Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Pajak adalah satu komponen pendapatan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembangunan bangsa. Di sini pajak digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan untuk diberikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk subsidi. Dalam Negara Republik Indonesia yang kehidupan rakyat dan perekonomiannya sebagian besar bercorak agraris, bumi termasuk perairan dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya mempunyai fungsi penting dalam membangun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Oleh karena itu bagi mereka yang memperoleh manfaat dari bumi dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, karena mendapat sesuatu hak dari kekuasaan negara, wajar menyerahkan sebagian dari kenikmatan yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak. Dasar Hukum Pemungutan : Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1985 tentang Persentase Nilai Jual Kena Pajak Pada Pajak Bumi dan Bangunan. Keputusan Menteri Keuangan No. 1002/KMK.04/ 1985 tentang Tata Cara pendaftaran objek pajak PBB. Keputusan Menteri Keuangan No. 1003/KMK.04/ 1985 tentang Penuntun Klasifikasi dan besarnya Nilai Jual objek Pajak sebagai dasar Pengenaan PBB. Keputusan Menteri Keuangan No. 1006/KMK.04/ 1985 tentang Tata Cara penagihan PBB dan pe- nunjukkan pejabat yang berwenang mengeluarkan Surat Paksa.

Keputusan Menteri Keuangan No. 1007/KMK.04/ 1985 tentang Pelimpahan Wewenang Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan/atau Bupai/Walikota madya Kepala Daerah Tingkat II.

Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 816 Ta-hun 1989 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungut- an Pajak Bumi dan Bangunan di Wilayah DKI Jakarta.

Peraturan Pelaksanaan Lainnya. Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994.

Dengan demikian maka Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat didefinisikan adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

BAB II PEMBAHASAN

2.1.ASAS PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1. 2. 3. 4. Memberikan kemudahan dan kesederhanaan. Adanya kepastian hukum. Mudah dimengerti dan adil. Menghindari pajak berganda.

2.2.OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah termasuk jenis pajak objektif, di mana yang lebih ditekankan dalam pengenaan pajak ini adalah pada objeknya. Hal ini bisa kita lihat dari susunan pasal dalam Undangundang Nomor 12 Tahun 1985 dan perubahannya yang menempatkan pasal tentang objek pajak lebih dahulu daripada subjeknya. Sesuai dengan namanya, objek PBB ini adalah bumi dan/atau bangunan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang PBB. Sementara itu arti bumi dan bangunan dijelaskan dalam Pasal 1 Undang-undang PBB. Objek PBB adalah "Bumi dan/atau Bangunan". Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Yang termasuk dalam pengertian bangunan adalah :
1.

Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks

bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut 3

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Jalan tol Kolam renang Pagar mewah Tempat olah raga Galangan kapal, dermaga Taman mewah Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

minyak 2.3.OBJEK PAJAK TIDAK DIKENAKAN PBB Pasal 3 Undang-undang PBB memberikan pengecualian bumi dan/atau bangunan yang tidak dikenakan PBB, yaitu objek pajak yang :
1. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di

bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan.
2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang

sejenis dengan itu.


3. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman

nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.
4. Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan

perlakuan timbal balik.


5. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional

yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. 2.4.SUBYEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata : Mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau; Memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau; 4

Memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau; Memperoleh manfaat atas bangunan.

Wajib Pajak adalah Subjek Pajak (orang pribadi/badan) yang dikenakan kewajiban membayar pajak. Pada umumnya setiap orang/badan yang secara nyata mempunyai hak atas bumi atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas bangunan yang bersangkutan bisa dikenakan pajak bumi dan bangunan. Apabila suatu bidang tanah dan bangunan tidak diketahui secara jelas siapa yang menanggung pajaknya, maka yang menetapkan adalah Direktorat Jendral Pajak. Penetapan ini ditentukan berdasarkan bukti-bukti apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur, siapa yang menanggung kewajiban pajaknya dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan bangunan tersebut. Tetapi bila ternyata orang atau badan yang ditetapkan sebagai pihak yang harus membayar pajak itu menolak, maka yang bersangkutan dapat memberikan keterangan tertulis kepada Direktur Jendral Pajak. Dalam hal ini DirJen Pajak dapat menyetujui atau mungkin menolaknya dengan alasan-alasan tertentu. Jawaban dapat diperoleh dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya keterangan tersebut.

2.5.SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan data objek menurut ketentuan Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan. 2.5.1. HAK WAJIB PAJAK 1. Memperoleh formulir SPOP secara gratis pada setiap Kantor Pelayanan PBB, Kantor Penyuluhan Pajak, atau tempat lain yang ditunjuk. 5

2.

Memperoleh penjelasan, keterangan tentang tata cara

pengisian maupun penyampaian kembali SPOP pada Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. 3. 4. Memperoleh tanda terima pengembalian SPOP dari Memperbaiki/mengisi ulang SPOP apabila terjadi Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. kesalahan dalam pengisian dengan melampirkan foto kopi bukti yang sah (sertifikat tanah, akta jual beli tanah, dan lainlain). 5. sebagai 6. Menunjuk orang/pihak lain selain pegawai Direktorat kuasa Wajib Pajak untuk mengisi dan Jenderal Pajak dengan surat kuasa khusus bermeterai, menandatangani SPOP. Mengajukan permohonan tertulis mengenai penundaan penyampaian SPOP sebelum batas waktu dilampaui dengan menyebutkan alasan-alasan yang sah. 2.5.2. KEWAJIBAN WAJIB PAJAK 1. 2. Mendaftarkan Objek Pajak dengan cara mengisi SPOP. Mengisi SPOP dengan jelas, benar, dan lengkap: tafsir 3. Benar berarti data yang diisi sesuai dengan Lengkap berarti terisi semua dan keadaan yang sebenarnya ditandatangani. Menyampaikan kembali SPOP yang telah diisi WP ke Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat selambat-lambatnya 30 hari setelah formulir SPOP diterima. Jelas berarti dapat dibaca sehingga tidak salah

4.

Melaporkan perubahan data Objek Pajak/WP kepada Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat dengan cara mengisi SPOP sebagai perbaikan/pembetulan SPOP sebelumnya.

2.6.SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK TERUTANG Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP.PBB) mengenai pajak terutang.yang harus dibayar dalam 1 (satu) tahun pajak. 2.6.1. HAK WAJIB PAJAK
a. Menerima SPPT PBB setiap tahun pajak, paling lambat bulan Juni b. c. d. atau satu bulan setelah menyerahkan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Mendapatkan penjelasan segala sesuatu yang berhubungan dengan ketetapan PBB. Mengajukan keberatan dan pengurangan. Mendapatkan Surat tanda Terima Setoran (STTS) PBB dari Bank/Kantor Pos dan Giro yang tercantum pada SPPT atau Tanda Terima Sementara (TTS) dari petugas pemungut PBB Kelurahan/Desa yang ditunjuk resmi.

2.6.2. KEWAJIBAN WAJIB PAJAK


a. Menandatangani bukti tanda terima SPPT dan mengirimkannya kembali kepada Lurah/Kepala Desa/Dinas Pendapatan Daerah/Kantor Penyuluhan Pajak untuk diteruskan ke atau Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan SPPT. b. Melunasi PBB pada tempat yang telah ditentukan.

2.6.3. CARA MENDAPATKAN SPPT


a. Mengambil sendiri di Kantor Kelurahan/Kepala Desa/di tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditunjuk.

b.

Dalam rangka pelayanan, SPPT dapat dikirim melalui kantor Pos dan Giro atau diantarkan oleh aparat Kelurahan/Desa.

2.7.DASAR PENGENAAN PBB 1. 2. Dasar pengenaan PBB adalah "Nilai Jual Objek Pajak Besarnya NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Kepala dengan mempertimbangkan pendapat

(NJOP)" Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak atas nama Menteri Keuangan 3. 4. Gubernur/Bupati/Walikota (Pemerintah Daerah) setempat. Dasar penghitungan pajak adalah yang ditetapkan serendahBesarnya prosentase ditetapkan dengan Peraturan rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100% dari NJOP. Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional. Pada dasarnya penetapan NJOP adalah tiga tahun sekali. Namun demikian untuk daerah tertentu yang karena perkembangan pembangunan mengakibatkan kenaikan NJOP cukup besar, maka penetapan nilai jual ditetapkan setahun sekali.

2.8.NILAI JUAL OBJEK PAJAK Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah suatu harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. NJOP ini ditetapkan sebagai dasar untuk pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terhadap suatu objek Bumi dan Bangunan. Apabila tidak diperoleh harga transaksi jual beli, maka NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti. Besarnya NJOP ditentukan berdasarkan klasifikasi: 8

1. Objek Pajak Sektor Pedesaan dan Perkantoran 2. Objek Pajak Sektor Perkebunan 3. Objek Pajak Sektor Kehutanan atas Hak Pengusaha Hutan, Hak

Pengusahaan Hasil Hutan, Izin Pemanfaatan Kayu Serta Izin Sah Lainnya Selain Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri
4. Objek Pajak Sektor Kehutanan atas Hak Pengusahaan Hutan

Tanaman Industri
5. Objek Pajak Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi 6. Objek Pajak Sektor Pertambangan Energi Panas Bumi 7. Objek

Pajak

Sektor

Pertambangan

Non

Migas

selain

Pertambangan Energi Panas Bumi dan Galian C 8. Objek Pajak Sektor Pertambangan Non Migas C 9. Objek Pajak Sektor Pertambangan yang dikelola berdasarkan Kontrak Karya atau Kontrak Kerjasama
10. Objek Pajak usaha bidang perikanan laut

11. Objek Pajak usaha bidang perikanan darat 12. Objek Pajak yang bersifat khusus

2.9.NILAI

JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK

(NJOPTKP)
NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP adalah Rp 8.000.000,- dengan ketentuan sebagai berikut:

1. 2.

Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP Apabila wajib pajak mempunyai beberapa Objek Pajak,

sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak. maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya. 2.10. DASAR PENGHITUNGAN PBB Dasar penghitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP). Besarnya NJKP adalah sebagai berikut: 1. a. b. c. Sebesar 40% dari NJOP untuk: Objek Pajak perkebunan Objek Pajak kehutanan Objek Pajak lainnya, yang Wajib Pajaknya perorangan

dengan NJOP atas bumi dan bangunan sama atau lebih besar dari Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 2. a. b. Sebesar 20% dari NJOP untuk: Objek Pajak Pertambangan Objek Pajak lainnya yang NJOP-nya kurang dari Rp.

1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Besarnya tarip PBB adalah 0,5% Rumus penghitungan PBB = Tarif x NJKP a. PBB = 0,5% x 40% x (NJOP-NJOPTKP) = 0,2% x (NJOP-NJOPTKP) b. PBB = 0,5% x 20% x (NJOP-NJOPTKP) 10 Jika NJKP = 20% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya Jika NJKP = 40% x (NJOP - NJOPTKP) maka besarnya

= 0,1% x (NJOP-NJOPTKP)

Contoh menghitung PBB: Tuan John mempunyai sebidang tanah 125 m2 dengan NJOP PBB tahun 2010 dengan kelas A16 Rp. 1.032.000,00/m2, NJOPTKP Rp.10.000.000,00 , berapa PBB yang harus dibayar Tuan John? Jawaban: Luas tanah = 125 m2 X 1.032.000/m2 = Rp. 129.000.000,00 PBB yang harus dibayar = 0,5% x 20% x (Rp. 129.000.000,00 Rp.10.000.000,00) = Rp. 119.000,00

2.11. TATA CARA PEMBAYARAN 1. Pajak yang terutang berdasarkan SPPT harus dilunasi

selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh wajib pajak. 2. Pajak yang terutang berdasarkan SKP harus dilunasi

selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimannya SKP oleh wajib pajak.
3.

Pajak yang terutang yang pada saat jatuh tempo pembayaran

tidak dibayar atau kurang dibayar, dikenakan denda administrasi sebesar 2% sebulan, yang dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan. 4. Denda administrasi sebagaimana dimaksud dalam no. 3

diatas, ditambah dengan utang pajak yang belum atau kurang dibayar ditagih dengan Surat Tagihan Pajak (STP) yang harus dilunasi 11

selambat-lambatnya 1 bulan sejak tanggal diterimanya STP oleh wajib pajak. 5. Pajak yang terutang dapt dibayar di Bank, Kantor Pos dab

Giro, dan tempat lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 6. Tata cara pembayaran dan penagihan pajak diatur oleh

Menteri Keuangan. 7. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), Surat

Ketetapan Pajak, dan Surat Tagihan pajak (STP) merupakan dasar penagihan pajak. 8. Jumlah pajak yang terutang berdasarkan STP yang tidak

dibayarkan pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa. 2.12. KEBERATAN DAN BANDING 2.1.1. KEBERATAN A. ALASAN PENGAJUAN KEBERATAN 1. Pajak yang terutang pada Surat Pemberitahuan Pajak

Terutang (SPPT) atau Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang diterbitkan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, karena kesalahan :
a. b.

Luas Objek Pajak bumi dan/atau bangunan; Klasifikasi Objek Pajak bumi dan/atau

bangunan;
c.

Penetapan/pengenaan.

2.

Terdapat perbedaan penafsiran peraturan perundang-

undangan tentang PBB antara Wajib Pajak (WP) dan Fiskus. 12

3.

Kesalahan Penetapan Subyek Pajak sebagai WP oleh

Direktorat Jenderal Pajak.

B. TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN 1. Membuat permohonan secara tertulis dalam bahasa

Indonesia kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB. 2. Disampaikan dalam batas waktu 3 (tiga) bulan sejak

diterimanya SPPT atau SKP.


3.

Memuat alasan yang jelas. Melampirkan foto kopi sebagai berikut : a. Bukti pemilikan hak atas tanah/sertifikat;

4.

dan/atau b. c. d. e. f. Bukti Surat Ukur/Rincik; dan/atau Akta Jual Beli; dan/atau SPPT/SKP; dan/atau Izin Mendirikan Bangunan (IMB); dan/atau Bukti resmi lainnya.

C. BENTUK KEPUTUSAN Keputusan keberatan dapat berupa:


1.

Diterima seluruhnya, apabila data/bukti-bukti yang dalam pengajuan keberatan dan/atau

dilampirkan

diperoleh dalam peninjauan terbukti kebenarannya.

13

2.

Diterima sebagian, apabila data/bukti-bukti yang dalam dalam pengajuan peninjauan keberatan sebagian dan/atau terbukti

dilampirkan diperoleh kebenarannya.


3.

Ditolak, apabila data/bukti-bukti yang dilampirkan

dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan tidak terbukti kebenarannya.
4.

Ditambah jumlah pajaknya, apabila data/bukti-bukti

yang dilampirkan dalam pengajuan keberatan dan/atau diperoleh dalam peninjauan lapangan, menunjukkan adanya peningkatan jumlah luas dan/atau Nilai Jual Objek Pajak. D. LAIN-LAIN
1. Keberatan terhadap SPPT/SKP harus diajukan per Objek Pajak dan per tahun pajak.
2. Keberatan yang diajukan langsung oleh WP akan diberi

Tanda Bukti Penerimaan, dan surat keberatan yang dikirim malalui Pos Tercatat, Resi Tanda Pengiriman menjadi Tanda Bukti Penerimaan. 3. Pengajuan permohonan keberatan tidak menunda

kewajiban membayar pajak.

2.1.2. BANDING Wajib pajak dapat mengajukan permasalahan keberatan ke tingkat banding yaitu kepada Badan Peradilan Pajak (Badan Penyelesaian Sengketa Pajak/BPSP) yang diatur dalam UU

14

17/1997. Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak. Syarat dan tata cara pengajuan banding: a. b. jelas. c. d. e. f. Dalam jangka waktu 3 bulan sejak keputusan atas Dilampiri salinan surat keputusan atas keberatan. Terhadap satu surat keputusan keberatan, diajukan Banding terhadap besarnya jumlah pajak terhutang keberatan diterima. Diajukan sendiri oleh pembayar pajak, ahli warisnya, Tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang

seorang pengurus atau kuasa hukumnya.

satu permohonan banding. hanya dapat diajukan apabila jumlah pajak yang terhutang dimaksud telah dibayar lunas. Bentuk Putusan Banding: a. Putusan Banding Penyelesaian Sengketa Pajak dapat berupa 1. Menolak; 2. Mengabulkan sebagian atas seluruhnya; 3. Menambah pajak yang harus dibayar; 4. Tidak dapat diterima; 5. Membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan hitung. b. Putusan banding oleh BPSP merupakan putusan akhir dan bersifat tetap serta bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. Apabila pengajuan permohonan banding diterima sebagaian atau seluruhnya, maka kelebihan pembayaran dikembalikan 15

dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% sebulan untuk selama-lamanya 24 bulan. Pengajuan banding dilakukan karena :

Pengajuan keberatan ditolak oleh KKP PBB karena

data objek tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya atau adanya perbedaan penafsiran per undang-undangan antar wajib pajak dan aparat pajak.

Subjek pajak tidak bersedia menjadi wajib pajak atas

penunjukan Direktur Jendral Pajak. Keputusan banding berlaku mengikat serta mempunyai kepastian dan kekuatan hukum baik terhadap Dirjen Pajak maupun terhadap wajib pajak. 2.13. PENGURANGAN PAJAK Diberikan pengurangan pajak terhutang bilamana wajib pajak : a. Karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek

pajak dan atau karena sebab-sebab lain yaitu :

Lahan

pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan sangat terbatas yang dimiliki/dikuasai

yang atau

hasilnya

dimanfaatkan oleh wajib pajak perorangan. Objek pajak yang nilai jualnya meningkat disebabkan karena atau dimanfaatkan oleh wajib pajak adanya pembangunan atau perkembangan lingkungan yang dimiliki/dikuasai

perseorangan yang berpenghasilan rendah. Objek pajak dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh wajib pajak perseorangan yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiun sehingga kewajiban PBBnya sulit dipenuhi. 16

Objek pajak yang dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh

wajib pajak badan yang mengalami kerugian dan kesulitan likuiditas yang serius sepanjang tahun sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin perusahaan.

Objek pajak dimiliki/dikuasai atau dimanfaatkan oleh

masyarakat berpeng-hasilan rendah lainnya sehingga kewajiban PBBnya sulit dipenuhi. Besarnya persentase pengurangan ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB berdasarkan pertimbangan yang wajar dan objektif dengan mengingat penghasilan wajib pajak dan besarnya PBB yang terhutang. Pengurangan ditetapkan setinggitingginya 75 %. b. Objek pajak terkena bencana alam. c. Terkena sebab-sebab lain yang luar biasa seperti kebakaran, kekeringan (puso). Besarnya persentase pengurangan ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB. Pengurangan ini bisa ditetapkan sampai 100 %. Wajib pajak bisa mengajukan permohonan pengurangan PBB dengan mencantumkan besarnya persentase pengurangan yang dimohonkan. Permohonan pengurangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. Permohonan pengurangan PBB untuk ketetapan PBB sampai dengan Rp 25.000 dapat diajukan secara perseorangan atau kolektif. b. Permohonan pengurangan untuk ketetapan PBB diatas Rp 25.000 harus diajukan oleh wajib pajak yang bersangkutan dengan melampirkan foto copy SPPT/SKP dari tahun pajak yang diajukan permohonan pengurangannya. 17

c. Untuk wajib pajak badan hukum harus dilampiri dengan :

Fotocopy SPPT/SKP dari tahun pajak yang diajukan SPT PPh tahun pajak yang terakhir beserta lampirannya. Atas objek pajak yang terkena bencana alam dan sebab-

permohonan pengurangannya.

d.

sebab lain yang luar biasa dan bersifat massal, diajukan secara tertulis oleh Kepala desa/lurah dan diketahui oleh Camat dengan mencantumkan nama-nama wajib pajak yang dimohonkan pengurangannya. e. Karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan atau karena sebab-sebab tertentu lainnya diajukan selambat-lambatnya 60 hari sejak tanggal diterimanya SPPT/SKP oleh wajib pajak. f. g. Dalam hal objek pajak terkena bencana alam diajukan Apabila batas waktu pengajuan (e) dan (f) tidak dipenuhi, selambat-lambatnya 60 hari sejak terjadinya bencana alam. maka permohonan tersebut tidak diproses dan Kepala Kantor Pelayanan PBB memberitahukan kepada wajib pajak/Kepala Desa/Lurah penjelasannya. Batas Waktu Pengurangan Permohonan: a. Kepala Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan SPPT atau SKP, harus sudah memberikan keputusan selambat-lambatnya 60 hari sejak diterimanya permohonan pengurangan. b. Keputusan dapat menerima seluruh , sebagian permohonan atau menolak. c. Keputusan pemberian pengurangan berlaku untuk satu tahun pajak. yang bersangkutan secara tertulis dengan

18

d. Keputusan dibuat berdasar hasil penelitian administrasi dan atau verifikasi lapangan dengan pertimbangan wajar dan objektif. e. Bila jangka waktu permohonan 60 hari telah lewat dan keputusan belum diterbitkan, maka permohonan pengurangan dianggap diterima dan diterbitkan keputusan pemberian pengurangan yang besarnya sesuai dengan permohonan pengurangan. f. Jangka waktu 60 hari dihitung sejak tanggal tanda terima surat permohonan tersebut bila disampaikan langsung atau tanggal diterimanya surat permohonan di Kantor Pelayanan PBB bila surat dikirimkan melalui pos/sarana pengiriman lainnya.

19

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN
Dengan melihat teori yang ada dan menghubungkan serta menganalisa UU NOMOR 12 TAHUN 1994 ini maka bisa dilihat bahwa berbagai teori tersebut sudah teraplikasikan dalam sistem perundangan-undangan pajak Indonesia dalam hal ini khususnya dalam UU PBB. Kesearahan antara teori reformasi pajak dan reformasi pajak akan membawa ke arah yang lebih baik jika di terapkan dengan konsisten dengan selalu menegakkan supremasi hukum.

SARAN
Pemerintah dan anggota legislatif sebagai pembuat undang-undang harus selalu melakukan perbaikan terhadap berbagai kelemahan yang masih ada dan akan selalu ada untuk mencapai arah yang lebih sempurna.

20

DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo,Akt,.2011. Perpajakan.Yogyakarta: Penerbit Andi http://www.suganda.co.id/artikel/detail/14/pajak-bumi-dan-bangunanpbb.html http://masalahpajak.blogspot.com/ http://www.portalgue.com/2012/02/pengertian-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html http://organisasi.org/pengertian-arti-definisi-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb-infopendaftaran-tarif-pembayaran-keberatan-sanksi-media-sppt http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=14160 http://www.klinik-pajak.com/ http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=pajak&cat=pbb http://ngertipajak.com/objek-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.html http://klinik-pajak.com/

21

Anda mungkin juga menyukai