Anda di halaman 1dari 4

Halaman 33-47

BAB IV
Gejala Bahasa

Gejala bahasa ialah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata-kata atau kalimat
dengan seagala macam proses pembentukannya. Tiap gejala bahasa yang biasa kita jumpai
dalam bahasa Indonesia akan diterangkan dalam bab ini.
Menurut analogi artinya menurut suatu contoh. Analogi dalam bahasa artinya suatu
bentukan bahasa yang meniru contoh yang sudah ada. Gejala analogi memegang peranan
penting dalam pengembangan dan pembinaan suatu bahasa terutama bahasa yang sedang
tumbuh dan berkembang seperti bahasa Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia, sudah lama kita kenal kata dewa-dewi, putra-putri. Kata ini
berasal dari bahasa Sansekerta. Fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata itu mempunyai fungsi
menyatakan jenis kelamin benda yang disebutkan itu. Berdasarkan bentukan itu, dibuatlah
dalam bahasa Indonesia bentukan baru: saudari di samping saudara ; siswi disamping siswa
; mahasiswi disamping mahasiswa ; pemudi disamping pemuda dan lain sebagainya.
Karena unsur a dan i itu bukan bahasa asli kita, maka analogi dengan unsur bahasa
itu haruslah dibatasi, sekedar yang memang perlu dan tentu saja bentukan kata yang baru
jangan sampai bertumbuk artinya dengan kata yang sudah ada.
Analogi dari Bahasa Asli Indonesia, dalam bahasa Indonesia terdapar kata-kata:
dikemukakan, diketengahkan, atau mengetengahkan. Beranalogi kepada kata-kata itu
dibentuk oranglah kata-kata baru: dikesampingkan, dikebumikan, dikedepankan, tidak
tergolong ke dalam bentuk dike-kan ini bentuk-bentuk yang dikenal atau biasa dipakai di
Jawa Barat karena pengaruh bahasa Sunda seperti; dikekantorkan, dikebapakkan, yang
maksudnya ‘dibawa ke kantor’, ‘diberikan kepada bapak’.
Pada masa orde lama lahir kata pemersatu artinya ‘yang mempersatukan’. Dari
analogi kata itu, timbul kata pemerlain artinya ‘yang memperlain’, atau ‘yang membedakan’;
jadi pemerlain sama dengan pembeda. Kata pemerhati artinya ‘yang memperhatikan’ dicatat
sebagai kata mati dalam Kamus Umum Poerwadarminta; sekarang dihidupkan lagi.
Bentukan Analogi Hasil Swadaya Bahasa, dari bahasa yang tersedia, orang mencoba
membentuk dan melahirkan sesuatu yang baru. Begitu juga misalnya dari bahasa Belanda
“onrechtvaardigheid”, dibuat orang istilah ketidakadilan ; ‘onrechtvaardig’ artinya tidak adil;
“heid” morfem dalam bahasa Belanda pembentukan kata benda, disejajarkan dengan
imbuhan ke –an dalam bahasa Indonesia. Pembentukan kata seperti ini sungguh sangat
berhasil karena dengan bentuk yang singkat ekonomis. Bentukan seperti itu baiknya
bertambah, karena memang imbuhan ke –an dalam ahasa Indonesia sangat produktif.
Analogi yang Salah, dalam pertumbuhan bahasa, sering kita lihat timbulnya analogi
yang salah. Kata-kata: teladan, anggota, sentosa dijadikan orang tauladan, anggauta,
sentausa. Jadi, kata yang bervokal satu dijadikan kata yang bervokal dua. Gejala seperti itu
disebut diftongisasi.
Dari bahasa Arab kita memungut kata-kata seperti: taubat, taufan, taurat. Dalab
bahasa Indonesia, kata-kata itu menjadi tobat, topan, torat. Mungkin pemakaian bahasa kita
menyangka bahwa bentuk-bentuk teladan, anggota, dan sentosa, berasal dari kata-kata
dengan vokal au seperti kata-kata Arab itu, lalu bentuk itu dikembalikan kepada bentuk
dengan au: tauladan, anggauta, sentausa. Dengan demikian terjadilah analogi yang salah
yang disebut hiperkorek.
Gejala kontaminasi, kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang dalam bahasa
Indonesia diistilahkan dengan kerancuan. Rancu artinya ‘kacau’, jadi kerancuan artinya
‘kekacauan’. Yang dirancukan ialah susunan, perserangkaian, penggabungan. Dua yang
masing-masing berdiri sendiri disatukan dalam satu perserangkaian baru yang tidak
berpasangan atau berpadanan. Hasilnya ialah kerancuan. Gejala kontaminasi dapat
dibedakan menjadi tiga: kontaminasi kalimat, kontaminasi susunan kata, kontaminasi
bentukan kata.
Pada umumnya kalimat yang rancu dapat kita kembalikan kepada dua kalimat asal
yang betul strukturnya. Demikian juga dengan susunan kata dalam suatu frase yang rancu.
Gejala ini muncul karena orang kurang menguasai penggunaan bahasa yang tepat, baik
dalam menyusun kalimat atau frase maupun dalam mempergunakan beberapa imbuhan
sekaligus untuk membentuk kata.
Kontaminasi terjadi tak dengan sengaja karena ketika seseorang akan menuliskan
atau mengucapkan sesuatu, dua pengertian atau dua bentukan yang sejajar timbul sekaligus
dalam pikirannya sehingga yang dilahirkannya itu sebagian diambil dari yang pertama, tetapi
bagian yang lain diambil dari bagian yang kedua. Gabungan ini melahirkan susunan yang
kacau.
Kontaminasi kata, sebagai contoh yang paling sering dijumpai adalah kata berulang
kali, sering kali. Katakata ini terjadi dari kata-kata: berulang-ulang, berkali-kali. Sering kali
kontaminasi dari seiring dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali. Selain dari
kontaminasi, di sini tampak pula gejala “pleonasme” karena sering artinya banyak kali; jadi,
sering kali berarti banyak kali atau kerap kali kali.
Kontaminasi bentuk kata, adakalanya kita lihta bentukan kata dengan beberapa
imbuhan (afiks) sekaligus yang memperlihatkan gejala kontaminasi. Contohnya kata
dipelajarkan: Di sekolah kami dipelajarkan beberapa kepandaian wanita. Mengapa
dipelajarkan? Jelas di sini dirancukan bentuk diajarkan dengan dipelajari. Bentukan yang
tepat untuk kalimat diajarkan.
Bentukan kontaminasi seperti ini dapat kita hindari, hanya apabla diketahui benar
bagaimana bentuk yang semestinya dan tahu benar mengapa bentuk-bentuk yang semacam
itu salah.
Gejala pleonasme, kata ini berasal dari bahasa Latin “pleonasmus” dalam bahasa
Yunani “pleonazein” artinya ‘kata-kata berlebih-lebihan’. Karena itu, gejala pleonasme dalam
bahasa berarti pemakaian kata yang berlebih-lebihan, yang sebenarnya tak perlu. Suatu
ucapan disebut “pleonastis” apabila ucapan itu mengandung sifat berlebih-lebihan.
Gejala pleonasme timbul karena pembicara tak sadar bahwa apa yang diucapkannya
itu mengandung sifat berlebih-lebihan. Jadi, dibuatnya dengan tidak sengaja. Ada juga yang
dibuat bukan karena tak sengaja, melainkan karena tak tahu bahwa kata-kata yang
digunakannya mengungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan. Ada lagi yang dibuat
dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada
arti (intensitas).
Terdapat beberapa gejala pleonasme. Di dalam satu frase terdapat dua atau lebih
kata yang searti. Kata kedua sebenarnya tidak perlu lagi karena pengertian yang terkandung
pada kata itu, sudah terkandung pada kata yang mendahuluinya. Bentuk jamak dinyatakan
dua kali.
Gejala hiperkorek, atau dengan istilah lain “over elegant” banyak kita jumpai dalam
bahaa Indonesia H.D. van Pernis menyebut gejala ini sebagai proses bentukan betul dibalik
betul. Maksudnya, yang sudah betul dibetul-betulkan lagi akhirnya menjadi salah. Gejala
hiperkorek selalu menunjukkan sesuatu yang salah, baik ucapan, maupun ejaan.
Dalam bahasa arab terdapat empat buah bunyi desis, yaitu fonem-fonem yang
dituliskan dengan huruf sin, syin, tsa, dan shad. Dalam bahasa Indonesia hanya syin yang
dialihhurufkan dengan (sy), tiga yang lain dengan (s).
Selain itu, dalam bahasa Arab terdapat juga lafal /h/ yang berdesah dan /h/ yang
bersuara. Namun dalah bahasa Indonesia, fonem itu ditulis dengan h saja, jadi tidak
dibedakan baik tulisan maupun pengucapan. Selain itu ada pula fonem /kh/ yang dasar
ucapannya langit-langit lembut seperti yang terdapat pada kata khalik dan lain sebagainya.
Namun fonem tersebut dalam bahasa Indonesia pada awal suku kata bisa dijadkan /k/.
Dalam bahasa Arab, tak terdapat fonem /p/, yang ada hanyalah /f/. Sebaliknya dalam
bahasa Melayu tak terdapat fonem /f/. Itu sebabnya pada umumnya kata-kata yang berasal
dari bahasa Arab dengan f dijadikan p seperti: fakir-pikir, faham-paham, hafal-(h)apal, fasal-
pasal, disesuaikan dengan fonem atau ucapan kita.
Fonem /z/ dari bahasa Arab, yang merupakan fonem asing dalam bahasa
Melayu/Indonesia sering dijadikan /j/, seperti zaman-jaman, izin-ijin, ziarah-jiarah, zamrud-
jamrud. Fonem /z/ yang berasal dari bahasa Belanda dijadika /s/ dalam bahasa Indonesia,
seperti: zak-saku; zaal-sal, zadel-sadel,zonder-sonder, zuster-suster.
Gejala Hiperkorek dengan /au/ Pengganti /o, e/, anggota dijadikan anggauta, teladan
dijadikan tauladan, sentosa dijadikan sentausa. Penulisan seperti itu timbul karena suatu
analogi yang salah. Orang tentu mengira bahwa bentuk aslinya adalah anggauta, sentausa,
tauladan.
Ada pula gejala monoftongisasi (dua vokal dijadikan satu vocal di dalam satu kata).
Misalnya, syaitan, hairan, haiwan (dari bahasa Arab) menjadi setan, heran, hewan. Kata
taubat dan taurat menjadi tobat dan torat.
Timbulnya gejala hiperkorek memiliki beberapa alasan, orang tidak tahu mana bentuk
yang asli, yang betul, lalu meniru saja yang diucapkan/dituliskan oleh orang lain. Mungkin
juga karena ingin gagah, ingin hebat, sehingga disamping apa yang sudah dibicarakan di
atas, kita lihat juga orang menuliskan kata-kata seperti hadir, rela, fasal, batin, menjadi hadir,
redla, fatsal, hatsil, bathin.
Dari segi linguistik /f, kh, sy, z/ bukan fonem-fonem Indonesia asli. Itu sebabnya
variasi antara f-p, kh-k, k-h, sy-s, z-j, tidak menimbulkan perbedaan arti. Karena sifatnya
yang tidak fonemis itulah, maka variasi bentuk kembar seperti contoh di atas dimungkinkan
dalam bahasa Indonesia.
Gejala penambahan dapat dibedakan menjadi 3 macam: penambahan fonem di
depan kata disebut protesis, penambahan di tengah kata di tengah kata disebut epntesis,
dan penambahan di akhir kata disebut paragog.