Anda di halaman 1dari 34

tidak kurang dari 2-3 mm dari tepi palpebra. Hindari perforasi padakulit.

Kerok isi kalazion, termasuk batas kantongnya. Lakukan penekanan selama beberapa menit untuk menghentikan perdarahan.Balut luka selama beberapa jam .

Jika sebelumnya pernah dilakukan drainase eksternal, maka dianjurkan pendekatan eksternal. Buat insisi horisontal, sedikitnya 3 mm daritepi palpebra pada daerah lesi. Jangan sampai melukai jarinagn yangsehat. Setelah perdarahan berhenti, lakukan penjahitan yang sesuai.Penyatuan yang baik antara kulit dan konjungtiva memerlukan perencanaan yang baik mengenai lokasi sayatan guna mencegah pembentukan fistula. Kauterisasi dengan fenol atau asamtrikloroasetat setelah insisi dan drainase dapat mencegah terjadinyakembali kalazion.

Kalazion yang besar, atau yang dibiarkan berlangsung lama, sertakalazion yang mengalami fibrosisi luas mungkin membutuhkan eksisiyang lebih besar, termasuk pengangkatan sebagian lempeng tarsal.Kalazion multipel harus disayat dengan hatihati agar tidak terjadideformitas luas pada palpebra, sehingga memungkinkan lempengtarsal sembuh tanpa meninggalkan celah.

Suntikan kortikosteroid lokal intralesi (0,5-2 mL triamsinolon asetonid5 mg/mL) daapt diberikan dan diulang dalam 2-7 hari.Konsul:Konsul kepada dermatologis mungkin dapat berguna untuk membantumengatasi rosasea serta disfungsi sebasea.Aktivitas:Kebiasaan sehari-hari seperti tidur cukup, pajanan sinar matahari tidak terlalu sering, olah raga, dan udara segar mungkin dapat bermanfaat bagikesehatan dan kebersihan kulit dan kelenjar-kelenjar yang terdaapt pada palpebra. Stress sering dikaitkan dengan kejadian kalazion berulang,meskipun peranannya sebagai penyebab belum dapat dibuktikan.Medikamentosa:

Terapi dengan pengobatan jarang diperlukan, kecuali pada rosasea,mungkin dapat diberikan tertrasiklin dosis rendah selama enam bulan.Dosisnya adalah Doksisiklin tablet 100 mg/minggu selama 6 bulanmungkin dapat menimbulkan perubahan

biokimiawi, yaitu pembentukanasam lemak rantai pendek yang dibandingkan dengan produksi asamlemak rantai panjang lebih jarang menimbulkan sumbatan pada mulutkelenjar. Meskipun nampak bernanah, antibiotik topikal tidak berguna pada kondisi ini, karena kalazion tidak infeksius. Tetrasiklin sistemik dapat berguna. Namun pemberian tetes mata lokal malah akan dapatmenyebabkan dermatitis kontak daripada membantu. Steroid topikal daaptsangat membantu untuk mengurangi peradanagn dan mengurangi edema,membantu proses drainase.Obatobatan:Antibiotik, tidak memiliki indikasi untuk pengobatan infeksinya. Efek yang signifikan dapat diperoleh dengan pemberian jangka panjangtetrasiklin dosis rendah.Kortikosteroid, memiliki sifat anti inflamasi namun dapat menyebabkanefek metabolik.KomplikasiDrainase marginal kalazion dapat menyebabkan terbentuknya tonjolan,trikiasis, dan hilangnya bulu mata. Diperlukan biopsi untuk menyingkirkanadalnya kalazion yang rekuren/berulang. Ingatkan petugas patologianatomi untuk memperhatikan adanya tanda-tanda karsinoma sel sebasea.Pada penderita kalazion dapat terjadi astigmatisma jika massa palpebramencapai bagian kornea. Kalazion yang didrainase secar tidak sempurnadapat megakibatkan timbulnya massa besar terdiri dari jaringan granulomayang jatuh ke konjungtiva atau kulit.PrognosisPasien yang memperoleh perawatan biasanya memperoleh hasil yang baik.Seringkali timbul lesi baru, dan rekuren dapat terjadi pada lokasi yangsama akibat drainase yang kurang baik. Kalazion yang tidak memperoleh perawatan dapat mengering dengan sendirinya, namun sering terjadi peradangan akut intermiten.

Lain-lainKalazion rekuren atau berulang, terutama yang terjadi di tempat yang samameskipun telah dilakukan drainase dengan baik sebelumnya, harusdipertimbangkan adanya suatu keganasan berupa karsinoma sel sebasea.Biopsi langsung dengan potongan beku perlu dilakukan.Insisi yang kurang baik dapat menyebabkan terbentuknya tonjolan.Sedangkan insisi yang terlalu dalam dapat menyebabkan timbulnya fistuladan jarinagn parut.Suntikan kortikosteroid intralesi dapat menimbulkan hilangnya pigmentasi pada kulit. Pada pasien tertentu, pemberian kortikosteroid dapatmenimbulkan peningkatan tekanan intra okular.Kuretase dan drainase yang inadekuat dapat menyebabkan berulangnyaatau berkembangnya suatu granulomata. http://www.scribd.com/mpkzfive/d/78725450-Kalazion

Kaposi Sarcoma y

Tumor kelenjar lakrimal y

Melanoma konjungtiva y

Molluscum Contagiosum y

Nasolacrimal D uct, Congenital A nomalies y

Nasolacrimal D uct, Obstruction y

Neurofibromatosis-1 y

manifestasi okular pada HIV y

Papilloma palpebra y

lesi berpigmen pada palpebra y

Psoriasis y

Ptosis, dewasa y

evaluasi mata merah y

Sarkoidosis y

Sebaceous Gland Carcinoma y

Spider

B ites y

Squamous Cell Carcinoma,Conjunctival y

Squamous Cell Carcinoma, Eyelid y

Sturge-Weber Syndrome y

Trikiasis y

Tuberkulosis y

Tumor orbita y

Xanthelasma. 3

2.11 Pengobatan Kalazion

Pengobatan pada kalazion adalah dengan memberikan kompres hangat,antibiotik setempat dan sistemik. U ntuk mengurangkan gejala, dilakukanekskokleasi isi abses dari dalamnya atau dilakukan ekstirpasi kalazion tersebut.Insisi dilakukan seperti insisi pada hordeolum internum. 5

U ntuk perawatan di rumah, pasien bisa melakukan kompres hangatdengan cara menempelkan handuk basah oleh air hangat selama lima sampaisepuluh menit. Kompres hangat dilakukan empat kali sehari untuk mengurangipembengkakan dan memudahkan drainase kelenjar. Meskipun handuk dan air harus bersih, namun tidak perlu steril. Selain itu, pasien juga bisa memijatdengan lembut area kalazion beberapa kali sehari. Namun, kalazion tidak bolehdigaruk. 2 Pemberian antibiotic diperlukan jika dicurigai adanya infeksi bakteri.Injeksi steroid di area tembel dapat membantu meredakan inflamasi. Jikakalazion menimbulkan gejala yang berat atau tidak sembuh setelah berminggu-minggu, mungkin diperlukan operasi. Jika pembengkakan tidak berakhir dalambeberapa minggu atau muncul gejala penglihatan kabur, dokter mata akanmenyarankan operasi untuk mengangkat kalazion. Jika penampilan kalazionmengganggu pasien, operasi juga akan menjadi indikasi. 2 Pada ekskokleasi kalazion, terlebih dahulu mata ditetes dengan anestesiatopikal pantokain. Obat anestesia infiltratif disuntikkan di bawah kulit di depankalazion. Kalazion dijepit dengan klem kalazion dan kemudian klem dibaliksehingga konjungtiva tarsal dan kalazion terlihat. Dilakukan insisi tegak lurusmargo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret sampai bersih. Klem kalaziondilepas dan diberi salep mata. 5

y Kedua palpebra superior dan inferior pada satu mata bengkak y Kedua mata bengkak. 2 Pasien yang mendapatkan terapi biasanya sembuh dengan baik. Namun,drainase yang tidak adekuat bisa menyebabkan kekambuhan local. Kalazionyang tidak diterapi umumnya sembuh dengan sendirinya, tapi memilikikemungkinan lebih besar untuk menjadi inflamasi akut intermiten dibandingkankalazion yang diterapi. 3 2.13 Komplikasi Kalazion Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan trichasis, dankehilangan bulu mata. Astigmatisme dapat terjadi jika massa palpebra menekankornea. Drainase kalazion parsial secara parsial dapat menghasilkan massabesar dari jaringan granulasi prolaps ke dalam konjungtiva atau kulit. 3

2.14 Pencegahan Jika pasien memiliki tendensi untuk mudah terkena kalazion, basuh kelopakmata setiap hari dengan air dan shampo bayi menggunakan cotton swab .

Jika mulai tampak tanda-tanda awal iritasi kelopak mata, segera kompresdengan air hangat beberapa kali dalam sehari.6 http://www.scribd.com/doc/57998085/BAB-II

Kalazion

Definition :
Kalazion adalah sebuah massa kecil di dalam kelopak mata yang disebabkan oleh penyumbatan kelenjar minyak yang kecil di dalam kelopak mata.

Cause :
Kalazion tumbuh di dalam kelenjar Meibom pada kelopak mata. Hal ini terjadi akibat penyumbatan pada saluran kelenjar Meibom. Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea, yang menghasilkan minyak yang membentuk permukaan selaput air mata.

Sign & Symptoms :


Pada awalnya, kalazion tampak dan terasa seperti hordeolum, kelopak mata membengkak, nyeri dan mengalami iritasi. Beberapa hari kemudian gejala tersebut menghilang dan meninggalkan pembengkakan bundar tanpa rasa nyeri pada kelopak mata dan tumbuh secara perlahan. Di bawah kelopak mata terbentuk daerah kemerahan atau abu-abu.

Diagnose :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kelopak mata. Kadang saluran kelenjar Meibom bisa tersumbat oleh suatu kanker kulit; untuk memastikan hal ini maka perlu dilakukan biopsi.

Treatment :
Pengobatan utama adalah kompres hangat selama 10-15 menit, minimal 4 kali/hari. Pengompresan akan melunakkan minyak yang mengeras yang menyumbat saluran dan mempermudah pengaliran serta penyembuhan. Kalazia seringkali menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 1 bulan. Jika kalazion terus membesar mungkin perlu diangkat melalui pembedahan. Pembedahan biasanya dilakukan dari bawah kelopak mata untuk menghindari pembentukan jaringan parut di kulit. Obat tetes mata yang mengandung antibiotik biasanya digunakan beberapa hari sebelum dan sesudah pengangkatan kalazion.

http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1001124

Hordeolum dan kalazion


PENDAHULUAN Palpebra adalah lipatan tipis kulit, otot, dan jaringan fibrosa yang berfungsi melindungi struktur-struktur jaringan mata yang rentan. Palpebra sangat mudah digerakkan karena kulit di sini paling tipis di antara kulit di bagian tubuh lain. Di palpebra terdapat rambut halus, yang hanya tampak dengan pembesaran. Di bawah kulit terdapat jaringan areolar longgar yang dapat meluas pada edema masif. Muskulus orbikularis oculi melekat pada kulit. Permukaan dalamnya dipersarafi nervus fascialis (VII), dan fungsinya adalah untuk menutup palpebra. 4Kalazion umumnya nodul yang berkembang perlahan dan tidak nyeri pada palpebra yang disebabkan oleh inflamasi kelenjar meibom (kalazion dalam) atau kelenjar sebaseus zeis (kalazion superfisial) kalazion sering kronik, tanpa tanda-tanda peradangan akut seperti

yang ditemukan pada hordeolum. Hordeolum biasanya nyeri, melibatkan kelenjar pilosebaceus palpebra, dan infeksinya karena staphilococci, streptococci, atau flora kulit lainnya. 7 Hordeolum adalah infeksi lokal atau inflamasi tepi kelopak mata yang melibatkan folikel rambut bulu mata (hordeolum eksterna) atau glandula meibom (hordeolum internal). Sedangkan kalazion adalah granuloma yang tidak nyeri pada kelenjar meibom. 2 HORDEOLUM Pengertian Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Hordeolum biasanya merupakan infeksi staphylococcus pada kelenjar sabasea kelopak mata. Biasanya sembuh sendiri dan dapat diberi hanya kompres hangat. Hordeolum secara histopatologik gambarannya seperti abses. 2,4 Klasifikasi Hordeolum dikenal dalam bentuk :

Hordeolum internum atau radang kelenjar meibom, dengan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal.

Hordeolum eksternum atau radang kelenjar zeis atau moll, dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. 4 Klinis

Gejala

Hordeolum memberikan gejala radang pada kelopak mata seperti bengkak, mengganjal dengan rasa sakit, merah, dan nyeri bila ditekan. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibanding hordeolum eksternum. Adanya pseudoptosis atau ptosis terjadi akibat bertambah beratnya kelopak sehingga sukar diangkat. Pada pasien dengan hordeolum, kelenjar preaurikel biasanya turut membesar. Sering hordeolum ini membentuk abses dan pecah dengan sendirinya. 4

Pengobatan Untuk mempercepat peradangan kelenjar dapat dapat diberikan kompres hangat, 3 kali sehari selama 10 menit sampai nanah keluar. Pengangkatan bulu mata dapat memberikan jalan untuk drainase nanah. Diberi antibiotik lokal terutama bila berbakat rekuren atau terjadinya pembesaran kelenjar aurikel. Antibiotik sistemik yang diberikan eritromisin 250 mg atau 125-250 mg diklosasilin 4 kali sehari, dapat juga diberi tetrasiklin. Bila terdapat infeksi stafilokokus di bagian tubuh lain maka sebaiknya diobati juga bersama-sama. Pada nanah dan kantong nanah tidak dapat keluar dilakukan insisi. 5 Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesia topikal dengan pentokain tetes mata. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila :

Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra.

Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik. 5 Komplikasi Penyulit hordeolum adalah selulitis palpebra, yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra. KALAZION Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar meibom yang tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar meibom dengan infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut. 5

Awalnya dapat berupa radang ringan dan nyeri tekan mirip hordeolumdibedakan dari hordeolum karena tidak ada tanda-tanda radang akut. 8 Patofisiologi Kalazion akan memberi gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemik, tidak ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preaurikuler tidak membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut. 4 Kerusakan lipid yang mengakibatkan tertahannya sekresi kelenjar,

kemungkinan karena enzim dari bakteri, membentuk jaringan granulasi dan mengakibatkan inflamasi. Proses granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan hordeolum internal atau eksternal (terutama proses piogenik yang menimbulkan pustul), walaupun kalazion dapat menyebabkan hordeolum, begitupun sebaliknya. Secara klinik, nodul tunggal (jarang multipel) yang agak keras berlokasi jauh di dalam palpebra atau pada tarsal. Eversi palpebra mungkin menampakkan kelenjar meibom yang berdilatasi. 9 Umur Kalazion terjadi pada semua umur; sementara pada umur yang ekstrim sangat jarang, kasus pediatrik mungkin dapat dijumpai. Pengaruh hormonal terhadap sekresi sabaseous dan viskositas mungkin menjelaskan terjadinya penumpukan pada masa pubertas dan selama kehamilan. 9 Penyebab Kalazion mungkin timbul spontan disebabkan oleh sumbatan pada saluran kelenjar atau sekunder dari hordeolum internum. Kalazion dihubungkan dengan seborrhea, chronic blepharitis, dan acne rosacea. 9 Komplikasi Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan trichiasis, dan kehilangan bulu mata. Kalazion yang rekuren atau tampat atipik perlu dibiopsi untuk menyingkirkan adanya keganasan. Astigmatisma dapat terjadi jika massa pada palpebra sudah mengubah kontur kornea. Kalazion yang

drainasenya hanya sebagian dapat menyebabkan massa jaringan granulasi prolapsus diatas konjungtiva ataukulit. 9 Pengobatan Pengobatan kalazion antara lain adalah

Menggunakan kompres hangat selama kira-kira 15 menit, 2 - 4 kali sehari

Injeksi steroid untuk mengurangi inflamasi

Tindakan bedah jika gumpalan tersebut tidak dapat hilang. 1

Penatalaksanaan

Penanganan konservatif kalazion adalah dengan kompres air hangat 15 menit( 4 kali sehari). Lebih dari 50% kalazion sembuh dengan pengobatan konservatif.

Obat tetes mata atau salep mata jika infeksi diperkirakan sebagai penyebabnya.

Injeksi steroid ke dalam kalazion untuk mengurangi inflamasi, jika tidak ada bukti infeksi

Steroid menghentikan inflamasi dan sering menyebabkan regresi dari kalazion dalam beberapa minggu kemudian.

Injeksi 0,2 - 2 ml triamsinolon 5 mg/ml secara langsung ke pusat kalazion, injeksi kedua mungkin diperlukan.

Komplikasi dari penyuntikan steroid meliputi hipopigmentasion, atropi, dan potensial infeksi. 7

Eksisi kalazion

Jika perlu, buatlah insisi vertikal pada permukaan konjungtiva palpebra.

Untuk kalazion yang kecil, lakukan kuretase pada granuloma inflamasi pada kelopak mata.

Untuk kalazion yang besar, iris granuloma untuk dibuang seluruhnya

Cauter atau pembuangan kelenjar meibom (yang biasa dilakukan)

Untuk kalazion yang menonjol ke kulit, insisi permukaan kulit secara horisontal lebih sering dilakukan daripada lewat konjungtiva untuk pembuangan seluruh jaringan yang mengalami inflamasi. 7 Kalazion

Eskokleasi

Terlebih dahulu mata ditetes dengan anestesi topikal pentokain. Obat anestesia infiltratif disuntikkan di bawah kulit di depan kalazion. Kalazion dijepit dengan kelem kalazion dan kemudian klem dibalik sehingga konjungitva tarsal dan kalazion terlihat. Dilakukan insisi tegak lurus margo palpebra dan kemudian isi kalazion dikuret sampai bersih. Klem kalazion dilepas dan diberi salep mata. 5 Prognosis Terapi bisanya berhasil dengan baik. Jika lesi baru sering terjadi, drainage yang kurang adekuat mungkin mengikatkan lokal rekurensi ini. Kalazion yang

tidak diobati kadang-kadang terdrainase secara spontan, namun biasanya lebih sering persisten menjadi inflamasi akut intermitten. 9 Bila terjadi kalazion berulang beberapa kali sebaiknya dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menghindari kesalahan diagnosis dengan kemungkinan keganasan. 4 DAFTAR PUSTAKA
1. Belden MD. Chalazion. Taken from :www.emedicine.com. Last Updated :

24 Juli 2002.

2. Bessette M. Hordeolum and Stye. Taken from : www.emedicine.com.

Last Updated : 3 Mei 2002.

3. Grayson CE. What Is a Stay? Taken from :www.webmd.com. Last

Upadated : Januari 2002.

4. Ilyas S. Penuntun Umum Penyakit Mata. Cet. IV. Jakarta : Penerbit FKUI. 1996. h. 28-9.

5. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Cet. II. Jakarta : Penerbit FKUI. 1998. h. 92 - 4.

6. McKinley

Health Center. Sty (Hordeolum). from : www.mckinley.uic.edu. Last Updated : 25 Februari 2002.

Taken

7. Santen S. Chalazion. Taken from :www.emedicine.com. Last Updated :

5 Juli 2001.

8. Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum. Editor : Y. Joko Suyono. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika. 1996. h. 81 - 2.

9. Wessels IF. Chalazion. Taken from :www.emedicine.com. Last Updated :

23 September 2002.

http://medika-online.blogspot.com/2005/11/hordeolum-dan-kalazion.html

Benjolan di kelopak mata sering kita jumpai atau bahkan kita alami.untuk mengetahuinya disini akan di bahas mengenai struktur pada kelopak mata terlebih dahulu. Kelopak mata dapat dibagi mejadi beberapa lapisan:

v Lapisan luar/superficial:

Kulit Kelenjar keringat Modifikasi kelenjar keringat (kelenjar Moll) dan kelenjar sebacea/minyak (kelenjar zeis) Serabut otot lurik m.orbicularis oculi yang berfungsi untuk menutup mata, dipersarafi oleh n.VII

Serabut otot lurik m.levator palpebrae yang berfungsi untuk membuka mata, dipersarafi oleh n.III v Lapisan dalam:

Lempengan tarsal yang merupakan bagian yang keras dari kelopak mata dan berfungsi untuk mempertahankan bentuk kelopak mata Otot polos m.tarsal yang merupakan serabut otot polos m.levator palpebrae yang melekat pada lempengan tarsal.berfungsi untuk membuka kelopak mata, dipersarafi oleh saraf simpatis. Palpebra conjuctiva yang melekat erat pada lempengan tarsal. merupakan bagian yang berhubungan dengan bola mata dan berfungsi sebagai wiper untuk meratakan distribusi hasil sekeresi kelenjar-kelenjar yang ada pada kelopak mata. Kelenjar meiboiman atau kelenjar tarsal yang menghasilkan sekret minyak/oily yang mencegah perlekatan antara kedua kelopak mata dan berfungsi untuk membentuk lapisan tear film yang mencegah air mata untuk berevaporasi.

Benjolan dapat terbentuk karena adanya sekret yang tertahan pada kelenjar tertentu tanpa disertai infeksi, infeksi pada satu atau lebih kelenjar, kelopak mata yang mengalami infeksi, ataupun keganasan.

Penyebab benjolan yang sering ditemui adalah hordeolum/stye atau dikenal sebagai bintitan. Hordeolum terjadi karena adanya infeksi bakteri pada satu atau lebih kelenjar kelopak mata, ditandai dengan terbentuknya abscess focal. Apabila banyak kelenjar kelopak mata yang terinfeksi pada waktu yang sama maka disebut hordeolosis. Jika mengenai kelenjar zeis dan moll maka disebut external hordeolum dan jika mengenai kelenjar meiboiman disebut internal hordeolum. Penyebab utamanya adalah bakteri staphylococcus aureus. Gejala yang muncul adalah adanya benjolan berwarna kemerahan pada kelopak mata, nyeri, hangat, bengkak. Hordelum biasanya akan hilang dengan

sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Pengobatannya dapat dilakukan dengan kompres air hangat selama 10 menit dilakukan sebanyak 4x sehari. Jika terdapat penyebaran infeksi ke conjungtica/blepharoconjunctivitis atau drainase lesi maka diberikan salep antibiotik. Jika terjadi penyebaran infeksi menjadi cellulitis preseptal maka diberikan antibiotik sistemik misalnya doxyxycline. Operasi berupa insisi dan drainase dilakukan jika hordeolum membesar dan refrakter terhadap pengobatan. Setelah operasi jaringan yang diambil dapat dilakukan pemeriksaan histopathology untuk menyingkirkan kondisi seperti basal cell carcinoma.

Hordeolum perlu dibedakan dengan chalazion. Keduanya sulit dibedakan apabila chalazion masih dalam fase akut. Chalazion terjadi karena

sekret dari kelenjar meiboiman yang tidak bisa keluar dan merembes ke jaringan sekitarnya dan menyebabkan peradangan tanpa campur tangan infeksi. Chalazion akut menimbulkan nyeri sedangkan bentuk kronik tidak menimbulkan nyeri. Benjolan terbentuk secara perlahan dan seringkali tidak menimbulkan gejala. Chalazion sering membutuhkan pembedahan insisi. Setelah insisi chalazion sering kambuh kembali. Chalazion perlu dibedakan dengan hordeolum dan adenocarcinoma.

Adenocarcinoma merupakan keganasan yang terjadi pada kelenjar. Dapat berasal dari kelenjar meiboiman maupun Zeis. Benjolan yang keras, tidak nyeri, membengkak, tidak terfiksasi pada kulit tetapi terfiksasi pada jaringan yang ada dibawahnya. Seringkali adenocarcinoma dianggap chalazion. Chalazion yang timbul kembali setelah insisi perlu dicurigai merupakan suatu adenocarcinoma.

Penyebab benjolan pada kelopak mata salah satunya disebabkan oleh infeksi. Hal ini bisa dicegah dengan higienitas pada kelopak mata. Cuci tangan sebelum memegang kelopak mata
http://kantongkeresek.wordpress.com/tag/chalazion/

ANAMNESA Perlu dilakukan pernyataan pada pasien yang meliputi : 1. Keluhan Utama 2. Rwy penyakit sekarang 3. Rwy penyakit dahulu yang berhubungnan dengan penyakit sekarang 4. Rwy pemakaian obat2an 5. Rwy penyakit keluarga

Secara garis besar keluhan mata terbagi menjadi 3 kategori, yaitu : 1. Kelainan penglihatan 2. Kelainan penampilan mata 3. Kelaianan sensasi mata (nyeri, gatal, panas, berair, mengganjal)

1) Kelainan Penglihatan a. Penurunan tajam penglihatan b. Aberasi penglihatan - bayangan hallo, pada glukoma gjl prodromal - kilatan cahaya, gangguan badan kaca dan glukoma - flater, gangguan badan kac - Diplopia = double, (gangguan otot gerak mata atau perbedaan refraksi kedua mata yang terlalu besar), baik monokuler atau binokuler 2) Kelainan Penampilan Mata Mata merah, perubahan lokal dari mata seperti ptosis, bola mata menonjol,

pertumbuhan tidak normal.

3) Kelainan Sensasi Mata 1. Sakit 2. Mata Lelah 3. Iritasi Mata

*Dengan melihat kelainan mata, kita dapat menentukkan suatu penyakit, sebagai contoh : Subkonjungtiva bleeding batuk rejan anak2 Ptosis sayup kelopaknya Bola mata kecil/besar Gangguan pertumbuhan *Silnder sakit sekitar bola mata karena refraksi N. III. Rasa sakit mengkibatkan N V1 teransang Batang otak mengenai N X dan XI, Mual dan muntah. * Gangguan sumbu optik Penurunan tajam penglihatan.

II. PEMERIKSAAN FISIK MATA

A. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (VISUS) Media refraksi adalah media dalam mata yang mempengerahui atau merubah arah sinar yangmasuk ke dalam mata, yaitu kornea dan lensa. Media optik adalah media yang dilalui oleh sinar dari luar untuk sampai ke retina, yaitu kornea, bilik mata depan, pupil, lensa, dan badan kaca. Jarak pemeriksaan antara pasien dengan kartu Snellen pada refraksi adalah refraksi : 6 M, 5 M, dan 3 M (memakai kaca pantul ) * Media refraksi termasuk media optik, akan tetapi tidak semua media, Alat2 yang dibutuhkan untuk refraksi adalah : a. Kartu Snellen, bisa berupa Echart, Alphabet, dan gambar binatang. Ada 3 jenis : - Kertas - Elektrik - Proyektor b. Lensa coba (Trial Lens Set) c. Gagang coba Trial (Frame) Untuk pemeriksaan visus bila penderita tidak bisa membaca kartu Snellen maka dilakukan dengan : a. hitung jari

b. goyangan tangan c. Cahaya gelap / terang

B. Pemeriksaan fisik mata Meliputi : B.1. Pemeriksaan Segmen Anterior a. Palpebra (kelopak mata) b. Konjungtiva (selaput lendir mata) c. Kornea (selaput bening mata) d. Bilik mata depan e. Iris dan pupil f. lensa mata.

B.2 Pemeriksaan segmen posterior Menggunakan Oftalmoskop (pemeriksa menggunakan mata kanan, sedangkan yang diperiksa juga mata kanan) Badan kaca dan retina

Cara Penilaiaan Pada Pemeriksaan Mata A. Penilaian tajam penglihatan Jika ditulis Visus 6/6, artinya angka 6 di atas (pembilang) menunjukkan kemampuan jarak baca penderita, sedangkan angka 6 di bawah menunjukkan kemampuan jarak baca orang normal Visus 6/60 artinya penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 6 meter, sedangkan pafa orang normal bisa menghitung dalam jarak 60 meter, begitu juga penilaian visus 5/60, 4/6, 3/60, 2/60, 1/60. Jika LP + berarti bisa membedakan gelap terang dan sebaliknya B. Penilaian Pemeriksaan segmen Anterior 1) Palpelbra Penderita melihat lurus ke depan maka pinggir palpebra atas akan menutupi limbus atas (pinggir kornea) selebar 1 2 mm. 2) Konjungtiva Normanya tidak berwarna dan tranparan 3) Kornea Normanya bening 4) Bilik mata depan (BMD) mata Normalnya mata cukup dalam dan jernih. 5) Iris dan pupil Normalnya pupil mata kiri dan kanan sama lebarnya dan letaknya simetris di tengah. Lebar pupil + 3 mm. Pemeriksaan ada 2 cara : LANGSUNG Disinari dengan sinar langsung, dan diamati mata yang disinari

TIDAK LANGSUNG Disinari mata kanan, yang dilihat mata kiri. Pada orang buta tanpa kelainan syaraf, langsung -, tidak langsung + 6) Lensa mata Normalnya jernih. Kekeruhan lensa mata disebut katarak, kelainan lensa mata bisa terjadi Luksasio atau Subluksasio lensa.

C. Penilaian segmen posterior mata Untuk melihat segmen posterior mata bisa memakai alat yang disebut Oftalmoskop langsung (direct) atau tak langsung (indirect)

Pemeriksaan tambahan mata adalah 1) Tekanan bola mata (tonometri) - Digital (dengan jari) - Shiotz - Aplanasi (dgn fluorescen) - Non kontak tonometri 2) Pemeriksaan lensa mata dalam keadaan pupil lebar 3) Pemeriksaan fundius refleks.

Pemeriksaan Mata Khusus 1. Tekanan Bola Mata, ada 3 cara : Tonometer Schiotz Tonometer Aplanasi Pemeriksaan secara digital dengan jari tangan

2. Pemeriksaan Slit Lamp Dengan alat ini kita dapa t mengetahui segmen anterior dan segmen posterior mata secara detail. Mutlak harus dimiliki seorang spesialis mata

3. Pergerakkan Bola mata Ada 6 gerakan kardinal bola mata, yaitu medial lateral, medial atas bawah, lateral atas bawah . Pada mata palsu, biasanya < dari gerakan 4 mata.

4. Luas lapang pandang Diperiksa dengan 3 cara : - Goldman perimetri

- Layar Tangen Screen. - Tes Konfrontasi, dengan menggunakan tangan pemeriksa dan tekhnik paling mudah.

5. Pemeriksaan Penonjolan Bola Mata Alatnya adalah Hertel Ophtalmometri

6. Pemulasan Fluorescen Hanya epitel kornea yg rusak yang bersifat menyerap fluorescen. Caranya tetes irigasi pada mata, penilaian : + warna hijau (kerusakan epitel kornea) Indikasi tes fluorescen : a. Adanya gejala trias (fotofobi, lakrimasi, dan blefarospasme). b. Riwayat trauma mata c. Mata merah d. Ada kekeruhan kornea.

7. Oftalmoskop Tak Langsung (Indirect)

Dengan menggunaka kaca pantul dimana bagian retina akan terlihat lebih kecil dan terbalik

8. Kisi Kisi Amsler Menguji fungsi Makula 9. Tes Penglihatan warna Penglihatan warna normal membutuhkan fungsi makula dan N. Optikus yang normal. Tekhnik yang paling umum dipakai adalah memakai buku ISHIHARA.

10. Pemeriksaan Kelengkungan Kornea Keratometer (manual atau computerized) adalah alat terkalibrasi yang mengukur radius kelengkungan kornea dalam dua meridian yang terpisah 90 derajat. Digunakan untuk lensa kontak atau operasi kornea dengan laser. Jika kornea tidak bulat sempurna, maka kedua radius tersebut akan berbeda yang disebut Astigmatisme (juga bisa dilihat dengan alat yang disebut Placido)

11. Goniskopi Menentukan kedalaman sudut bilik depan. Pemeriksaan ini rutin dilakukan pada penyakit glaukoma.

12. Foto Fundus dan Fluorescen Fundus Angiopgrafi (FFA). Merekam rincian fundus okuli bagi kepentingan studi dan perbandingan dikemudian hari. Jika terjadi kebocoran pembuluh darah kembalinya bahan flurescen akan terlambat pada tes ini.

Pemeriksaan khusus lainnya : 1. Elektroretinogram (ERG) 2. Tes Schirmer kekeringan bola mata 3. Ultrasonografi (USG) ablasio retina, gangguan badan kaca, bengkak bola mata. 4. Oftalmodinamometri Menghasilkan perkiraan tekanan relatif dalam arteri sentralis retina. Hal ini berguna untuk evaluasi neurologik pada pasien yang mengeluh kebutaan (amaurosis fugak) pada satu mata. 5. CT Scan dan MRI Pemeriksaan khusus dimana kelainan mata juga disebabkan kelainan ditempat lain.
http://nurilhaini.multiply.com/journal/item/8/PEMERIKSAAN_MATA? &show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

Secara anatomi mata terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :1.Suprasilia (alis mata)Terletak ditepi atas rongga orbita, yang berfungsi sebagai penahan kotorandan kosmetik.2.Palpebra (kelopak mata)Terdiri dari palpebra superior dan inferior (kelopak mata atas dan bawah)yang berfungsi sebagai pelindung dari bola mata dimana dapat membuka danmenutup.Muskulus orbikularis dapat menyebabkan mata berkedip yang jugamenyebabkan sekresi glandula lakrimal (kelenjar air mata) yang membasahaimata. Muskulus levator palpebra menyebabkan kelopak mata dapat membukadan menutup.2

Kelenjar Meibom berfungsi sebagai penghasil cairan lapisan air mata,selain itu terdapat kelenjar Zeiss dan Molle yang bermuara di folikel pada bulu mata.3.Konjungtiva (selaput lendir mata)Merupakan lapisan transparan yang terdiri dari konjungtiva tarsalis superior dan inferior yang menutupi kelopak mata atas dan bawah, konjungtiva forniksserta konjungtiva bulbi yang menutupi bagian depan bola mata.Terdiri dari lapisan tipis yang banyak mengandung sel Goblet menghasilkanzat yang menjadi lapisan dari air mata.4.Bulbus okuli (bola mata)Merupakan bagiain yang terltak di rongga orbita yang dapat diperikda dariluar dengan bantuan lampu senter yaitu bagian bagian sebagai berikut :Kornea, Sklera bagian depan, Bilik mata depan (kamera okuli anterior), Pupildan iris (Teling mata) dan Lensa.Sedang pemeriksaan badan kaca, retina dan Nervus II dapat dilakukan denganoftalmoskop, dengan Slit lamp dan Gonioskpi dapat diperiksa sudut bilik matadepan.

Kornea (selaput bening mata) :Merupakan lapisan yang jernih /transparan yang merupakan mediarefraksi yang terdepan dari bola mata yang berfungsi sebagai jendelamasuknya cahaya. Persarafan sensorisnya didapat dari serabut N VIIuntuk sensai rasa nyeri. Sklera (selaput putih mata)Merupakan lapisan paling luar dari dinding bola mata yang akanmelanjutkan diri ke bagian belakang bola mata yang terdiri dari 3(tiga) la[pisan yaitu sklera, koroid dan retina. Uvea terdiri dari :Iris terletak melingkar membentuk pupil : terdiri dari otot sfingter untuk gerakan miosis (pupil mengecil) dan otot dilatator unytuk gerakan dilatasi atau midriasis, berfungsi mengatur jumlah cahayayang masuk ke dalam bola mata. Badan siliar merupakan lanjutan iris di bagian belakang danmemproduksi humor akuos yang memberi nutrisi untuk mataDi badan siliar terdapat otot otot yang berfungsi untuk akomodasi lensayang penting untuk melihat dekat. Retina : lapisan yang meliputi 2/3 bagian dalam dari dinding bolamata, terdiri dari lapisan sensoris yang secara dapat terlepas darilapisan di bawahnya sehingga terjadi apa yang disebut ablasio retina.

Akuos humor :Merupakan cairan dalam bola mata yang berfubgsi selain sebagaicairan nutrisi juga untuk mempertahankan tekanan intra okular antara10-20 mm Hg. Sirkulasi Humor akuos adalah dari bilik mata belakangmelalui celah antara iris dan lensa masuk ke bilik mata depan.Selanjutnya ke saluran Schlemm yang terdapat disudut bilik matadepan . Bila sirkulasi tehgambat, tekanan intra okular (TIO) akanmeninggi terjadi apa yang disebut glaukoma.5.Lapisan airmata :Terdiri dari 3 (tiga) lapisan yaitu lapisan lemak dari kelenjar Meibom, air dari kelenjar lakrimal dan musin dari sel Goblet. Berfungsi untuk membasahikornea , bersifat anti mikroba. Air mata kan disalurkan ke kanalikuli superior dan inferior kemudian ke sakus lakrimalis, selanjutnya melalui duktusnasolakrimalis akan masuk ke rongga hidung.6.Otot otot penggerak bola mata berfungsi untuk menggerakan bola mata kemadial, lateral, superioir dan inferior serta oblik. Masing masing mendapat persarafan sebagai berikut.a. Rektus medial - N III - ke medialb. Rektus lateral - N VI - ke temporalc. Rektus superior - N III - ke atasd. Rektus inferior - N III - ke bawahe Oblikus superior - N IVf. Oblikus inferior - N III Pemeriksaan mata Seperti pemeriksaan yang lain, pemeriksaan mata pun dimulai dari :1.Keluhan utama .2.Anamnesa : Riwayat perjalanan penyakit a.l. keluhan utama,sejak kapan, bagaimana, dimana dan riwayat pengobatan sebelumnya3.Pemeriksaan Umum Mata :Keadaan umum dan pemeriksaan dasar mata Pemeriksaan dasar :

Alat pemeriksaan : Snellen Chart,E Chart

Lampu senter Loupe (Magnifier loupe atau Loupe Monokuler)Funduskopi direk (Diagnostik set)Pemeriksaan Visus :Membandingkan ketajaman penglihatan penderita (yg diperiksa) dgn ketajaman penglihatan orang normal, cara pemeriksaan sebagai berikut :Penderita duduk 5 m atau 6 m atau 20 feet didepan E Chart/Snellen Chart yg diletakkansejajar mata dan mendapat penerangan yg cukuplPemeriksaan dilakukan pada masing-masing mata (mata kanan kemudian kiri), menutupmata jangan ditekan.Orang normal 6/6 atau 5/5Bila tidak bisa melihat Chart :Hitung jari, Lambaian tangan atau Cahaya
http://www.scribd.com/doc/39472303/PEMERIKSAAN-MATA
Gilchrist H, Lee G. Management of chalazia in general practice. Aust Fam Physician. May 2009;38(5):311-4 Ozdal PC, Codere F, Callejo S, Caissie AL, Burnier MN. Accuracy of the clinical diagnosis of chalazion. Eye. Feb 2004;18(2):135-8.