Anda di halaman 1dari 32

Laporan Kasus MENOPAUSE

Disusun oleh :
CHINTIA OTAMI

Pembimbing:
dr Setyabudi Sasangko SpOG

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan 2012

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

BAB I ILUSTRASI KASUS


I. IDENTITAS PASIEN Nama No RM Tanggal Lahir Umur Jenis Kelamin Kebangsaan Agama Pekerjaan Alamat
II.

: Ny. A.Y : 464776 : 26 Januari 1964 : 48 tahun : Perempuan : Indonesia : Kristen : Dosen : Cilegon

ANAMNESA (auto dan allo anamnesa) Keluhan utama: Pasien datang dengan keluhan tidak haid sejak 3 bulan SMRS. Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang dengan keluhan tidak haid sejak 3 bulan SMRS. Pasien juga mengeluhkan sering merasa panas meskipun di udara yang tidak panas. Pasien juga sering berkeringat terutama di malam hari. Pasien mengaku sudah 6 bulan terakhir sulit tidur. Pasien harus berbaring kurang lebih 2 jam baru kemudian dapat tertidur, dan pasien sering terbangun saat malam hari. Pasien saat ini merasa sangat cemas apakah dirinya sedang mengalami menopause. Suami pasien mengatakan bahwa akhir-akhir ini pasien bertingkah aneh. Pasien sering muram dan sering marah-marah pada anggota keluarganya. Suami pasien mengeluh istrinya menjadi pelupa. Pasien mengeluhkan nyeri apabila berhubungan dan pasien sering menolak apabila diajak untuk melakukan hubungan seksual.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 2

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Pasien menyangkal adanya demam, nyeri kepala, mual-mual. Pasien mengatakan sudah 4 bulan terakhir tidak melakukan hubungan seksual dengan suami. Riwayat penyakit dahulu: Pasien menyangkal adanya riwayat sakit hipertensi, asma, diabetes mellitus, penyakit jantung, dan penyakit serius lainnya. Riwayat operasi disangkal Riwayat Keluarga: Pasien menyangkal adanya riwayat penyakit hipertensi, asma, maupun kencing manis dalam keluarga. Ibu pasien berhenti haid di usia 50 tahun. Riwayat Obstetrik: P2A0. Anak pertama pasien Laki-laki usia 25 tahun lahir normal pervaginam. Anak kedua pasien perempuan usia 21 tahun lahir normal pervaginam. Pasien tidak ada masalah saat kehamilan. Riwayat haid:

Menarche Siklus haid

: umur 14 tahun : 1 tahun terakhir, siklus haid pasien tidak teratur.

Siklus haid pasien memanjang, terkadang 40 hari bahkan pernah sampai 2 bulan pasien tidak dapat haid. Lama

: 7 hari : tidak menentu : 2-3 pembalut/hari : disangkal

Panjang siklus

Banyak

Nyeri haid

Riwayat keluarga berencana: Setelah anak kedua pasien lahir, pasien memakai kontrasepsi berupa IUD,
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 3

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

namun sejak 5 tahun lalu, pasien tidak memakai kontrasepsi apapun. Riwayat pernikahan: Pasien menikah 1 kali dengan suami yang sekarang. Riwayat Alergi dan Obat-obatan: Riwayat alergi obat dan alergi makanan disangkal Riwayat Sosial dan Kebiasaan: Riwayat merokok, minum alkohol, dan obat-obatan disangkal oleh pasien. Pasien adalah seorang dosen. Keadaan sosial ekonomi cukup.

III. PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS:


Keadaan Umum : tampak baik

Kesadaran

: compos mentis

Tanda-Tanda Vital -

Tekanan Darah Suhu Nadi

: 110/70 mmHg : 36,70C : 105 x/menit

Pernapasan: 20 x/menit : 60 kg. : 152 cm

Berat Badan Tinggi Badan


Kepala Rambut dicabut.

: Normosefali, rambut hitam : Rambut warna hitam, lurus, distribusi merata, tidak mudah

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 4

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Wajah Mata Telinga Hidung

: Simetris, pucat (-), edema (-). : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor, : Bentuk normal, simetris. Tidak ada lesi, perdarahan, dan cairan. : Bentuk normal, tidak ada deviasi septum. Tidak ada lesi,

refleks cahaya +/+


perdarahan, dan cairan.


Tenggorokan: Faring tidak hiperemis. Tonsil T1/T1 tenang. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid. Tidak ada lesi ataupun jejas.

Paru

:
o

Inspeksi: Dinding dada simetris kanan dan kiri statis dan dinamis. Bentuk dada normal. Tidak ada retraksi dan penggunaan otot pernapasan tambahan. Tidak ada lesi dan massa. Palpasi: Ekspansi dada simetris kanan dan kiri. Taktil fremitus kanan dan kiri simetris dalam batas normal. Perkusi: Sonor untuk semua lapang paru, batas paru-hati ICS 6.

o Auskultasi:

Suara napas vesikuler ,wheezing -/-, ronkhi -/-

Jantung

:
o o

Inspeksi: Tidak tampak iktus kordis. Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS 5, 3 cm medial garis midclavicula. Perkusi: Batas jantung dalam batas normal

o Auskultasi:

S1, S2 (+) normal. Mur-mur (). Tidak ada bunyi tambahan.

Ekstremitas: akral hangat, edema (-), sianosis (-), pucat (-).

PEMERIKSAAN OBSTETRI
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 5

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Abdomen
o

Inspeksi: Dinding abdomen simetris, cembung. Tidak ada lesi. Linea nigra (-), striae gravidarum (-), spider naevi (-).

Palpasi:. Supel, nyeri tekan (-). TFU, hati, limpa, dan ginjal tidak teraba. Massa tidak teraba. Nyeri ketok CVA (). Nyeri tekan dan nyeri lepas McBurney ().

o o

Perkusi: Timpani, shifting dullness (-), ballottement (-). Auskultasi: Bising usus (-). Bruit (-) metallic sound (). :

Anogenital
o

Inspeksi: Labia mayora, labia minora, vulva, dan uretra tampak tenang. Tidak terdapat tanda randang, massa atau benjolan, dan abses.

Vaginal toucher: Tidak ada kelainan.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan V. DIAGNOSA Perimenopause VI. PENATALAKSANAAN a. Rencana Terapi:
-

Non medikamentosa :

Makan makan bernutrisi tinggi. Diet sehat dengan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, dan roti gandum. Hindari alkohol dan kafein

Olahraga teratur & aktivitas fisik yang teratur Mengurangi stress misalnya dengan meditasi atau yoga.

Medikamentosa

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 6

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Tablet kalsium 1x1

b.

Rencana Edukasi
-

Memberikan edukasi bahwa menopause sendiri adalah bagian yang normal dari perjalanan hidup seorang wanita dan bukan merupakan penyakit yang perlu diterapi. Terapi dimungkinkan apabila gejala dari menopause mengganggu atau bertambah parah.

VII. PROGNOSIS Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

RESUME Pasien, Ny. A.Y, 48 tahun, dengan tidak haid sejak 3 bulan SMRS. Pasien juga mengeluh sering merasa panas. Pasien juga sering berkeringat terutama di malam hari dan sulit tidur. Suami pasien mengatakan bahwa akhir-akhir ini pasien bertingkah aneh. Pasien sering muram, marah, dan menjadi pelupa.Pasien mengeluhkan nyeri apabila berhubungan dan pasien sering menolak apabila diajak untuk melakukan hubungan seksual. Pasien sudah 4 bulan terakhir tidak melakukan hubungan seksual dengan suami. Pasien saat ini merasa sangat cemas dirinya mengalami menopause. Pasien mempunyai 2 orang anak yang lahir lewat persalinan normal. Ibu pasien berhenti haid umur 50 tahun. Dalam satu tahun terakhir pasien tidak rutin mendapatkan haid. Pasien sehari berganti pembalut 2-3 kali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan KU sakit sedang, compos mentis, TD 110/70 mmHg, N 105 x/menit, RR 20 x/menit, S 36,7 oC. Pada pemeriksaan ginekologis, inspeksi dan palpasi abdomen, tidak ditemukan kelainan. Inspeksi alat kelamin tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan dalam alat kelamin tidak ada kelainan
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 7

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Diagnosa pada pasien ini yaitu perimenopause.

BAB II PEMBAHASAN MASALAH

Fisiologi Menstruasi Pada siklus menstruasi normal, terdapat produksi hormon-hormon yang paralel dengan pertumbuhan lapisan rahim untuk mempersiapkan implantasi (perlekatan) dari janin (proses kehamilan). Gangguan dari siklus menstruasi tersebut dapat berakibat gangguan kesuburan, abortus berulang, atau keganasan. Gangguan dari sikluas menstruasi merupakan salah satu alasan seorang wanita berobat ke dokter. Siklus menstruasi normal berlangsung selama 21-35 hari, 2-8 hari adalah waktu keluarnya darah haid yang berkisar 20-60 ml per hari. Penelitian menunjukkan wanita dengan siklus mentruasi normal hanya terdapat pada 2/3 wanita dewasa, sedangkan pada usia reproduksi yang ekstrim (setelah menarche <pertama kali terjadinya menstruasi> dan menopause) lebih banyak mengalami siklus yang tidak teratur atau siklus yang tidak mengandung sel telur. Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisisovarium.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 8

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Siklus Menstruasi Normal Sikuls menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus ovarium (indung telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur terbagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus folikular dan siklus luteal, sedangkan siklus uterus dibagi menjadi masa proliferasi (pertumbuhan) dan masa sekresi. Perubahan di dalam rahim merupakan respon terhadap perubahan hormonal. Rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium (lapisan terluar rahim), miometrium (lapisan otot rehim, terletak di bagian tengah), dan endometrium (lapisan terdalam rahim). Endometrium adalah lapisan yangn berperan di dalam siklus menstruasi. 2/3 bagian endometrium disebut desidua fungsionalis yang terdiri dari kelenjar, dan 1/3 bagian terdalamnya disebut sebagai desidua basalis. Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1.

FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH

2.

LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH

3.

PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan prolaktin

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 9

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan. Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 10

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah 2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi) 3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim) Siklus ovarium : 1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap untuk proses ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi keseluruhan 2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu rata-rata 14 hari Siklus hormonal dan hubungannya dengan siklus ovarium serta uterus di dalam siklus menstruasi normal: 1. Setiap permulaan siklus menstruasi, kadar hormon gonadotropin (FSH, LH) berada pada level yang rendah dan sudah menurun sejak akhir dari fase luteal siklus sebelumnya 2. Hormon FSH dari hipotalamus perlahan mengalami peningkatan setelah akhir dari korpus luteum dan pertumbuhan folikel dimulai pada fase folikular. Hal ini merupakan pemicu untuk pertumbuhan lapisan endometrium

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 11

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

3.

Peningkatan level estrogen menyebabkan feedback negatif pada pengeluaran FSH hipofisis. Hormon LH kemudian menurun sebagai akibat dari peningkatan level estradiol, tetapi pada akhir dari fase folikular level hormon LH meningkat drastis (respon bifasik)

4. Pada akhir fase folikular, hormon FSH merangsang reseptor (penerima) hormon LH yang terdapat pada sel granulosa, dan dengan rangsangan dari hormon LH, keluarlah hormon progesteron 5. Setelah perangsangan oleh hormon estrogen, hipofisis LH terpicu yang menyebabkan terjadinya ovulasi yang muncul 24-36 jam kemudian. Ovulasi adalah penanda fase transisi dari fase proliferasi ke sekresi, dari folikular ke luteal 6. Kedar estrogen menurun pada awal fase luteal dari sesaat sebelum ovulasi sampai fase pertengahan, dan kemudian meningkat kembali karena sekresi dari korpus luteum 7. Progesteron meningkat setelah ovulasi dan dapat merupakan penanda bahwa sudah terjadi ovulasi 8. Kedua hormon estrogen dan progesteron meningkat selama masa hidup korpus luteum dan kemuadian menurun untuk mempersiapkan siklus berikutnya

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 12

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Pengertian Menopause

Menopause adalah tidak terjadinya periode menstruasi selama 12 bulan akibat dari tidak aktifnya folikel sel telur. Periode transisi menopause dihitung dari periode
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 13

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

menstruasi terakhir diikuti dengan 12 bulan periode amenorea (tidak mendapatkan siklus haid). Menopause adalah bagian dari periode transisi perubahan masa reproduktif ke masa tidak reproduktif. Usia rata-rata menopause berkisar 43 - 57 tahun namun tidak ada cara yang pasti untuk memprediksi kapan seorang wanita akan memasuki masa menopause. Selain itu, faktor keturunan juga berperan disini, seorang wanita akan mengalami menopause pada usia tidak jauh berbeda dari ibunya. Istilah awal menopause diciptakan untuk menggambarkan perubahan reproduksi pada wanita manusia, di mana akhir kesuburan secara tradisional ditandai dengan penghentian permanen "mens" menstruasi atau bulanan. Kata "menopause" secara harfiah berarti "akhir siklus bulanan" dari kata Yunani''pausis''(penghentian) dan akar kata''orang''dari''''mensis makna (bulan). Pada wanita manusia dewasa yang masih memiliki rahim, dan yang tidak hamil atau menyusui, postmenopause diidentifikasi oleh tidak adanya (setidaknya satu tahun) permanen periode bulanan atau menstruasi. Pada wanita tanpa rahim, menopause atau postmenopause diidentifikasi oleh tingkat FSH yang sangat tinggi.

USIA Di negara Barat, rentang usia yang terbanyak untuk menopause adalah antara usia 40 dan 60 dan usia rata-rata adalah 51 tahun. Di beberapa negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina, usia rata-rata menopause alami adalah umur 44 tahun. Dalam kasus yang jarang, ovarium seorang wanita berhenti bekerja pada usia yang sangat dini, berkisar dari usia pubertas sampai usia 40, dan ini dikenal sebagai kegagalan ovarium prematur (POF). Beberapa penyebab yang diketahui dari kegagalan ovarium prematur termasuk gangguan autoimun, penyakit tiroid, diabetes melitus, kemoterapi, dan radioterapi. Namun, dalam sebagian penyebabnya tidak diketahui. Kegagalan ovarium prematur didiagnosis denganmengukur kadar follicle stimulatting hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), tingkat hormon-hormon ini akan tinggi jika menopause telah terjadi. Menopause dini ditemukan secara signifikan

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 14

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

lebih lebih sering terjadi pada kembar identik, sekitar 5% dari kembar mencapai menopause sebelum usia 40. Alasan untuk hal ini adalah tidak sepenuhnya dipahami. Rata-rata, wanita yang merokok rokok mengalami menopause lebih awal dibandingkan non-perokok.

Patofisiologi Menopause Klimakterik merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif ataupun endokrinologik dari ovarium. Penurunan produksi hormon estrogen menimbulkan berbagai keluhan pada seorang wanita, sedangkan penurunan fertilitas sangat bergantung pada usia wanita tersebut, dan jarang menimbulkan keluhan yang berarti. Fertilitas wanita dan laki-laki pada usia 20-24 tahun adalah 100%. Pada usia 35-39 tahun fertilitas wanita hanya tinggal 60%, sedangkan laki-laki masih tetap tinggi, yaitu 95%. Pada usia 45-49 tahun fertilitas wanita tingal 5% saja dan pada laki-laki mencapai 80%. Pada umumnya orang lebih senang menggunakan istilah 'Menopause', meskipun istilah tersebut kurang tepat, karena menopause hanya merupakan kejadian sesaat saja, yaitu perdarahan haid yang terakhir. Yang paling tepat digunakan adalah klimakterik, yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Disebut pascamenopause bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai menuju ke senium. Senium adalah pascamenopause lanjut, yaitu setelah usia 65 tahun. Bila ovarium tidak berfungsi lagi pada usia <40 tahun disebut klimaakterium prekok.

Fase Klimakterik Klimakterik dibagi dalam beberapa fase : 1. Perimenopause 2. Menopause 3. Postmenopause

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 15

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Selain itu terdapat juga menopause dini yaitu kegagalan ovarium prematur Vagina adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Pramenopause Fase pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterik. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang , jumlah darah haid yang relatif banyak, dan kadang-kadang disertai nyeri haid (dismenorea). Pada wanita tertentu telah timbul keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom prahaid atau sindrom pramenstrual (PMS). Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah berupa fase folikuler yang memendek, kadar estrogen yang tinggi, kadar FSH juga biasanya tinggi, tetapi dapat juga ditemukan kadar FSH yang normal. Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi ini dapat terjadi perangsangan ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi) sehingga kadang-kadang dijumpai kadar estrogen yang sangat tinggi Perimenopause Perimenopause merupakan fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pada kebanyakan wanita siklus haidnya >38 hari, dan sisanya <18 hari. Sebanyak 40% wanita siklus haidnya anovulatorik.
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 16

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Perimenopause berkisar antara 2-8 tahun. Ditambah dengan 1 tahun setelah periode terakhir menstruasi. Tidak ada cara untuk mengukur berapa lama perimenopause ini akan terjadi. Stadium ini merupakan bagian dari kehidupan seorang wanita yang menandakan akhir dari masa reproduksi. Penurunan fungsi indung telur selama masa perimenopause berkaitan dengan penurunan hormon estradiol dan produksi hormon androgen. Meskipun terjadi ovulasi, kadar progesteron tetap rendah. Kadar FSH, LH, dan estrogen sangat bervariasi. Pada umumnya wanita telah mengalami berbagai jenis keluhan klimakterik. Apabila seorang wanita masih mengalami periode menstruasi pada masa perimenopause, meskipun tidak teratur, dia dapat tetap hamil. Gejala-gejala perimenopause diantaranya adalah : Perubahan di dalam periode menstruasi (memendek atau memanjang, lebih banyak atau lebih sedikit atau tidak mendapat menstruasi sama sekali) Hot flashes Keringat malam Kekeringan pada vagina Gangguan tidur Perubahan mood (depresi, mudah tersinggung) Nyeri ketika bersanggama Infeksi saluran kemih Inkontinensia urin (tidak mampu menahan keluarnya air seni) Tidak berminat pada hubungan seksual Peningkatan lemak tubuh di sekitar pinggang Bermasalah dengan konsentrasi dan daya ingat Kontrasepsi oral (pil) sering digunakan untuk pengobatan pada tahapan perimenopause meskipun wanita tersebut tidak memerlukannya untuk tujuan kontrasepsi. Dosis rendah pil kontrasepsi mengurangi gejala hot flashes, kekeringan pada vagina, dan sindroma premenstruasi.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 17

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Menopause Menopause adalah perubahan yang normal terjadi pada kehidupan seorang wanita ketika periode menstruasinya berhenti. Seorang wanita sudah mencapai menopause apabila dia tidak mendapatkan menstruasi selama 12 bulan secara berurutan, dan tidak ada penyebab lain untuk perubahan yang terjadi. Pada fase menopause. Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen pun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopause. Perdarahan lucut terus terjadi selama wanita masih menggunakan pil kontrasepsi secara siklik dan wanita tersebut tidak mengalami keluhan klimakterik. Bila pada usia perimenopause ditemukan kadar FSH dan estradiol yang beravariasi (tinggi, atau rendah), maka setelah memasuki usia menopause akan selalu ditemukan kadar FSH yang tinggi (>40 mIU/ml). Kadar estradiol pada awal menopause dijumpai rendah hanya pada sebagian wanita, sedangkan pada sebagian wanita lain, apalagi pada wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila seorang wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah >40 mIU/ml dan kadar Estradiol <30 pg/ml, telah dapat dikatakan wanita tersebut telah mengalami menopause. Selama menopause, yang umumnya terjadi pada usia 45 - 55 tahun, tubuh seorang wanita secara perlahan mengurangi produksi hormon estrogen dan progesterone sehingga terjadilah berbagai gejala. Gejala-gejala yang normal dialami pada masa menopause dan cara menanganinya adalah : Hot flashes Hot flashes umum terjadi pada wanita menopause, berlangsung selama 30 detik sampai beberapa menit, dan kadang diikuti dengan berkeringat terutama malam hari. Lingkungan panas, makan makanan atau minuman panas atau makanan pedas, alkohol, kafein, dan stress dapat menyebabkan terjadinya hot flashes. Modifikasi gaya hidup, olahragateratur, dan meredakan kecemasan dapat menurunkan gejala ini. Hubungi dokter bila memerlukan obat-obat antidepresi
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 18

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

atau terapi hormonal. Kekeringan pada vagina Gejala pada vagina dikarenakan vagina yang menjadi lebih tipis, lebih kering, dan kurang elastik berkaitan dengan turunnya kadar hormon estrogen. Gejalanya adalah kering dan gatal pada vagina atau iritasi dan atau nyeri saat bersenggama. Dapat menggunakan pelumas vagina yang dijual bebas atau krim pengganti estrogen yang digunakan dengan mengusapkannya pada vagina. Apabila terjadi perdarahan setelah menggunakan krim estrogen segera pergi ke dokter
-

Gangguan tidur Lakukan latihan fisik sekitar 30 menit per hari tapi hindari berolahraga dekat dengan waktu tidur. Hindari alkohol, kafein, makan dalam jumlah besar, dan bekerja tepat sebelum waktu tidur. Usahakan suhu kamar tidur tidak terlalu panas. Hindari tidur siang dan coba untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Dapat dilakukan latihan relaksasi seperti meditasi sebelum tidur

Gangguan daya ingat Tidur dalam jumlah yang cukup dan usahakan tetap aktif selalu Perubahan mood Tidur dalam jumlah yang cukup dan usahakan aktif selalu Penurunan keinginan berhubungan seksual Pada beberapa kasus penyebabnya adalah faktor emosi. Selain itu, penurunan kadar estrogen menyebabkan kekeringan pada vagina sehingga berhubungan seksual menjadi tidak nyaman dan sakit. Konsumsi hormon androgen dapat meningkatkan gairah seksual dan pemakaian pelumas dapat mengurangi nyeri. Beberapa wanita mengalami perubahan gairah seksual akibat rasa rendah diri karena perubahan pada tubuhnya. Grup konseling dapat membantu

Gangguan berkemih Kadar estrogen yang rendah menyebabkan penipisan jaringan kandung kemih dan saluran kemih yang berakibat penurunan kontrol dari kandung kemih atau mudahnya terjadinya kebocoran air seni (apabila batuk, bersin, atau tertawa) akibat lemahnya otot di sekitar kandung kemih. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih. Hal tersebut diatasi dengan latihan panggul (pelvic floor exercise) atau Kegel.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 19

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Kontraksikan otot panggul seperti ketika sedang mengencangkan atau menutup vagina atau membuka anus (dubur). Tahan kontraksi dalam 3 hitungan kemudian relaksasikan. Tunggu beberapa detik dan ulangi lagi. Lakukan latihan ini beberapa kali dalam sehari (dengan total 50 kali per hari) maka dapat memperbaiki kontrol kandung kemih Perubahan fisik lainnya Distribusi lemak tubuh setelah menopause menjadi berubah, lemak tubuh pada umumnya terdeposit pada bagian pinggang dan perut. Selain itu terjadi perubahan di tekstur kulit yaitu keriput dan jerawat. Sejak meopause, badan wanita menghasilkan sedikit hormon pria testosteron yang mengakibatkan beberapa wanita dapat mengalami pertumbuhan rambut pada bagian dagu, bagian bawah dari hidung, dada, atau perut. Postmenopause Pada fase postmenopause, ovarium sudah tidak berfungsi sama sekali, kadar estradiol berada antara 20-30 pg/ml, dan kadar hormon gonadotropin biasanya meningkat. Peningkatan hormon gonadotropin ini disebabkan oleh terhentinya produksi Inhibin akibat tidak tersedianya folikel dalam jumlah yang cukup. Pada usia reproduksi. folikel memproduksi Inhibin dalam jumlah yang cukup dan Inhibin inilah yang menekan sekresi FSH, bukan sekresi LH. Akibat rendahnya kadar estradiol, endometrium menjadi atropik dan tidak mungkin muncul haid lagi. Namun, pada wanita gemuk masih ditemukan kadar estron yang tinggi, dan estron ini akan diubah menjadi estradiol. Estradiol yang tinggi ini menimbulkan proliferasi pada endometrium dan mengakibatkan terjadinya perdarahan pada uterus Pada wanita pascamenopause masih saja dapat dijumpai jenis steroid seks lain dengan kadar yang normal di dalam darah. Ternyata, ovarium wanita pascamenopause masih memiliki kemampuan untuk menyintesis steroid seks. Sel-sel hilus dan kortek ovarium masih dapat memproduksi androgen, estrogen, dan progesteron dalam jumlah tertentu. Selain itu, jaringan tubuh tertentu, seperti lemak, uterus, hati, otot, kulit, rambut, dan bahkan bagian dari sistem neural sumsum tulang (bone marrow) memiliki
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 20

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

kemampuan mengaromatisasi androgen menjadi estrogen. Kelenjar adrenal merupakan sumber androgen utama bagi wanita pascamenopause. Dua gangguan kesehatan yang dapat terjadi setelah menopause adalah :
-

Osteoporosis. Hormon estrogen yang dihasilkan oleh indung telur membantu mengontrol regenerasi (pertumbuhan dan perbaikan) tulang. Pada masa menopause, hormon estrogen menurun produksinya sehingga menyebabkab tulang menjadi mudah keropos. Tulang menjadi lemah dan mudah patah. Kondisi ini disebut osteoporosis. Tatalaksana dari osteoporosis adalah pencegahan terjadinya patah tulang dengan cara memperlambat hilangnya sel-sel tulang dan meningkatkan densitas serta kekuatan tulang. Diantaranya adalah perubahan gaya hidup termasuk berhenti merokok, minum minuman alkohol, berolahraga teratur, dan mengkonsumsi makanan bernutrisi seimbang dengan kalsium dan vitamin D yang adekuat. Obatobatan yang dapat menghentikan kehilangan sel-sel tulang dan meningkatkan kekuatan tulang dapat didiskusikan dengan dokter anda

Penyakit jantung. Perubahan kadar estrogen dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan berat badan yang mengakibatkan peningkatan risiko untuk penyakit jantung dan pembuluh darah

Menopause prematur (menopause dini) Kegagalan ovarium prematur Vagina adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Penyebabnya tidak diketahui namun mungkin berkaitan dengan penyakit autoimun atau faktor keturunan. Selain itu, menopause dini dapat terjadi karena obatobatan atau operasi. Operasi pengangkatan indung telur (oophorectomy) akan mengakibatkan menopause dini. Apabila dilakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi) tanpa pengangkatan indung telur maka gejala menopause dini tidak akan terjadi karena indung telur masih mampu menghasilkan hormon. Selain itu, terapi radiasi maupun kemoterapi dapat menyebabkan menopause bila diberikan pada Wanita yang masih berovulasi (mengeluarkan sel telur). Wanita yang mengalami menopause dini memiliki gejala yang sama dengan
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 21

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

menopause pada umumnya seperti hot flashes (perasaan hangat di seluruh tubuh yang terutama terasa pada dada dan kepala), gangguan emosi, kekeringan pada vagina, dan menurunnya keinginan berhubungan seksual. Wanita yang mengalami menopause dini memiliki kejadian keropos tulang lebih besar dari mereka yang mengalami menopause lebih lama. Kejadian ini meningkatkan angka kejadian osteoporosis dan patah tulang. GEJALA Turunnya fungsi ovarium (sel telur) mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhan-keluhan: Keluhan vasomotorik

Gejolak panas (hot flashes) Vertigo Keringat banyak

Keluhan Konstitusional

Berdebar-debar Migrain Nyeri otot, nyeri pinggang Mudah tersinggung

Keluhan Psikiastenik dan neurotik


Merasa tertekan Lelah psikis, lelah somatik Susah tidur Merasa ketakutan Konflik keluarga , gangguan di tempat kerja

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 22

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Keluhan lain lain


Sakit waktu bersetubuh Gangguan haid Keputihan, gatal pada vagina Susah kencing Libido menurun Keropos tulang (osteoporosis) Gangguan sirkulasi (miocard infark) Kenaikkan kolesterol , adepositas (kegemukan gangguan metabolisme KH)

Keluhan-keluhan diatas tidak sama pada semua wanita. Hal ini disebabkan efek biologik di jaringan hormon estrogen melalui reseptor estrogen yang di dalam tubuh didapat reseptor estrogen alpha dan beta. Jumlah reseptor estrogen alpha dan beta yang tidak sama pada setiap wanita dan adanya reaksi individual akibat rendahnya estrogen menyebabkan gejala menopause yang berbeda. Umumnya gejolak panas, susah tidur, gelisah, lekas marah, pelupa, nyeri tulang belakang dirasakan pada hampir sebagian besar wanita menopause. Akibat jangka panjang yang harus diperhatikan pada wanita menopause adalah osteoporosis (tulang keropos), penyakit jantung koroner, stroke, dan pikun. Kalau kondisi ini dibiarkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup wanita.

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Gejala-Gejala Menopause


Faktor Psikis Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen , gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll.
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 23

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan si wanita untuk menyesuaikan diri. Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis. Budaya dan lingkungan Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini. Faktor Lain Wanita yang belum menikah, wanita karier baik yang sudah atau belum berumah tangga, menarch yang terlambat berpengaruh terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang ringan.

Perubahan-Perubahan Organik Pada Masa Klimakterium


Perubahan pada organ reproduksi Uterus (kandungan) Uterus mengecil , selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat intertesial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol. Tuba Falopii (saluran Telur) Lipatan lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang. Serviks (mulut rahim) Serviks akan mengkerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran serviks fundus saat masa adolesen. Vagina (liang kemaluan) Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae berkurangnya vaskularisasi,
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 24

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

elastistik yang berkurang, sekret vagina menjadi encer, indeks kario piknotik menurun. Ph vagina meningkat karena terhambatnya pertumbuhan basil Donderlein yang menyebabkan glikogen seluler meningkat, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Uretra ikut memendek dengan pengerutan vagina, sehingga meatus eksternus melemah timbul uretritis dan pembentukkan karankula. Dasar pinggul Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan lemahnya daya sokong disebabkan prolapsus utero vaginal. Perineum dan anus Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang. Sering terjadi inkontinensia alvi vagina. Vesica Urinaria (kandung kencing) Tampak aktivitas kendali spincter dan detrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar. Kelenjar payudara Diserapnya lemak subcutan , atrofi jaringan parenkim, lobulus menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Puting susu mengecil kurang erektil , pigmentasi berkurang , sehingga payudara menjadi datar dan mengendor. Perubahan diluar organ reproduksi Adipositas (penimbunan lemak) Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Ditemukan 29 % wanita klimakterium memperlihatkan kenaikkan berat badan yang sedikit dan 20 % kenaikkan yang menyolok. Diduga ada hubungan dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak. Hipertensi (tekanan darah tinggi) Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan tekanan darah baik sistole maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita hipertensi esential primer adalah wanita antara 45-70 tahun yang diketahui permulaan peningkatan tensi paling banyak terjadi salama

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 25

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

masa klimakterium. Peningkatan tekanan darah pada usia klimakterium terjadi secara bertahap, kemudian menetap dan lebih tinggi dari tensi sebelumnya. Hiperkolesterolnemia (kolesterol tinggi) Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolestrol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki. Peningkatan kadar kolesterol yang merupakan faktor utama dalam penyebab arterosklerosis. Aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah) Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun. Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus) Turunnya estrogen dalam darah adanya efek androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari defeminisasi dan maskulinisasi. Hal ini berhubungan dengan ovarium sendiri membentuk estron yang bersifat androgen. Osteoporosis (keropos tulang) Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis.

Terapi Menopause sendiri adalah bagian yang normal dari perjalanan hidup seorang wanita dan bukan merupakan penyakit yang perlu diterapi. Bagaimanapun juga, terapi dimungkinkan apabila gejala dari menopause mengganggu atau bertambah parah. Modifikasi gaya hidup Modifikasi gaya hidup dapat mengurangi ketidaknyamanan yang dialami akibat
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 26

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

gejala yang terjadi dan membuat tubuh terasa lebih sehat. Modifikasi gaya hidup yang disarankan adalah :
-

Nutrisi yang cukup akan mengurangi resiko osteoporosis dan penyakit jantung meningkat akibat menopause, karena itu diet yang sehat dengan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, dan roti gandum sangat dianjurkan. Tambahkan makanan yang kaya akan kandungan kalsium atau tambahkan suplemen kalsium. Hindari alcohol dan kafein yang dapat memicu terjadinya hot flashes. Bila merokok, usahakan untuk berhenti

Olahraga teratur & aktivitas fisik yang teratur membantu untuk menurunkan berat badan, memperbaiki kualitas tidur, menguatkan tulang, dan meningkatkan mood. Jalan cepat, aerobic low impact, dan menari adalah contoh olahraga yang dapat menguatkan tulang. Cobalah berolahraga dengan intensitas sedang sekitar30 menit per hari

Mengurangi stress & berlatihlah secara teratur cara untuk mengurangi stress. Meditasi atau yoga dapat membantu untuk relaksasi dan menyesuaikan diri dengan gejala yang dialami pada periode peralihan

Hormonal

Prinsip pengobatan menopause adalah memberikan estrogen dari luar atau dikenal dengan Hormone replacement therapy (HRT) atau istilahnya dalam bahasa indonesia adalah terapi sulih hormon (TSH). Prinsip dasar pemberian TSH: 1. wanita yang masih memiliki uterus, maka pemberian estrogen harus selalu dikombinasikan dengan progesterone. Tujuan penambahan progesterone adalah untuk mencegah kanker endometrium. 2. wanita tanpa uterus, maka cukup pemberian estrogen saja dan estrogen diberikan secara kontinue (tanpa istirahat) 3. pada wanita perimenopause yang masih haid dan masih tetap menginkan haid, TSH diberikan secara sekuensial. Wanita pasca menopause yang masih ingin haid
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 27

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

diberikan secara sekuensial, kecuali jika tidak terjadi haid diberikan secara kontinue. Sedangkan yang tidak ingin haid diberikan kontinue. 4. jenis estrogen yang digunakan adalah estrogen alamiah dan progesterone juga yang alamiah. 5. pemberian selalu dimulai dengan dosis rendah 6. dapat dikombinasi dengan androgen atau diberikan dengan TSH yang memiliki sifat androgenic. Cara pemberian TSH:

Oral Trasdermal Semprot hidung Implan (susuk) Pervaginam (krem vagina) Sublingual Intramuskular

Efek samping pemberian TSH Hal ini sebagian besar diakibatkan karena dosis estrogen yang tinggi. 1. Nyeri payudara 2. Peningkatan berat badan 3. Keputihan dan sakit kepala 4. Perdarahan Pemberian hormon estrogen sebagai terapi sulih hormon, untuk menggantikan hormon estrogen yang kurang, telah diteliti dan menghilangkan keluhan defisiensi estrogen klinis dengan baik setelah 2-3 minggu yang pemberian pada dosis estrogen yang tinggi dan 4-5
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 28

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

minggu pemberian pada dosis estrogen rendah. Peningkatan densitas tulang pada pemberian estrogen+progesteron alamiah+kalsium+vit. D, akan meningkatkan 4,1-5,8% menurut penelitian Rachman IA, tidak berbeda banyak dengan penelitian PEPI (Post Menopause Estrogen/Progesteron Investigator) yaitu 4-5%. Selain itu pemberian estrogen/progesteron alamiah memperbaiki metabolisme lemak, yang meningkatkan kadar HDL (kolesterol yang baik) dan menurunkan kadar LDL (kolesterol yang jahat) sampai 70%, serta menekan terjadinya fraktur tulang antara 40-60%. Di dunia saat ini pemberian hormon estrogen+progesteron dibatasi 5 tahun dengan kontrol yang ketat, karena penelitian di Amerika oleh WHI (Woman Health Initiative) menemukan keganasan payudara 33,8%, stroke 49,1%, tromboemboli 125,3%, masalah kardiologi 34,4%. Walau sisi baiknya menghilangkan keluhan-keluhan defisiensi estrogen, cegah kejadian keganasan usus besar 32,8%, cegah osteoporosis 17,4% dan patah tulang osteoporosis 29,3%. Kehebatan obat estrogen+progesteron sebagai TSH memperbaiki keluhan-keluhan defisiensi estrogen klinis yang mengganggu kehidupan ibu usia lanjut telah terbukti, sehingga terjadinya peningkatan kualitas hidup ibu usia lanjut yang prima, tetapi pembatasan pemberian 5 tahun (ada yang mengusulkan 7 tahun) merupakan masalah tersendiri yang harus dicari pengganti obat ini. Obat-obat lain seperti gabungan bisfosfonat, golongan SERM jelas memperbaiki dan meningkatkan densitas tulang, tetapi tidak perbaiki kualitas ibu secara penuh walau diikuti dengan senam beban yang hanya mengurangi keluhan klinis defisiensi estrogen ini. Untuk ini para peneliti, memulai mencari pengganti estrogen alamiah yang dianggap dapat mengambil alih posisi estrogen sebagai TSH , namun aman tak menyebabkan keganasan, pendarahan tetapi meningkatkan densitas tulang dan kualitas hidup ibu adalah golongan fitoestrogen (estrogen dari tumbuh-tumbuhan) yang rumus kimianya mirip estradiol) , yang saat ini dianggap sebagai suplemen. Saat ini golongan fitoestrogen telah diteliti di seluruh dunia termasuk Indonesia, karena fitoestrogen terdapat di kacang kedele, kulit buah bangkwang yang warnanya kecoklatcoklatan. Di dunia terkenal dari gabungan tanaman red clover yang mengandung 4 isoflavon (genestein, daidzein, formononetin, dan biochanin A) dan black cohosh yang dapat tumbuh baik di Mexico dengan kadar isoflavon cukup tinggi. Saat itu beberapa peneliti di Indonesia mencoba menanamnya di Indonesia.
Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 29

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Wanita yang tidak disarankan untuk terapi hormonal adalah wanita yang: Memiliki masalah dengan perdarahan vagina Memiliki kanker (payudara atau rahim) Riwayat stroke atau serangan jantung Riwayat penggumpalan darah Memiliki sakit liver (sakit hati)

Dalam penelitian Postmenopausal Estrogen Progesterone Intervention diketahui bahwa kelompok wanita yang mendapat placebo (kontrol) dan kelompok terapi hormon, pada akhir penelitian yang berlangsung selama 3 tahun, mempunyai berat badan yang sama. Ini membuktikan, kekhawatiran bahwa terapi hormon akan meningkatkan berat badan tidak terbukti. Adalah wajar bahwa seiring dengan bertambahnya usia, wanita cenderung akan meningkat berat badannya dan ini sebenarnya dapat diatasi dengan diet dan olahraga. Penggunaan terapi estrogen selama 5-10 tahun tidak akan menyebabkan kanker payudara. Di Amerika kanker payudara ini membunuh 45.000 wanita setiap tahun, oleh karena itu kaum wanita mesti berhati-hati dalam menghadapi setiap risiko yang akan meningkatkan terjadinya kanker payudara. Wanita-wanita pengguna terapi estrogen jangka lama (>5-10 tahun) risikonya untuk terkena kanker payudara meningkat tipis. Namun sebenarnya mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan deteksi dini atas munculnya kanker payudara ini. Sebagaimana diketahui bahwa wanita menopause juga cenderung mengalami osteoporosis (tulang rapuh). Jumlah wanita yang meninggal akibat komplikasi retak pinggul akibat osteoporosis ternyata lebih besar dibandingkan mereka yang meninggal akibat kanker. Dengan terapi estrogen maka risiko osteoporosis dapat ditekan. Dampak positif pemakaian terapi estrogen bagi wanita adalah pola tidur menjadi lebih baik, suasana batin lebih tenang, dan dapat memperbaiki hubungan seksual suami-istri.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 30

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Apabila seorang wanita pada awalnya mempunyai kadar trigliserida darah tinggi (250 mg/dl) maka pemakaian terapi estrogen (pil) dapat merangsang peningkatan trigliserida. Terdapat keterkaitan metabolisme antara trigliserida dengan kolesterol HDL (baik). Apabila trigliserida tinggi maka HDL cenderung turun. Oleh karena itu sebelum menjalani terapi estrogen disarankan melakukan pemeriksaan profil lipid darah. Telah diketahui bahwa untuk meningkatkan HDL diperlukan latihan olahraga yang teratur. Apabila dalam seminggu kita mampu membakar energi 800-1000 Kalori melalui olahraga atau aktivitas fisik lainnya maka HDL kita akan meningkat 4,4 mg/dl.

Fitoestrogen sebagai Alternatif lain pengobatan menopause


Mengingat banyaknya kendala dalam pemakaian TSH seperti takut terkena kanker payudara, harus digunakan jangka panjang, banyaknya efek samping dan harga yang relatif mahal maka perlu dicari alternatif lain sebagai penganti TSH yang dapat memenuhi criteria alami, murah , berasal dari tanaman, efektif dan dapat diterima oleh wanita menopause. Alternatif lain itu adalah fitoestrogen. Fito artinya tanaman sedangkan estrogen maksudnya memiliki struktur kimia dan khasiat biologik menyerupai estrogen. Struktur kimia fitoestrogen sebagian besar bukan steroid sedangkan estrogen umumnya adalah steroid. Fitoestrogen terdiri dari :

isoflavon (genistein, daidzein dan glycetein) coumestan (coumesterol) lignan (matairesinol, secoisolariciresinol, enteroldiol)

Isoflavon banyak ditemukan dalam

legumes (tumbuhan polong terutama kedelai dengan produk olahannya susu, tofu, tempe dan miso)

lignan dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian (sereal) comestan dalam Redclover dan tauge

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 31

Laporan Kasus Obstetri Ginekologi MENOPAUSE

Selain itu pasien menolak menggunakan TSH karena takut timbul kanker payudara akibat estrogen

DAFTAR PUSTAKA
1.

Khomsan.A. Dampak Terapi Estrogen Pada Wanita Menopause . Diunduh dari http://kolom.pacific.net.id/ind/ali_khomsan/artikel_ali_khomsan/dampak_tera pi_estrogen_pada_wanita_menopause.html tanggal 7 Febuari 2012.

2.

Unkown. Fisiologi Menstruasi. Diunduh dari http://kehamilan.klikdokter.com/subpage.php?id=1&sub=12 tanggal 7 Febuari 2012.

3.

Unknown. Menopause. Diunduh dari http://osteoporosis.klikdokter.com/subpage.php?id=1&sub=56 tanggal 7 Febuari 2012.

4.

Unknown. Apa Itu Menopause. Diunduh dari http://www.newsmedical.net/health/What-is-Menopause-%28Indonesian%29.aspx tanggal 7 Febuari 2012

5.

Dr. H.K. Yusuf Effendi, SpOG. Jangan Takut Menghadapi Menopause. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/57689384/Referat-Menopause tanggal 7 Febuari 2012.

Chintia Otami (07120060027) Kepaniteraan Klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Village Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Periode 9 Januari 2012 17 Maret 2012 32