Anda di halaman 1dari 11

SURVEY LAPANGAN UNTUK GEOTEKNIK

Untuk dapat melakukan analisis-analisis geoteknik, sangat diperlukan data tanah dan air yang lengkap. Data-data tersebut ada yang diperoleh langsung dari survey geoteknik lapangan, ada yang diperoleh dari hasil uji laboratorium terhadap contoh-contoh tanah yang diambil dari bawah permukaan. Kedalaman di bawah permukaan tanah dari mana data-data tersebut diperlukan dapat beberapa meter bahkan puluhan meter di bawah permukaan tanah, sehingga dengan demikian diperlukan survey lapangan yang mampu mendeteksi bahkan mengambil contohcontoh tanah, dan melakukan pengetesan dari kedalaman tersebut. Suatu survey lapangan haruslah mengikuti prosedur lapangan seperti : Investigasi awal atau survey awal dengan menggunakan informasi dan data yang ada. Pengambilan data keadaan tanah dan batuan dengan berbagai metode. Pemboran untuk mendapatkan hasil secara detail pada suatu titik. Uji tanah dan batuan (pengambilan contoh tanah).

Penyelidikan Lapangan Dalam survey lapangan, dilakukan penyelidikan tanah lapangan dengan tujuan mengetahui keadaan tanah dan stratifikasinya, mendapatkan contoh tanah untuk diuji di laboratorium, mengetahui tinggi muka air tanah, mendapatkan properti tanah secara langsung. Penyelidikan tanah lapangan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode antara lain :

1. Drilling (Pemboran) Pemboran tanah adalah pembuatan lubang ke dalam tanah dengan menggunakan alat bor manual maupun alat bor mesin untuk tujuan sebagai berikut:

1) Mengindentifikasi jenis tanah sepanjang kedalaman bor 2) Untuk mengambil contoh tanah asli 3) Untuk melakukan uji SPT, Vane Shear Test, dll.

Pengeboran Manual Metode pemboran ini adalah metode untuk mendapatkan keadaan bawah permukaan tanah dengan cara mengebor, dioperasikan dengan tenaga manusia yaitu dengan cara memutar mata bor tanah dengan menggunakan rod (pipa bor) yang terbatas hingga maksimum kedalaman 6 m sampai 10 m atau kurang, tergantung tenaga menusia yang memutar bor tersebut.

Karena keterbatasan kedalaman yang dapat dicapai dengan metode ini sekitar 6 m 10 m. Kemampuan dari pengeboran manual ini terbatas, tidak sesuai untuk digunakan untuk pengeboran dibawah muka air tanah, sederhana, mudah dioperasikan dan gangguan terhadap tanah minimal.

Pengeboran Bilas Menggunakan mesin bor rotary, tanah dikorek dan dibilas dari dasar lubang bor dengan sirkulasi air, tidak dapat untuk mengidentifikasi tanah, kurang sesuai untuk pemboran batuan, dapat digunakan di semua jenis tanah, sangat cocok untuk tanah lunak, gangguan terhadap struktur tanah sangat minimal.

Pengeboran Inti (Core Drilling) Pekerjaan pemboran inti dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh data geologi teknik bawah permukaan tanah (insitu testing) yang akan digunakan untuk analisa geologi teknik dengan melalui pengujian lapangan dan laboratorium. Pada setiap pemboran inti diusahakan agar perolehan contoh inti tanah (Core recovery) mencapai 100%. Core Recovery itu sendiri artinya adalah

presentasi tanah/batuan yang diperoleh selama proses pengeboran. Urutan stratigrafi tanah yang diperoleh sangat tergantung dari core recovery-nya. Pengeboran pada setiap lokasi akan dilaksanakan dengan distribusi dan kedalaman yang disesuaikan dengan kondisi geologi tekniknya. Tetapi jika dibutuhkan pengeboran dapat dilakukan lebih dalam lagi bila terjadi keraguan pengambilan sampel, misalnya terjadinya ketidakseragaman jenis tanah. Pengambilan contoh inti pemboran dilakukan dengan peralatan tabung penginti single, double ataupun triple core barrel, tergantung kebutuhannya. Yang membedakannya adalah tabung pelapis luarnya saja, contohnya pada pengambilan tanah, tanah pada bagian tengah core barrel tidak akan terganggu (undisturbed) sedangkan pada bagian pinggiran core barrel-nya akan terjadi disturbed sample. Mata bor yang digunakan juga tergantung pada kondisi tanah yang akan dibor. Untuk type soil akan digunakan mata bor Tungsten atau Steel Bit dan untuk type batuan digunakan Diamond Bit. Pengeboran inti ini dapat digunakan pada batuan, dapat mengidentifikasi tanah secara langsung, tidak sesuai untuk pengeboran pada tanah lunak, dapat mengganggu struktur tanah.

2. Sumur Uji (Test Pit) Sumur uji ini bertujuan untuk mengetahui jenis, sifat, dan urutan lapisan tanah dari atas ke bawah, letak air tanah serta pengambilan contoh tanah. Biasanya sumur uji dimaksudkan untuk melihat secara langsung kondisi tanah di lapangan: caranya dengan menggali lubang yang cukup besar sehingga orang bisa masuk sampai kedalaman air tanah dapat juga dilakukan dengan mesin seperti Backhoe dan Shovel. Dari pengamatan pada bidang vertikal di dalam lubang dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah, warna, bau, kedalaman muka air tanah dan struktur umumnya dapat juga diambil contoh tanah asli dengan memasukkan tabung sampler ke dalam tanah.

Sumur uji ini diperuntukan pada kedalaman yang dangkal, sulit di gunakan pada tanah yang memiliki muka air tinggi, sangat sederhana dan relative murah, identifikasi dapat dilakukan secara langsung, jumlah contoh tanah berukuran besar. Ukuran sumur uji minimal 1 x 1 meter dengan kedalaman berkisar antara 4 6 meter.

Gambar 1. Sumur Uji

3. Pengambilan Contoh Tanah (Soil Sampling) Pengambilan contoh tanah merupakan penyelidikan lanjutan mengenai sifat sifat dari lapisan tanah, seperti kadar airnya, kekuatan (strength), daya rembesan air, dan lain lain. Contoh contoh tanah yang telah diambil tersebut akan diuji di laboratorium. Ada dua jenis contoh tanah yang dikenal yaitu yang contoh tanah asli atau tanah tidak terganggu (Undisturbed Soil Sampling) dan tidak asli atau tanah terganggu (Disturbed Soil Sampling), tergantung dari cara pengambilannya. Contoh tanah asli atau tanah tidak terganggu adalah contoh tanah yang struktur butiran dan kadar airnya sama dengan struktur dan kadar air di tempat aslinya didalam tanah. Contoh tanah asli harus mewakili dengan baik tanah di kedalaman tempat asalnya (representative sample). Contoh contoh ini tidak mengalami perubahan dalam struktur, kadar air, atau susunan kimia. Untuk mempertahankan kondisi tersebut pengambilan dan penyimpanannya

memerlukan teknik tertentu. Contoh tanah asli diambil dari dalam lubang bor

dari kedalaman yang direncanakan atau dari kedalaman dimana terdapat perubahan jenis, karena warna, bau, kekerasan, butiran dari tanah selama pengeboran. Biasanya, contoh tanah asli diambil dari setiap perubahan kedalaman 2 s/d 3 meter, dan dari setiap ada perubahan jenis tanah, yang dipantau selama pengeboran. Harus dilakukan uji laboratorium untuk memperoleh parameter-parameter kekuatan geser, konsolidasi dan

kompresibilitas dan untuk mengukur berat volumenya terhadap contoh tanah asli. Sedangkan contoh tanah tidak asli atau tanah terganggu merupakan contoh tanah yang diambil tanpa adanya usaha untuk melindungi struktur asli dari tanah tersebut. Contoh tanah tidak asli ini dapat dipakai untuk segala penyelidikan yang tidak memerlukan contoh tanah asli seperti ukuran butiran, berat jenis, dan lain sebagainya.

4. Penetration Test Penetration test merupakan percobaan dengan cara menekan atau memukul berbagai macam alat kedalam tanah, dan mengukur besarnya gaya atau jumlah pukulan yang diperlukan, kita dapat menetukan dalamnya berbagai lapisan yang berbeda, dan mendapatkan indikasi mengenai kekuatannya. Alat yang dipakai dalam percobaan penetrasi disebut penetrometer. Penetrometer dibagi menjadi dua macam yaitu, penetrometer statis dan penetrometer dinamis. Penetrometer statis yaitu ujungnya ditekan kedalam tanah pada kecepatan tertentu dan gaya perlawanannya diukur. Penetrometer dinamis yaitu ujungnya dimasukkan kedalam tanah dengan pukulan yang dilakukan dengan menjatuhkan beban. Dua macam percobaan penetrasi, antara lain :

Uji Sondir (Cone Penetration Test) Uji sondir dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras,

menentukan lapisan-lapisan tanah berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat tanah setiap kedalaman yang diselidiki. Komponen utama dari uji sondir adalah konus yang dimasukkan kedalam tanah dengan cara ditekan. Tekanan pada ujung konus pada saat konus bergerak kebawah karena ditekan dan tekanan geser pada dinding konus pada saat dinding konus bergeser kebawah karena ditekan, diukur dan pada manometer diatas permukaan tanah pada setiap kedalaman tertentu didalam tanah. Uji sondir ini relatif murah dan cepat memberikan hasil dibanding dengan uji geoteknik lapangan lainnya. Di Indonesia, uji sondir telah dikenal sejak tahun 1950-an, dan di Indonesia pula konus Begemann pertama ditemukan oleh Prof. Begemann yang saat itu adalah dosen di ITB. Sampai sekarang ini hasil uji sondir dipakai untuk tujuan-tujuan seperti di bawah ini : 1). Evaluasi kondisi tanah bawah pemukaan di lapangan, atau stratigrafi (menduga struktur lapisan tanah bawah permukaan), klasifikasi lapisan tanah (menduga jenis-jenis tanah di bawah permukaan), kekuatan lapisanlapisan tanah, kedalaman lapisan keras dan lain-lain. 2). Menentukan lapisan tanah yang harus dibuang dan diganti dengan tanah yang lebih baik lalu dipadatkan serta kontrol pemadatan. 3). Perencanaan lereng dan timbunan dan lain-lain. Keterbatasan uji sondir yang paling jelas adalah jika konus bertemu dengan butir batu yang cukup besar atau pasir padat akan menunjukkan tekanan konus yang cukup besar dan bahkan tidak dapat diteruskan, seolah-olah pada kedalaman tersebut terdapat lapisan tanah keras atau pasir padat yang luas dan merata. Selain hal tersebut, kalau dijumpai lapisan keras dan uji sondir menunjukkan tekanan yang besar, uji sondir terhenti, dan dapat dikatakan bahwa pada kedalaman tersebut dijumpai lapisan keras; tetapi tidak dapat

memberi informasi berapa tebal lapisan tersebut; apa jenis batuan lapisan keras tersebut; dan apakah di bawah lapisan keras tersebut terdapat lapisan tanah yang terus keras atau ada lapisan lunak. Keuntungan Alat Sondir : Dapat dengan cepat menentukan lapisan tanah keras Dapat memperkirakan perbadaan lapisan Cukup baik digunakan pada lapisan tanah berbutir halus.

Kekurangan Alat Sondir : Jika terdapat batuan lepas bisa memberikan indikasi lapisan keras yang salah. Tidak dapat mengetahui jenis lapisan tanah langsung Jika alat tidak lurus dan konus tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh meragukan. Tidak boleh dilakukan pada daerah endapan alluvium yang mengandung komponen dari kerakal dan berangkal, hasilnya memberikan indikasi lapisan tanah keras yang salah. Tidak boleh dilakukan pada lapisan dengan dasar batu gamping yang berongga.

Gambar 2. Uji Sondir

Standard Penetration Test Uji penetrasi standar (SPT = Standard penetration test) adalah uji yang

dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Keunggulan dari SPT yaitu dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis tanah secara visual, dapat digunakan untuk mendapatkan parameter tanah secara kualitatif melalui korelasi empiris.

Gambar 3. Ukuran tabung SPT

Gambar 4. Pelaksanaan SPT

5. Vane Test atau Vane Shear Test (VST) Yaitu mengukur kuat geser tanah undrained, sesuai untuk tanah liat sangat lunaksedang atau suatu cara untuk mengukur kekuatan geser pada tanah yang berbutir halus seperti lempung atau lanau. Alat ini sangat baik untuk menentukan kekuatan geser pada lapisan lempung yang lunak, karena pengambilan contoh asli dari tanah semacam ini sering sangat sulit.

6. Metode Geofisik Metode ini dapat digunakan untuk mencakup area yang luas secara cepat dan relatif murah. Metode ini tepat sekali digunakan untuk memilih lokasi yang tepat untuk sebuah bendungan, terowongan, jalan raya, dan bangunanbangunan besar lainnya. Dapat juga digunakan untuk menentukan lokasi deposit mineral. Metode geofisik ada 2 macam yaitu metode seismik dan metode geolistrik.

a. Metode Seisimik Metode seismik merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk eskplorasi sumber daya alam dan mineral yang ada di bawah permukaan bumi dengan bantuan gelombang seismik. Dalam metode seismik pengukuran dilakukan dengan menggunakan sumber seismik (ledakan, vibroseis dll). Setelah sumber diberikan maka akan terjadi gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan partikel tersebut di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di dalam tanah (batuan). Sifat elastis lapisan-lapisan tanah yang berbeda adalah berbeda pula dan atas dasar refraksi dan refleksi gelombang melalui lapisan yang berbeda-beda sifat elastisitasnya ini akan dapat dibuat profil lapisan-lapisan tanah di bawah permukaan.

b. Metode Geolistrik (Resistivity Method) Metode geolistrik adalah metode geofisik yang kompleks karena terdiri dari bermacam-macam metode. Metode ini merupakan metode yang digunakan

10

untuk menentukan ground water maupun akuifer dari tanah, metode ini umumnya digunakan dalam mencari air tanah maupun mineral. Metode geolistrik terdiri dari diantaranya metode tahanan jenis (resisitivity), metode potensial diri (self potential), metode potensial terimbas (induced potential), dan lain-lain. Metode ini menggunakan sebuah alat resistimeter diletakkan di tengah kabel-kabel penghubung yang menghubungkan alat resistimeter dengan titiktitik duga dan pada jarak-jarak tertentu ditanam sebuah elektroda untuk menyalurkan arus listrik ke dalam tanah. Arus listrik yang disalurkan biasanya antara 150 600 Volt, tergantung dari kondisi tanah bawah permukaan dalam menyalurkan arus listrik. Dari berbagai jarak yang berbeda-beda diperoleh datadata mengenai harga-harga tahanan listrik dari tanah. Atas dasar perbedaan dari konduktivity dan resistivity listrik dari lapisanlapisan tanah dari kedalaman-kedalaman yang berbeda-beda, yang diukur dari potensial dan pengaliran arus listrik antar elektroda - elektroda tersebut di atas dari arus listrik yang disalurkan dari sumber listrik yang dipakai (accu), dengan cara-cara analisis yang baku dapat ditentukan pelapisan-pelapisan tanah bawah permukaan ke arah vertikal maupun horizontal sampai kedalaman maksimum 30 m. Dapat dipakai untuk membuat prakiraan kasar jenis pondasi Dam atau struktur bangunan.

Gambar 5. Peralatan dan operator survey

11