Anda di halaman 1dari 9

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw ertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty TUGAS MANDIRI uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop asdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjkl

zxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw ertyuiopasdfghjklzxcvbnmrtyui


ABDUL GAFFAR 150 209 102 L1 A

SMALL VOLUME PARENTERAL (SVP)

1. Definisi Sediaan small volume parenteral adalah suatu sediaan parenteral yang dibuat dalam volume kecil dengan pembarian obat melalui suntikan dibawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau selaput lendir. Volumenya bisa kurang dari 10 ml. 2. Keuntungan dan kerugian Secara umum sediaan parenteral mempunyai kuntungan dan kerugian sebagai berikut: Keuntungan injeksi 1. Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok. 2. Terapi parenteral diperlukan untuk obat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik. 3. Obat-obat untuk pasien yang tidak bisa di ajak bekerja sama, mual atau tidak sadar harus diberikan secara injeksi. 4. Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat menerima obat secara oral. 5. Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

6. Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode panjang secara intraartikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.m. 7. Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada

keseimbangan cairan dan elektrolit. 8. Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral. 9. Aksi obat biasanya lebih cepat. 10. Seluruh dosis obat digunakan. 11. Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan secara parenteral. 12. Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa. 13. Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya. Kerugian Injeksi
a.

Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lain.

b.

Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat dihindari.

c.

Obat

yang

diberikan

secara

parenteral

menjadi

sulit

untuk

mengembalikan efek fisiologisnya.


Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

d.

Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain.

e.

Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v.

f.

Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.

g.

Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah

penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan lagi.


h.

Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan.

3. Prinsip yang dipertimbangkan dalam SVP 1. Rute pemberian,


a.

Intradermal Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

b.

Intramuskular Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan.

c.

Intravena Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap.

d. e.

Subkutan Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM.

f.

Rute intra-arterial disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh.

g.

Intrakardial disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung.

h. Intraserebral injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

i.

Intraspinal Injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.

j.

Intraperitoneal dan intrapleural Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.

k.

Intra-artikular Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.

l.

Intrasisternal dan peridual Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.

m.

Intrakutan (i.c) Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.

n.

Intratekal Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien 4.Tiga pertimbangan dalam rute pemberian SVP adalah : Volume Rute pemberian parenteral memiliki batas volume maksimal yang tidak boleh melebihi dalam pemberiannya. Contohnya : untuk intravena : 10 ml, intraspinal : 0,2 ml, intramuscular : 3 ml dan subkutan : 2 ml. Pembawa a. Pembawa air b. Pembawa nonair dan campuran o Minyak nabati : Minyak jagung, Minyak biji kapas, Minyak kacang, Minyak wijen o Pelarut bercampur air : Gliserin, Etil alcohol, Propilen glikol, Polietilenglikol 300. Isotonis Larutan parenteral yang mempunyai konsentrasi dan tekanan osmosisnya sama dengan cairan dalam tubuh. Hipertonis Larutan parenteral yang mempunyai konsentrasi dan tekanan osmosisnya tinggi dibandingkan dengan cairan dalam tubuh. Dan Bersifat reversibel Hipotonis Larutan parenteral yang mempunyai konsentrasi dan tekanan osmosisnya rendah dibandingkan dengan cairan dalam tubuh. Dan Bersifat irreversibel. Beberapa pertimbangan dalam isotonis yaitu : Mengurangi toksisitas
Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

Mengurangi rasa nyeri Mencegah hemolisis darah 2. Pembawa Pembawa yang biasa digunakan dalam sediaan parenteral adalah :
a.

Pembawa air (biasa digunakan untuk intravena)

b. Pembawa nonair (biasa digunakan intramuscular dan subcutan) dan campuran (biasa digunakan juga untuk intravena) Minyak nabati : Minyak jagung, Minyak biji kapas, Minyak kacang, Minyak wijen Pelarut bercampur air : Gliserin, Etil alcohol, Propilen glikol, Polietilenglikol 300. 3. Zat tambahan
a.

Antioksidan : Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu digunakan :Asam askorbat, Sistein, Monotiogliseril, Tokoferol.

b.

Bahan antimikroba atau pengawet : Benzalkonium klorida, Benzil alcohol, Klorobutanol, Metakreosol, Timerosol, Butil p-hidroksibenzoat, Metil phidroksibenzoat, Propil p-hidroksibenzoat, Fenol.

c. d. e. f.

Buffer : Asetat, Sitrat, Fosfat. Bahan pengkhelat : Garam etilendiamintetraasetat (EDTA). Gas inert : Nitrogen dan Argon. Bahan penambah kelarutan (Kosolven) : Etil alcohol, Gliserin, Polietilen glikol, Propilen glikol, Lecithin

g. h.

Surfaktan : Polioksietilen dan Sorbitan monooleat. Bahan pengisotonis : Dekstrosa dan NaCl

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A

i.

Bahan pelindung : Dekstrosa, Laktosa, Maltosa dan Albumin serum man usia.

j.

Bahan penyerbuk : Laktosa, Manitol, Sorbitol, Gliserin.

4. Sifat khusus parenteral a. Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik). b. Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya. c. Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut. d. Sterilitas e. Bebas dari bahan partikulat f. Bebas dari Pirogen g. Kestabilan h. Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah.
Yang mampu menambah kelarutan a. Kosolven b. Solubilizer c. Bentuk garam dari senyawa tersebut

Abdul Gaffar 150 209 102 L1A