Anda di halaman 1dari 21

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Belakangan ini masalah kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Meningkatnya taraf hidup masyarakat, menjadikan masyarakat semakin mengerti akan kualitas kesehatan. Hal ini menjadikan penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik, tidak hanya pelayanan yang bersifat penyembuhan penyakit, tetapi juga mencakup pelayanan yang bersifat pencegahan (preventif) untuk meningkatkan kualitas hidup serta memberikan kepuasan bagi konsumen selaku pengguna jasa kesehatan [1]. Rumah Sakit merupakan salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelengarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan merupakan setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan di Rumah Sakit tak terlepas dari pelayanan dibagian farmasi yang mengatur semua kebutuhan obat dan alat kesehatan untuk rawat jalan dan rawat inap. Pelayanan dari farmasi juga meliputi sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.[2] Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) merupakan suatu bagian / unit / divisi yang menangani pelayanan farmasi. Oleh karena itu Instalasi Farmasi Rumah Sakit merupakan salah satu pusat pendapatan dari Rumah Sakit.

Besarnya omzet obat dapat mencapai 50-60% dari anggaran Rumah Sakit [3].

Banyaknya permintaan obat oleh pasien rawat jalan dan rawat inap dari polipoli maupun bagian lain dari Rumah Sakit yang membutuhkan tentunya akan meningkatkan waktu pelayanan, waktu tunggu pembeli, dan

meningkatkan jumlah orang yang membeli obat. Dampak dari hal tersebut berupa timbulnya antrian yang panjang. Tentunya dengan antrian yang panjang, lama-kelamaan menyebabkan orang enggan membeli di farmasi Rumah Sakit. Padahal farmasi Rumah Sakit mempunyai pengaruh dan

kontribusi cukup besar terhadap Rumah Sakit. Semua hal diatas menuntut pasien dan masyarakat akan p e n i n g k a t a n mutu pelayanan farmasi, faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam pelayanan pada pasien meliputi: pelayanan yang cepat dan ramah disertai jaminan tersedianya obat. mutu pelayanan dianggap baik jika memenuhi kecepatan dan

ketepatan pelayanan, yaitu kesesuaian antara resep yang diserahkan dengan sediaan yang diterima pasien atau keluarganya. Dalam penelitian Wongkar L (2000) ia menemukan bahwa waktu

pelayanan resep untuk obat jadi di Apotek Kimia Farma Pontianak sebesar 12,05 menit dan untuk resep racikan sebesar 27,96 menit, serta pelayanan resep rata-rata tanpa membedakan obat paten dan obat racikan adalah sebesar 17,18 menit. Dalam penelitian Ritung M (2003) ia mengatakan bahwa waktu pelayanan resep racikan di Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSIA Hermina Bekasi adalah 24,14 menit. Peneliti lain, Yulia Y (1996) mengatakan bahwa untuk menyelesaikan satu lembar resep di Instalasi Farmasi RSU PMI Bogor tanpa membedakan obat jadi dan racikan adalah sebesar 42,78 menit. Selain itu Widasari E (2009) mengatakan wahwa rata rata pelayanan resep untuk

obat jadi di Rumah Sakit tugu ibu tahun 2009 adalah 14,04 menit dan rata rata pelayanan resep obat jadi adalah sebesar 27,40 menit. Oleh karena itu, menurut Jeffries S.B dan Greenberg J (1990), seperti yang dikutip oleh Ritung M (2003), masalah waktu penyediaan obat adalah masalah kefarmasian yang telah lama terjadi dan sering dialami. dengan perbaikan waktu tunggu yang lebih singkat Sehingga dapat

maka

mempengaruhi citra layanan Rumah Sakit secara langsung. [4] RSUD Fatmawati merupakan Rumah Sakit tipe A yang melayani dan menampung rujukan dari puskesmas. RSUD Fatmawati merasakan persoalan yang sama dengan Rumah Sakit lain yaitu persaingan ketat. Persaingan yang terjadi tidak hanya dari sisi teknologi pemeriksaan, akan tetapi persaingan yang lebih berat yaitu persaingan dalam pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pihak Rumah Sakit selaku penyedia jasa dituntut memberikan pelayanan yang lebih baik disbanding Rumah Sakit lain untuk mencapai kepuasan pasien di Rumah Sakit. Salah satu aspek yang perlu ditingkatkan adalah aspek pelayanan di bidang farmasi. Selain itu masalah pengukuran waktu merupakan hal yang harus dilakukan setiap periode karena menyangkut pelayanan prima dan standart pelayanan minimal yang harus terpenuhi. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis terdorong untuk

menganalisis waktu pelayanan resep pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati peri ode Mei 2012 dari mulai penerimaan resep

sampai dengan resep diserahkan kepada pasien atau keluarga pasien.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengangkat rumusan masalah Apa saja hal hal yang mempengaruhi kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode mei 2012?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui hal hal yang mempengaruhi kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Mengetahui hubungan antara jenis resep terhadap kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012. b. Mengetahui hubungan antara status pasien terhadap kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012. c. Mengetahui hubungan antara spesialis penyakit terhadap kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012. d. Mengetahui hubungan antara jumlah item obat terhadap kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Untuk Penulis 1. Mengaplikasikan perkuliahan. 2. Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam hal hal yang mempengaruhi kecepatan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Fatmawati periode Mei 2012. 1.4.2 Untuk Akademik 1. Sebagai bahan tambahan kepustakaan, khususnya di bidang profil Rumah Sakit 2. Sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut. 1.4.3 Untuk Rumah Sakit Fatmawati 1. Sebagai bahan evaluasi rutin untuk menjaga mutu dari pelayanan Rumah Sakit. ilmu yang telah diperoleh selama masa

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Dispensing Dalam buku Siregar C (2003) ia mendefinisikan proses dispensing obat adalah proses yang mencakup berbagai kegiatan, yang dilakukan oleh seorang apoteker, mulai dari penerimaan resep / order atau permintaan obat bebas bagi PRT dan PRJ /ambulatori dengan memastikan penyerahan obat yang tepat pada penderita tersebut serta kemampuannya mengkonsumsi sendiri dengan baik. Dispensing termasuk semua kegiatan yang terjadi antara waktu resep / order diterima dan obat atau suplai lain yang ditulis disampaikan pada penderita. [ siregar C 2003] Sedangkan dalam buku yang sama isa menyebutkan proses dispensing yang baik adalah suatu proses praktik yang memastikan bahwa suatu bentuk yang efektif dari obat yang benar, dihantarkan pada penderita yang benar, dalam dosis dan kuantitas tertulis, dengan instruksi yang jelas, dan dalam suatu kemasan yang memelihara potensi obat. Berikut ini adalah tahapan kegiatan utama dalam proses dispensing, antara lain : 1. Tahap pertama yaitu menerima dan memvalidasi order/resep 2. Tahapan kedua yaitu mengkaji order/resep untuk kelengkapan 3. Tahapan ketiga yaitu mengerti dan menginterpretasi order / resep 4. Tahapan keempat yaitu menapis profil pengobatan penderita

5. Tahapan kelima yaitu menyiapkan, membuat, atau meracik sediaan obat. 6. Tahapan keenam yaitu menyampaikan atau mendistribusikan obat kepada penderita

2.2 Mutu Menurut Juran J.M 1988 seperti yang di kutip oleh Wijono D (2008) mengemukakan mutu merupakan perwujudan atau gambaran hasil yang mempertemukan kebutuhan dari pelanggan dan oleh karena itu member kepuasan. Selain itu Wijono D (2008) juga mengutip hal yang di kemukakan oleh Feigenbaum tentang mutu yaitu mutu produk atau jasa dapat di definisikan sebagai sifat sifat gabungan secara keseluruhan dari pemasaran, keahlian teknik, hasil pabrik dan pemeliharaan di mana produk dan jasa pelayanan dalam penggunaannya akan bertemu dengan harapan dari pelanggan.[Wijono D 2008]

2.2.1 Tujuan penigkatan mutu pelayanan Di dunia bidang jasa pelayanan, mutu merupakan suatu hal yang sangat menentukan keberhasilan pemasaran dan secara komersial karena : a. Persaingan dunia usaha makin ketat dan adanya tekanan yang berat. b. Selera konsumen yang semakin meningkat c. Tiadanya mutu yang baik pada dasarnya merupakan pemborosan yang tersembunyi d. Mutu terjamin kelangsungan hidup industry dan usaha

e. Para manajer dan pekerja makin pula menghargai mutu hasil kerjanya karena mereka akan mendapatkan kepuasan kerja.

2.3 Mutu Pelayanan Kesehatan (Quality Assurance in Health Care) Menjaga mutu (quality assurance / QA) sering diartikan spula sebagai,

menjamin mutu atau memastikan mutu. Seperti yang disebutkan dalam kata tersebut to assure (= to conviende, to make sure or certain, to ensure, to secure) yang berarti meyakinkan orang, mengusahakan sebaik baiknya, mengamankan atau menjaga. Penerjemahannya sering dirancukan dalam bahasa belanda assuranrie, yang padan inggrisnya adalah Ansurance = menjamin, sedemikian dimaksudkan dalam perusahaan asuransi. Perlu di bedakan arti dua kata tersebut. Beberapa definisi Quality assurance : 1. Dr. Avendis Donabedian, seorang ahli dalam QA pelayanan kesehatan memberikan beberapa definisi tentang QA dari aspek pelayanan kesehatan sebagai berikut : a. Menjaga mutu temasuk kegiatan kegiatan yang secara periodic atau kontinyu menggambarkan keadaan di mana pelayanan disediakan. Pelayanannya sendiri dimonitor dan hasil pelayanannya diikuti (jejaknya). Dengan demikian kekeurangan kekuranagan dapat di catat, sebab sebab dari kekurangan kekurangan itu detemukan, dan dibuatkan koreksi yang diperlukan. Menghasilkan perbaikan pelayanan kesehatan. Qa dalam hal ini adaalah proses / siklus. b. QA adalah semua penataan penataan dan kegiatan kegiatan yang dimaksud untuk menjaga keselamatan, memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan. 2. Dr. Heather Palmer (1983) dari universitas Harvard mendefinisikan QA adalah suatu proses pengukuran mutu, menganalisa kekurangan yang ditemuakn dan membuat kegiatan untuk meningkatkan penampilan yang diikuti dengan pengukuran muku kembali untuk menentukan apakah peningkatan telah dicapai.

Ia adalah suatu kegiatan yang sistematik, suatu siklus kegiatan yang mempergunakan standart pengukuran. 3. Menurut joint commission on accreditation of hospital (JCAH) badan yang menyelengarakan akreditasi di amerika, QA adalah suatu program berlanjut yang disusun secara objektif dan sistematik, memantau dan menilai mutu dan kewajaran asuhan (perawatan) terhadap pasien, menggunakan kesempatan untuk meningkatkan asuhan pasien dan memecahkan masalah yang terungkap. 4. Definisi QA menurut ISO 8402 adalah semua kegiatan sistematik dan direncanakan yang diperlukan untuk memberikan kepercayaan yang memadai sehingga produk dan pelayanannya memuaskan sesuai dengan syarat syarat kualitas. 5. ANSI/ASQS (a.3-1978) mendefinisikan : semua kegiatan yang direncanakan yang diperlukan untuk memberikan kepercayaan yang memadai sehingga produk atau pelayanannya memuaskan sesuai dengan kebutuhan. 6. JIZ 8101 mendefinisikan : kegiatan yang direncanakan yang diperluakn untuk memberikan kepercayaan yang memadai sehingga produk atau pelayanannya memuaskan sesuai dengan kebutuhan. 7. Dr. K. Ishikawa mengatakan, QA dimaksudkan untuk menjamin mutu dimana konsumen dapat membeli dan menggunakan dengan kepercayaan dan kepuasan dan masih dapat digunakan untuk jangka panjang. [Siregar ] 8. Drs. Rueles dan Frenk dari mexico memberikan definisi QA adalah suatu proses sistematik untuk menutup gap antara kinera yang ada dan outcome yang diharapkan. 9. Lori Di Prete Brown, mengemukakan bahwa intinya, Quality Assurance adalah suatu susunan kegiatan kegiatan yang dilaksanakan untuk menyusun standar standar dan untuk memonitor dan menigkatkan kinerja sehingga pelayanan yang diselengarakan sedapat mungkin adalah efektif dan selamat. 10. Dr. Donalt Berwick, ahli CQI dari US, menjelaskan bahwa pendekatan QA adalah suatu pendekatan pengorganisasian secara terintegrasi untuk mempertemukan kebutuhan pasien dan harapan pasien dengan manajemen serta staf pada waktu proses peningkatan dan pelayanan dengan mengunakan teknik kuantitatif dan piranti analitis.[wijono]

2.3.1 Tujuan QA di Rumah sakit QA di rumah sakit mempunyai tujuan untuk : 1. Menjaga mutu proses pelayanan kesehatan, agar sesuai dengan standar operatif prosedur pelayanan kesehatan, meningkatkan kepatuhan petugas agar dalam melakukan pelayanan senantiasa berpegang pada standar pelayanan yang seharusnya.

2. Menjaga agar pelayanan kesehatan mutunya tetap terjamin sesuai dengan harapan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan atau pasien. 3. Melihat kekurangan yang ada dalam proses pelayanan dan berusaha memperbaiki. 4. Meningkatkan mutu struktur, proses dan outcome. 5. The American Hospital Association mengemukakan bahwa tujuan QA adalah upaya untuk identifikasi dan memecahkan masalah dalam pemberian pelayanan kepada pasien dan mencari atau memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan mutu pelayanan secara terpadu. 2.4 Pelayanan Farmasi Yang Baik Salah satu misi dari praktik farmasi adalah menyediakan obat-obatan, produk perawatan kesehatan lainnya, memberi pelayanan serta membantu penderita dan masyarakat, dan mengupayakan penggunaan yang terbaik dari sediaan serta produk tersebut. Pelayanan farmasi yang luas mencakup keterlibatan dalam berbagai kegiatan untuk memastikan kesehatan yang baik dan menghindari kesakitan dalam populasi. Apabila pengobatan keseehatan yang sakit diperlukan mutu dari tiap proses penggunaan obat penderita harus dipastikan untuk mencapai menfaat terapi maksimal dan menghindari efek samping yang tak menguntungkan. Hal ini mensyaratkan apoteker menerima tanggung jawab bersama dengan profesional lain dan dengan penderita untuk mencapai hasil terapi. Istilah pharmacetical care telah diditetapkan sebagai suatu filosofi praktik, dengan penderita dan masyarakat sebagai pewaris utama dari kepedulian apoteker. Konsep terutama menjadi relevan terhadap kelompok khusus populasi, seperti lanjut usia, ibu dan anak, penderita kesakitan kronik, serta komunitas keseluruhan (misalnya, berkenaan dengan penggunaan biaya). Oleh karena konsep dasar pharmaceutical care dan praktik farmasi yang baik sebagian besar adalah identik, dapat dikatakan bahwa praktik farmasi yang baik adalah cara untuk menerapkan harmaceutical care.

2.4.1 Persyaratan Pelayanan Farmasi Yang Baik (PFB) Beberapa persyaratan PFB yang dirumuskan oleh WHO sebagai berikut : 1. PFB mensyaratkan bahwa perhatian pertama dari seorang apoteker haruslah kesejahteraan / keselamatan penderita di rumah sakit. 2. PFB mensyaratkan bahwa inti dari kegiatan IFRS adalah penyediaan obatobatan dan produk perawwatan kesehatan lainnya dengan mutu terjamin, informasi, dan nasehat yang tepat bagi penderita dan pemantauan efek dari penggunaannya. 3. PFB mensyaratkan bahwa suatu bagian terpadu dari kontribusi apoteker adalah penyempurnaan penulisan order/ resep yang rasional dan ekonomis serta ketepatan penggunaan obat. 4. PFB mensyaratkan bahwa tujuan tiap unsur dari pelayanan farmasi adalah relevan dengan individu, secara jelas ditetapkan dan secara efektif dikomunikasikan kepada semua yang terlibat. 2.7 Definisi Operasional
No Variabel Dependen 1 Waktu Dispensing Waktu yang di perlukan seorang petugas farmasi Observasi Stopwatch 1. Cepat (Standar) 2. Lama dari (>Standar) Menit Definisi Operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur

untukmenyelesaikan order/resep mulai

menyerahkan hingga pasien mengerti dan dapat sendiri

mengkonsumsinya dengan baik Independen 2 Jenis resep

Resep yang di terima berupa racikan, paten maupun

campuran keduanya. 3 Jumlah item obat Item obat yang ditertulis di dalam resp pasien 4 Status pasien Pembayaran yang berupa dari tunai pasien dan

jaminan atau

dari

pemerintah yang

perusahaan

bekerja sama dengan RS Fatmawati. 5 Spesialit penyakit Jenis penyakit yang di derita oleh kronis. pasien, akut atau

Bab III Metode Penelitian


3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental, yakni melihat ada tidaknya cemaran pada air minum dalam kemasan sewaktu penyimpanan.

3.2 Alur Penelitian Persiapan alat dan bahan Sterilisasi alat dan bahan

Persiapan sampel Pengujian blangko


Pengolahan dan analisis data

Pengujian MPN coliform

Hasil pengujian MPN Coliform

3.3 Populasi dan sampel Penelitian ini mengambil sampel air minum dalam kemasan sebanyak 1 buah sampel dari 5 pedagang dan diambil secara acak (random). Kriteria sampel adalah air minum dalam kemasan yang di simpan di dalam kotak es dan di dalam lemari es pada hari 1,2, dan 3. Sekolah tempat pengambilan sampel : 1. 2. 3. 4. SDN Jatimurni I dan VI SDN Jatimurni III SDN Jatimurni IV SDN Jatimurni II dan V

3.4 Cara Pengambilan Sampel Sebelumnya diberikan masing - masing sebanyak 5 buah sampel air minum dalam kemasan merek O ke 5 penjual di dalam kotak es dan 5 penjual di dalam lemari es. Pengambilan sampel di ambil 1 sampel pada masing masing hari selama 3 hari. 3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta II pada bulan Mei 2012. 3.7 Alat, Bahan, dan Media Penelitian 3.7.1 Alat Tabung reaksi, oven (Mammert), inkubator (Mammert), autoklaf, tabung durham, pipet ukur/microdip, gelas ukur, beaker glass, timbangan, batang pengaduk, kawat ose, petri disk, erlenmeyer, lampu spirtus, kompor listrik (Maspion), wadah plastik, pinset.

3.7.2 Bahan Aqua destillata, kapas, alkohol 70 %, spirtus bakar, korek api, karbol, tissue. 3.7.3 Media a. PDF (Pepton Dilution Fluid) 25.5g/L PDF berguna untuk melarutkan sampel yang akan diuji. Untuk mengencerkan sampel yang akan diuji MPN Coliform dengan pengenceran 101

, 10-2 dan 10-3. Sterilisasi dalam autoklaf 121C selama 15 menit tekanan 1

atmosfer. b. MCB (Mac. Conkey Broth) 35g/L MCB berguna untuk media uji pendahuluan atau perkiraan pada metode MPN coliform. Untuk menguji satu sampel diperlukan 9 tabung, tiap pengenceran terdiri dari 3 tabung dan masingmasing tabung bervolume 9 ml dan dimasukan tabung durham dan tutup kapas. Disterilisasi dalam autoklaf 121C selama 15 menit tekanan 1 atmosfer. c. BGLB (Brilliant Green Lactose bile Broth) 40g/L BGLB berguna untuk media uji penegasan pada metode MPN coliform. Tiap tabung diisi dengan 10 ml larutan BGLB, dimasukan tabung Durham dan ditutup kapas. Disterilisasi dalam autoklaf 121C selama 15 menit tekanan 1 atmosfer. d. Endo Agar 41g/L Endo Agar sebagai media yang berguna sebagai uji pelengkap dalam metode MPN Coliform. Tiap petri disk berisi kurang lebih 13 ml larutan endo agar yang telah di sterilkan dalam autoklaf 121C selama 15 menit. Biakkan digoreskan diatas permukaan media, diinkubasi selama 24 jam dan amati

pertumbuhan koloni yang menampakkan adanya warna hijau metalik menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli. 3.8 Prosedur Penelitian 3.8.1 Sterilisasi Alat Desinfeksi tempat kerja dan alatalat yang digunakan, kemudian wadah tempat sampel disterilisasi. Sampel yang telah diambil ditempatkan pada wadah steril dan tertutup rapat. Persiapan media yang akan digunakan dengan cara menimbang seksama media powder dengan ukuran yang sesuai, larutkan dengan aqua dest dan aduk dengan seksama. Masukkan media ke dalam tabung reaksi, tutup dengan kapas dan sterilisasi dengan autoklaf 121C selama 15 menit.

3.8.2 Pembuatan Media PDF

Pembutan media pepton 25.5 gram/1 liter. Cara pembuatan ditimbang seksama bubuk pepton sebanyak 8.262 gram untuk 324 ml aquadest, kemudian dilarutkan dengan aquadest aduk hingga homogen. Media dimasukan kedalam tabung reaksi masingmasing sebanyak 9 ml, tutup mulut tabung dengan kapas dan disterilkan dengan autoklaf 121C selama 15 menit. Setelah disterilkan tunggu hingga suhu media turun dan media siap digunakan. Kemudian siapkan serial pengenceran mulai dari disiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi 9 ml pepton yang telah di sterilkan, sampel di pipet 1 ml, kemudian dimasukan ke dalam tabung pertama dengan pengenceran 10-1, kocok hingga homogen. Sampel di pipet 1 ml dari tabung pertama dan dimasukan kedalam tabung kedua dengan pengenceran 10-2, kocok hingga

homogen. Sampel di pipet 1 ml dari tabung kedua dan dimasukan kedalam tabung ketiga dengan pengenceran 10-3, kocok hingga homogen. Dilakukan 3x pada setiap sampel sehingga tiap sampel didapat 9 tabung dengan masingmasing pengenceran didapat 3 tabung. Kemudian sampel dengan pengenceran tersebut siap digunakan. 3.9 Pengujian MPN

A. Tes Perkiraan (Presumtive Test)

MacConkey Broth (MCB) dibuat dengan menimbang dengan seksama bubuk MacConkey Broth sebanyak 34.02 gram untuk 972 ml aquadest, kemudian dilarutkan dengan aquadest aduk hingga homogen. Media dimasukkan kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 9 ml. Selanjutnya dimasukan tabung durham pada tiap tabung reaksi yang berisi MCB untuk mendeteksi adanya produksi gas. Jangan sampai terdapat udara di dalam tabung durham dengan cara membalikkan tabung reaksi hingga gelembung udara yang terdapat dalam tabung keluar. Tabung ditutup dengan kapas dan strerilkan dengan autoklaf 121C selama 15 menit. Selanjutnya disiapkan 9 tabung yang berisi MCB. Dari tiap pengenceran sampel dipipet sebanyak 1 ml kedalam 3 tabung yang berisi MCB, di beri tanda untuk tiap sampel dan pengenceran agar tabung tidak tertukar dan mudah untuk diamati, diinkubasi selama 24 48 jam pada suhu 37C, diamati dan dicatat tabung yang menunjukan reaksi positif dengan adanya gelembung udara pada tabung durham dan atau mengalami perubahan warna biru menjadi kuning keruh pada larutan uji.

B. Tes Penegasan (Confirmed Test)

Disiapkan tabung berisi 10 ml media Brilliant Green Lactose bile Broth sesuai dengan jumlah tabung media MCB yang menunjukan reaksi positif. BGLB dibuat dengan cara menimbang dengan seksama 40 gram bubuk BGLB untuk 1 liter, dilarutkan dengan aquadest aduk hingga homogen kemudian media dimasukan kedalam tabung reaksi masingmasing 10 ml. Tabung durham dimasukkan kedalam tiap tabung yang berisi BGLB hingga tidak terdapat gelembung udara didalamnya. Tabung durham berfungsi untuk mendeteksi adanya produksi gas. Kemudian tabung ditutup dengan kapas lalu disterilkan dengan autoklaf 121C selama 15 menit,. Setelah disterilkan biarkan agar suhunya menurun dan media siap untuk digunakan. Masing masing sebanyak 1 ose biakan dipindahkan dari tabung yang menunjukkan hasil positif dari uji perkiraan kedalam tabung yang berisi BGLB. Beri tanda untuk setiap sampel serta pengencerannya agar tabung tidak tertukar dan mudah untuk diamati, selanjutnya diinkubasi selama 2448 jam pada suhu 37C. Setelah diinkubasi selama 24 jam tabung BGLB diamati dan catat tabung yang menunjukan hasil positif dengan terbentuknya gas.

C. Tes Pelengkap (Completed Test) Identifikasi Bakteri Escherichia Coli

Endo agar dibuat dengan cara menimbang dengan seksama bubuk endo agar sesuai dengan kebutuhan, kemudian larutkan dengan aquadest aduk hingga homogen lalu disterilkan dengan autoklaf 121C selama15 menit. Setelah disterilkan media endo agar dituang dalam petri disk yang telah

disterilkan dalam oven 150C selama 1 jam, masingmasing petri disk berisi kurang lebih 13 ml media endo agar. Didiamkan hingga media membeku dan siap untuk digunakan. Masingmasing biakan positif pada uji MPN coliform diambil satu sengkelit kepermukaan media endo agar secara zigzag. Setelah itu diinkubasi pada temperatur 37C selama 24 jam, amati pertumbuhan koloni pada media endo agar. Koloni yang menampakkan adanya warna hijau metalik adalah koloni bakteri Escherichia coli. 3.10 Pengujian Blangko Satu buah tabung reaksi disiapkan dan diisi dengan 9 ml larutan pepton yang telah disterilkan. Satu buah tabung reaksi disiapkan dan diisi dengan 9 ml larutan MacConkey Broth dan dimasukkan tabung durham kedalam tabung hingga tidak terdapat udara didalamnya. Mulut tabung ditutup dengan kapas dan disterilkan kedalam autoklaf 121C selama 15 menit. Kemudian larutan pepton dipipet 1 ml ke dalam tabung yang berisi MacConkey Broth. Diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37C, setelah 24 jam diperiksa ada tidaknya pembentukan gas pada tabung durham kemudian inkubasi dilanjutkan hingga 48 jam. Satu tabung diisi dengan 10 ml larutan Brilliant Green Lactose bile Broth (BGLB) dan dimasukkan tabung durham hingga tidak terdapat udara didalamnya. Mulut tabung ditutup dengan kapas dan disterilkan dengan autoklaf 121C selama 15 menit. MacConkey Broth yang telah diinkubasi selama 48 jam diambil sebanyak 1 ose biakkan dipindahkan kedalam tabung yang berisi BGLB kemudian diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37C. Setelah 24 jam diamati ada tidaknya pembentukkan gas pada tabung durham, kemudian inkubasi dilanjutkan hingga 48 jam. Satu petridisk

disiapkan dan diisi kurang lebih 13 ml endo agar yang telah disterilkan. BGLB yang telah diinkubasi selama 48 jam diambil sebanyak 1 ose biakkan digoreskan diatas permukaan endo agar, kemudian inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37C. 3.11 Pengolahan dan Analisis Data Analisis data berdasarkan keberadaan bakteri coliform pada sampel makanan jajanan naget dilihat pada tabel Hopkins atau MPN coliform yang menunjukkan jumlah perkiraan koloni bakteri coliform. Keberadaan bakteri coliform dapat dilihat dengan adanya perubahan warna keruh dan jumlah gas yang dihasilkan yang kemudian dicocokkan dengan tabel MPN coliform. Data yang telah dianalisis dibandingkan dengan Badan Standardisasi Nasional atau SNI 01-6683-2002 mengenai batas cemaran pada makanan jajanan naget ayam yang berjumlah maksimal 10/g sampel.

Daftar Pustaka

Meiianty, Elsa. 2011. Strategi Bertahan Penjualan Jamu Gendong (Studi Deskriptif Pada Penjual Jamu Gendong di Kelurahan Helvetia, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang). http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/22242. 28 Februari 2011. Diakses 24 November 2011. Anna, Lusia kus. 2010. Negara Gudangnya Herbal Dunia.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/01/13/16294484/Negara.Gudan gnya.Herbal.Dunia. 13 Januari 2010. Diakses 24 November 2011. Jamu. http://id.wikipedia.org/wiki/Jamu. 26 September 2011. Diakses 18 Desember 2011. Furqon, Muhammad. 2011. Uji MPN (Most Probable Number) Coliform Pada Jajanan Nuget di Sekolah Dasar Negeri Kelurahan Jatimurni-Bekasi Tahun 2011. KTI. Jurusan Farmasi Poltekkes Jakarta II. Jakarta.