Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS INSTRUMENTAL PERCOBAAN 4 ANALISIS KUALITATIF BAHAN KIMIA OBAT FUROSEMID DAN HIDROKLOROTIAZIDA

DALAM OBAT TRADISIONAL DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

Disusun Oleh : Rahmawati Fitria I Aria Septiana Alifa Rahmawati M Alvian Saputra Joula Aulia Syaeful Bahri (G1F010013) (G1F010014) (G1F010015) (G1F010016) (G1F010017) (G1F010018)

LABORATORIUM KIMIA-FARMASI JURUSAN FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

ANALISIS KUALITATIF BAHAN KIMIA OBAT FUROSEMID DAN HIDROKLOROTIAZIDA DALAM OBAT TRADISIONAL DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

I.

TUJUAN

Memahami dan mampu membuat bercak / menotolkan sampel, mengelusi, dan mengidentifikasi bahan kimia obat dalam suatu sampel dengan Kromatografi Lapis Tipis.

II.

ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:


1. Pipa kapiler 2. Beker glass 100 mL

3. Chamber dan penutupnya 4. Batang penganduk


5. Pipet volume 5 mL

6. Pipet tetes 7. Penggaris 8. Pensil


9. Mortir dan Stamper

10. Spektrofotometer UV Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:


1. Silica GF254 2. Larutan Furosemid

3. Larutan Hidroklorotiazid 4. Larutan Jamu+BKO 5. Metanol

6. Etil asetat
7. Larutan FeCl3 III. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Penotolan sampel
Silica Gel Diaktifkan (dioven pada 110oC selama 30 menit) Dibuat garis start setinggi 1cm dari tepi bawah Dibuat garis front setinggi 1cm dari tepi atas Ditotolkan bercak pada garis start dengan jarak 1,5 cm Tiap bercak (Hidroklorotiazid, Jamu Murni, BKO dan Furosemid) ditotolkan 3 kali dengan tiap penotolan dikeringkan terlebih dahulu Hasil

2. Elusi sampel Lempeng Silica Gel Dimasukan kedalam ruang elusi (chamber) yang berisi eluen (methanol:etil asetat, 2:3) Dijenuhkan dengan uap eluen dengan arah elusi naik, tinggi permukaan eluen tidak boleh melebihi garis start

Hasil

Chamber ditutup, dibiarkan eluen naik sampai garis front Kertas diangkat dan dikeringkan

3. Deteksi /penampakan bercak

Lempeng Silica Gel yang sudah dielusi Hasil Diamati pada Sinar UV 254 dan 366 nm Diberi tanda noda yang tampak Disemprot dengan larutan FeCl3 Diamati noda yang timbul Dikeringkan Diukur jarak masing-masing bercak Dihitung harga Rf dan evaluasi hasil data

IV.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Hasil KLT pada mata telanjang

KLT pada Sinar UV 254 dan 366 nm

Perbandingan metanol : etil asetat = 2:3 Metanol = 2 5 Etil asetat = 3 x 10 = 6 mL x 10 = 4 mL

5 Jarak tepi bawah-garis start Jarak garis start-garis front Jarak interval Jarak yang diperoleh jamu+BKO Jarak yang diperoleh furosemid = 1 cm = 8 cm = 1,5 cm = 5,5 cm = 5,5 cm

Jarak yang diperoleh hidroklorotiazid = 6,5 cm

Rf
Rf Jamu+BKO = 5,5 = 0,6875 8 Rf Furosemid = 5,5 = 0,6875 8 Rf Hidrochlorothiazid = 6,5 = 0,8125 8

V. A. Monografi

PEMBAHASAN

- Furosemid

Nama Resmi Berat Molekul Pemerian Kelarutan

: FUROSEMIDUM : 330,74 : Serbuk hablur, putih sampai hampir kuning, tidak berbau : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton, dalam dimetilformamida dan dalam larutan alkali hidroksida; larut dalam methanol; agak sukar larut dalam etanol; sukar larut dalam eter; sangat sukar larut dalam kloroform ( Anonim, 1995 ).

Rumus Molekul: C12H11ClN2O5S

- Hidroklorotiazida

Nama Resmi Berat Molekul Pemerian Kelarutan

: HYDROCHLOROTHIAZIDUM : 297,73 : Serbuk hablur, putih atau praktis putih;praktis tidak

Rumus Molekul: C7H8ClN3O4S2 berbau. : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam larutan natrium hidroksida, dalam n-butilamina, dan dalam dimetilformamida; agak sukar larut dalam methanol; tidak larut dalam eter, dalam kloroform dan dalam asam mineral encer ( Anonim, 1995 ). - Metanol Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.

Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbon dioksida dan air. Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tak terlihat ( Patnaik, 2002 ). - Etil Asetat Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut ( Patnaik, 2002 ). Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan hidrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa atau asam ( Patnaik, 2002 ).

B.

Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi yang digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya dalam praktikum ini yaitu Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan bentuk kromatografi planar. Pada KLT fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat plastik. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada

pengembang secara menurun (descending). Kromatografi Lapis Tipis ini berkerja berdasarkan prinsip yaitu, distribusi komponennya didasarkan atas kelarutan komponen dalam fase diam dan fase gerak (Gandjar,2011). Prinsip KLT adalah pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif karena adanya perbedaan daya serap terhadap adsorben dan kelarutan komponen kimia terhadap cairan pengelusi. Berdasarkan jenis kepolaran, Thin Layer Chromatography (TLC) system, atau disebut sebagai kromatografi lapis tipis dibedakan menjadi dua, yaitu normal phase (NP) dan reversed phase (RP). pada NP sistem, dimana digunakan bahan bersifat polar sebagai fase diamnya, maka untuk fase geraknya digunakan solvent yang memiliki kepolaran yang rendah. Pada umumnya digunakan campuran antara kloroform dan metanol dengan berbagai perbandingan dimana komponen kloroform diberikan porsi yang lebih besar sebagai contoh ( CHCl3:MeOH = 65:35,70:30,75:25 ). Sedangkan pada RP sistem solvent yang digunakan memiliki sifat kepolaran yang tinggi, dalam hal ini campuran antara metanol dan air merupakan perpaduan yang sering digunakan dengan berbagai perbandingan misalnya MeOH:air = 30:40, 50:50, atau 30:20. Angka perbandingan ini disesuaikan dengan karakteristik senyawa yang sedang diuji ( Nugroho, 2011 ). Fase diam yang digunakan dalam praktikum ini adalah silica gel. Silica gel adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan gel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan SiO-H selain Si-O-Si. Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Permukaan gel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah aluminium-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Pertama yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, yaitu siapkan Silica GF254. Buat titik start dengan jarak 1 cm dari bawah kertas dan garis front dengan jarak 1 cm dari atas. Kemudian siapkan eluen yang terdiri dari campuran metanol:etil asetat (2:3) lalu masukkan eluen ke chamber dan ditutup. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut. Tunggu sampai larutan jenuh, cara mengujinya dengan cara memasukkan kertas saring lalu ditunggu hingga larutan sampai ujung bibir chamber. Kemudian masukkan Silica Gel yang telah ditotolkan larutan yang akan diuji (ditotolkan sebanyak 3 kali, setiap kali penotolan tunggu dahulu sampai kering baru ditotolkan kembali) pada garis start. Sampel yang akan diuji terlebih dahulu dilarutkan dengan metanol. Tujuan pelarutan dengan metanol yaitu agar totolan sampel cepat kering, karena metanol bersifat volatile dibandingkan air. Pemisahan pada KLT yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin, karena jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyeabkan bercak yang menyebar dan puncak ganda (Gandjar,2011). Setelah dilakukan penotolan dan eluen telah jenuh, maka tahap selanjutnya adalah mengembangkan sampel tersebut pada chamber dan ditutup rapat. Fase gerak dibiarkan naik sampai garis front, pengembangan pada praktikum ini dilakukan secara ascending. Jika fase gerak telah mencapai garis front, maka silica gel diambil dan dikeringkan. Setelah itu bercak yang timbul dideteksi pada sinar UV 254 dan 366 nm. Bercak furosemid ungu, bercak Hidroklorotiazid tidak terlihat bercak berwarna oleh

kasat mata, hal ini dikarenakan karena senyawa Hidroklorotiazid tersebut tidak berwarna. bercak jamu terlihat berwarna kuning. Bercak-bercak yang nampak tersebut diukur jaraknya untuk kemudian dihitung harga Rf. Setelah diamati pada sinar UV, silica gel disemprot dengan pereaksi warna dragendorf dan dikeringkan kemudian diamati lagi bercak yang timbul. Lempeng KLT dilihat di bawah UV 245 untuk melihat bercak yang tidak terlihat secara visible. Penggunaan UV 254 dikarenakan lempeng silica gel yang digunakan hanya dapat berflouresensi maksimal pada panjang gelombang 254, maka semua bercak terlihat ketika dilihat pada UV 254. Lempeng KLT disemprot dengan pereaksi Dregendorf agar becak yang dihasilkan terlihat berwarna. Beri tanda pada bercak/noda yang tampak, lalu ukur jarak masing-masing bercak yang tampak. Hasil analisis berdasarkan jarak bercak yang diperoleh dari jamu campuran tersebut didapatkan hasil bahwa di dalam jamu+BKO mengandung furosemid dan jamu murni, karena didapatkannya niali Rf yang hampir sama antara Rf furosemid dan Rf jamu+BKO yang sama-sama bernilai 0,6875. Hal ini berdasarkan parameter pada KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada kondisi KLT yang sama. Jarak masing-masing bercak komponen sampel diukur dari garis start sampai titik tengah bercak, kemudian dihitung harga Rf masing-masing sampel dengan menggunakan rumus. Nilai Rf yang diperoleh dari ketiga bercak adalah untuk furosemid 0,6875, jamu+BKO 0,6875, HTC 0,8125. Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan dengan kroatografi kolom. Demikian juga peralatan yang digunkan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan yang digunakan lebih sederhana dan dapat dikatakan bahwa hamper semua laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat.

Beberapa keuntungan lain KLT adalah :

Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet.

Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.

Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak (Gandjar,2011). KLT digunakan secara luas untuk analisis solut-solut organik terutama

dalam bidang biokimia, farmasi, klinis, forensik, baik untuk analisis kualitatif dengan cara membandingkan nilai Rf solut dengan nilai Rf senyawa baku atau untuk analisis kualitatif. Penggunaan umum KLT adalah untuk: menentukan banyaknya komponen dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi, menentukan efektifitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi kolom, serta untuk memantau kromatografi kolom, melakukan screening sampel untuk obat ( Gandjar,2011 ). VI. KESIMPULAN

1. Analisis kualitatif bahan kimia obat furosemid dan hidroklorotiazida dalam obat tradisional dapat dilakukan dengan menggunakan KLT menggunakan eluen metanol : etil asetat ( 2:3). 2. Nilai Rf yang diperoleh dari keempat bercak adalah untuk furosemid 0,6875, jamu BKO 0,6875, hidroklorotiazida 0,8125. 3. Hasil yang didapat dari analisis tersebut bahwa di dalam jamu + BKO mengandung furosemid dan jamu murni.

VII.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Gandjar, I.G dan Abdul Rohman. 2011. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Nugroho, Agung. 2011. Thin Layer Chromatography Kromatografi Lapis Tipis http://agn19.wordpress.com/2011/04/07/thin-layer-chromatographykromatografi-lapis-tipis/ Patnaik, Pradyot. 2002. Handbook of Inorganic Chemicals. McGraw-Hill.