Anda di halaman 1dari 8

I.

Pendahuluan a. Latar belakang Buta warna bisa terjadi pada siapa saja orang dewasa atau anak anak kecil . Buta

warna terjadi tidak ada atau tidak berfungsinya sel yang sensitive dengan warna dilapisan retina mata. Retina adalah lapisan saraf yang meneruskan rangsangan cahaya dan mengirimkan ke otak. Seseorang yang menderita buta warna mendapat kesulitan dalam membedakan merah,hijau,biru atau campuran berbagai warna.. Penyebab buta warna banyak disebabkan karena bawaan sejak lahir (buta warna turunan).ada juga yang disebabkan oleh karena umur atau kecelakaan (buta warna akibat). Buta warna turunan jauh lebih banyak didapat pada laki-laki dibanding wanita. b.Tujuan i. Meningkatkan pengetahuan tentang apa itu buta warna. ii. Mengetahui fase-fase pada buta warna. iii. Mengetahui apa itu buta warna merah hijau. iv. Meningkatkan pengetahuan tentang karakteristik dan penyebab bta warna merah hijau. II. Isi Buta warna didefinisikan sebagai kelainan atau gangguan dalam melihat warna. Paling sering ditemui adalah gangguan melihat warna merah-hijau. Gangguan warna biru-kuning lebih jarang. Sedangkan buta warna total, yaitu tidak dapat melihat warna sama sekali, lebih jarang lagi. Buta warna disebabkan oleh dua hal, yaitu karena turunan dan karena dapatan (acquired). Buta warna turunan terjadi akibat kurang atau tidak adanya sel konus. Fungsi sel ini adalah menangkap warna. Ada tiga jenis sel konus, yaitu yang sensitif terhadap warna merah, hijau, dan biru. Warna yang kita lihat merupakan perbaduan dari ketiganya. 1. Jika hanya satu atau dua jenis sel konus yang jumlahnya kurang atau tidak ada, disebut buta warna sebagian. Artinya, penderita masih mampu melihat warna tertentu. Sedangkan jika ketiganya tidak ada atau tidak berfungsi sama sekali, maka penderita akan melihat dunia ini hitam, putih, dan abu-abu. Jenis yang terakhir ini dinamakan buta warna total. 2. Sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya. Cara tersebut antara lain adalah :

Menggunakan kacamata lensa warna. Tujuannya, agar penderita dapat membedakan warna dengan lebih mudah. Cara ini terbuktif efektif pada beberapa penderita.

Menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau. Biasanya penderita buta warna dapat membedakan warna lebih jelas jika cahaya tidak terlalu terang atau menyilaukan.

Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita dianjurkan menggunakan kacamata lensa gelap dan mempunyai pelindung cahaya pada sisinya. Suasana lebih gelap diperlukan karena sel rod, yaitu sel yang hanya bisa membedakan warna hitam, putih, dan abu-abu, bekerja dengan lebih baik pada kondisi cahaya yang suram.

Mendeteksi buta warna Umumnya cara yang diginakan adalah dengan mengidentifikasi angka atau huruf dengan latar belakang warna-warna tertentu, misalnya Ishihara test. Pada setiap gambar terdapat angka yang dibentuk dari titik-titik berwarna. Gambar digantung di bawah pencahayaan yang baik dan pasien diminta untuk mengidentifikasi angka yang ada pada gambar tersebut. Ketika pada tahap ini ditemukan adanya kelainan, test yang lebih detail lagi akan diberikan. Sampai saat ini belum ada tindakan atau pengobatan yang dapat mengatasi gangguan persepsi warna ini. Namun penderita buta warna ringan dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu. Dalam mengemudi misalnya, seseorang bisa menghafalkan letak warna lampu rambu-rambu jalan raya. Buta warna bawaan tidak dapat diatasi, tetapi buta wana akita kecelakaan misalnya dapat diantisipasi dengan hati-hati berkendara. Karakteristik 1. Memiliki warisan genetik. Bayi buta warna disebabkan karena faktor genetik dari orang tua. Jika orang tua mengalami buta warna maka 50% kemungkinannya anak akan mewarisi kelainan kromosom yang menyebabkan cacat pada retina mata, sehingga mengalami buta warna. Genetik merupakan tanda pertama yang dapat menjadi pegangan bagi orangtua untuk dapat mendeteksi bayi buta warna sejak dini

2. Hanya dapat melihat warna hitam, putih, dan abu-abu. Pada anak bayi dengan kondisi ini retina matanya hanya dapat menangkap pantulan cahaya berwarna hitam dan putih saja, maka ia melihat semua benda dengan hitam dan putih, ini disebut dengan buta warna total. 3. Tidak dapat membedakan 2 jenis warna tertentu. Tanda ini merupakan salah satu bentuk bayi buta warna parsial. Biasanya anak bayi akan sulit untuk membedakan 2 jenis warna tertentu, misalnya biru dengan kuning atau hijau dengan merah. 4. Menyebutkan 2 warna dengan satu nama. Pada kondisi ini bayi buta warna sulit membedakan dua warna lembut, sehingga menyebut keduanya dengan satu nama, misal merah muda dan hujau muda disebut sebagai putih.

Buta warna dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu : 1. Buta warna jenis Trikomasi adalah perubahan sensitifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut. Ada tiga macam Trikomasi yaitu: Protanomali yang merupakan kelemahan warna merah Deuteromali yaitu kelemahan warna hijau. Tritanomali (low blue) yaitu kelemahan warna biru. Jenis buta warna inilah yang paling sering dialami dibandingkan jenis buta warna lainnya. 2. Buta warna jenis Dikromasi merupakan tidak adanya satu dari 3 jenis sel kerucut, terdiri dari: Protanopia yaitu tidak adanya sel kerucut warna merah sehingga kecerahan warna merah dan perpaduannya berkurang. Deuteranopia yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka terhadap hijau. Tritanopia untuk warna biru.

3. Sedangkan Monokromasi ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis typical dan sedikit warna pada jenis atypical. Jenis buta warna ini prevalensinya sangat jarang.

Penyebab Buta warna disebabkan oleh dua hal, yaitu karena turunan dan karena dapatan (acquired). Di dalam retina dari masing-masing mata kita ada tiga kerucut. Setiap kerucut bereaksi dengan warna yang berbeda yaitu cahaya merah, biru atau hijau. Kerusakan sebuah kerucut menyebabkan kebutaan warna ringan. Jika kerucut benar-benar rusak, buta warna menjadi lebih berat. Buta warna turunan terjadi akibat kurang atau tidak adanya sel konus. Fungsi sel ini adalah menangkap warna. Ada tiga jenis sel konus, yaitu yang sensitif terhadap warna merah, hijau, dan biru. Warna yang kita lihat merupakan perbaduan dari ketiganya.

Probabilitas Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelinan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosm X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki dan wanita. seoronga wanita terdapat istilah pembawa sifat hal ini menujukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurukan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Buta warna ini dikendalikan oleh gen resesif. Gen ini terpaut dalam kromosom X. Terdapat 5 kemungkinan genotipe, yaitu: 1) XC XC : wanita normal 2) Xc Xc : wanita buta warna 3) XC Xc : wanita pembawa buta warna/karier 4) XC Y : pria normal 5) Xc Y : pria buta warna

Penutup Penyebab buta warna banyak disebabkan karena bawaan sejak lahir (buta warna turunan).ada juga yang disebabkan oleh karena umur atau kecelakaan (buta warna akibat) . buta warna turunan jauh lebih banyak didapat pada laki-laki dibanding wanita. Buta warna merah hijau dapat disebabkan oleh kelainan gen tertaut kromosom X.

IV. Daftar Pustaka 1. Sherwood L. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Ed.6. Jakarta: EGC, 2011. 2. Snell R.S. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed. 6. Jakarta:EGC, 2006.h.83115 3. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2003. 4. Hall, John E. Buku saku fisiologi kedokteran Guyton & Hall. Edisi 11. Jakarta : EGC, 2009. 5. Guyton AC. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC, 2007.

Penyembuhan Penyakit Buta Warna dengan Cara Terapi Gen


06 Oktober, 2009 Penelita asal AS telah berhasil menyembuhkan penyakit buta warna pada monyet dewasa yang lahir tanpa kemampuan membedakan warna merah dan warna hijau. Namun penemuan ini masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut, cara ini bisa di terapkan kepada manusia yang memiliki penyakit yang sama yaitu buta warna. Beragam bentuk buta warna. Tapi yang paling sering di temukan adalah buta warna merah dan hijau, karena melewati gen penglihatan warna yang rusak pada kromosom X. Ada juga penyakit buta warna yang terjadi karena penyakit semacam degenerasi menular atau efek samping pengobatan. Ilmuan memiliki pemikiran, mungkin dengan cara pengobatan ini dapat memanipulasi otak dewasa sehingga penyakit buta warna dapat di obati dengan cara terapi gen. Penambahan lain seperti informasi indrawi seperti reseptor visual yang di butuhkan untuk penglihatan warna yang sempurna biasanya hanya dapat di lakukan pada tahun-tahun awal manusia terlahir. Karena pada saat itu otak berada pada kondisi paling mudah di bentuk. Profesor Jay Neitz beserta timnya telah memperkenalkan gen terapeutik ke dalam sel indra penglihatan di belakang mata squirrel-monkey dewasa. Gen terapeutik terdiri dari kode DNA yang di perlukan dalam memungkinkan sel indra penglihatan bisa membedakan antara warna merah dan warna hijau, sesuatu yang tidak dimiliki oleh monyet jantan. Setelah malalui beberapa proses terapi gen ini di lakukan pada monyet jantan yang kami miliki. Pada akhirnya terapi gen ini memperoleh kesuksesan, monyet jantan kini memiliki kebutuhan photopigment untuk melihat semua warna dan dapat menentukan warna merah dan warna hijau secara tepat melalui uji gambar pada komputer. Pengamatan terhadap monyet-monyet tersebut sudah dilakukan lebih dari dua tahun lalu. Perkembangan yang dialami mereka sudah mulai stabil. Namun binatang-binatang tersebu akan terus dipantau dengan tujuan untuk mengevaluasi efek pengobatan jangka panjang.

Winfried Amoaku, ahli pengobatan mata di Universitas Nottingham, mengatakan penelitian itu sebenarnya bisa bermanfaat bagi 7% pria dan 1% wanita di dunia yang lahir dengan kekurangan warna genetic pada mata.

Kamis, 17 September 2009


Gen Penyebab Buta Warna (KeSimpulan) Para ilmuwan mengatakan bahwa stu langkah lebih dekat untuk menyembuhkan kebutaan warna dengan menggunakan terapi gen akan terwujud. Sebuah tim peneliti di University of Washington AS mampu mengembalikan penglihatan warna pada monyet dewasa yang terlahir tanpa kemampuan untuk membedakan antara warna merah dan hijau. Walaupun studi lebih lanjut diperlukan, namun mereka percaya akan dapat dikembangkan bagi manusia yang memiliki masalah yang sama. Sampai sekarang para ilmuwan belum memikirkan hal itu untuk berkaitan dengan memanipulasi otak orang dewasa dengan cara ini. Dengan menambahkan informasi sensorik baru, seperti reseptor visual yang diperlukan untuk penglihatan warna yang sempurna, hanya dapat dilakukan di tahun-tahun awal kelahiran ketika otak berada pada saat yang paling mudah dibentuk. Tapi Profesor Jay Neitz dan timnya mampu memperkenalkan terapeutik gen ke dalam rangsang cahaya pada sel di belakang mata monyet dewasa itu. Hal ini memberikan pandangan yang positif terhadap potensi terapi gen untuk menyembuhkan gangguan penglihatan. Gen terapeutik berisi kode DNA yang diperlukan untuk mengaktifkan sel penginderaan dalam membedakan antara warna merah dan hijau, sesuatu yang kurang peka pada hewan monyet. Eksperimen terapi gen ini sukses dilakukan. Monyet jantan itu sekarang memiliki photopigments yang diperlukan untuk melihat semua warna dan mampu membedakan merah dari hijau pada gambar komputer. Profesor Neitz dan tim akan terus memantau hewan itu untuk mengevaluasi efeknya dalam jangka panjang. Mereka berharap bahwa terapi yang sama dapat menguntungkan bagi manusia yang buta warna. "Hal ini memberikan pandangan positif akan potensi terapi gen untuk menyembuhkan gangguan penglihatan orang dewasa," kata mereka. Ada beberapa bentuk kebutaan warna. Bentuk yang paling umum adalah buta warna merah dan warna hijau, diteruskan melalui penglihatan warna yang salah gen pada kromosom X. Kadang-kadang kebutaan warna terjadi karena penyakit-penyakit seperti degenerasi makula atau dari efek samping obat-obatan. Winfried Amoaku, seorang ahli oftalmologi di University of Nottingham, mengatakan bahwa penelitian itu diharapkan dapat menolong sekitar 7% dari laki-laki dan 1% dari perempuan yang lahir dengan buta warna genetik. Penelitian ini tampaknya menjadi yang pertama pada primata untuk mengatasi kekurangan penglihatan warna dan menunjukkan bahwa sel-sel utuh dimodifikasi dalam persepsi warna. Penelitian lebih lanjut diperlukan, sebelum dapat diterapkan datang kepada manusia sebagai uji klinis dan terapi di klinik (BBC)

Buta warna dibagi dalam dua kategori, yaitu buta warna total dan buta warna parsial. Pada buta warna total, penyandangnya tidak bisa mengenali warna lain, kecuali hitam dan putih. Untungnya, kasus yang disebabkan ketiadaan pigmen warna pada sel retina ini sangat jarang terjadi. Sementara itu, pada buta warna parsial, penyandang mengalami defisiensi (kekurangan) pigmen dalam sel retina sehingga tidak bisa melihat warna tertentu saja. Gabungan defisiensi merah dan hijau adalah gangguan yang paling sering terjadi, sedangkan defisiensi biru jarang sekali. Yang perlu diluruskan, penderita buta warna bukan tidak bisa mengenali satu warna tertentu, tetapi ia tak bisa mengenali kombinasi atau campuran warna. Ia bisa saja tahu warna-warna dasar, seperti kuning, merah, dan biru, serta warna-warna sekunder, seperti hijau, jingga, dan ungu. Namun, ketika warna-warna itu dikombinasikan lagi dengan warna lainnya, ia tidak mampu mengenali atau bingung menentukan, apakah itu hijau tua atau biru, dan sebagainya. Ada beberapa penyebab buta warna. Pertama adalah keturunan, yang kedua karena didapat. Buta warna bawaan disebabkan adanya mutasi dalam kromosom X yang diturunkan ayah atau ibu. Kasus buta warna lebih banyak terjadi pada laki-laki. Mengapa? Karena laki-laki yang terbentuk dari kromosom XY hanya mempunyai satu kromosom X. Dengan demikian, jika kromosom X-nya terganggu atau rusak, maka dia berpotensi lebih besar mengalami buta warna. Sementara itu, perempuan yang terbentuk dari kromosom XX, jika salah satu kromosom Xnya mengalami gangguan, masih ada satu kromosom X lagi sehingga ia hanya menjadi pembawa sifat (carrier) buta warna. Penyebab lain buta warna adalah karena didapat. Hal ini biasanya terjadi ketika anak mengalami kerusakan retina atau cedera (trauma) pada otak yang menyebabkan pembengkakan di lobus occipital. Kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet karena tidak menggunakan pelindung mata secara benar juga bisa menyebabkan buta warna. Menurut dr Amyta Miranty, Sp M, Presiden Direktur RS Mata Aini, Jakarta, orangtua perlu waspada dan segera memeriksakan anaknya bila tidak bisa membedakan warna atau salah menyebutkan warna meski sudah sering diajarkan. Perhatikan juga riwayat keluarga, apakah ada anggota keluarga yang mengalami buta warna. Orangtua bisa melakukan pemeriksaan buta warna sendiri di rumah. Caranya, campurkan benang wol beraneka warna. Kemudian, minta anak mengambil benang warna tertentu. Jika ia tampak bingung, maka sekecil apa pun kecurigaan, tak ada salahnya untuk dikonsultasikan pada dokter mata. Untuk memastikan kasus buta warna, dokter mata umumnya akan melakukan tes hara dengan buku berisi kombinasi berbagai warna. Biasanya juga akan dilakukan tes penunjang, seperti pemeriksaan organ mata, dan sebagainya. Kerusakan itu secara umum tak hanya terkait dengan keluhan buta warna, tetapi juga pada hal lain, semisal ketajaman penglihatan, luas pandang, dan sebagainya. Yang perlu disadari, anak penderita buta warna tidak mengalami hambatan secara fisik dan kesehatan. Anak tetap dapat hidup, beraktivitas, bersekolah, berkarier, dan sebagainya.

Orangtua bisa mengarahkan anak pada bidang-bidang profesi yang tidak membutuhkan keahlian warna secara dominan. (Nakita/Dedeh)- Kompas.com