotak mempunyai jenis kemasan aseptic packaging yaitu SIG combibloc dengan jenis lapisan kemasan multilayer. Keunggulan kemasan tersebut adalah ringan, tidak mudah robek, mudah dibentuk, menarik dan praktis. Sedangkan kelemahannya adalah mahal, harus langsung diminum habis setelah dibuka (sekali pakai), kemasan tidak bisa dipakai lagi, warna mudah luntur dan kemasan cepat rusak. Dimensi kemasannya adalah panjang 6 cm, lebar 3,3 cm, tinggi 12,5 cm, ketebalan 0,37 mm. Volumenya adalah

panjang kali lebar kali tinggi sama dengan 6 kali 3,3 kali 12,5 sama dengan 247,5 cm3. Kemasan yang digunakan sesuai dengan produk yang dikemas karena kemasan tidak mudah robek atau berlubang sehingga produk tidak mudah tercecer dan rusak. Tipe kemasan seperti aseptic packaging ini cocok untuk produk jenis cair seperti teh, kopi, santan, susu dan lainnya yang membutuhkan kesterilan agar produk tidak mudah rusak. Taro mempunyai jenis kemasan plastik dan alumunium foil sehingga jenis lapisan kemasannya adalah bilayer. Keunggulannya adalah mudah dibentuk, ringan, tahan air, kemasan menarik, praktis dan dapat digunakan kembali untuk kerajinan tangan. Sedangkan kelemahannya adalah kemasannya mahal, perlu perlakuan khusus, tidak tahan tekanan dan tidak dapat didaur ulang. Dimensi kemasan taro adalah netto 10 gram, panjang 12,9 cm, lebar 13 cm dan tebalnya 0,06 mm. Kemasan taro sudah sesuai dengan produknya (padat kering) karena kemasan dapat melindungi produk. Selain itu dapat menjaga kerenyahan produk. Kemasan bilayer (alumunium foil dan plastik) dapat untuk mengemas coklat (padat basah), biskuit, bumbu masakan, santan (cair). Namun kemasan ini terbilang terlalu mahal, terbukti dengan kemasan yang seperti itu, produk taro yang dikemas, isinya hanya sedikit. Indomie mempunyai jenis kemasan plastik. Plastik Indomie tidak hanya satu lapis, tapi ada dua dan semua lapisannya adalah plastik, sehingga jenis lapisan kemasannya adalah bilayer. Keunggulan kemasan ini adalah mudah dibentuk, tahan air, ringan, ekonomis, dapat dijadikan kerajinan tangan dan menarik. Sedangkan kelemahannya adalah tipis, mudah sobek, warna kemasan mudah luntur, tidak tahan panas, tidak tahan tekanan, tidak bisa didaur ulang

dan perlu perlakuan khusus karena harus disimpan di tempat sejuk dan dijauhakan dari sinar matahari. Dimensi kemasannya adalah netto 69 gram, panjang 16,4 cm, lebar 11,4 cm dan tebal 0,03 mm. Kemasan tidak sesuai dengan produk mie instant (indomie), karena kemasan kurang melindungi produk. Kemasan tersebut memiliki bahan plastik yang tipis dan mudah robek, sehingga produk mudah keluar dan tingkat kerenyahan berkurang. Jenis kemasan ini dapat sesuai dengan bahan bersifat cair seperti minyak goreng isi ulang tetapi tentu saja dengan ketebalan plastik yang berbeda yaitu lebih tebal. Kemasan yang terakhir adalah kemasan kaleng dengan jenis lapisan kemasannya adalah monolayer. Keunggulan dari kemasan tersebut adalah mudah dibentuk, ringan, tahan air, kemasan menarik, praktis dan dapat didaur ulang. Kelemahannya adalah memerlukan perlakuan khusus, mudah penyok, mudah tergores, kemasan mahal dan setelah dibuka, produk harus langsung dihabiskan. Dimensi kemasannya adalah diameter 6,41 cm sehingga jarijarinya adalah 3,205 cm, tinggi 11,7 cm, volumenya adalah t sehingga 3,14

kali 3,205 kuadrat kali 11,7 sama dengan 3,14 kali 10,272 kali 11,7 sama dengan 377,373 cm3. Sedangkan tebal kemasan adalah 0,12 mm. Kemasan sudah sesuai dengan produkyang dikemas yaitu teh yang berbentuk cairan. Hal tersebut karea menyebabkan bahan tidak mudah tumpah dan dapat melindungi bahan (produk) yang dikemas. Kaleng juga dapat digunakan untuk melindungi produk wafer. Biskuit, kornet dan sarden. Tentunya dengan ketebalan yang berbeda-beda. Pada kaleng, salah satu faktor yang menyebabkan produk yang dikemas dalam kaleng menjadi tidak tahan lama adalah sifat korosif produk tersebut. Jika menggunakan kaleng untuk mengemas produk, maka bagian dalam kaleng dan bagian luarnya harus dilapisi. Sebab, jika kaleng kontak langsung dengan makanan, apalagi yang berkadar asam dan garam tinggi, maka akan menyebabkan karat. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pembentukan karat pada kaleng adalah derajat keasaman (pH), pemacu pembentukan karat seperti nitrat, beberapa bahan belerang, zat warna antosianin, banyaknya sisa oksigen dalam bahan pangan, khususnya pada

ruang udara, suhu dan waktu penyimpanan, serta beberapa faktor yang berasal dari bahan kemas, seperti berat lapisan timah, macam dan komposisi lapisan baja dasar, efektifitas perlakuan pada permukaan lapisan, jenis lapisan dan lainlain. Salah satu yang dapat memberikan efek perlindungan kaleng terhadap pembentukan karat karena interaksinya dengan pangan yang dikemas adalah enamel. Enamel merupakan bahan organik yang dilapiskan pada kaleng untuk melindungi metal dari kemungkinan terjadinya korosi karena kontak dengan makanan. Selain itu, lapisan enamel juga melindungi kontak antara makanan dengan metal yang dapat menghasilkan warna dan rasa yang tidak diingini. Pelapisan pada kaleng harus dipertimbangkan matang-matang karena apabila salah akan membahayakan kesehatan manusia dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Enamel terdapat dua jenis, yaitu lapisan pelindung dalam (LPD) dan lapisan pelindung luar (LPL). Enamel tentunya mempunyai sifat(krakteristik) yang baik. Tujuh karakteristik yang harus dimiliki oleh enamel adalah tidak beracun, tidak mempengaruhi rasa dan warna, harus menjadi barrier yang efektif antara makanan dengan permukaan dalam kaleng, harus mudah digunakan secara fabrikasi pada tin-plate, tidak boleh terkelupas atau lecet selama pengalengan, memiliki daya tahan mekanis pada proses pembuatan kaleng kosong dan ekonomis.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Jenis-jenis kemasan yang biasanya digunakan untuk mengemas makanan adalah plastik yaitu ringan tetapi tipis, kertas yaitu ekonomis tetapi mudah sobek, fibreboard, gelas yaitu tahan lama tetapi mudah pecah, tinplate dan alumunium yaitu mudah dibentuk tetapi mahal. 2. Prinsip pengemasan adalah kesesuaian antara bahan pengemas dengan produk yang dikemas sehingga bahan pengemas mampu melindungi produk dari kemungkinan kontaminasi.

B. Saran 1. Mungkin akan lebih baik jika macam-macam kemasan yang diamati tersebut ditambah sehingga prktikan dapat melihat dan mengetahui semua jenis kemasan yang ada. 2. Laboratorium nyaman digunakan untuk praktikum. 3. Asisten sudah baik sekali dalam membimbing dan memberikan penjelasan kepada praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

Brody, Aaron L. 2006. Manufacturing Yogurt and Fermented Milk. Black well publishing. Duluth Prasetiyo. 2003. Instan : Jahe, Kunyit, Kencur, Temulawak. Kanisius. Yogyakarta Suryani, Ani dkk. 2007. Membuat Aneka Nata. Penebar swadaya. Jakarta Tribowo, Catur. 2011. Mengenal Enamel Sebagai Pelindung Bahaya pada Kaleng Kemasan.http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/06/21/mengenal-enamelsebagai-pelindung-bahaya-pada-kaleng-kemasan/. Diakses pada Kamis, 15 Maret 2012 pukul 08.33 WIB