Anda di halaman 1dari 3

Tugas Filsafat Hukum

Review artikel "Nature of Jurisprudence"


Akhmad Sigit Tri Handoyo 0906518984

Sesuai dengan adagium quot homines tot sententiae1, tidak ada definisi yang pasti mengenai apa itu yurisprudensi. Ini karena setiap jurist mempunyai pandangan dan konsepsi masing masing yang dipengaruhi oleh ideologi masing-masing. Kurangnya pendekatan filosofis dalam pendidikan hukum maupun dalam praktik hukum di common law, akhirnya cenderung mengakibatkan skeptisme terhadap teori filosofi hukum di kalangan hakim, praktisi hukum, akademisi dan bahkan di kalangan mahasiswa hukum. Sekolah hukum di Inggris, sebelumnya pengetahuan hukum hanya diajarkan di sisi praktiknya saja. Hal yang berbeda terjadi di negara Civil Law, di mana pendidikan hukum diproyeksikan untuk mendidik profesi-profesi yang terkait dengan hukum. Pendekatan akademis yang digunakan dalam pendidikan hukum bersifat lebih filosofis dan rasional. Professor Kahn-Freund menyatakan bahwa setiap disiplin ilmu harus mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis2. Beliau beranggapan bahwa cara pengajaran pendidikan hukum di inggris telah menyebabkan pragmatisme dan menghambat pemikiran kritis mahasiswa. Kahn-Freud berpandangan bahwa pendidikan hukum harus mengajarkan baik itu hukum maupun hukum dalam konteks teoritis, sosial, politik, maupun teori. Adanya hubungan yang kuat antara yurisprudensi dengan bidang studi lainnya, seperti sosiologi, psikologi, dan antropologi dapat membantu kita memahami hukum. Yurisprudensi melibatkan studi tentang pertanyaan-pertanyaan teoritis umum mengenai asal usul hukum dan sistem hukum, mengenai hubungan antara hukum dengan keadilan dan moralitas, serta mengenai asal usul hukum secara sosial. Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut, diperlukan penggunaan teori filosofis dan sosiologis serta cara pengaplikasiannya terhadap hukum. Pembelajaran tentang yurisprudensi akan mendorong mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih luas mengenai sifat alami dari hukum dan cara hukum bekerja. Di dalam dunia hukum praktik, akan muncul pertanyaan-pertanyaan teoritis. Seperti dalam kasus Openheimer Cuttermole, yang status kewarganegaraannya dicabut oleh rezim NAZI Jerman. Lord Atkins berpendapat bahwa kebijakan tersebut melanggar Hak Asasi
1 2

Terence, Phormio Reflection on Legal Education (1966) 29 M.L.R.

Manusia, sehingga pengadilan Inggris harus menolak untuk mengakui keabsahannya.3 Muncul pertanyaan apakah sebuah hukum melanggar hak asasi manusia? Apakah hukum yang demikian bukanlah hukum yang valid? Siapa yang menentukan? Dan apakah masyarakat dibebaskan untuk tidak mematuhi hukum semacam itu? Yurisprudensi memang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun yurisprudensi menawarkan petunjuk, karena yurisprudensi mengajarkan prinsip dasar masalah moral kepada mahasiswa4. Salah satu tugas dari yurisprudensi adalah membuktikan kebenaran hukum sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan. Di abad 19, perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan alam, menciptakan trend ke cabang ilmu pengetahuan lainnya. Trend ini menyebabkan cabang ilmu pengetahuan lain, termasuk ilmu sosial, berlomba lomba untuk mengklaim status "ilmiah" dengan menghasilkan pengetahuan yang dianggap empiris. Contohnya adalah klaim John Stuart Mill yang menyatakan bahwa casual law mengatur manusia seperti halnya hukum fisika5. Namun, anggapan bahwa natural science itu bersifat pasti, empiris, dan absolut, telah ditolak oleh ilmuwan kontemporer. Ada faktor tertentu di setiap kejadian yang tidak dapat diprediksi dan dijelaskan oleh science. Selain itu, verifikasi juga tidak selalu dimungkinkan. Bahkan, filsuf Karl Popper mengajukan metode 'falsification' yang menganggap bahwa semua teori ilmiah bersifat tentatif dan memungkinkan untuk disangkal kebenarannya. Kemudian, pertanyannya adalah Apakah terhadap ilmu sosial dapat diterapkan metode empiris seperti dalam natural science? menurut John Stuart Mill, hal itu bisa. Beliau menganalogikan bahwa 'akibat' umumnya ditentukan oleh keberadaan 'sebab'. Mill mencoba memandang hubungan antara 'akibat' dan 'sebab' di ilmu sosial seperti bubungan sebab-akibat di ilmu alam. Namun, Mill juga mengakui bahwa peluang adanya kesamaan hubungan itu sangat kecil, sehingga tetap saja sulit untuk menerapkan metode empiris milik ilmu alam ke dalam lingkup ilmu sosial. Hal utama yang diteliti dalam ilmu sosial adalah tindakan manusia. Tindakan manusia merupakan intepretasi dari situasi dan tindakan orang lain. Intepretasi itu terbentuk dari masa lalu dan struktur masyarakat pada masa sekarang. Oleh karena itu, ketika pengamat mengamati masyarakat, yang dia lihat adalah suatu struktur yang telah dibentuk oleh masyarakat menjadi sebuah "common sense". Tugas utama seorang ilmuwan sosial adalah untuk melampaui common sense untuk kemudian menjelaskan pola dan hubungannya dengan tindakan manusia. Sulit untuk menggo3 4

F. Mann (1973) 89 L.Q.R. 194 J. Glover, Causing Deaths and Saving Lives (1977). Bab 2 5 John Stuart Mill, System of Logic (1843), bab 8.

longkan yurisprudensi ke dalam ilmu sosial atau tidak. mengingat banyaknya segi yurisprudensi, Namun menurut ilmuwan kontemporer, yurisprudensi sendiri telah merefleksikan perdebatan filosofis mengenai pengertian dari pengetahuan. Berbeda dengan jurisprudensi yang merupakan studi terhadap pola faktual dari perilaku, hukum bukanlah pernyataan atas fakta, melainkan berupa norma atau peraturan yang menetukan apa yang seharusnya terjadi. Hubungan antara perbuatan dan sanksi bukanlah hubungan sebab-akibat, melainkan hubungan pertanggungjawaban. Tidak seperti ilmu lain yang bisa 'benar' atau 'salah', norma hukum hanya menentukan apa yang seharusnya terjadi. hal inilah yang membuat Emmanuel Kant menyatakan pembedaan antara das sein (yang terjadi) dan das sollen (yang seharusnya terjadi) Berdasarkan pembahasan di atas, definisi mengenai jursisprudensi memang belum diketahui secara pasti. Namun, jurisprudensi telah berhasil membawa ilmu hukum sebagai salah satu ilmu pengetahuan, jurisprudensi membuat studi tentang hukum tidak hanya sekedar studi tentang nilai normatif saja dengan pendekatan filosofis dan sosiologis yang ada dalam jurisprudensi. Jurisprudensi juga berguna dalam mengembangkan pemahaman yang lebih luas mengenai sifat alami dari hukum dan cara hukum bekerja. Sehingga ilmu hukum bukan ilmu yang statis dan terbatas pada nilai normatif saja, melainkan terus berkembang dan dinamis.