Anda di halaman 1dari 24

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.

Pengertian Bahasa Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut: 1. suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan. 2. suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain 3. suatu kesatuan sistem makna 4. suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna. 5. suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan, kalimat, dan lain-lain.) 6. suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik. Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada manusia, dinyatakan bahwa bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan, ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik. Menetapkan perbedaan utama antara bahasa manusia satu dan yang lainnya sering amat sukar. Chomsky (1986) membuktikan bahwa sebagian dialek Jerman hampir serupa dengan bahasa Belanda dan tidaklah terlalu berbeda sehingga tidak mudah dikenali sebagai bahasa lain, khususnya Jerman. Ada beberapa bahasa artifisial (buatan) yang dikenal, salah satunya adalah bahasa Esperanto. Bahasa ini diciptakan oleh L. L. Zamenhof di mana bahasa ini merupakan paduan dari berbagai unsur bahasa, khususnya bahasa-bahasa Roman yang

dicampurkan dengan unsur-unsur bahasa Slavia dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, serta digunakan untuk mempermudah pembelajaran bahasa karena kesederhanaan tata bahasanya. Sebagian pakar bahasa, seperti J.R.R. Tolkien, telah menciptakan bahasa rekaan, untuk tujuan di bidang sastera . Salah satunya adalah bahasa Quenya, yakni satu bentuk bahasa yang dipakai oleh kaum Elvish. Quenya mempunyai abjad dan istilah tersendiri serta dapat digunakan oleh manusia. Di samping bahasa Quenya, juga diciptakan bahasa Klingon yang pernah dipakai dalam film Star Trek. 2.1 Fungsi Sosial Bahasa dalam Masyarakat

Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antar sesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya.Bahasa bersifat manasuka (arbitrer). Oleh karena itu, bahasa sangat terkait dengan budaya dan sosial ekonomi suatu masyarakat penggunanya. Hal ini memungkinkan adanya diferensiasi kosakata antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Perkembangan bahasa tergantung pada pemakainya. Bahasa terikat secara sosial, dikontruksi, dan direkonstruksi dalam kondisi sosial tertentu dari pada tertata menurut hukum yang diatur secara ilmiah dan universal. Oleh karena itu, bahasa dapat dikatakan sebagai keinginan sosial (Suara Karya, 2006)

Disamping fungsi sosial, bahasa tidak terlepas dari perkembangan budaya manusia. Bahasa berkembang sejalan dengan perkembangan budaya manusia. Bahasa dalam suatu masa tertentu mewadahi apa yang terjadi di dalam masyarakat. Sehingga, bahasa dapat disebut sebagai cermin zamannya.Sumarsono dan Paini Partana dalam Sosiolinguistik (2006, hal) menyatakan bahwa bahasa sebagai produk sosial atau produk budaya. Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan manusia. Sebagai produk sosial atau budaya, bahasa berfungsi sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, dan sebagai wadah penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu.

Keraf (1980:3) yang menyatakan bahwa bahasa apabila ditinjau dari dasar dan motif pertumbuhannya, bahasa berfungsi sebagai (1) alat untuk menyatakan ekspresi diri, (2) alat komunikasi, (3) alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan (4) alat untuk mengadakan kontrol sosial.

Bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri dipergunakan untuk mengkespresikan segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran dan perasaan penuturnya. Ungkapan pikiran dan perasaan manusia dipengaruhi oleh dua hal yaitu oleh keadaan pikiran dan perasaan itu sendiri. Ekspresi bahasa lisan dapat dilihat dari mimik, lagu/intonasi, tekanan, dan lain-lain. Ekspresi bahasa tulis dapat dilihat dengan diksi, pemakaian tanda baca, dan gaya bahasa. Ekspresi diri dari pembicaraan seseorang memperlihatkan segala keinginannya, latar belakang pendidikannya, sosial,

ekonomi. Selain itu, pemilihan kata dan ekspresi khusus dapat menandai indentitas kelompok dalam suatu masyarakat.

Menurut Pateda (1987:4) bahwa bahasa merupakan saluran untuk menyampaikan semua yang dirasakan, dipikirkan, dan diketahui seseorang kepada orang lain. Bahasa juga memungkinkan manusia dapat bekerja sama dengan orang lain dalam masyarakat. Hal tersebut berkaitan erat bahwa hakikat manusia sebagai makhluk sosial memerlukan bahasa untuk memenuhi hasratnya.

Sebagai alat komunikasi, bahasa mempunyai fungsi sosial dan fungsi kultural. Bahasa sebagai fungsi sosial adalah sebagai alat perhubungan antar anggota masyarakat. Sedangkan sebagai aspek kultural, bahasa sebagai sarana pelestarian budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini meliputi segala aspek kehidupan manusia yang tidak terlepas dari peranan kehidupan manusia yang tidak terlepas dari peranan bahasa sebagai alat untuk memperlancar proses sosial manusia.

Bahasa berperan meliputi segala aspek kehidupan manusia. Termasuk salah satu peran tersebut adalah untuk memperlancar proses sosial manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Nababan (1984:38) bahwa bahasa adalah bagian dari kebudayaan dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayaan sebagaimana kita kenal sekarang.

Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti, alat tersebut disebut bahasa. Dari uraian ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia.

Kartomiharjo (1982:1) menguraikan bahwa salah satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan,bahasa Indonesia. Dengan dengan demikian bahasa dapat mengikat anggota-anggota masyarakat pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat, bersatu, dan maju.

2.2 Variasi Bahasa

Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan

kebutuhannya untuk hidup bersama.

Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok sosial tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa.

Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Dari adanya kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan bervariasi. Kebervariasian bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, variasi bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam.

Lebih sederhana, Sumarsana dan Partana (2000: hal 79) mencoba mengelompokkan apakah dua bahasa merupakan dialek atau subdialek atau hanya sekedar dua variasi saja, dapat ditentukan dengan mencari kesamaan kosakatanya. Jika persamaannya hanya 20 % atau kurang, maka keduanya adalah dua bahasa. Tetapi kalau bisa mencapai 40%-60%, maka keduanya dua dialek; dan kalau mencapai 90% misalnya, jelas keduanya hanyalah dua variasi dari sebuah bahasa.

Dalam variasi bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. Di

samping itu, variasi bahasa dapat dilihat dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pemakai, situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan

pemakaiannya/ragam (Pateda, 1987: 52)

Tempat dapat menjadikan sebuah bahasa bervariasi. Yang dimaksud dengan tempat di sini adalah keadaan tempat lingkungan yang secara fisik dibatasi oleh sungai, lautan, gunung, maupun hutan. Kebervariasian ini mengahsilkan adanya dialek, yaitu bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda namun masih dipahami oleh pengguna dalam suatau masyarakat bahasa walaupun terpisah secara geografis.

Variasi bahasa dilihat dari segi waktu secara diakronis (historis) disebut juga sebagai dialek temporal. Dialek tersebut adalah dialek yang berlaku pada kurun waktu tertentu. Perbedaan waktu itu pulalah yang menyebabkan perbedaan makna untuk kata-kata tertentu. Hal ini disebabkan oleh karena bahasa mengikuti perkembangan masyarakat pemakai bahasanya. Itulah mengapa bahasa bersifat dinamis, tidak statis.

Dari segi pemakai, bahasa dapat menimbulkan kebervariasian juga. Istilah pemakai di sini adalah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Variasi bahasa dilihat dari segi penutur oleh Pateda (1987: 52) dibagi menjadi tujuh, yaitu glosolalia (ujaran yang dituturkan ketika orang kesurupan), idiolek (berkaitan dengan aksen, intonasi, dsb), kelamin, monolingual (penutur bahasa yang memakai satu bahsa saja),

rol (peranan yang dimainkan oleh seorang pembicara dalam interaksi sosial), status sosial, dan umur.

Variasi bahasa dilihat dari segi situasi akan memunculkan bahasa dalam situasi resmi dan bahasa yang dipakai dalam tidak resmi. Dalam bahasa resmi, bahasa yang digunakan adalah bahasa standar. Kesetandaran ini disebabkan oleh situasi keresmiannya. Sedangkan dalam situasi tidak resmi ditandai oleh keintiman.

Bahasa menurut statusnya meliputi status bahasa itu sendiri. Hal ini berarti bahwa bagaimanakah fungsi bahasa itu serta peranan apa yang disandang oleh bahasa. Sebuah bahasa, bahasa Indonesia, dapat memiliki berbagai macam status apakah ia sebagai bahasa ibu, bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa pemersatu, atau bahasa negara.

Sedangkan Kridalaksana (1984: 142) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan. Jadi ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaianya, yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut.

Ragam bahasa menurut topik pembicaraan mengacu pada pemakaian bahasa dalam bidang tertentu, seperti, bidang jurnalistik (persuratkabaran), kesusastraan, dan pemerintahan. Ragam bahasa menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau

gaya penuturan menunjuk pada situasi formal atau informal. Medium pembicaraan atau cara pengungkapan dapat berupa sarana atau cara pemakaian bahasa, misalnya bahasa lisan dan bahasa tulis. Sehingga, masing-masing ragam bahasa memiliki ciriciri tertentu, sehingga ragam yang satu berbeda dengan ragam yang lain.

Pemakaian ragam bahasa perlu penyesuaian antara situasi dan fungsi pemakaian. Hal ini sebagai indikasi bahwa kebutuhan manusia terhadap sarana komunikasi juga bermacam-macam. Untuk itu, kebutuhan sarana komunikasi bergantung pada situasi pembicaraan yang berlangsung. Dengan adanya

keanekaragaman bahasa di dalam masyarakat, kehidupan bahasa dalam masyarakat dapat diketahui, misalnya berdasarkan jenis pendidikan atau jenis pekerjaan seseorang, bahasa yang dipakai memperlihatkan perbedaan.

Sebuah komunikasi dikatakan efektif apabila setiap penutur menguasi perbedaan ragam bahasa. Dengan penguasaan ragam bahasa, penutur bahasa dapat dengan mudah mengungkapkan gagasannya melalui pemilihan ragam bahasa yang ada sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, penguasaan ragam bahasa termasuk bahasa gaul remaja menjadi tuntutan bagi setiap penutur, mengingat kompleksnya situasi dan kepentingan yang masing-masing menghendaki kesesuaian bahasa yang digunakan.

2.5 Sejarah Pemakaian Bahasa Gaul

Bahasa prokem awalnya digunakan para preman yang kehidupannya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru mereka ciptakan agar orang-orang di luar komunitas tidak mengerti. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk membicarakan hal negatif yang akan maupun yang telah mereka lakukan (Laman Wilkipedia Indonesia, 2005).

Para preman tersebut menggunakan bahasa prokem di berbagai tempat. Pemakaian bahasa tersebut tidak lagi pada tempat-tempat khusus, melainkan di tempat umum. Lambat laun, bahasa tersebut menjadi bahasa yang akrab di lingkungan sehari-hari, termasuk orang awam sekalipun dapat menggunakan bahasa sandi terebut.

Karena begitu seringnya mereka menggunakan bahasa sandi tersebut di berbagai tempat, lama-lama orang awam pun mengerti maksud bahasa tersebut. Akhirnya mereka yang bukan preman pun ikut-ikutan menggunakan bahasa ini dalam obrolan sehari-hari sehingga bahasa prokem tidak lagi menjadi bahasa rahasia. Sebuah artikel di Kompas berjudul So What Gitu Loch.(2006: 15) menyatakan bahwa bahasa prokem atau bahasa okem sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi

obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari.

Lebih lanjut, dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa pada tahun 1970an, kaum waria juga menciptakan bahasa rahasia mereka. Pada perkembangannya, para waria atau banci lebih rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang kemudian ikut memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa gaul.

Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering tidak beraturan dan cenderung tidak terumuskan. Bahkan kita tidak dapat mempredeksi bahasa apakah yang berikutnya akan menjadi bahasa gaul.

Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas atau golongan bawah (Alwasilah, 2006:29). Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi seharihari.

Terdapat berbagai alasan kenapa masyarakat tersebut menggunakan bahasabahasa yang sulit dimengerti oleh kelompok atau golongan sosial lainnya. Alasan esensialnya adalah sebagai identitas sosial dan merahasiakan sesuatu dengan maksud orang lain atau kelompok luar tidak memahami.

Kompas (2006: 50) menyebutkan bahwa bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu digunakan untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi karena intensitas pemakaian tinggi, maka istilah-istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari.

Hal ini sejalan dengan laman Wilimedia Ensiklopedi Indonesia (2006), yang menyatakan bahwa bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasa para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Lebih lanjut dalam Pikiran Rakyat, tercatat bahwa bahasa gaul pada awalnya merupakan bahasa yang banyak digunakan oleh kalangan sosial tertentu di Jakarta, kemudian secara perlahan merambah kalangan remaja terutama di kota-kota besar.

Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya popular seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut:

1). Nih Yee... Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.

2) Memble dan Kece Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Gamalama. 3) Booo.... Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Booadalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini. 4) Nek... Setelah kata Boo... popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek... pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek... 5) Jayus Di akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini dapat berarti sebagai lawakan yang tidak lucu, atau tingkah laku yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan. Kelompomk yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di kitaran Kemang. Dorce

Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi

komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar. 6. Jaim Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image. itu 7. Gitu Loh...(GL) Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara

seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh...di tiap akhir pembicaraan.

2.4 Ciri- ciri Bahasa Gaul

Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Katakata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti permainan mainan, pekerjaan kerjaan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. (Nyoman Riasa)

2.5. Distribusi Geografis Bahasa Gaul Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnisetnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa gaulnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa sunda.

2.6. Jargon Dalam Thesaurus: Oxford Thesaurus of English oleh Maurice Waite (2004) dinyatakan bahwa jargon adalah bahasa khas, teknis, idiom tertentu, selanga dan lain sebagainya yaitu specialized language, technical language, slang, cant, idiom, argot, patter, patois, vernacular, computerese, legalese, bureaucratese, journalese, psychobabble, unintelligible language, obscure language, gobbledegook, gibberish, double Dutch. Menurut The Oxford Companion to the English Language oleh Tom McArthur (1996) istilah jargon ini muncul pada abad ke-14 yang merupakan istilah Bahasa Inggris Abad Pertengahan (Midle English) yaitu iargo(u)n, gargoun, girgoun yang berarti kicauan, nyanyian burung-burung, pembicaraan yang tidak bermakna, merepet /membual atau mericau. Jargon ini juga terdapat dalam istilah Bahasa Perancis yaitu jargoun, gargon dan gergon. Kemungkinan makna asalnya yaitu bunyi echo dan merupakan istilah umum yang seringkali mengacu kepada bahasa asing pedalaman yang bermacam-macam. Hal itu dapat ditemukan dalam ucapan yang dirasakan sebagai merepet atau ucapan-ucapan kosong (mumbo jumbo), slang, bahasa pidgin atau bahasa khas dalam perdagangan, profesi atau kelompok lainnya. Namun demikian, istilah ini juga sering dihubungkaitkan dengan ilmu tertentu seperti hukum dan perundang-undangan, kedokteran dan ilmu pengetahuan yang merupakan jargon teknis maupun jargon saintifik.

Bagi kelompok yang tidak professional maupun tidak berprofesi, penggunaan bahasanya dinilai penuh dengan istilah maupun kalimat yang tidak seperti bahasa umumnya sehingga sulit dipahami oleh orang kebanyakan. Namun bagi anggota kelompok professional tersebut, penggunaan istilah itu sangat akrab dan mencapai matlamat yang sesungguhnya. Karena faktor kemudahan dan keakrabannya inilah, jargon dapat menggungkapkan teknis dan gaya yang menjadi ciri khas dalam kelompok tersebut. Jargon ini antara lain berfungsi sebagai Bahasa yang Mudah dan Merupakan Identifikasi Kelompok Tertentu yang dapat diterangkan sebagai berikut: a. Sebagai Bahasa yang Mudah Bagi orang atau kelompok yang memahaminya, jargon merupakan bahasa untuk mempermudah penuturnya mengungkapkan keterangan yang panjang dan berbelit-belit. Ketika digunakan oleh anggota kelompok tertentu, jargon menjadi bahasa yang efisien dan efektif. Bagi kelompok paramedis, istilah pemindahan organ tubuh seperti kandung kemih, empedu (saluran kencing) melalui operasi disebut dengan cholecystectomy.Dalam berbagai penelitian mengenai jargon ditemukan bahwa bahasa ini digunakan selama operasi sebagai alat komunikasi dan informasi yang faktual, ringkas dan jelas. Dalam bidang Biologi, para pakar bidang ini menggunakan istilah-istilah tertentu yang merujuk kepada tumbuhan ataupun tanaman tertentu seperti padi dengan menggunakan istilah Orriza Sativa atau menyatakan tumbuhan yang

dikenal masyarakat umum sebagai pakis sarang burung dengan menggunakan istilah Asplenium Nidus dan lain sebagainya. Dalam profesi hukum dan perundang-undangan pula, istilah hukum tertentu dihasilkan melalui proses yang panjang sehingga sampai kepada defenisi yang pas sehingga dikenal sebagai jargon.Contohnya adalah istilah involuntary conversion yang artinya sama dengan kehilangan atau kerusakan barang karena pencurian ataupun kecelakaan.Bahasa jargon inipun dapat dijumpai dalam istilah komputer seperti: Dynamic random access memory, Read only memory dan lain sebagainya. Dalam dunia komunikasi pilot yang menerbangkan pesawat udara juga dengan menggunakan istilah tertentu atau jargon sesuai dengan profesi penerbangan sipil. Dalam bidang Diplomatik pula dikenal beberapa istilah seperti Kebebasan Diplomatik atau bahasa Inggrisnya adalah Diplomatic Immunity seperti dalam kalimat berikut ini yang penulis kutip dari nota diplomatik dari Kementerian Hal Ehwal Luar Negeri Negara Brunei Darussalam nomor: JPK 801/05 tanggal 18 Oktober 2005 kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bandar Seri Begawan berikut ini: .. merujuk nota Kedutaan Besar bil. 0590/Prot/IX/2005 bertarikh 4 Oktober 2005 untuk mendapatkan kebebasan diplomatik bagi kapal Tentara Nasional Indonesia (TNI AL) Jenis Landing Ship Tank Modified (LSTM) unit kenderaan Pendarat (Ranratfib) mengadakan kunjungan muhibah ke Negara Brunei

Darussalam pada 19 Oktober hingga 22 Oktober 2005 seterusnya memohon dikecualikan dari bayaran Port dan Marine Charges. Kalimat di atas menyatakan bahwa kebebasan diplomatik dimaksud adalah merujuk kepada pengertian yang termuat dalam Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan-Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan-Hubungan Konsuler Berikut Protokol Masing-Masing yang menyebutkan bahwa bagi kalangan diplomatik diberikan keistimewaan dan perlakuan khusus ketika berada di negara akreditasi. Bagi kalangan anggota dilomatik tertentu yang membawa barang maupun peralatan mestilah diberikan kebebasan atau dikecualikan dari pembayaran tax (pajak) dan tidak dilakukan pemeriksaan barang sebagaimana proses untuk kalangan publik umumnya. Begitu pula istilah Landing Ship Tank Modified (LSTM) dan kenderaan Pendarat (Ranratfib) merupakan jargon dalam bidang profesi Ketentaraan yang menunjukkan jenis kendaraan tempur tertentu. b. Sebagai Identifikasi Kelompok Tertentu Kemampuan untuk memahami dan menggunakan jargon dalam sebuah kelompok tertentu merupakan label identifikasi. Kemampuan seseorang

menggunakan jargon akan berpengaruh terhadap kredibilitasnya dalam kelompok tersebut. Kemampuan menggunakan jargon menunjukkan bahwa penutur tersebut layak berada dalam kelompok tersebut sehingga dapat diterima karena kemampuan memahami idea dasarnya. Disamping itu penggunaan jargon dapat meningkatkan

imej, citra dan prestige penggunanya apalagi jargon itu dikaitkan dengan profesi tertentu yang dinikmati oleh kelas sosial yang tinggi. Meskipun jargon memainkan peranan legitimasi, namun dalam prakteknya istilah jargon tersebut sering pula mengalami penyalahgunaan oleh kalangan tertentu yang menggunakan jargon untuk tujuan menyesatkan orang lain. 2.7. Argot Dalam Thesaurus: Oxford Thesaurus of English oleh Maurice Waite (2004) dinyatakan bahwa argot tersebut adalah jargon, slang, idiom, cant, dialect, parlance, patter, speech, vernacular, patois, terminology, language, tongue. Menurut The Oxford Companion to the English Language oleh Tom McArthur (1996) istilah argot ini berasal dari Bahasa Perancis argot yaitu serikat kerja pengemis, bahasa yang khas untuk golongan kriminal atau bahasa slang. Ini artinya argot adalah sejenis bahasa slang kelompok sosial yang terbatas dan seringkali dicurigai kegiatannya karena bertentangan dengan norma-norma sosial yang berlaku. Anggota kelompok tersebut memiliki argot masing-masing sebagai salah satu identitas diri yang membedakannya dengan kelompok lain.Salah satu contoh adalah tulisan Colin Smith dalam majalah Observer keluaran tangal 26 May 1985 menulis tentang tentara Inggris di Pulau Falkland sebagai berikut: They bimble, yomp or tab across the peat and couth a shirt in readiness for a Saturday night bop with the Bennies (locals) . Berdasarkan Kamus Slang Amerika, Kesaint Blanc (1991) menyatakan bahwa istilah bop tersebut memiliki pengertian makna yaitu: meninju, membunuh,

pukul, music jazz, perkelahian antar remaja. Berdasarkan konteks dalam cerita di atas maka pengertian bop adalah kebiasaan perkelahian antara tentara Inggris dengan orang Argentina di Pulau Falkland. Contoh penggunaan argot lainnya dapat dilihat dalam tulisan James Kirkup berjudul Erotica and Exotica yang dimuat dalam Sunday Times keluaran tanggal 30 Juni 1991 yaitu: I was obsessed by public lavatories cottages or tea-rooms in the gay argot that was so very far from gay. Cerita di atas menggambarkan tentang gaya hidup dari kelompok masyarakat homoseksual yaitu kelompok masyarakat yang saling menyukai golongan sejenis. Pengertian istilah lavatory bukanlah bermakna kamar kecil sebagaimana dipahami oleh masyarakat luas melainkan suatu tempat yang biasa digunakan oleh kelompok homoseksual untuk bercinta. Begitu pula pengertian istilah tea-room bukan pula bermakna ruangan untuk minum teh sebagaimana penyediaan ruangan khusus untuk merokok smooking room melainkan tempat yang disediakan untuk menghisap ganja. Penggunaan argot oleh kelompok tertentu yang seringkali dicurigai tersebut dapat pula dijumpai dalam istilah berbahasa Indonesia.Dalam sebuah berita pada majalah Gatra keluaran tanggal 10 Januari 2007 memuat berita mengenai kegiatan kelompok pemalsu obat di Jakarta. Para anggota sindikat pemalsu obat termasuk para penjual obat menggunakan istilah lokal dan luar untuk menyebut jenis obatobatan yang mereka produksi.

Para bandit pemalsu obat itu umumnya memilih obat yang banyak diperlukan masyarakat namun harganya mahal. Mereka memproduksi secara besar-besaran dan melakukan transaksi di pasar gelap Jakarta seperti di Pasar Pramuka dan Rawa Bening. Apabila pembeli meminta obat berlabel Ponstan yaitu obat sakit kepala atau Deonil yaitu obat untuk penyakit dibetes, anggota sindikat yang bertindak sebagai penjaga toko akan menanyakan Mau obat lokal atau obat luar?. Yang dimaksud dengan istilah lokal adalah obat yang diimpor resmi atau dibuat di Indonesia, sebaliknya yang disebut sebagai luar adalah obat impor seludupan tanpa surat-surat sah. Menurut World Health Organisation (WHO), obat lokal bisa bercampur dengan obat palsu yang banyak beredar di masyarakat dengan kualitas tidak baik karena sudah kadaluarsa (expired). Dalam sebuah berita pada majalah Gatra keluaran tanggal 10 Januari 2007 memuat berita mengenai kegiatan kelompok anak muda seleberitis yang mengamalkan pergaulan bebas seperti contoh berikut: sebelum ngamar, dia menjemput Alda di rumahnya di Bogor dan berpamitan dengan Halimah. Di kamar hotel bertarif Rp 350 ribu semalam tersebut, entah apa yang mereka perbuat. Tahu-tahu dua hari berselang petang harinya, Fery membopong Alda dalam keadaan terkulai dan dikamarnya ditemukan pula sarung. Menurut keterangan dokter Muknim Idris dari RS Cipto Mangunkusumo bahwa di dalam urine ditemukan adanya Amfetamin dan Metamfetamin yaitu limbah yang berasal dari ekstasi atau shabu-shabu dan heroin. Yang ditemukan di tubuh Alda

rumusnya MDM yang merupakan rumus ekstasi. Oleh tubuh, MDMA ini diolah menjadi MDA atau obat cinta. Dalam konteks cerita di atas, istilah ngamar pengertiannya adalah kegiatan menyewa kamar hotel yang digunakan oleh pasangan anak muda untuk bercinta. Sementara istilah sarung merujuk kepada kondom yaitu alat kontrasepsi yang dipakai untuk mencegah kehamilan akibat hubungan seksual. Istilah obat cinta pula bermakna obat-obatan yang seringkali digunakan anak muda pasangan yang dapat menimbulkan halusinasi seksual. Bahasa jargon dan argot menunjukkan fenomena bahasa yang faktual dan empiris yang menunjukkan bahawa bahasa itu bukanlah berada dalam ruang yang vacuum melainkan bersentuhan langsung dengan para penuturnya. Dengan kajian Sosiolinguistik didapati bahawa penggunaan variasi bahasa tertentu dapat menunjukkan latar belakang kelas sosial para penuturnya. Manusia adalah mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan mestilah selalu berinteraksi dengan sesamanya. Untuk keperluan tersebut, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai identitas kelompok. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terbentuknya kepelbagaian bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri yang unik yang menyebabkannya berbeda dengan bahasa lainnya. Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang Sosiolinguistik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Trudgill bahwa Sosiolinguistik adalah bahagian linguistik yang berhubung kait dengan bahasa,

fenomena bahasa dan budaya. Bidang ini juga mengkaji fenomena masyarakat dan berhubung kait dengan bidang sain sosial seperti Antropologi seperti sistem kerabat (Antropologi) bisa juga melibatkan geografi dan sosiologi serta psychologi sosial. Manakala, Fishman menyatakan bahwa Sosiolinguistik memiliki komponen utama yaitu ciri-ciri bahasa dan fungsi bahasa. Fungsi bahasa. dimaksud adalah fungsi sosial (regulatory) yaitu untuk membentuk arahan dan fungsi interpersonal yaitu menjaga hubungan baik serta fungsi imajinatif yaitu untuk meneroka alam fantasi serta fungsi emosi seperti untuk mengungkapkan suasana hati seperti marah, sedih, gembira dan apresiasi. Perkembangan bahasa yang selari dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa seperti jargon dan argot.