Anda di halaman 1dari 23

Executive Summary Manggis

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Permasalahan Untuk bangkit dari krisis moneter, sistem agribisnis buah tropika Indonesia perlu digerakkan agar buah tropika Indonesia dapat memberikan kontribusi dalam pemulihan ekonomi rakyat, dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan menjadi andalan ekspor. Salah satu buah yang dapat memberikan kontribusi utama sebagai komoditas ekspor adalah manggis. Sejak tahun 2000, volume dan nilai ekspor manggis adalah yang tertinggi diantara ekspor buahbuahan Indonesia. Walaupun demikian masih banyak masalah yang dihadapi dalam agribisnis manggis. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut perlu dukungan program riset yang terarah, terpadu, dan berkesinambungan. Penelitian ini sejak dini dirancang berorientasi pasar untuk menciptakan agro-technological cluster pada hasil yang dapat dikomersialkan. Masalah utama dalam pengembangan manggis adalah : 1. Belum ditemukannya varietas manggis dengan produktivitas dan kualitas buah yang lebih baik. 2. Rendahnya minat investasi pada perkebunan manggis karena lamanya masa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), yang dapat mencapai 8-15 tahun apabila tanaman diperbanyak dengan biji. Perbanyakan vegetatif dengan penyambungan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi sangat lambat dan produktivitasnya rendah, walaupun tanaman dapat berproduksi pada umur 5 tahun. 3. Produktivitas dan kualitas buah masih rendah yang disebabkan karena sebagian besar buah manggis dihasilkan dari hutan manggis, kebun campuran maupun pekarangan tanpa pemeliharaan yang berarti. 4. Teknologi produksi dan pasca panen manggis belum baik. 5. 1.2. Tujuan Kegiatan Untuk mengatasi masalah dalam pengembangan manggis adalah melalui perbaikan teknologi pembibitan yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

manggis dan teknologi produksi untuk meningkatkan produktivitas pohon dan mutu buah, produksi manggis luar musim dan mengatasi penyakit getah kuning, serta melakukan pemuliaan untuk memperoleh varietas baru yang lebih baik. Pengembangan manggis terutama ditujukan untuk : 1. Menggiatkan agribisnis manggis, sehingga terjadi peningkatan produksi dan kualitas buah dari kebun-kebun manggis lama di sentra produksi dan adanya pembangunan kebun-kebun manggis baru. 2. Memperoleh varietas unggul yang genjah dengan produktivitas yang tinggi dan kualitas buah yang baik. 3. Memperoleh teknologi memacu pertumbuhan dan memperpendek masa tanaman belum menghasilkan (TBM). 4. Memperoleh teknologi produksi luar musim. 5. Memperoleh teknologi pra-panen, panen dan pasca panen yang dapat meningkatkan kualitas buah. 6. Mengatasi gejala getah kuning pada buah. Apabila semua tujuan tersebut tercapai, dampaknya adalah meningkatnya persentase buah layak ekspor.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

BAB II. KEUNTUNGAN TEKNIS


Penelitian dalam RUSNAS Pengembangan Buah-buahan Unggulan Indonesia dirancang untuk mengatasi masalah-masalah dalam riset pertanian, dengan konsepsi solusi sebagai berikut : 1. Membentuk Agro-technological cluster yang akan memperkuat agribisnis buah-buahan, dengan orientasi penelitian ke arah pasar (market oriented) bukan orientasi produksi saja. Untuk itu penelitian RUSNAS juga akan

mengkaji aspek pemasaran dan solusi masalah-masalah praktis yang dihadapi pelaku agribisnis secara luas. 2. Meningkatkan kemampuan: (a) memantau dan menguasai kemajuan IPTEK sesuai dengan technology roadmap; (b) menggali potensi ekonomi dari kemajuan IPTEK untuk pengembangan produk dalam proses produksi; (c) mengembangkan efisiensi produksi dan promosi pemasaran produk untuk bersaing di pasar internasional. 3. Solusi percepatan perolehan hasil: a. Cakupan riset yang dilakukan adalah pengembangan hasil riset yang potensial diberbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi, sehingga hasil teknologi tepat guna dapat segera diperoleh. b. Pemanfaatan pendekatan bioteknologi untuk mempercepat keberhasilan pemuliaan buah-buahan. Penemuan varietas baru buah-buahan akan lebih cepat, dari semula lebih dari 30 tahun menjadi 10 - 15 tahun dengan bioteknologi (DNA marker, fusi protoplast). c. Kajian ekofisiologi untuk memacu tanaman agar berbuah lebih awal. 4. Solusi memperpendek jeda waktu adopsi teknologi hasil penelitian sampai ke keuntungan ekonomi: a. Melibatkan industri sejak awal riset, sebagai share holder hasil penelitian. b. Varietas baru yang potensial dapat dimanfaatkan oleh industri walaupun belum dilepas secara resmi, dengan resiko ditanggung oleh industri. Pelepasan varietas sesuai dengan prosedur dan peraturan yang ada
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

memerlukan pengujian multi lokasi dan akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk pohon buah-buahan (mulai produksi setelah berumur 45 tahun). Tetapi apabila industri terlibat pengembangan varietas ini dari awal, dia bisa yakin terhadap keunggulan varietas baru hasil rakitan dan bersedia menanggung resiko untuk mengembangkannya walaupun belum dilakukan uji multi lokasi. 5. Masalah tingginya resiko kegagalan dalam riset pertanian diantipasi dengan : a. Melibatkan peneliti yang sudah berpengalaman dan berdedikasi tinggi dari lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. b. Melibatkan mahasiswa pasca sarjana yang berkemampuan meneliti tinggi, bermotivasi kuat dan berdedikasi dalam bimbingan dosen senior yang berkualitas. c. Beberapa penelitian akan dikaitkan dengan penelitian di luar ngeri seperti Jepang, Australia dan Thailand. Kegiatan penelitian RUSNAS Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia meliputi perakitan varietas baru dan perbaikan teknologi produksi dan pasca panen. Kegiatan ini direncanakan bersama-sama antara pelaku agribisnis buah, konsumen dan para peneliti. Sebagian dari kegiatan ini akan melibatkan divisi/departemen litbang perusahaan atau industri agar hasil dari kegiatan ini sesuai dengan kebutuhan para pelaku agribisnis buah. Kegiatan perakitan

varietas baru tersebut antara lain meliputi : uji lapangan untuk mengetahui daya adaptasi, produktivitas dan kualitas varietas baru dan teknologi baru. Hasil kegiatan ini akan langsung dimanfaatkan oleh industri yang bergerak dalam agribisnis buah-buahan. Varietas baru yang dihasilkan akan dimanfaatkan oleh industri benih/pembibitan untuk menghasilkan benih/bibit varietas/klon unggul dalam skala komersial. Varietas baru yang dihasilkan juga akan

mendukung industri buah segar. Bibit/benih dari varietas/klon baru tersebut akan ditanam oleh perusahaan perkebunan buah yang akan menghasilkan produk lebih baik ditinjau dari aspek produktivitas dan kualitas.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

RUSNAS

juga

akan

menghasilkan

teknologi

baru

yang

dapat

dimanfaatkan oleh industri benih, industri buah segar, industri pengolahan dan industri jasa dan perdagangan. Perbaikan teknologi yang dilakukan akan

menyebabkan kegiatan produksi menjadi lebih efisien sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih optimal. Selain itu juga akan dilakukan perbaikan

teknologi pasca panen untuk mendukung poduksi yang lebih baik. Berkembangnya teknologi pasca panen dan dihasilkannya produk berkualitas akan mendorong berkembangnya industri pengolahan hasil (pasca panen) seperti industri pengalengan, industri makanan dan indutri minuman. Industri jasa dan perdagangan yang terlibat dalam sistem distribusi juga akan berkembang lebih baik untuk mendistribusikan produk ke seluruh daerah pasar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri (eksportir). Dengan meningkatnya aktivitas industri buah segar dan industri pengolahan buah, maka industri yang terkait juga akan memberikan respon dengan meningkatkan aktivitasnya. Industri tersebut antara lain : industri

pariwisata, industri sarana produksi pertanian (pupuk, pestisida, ZPT, dll), industri kemasan, industri mesin-mesin pertanian dan industri mesin pengolahan. Agar terdapat keterkaitan (link and match) antara penelitian yang dilakukan dengan pihak industri sebagai pengguna hasil penelitian maka PKBT sebagai instansi pengelola RUSNAS bersama dengan lembaga mitra telah menyusun suatu agro-technological cluster.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

BAB III. LINGKUP DAN PROGRAM KEGIATAN


3.1. Lingkup Kegiatan Kegiatan RUSNAS pengembangan manggis unggulan Indonesia pada tahun 2002 merupakan kelanjutan dan penyempurnaan kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2001. Secara umum lingkup kegiatan RUSNAS meliputi tiga aspek, yaitu Pengembangan Varietas, Pengembangan atau Perbaikan Teknologi Produksi dan Pasca Panen, serta Pengembangan Agro-technological Cluster. Untuk program kerja pengembangan varietas telah dilakukan analisis genetik manggis dengan marka DNA untuk mempelajari keragaman genetik dan identifikasi kelompok; serta induksi mutasi manggis untuk meningkatkan keragaman genetik manggis. Program pengembangan teknologi produksi dan pasca panen meliputi studi penyerapan hara oleh batang bawah penyokong pada sistem sambung kaki ganda; studi pembungaan luar musim. Untuk pengembangan cluster dilakukan kegiatan penerapan teknologi produksi pada lahan petani binaan di Leuwiliang. 3.2. Program Kegiatan Mengacu pada rencana kegiatan tahun 2002 yang telah ditetapkan, maka telah dilaksanakan beberapa kegiatan yang terdiri dari program perbaikan varietas, perbaikan teknologi produksi dan pasca panen, dan pengembangan kluster agroteknologi. 3.2.1. Pemuliaan Tanaman 3.2.1.1. Studi Variabilitas dan Stabilitas Genetik Manggis

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas genetik tanaman manggis dan keturunannya sebagai kunci pemahaman terhadap sifat apomiksis. Untuk studi variabilitas genetik digunakan sampel DNA manggis yang berasal dari 4 lokasi sentra produksi manggis (Leuwiliang, Wanayasa, Purworejo dan Trenggalek). Sedangkan untuk analisis keturunan digunakan sampel DNA dari 3
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

pohon induk manggis Sumatra Barat dengan masing-masing 10 tanaman keturunannya. Variabilitas Genetik Manggis Seleksi primer telah dimulai dengan menggunakan sampel DNA yang telah berhasil diekstrak dan dilanjutkan dengan menggunakan sampel DNA dari semua lokasi untuk dilihat perbedaannya secara genetik. Untuk pohon induk yang mewakili populasi tanaman dari keempat lokasi, variasi genetiknya adalah sebesar 56.6% dengan koefisien kemiripan Dice 0.73-1. Nilai korelasi antar pita DNA cukup tinggi yaitu r = 0.896, yang berarti dendrogram berdasarkan pola pita DNA sangat baik. Tanaman manggis di Pulau Jawa dan Sumatera Barat menunjukkan variasi secara fenotipik maupun genotipik. Variasi genotipik dan fenotipik yang lebih besar dijumpai pada populasi manggis di Wanayasa. Hasil uji kuantitas menunjukkan bahwa DNA yang diperoleh berkisar antara 20 150 ng/l. Pada penelitian ini digunakan 40 primer yang terdiri dari 4 kelompok, yaitu SB, OPH, OPM dan OPN. Variasi pola pita DNA selalu terlihat pada tanaman yang berasal dari Wanayasa, kecuali pada primer OPH 12. Sebaliknya pada primer OPH 13 terdapat pita khas yaitu OPH 132000 yang dipunyai oleh sebagian besar aksesi dari Wanayasa dan dua aksesi Kaligesing. Pengelompokan secara genetik membangi manggis di Pulau Jawa atas dua kelompok utama dengan koefisien kemiripan 0.73-1. Kelompok pertama terdiri dari tanaman yang berasal dari Wanayasa dan dua tanaman dari Kaligesing dengan koefisien kemiripan 0.73-0.86. Kelompok kedua merupakan kelompok heterogen yang terdiri dari individu yang berasal dari berbagai lokasi dan sebagian besar identik secara genetik dengan koefisien kemiripan 0.93-1.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

Stabilitas Genetik Analisis RAPD antara tanaman induk dan keturunannya menggunakan lima primer disajikan dalam bentuk profil pita DNA dan dendogram. Hasil

observasi menunjukkan adanya variasi genetik. Tingkat kemiripan genetik ratarata antara tanaman induk denagn keturunnannya masing-masing adalah 0.81 dengan perincian 0.73, 0.84 dan 0.85 untuk Padang Laweh, Balai Baru dan Subarang Sukam.

3.2.1.2. Studi Keragaman Pohon dan Buah Manggis di Pulau Jawa Ada dua studi yang dilakukan. Studi I dilakukan di Wanayasa (Purwakarta), Gunung Walat (Sukabumi) dan Watulimo (Trenggalek). Pada Studi II selain ketiga lokasi tersebut juga dilakukan di di Leuwiliang (Bogor), Kaligesing (Purworejo). Hasil uji kehomogenan ragam terhadap tanaman manggis dari tiga sentra produksi manggis di pulau Jawa yaitu Wanayasa, Gunung Walat dan Watulimo menunjukkan bahwa secara umum tidak ada keragaman karakter daun, batang, buah dan biji pada tiga daerah sentra produksi Wanayasa, Watulimo dan Gunung Walat, kecuali untuk peubah lingkar batang. Lingkar batang manggis di daerah Watulimo berkisar antara 41.5 cm -134.5 cm, di Wanayasa berkisar antara 57 cm 96 cm dan di Gunung Walat antara 67 cm 116 cm. Pengamatan di lapang menunjukkan adanya keragaman pada peubah bentuk kanopi. Terdapat dua macam bentuk kanopi yang dapat diamati di lapang yaitu bentuk kanopi kerucut atau piramid dan bentuk kanopi bulat atau oval. Bentuk kanopi untuk seluruh pohon yang diamati di Wanayasa adalah bulat atau oval. Bentuk kanopi di daerah Gunung Walat sebagian besar adalah bulat atau oval dan hanya ada satu pohon dengan bentuk kanopi kerucut atau piramid. Sedangkan untuk bentuk kanopi semua pohon di daerah Watulimo adalah kerucut atau piramid. Biji dari ketiga lokasi sentra produksi tersebut dikecambahkan di Bogor dan diuji perkecambahan dan kecepatan pertumbuhannya. Kecepatan flush paling

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

baik diperoleh dari manggis dari Gunung Walat (36.44 hari), sedangkan manggis dari Wanayasa memiliki kecepatan flush paling lambat (45.81 hari). Secara umum, bunga manggis yang berasal dari tiga sentra produksi di Pulau Jawa (Kaligesing, Leuwiliang dan Wanayasa) memiliki keragaman pada beberapa karakter morfologi yang diamati, kecuali untuk peubah diameter stigma, panjang mahkota dan bobot bunga. Dari Studi II dilakukan pengujian terhadap tingkat kemanisan buah, ukuran buah serta nilai higenis. Tingkat kemanisan buah ditentukan oleh kadar padatan terlarut total (PTT) atau biasanya disebut dengan obrix. Tingkat

kehigienisan dinilai dari ada tidaknya kontaminasi pada buah, baik kontaminasi fisik, biologi maupun kimia. Pada penelitian ini kontaminasi yang diukur adalah adanya getah pada kulit dan daging buah. Dari analisis terhadap parameter tersebut dapat diketahui bahwa buah yang diperoleh memiliki karakter yang berbeda antar sentra produksi, kecuali untuk parameter jumlah lokul dan jumlah biji. Uji korelasi antar peubah yang diamati menunjukkan bahwa diameter buah berkorelasi positif dengan bobot buah, panjang buah, tebal kulit buah, dan jumlah biji. Hasil uji korelasi juga menunjukkan bahwa tingkat kemanisan buah berkorelasi negatif dengan diameter buah, bobot buah, dan panjang buah. Peningkatan dalam diameter buah, bobot buah, dan panjang buah, menyebabkan buah menjadi kurang manis. Salah satu kriteria standar mutu buah manggis menurut SNI adalah diameter buah. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa diameter buah dari populasi di semua lokasi termasuk ke dalam mutu buah I yaitu berdiameter antara 55 mm 65 mm. Rataan diameter buah terbesar dimiliki oleh populasi di Kaligesing (63.13 mm), diikuti populasi di Wanayasa (6.276), sedangkan rataan diameter buah terkecil dimiliki oleh populasi di Watulimo (5.581 mm). Buah manggis di

Watulimo umumnya bersih tidak bergetah dengan nilai skor 1.66, sedangkan manggis di Kaligesing dan Sukabumi banyak yang tercemar oleh getah, dengan skor 2.42.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Executive Summary Manggis

3.2.1.3.

Studi Keragaman Morfologi Bunga Kerabat Dekat Manggis

Pada tanaman manggis bentuk kanopi yang dapat dijumpai adalah oval dan kerucut. Bentuk kanopi yang ditemukan pada para kerabat juga menunjukkan hal yang sama. Namun pada beberapa spesies seperti Garcinia porrecta Wall dan Garcinia porrecta Wall var schizogyna Boerl, meskipun cabang pertama mulai tumbuh pada ketinggian 20 m tetapi masih menampakkan bentuk kanopi kerucut. Bentuk percabangan pada manggis, G. celebica, G. wichmanni Lauterb, G. benthami, G. hombroniana adalah berseling berhadapan, sedangkan percabangan pada G. porrecta Wall dan G. porrecta Wall var schizogyna Boerl berbentuk spiral terutama pada ketinggian diatas 7 meter. Pada ketinggian hingga 7 meter, terlihat bahwa seluruh Garcinia yang diamati memiliki percabangan yang berseling berhadapan. Duduk daun pada manggis dan kerabatnya adalah berpasangan saling berhadapan dengan bentuk daun ovat-oblong atau elliptikal. Perbedaan dari daun manggis dan kerabatnya hanya pada ukurannya saja. Ukuran daun terbesar dimiliki oleh G. wichmanni Lauterb yaitu 14.4 x 55 cm. Warna daun semua Garcinia yang diamati adalah hijau dengan perbedaan pada tingkat kecerahan warna. Manggis memiliki daun dengan warna hijau tua cerah dan permukaannya mengkilap, G. hombroniana dan G. celebica memiliki daun berwarna hijau dengan permukaan kusam, G. benthami Pierre, G. porrecta Wall dan G. porrecta Wall var schizogyna Boerl memiliki daun berwarna hijau dengan permukaan licin, sedangkan daun G. malacesis berwarna hijau dengan ukuran yang kecil. Bentuk bunga pada G. mangostana, G. hombriniana, G. porrecta Wall, G. porrecta Wall var schizogyna Boerl, G. celebica, dan G. benthami Pierre adalah rotate dengan 4 sepal (kelopak bunga) dan 4 petal (mahkota bunga), tetapi berbeda dalam ukurannya. Bunga manggis berwarna merah jambu dengan semburat warna kuning dekat dengan pangkal mahkota, biasanya setelah bunga mekar sempurna daun mahkota akan gugur sedangkan kelopak akan tetap menempel pada bunga hingga menjadi buah. Bentuk stigma adalah sessile, berwarna putih dan merah jambu dengan diameter 1.13 - 1.77 cm. Dari stigma ini
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

10

Executive Summary Manggis

dapat diketahui jumlah biji yang akan terbentuk pada manggis. Tangkai sari yang terdapat pada manggis rudimenter dan tidak menghasilkan pollen, dan berjumlah 16 - 18. Bobot bunga manggis bervariasi dari 5.11 - 10,91 gram. Warna bunga pada G. hombriniana, G. porrecta Wall, G. porrecta Wall var schizogyna Boerl, G. celebica, G. benthami Pierre adalah kuning dengan bentuk yang serupa untuk lima spesies. Pada penelitian ini tidak diperoleh bunga G. wichmanni Lauterb. Bunga G. celebica dan G. porrecta Wall dapat dibedakan dari bentuk tangkainya, yaitu kotak untuk G. porrecta Wall dan bulat untuk G. celebica. Menurut Sari (2000), morfologi batang, daun dan bunga G. celebica sama dengan G. benthami Pierre, yang membedakan adalah warna getahnya diamana getah G. celebica berwarna kuning sedangkan getah G. benthami Pierre berwarna putih.

3.2.1.4. Induksi Mutasi untuk Meningkatkan Keragaman Genetik Manggis Sampai saat ini dipercaya bahwa manggis memiliki biji yang apomiksis sehingga perkembangbiakan dengan biji merupakan perbanyakan secara vegetatif yang menyebabkan manggis memiliki keragaman genetik yang sempit. Breeding secara konvensional sulit dilakukan karena polen manggis rudimenter sehingga manggis tidak memiliki polen. Selain itu, pertumbuhan manggis juga sangat lama sehingga kalaupun breeding manggis secara konvensional dapat dilakukan, akan memerlukan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan hasilnya. Karena itu induksi mutasi menjadi salah satu pilihan yang masuk akal untuk memuliakan manggis. Salah satu teknik induksi mutasi yang efektif adalah dengan cara iradiasi. Teknik ini telah berhasil dilakukan pada buah-buahan

tropika seperti jambu biji dan jeruk (menghasilkan tanaman dengan buah tanpa biji), pisang (menghasilkan klon pisang tahan terhadap penyakit sigatoga hitam), kurma (tahan penyakit Bayoud), dan strawberi (toleran terhadap fitoptora) (Jain, 2000).

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

11

Executive Summary Manggis

1. Radiasi dengan Penanaman di Lapang Radiasi sinar Gamma akan menyebabkan kerusakan fisiologi pada tanaman yang bersifat sementara dan menyebabkan mutasi genetik yang bersifat permanen. Biasanya pengaruh kerusakan fisiologis akibat radiasi akan

menyebabkan memburuknya pertumbuhan kecambah yang bersifat sementara. Apabila pengaruh kerusakan fisiologi telah hilang, maka pengaruh dari mutasi genetik akan muncul. Hasil pengamatan yang dilakukan selama beberapa bulan ini menunjukkan pertumbuhan yang lebih buruk daripada kontrol, walaupun ada beberapa individu tanaman yang pertumbuhannya lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi sinar gama pada biji manggis akan menyebabkan: 1. Kemampuan biji manggis untuk berkecambah berkurang. Semakin tinggi dosis radiasi, baik secara kronis maupun akut, maka semakin kecil persen perkecambahan. Perkecambahan biji yang diradiasi dengan
60 137

Cs jauh lebih

rendah dari biji yang diiradiasi dengan 60Co. Biji yang diradiasi dengan sinar gamma dengan sumber Co masih ada yang berkecambah hingga dosis 50
137

gray, sedangkan biji yang diradiasi sinar gamma dengan sumber kehilangan kemampuan berkecambah pada dosis radiasi 40 gray.

Cs

2. Menghambat pertumbuhan semai, baik dari tinggi tanaman maupun diameter batang. Tinggi tanaman kontrol mencapai 10 cm, sedangkan biji yang
60

diradiasi dengan

Co menghasilkan tanaman dengan tinggi maksimal 8 cm

(akut) dan 6.2 cm (kronis), yaitu pada tanaman hasil radiasi dengan dosis 10 gray. Tetapi rata-rata tinggi tanaman yang terbesar diperoleh dari tanaman yang berasal dari biji yang diradiasi secara kronis dengan dosis 30 gray. Biji yang diradiasi dengan
137

Cs memiliki tinggi maksimal 9.2 cm yaitu tanaman

yang diradiasi dengan dosis 30 gray. 3. Memperkecil diameter batang semai manggis. Semakin tinggi dosis radiasi yang diberikan maka diameter rata-rata batang manggis akan semakin kecil. Hal ini tidak berbeda antara perlakuan radiasi dengan sumber
137 60

Co maupun

Cs.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

12

Executive Summary Manggis

4. Menurunkan jumlah daun. Rata-rata jumlah daun terbanyak ditemukan pada tanaman kontrol, yaitu 6.2 helai/tanaman dan diikuti oleh tanaman dari biji yang diradiasi dosis 10, 20 dan 30 gray masing-masing 5.3, 3.9 dan 3.4 helai daun/tanaman. Namun jumlah daun maksimal antara dosis radiasi tidak berbeda, yaitu 10 helai kecuali untuk radiasi 30 gray yang hanya memiliki daun maksimal 8 helai. 5. Mempengaruhi ukuran daun. Radiasi sinar gamma dengan sumber 137Cs pada dosis 20 gray dapat menghambat pertumbuhan rata-rata panjang daun, sedangkan dosis radiasi 10 gray justru merangsang atau meningkatkan pertumbuhan rata-rata panjang daun. Panjang daun maksimal adalah 8.7 cm yang diperoleh dari tanaman hasil radiasi dosis 10 gray. Ternyata

pertambahan panjang daun tidak diikuti oleh pertambahan lebar dan luas daun. Tanaman hasil radiasi memiliki rata-rata lebar dan luas daun lebih kecil dari tanaman kontrol. Namun secara individu, radiasi sinar gamma ada yang memberikan peningkatan pertumbuhan terhadap lebar dan luas daun. Pada penelitian ini, daun terlebar diperoleh pada tanaman yang diradiasi dengan dosis 10 gray (10 cm), sedangkan daun terluas diperoleh pada tanaman hasil radiasi 20 gray (24.2 cm2). 6. Mempengaruhi panjang akar. Pada 17 mst diketahui bahwa akar terpanjang, yaitu 5.9 cm, diperoleh dari tanaman yang berasal dari biji yang diradiasi dengan dosis 10 gray. Panjang akar ini lebih tinggi daripada akar tanaman kontrol yang hanya 2.6 cm. Tanaman yang berasal dari biji yang diradiasi dengan dosis 30 gray ada yang memiliki akar yang lebih panjang daripada tanaman kontrol, yaitu sepanjang 4.1 cm. Tanaman yang berasal dari biji yang diradiasi dengan dosis 20 gray memiliki pertumbuhan akar yang paling terhambat, dan lebih kecil dari tanaman kontrol. 7. Menurunkan jumlah akar. Rata-rata jumlah akar yang terbanyak diperoleh dari tanaman kontrol yang tidak diradiasi, yaitu 7.6 akar/tanaman. Radiasi sinar gamma dosis 10 dan 20 gray menghasilkan tanaman dengan rata-rata jumlah akar lebih sedikit, tetapi diperoleh tanaman yang memiliki akar lebih

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

13

Executive Summary Manggis

banyak dari kontrol. Pada kedua dosis radiasi tersebut, diperoleh tanaman dengan jumlah akar maksimum adalah 28 dan 24. 8. Mempengaruhi jumlah klorofil. Radiasi sinar gamma hingga dosis 20 gray dapat meningkatkan jumlah klorofil tanaman manggis, tetapi radiasi 30 gray justru menurunkan jumlah klorofil tanaman tersebut. Kandungan klorofil

rata-rata tertinggi diperoleh dari tanaman hasil radiasi dengan dosis 20 gray, yaitu 2.2 mg/gram berat daun, diikuti oleh tanaman hasil radiasi dosis 10 gray (2.19 mg/g), tanaman kontrol (2.08 mg/g), dan tanaman hasil radiasi 30 gray (2.04 mg/g). Kandungan klorofil tertinggi yang diperoleh pada tanaman hasil radiasi dosis 20 gray, yaitu 2.66 mg/gram daun.

2. Radiasi dengan Penanaman In vitro Dalam percobaan ini biji manggis di radiasi dengan sinar Gamma pada beberapa intensitas radiasi, kemudian biji-biji tersebut ditanam dalam media kultur jaringan. Hasil sementara percobaan menunjukan: 1. Tanaman yang diradiasi terhambat perekcambahannya. Munculnya tunas

yang berasal dari embrio asli pada eksplan kontrol jauh lebih cepat dibanding tanaman hasil radiasi, demikian juga dengan laju pertumbuhannya. Pada biji yang tidak diiradiasi, satu minggu setelah penanaman, mulai terlihat akan terbentuk tunas embrio asli. Tetapi, pada eksplan hasil radiasi sampai minggu ke-5 setelah radiasi belum terlihat adanya tanda-tanda pertumbuhan tunas. Minggu ke-6 setelah penanaman beberapa eksplan membengkak, membentuk tonjolan hijau, memperlihatkan akan terbentuk tunas dan beberapa membentuk kalus. 2. Pada eksplan hasil radiasi terjadi multiplikasi jumlah tunas pada tempat dimana seharusnya muncul tunas embrio asli. Beberapa eksplan kontrol juga ada yang memperlihatkan jumlah tunas lebih dari satu, namun pada eksplan hasil radiasi jumlahnya jauh lebih banyak. 3. Tunas hasil radiasi yang muncul lebih gemuk, (tunas embrio asli maupun adventif), pendek dan berwarna hijau tua kehitaman pada awal

kemunculannya, dan ruas-ruasnya lebih pendek. Penyinaran dengan dosis

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

14

Executive Summary Manggis

tinggi bersifat letal, sehingga eksplan tidak tumbuh dengan bagian pinggir eksplan terlihat gosong. 4. Beberapa eksplan tumbuh dengan kelainan fenotip. Kelainan yang terlihat pada umur 4 minggu adalah: (i) muncul tunas dari embrio asli dengan daun bergerigi, berwarna hijau tua, batang maupun helaian daun kisut, (ii) tunas yang tidak berdaun, ruas berwarna hijau muda ke kuningan, dan (iii) tunas berdaun kecil dan berlekuk ditengah. 5. Kelainan pada ekspan juga terjadi pada eksplan yang selama ini hanya berkalus berkembang menghasilkan tunas yang batangnya berkalus. Pada perlakuan 30 Gy, terdapat eksplan yang pada pertumbuhan awalnya terlihat seperti tidak mempunyai batang, langsung keluar sepasang daun yang berpelepah. Pada perkembangan selanjutnya, batang baru membentuk 1 ruas sangat pendek tanpa tunas apikal, tetapi muncul 2 tunas axilar yang pendek dan beruas rapat. Isolasi DNA sudah mulai dilakukan untuk bahan penelitian lanjutan (RAPD), namun isolasi baru dilakukan pada tanaman kontrol dan back-up untuk optimasi jumlah sample yang dibutuhkan, mengingat isolasi terhadap tanaman hasil radiasi nantinya harus per-individu tanaman (tidak dapat di bulk). Hasil elektroforesis dari DNA yang diisolasi, beberapa tidak menunjukkan adanya DNA. Hal ini diduga disebabkan oleh jumlah sample yang sangat sedikit (< 0,15 g). Saat ini sedang dicari metode untuk mengisolasi DNA yang lebih efektif dengan jumlah sample sedikit. Sampel DNA yang berhasil diisolasi, kemudian di PCR dengan menggunakan 3 primer dan berhasil teramplifikasi.

3.2.2. Program Kerja Pengembangan Teknologi Produksi 3.2.2.1. Memacu Pertumbuhan Manggis Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa perbanyakan manggis dengan cara penyambungan kaki ganda dapat memacu pertumbuhan bibit manggis. Pada tahun ini kegiatan tersebut dilanjutkan untuk menguji kemampuan batang bawah kedua (penyokong) dalam melakukan serapan hara.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

15

Executive Summary Manggis

Pada kegiatan ini dilakukan analisis serapan hara oleh batang bawah penyokong pada tanaman manggis kaki ganda. Studi ini dilakukan dengan

membandingkan pertumbuhan tanaman yang diberi larutan hara (hara lengkap/sumber N berbeda) pada kaki penyokong dengan tanaman yang tidak diberi larutan hara. Dari kegiatan ini akan diketahui efektivitas kaki penyokong untuk mendukung pertumbuhan manggis. Pengamatan dilakukan seminggu sekali terhadap jumlah daun, rata-rata luas daun, tinggi tanaman, diameter batang. Analisis klorofil dan unsur hara jaringan dilakukan pada awal dan akhir percobaan, sedangkan analisis hormon giberlin dan sitokinin hanya dilakukan pada akhir penelitian. Pengamatan terhadap parameter pertumbuhan tanaman hingga saat ini belum menunjukkan perbedaan dari perlakuan yang diberikan. Hal ini karena perlakuan yang diberikan baru sebentar, sehingga belum ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. 3.2.2.2. Studi Ekofisiologi untuk Memacu Pembungaan pada Manggis Dari hasil studi ini diharapkan akan diketahui kondisi fisiologi dan hormon tumbuh yang berperan dalam menginduksi pembungaan tanaman manggis. Studi ini akan dilanjutkan dengan perlakuan beberapa faktor fisik dan kimia untuk menginduksi pembungaan manggis, sehingga dapat berbunga dan berproduksi lebih awal. Kegiatan penelitian meliputi : studi fisiologi pertumbuhan tanaman manggis, studi fisiologi dan morfologi pembungaan manggis, studi fruit-set tanaman manggis dan perubahan kandungan hormon endogen yang menyertainya, dan studi pengaruh perlakuan fisik dan kimiawi untuk menginduksi pembungaan tanaman manggis. Studi Fisiologi Pertumbuhan Tanaman Manggis Asal Biji dan Sambungan Penelitian ini dilakukan untuk menggali imformasi mendasar mengenai perbedaan aktivitas fisiologi dan biokimia yang terjadi selama periode pertumbuhan bibit asal biji dan sambungan dengan mengukur berbagai variabel perubahan kandungan zat endogen (kandungan hormon, hara, karbohidrat, klorofil, dan lain-lain) dan kecepatan fotosintesis dihubungkan dengan kecepatan pertumbuhan tunas.
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

16

Executive Summary Manggis

Mengapa tanaman manggis asal sambungan lebih cepat berbunga sehingga masa TBM-nya lebih pendek sedangkan yang asal biji berbunga lebih lambat padahal pertumbuhannya lebih cepat sampai saat ini belum diketahui. Untuk dapat menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi, disamping berdasarkan kajian perbedaan aktivitas fisiologi dan biokimia yang terjadi selama periode pertumbuhannya, juga perlu dihubungkan dengan mempelajari bagaimana proses pembungaan pada tanaman manggis terjadi mulai dari saat tunas mengalami flush sampai bunga terbentuk dengan melakukan pengamatan terhadap fase-fase perkembangan organ bunga dikaitkan dengan perubahan kandungan zat-zat endogen yang menyertai terjadinya proses pembungaan. Dalam studi ini dibandingkan pertumbuhan perubahan aktivitas fisiologi tanaman manggis yang berasal dari semai dan sambungan, berumur 2, 4 dan 8 tahun. Bibit umur 2 tahun ditanam di polybag warna hitam diameter 40 cm dengan media kompos : pasir : pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v), kemudian ditempatkan di rumah plastik. Tanaman muda umur 4 dan 8 tahun (dilapang) diberi penaung buatan dari paranet dengan intensitas naungan 30%. Semua tanaman (umur 2, 4 dan 8 tahun) diperliahara secara intensif

meliputi pemupukan, pembersihan gulma, pemangkasan cabang parasit, dan lainlain. Penelitian sedang berlangsung, dan data yang diperoleh baru data

pertumbuhan vegetatif. Studi Fisiologi dan Morfologi Pembungaan Manggis Pada penelitian ini, dilakukan tiga sub kegiatan, yaitu Studi fase-fase perkembangan dan morfologi organ bunga; Studi perubahan kandungan beberapa zat endogen dalam proses pembungaan; dan Studi perbedaan morfologi dan kandungan zat endogen pucuk berbunga dan pucuk tidak berbunga. Pada penelitian ini, data yang diperoleh sedang dideskripsikan dan ditabulasi, yaitu data untuk perubahan karakter morfologi pada pucuk berbunga dan tidak berbunga, pada tanaman asal seedling maupun sambungan, baik visual maupun agronomis. Pengamatan mikroskopik baru dilakukan pada fase-fase

perkembangan organ bunga tanaman asal seedling yang telah sampai pada selesainya pembuatan preparat awetan. Sedangkan yang asal sambungan baru sampai pada tahap xylolisasi.
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

17

Executive Summary Manggis

Untuk analisis hormon, telah diperoleh contoh daun dan mata tunas yang untuk sementara disimpan pada lemari pendingin suhu 200C. Saat ini sedang dipersiapkan keperluan untuk preparasi giberelin dan sitokinin di Laboratorium Analitik FMIPA IPB dan analisis karbohidrat serta nitrogen di Laboratorium PSPT Fakultas Pertanian IPB. Kandungan klorofil daun telah diukur dengan Minolta Chlorophyll Meter. Studi Fruit-Set Tanaman Manggis dan Perubahan Kandungan Hormon Bunga dikatagorikan berhasil mengalami fruit-set apabila ovari tersebut telah berkembang menjadi buah dengan ukuran kira-kira sebesar kelereng (diameter 1 cm). Pengamatan telah dan sedang dilakukan secara intensif

terhadap saat mulai berbunga, panjang periode berbunga, perkembangan jumlah bunga dan jumlah buah. Pada penelitian ini masih dilakukan pengamatan secara intensif dan pengumpulan contoh untuk analisis kandungan zat endogen berupa contoh bunga dan buah yang gugur dibandingkan dengan contoh bunga dan buah yang tidak gugur pada umur yang sama. Contoh bunga dan buah yang diperoleh akan Untuk analisis kandungan

digunakan untuk analisis giberelin dan ABA.

karbohidrat, N, P, K telah diperoleh sampel berupa daun ruas terakhir (yang bunga dan buahnya gugur dibandingkan dengan daun yang bunga dan buahnya tidak gugur. Induksi Pembungaan Tanaman Manggis Induksi pembungaan manggis dilakukan dengan strangulasi (pencekikan pohon), atau penyiraman pemberian paklobutrazol diikuti dengan penyemprotan ethephon. Saat ini telah dilakukan aplikasi paklobutrazol, ethephon dan strangulasi dan sedang dilakukan pengamatan secara intensif terhadap parameter pertumbuhan tersebut. Beberapa variabel yang sudah selesai pengamatannya, datanya saat ini sedang ditabulasi. Hasil sementara menunjukkan bahwa tanaman yang distrangulasi dan diberi perlkuan paklobutrazol berbunga 2 bulan lebih awal daripada kontrol. Tanaman yang diperlakukan berbungan pada bulan Agustus, sedangkan kontrol berbungan pada bulan Oktober.
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Tanaman yang mendapat 18

Executive Summary Manggis

perlakuan strangulasi

panen buah dapat dilakukan pada minggu pertama

Desember 2002. Untuk analisis kandungan zat endogen juga telah diperoleh contoh dan sedang dipersiapkan preparasi dan analisisnya. 3.2.2.3. Studi Penyakit Getah Kuning dan Burik pada Buah Manggis Penyakit getah kuning merupakan salah satu kendala dalam produksi manggis. Hingga saat ini agensia penyebab penyakit getah kuning ini belum diketahui dengan pasti, tapi beberapa sumber menyebutkan bahwa penyakit ini disebabkan oleh perubahan cuaca yang drastis disekitar pertanaman, ada juga yang menyebutkan hal ini disebabkan oleh benturan pada buah yang masih muda. Informasi terakhir yang diperoleh dari UGM menyebutkan bahwa getah kuning disebabkan oleh agen patogen cendawan. Untuk itu perlu dilakukan beberapa kajian yang berkaitan dengan hal ini, yaitu kajian variasi geograpis/wilayah penyebaran penyakit getah kuning, variasi musiman, agensia penyebab dan deteksi cepat non-destruktif untuk mendeteksi penyakit getah kuning. Pada tahap awal, sedang dilakukan pengumpulan informasi dasar yang berkaitan dengan penyakit ini. Pengamatan deilakukan pada pohon manggis yang sedang berbunga yang terletak di dua kebun, yaitu kebun petani binaan di Leuwiliang dan Taman Buah Mekar Unggul Sari. Dari setiap kebun diambil 10 pohon sampel, dari setiap pohon seluruh jumlah bunganya dihitung untuk mengetahui fruit set. Dari seluruh

jumlah bunga diambil 10 buah per pohon dengan 10 ulangan di tiap kebun untuk diamati perkembangan buahnya. Untuk perlakuan pemberongsongan buah, pengamatan perkembangan buah, dan uji destruktif baru dilakukan penentuan tanaman contoh dengan memberi label. Saat ini bunga yang terbentuk belum cukup besar, sehingga ketiga perlakuan di atas belum dapat dilakukan. 3.2.2.4. Memperpanjang Daya Simpan Manggis Manggis yang disimpan akan mengalami penurunan kualitas seperti mengerasnya kulit sehingga buah manggis menjadi sukar dikupas, isi manggis menjadi lengket/menempel pada kulit dan rasanya berubah.
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

Upaya untuk 19

Executive Summary Manggis

memperpanjang daya simpan manggis bertujuan untuk menjaga kualitas manggis selama penyimpanan dan pengangkutan, terutama untuk tujuan ekspor. Beberapa informasi yang diperoleh untuk memperpanjang daya simpan manggis adalah dengan penyimpanan dingin. Manggis yang disimpan di cool room dengan suhu 5C dan RH 85% dapat bertahan selama 4 minggu. Penggunaan plastik stretch film dan penyimpanan pada suhu 5C dapat mempertahankan umur simpan manggis selama 6 minggu. Penyimpanan dapat juga dilakukan dengan sistem pembekuan tinggi (deep freezing method) dengan suhu -270C. Dengan metode ini umur manggis dapat mencapai 1 tahun, tetapi kurang ekonomis. Studi perlu dilanjutkan untuk memperoleh teknik memperpanjang daya simpan manggis yang efektif, efisien, praktis dan ekonomis. 3.2.3. Pengembangan Agro-technological Cluster Pembentukan Agro-Technologycal Cluster telah dimulai pada tahun-tahun sebelumnya pada petani Manggis di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Pada tahap awal sudah dibentuk kelompok tani manggis Karya Mekar di Kampung Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang beranggotakan 25 orang. Pada saat ini anggota kelompok sudah bertambah menjadi 35 orang. Pembinaan cluster ini bertujuan agar petani memperoleh pengetahuan mengenai inovasi teknologi budidaya manggis dan mempunyai modal untuk peningkatan produksi. Pendapatan petani diharapkan akan semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya buah yang layak ekspor. Dalam upaya meningkatklan peran-serta, efisiensi, produktivitas yang berkelanjutan di kawasan ini perlu disusun dan dilaksanakan suatu paket kebijaksanaan mengenai konsep kawasan industri masyarakat perkebunan tanaman manggis. Dengan melihat peluang yang ada, paradigma pembangunan kawasan hutan manggis atau perkebunan manggis telah bergeser terhadap pembangunan berdasarkan community based development. Paradigma

pembangunan ini berlandaskan pada asas ekologi, asas sosial, dan asas ekonomi, sehingga terbuka peluang bagi masyarakat setempat untuk lebih mengembangkan diri melalui pengembangan usaha tanaman manggis yang dimiliki.
-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

20

Executive Summary Manggis

Sebagai upaya untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pertanian konservasi pada tanaman manggis. Masyarakat juga dilibatkan dalam beberapa kegiatan penelitian agar masyarakat memiliki pandangan lebih luas dan merasa yakin dengan teknologi yang akan dihasilkan. Di lahan petani tesrebut juga dilakukan on-farm research dengan partisipasi petani. Masukan teknologi yang diberikan pada tanaman manggis pada saat ini berupa pemupukan baik itu pupuk organik maupun pupuk anorganik. Selain itu juga dilakukan demplot yang akan diberi perlakuan sanitasi tanaman berupa perawatan gawangan, pemangkasan, dan penjarangan pohon. Kegiatan lain yang dilakukan adalah perbaikan pola struktur pertanaman dengan sistem teras, diversikasi usaha selain tanaman manggis dan pembinaan sistem permodalan kelompok tani pedagang pengumpul. Rawat gawangan dilakukan secara rutin dengan frekuensi 4 kali dalam setahun. Kegiatan pemangkasan dilakukan sebelum pembungaan dan dilakukan kembali setelah panen saat ini ada kecendrungan tanaman manggis untuk berbunga meskipun hanya 5 %. Kegiatan penebangan atau penjarangan tanaman dilakukan dalam kegiatan sanitasi, namun tujuan dilakukannya penebangan adalah agar cahaya dapat masuk dan tajuk tanaman manggis tidak terlalu ternaungi oleh tanaman lain. Pemupukan masih terus dilakukan dengan pupuk organik sebagai tahapan semesteran. Tahun ini adalah semester ke-3 dalam kegiatan pemupukan terutama dengan menggunakan kotoran ternak domba. Pupuk kandang domba diperoleh dari domba yang diberikan oleh PKBT, seabagai divesifikasi usaha. Dombadomba tersebut anaknya akan diberikan kepada anggota lain secara bergulir. Perbaikan terasering masih dalam tahap pengerjaan dan masih terus dilakukan untuk pembinaan agar para petani sadar betul manfaat perbaikan teras karena pada dasarnya pengelolaan lahan petani dengan baik akan memperbaiki perakaran manggis yang ada dan mengurangi erosi.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

21

Executive Summary Manggis

BAB IV. PEMANFAATAN HASIL KEGIATAN


4.1. Rencana Penerapan Hasil Kegiatan Rusnas akan menghasilkan dua jenis produk, yaitu varietas dan teknologi (pembibitan, budidaya, pasca panen dan pengolahan hasil). Varietas dan teknologi pembibitan yang dihasilkan akan diberikan kepada perusahaan pembibitan untuk dijual ke petani maupun perkebunan. Teknologi budidaya akan diberikan kepada petani dan estate. Teknologi pasca panen dan pengolahan hasil akan diberikan kepada industri makanan dan industri hilir lainnya. Dari kegiatan ini diharapkan akan ada aliran dana dari perusahaan pembibitan, estate, dan industri lain yang terkait untuk pengembangan lebih lanjut varietas-varietas baru dan teknologi. 4. 2. Dampak Pemanfaatan Hasil Kegiatan Keberhasilan riset ini akan memberikan dampak positif pada beberapa aspek dalam mata rantai agribisnis manggis, yaitu : 1. Industri Benih/Pembibitan Manggis Varietas unggul manggis yang dihasilkan akan memiliki pertumbuhan yang lebih baik, berbuah lebih cepat, produktivitasnya tinggi, dan kualitas buahnya baik. 2. Perkebunan Manggis Varietas baru yang dihasilkan dari industri benih/pembibitan berpotensi untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil yang lebih baik secara luas. 3. Industri Pengolahan Manggis Perusahaan prosessing akan menampung produksi dari perusahaan produsen primer. Dengan adanya varietas baru maka produk yang dihasilkan oleh

produsen primer akan lebih baik sehingga berpotensi untuk memberikan hasil yang lebih banyak karena produktivitas tanaman lebih baik. 4. Industri Jasa dan Perdagangan Produk baru yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan harga yang lebih bersaing daripada produk sebelumnya. Perbaikan kualitas dan tingkat harga menyebabkan peluang pasar terbuka lebih luas.

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

22

Executive Summary Manggis

BAB V. MATRIKS KEMAJUAN DAN PERSONIL YANG TERLIBAT


5.1. Matriks Kemajuan Kegiatan Tabel 5.1. Matriks Pencapaian Program RUSNAS Manggis 2002 No
1. 2. 3. 4.

Kegiatan
Studi variabilitas dan stabilitas genetik manggis Studi keragaman buah manggis Studi keragaman bunga manggis dan beberapa kerabatnya Induksi mutasi untuk meningkatkan keragaman genetik manggis Memacu pertumbuhan manggis Akselerasi pembungaan

Pencapaian (%)
100 100 100 100

Keterangan
Manggis memiliki keragaman genetik Karakter buah ditentukan oleh faktor lingkungan Karakterisasi bunga manggis + 4 kerabatnya Beberapa tanaman hasil mutasi memiliki pertumbuhan lebih baik Analisis serapan hara Pengamatan dan tabulasi data, beberapa tanaman siap panen awal Des. Penentuan tanaman contoh dan pengamatan awal pertumbuhan bunga Pertanian organik dan konservatif di Lw.liang

5. 6.

80 100

7.

Studi penyakit burik dan getah kuning Pemantapan cluster

50

8.

100

5.2. Personil yang Terlibat Peneliti yang terlibat dalam kegiatan RUSNAS Manggis berasal dari beberapa instansi/lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang memiliki beberapa keahlian yang beragam, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5.2. Tabel 5.2. Peneliti yang terlibat dalam kegiatan RUSNAS Manggis 2002
Nama lengkap & gelar Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto Kusuma Darma, SP. MSi. Ir. M. Reza Tirtawinata, MS Ir. Ellina Mansyah, MS Ir. I Nyoman Rai, MS Ir. Warid Ali Qosim, MS Ir. Fauziah Harahap, MS Ir. Ismadi Lembaga PKBT PKBT TBM Balitbu Solok Universitas Udayana Univ. Pajajaran Univ. Medan Area Univ. Malikussaleh Keahlian Fisiologi Tanaman Hama dan Penyakit Fisiologi Agronomi Agronomi Pemuliaan Tanaman Pemuliaan Tanaman Agronomi

-----------------------------Laporan Akhir Riset Unggulan Strategis Nasional 2002 Pengembangan Buah-Buahan Unggulan Indonesia

23