Anda di halaman 1dari 16

Konjungtivitis Virus

Disusun oleh : Nama : Ari Filologus Sugiarto Nim : 10.2009.187 Kelompok : D-4

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Latar belakang Seorang anak laki laki berusia 8 tahun datang dibawa ibunya ke UGD dengan keluhan kedua mata merah setelah 5 hari yang lalu disertai keluar mata berdarah. Adanya riwayat kontak dengan teman sekelasnya dengan keluhan serupa. Tidak ada riwayat trauma. Pemeriksaan fisik : kesadaran kompos mentis, subfebril, adanya limfadenopati preauricular. Status oftalmologi : kedua palpebra edema, perdarahan subkonjungtiva, injeksi konjungtiva dengan reaksi folikel, membrane, membrsn warna keputihan pada konjungtiva palpebra. Visus ODS : 20/20

Konjungtivitis (konjungtivitis, pink eye) merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, dan iritasi bahan-bahan kimia (Anonim, 2009). Konjungtivitis, terdiri dari: 1. Konjungtivitis alergi (keratokonjungtivits atopik, simple alergik konjungtivitis, konjungtivitis seasonal, konjungtivitis vernal, giant papillary conjungtivitis). 2. Konjungtivitis bakterial (hiperakut, akut, kronik). 3. Konjungtivitis virus (adenovirus, herpetik). 4. Konjungtivitis klamidia. 5. Bentuk konjungtivitis lain (Contact lens-related, mekanik, trauma, toksik, neonatal, Parinauds okuloglandular syndrome, phlyctenular, sekunder) (Alamsyah, 2007). Boleh dikatakan masyarakat sudah sangat mengenalnya. Penyakit ini dapat menyerang semua umur. Konjungtivitis yang disebabkan oleh mikro-organisme (terutama virus dan kuman atau campuran keduanya) ditularkan melalui kontak dan udara. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

Anamnesis
1. 2. 3. 4. Identitas pasien Riwayat penyakit sekarang Riwayat kesehatan dahulu Riwayat kesehatan keluarga

Keluhan utama : kedua mata merah sejak lima hari yang lalu disertai keluar darah. Ada riwayat kontak dengan teman sekelasnya dengan keluhan serupa. Tidak ada riwayat trauma

Pemeriksaan fisik
1. 2. 3. 4. 5. Pemeriksaan tajam penglihatan (visus) Pemeriksaan segmen posterior Pemeriksaan gerak bola mata Pemeriksaan lapang pandang (test konfrontasi) Pemeriksaan tekanan bola mata (tonometri digital)

Didapat: Kesadaran kompos mentis Subfebris Limfadenopati preaurikular Kedua palpebra udema Perdarahan subkkonjungtiva Injeksi konjungtiva dengan reaksi folikel Membran keputihan pada konjungtiva palpebra Visus 20/20

Pemeriksaan penunjang 1. Konjungtivitis virus akut : Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tidak ada bakteri yang tumbuh pada biakan 2. Keratokonjungtivitis Epidemika : Kerokan konjungtiva menampakan reaksi radang mononuclear primer, juga Nampak neutrofil yang banyak 3. Konjungtivits Virus Herpes Simpleks : Jika konjungtivitisnya folikular reaksi radangnya terutama mononuclear, tetapi jika ada pseudomembran reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis nekrosis. 4. Konjungtivitis Hemoragika Akut : Inklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea dengan fiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou, tetapi tidak tampak pada pulasan Giemsa.

5. Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum : Reaksi radangnya terutama mononuclear 6. Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster : kerokan dari vesikel palpebranya mengandung sel raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear 7. Keratokonjungtivitis Campak : Kerokan konjungtiva menunjukan reaksi sel mononuclear, kecuali jika ada pseudomembran atau infeksi sekunder. Pulasan Giemsa terlihat sel-sel raksasa

Working Diagnosa
Konjungtivitis Virus Konjungtivitis virus adalah suatu penyakit umum yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus. Keadaan ini berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat, sampai infeksi ringan yang cepat sembuh sendiri. 1. Konjungtivitis virus akut a. Demam faringokonjungtival Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang kadang tipe 4 dan 7. Virusnya dapat dibiakan dalam sel sel HeLa dan di identifikasi oleh uji netralisasi. Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tidak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak anak dari pada orang dewasa dan mudah menular dalam di kolam renang berklor rendah. Tidak ada pengobatan spesifik, tetapi konjungtivitis umumnya sembuh sendiri kira kira dalam 10 hari. Manifestasi klinis : emam faringokonjingtival ditandai oleh demam , - Sakit tenggorokan - Konjungtivitis folikular pada satu atau kedua mata - Dapat unilateral atau bilateral - Mata merah dan sering berair - Terdapat keratitis epitel superficial dan kekeruhan subepitel - Yang khas terdapat Limfadenopati preaurikular (tidak nyeri tekan) b. Keratokonjungtivitis Epidemika Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37 (subgroup D adenovirus manusia). virus-virus ini dapat diisolasi dalam biasakan

sel dan diidentifikasi denga uji netralisisasi. Kerokan konjungtiva menampakan reaksi radang mononuclear primer, juga Nampak neutrofil yang banyak. Keratokonjungtivitis epidemika pada orang dewasa terbatas dibagian luar mata, tetapi pada anak-anak mungkin terdapat gejala-gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya terdapat injeksi konjungtiva, nyeri sedang, dan berair mata. Dalam 5-14 hari akan diikuti oleh fotofobia, keratitis epitel dan kekeruhan subepitel yang bulat. Sensasi kornea normal dan terdapat nodus preauricular dengan nyeri tekan yang khas. Edema palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan perdarahan konjungtivayang sring muncul dalam 48 jam Konjungtivitisnya berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel terutama terfokus di pusat kornea, biasanya tidak pernah ke tepian. Belum ada terapi yang spesifik, tetapi kompres dingin akan mengurangi beberapa gejala. c. Konjungtivits Virus Herpes Simpleks Konjungtivitis virus herpes simplek (HSV) biasanya mengenai anak kecil, adalah keadaan luarbiasa yang ditandai dengan injeksi unilateral, iritasi, secret mukoid, nyeri dan fotofobia ringan. Keadaan ini sering disertai keratitis herpes simpleks, dengan kornea yang menampakan lesi-lesi eputel tersendiri yang umumnya menyatu membentuk ulkus tunggulan maupun bercabang (dendritik) Vesikel-vesikel herpes terkadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema palpebra hebat. Khasnya ditemukan sebuah nodus preaurikular kecil yang nyeri tekan. Jika konjungtivitisnya folikular reaksi radangnya terutama mononuclear, tetapi jika ada pseudomembran reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis nekrosis. Inklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea dengan fiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou, tetapi tidak tampak pada pulasan Giemsa. Virusnya mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung Dacron kering atau aglinat calciumdiatas konjungtiva secara hati-hati. Konjungtivitis HSV dapat berlangsung 2-3 minggu, jika timbul pseudomembran dapat meninggalkan parut linear halus atau parut datar. Virus herpes tipe 1 merupakan penyebab hampir seluruh kasus mata, tipe 2 adalah penyebab umum pada neonates dan langka pada dewasa. Konjungtivits yang terjadi pada ada diatas 1 tahun dan orang dewasa umumnya sembuh sendiri. Namun antivirus topical atau sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea

d. Konjungtivitis penyakit Newcastle Konjungtivitis penyakit Newcastle adalah penyakit yang jarang didapat, ditandai dengan perasaan terbakar, gatal, nyeri, merah, berair mata, dan penglihatan kabur. Sering terjadi pada pekerja peternakan unggas atau burung dan petugas laboratorium yang bekerja dengan virus atau vaksin hidup. Konjungtivitis ini mirip dengan yang disebabkan virus lain, dengan kemosis, nodus preaurikular kecil, dan folikel-folikel di tarsus superior dan inferior. Tidak ada pengobatan karena akan sembuh sendiri. e. Konjungtivitis Hemoragika Akut Pertama kali ditemukan di Ghana pada tahun 1969. Konjungtivitis ini disebabkan oleh enterovirus tipe 70 dan sesekali oleh coxsackievirus A24. Penyakit ini khas memiliki inkubasi yang pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7hari). Gejala dan tandanya bisa nyeri, fotofobia, sensasi benda asing, banyak meneluarkan air mata, kemerahan, edema palpebra, dan perdarahan subkonjungtiva, kadang-kadang terdapat kemosis. Kebanyakan pasien mengalami limfadenopati preaurikular, folikel konjungtiva, dan keratitis epitel. Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan benda penular seperti seprai, alat-alat optic yang terkontaminasi dan air. Penyembuhan terjadi dalam 5-7 hari dan tidak ada pengobatan yang pasti. 2. Konjungtivitis Viral kronik a. Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat menimbulkan konjungtivitis folikular kronik unilateral, keratitis superior, dan pannus superior, dan mungkin menyerupai trakoma. Reaksi radangnya terutama mononuclear. Lesi bulat, berombak, putih mutiara dan non imflamasi. Biopsi menunjukan inklusi sitoplasma sel yang membesar, mendesak inti ke satu sisi. Terapinya yaitu dengan eksisi atau insisi sederhana.

b. Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster Hyperemia dan konjungtivitis infiltrative yang disertai dengan erupsi vasikuler yang khas disepanjang penyebaran dermaton nervus trigeminus cabanf oftalmika (adalah khas herpes zoster), sebaiknya disebut zoster simplek.

Lesi palpebra pada varicella yang mirip dengan lesi kulit (pox) pada kedua palpebra atau tepian palpebra. Pada zoster atau varicella kerokan dari vesikel palpebranya mengandung sel raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear. Terapi dengan acyclovir oral dosis tinggi (800 mg per oral lima kali sehari selama 10 hari) c. Keratokonjungtivitis Campak Enantema khas pada campak sering kali mendahului erupsi kulit. Pada tahap awal ini, tampilan konjungtiva mirip kaca yang aneh, yang diikuti pembengkakan plica semilunaris (tanda Meyer). Sebelum erupsi kulit, timbul konjungtivitis eksudatif dengan secret mukopurulen dan diikuti keratitis epithelial. Kerokan konjungtiva menunjukan reaksi sel mononuclear, kecuali jika ada pseudomembran atau infeksi sekunder. Pulasan Giemsa terlihat sel-sel raksasa. Tidak ada terapi spesifik, hanyak tindakan penunjang (kecuali ada infeksi sekunder) Diagnosis Banding Konjungtivitis Bakteri

Diagnosa Banding Konjungtivitis bakteri


Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan menahun. Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus, Pneumococcus, dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai. Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari sekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa hari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria meningitides dapat

menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini Tanda dan Gejala - Iritasi mata, - Mata merah, - Sekret mata, - Palpebra terasa lengket saat bangun tidur

- Kadang-kadang edema palpebra Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan. Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll Pemeriksaan Laboratorium Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen, bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik, namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan

Konjungtivitis Imunologik (Alergik)


Reaksi Hipersensitivitas Humoral Langsung 1. Konjungtivitis Demam Jerami (Hay Fever) Tanda dan gejala Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai demam jerami (rhinitis alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan, dan lainnya. Pasien mengeluh tentang gatal-gatal, berair mata, mata merah, dan sering mengatakan bahwa matanya seakan-akan tenggelam dalam jaringan sekitarnya. Terdapat sedikit penambahan pembuluh pada palpebra dan konjungtiva bulbi, dan selama serangan akut sering terdapat kemosis berat (yang menjadi sebab tenggelamnya tadi). Mungkin terdapat sedikit tahi mata, khususnya jika pasien telah mengucek matanya. Laboratorium Sulit ditemukan eosinofil dalam kerokan konjungtiva

Terapi Meneteskan vasokonstriktor local pada tahap akut (epineprin, larutan 1:1000 yang diberikan secara topical, akan menghilangkan kemosis dan gejalanya dalam 30 menit). Kompres dingin membantu mengatasi gatal-gatal dan antihistamin hanya sedikit manfaatnya. Respon langsung terhadap pengobatan cukup baik, namun sering kambuh kecuali anti-gennya dapat dihilangkan. 2. Konjungtivitis Vernalis Definisi Penyakit ini, juga dikenal sebagai catarrh musim semi dan konjungtivitis musiman atau konjungtivitis musim kemarau, adalah penyakit alergi bilateral yang jarang.1,3 Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah dingin. Penyakit ini hamper selalu lebih parah selama musim semi, musim panas dan musim gugur daripada musim gugur. Insiden Biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5 10 tahun. Penyakit ini lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. 5 Tanda dan gejala Pasien mengeluh gatal-gatal yang sangat dan bertahi mata berserat-serat. Biasanya terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lainnya). Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papilla raksasa berbentuk polygonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler.1,2,3 Laboratorium Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan granula eosinofilik bebas. 1

Terapi Penyakit ini sembuh sendiri tetapi medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya member hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai untuk jangka panjang. steroid sisremik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengharuhi penyakit kornea ini, dan efek sampingnya (glaucoma, katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat merugikan. Crmolyn topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat. Vasokonstriktor, kompres dingin dan kompres es ada manfaatnya, dan tidur di tempat ber AC sangat menyamankan pasien. Agaknya yang paling baik adalah pindah ke tempat beriklim sejuk dan lembab. Pasien yang melakukan ini sangat tertolong bahkan dapat sembuh total. 1,3 3. Konjungtivitis Atopik Tanda dan gejala Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian palpebra eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla halus, namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior. Berbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis vernal, yang terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulangkali. Timbul keratitis perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan. 1,3 Biasanya ada riwayat alergi (demam jerami, asma, atau eczema) pada pasien atau keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic sejak bayi. Parut pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering ditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal, penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia 50 tahun. Laboratorium Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 1

Terapi Atihistamin oral termasuk terfenadine (60-120 mg 2x sehari), astemizole (10 mg empat kali sehari), atau hydroxyzine (50 mg waktu tidur, dinaikkan sampai 200 mg) ternyata bermanfaat. Obat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan iodoxamid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. Pada kasus berat, plasmaferesis merupakan terapi tambahan. Pada kasus lanjut dengan komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk mengembalikan ketajaman penglihatannya. 1,3 Reaksi Hipersensitivitas Tipe Lambat 1. Phlyctenulosis Definisi Keratokonjungtivitis phlcytenularis adalah respon hipersensitivitas lambat terhadap protein mikroba, termasuk protein dari basil tuberkel, Staphylococcus spp, Candida albicans, Coccidioides immitis, Haemophilus aegyptus, danChlamydia trachomatis serotype L1, L2, dan L3. 1 Tanda dan Gejala Phlyctenule konjungtiva mulai berupa lesi kecil yang keras, merah, menimbul, dan dikelilingi zona hyperemia. Di limbus sering berbentuk segitiga, dengan apeks mengarah ke kornea. Di sini terbentuk pusat putih kelabu, yang segera menjadi ulkus dan mereda dalam 10-12 hari. Phlyctenule pertama pada pasien dan pada kebanyakan kasus kambuh terjadi di limbus, namun ada juga yang di kornea, bulbus, dan sangat jarang di tarsus. 1 Phlyctenule konjungtiva biasanya hanya menimbulkan iritasi dan air mata, namun phlyctenule kornea dan limbus umumnya disertai fotofobia hebat. Phlyctenulosis sering dipicu oleh blefaritis aktif, konjungtivitis bacterial akut, dan defisiensi diet. Terapi Phlyctenulosis yang diinduksi oleh tuberkuloprotein dan protein dari infeksi sistemik lain berespon secara dramatis terhadap kortikosteroid topical. Terjadi reduksi sebagian besar gejala dalam 24 jam dan lesi hilang dalam 24 jam berikutnya. Antibiotika topical

hendaknya ditambahkan untuk blefarikonjungtivitis stafilokokus aktif. Pengobatan hendaknya ditujukan terhadap penyakit penyebab, dan steroid bila efektif, hendaknya hanya dipakai untuk mengatasi gejala akut dan parut kornea yang menetap. Parut kornea berat mungkin memerlukan tranplantasi. 1 2. Konjungtivitis Ringan Sekunder terhadap Blefaritis kontak Blefaritis kontak yang disebabkan oleh atropine, neomycin, antibiotika spectrum luas, dan medikasi topical lain sering diikuti oleh konjungtivitis infiltrate ringan yang menimbukan hyperemia, hipertropi papiler ringan, bertahi mata mukoid ringan, dan sedikit iritasi. Pemeriksaan kerokan berpulas giemsa sering hanya menampakkan sedikit sel epitel matim, sedikit sel polimorfonuklear dan mononuclear tanpa eosinofil. 1 Pengobatan diarahkan pada penemuan agen penyebab dan menghilangkannya. Blefaritis kontak dengan cepat membaik dengan kortikosteroid topical, namun pemakaiannya harus dibatasi. Penggunaan steroid jangka panjang pada palpebra dapat menimbulkan glaucoma steroid dan atropi kulit dengan telangiektasis yang menjelekkan.

Perbedaan jenis-jenis konjungtivitis umum Temuan klinis Viral Bakteri dan sitologi Gatal Minimal Minimal Hyperemia Generalisata Generalisata Mata berair Banyak Sedang Eksudasi Minimal Banyak Adenopati Sering Jarang preaurikular

Klamidia Minimal Generalisata Sedang Banyak Hanya sering pada konjungtivitis inklusi PMN, sel plasma, dan badan inklusi Tidak pernah

Alergika Hebat Generalisata Minimal Minimal Tak ada

Pada kerokan dan eksudat yang dikerok Disertai sakit tenggorokoan dan demam

Monosit

Bakteri, PMN

Eosinofil

Sesekali

Sesekali

Tidak pernah

Etiologi
Konjungtivitis folikuler virual akut 1. Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang kadang tipe 4 dan 7 2. Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37 (subgroup D adenovirus manusia) 3. Konjungtivits Virus Herpes Simpleks oleh virus herpes simplek 4. Konjungtivitis Hemoragika Akut : enterovirus tipe 70 konjungtivitis folikular virus menahun : virus molluscum contogjosum Blefarokonjungtivitis karena virus : varicella, herpes zoster

Epidemiologi
PCF yang terjadi dikaitkan dengan KLB penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh adenovirus atau muncul sebagai wabah musim panas yang ditularkan melalui kolam renang. AHC pertama kali dikenal di Ghana tahun 1969 dan di Indonesia pada tahun1970; sejak itu beberapa KLB terjadi di barbagai daerah tropis di Asia, Afrika, AmerikaSelatan dan Tengah, Kepulauan Karibia, Kepulauan Pasifik dan sebagian Florida sertaMeksiko. KLB di Semua Amerika pada tahun 1986 karena Cokxakievirus varian A24diperkirakan menyerang 48% dari . KLB yang lebih kecil terjadi di beberapanegara Eropa, biasanya dihubungkan dengan penularan di klinik mata. Kasus-kasus AHC juga terjadi dikalangan pengungsi yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara yangtiba di AS serta para pelancong yang kembali ke AS dari daerah yang terkena wabah AHC

Patofisiologi
Melalui kontak langsung dengan kotoran mata yang terinfeksi. Penularan orang ke orangpaling banyak terjdi di dalam lingkungan keluarga, dimana angka serangannya biasanyatinggi. Adenovirus dapat di tularkan di kolam renang yang tidak diklorinasi dengan baik dan dilaporkan sebagai konjungtivitis kolam renang; penyakit ini juga ditularkanmelalui droplet dari saluran pernafasan. Wabah besar AHC di negara berkembangberkaitan dengan

padatnya penduduk dan sanitasi lingkungan yang buruk. Anak sekolahberperan dalam penyebaran cepat AHC kepada masyarakat umum.

Manifestasi klinis
hyperemia mata berair Konjungtivitis folikular pada satu atau kedua mata Dapat unilateral atau bilateral Terdapat keratitis epitel superficial dan kekeruhan subepitel Yang khas terdapat Limfadenopati preaurikular Edema palpebra

Komplikasi
Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya: 1. glaukoma 2. katarak 3. ablasi retina 4. komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis 5. komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea 6. komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi buta 7. komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat

mengganggu penglihatan.

Pencegahan
Karena tidak ada pengobatan yang efektif, pencegahan sangatlah penting, kebersihan perorangan sebaiknya ditekankan termasuk menghindari pemakaian handuk bersamadan menghindari kerumunan. Jaga selalu keadaan asepsis di klinik-klinik mata; cucitangan sebelum memeriksa pasien. Klinik mata harus yakin bahwa disinfeksi tingkat tinggi pada barang-barang yang mungkin terkontaminasi telah dilakukan dengan baik. Jika terjadi KLB penutupan sekolah bisa di lakukan. Lakukan klorinasi kolam renang dengan baik

Terapi
Non medikamentosa Yaitu lebih kepada pola hidup sehat sebagai pencegahan dan terapi suportif Memberi pengetahuan dengan tujuan pasien tahu tentang penyakit, baik masa inkubasi, cara penularan dan penanganannya

Medikamentosa Dapat di beri anti virus (untuk kasus konjungtivitis yang tidak kunjung sembuh atau lebih dari dua minggu) seperti Acyclovir (efek minimal dibanding antivirus lain)

Prognosis
prognosis baik, karena biasanya konjungtiva yang diakibatkan virus dapat sembuh sendiri

Kesimpulan
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik serta pengkajian dari kasus diatas, pasien 8 tahun dengan keluhan mata merah disertai keluar darah menderita konjungtivitis hemoragika akut

Daftar pustaka

1. Ilyas S. 2009. ilmu penyakit mata edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 2. Voughan, Daniel G, 2000. Oftalmologi umum edisi ke-4. Jakarta : Penerbit Widya Medika 3. Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Perawatan Konsep, proses dan praktek edisi ke-4. Jakarta : EGC 4. Ilyas S. 2009. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 5. Voughan, Asbury. 2007. Oftalmologi umum edisi ke-17. Jakarta : EGC 6. Corwin, Elisabeth J. 2000. Patofisiologi. Jakarta : EGC