Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

HEMATOLOGI DAN SISTEM PEREDARAN DARAH

Nama : Elya Agustina NIM : 1210702021 Tanggal Praktikum : Selasa, 27 Maret 2012 Tanggal Pengumpulan : Selasa, 3 April 2012

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

HEMATOLOGI DAN SISTEM PEREDARAN DARAH

I. PENDAHULUAN 1. Tujuan Mengklasifikasi jenis-jenis darah Menetukan nilai dari parameter hematologi dari darah sampel

2. Dasar Teori Darah merupakan suatu jaringan yang terdiri atas plasma darah dan selseldarah yang berwarna merah. Warna merah tersebut tidak selalu tetap, tetapi selalu berubah-ubah karena pengaruh zat kandungannya, terutama kadar oksigen dan CO2. Bila kadar oksigen tinggi, maka warna darahnya menjadi merah tua. Pada manusia atau mamalia, volume darahnya adalah 8% berat badannya.(Prawirohartono, 2000). Setiap saat sel dalam tubuh kita memerlukan nutrient dan O2 untuk melakukan metabolisme, sedangkan sampah hasil metabolisme (CO2, asam urat, dan sebagainnya) perlu dikeluarkan dari sel. Sel-sel tubuh juga memerlukan hormon untuk mempelancar aktifitas-aktifitasnya. Tetapi selsel tubuh kita biasanya terletak jauh dari organ pencernaan makanan, organ pernafasan, organ eksresi dan dari kelenjar hormon, maka mutlak diperlukan suatu medium yang dapat mendistribusikan nutrient, O2 dan hormon keseluruh sel-sel tubuh dan dapat mengangkut sampah menuju organ eksresi. Medium ini adalah darah dan cairan lympha (Kurniadi, 1995). Hematologi adalah ilmu tentang darah dan jaringan pembentuk darah yang salah satu system organ terbesar di dalam tubuh. Darah membentuk 6 sampai 8% dari berat tubuh total dan terdiri dari sel-sel darah yang tersuspensi di dalam suatu cairan yang disebut plasma. Tiga sel darah utama adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit). Dan trombosit. Cairan plasma membentuk 45 sampai 60% dari volume darah total; sel darah merah (SDM) menempati sebagian besar volume sisanya. Sel darah putih dan trombosit, walaupun secara fungsiom\nal

penting, menempati bagian yang relative kecil dari massa darah total. Proposi sel dan plasma diatur dan dijaga dengan relative konstan (Sacher, 2004). Pemeriksaan hematologi bertujuan untuk menunjang diagnosis yang berkaitan dengan terapi, prognosis dan mengetahui ada tidaknya kelainan korpuskuli (elemen-elemen darah) baik mengenai morfologi maupun mengenai jumlah pada berbagai keadaan patologis atau penyakit yang dapat menyebabkan kelainan kelainan atau untuk mengetahui penyakit penyakit primer mengenai korpuskuli itu sendiri. Pemeriksaan hematologi terdiri dari pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah khusus, faal hemostasis, dan pemeriksaan daya tahan osmotik. Pemeriksaan darah rutin meliputi pemeriksaan laju endap darah, hemoglobin, hitung jumlah lekosit, hitung jenis lekosit, dan hitung jumlah eritrosit. (Depkes RI, 1989).

II. METODE 1. Alat dan Bahan Alat Hemasitometer Lancet Counter Mikroskop Pipet Beaker glass Alat Tulis Darah segar Larutan turk Alcohol Kapas Kertas saring Bahan

2. Prosedur Kerja

Ujung jari diolesi dengan menggunaan alkohol 70%

Jari tangan ditusuk hingga darah mengalir dengan menggunakan lanset steril

Darah yang keluar dihisap dengan menggunakan pipet pengecer hingga skala 0,5 atau 1,0.

Ujung pipet dibersihkan dengan kertas saring segera dihisap larutan turk (perhitungan SDP) hingga skala 11, sedangkan larutan Hayem (perhitungan SDM) hingga skala 101 Pipet dipegang pada kedua ujung dengan ibu jari dan telunjuk, dan di kocok dengan hati-hati selama 2 menit 5 tetes pertama larutan tadi dibuang dengan menggunakan tisu

Ujung pipet diletakan diantara gelas objek dan cover glass

diamkan selama 2 menit

III. HASIL DAN ANALISA DATA 1. Hasil Tabel 1. Data pengmatan hasil perhitungan sel darah putih di ruang W Ruang W1 W2 W3 W4 Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Total 2 4 2 1 3 1 3 3 2 5 3 4 2 1 0 2 1 2 2 5 5 3 4 5 4 2 3 0 5 3 5 6 2 1 2 3 3 4 3 2 3 3 7 5 2 3 6 3 3 2 3 3 3 2 3 1 1 1 2 0 1 4 3 4 39 37 58 47 181

Perhitungan :

Keterngan : : jumlah SDP dalam 4 kotak W : besarnya pengenceran Data W1 W2 W3 W4 : 39 37 58 47

Jumlah total

Perhitungan SDP kelompok 6

/mikroliter Data kelas : Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Kelopmok 5 : : : : : /mikoroliter (SDP perempuan) /cm3 (SDM perempuan) /cm3 (SDM perempuan) /cm3 (SDM laki-laki) /mikoro liter (SDP perempuan)

Gambar Counting Chamber

IV. PEMBAHASAN Pada praktikum ini sel darah yang digunakan adalah sel darah manusia, dengan berbeda jenis kelamin. Pengamatan meliputi banyaknya jumlah sel darah merah (SDM) atau eritrosit dan sel darah putih (SDP) atau leukosit. dalam perhitungan. Menghitung jumlah eritrosit dan jumlah leukosit menggunakan hemositometer. Sebelum melakukan pengaman, darah diambil dari praktikan dengan menggunakan jarum suntik yang telah diolesi terlebih dahulu tangannya dengan alcohol. Pengambilan darah harus benar-benar dalam keadaan streril untuk menghindari terjadinya infeksi yang diakibatkan oleh bakteri dan pathogen lainnya. Selanjutnya darah disedot dan

diencerkan. Pengenceran eritrosit digunakan larutan hayem sedangkan pengenceran leukosit digunakan larutan turk. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler. Leukosit dapat di hitung jumlahnya dengan cara di encerkan dengan reagen Turk yang terdiri dari gentian violet, asam asetat glacial , dan aquadest. Larutan gentian violet b e r f u n g s i u n t u k m e m b e r w a r n a p a d a i n t i d a r i g r a n u l a leukosit. Larutan Turk ini memecah eritrosit dan trombosit t a p i t i d a k m e m e c a h l e u k o s i t . Sedangkan Eritrosit dapat di hitung jumlahnya dengan cara diencerkan dengan reagen Hayem yangterdiri dari NaSulfat, NaCl, HgCl dan aquadest. Reagen hayem ini dapat memecah leukosit dan trombosit tetapi tidak memecah eritrosit. Menurut data NIH (National Institutes of Health) (2008), jumlah sel merah menandakan jumlah dari sel-sel darah merah dalam volume darah. Batasan normal pada laki-laki adalah kira-kira 4.7 sampai 6.1 juta sel-sel/mikroL (microliter). Batasan normal pada wanita-wanita berkisar dari 4.2 sampai 5.4 juta sel-sel/mikroL, Berdasarkan hasil pengamatan pada sel darah merah wanita (kelompok 2) sebanyak /cm3, jumlah sel darah merah pada waita tersebut masih dapat /cm3. Jumlah tersebut melampaui keadaan normal seldarah

dikatakan normal. sedangkan sel darah wanita lain (kelompok 3) memiliki SDM sebanyak

merah seorang wanita dewasa. Kelebihan sel darah merah tersebut diduga

mengalami kelainan sel darah merah. Akan tetapi jika diruntut dari profil praktikan tersebut tidak mempunyai kelainan penyakit kelainan darah. Hal tersebut bisa saja terjadi karena factor kesalahan dalam perhitungan sel darah merah; ketika pengamatan pengenceran menggunakan reagen hayem dibiarkan terlalu lama (tidak langsung diamati). Sehingga darah mengalami penggumpalan. Adapun sel darah merah pada laki-laki (kelompok 4) sebanyak /cm3, jika dilihat berdasarkan literatur sel darah merah pada laki-laki seharusnya kira-kira 4.7 sampai 6.1 juta sel-sel/m3. Penyebab kelebihan sel darah putih tersebut sama halnya terjadi pada pengamatan sel darah merah wanita, akan tetapi kelebihannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan pengamatan sel darah putih menggunakan darah dari praktikan wanita. Berdasarkan hasil jumlah dari masingmasing sel darah putih praktikan termasuk normal, masing-masing sel darah putih yang diperoleh yaitu /mikoroliter dan /mikoro liter.

Menurut Effendi (2003), leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dari 5000 disebut leukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler: linfosit sel kecil, sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenis leukosir granuler: Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam. Granula dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya).

Leukopenia Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah sel darah putih lebih rendah dari normal. Jumlah leukosit yang lebih rendah dari 5000/mm3 atau jumlah granulosit lebih rendah dari 2000/mm3 merupakan keadaan abnormal dan

merupakan tanda kelainan sumsum tulang. Kondisi klinis yang dikenal dengan leukopenia terjadi bila sunsun tulang memproduksi sangat sedikit sel darah putih, sehingga tubuh tidak terlindung terhadap banyak bakteri dan agen lain yang mungkin masuk menginvasi jaringan. (Guyton,2008). Adapun penyebab terjadinya leucopenia menurut Guyton (2008) adalah sebagai berikut: a. Penyebab tersering adalah keracunan obat; fenotiazin merupakan yang tersering; begitu juga dengan Clozapine, suatu neuroleptikal atipikal. b. Infeksi virus, campak, demam thypoid toksin, rickettsia dari tifus, faktor fisik (radiasi pengion), obat-obatan (sulfanilamides, barbiturat,

cytostaties), bensol, kekurangan vitamin B12, asam folat, anafilaksis shock, hypersplenism, juga karena kelainan genetik. c. Meningkatnya kadar stres, syndrom Cushing, kortikosteroid, penyakit d. Faktor keturunan dan immunodeficiency, stres, radiasi penyakit, tuberculosis. e. Batang myeloid tertekan ditembak dari sumsum tulang hemopoiesis (misalnya, dalam penyakit radiasi.) Leucopenia terjadi karena berawal dari berbagai macam penyebab. Radiasi sinar X dan sinar (gamma) yang berlebihan serta penggunaan obat-obatan yang berlebihan, akan menyebabkan kerusakan sumsum tulang. Dengan rusaknya sumsum tulang, maka kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit) pun menurun (dalam kasus ini dikhususkan leukosit yang mengalami penurunan). Kondisi tersebut akhirnya akan

mengakibatkan neutropenia (produksi neutrofil menurun), monositopenia (produksi monosit menurun), dan eosinopenia (produksi eosinofil menurun).

Selain itu, jika seseorang mengidap penyakit immunodefisiensi, seperti HIV AIDS, maka virus HIV akan menyerang CD4 yang terdapat di limfosit T dalam sirkulasi perifer. Kondisi ini akan menyebabkan limfosit hancur sehingga mengalami penurunan jumlah, yang disebut dengan limfopenia. Oleh karena penyebab-penyebab yang berujung pada menurunnya jumlah komponenkomponen leukosit (neutropenia, eosinopenia, monositopenia, limfopenia) maka terjadilah leukopenia (Cormack, 1994).

Dalam waktu dua hari sesudah sumsum tulang berhenti memproduksi sel darah putih, di dalam mulut dan kolon dapat timbul ulkus, atau orang tersebot dapat mengalami beberapa bentuk infeksi pernapasan yang berat. Bakteri yang berasal dari ulkus secara cepat menginvasi jaringan sekitar dan darah. Tanpa pengobbatan, dalam waktu kurang dari satu mingggu setelah dimulainya leucopenia total akut, ddapat terjadi kematian. Radiasi tubuh dengan sinar-x atau siner gamma, atau settelah terpajan dengan obat-obatan dan bbahan kimia dengan inti benzene atau inti antrasena, kemungkinan besar dapat menimbulkan aplasia sumsum tulang. Memang, beberapa obat umum seperti kloramfenikol (antibiotik, tiourasil (dipakai untuk mengobbati tirotoksikosis), dan bahkan berbagai macam obat hiptonik barbiturate, dalam keadaan yang sangat jarang dapat menimbulkan leucopenia, hingga membuat keseluruhan rangkaian infeksi pada orang tersebut. Klasifikasi leucopenia didasarkan atas penyebabnya, yaitu : a. Neutropenia memiliki penyebab yang beragam seperti : infeksi virus, campak, demam tipus toksin, Rickettsia dari tifus, faktor fisik (radiasi pengion), obat-obatan (sulfanilamides, barbiturat, cytostaties), bensol, kekurangan vitamin B12, asam folat, anafilaksis shock, hypersplenism, juga karena kelainan genetik. b. Eosinopenia penyebabnya adalah : meningkatnya kadar stres, syndrom Cushing, kortikosteroid, penyakit menular, corticotrophin dan kortison. c. Lymphopenia penyebabnya adalah : karena faktor keturunan dan immunodeficiency, stres, radiasi penyakit, tuberkulosis militer. d. Monocytopenia terjadi karena batang myeloid tertekan ditembak dari sumsum tulang hemopoiesis (misalnya, dalam penyakit radiasi, kondisi septik parah, dan agranulocytosi. Menurut Effendi (2003), Indikator yang paling umum dari leukopenia adalah neutropenia (pengurangan jumlah neutrofil dalam leukosit). Jumlah neutrofil juga dapat menjadi indikator yang paling umum dari risiko infeksi. Jika leukopenia ringan, orang tidak akan menunjukkan gejala apapun, hanya dalam kasus yang berat gejala mulai muncul.

Jika leukopenia telah masuk ke tahap berat, gejala klinis yang biasa muncul : 1) 2) Anemia, yaitu penurunan jumlah sel darah merah dan hemoglobin Menorrhaggia, yaitu perdarahan yang berat dan berkepanjangan saat periode menstruasi 3) Metrorrhaggia, yaitu perdarahan dari rahim, tetapi bukan karena menstruasi dan hal ini merupakan indikasi dari beberapa infeksi 4) Neurasthenia, yaitu kondisi yang ditandai oleh kelelahan, sakit kepala, dan mengganggu keseimbangan emosional. 5) Trombositopenia, yaitu penurunan jumlah trombosit yang abnormal dalam darah. 6) Stomatitis, yaitu suatu peradangan pada lapisan mukosa struktur di dalam mulut, seperti pipi, gusi, lidah, bibir, dan lain-lain. 7) Pneumonia, yaitu peradangan yang terjadi di paru-paru karena kongesti virus atau bakteri. 8) Abses hati, yaitu jenis infeksi bakteri yang terdapat dalam hati. Hal ini relative jarang terjadi tetapi fatal akibatnya jika tidak ditangani. 9) Kelelahan, sakit kepala, dan demam adalah gejala yang sering terjadi. Selain itu pasien juga mengalami hot flashes, rentan terhadap berbagai infeksi, ulkus oral, dan mudah marah. Pasien tidak akan menunjukkan gejala kecuali sampai terjadi infeksi, yang biasanya timbul apabila granulosit lebih rendah dari 1000/mm3. Demam dan nyeri tenggorok dengan ulserasi merupakan keluhan yang tersering. Dapat terjadi bakterimia. Pada agranulositosis prognosis bergantung pada gambaran sumsum tulang (hipocellular). Jumlah granulosit yang lebih dari 2000 /mm3 menunjukan prognosis yang lebih baik. Pada leukopenia tanpa pengobatan, dalam waktu kurang dari 1 minggu setelah dimulainya leukopenia total akut, dapat terjadi kematian. Pada leukopenia karena aplasia sumsum tulang, asalkan tersedia waktu yang cukup, pasien diterapi dengan transfusi yang tepat, ditambah antibiotik dan obat-obatan lainnya untuk menanggulangi infeksi, biasanya terbentuk sumsum

tulang baru yang cukup dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan supaya konsentrasi sel-sel darah dapat kembali normal (Guyton, 2008). Menurut Komang (2009), setiap obat yang dicurigai harus dihentikan. Apabila granulosit sangan rendah, pasien harus dilindungi dari setiap sumber infeksi. Kultur dari semua orifisium (mis., hidung, mulut) dan darah sangat penting, dan jika terjadi demam harus ditangani dengan antibiotic spectrum luas sampai organisme dapat ditentukan. Higiene mulut harus dijaga. Irigasi tenggorokan dengan salin panas dapat dilakukan untuk menjaga agar tiap bersih dari eksudat nekrotik. Kenyamanan dapat ditingkattkan dengan pemberian kerah es dan analgeik, antipiretik, dan sedatif bila perlu. Tujuan penanganan selain pemusnahan infeksi adalah menghilangkan penyebab depresi sumsum tulang. Fungsi sumsum tulang akan kembali normal secara spontan (kecuali pada penyakit neoplasma) dalam 2 atau 3 minggu, bila kematian akibat infeksi dapat dicegah (Komang, 2009).

DAFTAR PUSTAKA Cormack, D. H. 1994. HAM Histologi Jilid I. Binarupa Aksara. Jakarta. Depkes RI. 1989. Hematologi. Pusat Pendidikan Tenaga Kerja. Jakarta . Effendi, dr. Zukesti. Peranan Leukosit Sebagai Anti Inflamasi Alergik Dalam Tubuh. Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. USU digital libraray: Sumatera Utara Guyton, Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedoktran. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta Komang. 2009. Aplikasi Ilmu Fisiologi Sistem Darah Dan CairanTubuh Dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Udayana: Denpasar. Leeson C. R. 1990. Buku Ajar Histologi Edisi V. EGC. Jakarta Binarupa Aksara. Jakarta. Prawirohartono, S. & Hadisumarno, S. 2000. Sains Biologi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta. Sacher, A. Ronald., Richard A. McPherson. 2004. Tinjauan Klinis Pemeriksaan Laboratorium. Alih Bahasa dr. Brahm U. Pendit & Dewi Wulandari. EGC: Jakarta