Anda di halaman 1dari 124

GEOLOGI DAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH

RUAS JALAN DAERAH PLAOSAN DAN SEKITARNYA


KABUPATEN MAGETAN PROVINSI JAWA TIMUR



SKRIPSI



Oleh:
WIDIATMOKO INDRAYANA
111 040 090























PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2011

ii




SKRIPSI

Oleh :

WIDIATMOKO INDRAYANA
111 040 090

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Geologi

Yogyakarta, September 2011

Menyetujui,
Pembimbing I





Ir. H. Suroso Sastroprawiro, M.Si.
NIP. 19500612 197701 1 001

Pembimbing II





Ir. Emanuel Baskoro, M.T.
NIP. 19631225 199203 1 001



Mengetahui,
Ketua Program Studi



Ir. H. Sugeng Raharjo, M.T.
NIP. 19581208 199203 1 001

GEOLOGI DAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH
RUAS JALAN DAERAH PLAOSAN DAN SEKITARNYA
KABUPATEN MAGETAN PROVINSI JAWA TIMUR
iii

HALAMAN PERSEMBAHAN



Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup
kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat
di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan
di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah
melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan
Allah merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam); Sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha mendengar lagi
Maha mengetahui. Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman; Dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-
orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka
daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 255 257)







Skripsi ini saya persembahkan untuk:
Bapak dan Ibu Tercinta
Kakak dan Adiku
Teman-teman Mahasiswa Geologi UPN Veteran Yogyakarta

iv

UCAPAN TERIMAKASIH


Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T. atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelasaikan laporan skripsi ini tepat pada waktunya yang berjudul
Geologi dan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Ruas Jalan Daerah Plaosan dan
Sekitarnya, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.
Pelaksanaan skripsi ini merupakan salah satu syarat wajib di dalam
kurikulum program S-1 Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik Geologi.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya bagi semua pihak yang telah membantu di dalam pelaksanaan
skripsi dan di dalam penulisan laporan yaitu kepada Ir. H. Suroso Sastroprawiro,
M.Si., selaku dosen pembimbing I, yang penuh kesabaran dalam memberikan
pengarahan, bimbingan dan saran sehingga selesai skripsi ini. Ir. Emanuel Baskoro,
M.T., selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan pengarahan, bimbingan
dan saran sehingga selesai skripsi ini dan Dr. Ir. Bambang Kuncoro, MT beserta
keluarga, terimkasih atas arahan, dukungan, dan bantuan kepada penulis.
Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Ibu Sri Andayani, Kepala
Desa Mojo, Kecamatan Mojo, terimakasih atas doa dan dukungannya. Seluruh tim
penelitian Gerakan Tanah Jawa Timur, terimakasih atas bantuan dan dukungannya.
Seluruh teman geologi UPN Yogyakarta 2004, terimakasih atas dukungannya.
Harapan penulis, karya tulis ini dapat memenuhi kriteria penulisan tugas
akhir tahap sarjana serta memberikan informasi dan masukan baru bagi para
pembaca. Penulis juga menyadari akan keterbatasan dan kekurangan pada tulisan ini,
oleh karena itu penulis berbesar hati menerima saran dan masukan dari semua pihak
yang sifatnya membangun demi hasil yang lebih baik sehingga di dalam pembuatan
v

laporan yang akan datang akan jauh lebih sempurna. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



Yogyakarta, September 2011

Penulis


Widiatmoko Indrayana
NIM. 111 040 090



























vi

ABSTRAK

Lokasi penelitian terletak di Kabupaten Magetan, secara administrasi masuk
Desa Sarangan, Desa Dadi, Desa Buluhgunung dan Desa Ngancar, Kecamatan
Plaosan, Kabupaten Magetan, Propinsi Jawa Timur. Secara astronomi kurang lebih
terletak pada koordinat 073910 074120 LS dan 1111120 1111550 BT
berdasarkan Peta Rupa Bumi Digital Indonesia lembar Plaosan, skala 1 : 25.000.

Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan daerah rawan gerakan tanah
berdasarkan geologi dan geomorfologi khususnya pada ruas jalan di daerah Plaosan
dan sekitarnya, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Propinsi Jawa Timur.

Metode analisis yang digunakan adalah metode cara langsung, tak langsung
dan metode gabungan. Cara langsung adalah dengan langsung memetakan gerakan
tanah di lapangan dengan memperhitungkan faktor morfologi, geologi, struktur dan
lain-lain. Cara tak langsung melalui prosedur analisis tumpang susun (overlaying)
untuk mencari pengaruh faktor-faktor yang terdapat pada peta-peta parameter
terhadap sebaran (distribusi) gerakan tanah, kemudian dianalisis menggunakan SIG
(Sistem Informasi Geografi). Metoda ini didasarkan atas perhitungan kerapatan
(density) gerakan tanah dan nilai bobot (weight value) dari masing-masing
unit/klas/tipe pada setiap peta parameter. Metode gabungan merupakan
penggabungan dari metode langsung dan tak langsung.

Hasil penelitian berdasarkan hasil penggabungan pemetaan langsung dan
pemetaan tak langsung, menghasilkan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Akhir, yang
terbagi dalam dua zona kerentanan gerakan tanah yaitu zona kerentanan gerakan
tanah menengah dan zona kerentanan gerakan tanah tinggi. Zona berkerentanan
menengah sebarannya mencapai 5,31 Km
2
atau 32,42% dari luas wilayah daerah
penelitian. Zona kerentanan gerakan tanah menengah ditandai oleh satuan
bentuklahan perbukitan sedang-perbukitan agak kasar, berkelerengan miring-agak
curam (8-20%). Batuan penyusunnya satuan tuff Formasi Tuff Jobolarangan dan
breksi Jobolarangan, satuan Tuff Formasi Batuan Vulkanik Lawu dan Breksi lahar
Lawu. Penggunaan lahan berupa permukiman, sawah tadah hujan,
kebun/perkebunan dan ladang/perladangan yang berada pada daerah dengan
kelerengan terjal dengan curah hujan rata-rata tahunan pada umumnya 2500-3000
mm/tahun dengan tebal tanah berkisar antara <0,25 dan 0,5-0,25 m. Zona
kerentanan gerakan tanah tinggi mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk
terjadinya gerakan tanah, dengan kata lain potensi untuk terjadi gerakan tanah sangat
tinggi. Luas sebarannya 11,25 km
2
atau 67,53% dari luas wilayah daerah penelitian.
Menempati satuan bentuklahan perbukitan berelief agak kasar-kasar, berkelerengan
agak curam-curam (13-55%). Batuan penyusunnya satuan tuff Formasi Tuff dan
breksi Jobolarangan, satuan Tuff Formasi Batuan Vulkanik Lawu dan Breksi lahar
Lawu. Penggunaan lahan berupa kebun/perkebunan, permukiman,
ladang/perladangan, sawah tadah hujan, danau/telaga dengan curah hujan rata-rata
tahunan pada umumnya 3000-3500 mm/tahun. Tebal tanah berkisar antara <0.25-
0.5m. Gerakan tanah berukuran besar sampai sangat kecil telah sering terjadi dan
akan cenderung sering terjadi.
vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................................
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................................
UCAPAN TERIMAKASIH ...................................................................................
ABSTRAK...................................................................................................................
DAFTAR ISI ...............................................................................................................
DAFTAR TABEL........................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah.......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................
1.3 Maksud dan Tujuan................................................................................................
1.4 Lokasi Penelitian ....
1.5 Hasil penelitian...................................................................................................
1.6 Manfaat Penelitian...............................................................................................
1.6.1 Manfaat Bagi Keilmuan
1.6.2 Manfaat Bagi Institusi
1.6.3 Manfaat Bagi Masyarakat
1.6.4 Bagi Pemerintah.....................................................................................

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA..
2.1 Geologi Regional ..
2.1.1 Geomorfologi Regional
2.1.1.1 Morfometri Wilayah Kabupaten Magetan
2.1.1.2 Sungai dan Pola Pengaliran
2.1.1.3 Satuan Akifer
2.1.2 Stratigrafi Regional........
i
ii
iii
iv
vi
vii
xi
xii
xiv

1
1
2
3
3
4
5
5
5
5
5

6
6
7
7
8
9
10


viii

2.1.2.1 Batuan Sedimen
2.1.2.2 Batuan Gunungapi.........................................................................
2.1.3 Struktur Geologi dan tektonik..
2.2 Dasar teori..........................................................................................................
2.2.1 Pengertian Gerakan Tanah....................................................................
2.2.2 Jenis-Jenis Gerakan Tanah......................................................................
2.2.3 Faktor Penyebab Gerakan Tanah
2.2.3.1 Kondisi Geomorfologi (kemiringan lereng)...............................
2.2.3.2 Kondisi Tanah/Batuan Penyusun Lereng.....................................
2.2.3.3 Kondisi Iklim.................................................................................
2.2.3.4 Kondisi Hidrologi Lereng.............................................................
2.2.3.5 Erosi Sungai........................................................................
2.2.3.6 Getaran...
2.2.3.7 Aktivitas Manusia
2.2.4 Teori Dasar Gerakan Tanah....................................................................
2.2.5 Teori Analisis Stabilitas Lereng.
2.2.6 Analisis Stabilitas Lereng Dengan Bidang Longsor Datar..................
2.2.6.1 Kondisi Tanpa Rembesan.............................................................
2.2.6.2 Kondisi Dengan Rembesan
2.3 Pengertian Bencana............................................................................................
2.4 Pengertian Jalan
2.4.1 Peranan Jalan.
2.4.2 Pengelompokan Jalan
2.4.2.1 Pengelompokan Jalan Berdasarkan Kelas Jalan
2.4.2.2 Pemgelompokan Jalan Berdasarkan Fungsi Jalan.
2.4.2.3 Pengelompokan Jalan Berdasarkan Pengelolaan Jalan.
2.5 Kondisi Umum Ruas Jalan Plaosan-Sarangan-Cemoro Sewu.

BAB 3 METODOLOGI....
3.1 Obyek Penelitian dan Pengamatan..
3.1.1 Obyek Penelitian.
3.1.2 Obyek Pengamatan

10
11
15
16
16
17
25
26
26
27
27
28
28
28
29
30
32
32
33
34
35
36
36
36
37
37
38

40
40
40
40


ix

3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Metode Penelitian Pengamatan Langsung.
3.2.2 Metode Penelitian Pengamatan Tidak Langsung
3.2.3 Metode Penggabungan..
3.3 Pengumpulan Data.......................
3.3.1 Sumber Data.
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data...
3.4 Bahan dan Alat...

BAB 4 HASIL PENELITIAN.............................................................................
4.1 Geomorfologi .
4.1.1 Pengertian Geomorfologi..
4.1.1.1 Kelerengan......
4.1.1.2 Bentuk lahan
4.1.1.3 Sungai dan Pola Pengaliran.
4.1.1.4 Daerah Rawan Erosi ..
4.1.2 Stratigrafi daerah telitian
4.1.2.1 Satuan Batuan Tuff (Formasi Tuf Jobolarangan (Qvjt) ):
4.1.2.2 Satuan Breksi ( Formasi Breksi Jobolarangan (Qvjb) ):
4.1.2.3 Batuan Gunungapi Lawu (Qvl) :
4.1.2.4 Lahar Lawu (Qlla) :
4.1.3 Struktur Geologi ...
4.2 Kondisi Fisik...............
4.2.1 Curah Hujan.
4.2.2 Tebal Tanah.
4.2.3 Penggunaan Lahan
4.3 Data Penyelidikan Geoteknik.............................................................................
4.3.1 Sifat Keteknikan Tanah Pelapukan Batuan.....
4.3.2 Hasil Uji Permeabilitas Lapangan..
4.4 Gerakan Tanah Pada Jalur Transportasi Darat
4.4.1 Kondisi Gerakan Tanah Pada Jalur Transportasi Darat.


40
41
43
45
48
48
48
49

50
50
50
50
51
54
55
56
56
57
57
58
59
61
61
61
62
62
63
65
66
66



x

BAB 5 PEMBAHASAN..
5.1 Kendali Geomorfologi Terhadap Gerakan Tanah.
5.1.1 Morfografi..
5.1.2 Morfometri
5.1.3 Morfostruktur aktif.
5.1.4 Morfostruktur pasif
5.1.5 Morfoasosiasi .
5.2 Pengaruh Pengunaan Lahan Terhadap Gerakan Tanah..........................................
5.2.1 Pengaruh Curah Hujan Terhadap Gerakan Tanah........................
5.2.2 Pengaruh Tebal Tanah Terhadap Gerakan Tanah
5.2.3 Pengaruh Geomorfologi Terhadap Gerakan Tanah
5.3 Penentuan Zona Kerentanan Gerakan Tanah..
5.3.1 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah .....
5.3.2 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi...........

BAB 6 KESIMPULAN .........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
LAMPIRAN.






















70
70
70
72
74
78
80
81
83
85
86
89
91
91

93
95
96
xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daerah aliran sungai dan panjang sungai (2006)..............................
Tabel 2.2 Jenis akifer di Kabupaten Magetan...........................................................
Tabel 2.3 Klasifikasi Gerakan Tanah (Varnes, D. J., 1978) dan Direktorat
Geologi Tata Lingkungan (1996)
Tabel 2.4 Perkembangan keaadan jalan (km) tahun 2005-2006.
Tabel 3.1 Penggabungan metode pemetaan tidak langsung dan metoda
pemetaan langsung.......................................................................
Tabel 4.1 Daerah aliran sungai dan panjang sungai (2006).....................................
Tabel 4.2 Sifat keteknikan tanah dan hasil uji geologi teknik................................
Tabel 4.3 Hubungan harga factor keamanan dan kemungkinan kelongsoran
lereng menurut Bowles (1984)
Tabel 4.4 Nilai factor keamanan pada tiap satuan batuan
Tabel 4.5 Hasil uji permeabilitas lapangan..
Tabel 4.6 Gerakan tanah dan gangguan terhadap jalan..
Tabel 5.1 Hubungan jenis gerakan tanah, jumlah gerakan tanah
dan morfologi..
Tabel 5.2 Gerakan tanah dan kelerengan...
Tabel 5.3 Kejadian erosi: pengikisan, kejadian, kekuatan pengikisan
dan pengaruh pengikisan permukaan..........................................................
Tabel 5.4 Kejadian erosi alur/parit: pengikisan, kekuatan pengikisan
dan pengaruh pengikisan alur..
Tabel 5.5 Kejadian erosi lembah: pengikisan, kekuatan pengikisan
dan pengaruh pengikisan lembah..
Tabel 5.6 Hubungan kendali geomorfologi terhadap gerakan tanah..
Tabel 5.7 Pengelompokkan nilai bobot kedalam kelas zonasi...





8
9

18
38

45
54
63

64
64
65
67

71
73

75

76

77
86
90
89




xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta indeks daerah penelitian..
Gambar 2.1 Peta tatanan fisiografi regional (Bemmelen, 1949)..............................
Gambar 2.2 Stratigrafi Kabupaten Magetan.....
Gambar 2.3 Peta geologi wilayah Kabupaten Magetan............................................
Gambar 2.4 Struktur geologi Jawa Timur (Sudrajat, Untung, dkk, 1975)...............
Gambar 2.5 Peta kerangka tektonik Jawa Tengah-Jawa Timur bagian
utara (Sutarso & Suyitno, 1976).
Gambar 2.6 Model gerakan tanah tipe jatuhan tanah...............................................
Gambar 2.7 Runtuhan batuan
Gambar 2.8 Model gerakan tanah tipe longsoran.2
Gambar 2.9 Model gerakan tanah tipe luncuran di bagian lereng atas yang
kemudian berkembang menjadi aliran material hasil luncuran (batu
bercampur tanah)...
Gambar 2.10 Bentuk-bentuk dari longsoran translasi dan longsoran rotasi..................
Gambar 2.11 Model gerakan tipe nendatan tanah (luncuran lengkung).......................
Gambar 2.12 Model rayapan dengan diikuti amblesan tanah..
Gambar 2.13 Model gerakan kombinasi antara nendatan di lereng
bagian atas kemudian berkembang menjadi aliran tanah
bercampur batu pada lereng bagian tengah............................................
Gambar 2.14 Gambaran dari debris flow.....................................................................
Gambar 2.15 Distribusi gaya pada permukaan miring.................................................
Gambar 2.16 Lereng tidak terhingga dengan tanpa aliran air rembesan.................
Gambar 2.17 Lereng tidak terhingga dipengaruhi aliran air rembesan....................
Gambar 3.1 Bagan alir petunjuk pemetaan zona kerentanan
gerakan tanah pemetaan langsung (Direct Mapping).
Gambar 3.2 Bagan alir pembuatan peta zona kerentanan gerakan tanah.
Gambar 3.3 Sistematika Penelitian...


4
6
13
14
15

16
19
19
20


21
21
22
23


24
24
29
33
34

41
46
47



xiii

Gambar 4.1 Satuan bentuklahan kerucut parasiter G. Sidoramping
N 210
0
E..............................................................................................
Gambar 4.2 Satuan bentuklahan lereng tengah G. Lawu N 295
0
E...........................
Gambar 4.3 Satuan bentuklahan lereng bawah G. Lawu N 115
0
E............................
Gambar 4.4 Satuan bentuklahan Maar N 380
0
E.........................................................
Gambar 4.5 Singkapan tuff Jobolarangan (LP 15) daerah Nguolo,
arah kamera N 063
0
E..................................................................
Gambar 4.6 Singkapan breksi Jobolarangan (LP 12 ) di daerah Ngancar,
arah kamera N 035
0
E................................................................
Gambar 4.7 Singkapan tuff vulkanik Lawu (LP 26) di daerah Sarangan,
arah kamera N 50
0
E.............................................................................
Gambar 4.8 Singkapan Aglomerat (LP 45) di daerah Kuren,
arah kamera N 120
0
E...............................................................
Gambar 4.9 Struktur geologi Jawa Timur (Sudrajat, Untung, dkk, 1975)..............
Gambar 4.10 Gawir sesar turun daerah Ngluweng Kulon
Gambar 5.1 Hubungan morfografi dan jumlah gerakan tanah
Gambar 5.2 Diagram hubungan gerakan tanah dan kelerengan..
Gambar 5.3 Diagram hubungan jumlah gerakan tanah dan formasi (litologi).
Gambar 5.4 Gerakan tanah pada sawah berlereng terjal.
Gambar 5.5 Diagram hubungan gerakan tanah dan penggunaan lahan......
Gambar 5.6 Hubungan gerakan tanah dan aktivitas manusia..
Gambar 5.7 Hubungan gerakan tanah dan curah hujan..
Gambar 5.8 Hubungan gerakan tanah dan ketebalan tanah












51
52
53
54

56

57

58

59
60
60
72
73
80
81
82
82
84
85




xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data dasar gerakan tanah Daerah Plaosan dan sekitarnya.
Lampiran 2. Aktivitas manusia dan penggunaan lahan di lokasi
Lampiran 3. Peta Lintasan..
Lampiran 4. Peta Geomorfologi..
Lampiran 5. Peta Geologi..
Lampiran 6. Peta Kelerengan dan Erosi.
Lampiran 7. Peta Penggunaan lahan..
Lampiran 8. Peta Tebal Tanah.
Lampiran 9. Peta Curah Hujan..
Lampiran 10. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah berdasarkan keterdapatan titik
gerakan tanah.
Lampiran 11. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah berdasarkan data
Geologi, Geomorfologi, Kelerengan dan Erosi, Curah Hujan, Tebal
Tanah Dan Penggunaan Lahan..
Lampiran 12. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Akhir.





















97
99
101
102
103
104
105
106
107

108


109
110
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan di Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta, mahasiswa yang akan
menempuh gelar sarjana yaitu program pendidikan strata-1 (S-1) harus
melaksanakan Skripsi. Topik permasalahan yang diambil sesuai dengan apa yang
pernah didapatkan pada saat kuliah. Seiring dengan perkembangan kurikulum yang
disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di dunia pekerjaan maka pihak jurusan
memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk memilih skripsi dengan
melakukan pemetaan geologi (geologycal mapping) atau dengan melakukan studi
khusus di suatu instansi atau perusahan tertentu yang berkaitan dengan ilmu geologi.
Kebijakan pemerintah memberikan cara pandang (paradigma) baru tentang
aspek-aspek kewenangan yang harus dilaksanakan di daerah. Salah satu kewenangan
tersebut diantaranya adalah menentukan kebijaksaaan/keputusan melakukan
penelitian kerentanan gerakan tanah sebagai informasi penanganan masalah bencana,
perencanaan jaringan jalan, bendungan, permukiman dan pengembangan wilayah.
Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan,
bahan timbunan, tanah atau material campuran tersebut, bergerak ke arah bawah dan
keluar lereng (Varnes, D.J., 1978). Bencana gerakan tanah dapat mengakibatkan
korban jiwa, kehancuran lahan dan infrastruktur, sehingga perlu adanya informasi
mengenai tingkat kerentanan suatu daerah, yaitu berupa peta zona kerentanan
gerakan tanah yang memberi/memuat informasi tentang tingkat kecenderungan untuk
dapat terjadi gerakan tanah di suatu daerah. Pada peta zona kerentanan gerakan tanah
tersebut dibagi dalam zona kerentanan gerakan tanah, yaitu areal/daerah yang
mempunyai kesamaan derajat kerentanan relatif (relative susceptibility) untuk
terjadinya gerakan tanah.
Informasi kerentanan gerakan tanah merupakan informasi awal untuk
analisis resiko bencana alam, upaya penanggulangan, sebagai acuan dasar untuk
pengembangan wilayah dan sekaligus untuk mewaspadai dan memperkecil kerugian
terhadap kemungkinan terjadinya bencana gerakan tanah atau dampak negatifnya.
2

Selanjutnya perencanaan dan pengembangan wilayah untuk jangka waktu tertentu
dapat dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan.
Sudah sejak lama beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Magetan sering
dilanda bencana gerakan tanah, jumlah dan luasnyapun tampak meningkat dari tahun
ke tahun. Secara geografis, kondisi wilayah Kabupaten Magetan memang memiliki
variasi dalam hal morfologi, geologi dan curah hujan. Secara topografi merupakan
perbukitan berelief sangat kasar hingga dataran dan berlereng sangat curam bahkan
tegak. Batuan penyusun di daerah perbukitan umumnya batuan vulkanik, sedangkan
di dataran rendah disusun oleh endapan aluvial. Curah hujan yang tinggi di daerah
perbukitan mengakibatkan aliran air permukaan menjadi cepat dan besar. Interaksi
dari seluruh kondisi tersebut dapat menimbulkan kerawanan terhadap terjadinya
bencana gerakan tanah.
Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka di wilayah Kabupaten Magetan
termasuk sangat rawan terjadi bencana gerakan tanah. Oleh karena itu, dianggap
perlu untuk dilakukan inventarisasi zona kerentanan gerakan tanah di wilayah
Kabupaten Magetan.

1.2 Rumusan Masalah
Bencana gerakan tanah seringkali mengakibatkan korban jiwa, kerugian
material, kehancuran lahan, infrastruktur dan berdampak pada laju pertumbuhan
daerah menjadi terhambat. Bencana gerakan tanah ini sering terjadi pada ruas-ruas
jalan yang disebabkan oleh faktor geologi, morfologi, curah hujan, dan jumlah
penduduk serta kegiatannya. Oleh karena itu berikut adalah rumusan masalah dalam
penelitian, yaitu:
1. Bagaimana hubungan parameter geomorfologi, litologi, kelerengan,
penggunaan lahan, dan curah hujan terhadap terjadinya gerakan tanah
pada ruas jalan di Kabupaten Magetan?
2. Apa saja klasifikasi dan fungsi jalan yang ada di daerah penelitian?
3. Bagaimana hubungan faktor-faktor yang berperan terhadap terjadinya
gerakan tanah pada ruas jalan dengan luas Zona Kerentanan Gerakan
Tanah di Kabupaten Magetan?
3

4. Bagaimana tingkat kerentanan gerakan tanah di daerah penelitian dengan
arahan penanggulangannya serta hubungannya dengan bencana longsor
yang ada pada ruas jalan di daerah penelitian?

1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memenuhi kurikulum yang
ditentukan oleh Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta untuk mendapatkan gelar kesarjanaan
Program Pendidikan Strata-1 (S1) dengan topik sesuai dengan teori yang didapatkan
di bangku perkuliahan serta aplikasinya.
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk:
1. Menentukan titik kejadian dan jenis gerakan tanah pada ruas jalan di
daerah penelitian serta hubungannya dengan faktor-faktor pengendalinya.
2. Menentukan zona kerentanan gerakan tanah terhadap ruas jalan yang
diwujudkan dalam bentuk peta zona kerentanan gerakan tanah.
3. Mengetahui kondisi ruas jalan terhadap kerentanan gerakan tanah di
sekitarnya.
4. Memberikan arahan terhadap pembangunan ruas jalan dan upaya
penanggulangan berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah.

1.4 Lokasi Penelitian
Luas daeran telitian adalah 16,66 km
2
dan telitian terletak pada koordinat
073910 074120 LS dan 1111207 1111550 BT. Secara administratif,
daerah telitian terdiri dari 5 wilayah Desa Sarangan, Desa Dadi, Desa Buluhgunung
dan Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Propinsi Jawa Timur
(Gambar 1.1).

4


Gambar 1.1 Peta indeks daerah penelitian

1.5 Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini berupa pembahasan titik gerakan tanah yang
dikendalikan oleh faktor geomorfologi dan rekomendasi berdasarka peta-peta
tematik yang memberikan informasi tentang daerah telitian, adapun beberapa peta
tersebut adalah :
1. Peta geologi, peta geomorfologi, peta kelerengan, peta sebaran titik-titik
kejadian gerakan tanah, peta penggunaan lahan, peta curah hujan, dan peta
tebal tanah.
2. Berdasarkan peta-peta tematik tersebut di atas dapat dibuat peta zonasi gerakan
tanah langsung (pengamatan lapangan) dan tak langsung (statistik).
3. Gabungan dari peta langsung dan tak langsung menghasilkan peta zonasi
kerentanan garakan tanah akhir.




5

1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan untuk memberikan data geologi yang dapat
digunakan dalam rencana pembangunan dan pengembangan wilayah. Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak.
1.6.1 Bagi Keilmuan
1. Memperbanyak khasanah pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan
tanah dalam hal hubungan teori dengan aplikasi di lapangan.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi di Jurusan Teknik
Geologi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
1.6.2 Bagi Masyarakat
1. Mengetahui lokasi rawan gerakan tanah, sekaligus mencakup jenis sebaran,
pengendalian, tingkat kerentanan dan upaya penanggulangannya.
2. Memberikan gambaran tentang tahapan yang tepat dalam pembangunan
bangunan teknik di daerah rawan bahaya gerakan tanah.
1.6.3 Bagi Pemerintah Kabupaten
1. Mengetahui lokasi rawan gerakan tanah pada ruas jalan, sekaligus
mencakup jenis sebaran, pengendalian, tingkat kerentanan di wilayah
Magetan.
2. Sebagai acuan untuk perencanaan, kebijakan, penataan, pengendalian,
evaluasi pembangunan fisik khususnya dan arah pembangunan yang akan
diambil oleh Pemerintah Kabupaten Magetan.
3. Sebagai bahan acuan membangun sistem informasi bencana gerakan tanah,
yaitu sebagai pusat data dan informasi bagi masyarakat yang ingin
mengembangkan pembangunan fisik khususnya pembangunan jalan di
wilayah Kabupaten Magetan.



6

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Geologi Regional
Secara fisiografi daerah Magetan (Gambar 2.1) termasuk Zona Randublatung dan
Depresi Tengah Jawa serta Zona Gunungapi Kuarter meliputi G. Lawu (Bemmelen,
1949).

Gambar 2.1 Peta tatanan fisiografi regional (Bemmelen, 1949).



7

Bentang alam Kabupaten Magetan terdiri dari Perbukitan volkanik Kwarter
dan Perbukitan volkanik Tersier. Perbukitan volkanik Kwarter dengan sumber erupsi
utamanya G. Lawu mempunyai penyebaran terluas di wilayah Kabupaten Magetan,
diawali dari puncak G. Lawu, menyebar ke arah timur , timurlaut dan tenggara.

2.1.1 Geomorfologi Regional
Secara morfografi dan morfogenesa, wilayah Kabupaten Magetan dapat dibagi
menjadi lima satuan bentuklahan yaitu:
1. Dataran Aluvial melampar di sebelah utara sampai selatan di bagian timur
Kabupaten Magetan, ketinggian antara 50 sampai 100 m diatas permukaan laut.
2. Kaki Gunungapi melampar di bagian utara ke selatan sampai bagian tengah
Kabupaten Magetan, ketinggian antara 100-150 m diatas permukaan laut.
3. Lereng Gunungapi terdapat dibagian tengah wilayah yang melampar luas dari
utara sampai selatan Kabupaten Magetan dengan ketinggian antara 150-950 m
diatas permukaan laut.
4. Kerucut Gunungapi terletak disebelah timur Kabupaten Magetan yang
berketinggian antara 550-3265 m diatas permukaan laut dan G. Lawu
merupakan puncak tertinggi.
5. Kerucut Parasiter terdapat di bagian tenggara G. Lawu, antara lain di G. Bancak,
G. Bungkuk dan G. Butak.

2.1.1.1 Morfometri Wilayah Kabupaten Magetan
Berdasarkan karakteristik lereng, Kabupaten Magetan terdiri dari beberapa
klas kelerengan, yaitu:
1. Kemiringan 0-5 % (0-3), merupakan wilayah datar dengan luas 180.17 km
2

atau 25.46% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
2. Kemiringan 5-30 % (3-17), merupakan wilayah bergelombang halus-sedang
dengan luas 146.56 km
2
atau 20.71% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
3. Kemiringan 30-50 % (17-27), merupakan wilayah bergelombang agak kasar
dengan luas 189.90 km
2
atau 26.83% dari luas wilayah Kabupaten Magetan.
8

4. Kemiringan 50-70 % (27-36), merupakan wilayah bergelombang kasar
dengan luas wilayah 128.47 km
2
atau 18,15% dari luas wilayah Kabupaten
Magetan.
5. Kemiringan >70 % (36-90), merupakan wilayah bergelombang sangat kasar
dengan luas wilayah 62.52 km
2
atau 8.83% dari luas wilayah Kabupaten
Magetan.
(Kabupaten Magetan, 2008, Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Kabupaten
Magetan, Pemerintah Kabupaten Magetan, hal 2-3.)

2.1.1.2 Sungai dan Pola Pengaliran
Di kabupaten ini terdapat beberapa sungai yang kemudian mengaliri lahan
pertanian di sekitarnya dan melalui permukiman. Salah satu sungai yang paling besar
adalah Sungai Gandong dengan panjang 138.1 km, yang melintasi Kecamatan
Plaosan, Poncol, Magetan, Sukomoro, Bendo, Jiwan dan Mangunrejo. Aliran sungai
yang panjang adalah aliran Sungai Purwodadi dan Bringin dengan panjang aliran
sungainya lebih dari 50.000 meter (Tabel 2.1).
Tabel 2.1 Daerah aliran sungai dan panjang sungai (2006).
No Kecamatan Nama Sungai Panjang
(Km)
1 Plaosan, Poncol, Magetan, Sukomoro,
Bendo, Jiwan, Mangunrejo
Gandong 138,1
2 Poncol, Plaosan, Magetan, Kawedanan,
Takeran
Bringin 56,3
3 Sukomoro, Bendo, Maospati, Jiwan,
Mangunrejo
Semawur 47,1
4 Jiwwan, Barat, Kwadungan Ngelang 43,1
5 Maospati, Jiwan, Barat, Kwadungan Ulo 35
6 Sukomoro, Karangrejo, Barat, Geneng,
Kwadungan
Purwodadi 124,6
Bersambung..
9

7 Karangrejo, Barat, Geneng Jungke 27,5
8 Panekan, Sukomoro, Karangrejo, paron,
Ngawi
Tinil 71,9
Sumber : Kabupaten Magetan dalam Angka Tahun 2007

Secara umum dijumpai dua jenis pola pengaliran utama, yaitu radial yang memancar
dari puncak Gunung Lawu di bagian barat, pola pengaliran subdendritik di daerah
perbukitan berelief halus-datar di bagian tengah, dan batang sungai-sungai besar di
daerah dataran yang merupakan akumulasi dari dari sungai-sungai kecil.

2.1.1.3 Satuan Akifer
Pola sebaran akifer di wilayah Kabupaten Magetan memperlihatkan
hubungan yang erat dengan kondisi topografi dan pola sebaran litologinya (Gambar
3.5). Di wilayah Kabupaten Magetan terdapat tiga jenis akifer, yaitu aliran melalui
ruang antar butir, aliran melalui celahan dan ruang antar butir, serta akifer bercelah
atau sarang (Tabel 2.2).
Tabel 2.2 Jenis akifer di Kabupaten Magetan.
NO AKIFER
PRODUK
TIVITAS
LITOLOGI KETERANGAN
1
Aliran
melalui
ruang antar
butir
Akifer
dengan
produktifitas
sedang-
tinggi, dan
setempat
Aluvium (endapan pantai,
endapan sungai, endapan
aluvium dataran) dan
endapan volkanik muda
(tufa, lahar, breksi, lava
andesit-basal). Kelulusan
rendah-tinggi
Akifer dengan keterusan
rendah-tinggi (setempat
tidak menerus), air tanah
dekat, debit sumur 5-10
lt/detik dan lebih dari 10
lt/detik (setempat kurang
dari 5 lt/detik)
Lanjutan Hal.8
Bersambung.
10

2
Aliran
melalui
celahan &
ruang antar
butir
Akifer
produktifitas
tinggi,
sedang,
sedang-
tinggi, dan
setempat.
Endapan vulkanik muda
(tufa, lahar, breksi, lava
andesit-basal) dan aliran
lava (andesit-basal).
Kelulusan tinggi, setempat
berkelulusan rendah.
Akifer berketerusan dan
kedalaman muka airtanah
sangat beragam (dalam),
debit sumur kurang dari 5
lt/detik, kecil (dapat
diturap), setempat debit air
lebih dari 5 lt/detik.
3
Akifer
bercelah
atau sarang
Akifer
dengan
produktifitas
kecil dan
daerah air
tanah langka
Endapan vulkanik muda,
aliran lava (andesit-basal),
campuran endapan
vulkanik (breksi, tufa, dan
lava), batuan vulkanik
bersifat asam mengandung
leusit dan batuan terobosan
Daerah airtanah langka dan
setempat airtanah dangkal
dalam jumlah terbatas
dapat diperoleh pada zona
pelapukan dari batuan
padu.
Sumber Peta Hidrogeologi lembar Magetan (Soekardi Poespoardoyo, DGTL, 1981)

2.1.2 Stratigrafi Regional
Stratigrafi wilayah Kabupaten Magetan berdasarkan peta geologi lembar
Ponorogo yang disusun oleh Sidarto, dkk (1993) terdiri atas beberapa formasi yaitu :
2.1.2.1 Batuan Sedimen
Batuan sedimen terdiri dari satu satuan batuan, yaitu:
1. Formasi Dayakan (Tomd) : perselingan batupasir dan batulempung. Batupasir,
berwarna kelabu kehijauan, bila lapuk berwarna coklat kemerahan; berukuran
halus hingga kasar, menyudut tanggung hingga membundar tanggung; terdiri
dari kuarsa, feldspar dan mineral mafik; terpilah sedang dengan perekat silika
dan oksida besi. Umumnya berlapis baik, dengan tebal antara 25-75 cm.
Batupasir yang berbutir kasar banyak mengandung komponen batuan beku,
sebagian berstruktur perlapisan bersusun. Bagian yang berbutir halus-sedang
umumnya menampakkan struktur perairan sejajar. Setempat batupasir tersebut
bersifat tufan yang ditunjukkan oleh pelapukannya yang berwarna merah hati.
Batulempung berwarna kuning kecoklatan, berlapis baik, sebagian kompak dan
keras, berfosil. Sebagai lapisan perulangan dengan batupasir, tebalnya berkisar
Lanjutan Hal.9
11

antara 20-50 cm. Tebal satuan berdasarkan penampang mencapai lebih dari 600
m.
2. Formasi Nglanggran (Tmn) : Terdiri dari breksi gunungapi, batupasir dan
setempat merupakan perselingan. Penyebarannya terdapat di bagian selatan dari
daerah pemetaan yaitu daerah G. Pancet dan G. Bancak.
Secara setempat terdapat perselingan breksi volkanik dan batupasir. Bagian
bawah dari formasi ini terdapat breksi batuapung, batupasir kerikilan, batupasir
dan batulempung (Formasi Semilir/Tms) yang berhubungan menjari dengan
batuan breksi volkanik-batupasir dari Formasi Nglanggran (Tmn).
2.1.2.2 Batuan Gunungapi
Batuan gunungapi terdiri dari sepuluh satuan batuan, yaitu:
1 Tuf Jobolarangan (Qvjt) : Terdiri dari tuf lapili dan breksi batuapung.
Penyebarannya terdapat di bagian selatan dari daerah pemetaan yaitu di daerah
Nitikan, Banaran, Manding dan daerah Ngarejeng. Tanah pelapukan umunya
berupa lanau lempungan, warna coklat kemerahan, umumnya bersifat lunak
sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan ketebalan tanah pelapukan 1,5-3
m.
2 Tuf Butak (Qvbt) : Terdiri dari tuf bersusunan andesit hasil letusan kerucut
parasiter G. Butak. Penyebaran terdapat di sebelah selatan Sambiroto. Tanah
pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat-coklat kemerahan,
umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan
ketebalan tanah pelapukan 1,5-2 m.
3 Lava Butak (Qvbl) : Lava andesit. Lava, kelabu kehitaman;
porfiritik,bersusunan andesit; terdiri dari plagioklas, kuarsa, feldspar dan
sedikit horenblenda; masadasar mikrolit plagioklas dan kaca. Feldspar sebagian
besar terubah menjadi lempung. Aliran lava ini diduga berasal dari kerucut
parasit G. Butak, berstruktur melembar, sebagian meniang. Tebal lebih dari 2
m.
4 Tuf Tambal (Qvtt) : Terdiri dari breksi tuf dengan penyebaran yang sangat
sempit, yaitu terdapat di daerah Plangkrongan. Tanah pelapukan umunya
berupa lanau lempungan-lanau pasiran, warna coklat kemerahan, umunya
12

bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan ketebalan tanah
pelapukan 1,5-3 m.
5 Breksi Jobolarangan (Qvjb) : Terdiri dari breksi gunungapi, sisipan lava
andesit. Penyebarannya terdapat di daerah Ngledok, Plalangan, Gading,
Menjing, G. Tunggang.
6 Lava Sidoramping (Qvsl) : Terdiri dari aliran lava andesit dari kompleks G.
Sidoramping, G. Puncakdalang, G. Kukusan dan G. Ngampiyungan. Tanah
pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat kemerahan,
umunya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang-tinggi, dengan
ketebalan tanah pelapukan 1-2 m.
7 Lava Jobolarangan (Qvjl) : Terdiri dari aliran lava andesit Jobolarangan (G.
Lawu tua). Sebarannya menempati di bagian tengah daerah pemetaan, yaitu
meliputi daerah G. Jobolarangan, Selobentar dan Pelem. Tanah pelapukan
umumnya berupa lanau pasiran, warna coklat kemerahan, umunya bersifat
lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan ketebalan tanah pelapukan
1,5-2 m.
8 Batuan Gunungapi Lawu (Qvl) : Satuan batuan ini terdiri dari tufa breksian,
breksi tufaan, sisipan lava andesit, berwarna abu-abu kehitaman, kompak,
keras, merupakan hasil kegiatan dari G. Lawu. Penyebarannya terdapat pada
lereng G. Lawu. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau, warna coklat
kemerahan, umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas tinggi,
dengan ketebalan tanah pelapukan 1-2 m.
9 Lava Anak (Qval) : Merupakan aliran lava andesit dari kerucut parasit G. Anak.
Tersebar di bagian timur laut G. Lawu yaitu di daerah Kp. Malang dan Kp.
Wonorejo 2. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau lempungan warna coklat
kemerahan, umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang-
tinggi, dengan ketebalan tanah pelapukan 1-1,5 m.

13


Sumber Peta Geologi Lembar Ponorogo (Sidarto,dkk, 1993)

Gambar 2.2 Stratigrafi Kabupaten Magetan.
14

10 Lava Condrodimuko (Qvcl) : Terdiri dari aliran lava andesit dari kawah
Condrodimuko. Penyebarannya terdapat di lereng bagian selatan G. Lawu.
Tanah pelapukan umumnya berupa lanau pasiran, warna coklat kemerahan,
umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan
ketebalanntanah pelapukan 1-2 m.
11 Lahar Lawu (Qlla) : endapan lahar. Lahar, komponen terdiri dari andesit, basal
dan sedikit batuapung bercampur dengan pasir gunungapi; membentuk
perbukitan rendah atau mengisi dataran di kaki gunungapi. Sebarannya luas, ke
arah timur berangsur berubah menjadi endapan aluvium.

Gambar 2.3 Peta geologi wilayah Kabupaten Magetan.

15

2.1.3 Struktur Geologi dan Tektonika
Struktur geologi yang dijumpai di daerah pemetaan adalah sesar dan kekar yang
berupa sesar normal dan sesar geser, mensesarkan patahan yang lebih dahulu
terbentuk.
Pada zona sesar merupakan daerah yang lemah, sehingga umumnya pada daerah ini
banyak berkembang peristiwa alam gerakantanah. Struktur sesar biasanya dicirikan
oleh gawir-gawir tegak memanjang seperti terdapat di daerah G. Cemoro Penganten
dan G. Puncakdalang. Oleh karena itu faktor geologi akan dipertimbangkan dalam
pemetaan zona kerentanan gerakantanah. Struktur kekar dijumpai pada lava andesit,
yaitu berupa kekar tiang dan kekar lembaran, seperti yang dijumpai di daerah G.
Lawu. Sesar-sesar lain umumnya berarah barat-timur, baratlaut-tenggara, dan
baratdaya-timurlaut menempati komplek batuan volkanik Lawu Tua dan sebagian
kecil batuan volkanik Lawu Muda. Sesar atau kekar juga ditemui pada batuan
volkanik Tersier yang mepunyai arah barat daya-timurlaut, seperti didaerah G.
Bungku, G. Bancak dan G. Pacet. Adanya struktur sesar, kekar juga sangat
berpengaruh terhadap terjadinya gerakantanah.
Gambar 2.4 Struktur geologi Jawa Timur (Sudrajat, Untung, dkk, 1975).

16


Gambar 2.5 Peta kerangka tektonik Jawa Tengah-Jawa Timur bagian utara (Sutarso
& Suyitno, 1976).

2.2 Dasar teori
2.2.1 Pengertian Gerakan Tanah
Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan,
bahan timbunan, tanah atau material campuran tersebut, bergerak ke arah bawah dan
keluar lereng (Varnes, 1978). Konsep gerakan tanah berdasarkan jenis material, ada
dua macam lereng, yaitu lereng batuan dan tanah. Dalam analisis dan penentuan jenis
tindakan pengamanannya, tidak dapat disamakan karena parameter material dan jenis
penyebab longsor di kedua lereng tersebut berbeda.
Dalam keadaan tidak terganggu (alamiah), tanah atau batuan umumnya
berada dalam keadaan seimbang terhadap gaya-gaya yang timbul dari dalam. Apabila
mengalami perubahan keseimbangan, maka tanah atau batuan itu akan berusaha
untuk mencapai keadaan keseimbangan yang baru secara alamiah. Cara ini berupa
proses degradasi atau pengurangan beban, terutama dalam bentuk longsoran atau
gerakan lain sampai tercapai keadaan keseimbangan yang baru.
17

Pada tanah atau batuan dalam keadaan tidak terganggu (alamiah) telah
bekerja tegangan-tegangan vertikal, horisontal dan tekanan air pori. Ketiga hal di atas
mempunyai peranan penting dalam membentuk kemantapan lereng.

2.2.2 Jenis-Jenis Gerakan Tanah
- Jenis Gerakan Tanah berdasar Klasifikasi Varnes (1978) dan Direktorat
Geologi Tata Lingkungan (1996) :
1. Runtuhan (falls) adalah runtuhnya/jatuhnya sebagian massa batuan atau tanah
penyusun lereng yang terjal, dengan sedikit atau tanpa disertai terjadinya
pergeseran antara massa yang runtuh dengan massa yang tidak runtuh.
2. Robohan (topples) adalah robohnya batuan yang umumnya bergerak melalui
bidang-bidang diskontinuitas (bidang-bidang yang tidak menerus) yang sangat
tegak pada lereng. Seperti halnya pada runtuhan, bidang-bidang diskontinuitas
ini berupa bidang-bidang kekar atau retakan pada batuan.
3. Longsoran (slide) adalah gerakan menuruni lereng oleh suatu massa tanah dan
atau batuan penyusun lereng, melalui bidang gelincir pada lereng, atau pada
bidang regangan geser yang relatif tipis.
4. Bidang gelincir atau bidang regangan geser ini dapat berupa bidang yang relatif
lurus (translasi) ataupun bidang lengkung ke atas (rotasi).
5. Pencaran lateral (lateral spread) adalah material tanah atau batuan yang
bergerak dengan cara perpindahan translasi pada bidang dengan kemiringan
landai sampai datar, pergerakan terjadi pada lereng atau lahan yang tersusun
oleh lapisan tanah/batuan yang lunak, yang terbebani oleh massa tanah/batuan
yang berada di atasnya
6. Aliran (flows) yaitu aliran massa yang bersifat plastik atau berupa aliran fluida
kental.



18

Tabel 2.3 Klasifikasi Gerakan Tanah (Varnes, D. J., 1978) dan
Direktorat Geologi Tata Lingkungan (1996).
No
Jenis gerakan
tanah
Jenis material
Batuan Tanah
1 Jatuhan Jatuhan batuan Jatuhan tanah
2 Robohan Robohan batuan Robohan tanah
3 Longsoran
a. Rotasi
b. Translasi

Nendatan batuan
Longsoran
batuan

Nendatan tanah
Longsoran
tanah
4 Pencaran lateral Pencaran lateral Pencaran lateral
5 Aliran Aliran batuan Aliran tanah
6 Kombinasi
-
Runtuhan (falls) adalah runtuhnya/jatuhnya sebagian massa batuan atau tanah
penyusun lereng yang terjal, dengan sedikit atau tanpa disertai terjadinya pergeseran
antara massa yang runtuh dengan massa yang tidak runtuh. Hal ini berarti runtuhnya
massa batuan atau tanah umumnya dengan cara jatuh bebas, meloncat atau
menggelinding tanpa melalui bidang gelincir. Proses terjadinya runtuhan pada lereng
dapat berlangsung sangat cepat, yaitu lebih dari 3 m/menit (Varnes, 1996), Penyebab
terjadinya runtuhan dapat berupa hilangnya penyangga lereng dari arah lateral,
karena pemotongan lereng, penggalian, pelapukan, erosi oleh sungai atau abrasi
gelombang laut. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kehadiran
bidang-bidang diskontinuitas (bidang-bidang yang tidak menerus), seperti
retakan-retakan atau kekar-kekar pada batuan juga berperan penting dalam
mengakibatkan runtuhan/jatuhan. Material yang runtuh biasanya bergerak tidak jauh
dari kedudukan aslinya dan berakumulasi di dasar tempat jatuh. Adanya getaran pada
lereng juga dapat memicu terjadinya runtuhan/jatuhan massa batuan (Gambar 2.6).

19










Gambar 2.6 Model gerakan tanah tipe jatuhan tanah.

Robohan (topples) adalah robohnya batuan yang umumnya bergerak melalui
bidang-bidang diskontinuitas (bidang-bidang yang tidak menerus) yang sangat tegak
pada lereng. Seperti halnya pada runtuhan, bidang-bidang diskontinuitas ini berupa
bidang-bidang kekar atau retakan pada batuan. Robohan ini biasanya terjadi pada
batuan dengan kelerengan sangat terjal sampai tegak dan dapat dipengaruhi oleh
tekanan cairan (misalnya tekanan air) yang mengisi bidang-bidang retakan atau
kekar. Pergerakan/robohnya batuan seperti pohon roboh lihat Gambar 2.7.









Gambar 2.7 Runtuhan batuan.


20

Longsoran (slide) adalah gerakan menuruni lereng oleh suatu massa tanah
dan atau batuan penyusun lereng, melalui bidang gelincir pada lereng, atau pada
bidang regangan geser yang relatif tipis. Bidang gelincir tersebut merupakan bidang
dimana tegangan geser berkembang paling intensif. Gerakan terjadi sebagai akibat
dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Varnes (1978)
menjelaskan bahwa pergerakan terjadi di sepanjang bidang gelincir secara tidak
serempak. Seringkali dijumpai tanda-tanda awal gerakan berupa retakan berbentuk
lengkung tapal kuda pada bagian permukaan lereng yang mulai bergerak. Munculnya
retakan ini tidak langsung seketika diikuti oleh bergeraknya seluruh bagian bidang
gelincir. Seringkali ada jeda waktu antara terjadinya retakan awal dengan terjadinya
pergerakan seluruh bagian bidang gelincir. Jeda waktu ini dapat berkisar selama
beberapa jam hingga beberapa tahun. Bahkan dapat pula terjadi pembentukan retakan
pada lereng tidak diikuti dengan pergerakan keseluruhan bidang gelincir, tergantung
pada kondisi geologi dan hidrologi pada lereng, serta tergantung pada aktivitas
pemicu gerakan.

Gambar 2.8 Model gerakan tanah tipe longsoran (a. longsoran rotasi/nendatan, b.
longsoran translasi).

21


Bidang gelincir atau bidang regangan geser ini dapat berupa bidang yang
relatif lurus (translasi) ataupun bidang lengkung ke atas (rotasi), seperti yang terlihat
pada Gambar 2.8. Kedalaman bidang gelincir pada longsoran jenis translasi
umumnya lebih dangkal daripada kedalaman bidang gelincir longsoran rotasi.









Gambar 2.9 Model gerakan tanah tipe luncuran di bagian lereng atas yang
kemudian berkembang menjadi aliran material hasil luncuran
(batu bercampur tanah).









Gambar 2.10 Bentuk-bentuk dari longsoran translasi dan longsoran rotasi.
22

Material yang bergerak secara translasi dapat berupa blok (rock block slide),
rock slide, sedangkan pada bahan rombakan yang bergerak berupa banyak unit
(debris slide).
Longsoran yang bergerak secara rotasi melalui bidang gelincir lengkung
disebut sebagai nendatan (Gambar 2.10a-b). Nendatan umumnya terjadi pada lereng
yang tersusun oleh material yang relatif homogen. Pergerakan rotasi ini
mengakibatkan terbentuknya gawir berbentuk tapal kuda di bagian lereng atas, serta
dicirikan dengan terjadinya penurunan tanah (graben) dan permukaan tanah pada
bagian atas lereng. Akibat penurunan tanah ini umumnya permukaan tanah yang
mengalami penurunan menjadi miring ke arah belakang lereng. Pergerakan rotasi
pada nendatan cenderung berakhir apabila massa yang bergerak telah mencapai
kesetimbangan, yaitu apabila posisi massa sudah bergeser di atas bidang gelincir
yang melengkung ke arah puncak lereng. Sebaliknya, longsoran translasi dengan
bidang gelincir yang miring curam (Gambar 2.10c-e), pergerakan massa
tanah/batuannya lebih sulit untuk dihambat









Gambar 2.11 Model gerakan tipe nendatan tanah (luncuran lengkung).

Pencaran lateral (lateral spread) adalah material tanah atau batuan yang
bergerak dengan cara perpindahan translasi pada bidang dengan kemiringan landai
sampai datar. Pergerakan terjadi pada lereng atau lahan yang tersusun oleh lapisan
tanah/batuan yang lunak, yang terbebani oleh massa tanah/batuan yang berada di
atasnya (Gambar 2.11). Pembebanan inilah yang mengakibatkan lapisan
23

tanah/batuan lunak tergencet (tertekan) dan mengembang ke arah lateral. Jadi
pergerakan tersebut merupakan kombinasi akibat amblesnya sebagian massa
batuan/tanah yang bergerak ke dalam tanah/batuan dasarnya yang sifatnya lebih
lunak, serta mengembangnya massa tanah atau batuan akibat tertekan oleh beban
massa batuan di atasnya. Massa batuan/tanah yang bergerak umumnya bukan
sebagai massa yang menerus, tetapi berupa blok-blok atau pecahan-pecahan
tanah/batuan. Pencaran ini berbeda menyolok dari longsoran karena bidang
pergerakannya bukan merupakan bidang dimana tegangan geser berkembang paling
intensif.









Gambar 2.12 Model rayapan dengan diikuti amblesan tanah.

Pencaran lateral dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama yaitu gerakan
tersebar ke segala arah, umumnya terjadi pada batuan terutama bagian puncak bukit,
Jenis kedua gerakan dengan bentuk blok atau pecahan massa koheren, baik berupa
batuan maupun tanah yang bergerak secara bersama.
Aliran (flows) yaitu aliran massa yang bersifat plastik atau berupa aliran
fluida kental (Gambar 2.13 dan 2.14). Aliran ini dapat juga terjadi pada batuan tetapi
lebih sering terjadi pada bahan rombakan yang merupakan percampuran antara
material tanah (berbutir halus) dan hancuran-hancuran batuan (berbutir kasar).




24









Gambar 2.13 Model gerakan kombinasi antara nendatan di lereng bagian atas
kemudian berkembang menjadi aliran tanah bercampur
batu pada lereng bagian tengah.







Gambar 2.14 Gambaran dari debris flow (Varnes, 1978)

Material tanah yang berbutir halus ini umumnya berukuran butir pasir
(berdiameter butir sekitar 2 mm) hingga lempung (berdiameter butir sekitar 2 m
atau lebih halus), sedangkan hancuran-hancuran batuan dapat berukuran kerikil
(berdiameter butir lebih kasar dari 2 mm) hingga bongkah-bongkah (berdiameter
sekitar 25 cm hingga beberapa meter. Aliran pada bahan rombakan (debris) dapat
dibedakan lagi menjadi aliran bahan rombakan (debris flow), aliran tanah (earth
flow) apabila massa yang bergerak didominasi oleh material tanah berukuran butir
halus (terutama berukuran butir lempung) dan aliran lumpur (mud flow) apabila
massa yang bergerak jenuh air. Jenis lain dari aliran ini adalah aliran kering yang
biasa terjadi pada endapan pasir (dry flow). Menurut Direktorat Geologi Lingkungan
25

(1996) jenis aliran yang paling sering terjadi adalah aliran bahan rombakan (debris
flow), yang bergerak dalam massa yang kental dengan presentase berat material
padat 70% - 80%.
Di alam sering pula terjadi gerakan tanah yang dengan mekanisme gabungan
dari dua atau lebih jenis gerakan tanah di atas. Gerakan tanah tersebut
diklasifikasikan sebagai gerakan jenis komplek.
Bencana alam longsoran tanah yang banyak terjadi di Indanesia, merupakan
salah satu jenis gerakan tanah. Apabila massa yang bergerak ini didominasi oleh
massa tanah dan gerakannya melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang
miring ataupun lengkung, maka proses pergerakan tersebut disebut sebagai longsoran
tanah.

2.2.3 Faktor-faktor Penyebab Gerakan Tanah
Faktor-faktor penyebab gerakan tanah merupakan fenomena yang
mengkondisikan suatu lereng menjadi berpotensi untuk bergerak atau longsor,
meskipun pada saat ini lereng tersebut masih stabil (belum longsor). Lereng yang
berpotensi untuk bergerak ini baru akan bergerak apabila ada gangguan yang memicu
terjadinya gerakan. Faktor-faktor penyebab ini umumnya merupakan fenomena alam
(meskipun ada yang bersifat non alamiah), sedangkon gangguan pada lereng atau
faktor penyebab dapat berupa proses alamiah atau pengaruh dari aktivitas manusia
ataupun kombinasi antara keduanya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan dan mengacu pula pada Varnes (1978)
dan Direktorat Geologi Tata Lingkungan (1996) mengidentifikasi faktor-faktor
pengontrol terjadinya gerakan tanah sebagai berikut:
1. Kondisi geomorfologi (kemiringan lereng)
2. Kondisi tanah/batuan penyusun lereng
3. Kondisi iklim
4. Kondisi hidrologi lereng
5. Erosi sungai
6. Getaran
26

7. Aktivitas manusia

2.2.3.1 Kondisi Geomorfologi (kemiringan lereng)
Sebagian besar wilayah di Indonesia merupakan wilayah perbukitan dan
pegunungan, sehingga banyak dijumpai lahan yang miring. Lereng atau lahan yang
miring ini berpotensi atau berbakat untuk mengalami gerakan tanah. Semakin besar
kemiringan suatu lereng dapat mengakibatkan semakin besarnya gaya penggerak
massa tanah/batuan penyusun lereng.
Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua lahan yang miring selalu
rentan untuk bergerak. Jenis, struktur, dan komposisi tanah/batuan penyusun lereng
juga berperan penting dalam mengontrol terjadinya gerakan tanah. Sering kita jumpai
di lapangan, lereng batuan yang kompak dan masif akan tetap berciri tegak dan
stabil, meskipun lereng tersebut merupakan tebing yang curam. Hal ini disebabkan
karena masif dan kompaknya batuan penyusun lereng (kohesi dan kuat gesernya
cukup besar untuk mempertahankan kestabilan lereng)
Gerakan tipe luncuran dan nendatan cenderung terjadi pada lereng lebih
curam dari 20. Sebaliknya, gerakan tipe rayapan akan terjadi pada lereng dengan
kemiringan landai (20).

2.2.3.2 Kondisi Tanah/Batuan Penyusun Lereng
Kondisi tanah/batuan penyusun lereng sangat berperan dalam mengontrol
terjadinya gerakan tanah. Meskipun suatu lereng cukup curam, namun gerakan tanah
belum tentu terjadi apabila kondisi tanah/batuan penyusun lereng tersebut cukup
kompak dan kuat. Perlapisan batuan yang miring ke arah luar lereng dapat
menyebabkan terjadinya longsoran atau gerakan tanah, misalnya perlapisan pada
batubara, napal dan batulempung. Batuan-batuan tersebut umumnya
terpotong-potong oleh kekar-kekar (retakan-retakan), sehingga sangat labil atau
berpotensi untuk meluncur/bergerak disepanjang bidang perlapisan atau bidang kekar
tersebut. Penggalian-penggalian pada lereng batuan sangat berpotensi untuk memicu
terjadinya luncuran/gerakan batuan-batuan tersebut.

27


2.2.3.2 Kondisi Iklim
Kondisi iklim di Indanesia sangat berperan dalam mengontrol terjadinya
longsoran. Temperatur dan curah hujan yang tinggi sangat mendukung terjadinya
proses pelapukan batuan pada lereng (proses pembentukan tanah). Akibatnya adalah
sangat sering dijumpai lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah yang ketebalannya
dapat mencapai lebih dari 10 meter. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dapat
diketahui bahwa lereng dengan tumpukan tanah yang lebih tebal relatif lebih rentan
terhadap gerakan tanah.
Curah hujan yang tinggi atau curah hujan tidak terlalu tinggi tetapi berlangsung lama,
sangat berperan dalam memicu terjadinya gerakan tanah. Air hujan yang meresap ke
dalam lereng dapat meningkatkan penjenuhan tanah pada lereng sehingga tekanan air
yang merenggangkan ikatan antar butir tanah meningkat, akhirnya massa tanah
tersebut bergerak longsor.

2.2.3.3 Kondisi Hidrologi Lereng
Kondisi hidrologi dalam lereng berperan dalam hal meningkatkan tekanan
hidrostatis air dalam tanah/batuan sehingga kuat geser tanah/batuan akan sangat
berkurang dan gerakan tanah dapat terjadi.
Lereng yang muka air tanahnya dangkal atau lereng dengan akuifer
menggantung, sangat sensitif mengalami kenaikan tekanan hidrostatis apabila air
permukaan meresap ke dalam lereng. Selain itu, jalur-jalur pipa alamiah/retakan
batuan sering pula menjadi tempat masuknya air ke dalam lereng. Apabila semakin
banyak air yang masuk melewati jalur tersebut, tekanan air juga akan semakin
meningkat. Mengingat jalur - jalur tersebut merupakan bidang yang kuat gesernya
lemah (umumnya kohesi dan sudut gesekan dalamnya rendah), maka kenaikan
tekanan air ini akan sangat mudah menggerakkan lereng melalui jalur tersebut.




28

2.2.3.4 Erosi Sungai
Gerakan tanah akibat erosi sungai umumnya terjadi pada kelokan sungai. Hal
ini terjadi karena pada bagian bawah lereng tererosi sehingga lereng menjadi tidak
stabil.

2.2.3.5 Getaran
Getaran memicu longsoron dengan cara melemahkan atau memutuskan
hubungan antar butir partikel-partikel penyusun tanah/batuan pada lereng. Jadi
getaran berperan dalam menambah gaya penggerak dan sekaligus mengurangi gaya
penahan. Contoh getaran yang memicu longsoran adalah getaran gempa bumi yang
diikuti dengan peristiwa liquifaction. Liquifaction terjadi apabila pada lapisan pasir
atau lempung jenuh air terjadi getaran yang periodik. Pengaruh getaran tersebut akan
menyebabkan butiran-butiran pada lapisan akan saling menekan dan kandungan
airnya akan mempunyai tekanan yang besar terhadap lapisan di atasnya. Akibat
peristiwa tersebut lapisan di atasnya akan seperti mengambang, karena getaran
tersebut dapat mengakibatkan perpindahan massa di atasnya dengan cepat.

2.2.3.6 Aktivitas Manusia
Selain disebabkan oleh faktor alam, pola penggunaan lahan juga berperan
penting dalam memicu terjadinya longsoran, Pembukaan hutan secara sembarangan,
penanaman jenis pohon yang terlalu berat dengan jarak tanam terlalu rapat,
pemotongan tebing/lereng untuk jalan dan pemukiman merupakan pola penggunaan
lahan yang dijumpai di daerah yang longsor.
Pembukaan hutan dan pencurian kayu hutan untuk keperluan manusia,
seperti misalnya untuk mencukupi kebutuhan hidup, perladangan, persawahan
dengan irigasi, kolam-kolam dan penanaman tumbuhan yang berakar serabut dapat
berakibat menggemburkan tanah. Peningkatan kegemburan tanah ini akan menambah
daya resap tanah terhadap air, akan tetapi air yang meresap ke dalam tanah tidak
dapat banyak terserap oleh akar-akar tanaman serabut. Hal ini berakibat air hanya
terakumulasi dalam tanah dan akhirnya menekan dan melemahkan ikatan-ikatan
antar butir tanah. Karena besarnya curah hujan yang meresap, maka longsoran tanah
akan terjadi.
29

Pemotongan lereng untuk jalan, penambangan dan pemukiman juga dapat
mengakibatkan hilangnya peneguh lereng dari arah lateral. Hal ini selanjutnya
mengakibatkan kekuatan geser lereng untuk melawan pergerakan massa tanah
terlampaui oleh tegangan penggerak massa tanah. Akhirnya longsoran tanah pada
lereng akan terjadi.

2.2.4 Teori Dasar Gerakan Tanah
Pada permukaan tanah yang tidak horisontal, komponen gravitasi cenderung
untuk menggerakkan tanah ke bawah. Jika komponen gravitasi sedemikian besar
sehingga perlawanan terhadap geseran yang dapat dikembangkan oleh tanah pada
bidang longsornya terlampaui, maka akan terjadi longsoran. Analisis stabilitas tanah
pada permukaan yang miring ini, biasanya disebut dengan analisis stabilitas lereng.
Analisis ini sering dijumpai pada perancang-perancang bangunan seperti: jalan,
kereta api, jalan raya, bandara, bendungan urugan tanah, saluran, dan lain-lainnya.
Umumnya, anlisis stabilitas dilakukan untuk mengecek keamanan dari lereng alam,
lereng galian, dan lereng urugan tanah.










Gambar 2.15 Distribusi gaya pada permukaan miring.

Analisis stabilitas lereng tidak mudah karena terdapat banyak faktor yang
sangat mempengaruhi hasil perhitungannya. Faktor-faktor tersebut misalnya, kondisi
tanah yang berlapis-lapis, kuat geser tanah anisotropis, aliran rembesan air dalam
tanah dan lain-lainnya. Terzaghi (1950) membagi penyebab longsoran lereng terdiri
30

dari akibat pengaruh dalam (internal effect) dan pengaruh luar (external effect).
Pengaruh luar, yaitu pengaruh yang menyebabkan bertambahnya gaya geser dengan
tanpa adanya perubahan kuat geser dari tanahnya. Contohnya, akibat perbuatan
manusia mempertajam kemiringan tebing atau memperdalam galian tanah dan erosi
sungai. Pengaruh dalam, yaitu longsoran yang terjadi dengan tanpa adanya
perubahan kondisi luar atau gempa bumi. Contoh yang umum untuk kondisi ini
adalah pengaruh bertambahnya tekanan air pori di dalam lerengnya.

2.2.5 Teori Analisis Stabilitas Lereng
Dalam praktek, analisis stabilitas lereng didasarkan pada konsep
keseimbangan plastis batas (limit plastic equilibrium). Adapun maksud analisis
stabilitas adalah untuk menentukan faktor aman dari bidang longsor yang potensial.
Dalam analisis stabilitas lereng, beberapa anggapan telah dibuat yaitu :
1. Kelongsoran lereng terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor tertentu dan
dapat dianggap sebagai masalah bidang 2 dimensi.
2. Massa tanah yang longsor dianggap berupa benda yang massif.
3. Tahanan geser dari massa tanah pada setiap titik sepanjang bidang longsor
tidak tergantung dari orientasi permukaan longsoran, atau dengan kata lain kuat
geser tanah dianggap isotropis.
4. Faktor aman didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser rata-rata
sepanjang bidang longsor yang potensial dan kuat geser tanah rata-rata
sepanjang permukaan longsoran. Jadi kuat geser tanah mungkin terlampaui di
titik-titik tertentu pada bidang longsornya, padahal faktor aman hasil hitungan
lebih besar 1.
Faktor aman didefinisikan sebagai nilai banding antara gaya yang menahan dan
gaya yang menggerakkan, atau :
d
F
t
t
= ( 2.1 )
Dimana t adalah tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah, t
d
adalah
tegangan geser yang terjadi akibat gaya berat tanah yang akan longsor, dan F adalah
faktor aman.
31

Menurut teori Mohr Coulomb, tahanan terhadap tegangan geser (t ) yang
dapat dikerahkan oleh tanah, di sepanjang bidang longsornya, dapat dinyatakan oleh
: o t + = c u tg ( 2.2 )
dengan c adalah kohesi, o adalah tegangan normal, dan u adalah sudut gesek dalam
tanah. Nilai-nilai c dan u adalah parameter kuat geser tanah di sepanjang bidang
longsornya.
Dengan cara yang sama, dapat dituliskan persamaan tegangan geser yang
terjadi (t
d
) akibat beban tanah dan beban-beban lain pada bidang longsornya :
o t + =
d d
c
d
tgu ( 2.3 )
dengan c
d
dan u
d
adalah kohesi dan sudut gesek dalam yang terjadi atau yang
dibutuhkan untuk keseimbangan pada bidang longsornya :
Subtitusi persamaan ( 2.2 ) dan ( 2.3 ) ke persamaan ( 2.1 ) diperoleh
persamaan faktor aman
d d
tg c
tg c
F
u o
u o
+
+
= ( 2.4 )
Persamaan ( 2.4 ) dapat pula dituliskan dalam bentuk :
o +
d
c
d
tgu =
F
tg
F
c u
o + ( 2.5 )
Untuk maksud memberikan faktor aman terhadap masing-masing komponen kuat
geser, faktor aman dapat dinyatakan oleh :
d
c
c
c
F = ( 2.6a )
d
tg
tg
F
u
u
u
= ( 2.6b )
32

dengan Fc adalah faktor aman pada komponen kohesi dan Fu adalah faktor aman
pada komponen gesekan. Umumnya faktor aman terhadap kuat geser tanah diambil
lebih besar atau sama dengan 1,2.

2.2.6 Analisis Stabilitas Lereng Dengan Bidang Longsor Datar
Suatu kondisi dimana tanah dengan tebal H yang mempunyai permukaan
miring, terletak di atas lapisan batuan dengan kemiringan yang sama. Lereng seperti
ini disebut lereng tidak terhingga karena mempunyai panjang yang sangat lebih besar
dibandingkan dengan kedalamannya (H). Jika diambil elemen tanah selebar b, gaya-
gaya yang bekerja pada dua bidang vertical mendekati sama, karena pada lereng
tidak terhingga gaya-gaya yang bekerja di setiap sisi bidangnya dapat dianggap
sama. Dalam analisis kestabilan lereng tak terhingga ini dapat dibagi dua, yaitu :
2.2.6.1 Kondisi Tanpa Rembesan
Analisa kestabilan lereng ini mengasumsikan didalam lereng tidak terdapat
aliran air tanah, atau dalam kata lain dalam keadaan kering.

o

o o tg
tg
tg H
c
F + =
2
cos

dengan :
F = faktor aman
sat
= berat volume tanah jenuh (kN/m
3
)
C = kohesi tanah (kN/m
2
)
w
= berat volume air (kN/m
3
)
= sudut geser dalam tanah () = berat tanah efektif (kN/m
3
) =
sat
-
w

= sudut kemiringan lereng () H = tebal tanah (meter)
= berat volume tanah (kN/m
3
)






33

2.2.6.2 Kondisi Dengan Rembesan
Suatu lereng tidak terhingga dengan kemiringan lereng sebesar , dengan
muka air tanah yang dianggap terdapat pada permukaan tanah.

o

o o tg
tg
tg H
c
F
sat sat
'
2
cos
+ =
dengan :
F = faktor aman
sat
= berat volume tanah jenuh (kN/m
3
)
C = kohesi tanah (kN/m
2
)
w
= berat volume air (kN/m
3
)
= sudut geser dalam tanah () = berat tanah efektif (kN/m
3
) =
sat
-
w

= sudut kemiringan lereng () H = tebal tanah (meter)
= berat volume tanah (kN/m
3
)










Gambar 2.16 Lereng tidak terhingga dengan tanpa aliran air rembesan.




34










Gambar 2.17 Lereng tidak terhingga dipengaruhi aliran air rembesan.

2.3 Pengertian Bencana
Bencana adalah rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban jiwa,
kerusakan/hilangnya harta benda, merusak lingkungan, mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat. Bencana geologi adalah bencana yang disebabkan oleh
dinamika geologi, antara lain letusan gunungapi, gempabumi, tsunami,
erosi/pengikisan, abrasi, banjir lahar dan banjir bandang, serta gerakan tanah/tanah
longsor.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2007), prioritas
penanganan bencana geologi di Indonesia saat ini adalah:
1. Prioritas utama adalah gerakan tanah dengan atau tanpa diikuti banjir bandang,
setiap tahun terjadi dan pasti ada korban jiwa.
2. Prioritas tinggi adalah gempabumi yang bersumber di darat, meskipun jarang
terjadi, tetapi apabila terjadi berpotensi merusak.
3. Prioritas menengah adalah letusan gunungapi ditandai periode letusan
gunungapi panjang, pada letusan freatik adalah periode letusan pendek.
4. Prioritas sedang adalah tsunami, periode ulang relatif panjang.


35

Banjir merupakan proses aliran cairan dimana air sebagai media. Banjir
disebabkan oleh bermacam hal antara lain curah hujan, arah dan kecepatan angin,
keadaan topografi, bentuk atau morfologi daripada sungai ditambah dengan faktor
manusia.
Banjir bandang atau debris avalanche (debris flow) adalah proses aliran
cairan yang konsentrasi material padatannya lebih banyak daripada air selaku
medianya. Diawali dengan terjadinya longsoran yang berubah menjadi aliran debris
pada daerah pegunungan atau perbukitan dengan lereng yang curam dan panjang.
Aliran debris bisa lewat permukaan lereng dan bisa lewat saluran sungai yang
akhirnya akan menyebabkan terjadinya banjir banding.
Prosesnya mengikuti cairan plastis dengan mekanisme energi turbulen,
tekanan dispersif, dan pencairan (fluidization) material padatan. Akibat aliran plastis
ini, maka bencana banjir bandang bersifat sangat merusak karena mampu
mengangkut bongkah-bongkah batu besar (diameter >50 cm), pepohonan besar
(diameter >30 cm) dengan volume yang sangat besar, bersifat mendadak, dan
berkecepatan tinggi. Bencana ini merusak daerah di sekitar mulut sungai dan banyak
menelan korban jiwa, apalagi bila merupakan daerah permukiman.
Kecepatan aliran ini diakibatkan bentuk topografi yang berbukit-bukit
dengan kelerengan curam. Selain itu, sedikitnya pohon-pohonan yang tumbuh
menutupi permukaan lereng bukit menyebabkan aliran air permukaan mengalir
bebas mengikuti gaya berat ke bagian bawah lereng tanpa hambatan, sehingga
menambah kecepatan aliran permukaan di bagian lereng bukit. Adanya pohon-
pohonan yang rapat di lereng bukit berfungsi sebagai pengatur tata air, sehingga air
hujan ke permukaan lereng tidak sekaligus mengalir ke bagian bawah lereng, tetapi
mengalir secara lambat dan teratur. Adanya hutan, maka aliran permukaan menjadi
tidak terlalu berlebihan di musim hujan dan tidak kering sama sekali di musim
panas.

2.4 Pengertian Jalan
Jalan adalah prasaran transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu
lintas, yang berbeda pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah
36

permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api,
jalan lori, dan jalan kabel. (Undang-Undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 2004
Tentang Jalan, Pasal 1).

2.4.1 Peranan Jalan
Peran jalan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 2004
Tentang Jalan: Pasal 5 adalah sebagai berikut:
1. Jalan sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai peran penting dalam
bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan
keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
2. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
3. Jalan yang merupakan satu kesatuan sistem jaringan jalan menghubungkan
dan mengikat seluruh wilayah Republik Indonesia.

2.4.2 Pengelompokan Jalan
Pengelompokan jalan menurut Warpani, (2002:85-86) dapat ditinjau berdasarkan
daya dukung (kelas) jalan, fungsi jalan dan berdasarkan pengelolaannya. Penjelasan
masing-masing pengelompokan jalan tersebut adalah sebagai berikut:

2.4.2.1 Pengelompokan jalan berdasarkan kelas jalan
1). Jalan kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan, muatan sumbu terberat yang
diizinkan lebih besar dari 10 ton.
2). Jalan kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan, muatan sumbu terberat yang
diizinkan lebih besar dari 10 ton.
3). Jalan kelas IIIA, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter,
37

ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan lebih besar dari 8 ton.
4). Jalan kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 12.000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan lebih besar dari 8 ton.
5). Jalan kelas III C, yaitu jalan arteri lokasi yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 milimeter,
ukuran panjang tidak melebihi 9.000 milimeter dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan lebih besar dari 8 ton.

2.4.2.2 Pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan
1). Arteri primer, yaitu jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu yang
terletak berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota
jenjang kedua.
2). Arteri Sekunder, yaitu jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan
kawasan sekunder kesatu, atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
kawasan sekunder kesatu lainnya, atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan
sekunder kedua.
3). Kolektor primer, yaitu jalan yang menghubungkan antara kota jenjang kedua
dengan kota jenjang kedua lainnya, atau kota jenjang kedua dengan kota jenjang
ketiga.
4). Lokal primer, yaitu jalan yang menghubungkan persil dengan kota pada
semua jenjang.
5). Lokal Sekunder, yaitu jalan yang menghubungkan permukiman dengan semua
kawasan sekunder.

2.4.2.3 Pengelompokan jalan berdasarkan pengelolaan jalan
1). Jalan negara, yaitu jalan yang dibina oleh pemerintah pusat.
2). Jalan propinsi, yaitu jalan yang dibina oleh pemerintah daerah propinsi.
3). Jalan kabupaten, yaitu jalan yang dibina oleh pemerintah Kabupaten/Kota.
4). Jalan desa, yaitu jalan yang dibina oleh pemerintah Desa.
38


2.5 Kondisi umum ruas jalan Plaosan- Sarangan-Cemoro Sewu
Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi untuk memperlancar kegiatan
perekonomian, yaitu mempercepat pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dan
mobilitas penduduk. Sistem jaringan utama primer Surabaya-Madiun-Magetan-
Ngawi-Yogyakarta. Kabupaten Magetan memilikii jaringan jalan sepanjang
525.810,00 Km pada tahun 2006. Yang meliputi jalan aspal, jalan kerikil, dan jalan
tanah (Tabel 2.4).

Tabel 2.4 Perkembangan keadaan jalan (km) tahun 2005-2006
KEADAAN
2005 2006
NEGARA PROV KAB NEGARA PROV KAB
Jenis Permukaan
Aspal 7,364 34,429 452,021 7,364 34,429 477,646
Kerikil - - 50,224 - - 32,429
Tanah - - 23,565 - - 15,735
Lainya - - - - - -
Jumlah 7,364 34,429 525,810 7,364 34,429 525,810
Kondisi jalan
Baik - 9,956 103,920 - 9,956 167,605
Sedang 7,364 24,473 155,651 7,364 24,473 155,641
Rusak - - 249,310 - - 191,385
Rusak berat - - 16,929 - - 11,179
Jumlah 7,364 34,429 525,810 7,364 34,429 525,810
Kelas Jalan
Kelas I - - - - - -
Kelas II - - - - - -
Kelas III - - - - - -
Kelas III A - - - - - -
Kelas III B - - 5,730 - - 5,730
Bersambung.
39

Kelas III C - - 520,080 - - 520,080
Jumlah 7,364 34,429 525,810 7,364 34,429 525,810
Sumber: Kabupaten Magetan Dalam Angka 2007.




























Lanjutan Hal.38
40

BAB 3
METODOLOGI


3.1 Obyek Penelitian dan Pengamatan
3.1.2 Obyek Penelitian
Obyek penelitian atau pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini
adalah gerakan tanah, kaitanya dengan rencana kerja Pemerintah Kabupaten Magetan
dalam melaksanakan pembangunan wilayahnya khususnya di wilayah Kota Magetan.
Penelitian gerakan tanah sangat dibutuhkan dalam usaha pengembangan wilayah,
hubunganya dengan tingkat resiko atau akibat yang yang didapat bila terjadi gerakan
tanah di suatu wilayah.

3.1.2 Obyek Pengamatan
Obyek pengamatan dalam penelitian gerakan tanah adalah pengamatan secara
langsung terhadap titik-titik gerakan tanah yang telah terjadi dan kemungkinan
terjadinya kembali serta kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah
baru. Pengamatan titik gerakan tanah lama meliputi jenis, sifat geoteknik, dimensi,
penyebab dan akibat yang ditimbulkan. Faktor penyebab pada titik gerakan tanah
lama, dikaitkan dengan kondisi-kondisi di wilayah lainya sehingga dapat di ketahui
tingkat kerawanan terjadinya gerakan tanah baru.

3.2 Metode Penelitian
Pendekatan yang dipergunakan meliputi pendekatan berdasarkan penggunaan
lahan (land cover), kelerengan (slope), geologi (litologi, stratigrafi dan struktur
geologi). Metode analisis yang akan digunakan adalah metode gabungan menurut
KEPMEN-ESDM, No. 1452 K/10/MEM/2000.
Metode gabungan adalah penggabungan antara penentuan karakteristik
gerakan tanah di tiap lokasi (titik) dan penentuan pola sebaran kerapatan gerakan
tanah secara keruangan disertai kriterianya atau penentuan daerah pengaruh dengan
mempertimbangkan aspek luasan, kerapatan dan pembobotan. Hasilnya berupa peta
zona kerentanan gerakan tanah final (goal map).

41

3.2.1 Metode Penelitian Pengamatan Langsung
Pemetaan cara langsung adalah dengan langsung memetakan di lapangan (kerja
lapangan) dengan memperhatikan faktor morfologi, litologi, stratigrafi, struktur
geologi, aktivitas manusia dan penggunaan lahan berdasarkan hasil pengamatan,
pengukuran dan uji fisik langsung di lapangan. Dengan Metode ini maka dapat
langsung diketahui faktor yang bekerja di alam yang kaitannya dengan faktor yang
menyebabkanterjadinya gerakan tanah. Semakin banyak faktor yang digunakan
untuk memetakan di lapangan maka akan lebih memberikan detil dari proses yang
menyebakan gerakan tanah. Dengan banyaknya faktor yang digunakan sebagai
parameter sehingga dapat dijadikan kontrol yang lebih akurat dalam pemetaan.
Berikut ini adalah bagan alir petunjuk pemetaan zona kerentanan gerakan tanah
pemetaan langsung (Direct Mapping). (Gambar 3.1).



















Bersambung
Mempelajari laporan terdahulu mengenai geologi, geologi teknik, hidrologi, kegempaan
dan gerakan daerah penelitian.
Inventarisasi sebaran gerakan tanah
Penelitian gerakan tanah di lapangan meliputi pengamatan :
- Morfologi :
Kemiringan lereng
Erosi oleh aliran atau sungai
Gerakan tanah lama
Abrasi gelombang laut
- Geologi :
Posisi dan kedudukan batuan
Sifat fisik dan keteknikan batuan
Sifat fisik dan keteknikan tanah lapukan batuan
- Struktur Geologi :
Sesar, antiklin, sinklin
Kekar, breksiasi
- Kondisi keairan :
Genangan air pada lereng
Rembesan mata air
Air tanah dangkal
- Kondisi tata lahan/vegetasi penutup pada lereng/ lokasi sekitar
- Aktivitas manusia pada sekitar lereng :
Pemotongan/penimbunan lereng
Penggalian/penambangan

42

Lanjutan Hal. 40

























Gambar 3.1 Bagan Alir Petunjuk Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah
Pemetaan langsung (Direct Mapping).




Mempelajari sifat keteknikan tanah, hasil pengujian laboratorium mekanika tanah/batuan:
- Jenis tanah
- Batas atterberg
- Kuat geser (C, |)

Melakukan analisis balik untuk mencari nilai kuat geser tanah yang bekerja, sesaat
sebelum terjadi gerakan tanah ( F = 1 )

Getaran peledakan, mesin, lalulintas
Pembuatan bangunan
Saluran air

Keterdapatan gerakan tanah jika terdapat gerakan tanah, dilakukan
pengamatan :
Jenis dan dimensi gerakan tanah
Kedalaman dan material bidang gelincir
Mekanisme gerakan tanah
Resiko bahaya yang dapat di timbul

Pengambilan contoh tanah/batuan
Melakukan analisis kestabilan lereng untuk mencari faktor keamanan lereng pada kisaran
lereng tertentu, untuk tiap jenis tanah lapukan batuan dan
Melakukan analisis dengan metoda proyeksi stereografis untuk menentukan kemantapan
lereng batuan

Melakukan analisis statistik untuk:
- Memperkirakan kemiringan lereng kritis untuk terkena gerakan tanah, pada
tiap-tiap jenis tanah lapukan batuan, berdasarkan pengamatan lapangan
- Mengetahui hubungan dan pengaruh tata lahan terhadap gerakan tanah

Menyusun tingkat kerentanan gerakan tanah untuk tiap tanah lapukan batuan pada kisaran
kemiringan lereng medan tertentu, dengan memakai model :

Kerentanan tinggi F < 1,2
Kerentanan menengah 1,2<F<1,7
Kerentanan rendah 1,7<F<2,0
Kerentanan sangat rendah F > 2,0


43

3.2.2 Metode Penelitian Pengamatan Tidak Langsung
Cara tidak langsung menggunakan pendekatan keruangan, yaitu dengan
prosedur analisis tumpang susun atau overlaying untuk mencari pengaruh faktor-
faktor yang terdapat pada peta-peta parameter terhadap sebaran (distribusi) gerakan
tanah, kemudian dianalisis dengan menggunakan SIG dapat ditentukan zona
kerentanan gerakan tanahnya. Analisa Metode Tidak langsung ini dilakukan dua kali
yaitu sebelum kelapangan dan setelah kembali dari lapangan. Tentunya analisa kedua
yaitu setelah kembali dari lapangan diharapkan akan dapat memberikan kontribusi
data yang lebih terhadap analisa pertama, hal ini terkait dengan revisi atau perubahan
hasil analisa pertama. Dalam analisa kedua tentunya akan ada hal yang akan
ditambahkan atau dirsesuaikan sehingga analisa tahap kedua pada Metode Tidak
Langsung akan lebih baik.
Metode ini didasarkan atas perhitungan kerapatan (density) gerakan tanah dan
nilai bobot (weight value) dari masing-masing unit/klas/tipe pada setiap peta
parameter. Dua cara perhitungan dapat dilakukan, yaitu perhitungan berdasarkan luas
gerakan tanah dan perhitungan berdasarkan jumlah dari gerakan tanahnya. Dalam
pekerjaan ini digunakan perhitungan berdasarkan luas gerakan tanahnya.

Luas gerakan tanah pada (unit/klas/tipe)
Kerapatan (unit/klas/tipe) = ....(1)
Luas (unit/klas/tipe)

Sedangkan nilai bobot dari tiap unit/klas/tipe pada setiap peta parameter dihitung
sebagai berikut :

Luas gerakan tanah pd kelas (unit) A Luas seluruh gertan pd peta
Weight = ...(2)
Jumlah luas unit A Luas seluruh daerah peta

Tiap unit/klas/tipe dari individu peta parameter telah ditumpang tindih
dengan peta distribusi gerakan tanah, berarti tiap peta parameter akan menghasilkan
kerapatan gerakan tanah pada tiap unit/klas/tipenya. Metode ini disebut metode
statistik.

44

Tahapan dan prosedur perhitungan adalah sebagai berikut :
1. Tumpangsusun antara peta parameter dan peta distribusi penyebaran gerakan
tanah.
2. Hitung luas daerah yang terkena gerakan tanah dan luas seluruh peta.
3. Hitung kerapatan gerakan tanah (dalam persen) pada seluruh daerah peta.
4. Hitung kerapatan gerakan tanah (dalam persen) pada setiap unit/klas/tipe.
5. Hitung nilai bobot pada tiap unit/klas/tipe.
6. Pemberian nomor (urutan) nilai bobot pada tiap peta parameter.
7. Membuat tabel klasifikasi untuk mengklasifikasikan ulang nilai bobot
berdasarkan peta parameter.
8. Jumlahkan semua nilai bobot dari tiap peta parameter.
9. Klasifikasikan hasil dari penjumlahan maksimal dibagi 4 zona, yaitu zona
kerentanan sangat rendah, rendah, menengah dan tinggi.
Hasil penjumlahan tersebut akan mempunyai kisaran dari nilai negative
hingga nilai positif tertentu. Misal dari -5 sampai dengan +8, sesuai bobot pada peta.
Cara pembagian zona adalah terdiri dari : sangat rendah, rendah, menengah dan
tinggi, dengan patokan yang dapat digunakan adalah pada batas nilai 0 untuk batas
antara zona rendah dan menengah. Selanjutnya semua nilai negative dibagi dua
menjadi zona sangat rendah dan rendah, sedangkan semua nilai positif dibagi dua
zona juga menjadi zona menengah dan tinggi.

Contoh : Hasil penjumlahan : -5 sampai dengan +8
Dalam tabel dapat dibuat klasifikasi sebagai berikut :
-5
-4 Zona sangat rendah
-3
-2 Zona rendah
-1
0 Batas antara zona rendah dan zona menengah
1
2 Zona menengah
3
45

4
5
6 Zona tinggi
7
8
3.2.3 Metode Penggabungan
Dari dua peta yang telah dihasilkan yaitu hasil metode pemetaan tidak
langsung dan metode pemetaan langsung ditumpangsusunkan sehingga dihasilkan
peta final. Penentuan nilai final (lihat Tabel 3.1 di bawah) didasarkan pada penilaian
presional (professional judgement).

Tabel 3.1 Penggabungan metode pemetaan tidak langsung dan metoda
pemetaan langsung.

Pemetaan Tidak
Langsung
Pemetaan
Langsung
Peta Zona
Kerentanan
Gerakan Tanah Final
(Penilaian Presional)
1 1 1
1 2 1
1 3 2
1 4 3
2 1 1
2 2 2
2 3 3
2 4 3
3 1 2
3 2 3
3 3 3
3 4 4
4 1 2
4 2 3
4 3 4
4 4 4
Keterangan:
1 = Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah
2 = Kerentanan Gerakan Tanah Rendah
3 = Kerentanan Gerakan Tanah Menengah
4 = Kerentanan Gerakan Tanah Tingg
46

























Gambar 3.2 Bagan alir pembuatan peta zona kerentanan gerakan tanah.
ANALISIS TAHAP II
(STUDIO)
PETA GEOLOGI
LEMBAR
PONOROGO
1:25.000




PETA
RUPABUMI
1:25.000


DATA DAN PETA PENGGUNAAN LAHAN,
CURAH HUJAN, KEGEMPAAN, LAPORAN
GERAKAN TANAH, JARINGAN
TRANSPOR- TASI, OBYEK WISATA/OBYEK
PENTING

PETA
GEOLOGI
PETA PENGGU-
NAAN LAHAN
PETA
LERENG
PETA SEBARAN
GERAKAN TANAH
ANALISIS TAHAP I
(PETA TENTATIF)
SURVAI LAPANGAN
(FIELD WORK)
REVISI PETA
(STUDIO)
PETA
GEOLOGI
PETA
SEBARAN
GERAKAN
TANAH
PETA
TEBAL
TANAH
PETA
KELE-
RENGAN
PEMETAAN
LANGSUNG
LAPANGAN

PETA ZONA KERENTANAN
GERAKAN TANAH PEMETA-
AN LANGSUNG LAPANGAN
PETA ZONA KERENTANAN
GERAKAN TANAH
STATISTIK
PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH
(hasil akhir)
PETA
CURAH HUJAN
PETA
TEBAL TANAH
PETA
PENGGU-
NAAN
LAHAN
PETA
CURAH
HUJAN
47






























Gambar 3.3 Sistematika Penelitian.

Persiapan
atau
Tahap Perencanaan

- Menyelesaikan persyaratan
administrasi dengan kampus
- Koordinasi dengan anggota tim tugas
akhir
- Melakukan kajian pustaka mengenai
daerah telitian
- Melakukan kompilasi data berupa
peta dan evaluasi hasil penelitian
terdahulu serta data sekunder dari
berbagai instansi terkait



Data Primer :
1. Titik sebaran gerakan tanah
lama dan baru
2. Lereng
3. Tebal tanah.
4. Penggunaan lahan terbaru hasil
survai lapangan
5. Geologi, Geomorfologi.

Data Sekunder :
1. Peta geologi (1993)
2. Peta RBI Kab. Magetan (2001)
3. Data curah hujan di Kab.
Magetan (2001)
4. Data kegempaan & tsunami

Pengamatan Langsung Lapangan :
1. Titik sebaran gerakan tanah
lama dan baru.
2. Kelerengan
3. Tebal tanah.
4. Penggunaan lahan terbaru hasil
survai lapangan
5. Kondisi geologi lapangan.



Pengamatan Tak langsung
(Laboratorium/Studio) :
1. Curah Hujan
2. Sampel untuk uji geoteknis
(Data Pendukung Parameter)

Analisis


Peta Geologi
Peta Sebaran Gerakan Tanah
Peta Lereng
Peta Tebal Tanah
Peta Penggunaan Lahan
Peta Curah Hujan

PEMBOBOTAN
Data uji geoteknik
(Data Pendukung Parameter)

HASIL
PETA AKHIR
PEMBAHASAN
LAPORAN SKRIPSI
48

3.3 Pengumpulan Data
3.3.1 Sumber Data
Sumber data diperoleh dari hasil survai lapangan (data primer) dan data yang
diperoleh melalui survai instansional (data sekunder), yaitu:
1. Data primer adalah data yang langsung diambil dari lapangan, yaitu:
a. Data bentuklahan (morfografi, morfometri dan morfogenesa) dan
hubungannya dengan gerakan tanah.
b. Data geologi (litologi, stratigrafi dan struktur geologi) di lokasi gerakan
tanah/indikasi gerakan tanah, baik lama maupun baru.
c. Data pengukuran-pengukuran geoteknik dan geohidrologi di lapangan.
d. Data penggunaan lahan dan aktivitas manusia.
2. Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung, yaitu:
a. Data peta gerakan tanah, geologi, rupabumi, tata ruang, peta keterlintasan
jalan berikut laporan yang diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Energi
dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jawa Timur (Surabaya), Bakosurtanal
(Cibinong), P3G dan GTL (Bandung), hasil penelitian dari Pemerintah
Kabupaten Magetan.
b. Data rencana pembangunan/pengembangan atau rencana tata ruang wilayah
daerah dari Pemerintah Kabupaten Magetan.
c. Data fisik meliputi iklim, curah hujan, tanah, hidrologi, penggunaan lahan
yang diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Magetan.

3.3.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dengan dua cara, yaitu:
1. Pengumpulan data sekunder, diperoleh dari:
a. Peta rupabumi dalam bentuk hard copy maupun digital dari Bakosurtanal di
Cibinong atau outlet di UPN dan UGM.
b. Peta Geologi regional dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
(P3G) di Bandung.
c. Laporan hasil penyelidikan terdahulu di Kabupaten Magetan dari Dinas
Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jawa Timur di Surabaya.
d. Laporan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Magetan.
49

2. Pengumpulan data primer, diperoleh dari:
a. Pemetaan gerakan tanah, melalui pemetaan skala 1:25.000, pendataan dan
pengukuran gerakan tanah, uji permeabilitas dan pengambilan contoh
undisturb untuk uji laboratorium.
b. Pengamatan langsung di lapangan, meliputi aspek geologi (batuan, struktur
geologi dan tanah), geologi teknik (sifat-sifat fisik dan mekanik),
hidrogeologi (proses perairan), penggunaan lahan, akibat yang ditimbulkan
dan cara penanggulangannya.

3.4 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang dipergunakan di dalam penelitian zona kerentanan gerakan
tanah ini adalah sebagai berikut :
- Peta Dasar
1. Peta rupabumi Kabupaten Magetan, skala 1:25.000 (2001)
2. Peta geologi lembar Magetan dan Ngawi, skala 1:100.000 (P3G, 2000)
- Bahan
1. Plastik contoh
2. Alat tulis Kertas, flashdisk.
3. Buku lapangan
4. Pita bendera
5. Tongkat patok
- Alat
No Alat No Alat
1
2
3
4
5

Kompas geologi
Palu geologi
Pita ukur 50 m
Loupe
Kamera

6
7
8
9
10
GPS
AlatTransportasi
Bor tangan
Alat uji permeabilitas
Cangkul dan parang


50

BAB 4
HASIL PENELITIAN

4.1 Geomorfologi
4.1.1 Pengertian Geomorfologi
Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk bumi atau roman
muka dalam istilah asing disebut sebagai "Landscape" (Thornbury, 1954).

4.1.1.1 Kelerengan
Berdasarkan klasifikasi tingkat kelerengan oleh Van Zuidam (1979), daerah
penelitian terbagi atas beberapa klas kelerengan, yaitu sebagai berikut:
a. Satuan datar atau hampir datar dengan klas lereng 0-2% (0
o
-2
o
) menempati 2,8
% dari luas total daerah penelitian, terdapat di sekitar Objek Wisata Telaga
Sarangan, Telaga Wahyu dan bagian lembah di sepanjang Sungai Bodang.
Secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Plaosan yang
disusun oleh tuff lapilli.
b. Satuan perbukitan landai sampai miring dengan klas lereng 3-13%, (2
o
-13
o
)
menempati 6,6 % dari luas total daerah penelitian, terdapat pada bagian tenggara
daerah penelitian. Secara administratif termasuk kedalam wilayah Kecamatan
Plaosan yang disusun oleh endapan lahar.
c. Satuan perbukitan agak curam dengan klas lereng 14-20%, (13
o
-25
o
) menempati
46.7 % dari luas total daerah penelitian, terdapat pada bagian selatan dan bagian
timur daerah penelitian. Secara administratif termasuk kedalam wilayah
Kecamatan Plaosan. Disusun oleh tuff lapilli dan breksi vulkanik.
d. Satuan perbukitan curam dengan klas lereng 21-55%, (25
o
-55
o
) menempati 43.9
% dari luas total daerah penelitian, terdapat pada bagian barat daerah penelitian.
Secara administratif termasuk kedalam wilayah Kecamatan Plaosan. Disusun
oleh material tuff dan breksi vulkanik.


51

4.1.1.2 Bentuklahan
Bentuklahan daerah penelitian ditentukan berdasarkan data yang diperoleh dari
analisa peta topografi yang meliputi bentuk pola kontur, kerapatan kontur, arah
sungai, dan pola pengaliran serta hasil pengamatan langsung keadaan lapangan yang
meliputi bentukan lahan (morfografi), kelerengan (morfometri), jenis litologi
penyusun dan struktur geologi (morfostruktur pasif) dan proses-proses geologi
(morfostruktur aktif).
Secara morfografi dan morfogenesa, daerah telitian dapat dibagi menjadi empat
satuan bentuklahan yaitu:
1. Kerucut parasiter G. Sidoramping (V22)
Menempati 4,16 % dari luas peta pada daerah telitian atau sekitar 0,70 km
2

morfologi lereng gunungapi dengan kelerengen curam (21-55%), terdapat pada
ketinggian 1950-2050 meter. Pola pengaliran yang berkembang adalah pola
parallel. Batuan penyusun satuan ini adalah breksi Jobolarangan yang dibentuk
dari aktivitas Gunung Lawu (Gambar 4.1).

Kerucut Parasiter G. Sidoramping G. Lawu
Lereng Tengah G. Lawu

Gambar 4.1 Satuan bentuklahan kerucut parasiter G. Sidoramping,
arah kamera N 210
0
E dari timur.

52

2. Lereng Tengah G. Lawu (V4)
Menempati 77,03 % dari luas peta pada daerah telitian atau sekitar 13,00 km
2

morfologi lereng gunungapi dengan kelerengen agak curam (14-20%) sampai
curam (21-55%), terdapat pada ketinggian 1150-2050 meter. Pola pengaliran
yang berkembang adalah pola parallel. Batuan penyusun satuan ini adalah Tuff
yang dibentuk dari aktivitas Gunung Lawu (Gambar 4.2).

Lereng Tengah G. Lawu
Lereng Atas G. Lawu

Gambar 4.2 Satuan bentuklahan lereng tengah G. Lawu, dengan arah kamera N 65
0
E
dari baratdaya.

3. Lereng bawah G. Lawu (V5)
Menempati 12,47 % dari luas peta pada daerah telitian atau sekitar 2,11 km
2

morfologi kaki gunungapi dengan kelerengen landai sampai miring (3-13%),
terdapat pada ketinggian 1100-1150 meter. Pola pengaliran yang berkembang
adalah pola pengaliran sub-parallel dengan lembah yang sempit. Batuan
penyusun satuan ini berupa Endapan lahar terdiri dari konglomerat. Terbentuk
dari material vulkanik gunung Lawu (Gambar 4.3).

53

Lereng Atas G. Lawu
Lereng Tengah G. Lawu
Lereng Bawah G. Lawu

Gambar 4.3 Satuan bentuklahan lereng bawah G. Lawu, arah kamera N 115
0
E

4. Maar
Menempati 6,34 % dari luas peta pada daerah telitian atau sekitar 1,05 km
2

morfologi kaki gunungapi dengan kelerengen datar (0-2%), Pola pengaliran
yang berkembang adalah pola pengaliran sub-parallel dengan lembah yang
sempit. Batuan penyusun satuan ini adalah tuff dan breksi. Bentuklahan Maar
yang terjadi di daerah penelitian, saat ini berupa telaga yaitu Telaga Wahyu dan
Telaga Sarangan. Terbentuk dari material vulkanik gunung Lawu (Gambar 4.4).
54

Maar

Gambar 4.4 Satuan bentuklahan Maar, arah kamera N 280
0
E dari timur.

4.1.1.3 Sungai dan Pola Pengaliran
Pola pengaliran pada daerah penelitian terdiri dari pola radial yang memancar
dari puncak Gunung Lawu di bagian barat. Pada pola radial berkembang pola
pengaliran sub-parallel, alirannya cepat, erosi kuat, lembah sempit dan dalam serta
berpotensi terjadinya gerakan tanah, pada batang-batang sungai besar berpotensi
terjadinya banjir. Salah satu sungai besar yang dikenal adalah Sungai Gondang yang
melintasi Kecamatan Plaosan, Poncol, Magetan, Sukomoro, Bendo, Jiwan dan
Mangunrejo. Aliran sungai lainnya yang panjang adalah aliran Sungai Purwodadi
dan Bringin dengan panjang aliran sungainya lebih dari 50.000 meter (Tabel 4.1).

Tabel 4.1 Daerah aliran sungai dan panjang sungai (2006).
No Kecamatan Nama Sungai Panjang
(Km)
1 Plaosan, Poncol, Magetan, Sukomoro,
Bendo, Jiwan, Mangunrejo
Gondang 138,1
2 Poncol, Plaosan, Magetan, Kawedanan,
Takeran
Bringin 56,3
Bersambung.
55

3 Sukomoro, Bendo, Maospati, Jiwan,
Mangunrejo
Semawur 47,1
4 Jiwwan, Barat, Kwadungan Ngelang 43,1
5 Maospati, Jiwan, barat, Kwadungan Ulo 35
6 Sukomoro, Karangrejo, Barat, Geneng,
Kwadungan
Purwodadi 124,6
7 Karangrejo, Barat, Geneng Jungke 27,5
8 Panekan, Sukomoro, Karangrejo, paron,
Ngawi
Tinil 71,9
Sumber : Kabupaten Magetan dalam Angka Tahun 2007

4.1.1.4 Daerah Rawan Erosi
Erosi merupakan salah satu faktor yang dapat memicu terjadinya gerakan
tanah. Air permukaan yang berasal dari air hujan, sebagian akan meresap ke dalam
tanah atau batuan melalui ruang antar butir batuan, retakan-retakan yang terdapat
pada batuan dan sebagian lagi akan mengalir di atas permukaan tanah. Akibat aliran
air permukaan, dapat menimbulkan penggerusan (erosi) terutama pada daerah yang
berlereng terjal atau tebing aliran sungai, sehingga lereng bagian bawah menjadi
lebih terjal dan dapat mempercepat terjadinya gerakan tanah pada lereng di bagian
atas.
Besar kecilnya air permukaan, tergantung besar intensitas dan lamanya curah
hujan di suatu daerah. Proses pengikisan yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik yang bersifat alamiah maupun akibat ulah manusia. Faktor alami antara
lain jenis batuan dan sifat fisiknya, struktur geologi, bentuklahan, iklim, curah hujan
serta vegetasi. Akibat pembukaan hutan yang tidak terkendali oleh penduduk di
puncak dan lereng bukit, pemotongan lereng untuk jalan dan pemukiman, sehingga
proses pengikisan berlangsung lebih cepat.
Seluruh jenis erosi berkembang dan dapat dijumpai di hampir seluruh
wilayah telitian, mulai dari erosi permukaan atau tingkat erosi ringan, erosi alur/parit
atau erosi sedang, hingga erosi lembah atau tingkat erosi berat.

Lanjutan Hal.54
56

4.1.2 Stratigrafi daerah telitian
Berdasarkan pengamatan di lapangan, daerah telitian termasuk dalam satuan
stratigrafi Pegunungan Selatan Jawa Timur yang tersusun oleh beberapa satuan
batuan dari tua ke muda, yaitu:

4.1.2.1 Satuan Batuan Tuff Lapilli (Formasi Tuff Jobolarangan (Qvjt) ):
Satuan batuan ini menempati 40.9% dari luasan daerah telitian atau sekitar 8.48
km
2
, tersusun oleh litologi dari tuff lapili: putih kecoklatan, masif, tuff lapilli (4-
32mm), membundar, terpilah baik, tertutup, komp. Mineral: mineral feromagnesia:
horblend, mineral tambahan: abu vulkanik sampai lapilli. Penyebarannya terdapat di
bagian tengah dari daerah penelitian meliputi Desa Sarangan, Dadi, Buluhgunung
dan Ngancar. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat
kemerahan, umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan
ketebalan tanah pelapukan 1,5-3 m (Gambar 4.5).



Gambar 4.5 Singkapan tuff Jobolarangan (LP15) daerah Nguolo ,
arah kamera N 063
0
E



57

4.1.2.2 Satuan Batuan Breksi ( Formasi Breksi Jobolarangan (Qvjb) ):
Satuan batuan ini menempati 15.7% atau 2.606 km
2
dari luasan daerah telitian,
tersusun oleh breksi gunungapi: coklat kehitaman, massif, bongkah-krakal (<32mm),
menyudut, terpilah buruk, terbuka, komp. Mineral: fragmen: Basalt, matrik: material
vulkanik, semen: silika. Penyebarannya terdapat di daerah Ngancar (Gambar 4.6).


Gambar 4.6 Singkapan breksi Jobolarangan (LP12), di daerah Ngancar arah
kamera N 035
0
E

4.1.2.3 Satuan Batuan Gunungapi Lawu (Tuff Lawu (Qvl) ) :
Satuan batuan ini menempati 32.5% atau 3.73 km
2
dari luasan daerah telitian.
Satuan batuan ini terdiri dari tuff: abu-abu, massif, tuff kasar (3/4-4mm),
membundar, terpilah baik, tertutup, komp. Mineral: mineral ferromagnesian:
horblend, mineral tambahan: abu vulkanik, mineral sialis: kuarsa. Penyebarannya
terdapat pada daerah Sarangan. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau, warna
coklat kemerahan, umumnya bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas tinggi,
dengan ketebalan tanah pelapukan 1-2 m (Gambar 4.7).
58


Gambar 4.7 Singkapan tuff vulkanik Lawu (LP26) di daerah Sarangan , arah
kamera N 50
0
E

4.1.2.4 Satuan Batuan Aglomerat ( Lahar Lawu (Qlla) ) :
Satuan batuan ini menempati 10.9% atau 1.83 km
2
dari luasan daerah telitian.
Satuan batuan ini terdiri dari aglomerat: abu-abu kecoklatan, massif, bongkah-krakal
(<32mm), menyudut, terpilah buruk, terbuka, komp. Mineral: fragmen: basalt,
matrik: material vulkanik. Membentuk perbukitan rendah atau mengisi dataran di
lereng bawah gunungapi. Penyebaranya terdapat pada Desa Dadi, Buluhgunung, dan
ke arah timur berangsur berubah menjadi endapan alluvium (Gambar 4.8).

59


Gambar 4.8 Singkapan Aglomerat (LP45) di daerah Dakel ,
arah kamera N 120
0
E


4.1.3 Struktur Geologi
Struktur geologi yang dijumpai adalah sesar yang berupa sesar normal. Pada
zona sesar merupakan daerah yang lemah, sehingga umumnya pada daerah ini
banyak berkembang peristiwa alam gerakan tanah. Struktur sesar biasanya dicirikan
oleh gawir-gawir tegak memanjang seperti terdapat di daerah Ngancar, Ngluweng
dan Ngluweng Kulon. Oleh karena itu faktor geologi akan dipertimbangkan dalam
pemetaan zona kerentanan gerakan tanah. Struktur kekar dijumpai pada tuff. Sesar-
sesar lain umumnya berarah baratdaya-timurlaut dan barat-timur, menempati
komplek batuan vulkanik Lawu Tua dan sebagian kecil batuan vulkanik Lawu Muda
(Gambar 4.9). Pola struktur sesar (sesar turun) menimbulkan pemotongan pada
tubuh batuan, bidang pemotongan ini merupakan bidang lemah yang biasanya
membentuk gawir-gawir yang curam/terjadi, dengan lereng medan yang curam ini
kemudian proses gerakantanah menjadi berkembang. Kejadian gerakantanah seperti
ini dapat dijumpai di Desa Sarangan dan Ngancar.
Struktur kekar yang berkembang pada satuan batuan dapat pula menyebabkan
terjadinya longsoran. Hal ini bisa terjadi apabila terdapat perpotongan bidang kekar,
perpotongan bidang kekar tersebut tidak jarang menyebabkan keseimbangan lereng
60

terganggu. Keseimbangan lereng dapat tergangu karena pengaruh dari dalam maupun
dari luar. Faktor pengaruh dalam misalnya kedudukan perlapisan batuan, arah
perpotongan bidang kekar dan ketebalan lapisan tanah pelapukan. Sedang pengaruh
dari luar misalnya pemotongan lereng, peledakan, getaran mesin dan lain sebagainya.
Gambar 4.9 Struktur geologi Jawa Timur (Sudrajat, Untung, dkk, 1975).


Gambar 4.10 Gawir sesar (sesar turun) daerah Ngluweng kulon.
61

4.2 Kondisi Fisik
Kondisi fisik daerah telitian dilihat dari ketinggian 1050 - 2050 meter di atas
permukaan laut berada di bagian utara dari daerah telitian, daerah itu merupakan
dataran tinggi bagian tengah wilayah subur dan berkembang terletak di Kecamatan
Plaosan. Menurut klasifikasi kelerengan van zuidam (1979), daerah barat termasuk
dalam daerah miring curam sedangkan daerah selatan termasuk dalam klasifikasi
datar - miring.

4.2.1 Curah Hujan
Keadaan iklim, topografi wilayah, dan perputaran atau pertemuan arus angin
dapat mempengaruhi curah hujan, sehingga banyaknya curah hujan menjadi beragam
menurut letak dan waktunya. Wilayah dengan curah hujan 3000-3500 mm/th berada
di wilayah bagian timur daerah telitian. Wilayah tersebut meliputi Desa Sarangan,
Dadi, dan Buluhgunung. Pada bagian barat daerah telitian mempunyai curah hujan
2500-3000 mm/th berada di Desa Ngancar.

4.2.2 Tebal Tanah
Atas dasar struktur, sifat, dan persebaran jenis tanah, diidentifikasi bahwa
karakteristik kesuburan tanah di daerah telitian termasuk kategori daerah subur,
karena dilalui oleh Sungai Gondang yang mengangkut material volkanik. Salah satu
faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan tanah adalah banyaknya
gunungapi yang masih aktif di sebelah utara sebagai sumber material dan aliran
sungai yang cukup besar dan lebar yang berfungsi sebagai sarana penyebaran zat-zat
hara yang terkandung dalam material hasil letusan gunung berapi.
Daerah dengan tebal tanah >0,25 meter berada di bagian utara dari daerah
telitian, terletak di Desa Sarangan. Pada bagian tengah sampai timur daerah telitian
mempunyai tebal tanah <0,25 meter, berada di Desa Dadi, Buluhgunung, dan
Ngancar.


62

4.2.3 Penggunaan Lahan
Secara umum tata guna lahan di daerah penelitian berupa pemukiman, sawah
tadah hujan, ladang, telaga dan kebun.
a. Pemukiman: menyebar di wilayah telitian, di sepanjang jalan utama yang
menghubungkan setiap wilayah di daerah penelitian, sebagian pada lereng
dengan pola yang mengelompok. Wilayah pemukiman menempati 12.3% dari
luas peta pada daerah penelitian atau sekitar 1.87 km
2
dengan kemiringan datar -
curam.
b. Persawahan: Sawah banyak terdapat pada bagian tepian sungai, daerah lereng
Lawu. Sawah pada daerah penelitian berupa sawah tadah hujan. Satuan lahan ini
menempati daerah dengan kemiringan miring agak curam. Luas penyebaran
penggunaan lahan ini 13.05% dari luas peta pada daerah penelitian atau sekitar
2.17 km
2
.
c. Perladangan: banyak terdapat di lereng dan kaki gunung Lawu, dengan luas
32.07% dari wilayah penelitian atau sekitar 5.39 km
2
, didominasi oleh tanaman
ketela, dan buah-buahan.
d. Perkebunan: Lahan ini banyak terdapat di lereng gunung Lawu dan kaki gunung
Lawu, menempati daerah dengan kemiringan lereng miring curam.
Penyebarannya 40.3% dari luas peta pada daerah penelitian atau sekitar 68.3 km
2
,
yang didominasi oleh sayur- sayuran.
e. Telaga: Lahan ini terdapat di bagian tengah daerah penelitian, Telaga Sarangan
dan Telaga Wahyu adalah telaga terbesar yang berada di telitian. Lahan ini
menempati 2.28% atau 0.35 km
2
dari daerah peneltian.

4.3 Data Penyelidikan Geoteknik
Penyelidikan geologi teknik yang dilakukan di lapangan adalah pengambilan
beberapa contoh insitu (undisturb) dan uji permeabilitas. Sedangkan uji
laboratorium dilakukan untuk menganalisa sample undisturb guna mendapatkan
sifat keteknikan dari tanah hasil pelapukan batuan di tiap satuan batuan.


63

4.3.1 Sifat Keteknikan Tanah Pelapukan Batuan
Penyelidikan geologi teknik yang dilakukan di lapangan adalah pengambilan
beberapa contoh insitu (undisturb) dan uji permeabilitas. Sedangkan uji
laboratorium dilakukan untuk menganalisa sample undisturb guna mendapatkan nilai
kadar air, berat jenis, dan kuat geser langsung (Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Sifat keteknikan tanah dan hasil uji geologi teknik
NO SIFAT KETEKNIKAN TANAH KETERANGAN
Satuan Batuan Tuff (Formasi Tuff Jobolarangan )
1
Tanah
pelapukan
Tebal 1,5-3 m
Komposisi Lempung lanauan-lempung pasiran,
Warna kuning kecoklatan
Plastisitas Sedang
Permeabilitas Rendah
Konsistensi Teguh
Sifat fisik
dan
mekanika
tanah
kadar air (Wn) 54,24%
berat jenis (Gs) 2,64 g/cm
3

berat isi asli (n) 1,48-1,61 g/cm
3

berat isi kering (d) 1,20-1,29 g/cm
3

kohesi (c) 0,064 kg/cm
2

sudut geser dalam () 28,30
batas cair (LL) 62,49%
indeks plastis (PI) 35,44%
Satuan Batuan Breksi Gunungapi (Formasi Breksi Jobolarangan)
2
Tanah
pelapukan
Tebal 1-2 m
Komposisi Lempung lanauan
Warna Coklat kemerahan
Plastisitas Tinggi
Permeabilitas Rendah
Konsistensi Teguh hingga kaku
Sifat fisik
dan
mekanika
tanah
kadar air (Wn) 33,72%
berat jenis (Gs) 2,65 g/cm
3

berat isi asli (
n
) 1,48 g/cm
3

berat isi kering (
d
) 0,98 g/cm
3

Kohesi (c) 0,124 kg/cm
3

sudut geser dalam (|) 30,03
batas cair (LL) 67,44 %
indeks plastis (PI) 21,63%

64

Menurut Bowless (1984) kondisi kritis dianggap terjadi apabila nilai
keamanan (safety factor, Fs) berada pada nilai 1,07 < Fs < 1,25. Bila suatu lereng
mempunyai nilai Fs dibawah 1,07, maka dianggap lereng tersebut tidak stabil,
sehingga dapat menyebabkan keruntuhan pada lereng. Parameter yang diperlukan
untuk menghitung faktor keamanan pada lereng yang tak terendam air adalah nilai
kohesi (c), sudut geser dalam (), berat unit tanah (), sudut kemiringan lereng (i),
dan kedalaman bidang gelincir (z). Dengan cara memasukkan nilai parameter yang
sudah diketahui ke dalam rumus Mc.Carthy (1993) untuk lereng nonsubmerged / tak
terendam air, maka didapatkan nilai Fk yaitu 1,142 (lereng dengan keadaan kritis).

c tan
FK = +
z sin i cos i tan i

Tabel 4.3 Hubungan harga faktor keamanan dan kemungkinan kelongsoran lereng
menurut Bowles (1984).
Harga FK Kemungkinan Longsor
< 1.07 Biasa terjadi
1.07 1.25 Pernah terjadi
> 1.25 Jarang terjadi

Tabel 4.4 Nilai faktor keamanan pada tiap satuan batuan.
Sempel
Nilai
kohesi
(c)
Sudut
geser
dalam
()
Berat
unit
tanah
()
Sudut
kemiringan
lereng
(i)
Kedalaman
bidang
gelincir
(z)
Faktor
keamanan
(FS)
Kemungkinan
Longsor
1 0,064 28,30 1,069 25 3 0,475 Biasa terjadi
2 0,124 30,03 0,98 30 4,5 0,464 Biasa terjadi

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dan diperhitungkan menurut rumus Mc. Carthy,
pada sampel 1 dan 2 didapatkan nilai faktor keamanan kurang dari 1,07 (0,475 dan
0,464), maka satuan batuan tuff jobolarangan (sampel 1) dan satuan batuan breksi
jobolarangan (sampel 2) biasa terjadi longsor atau gerakan tanah.
65

4.3.2 Hasil Uji Infiltrasi di Lokasi Penelitian
Pengujian permeabilitas di lokasi penelitian dilakukan pada 4 lokasi dengan
memperhatikan kondisi litologi, komposisi dan tebal tanah pelapukan dan
kemiringan lereng. Dari hasil pengujian ini dapat diketahui nilai infiltrasi pada tiap
titik (Tabel 4.5)

Tabel 4.5 Hasil uji infiltrasi di lokasi penelitian.
No. LP Litologi
Jenis
Gerakan
Tanah
Keterangan
1. 10 Breksi lapuk
Debris
slide
Uji permeabilitas:
Diameter pipa= 4.5 cm
Panjang pipa= 40 cm
Pipa tak terkubur= 8 cm
Waktu= 11 s
Air turun= 5 cm
Q = 0,445 cm
3
/s
2. 12 Breksi lapuk
Debris
slide
Uji permeabilitas:
Diameter pipa= 4.5 cm
Panjang pipa= 40 cm
Pipa tak terkubur= 9 cm
Waktu= 16 s
Air turun= 5 cm
Q = 0,993 cm
3
/s
3. 28 Tuff Soil slide
Uji permeabilitas:
Diameter pipa= 4.5 cm
Panjang pipa= 40 cm
Pipa tak terkubur= 9 cm
Waktu= 158 s
Air turun= 5 cm
Q = 0,101 cm
3
/s
4. 25 Tuff lapuk Soil slide
Uji permeabilitas:
Diameter pipa= 4.5 cm
Panjang pipa= 40 cm
Pipa tak terkubur= 18 cm
Waktu= 84 s
Air turun= 5 cm
Q = 0,089 cm
3
/s

66

4.4 Gerakan Tanah pada Jalur Transportasi Darat
Sistem transportasi yang utama dan penting di daerah telitian merupakan
transportasi darat yang menghubungkan jalan masuk atau keluar dari wilayah
kabupaten dan menghubungkan antar wilayah kecamatan. Kondisi ini disebabkan
karena secara geografis merupakan daerah remote dan kenyataan sampai saat ini
hanya jalan darat merupakan jembatan kelancaran arus koleksi dan distribusi barang
dan jasa ke dan dari Kabupaten Magetan. Sehingga apabila terjadi gerakan tanah
yang menimpa jalan, maka dapat melumpuhkan kegiatan ekonomi secara langsung
terhadap masyarakat pengguna jalan.
Untuk mendukung perkembangan wilayah prioritas maupun kawasan
bencana alam dan kelancaran arus barang-jasa, diperlukan dukungan prasarana dan
sarana transportasi. Jaringan transportasi yang baik akan memberikan kemudahan
(aksesibilitas yang baik), sehingga kesenjangan antar wilayah dapat dikurangi,
mendukung perkembangan dan pertumbuhan daerah kawasan strategis. Kesemua ini
bertujuan untuk mendukung pembangunan daerah, sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya. Oleh karena itu, dalam menjaga kelancaran arus
transportasi jalan menjadi penting bagi Kabupaten Magetan. Gerakan tanah yang
menimpa badan jalan membutuhkan perhatian dan keseriusan semua pihak untuk
tanggap, bahwa gerakan tanah yang menimpa jalan akan mengancam kita setiap saat
terutama pada musim hujan.

4.4.1 Kondisi Gerakan Tanah Pada Jalur Transportasi Darat
Di sisi lain, jalur transportasi darat di daerah penelitian berhubungan erat
dengan kawasan rawan bencana alam, yaitu kawasan rawan bencana alam gerakan
tanah, erosi, dan banjir. Untuk mendukung perkembangan wilayah prioritas maupun
kawasan bencana alam dan kelancaran arus barang-jasa, maka diperlukan dukungan
prasarana dan sarana transportasi. Jaringan transportasi yang baik akan memberikan
kemudahan (aksesibilitas yang baik), sehingga kesenjangan antar wilayah dapat
dikurangi, mendukung perkembangan dan pertumbuhan daerah-daerah kawasan
strategis. Semua ini bertujuan untuk mendukung pendapatan atau pembangunan
67

daerah, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Upaya menjaga
kelancaran arus transportasi jalan darat menjadi penting bagi Kabupaten Magetan.

Berbagai pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat telah dilakukan di daerah ini, diantaranya pembangunan jaringan jalan.
Meskipun demikian, hingga saat ini pembangunan jaringan jalan masih menghadapi
kendala banyaknya gangguan bencana alam sesuai karakteristik lokasinya (Tabel
4.6).
Tabel 4.6 Gerakan tanah dan gangguan terhadap jalan.
1. Ruas jalan di daerah berlereng curam (21-55%)
.


Gerakan tanah yang terjadi pada ruas jalan di daerah berlereng curam (25-55),
terutama akibat kegiatan pemotongan lereng.
2. Ruas jalan di daerah berlereng agak curam (14-20%)


Gerakan tanah yang terjadi pada ruas jalan di daerah berlereng agak curam (13-25),
akibat kegiatan pemotongan lereng, berkembangnya erosi, dan kurang baiknya
penanganan air permukaan (tidak ada saluran air).

Bersambung
68

3. Ruas jalan di daerah berlereng landai-miring (3-13%).
Gerakan tanah yang terjadi pada ruas jalan di daerah berlereng landai-miring (2-
13), akibat berkembangnya erosi lateral pada dinding sungai dan kurang baiknya
penanganan pada dinding sungai atau tidak berfungsinya saluran air atau gorong-
gorong di tepi jalan, pembuatan jalan dan jembatan di dekat kelokan sungai bagian
luar, dan rusaknya dinding penahan.



Jenis tanah longsor yang menimpa jalan raya dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis
tanah longsornya menjadi tiga macam longsoran, yaitu:
1. Badan jalan stabil, lereng bagian atas rawan longsor. Kasus ini relatif mudah
penanggulangannya. Apabila jalan tertutup material longsoran dari lereng
bagian atas, tinggal membersihkan material tersebut dengan alat berat. Jenis
longsoran ini banyak menimbulkan korban jiwa, yaitu mereka yang
terperangkap dalam kendaraan yang kebetulan lewat.
2. Kedua, lereng bagian bawah jalan rawan longsor, sehingga badan jalan menjadi
tidak stabil. Kondisi ini cukup rumit, bila terjadi gerakan tanah, badan jalan akan
hancur sebagian atau keseluruhan. Penanggulangan longsor jenis ini
memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Jenis longsoran ini dapat
menyeret kendaraan yang lewat searah dengan arah tanah longsor, hal ini sangat
membahayakan pengguna jalan.
3. Lereng bagian atas dan bawah badan jalan rawan longsor, sehingga badan jalan
terancam, baik dari lereng atas maupun lereng bagian bawah jalan. Kondisi
seperti ini yang paling runyam dan sangat membahayakan pengguna jalan,
karena apabila longsor terjadi pada daerah yang kondisinya demikian, jenis
longsoran yang terjadi umumnya dengan demensi besar dan kompleks.
Lanjutan Hal.67
69

Penanggulangannya cukup rumit pada daerah-daerah seperti ini. Sebaiknya
dilakukan pemantauan gerakan tanah secara kontinue, hal ini untuk mengetahui
laju dan arah gerakan tanah sehingga secara dini dapat diketahui apabila terjadi
gerakan yang membahayakan.




























70

BAB 5
PEMBAHASAN

5.1 Kendali geomorfologi terhadap gerakan tanah
5.1.1 Morfografi
Morfografi merupakan aspek-aspek yang bersifat pemerian (descriptive),
antara lain teras sungai, beting pantai, kipas aluvial, plato, dataran, perbukitan,
pegunungan dsb. Morfografi sangat berpengaruh terhadap terjadinya gerakan tanah.
Morfografi yang tinggi dengan klas lereng curam sangat rentan terhadap terjadinya
gerakan tanah. Pengaruh geologi juga sangat berperan, hal ini ditunjukkan oleh
hadirnya batuan produk volkanik berupa breksi yang belum terkompaksi di daerah
perbukitan dengan tingkat pelapukan tinggi, sehingga tebal soil atau material
volkanik yang belum terkompaksi dapat mencapai lebih dari 2 meter. Kondisi seperti
ini sangat peka untuk timbulnya longsoran.

Morfografi pada daerah telitian terdiri 4 macam yaitu:
a. Kerucut parasiter G. Sidoramping
Kerucut parasiter ini merupakan bagian dari lereng Lawu yang terdapat pada bagian
barat daya dari daerah telitian, meliputi Desa Ngancar. Morfologi kerucut parasiter
dengan kelerengan curam (21-55%).

b.Lereng tengah G. Lawu
Lereng gunungapi ini merupakan bagian dari lereng G. Lawu yang terdapat pada
bagian selatan sampai bagian utara dari daerah telitian, meliputi Desa Sarangan,
Dadi dan Ngancar. Morfologi lereng gunungapi dengan kelerengen agak curam (14-
20%) sampai curam (21-55%). Gerakan tanah banyak terjadi di beberapa daerah dari
tingkat yang kecil sampai besar.

c. Lereng bawah G. Lawu
Morfologi kaki gunungapi terdapat pada bagian tenggara daerah telitian dengan
kelerengen landai-miring (3-13%), meliputi desa Buluhgunung.
71

d. Maar
Morfologi kaki gunungapi terdapat pada bagian tengah daerah telitian,
tepatnya pada daerah objek wisata Telaga Sarangan dan Telaga Wahyu dengan
kelerengen datar (0-2%), meliputi desa Sarangan.

Berikut hubungan jenis gerakan tanah, jumlah gerakan tanah dan morfologi
yang terjadi didaerah telitian (Tabel 5.1)

Tabel 5.1 Hubungan jenis gerakan tanah, jumlah gerakan tanah dan morfologi
NO MORFOGRAFI
JUMLAH
GERAKAN
TANAH
JENIS GERAKAN
TANAH
1
Kerucut parasite G.
Sidoramping
0
Longsoran tanah (), aliran
tanah (), longsoran
rombakan (), runtuhan
rombakan (), Jatuhan tanah
(), alliran rombakan ()
2
Lereng tengah G.
Lawu
56
Longsoran tanah (4), aliran
tanah (), longsoran
rombakan (55), runtuhan
rombakan (), Jatuhan tanah
(1), aliran rombakan (3)
3
Lereng bawah G.
Lawu
2
Longsoran tanah (), aliran
tanah (), runtuhan
rombakan (), longsoran
rombakan (2)
3 Maar 0
Longsoran tanah (), aliran
tanah (), runtuhan
rombakan (), longsoran
rombakan ()

72


Gambar 5.1 Hubungan morfografi dan jumlah gerakan tanah

Berdasarkan Tabel 5.1 dan Gambar 5.1 maka dapat diketahui bahwa:
1. Gerakan tanah banyak terjadi di lereng gunungapi dan paling sedikit di lereng
bawah gunungapi.
2. Banyak kejadian gerakan tanah pada lereng gunungapi dipengaruhi oleh
lereng yang curam dengan morfologi bergelombang dan penggunaan lahan
berupa perkebunan, ladang dan sawah

5.1.2 Morfometri
Morfometri merupakan aspek-aspek kuantitatif, seperti kemiringan lereng,
bentuk lereng. ketinggian, beda tinggi, bentuk lembah, tingkat pengikisan , dan
pengaliran sungai dsb. Kelerengan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam analisis gerakan tanah, karena kestabilan lereng berkurang pada morfologi
berlereng terjal, sehingga mengakibatkan semakin besarnya gaya penggerak massa
tanah/batuan penyusun lereng. Berikut ini Hubungan gerakan tanah, kelerengan, dan
jumlah gerakan tanah (Tabel 5.2).




73

Tabel 5.2 Gerakan tanah dan kelerengan
NO KLAS LERENG
LERENG JUMLAH TITIK
GERAKAN TANAH (%) (
0
)
1 Dataran 02 0-2 -
2 Perbukitan berelief halus 26 3-7 -
3 Perbukitan berelief sedang 6-13 8-13 2
4 Perbukitan berelief agak kasar 13-25 14-20 22
5 Perbukitan berelief kasar 25-55 21-55 34
6 Perbukitan berelief sangat kasar >55 >56 -



Gambar 5.2 Diagram hubungan gerakan tanah dan kelerengan

Berdasarkan Gambar 5.2 dan Tabel 5.2 di atas, diketahui bahwa:
1. Gerakan tanah banyak terjadi pada kelerengan agak kasar 14-20 % (13-25) dan
kelerengan kasar 21-55% (25-55), sedangkan gerakan tanah paling sedikit
terjadi pada kelerengan sedang 3-13% (2-13).
2. Banyaknya kejadian gerakan tanah pada kelerengan datar-miring dipengaruhi
oleh erosi alur, erosi parit dan erosi pada tebing-tebing sungai. Pada kelerengan
74

agak kasar sampai kasar, dipengaruhi oleh kelerengan yang sangat terjal dan
aktivitas manusia (berkebun, berladang, dan pemotongan lereng).

5.1.3 Morfostruktur aktif
Morfostruktur aktif merupakan struktur-struktur pada litosfer yang berupa
daratan, meliputi pola struktur-struktur geologi (lipatan, kekar, sesar), gunungapi,
jalur pegunungan, pantai dan gempa bumi berupa konfigurasi dari gaya-gaya
endogen/tektonik. Erosi merupakan salah satu faktor yang dapat memicu terjadinya
gerakan tanah. Air permukaan yang berasal dari air hujan, sebagian akan meresap ke
dalam tanah atau batuan melalui ruang antar butir tanah atau retakan-retakan yang
terdapat pada batuan dan sebagian lagi akan mengalir di atas permukaan tanah.
Akibat aliran air permukaan, dapat menimbulkan penggerusan (erosi) terutama pada
daerah-daerah berlereng terjal atau tebing aliran sungai, sehingga lereng bagian
bawah menjadi lebih terjal dan dapat mempercepat terjadinya gerakan tanah pada
lereng di bagian atas.
Besar kecilnya air permukaan, tergantung besar intensitas dan lamanya curah
hujan di suatu daerah. Proses pengikisan yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik yang bersifat alamiah maupun akibat ulah manusia. Faktor alami antara
lain jenis batuan dan sifat fisiknya, struktur geologi, bentuklahan, iklim, curah hujan
serta vegetasi. Akibat pembukaan hutan yang tidak terkendali oleh penduduk di
puncak dan lereng bukit, pemotongan lereng untuk jalan dan permukiman, sehingga
proses pengikisan berlangsung lebih cepat.
Seluruh jenis erosi berkembang dan dapat dijumpai di hampir seluruh daerah
telitian, mulai dari erosi permukaan atau tingkat erosi ringan, erosi alur/parit atau
erosi sedang, hingga erosi lembah atau tingkat erosi berat.
Erosi permukaan hingga lembah umumnya terjadi pada daerah yang berlereng
landai hingga curam dengan tutupan lahan yang terbatas dan telah gundul serta
didukung oleh kondisi jenis tanah yang mudah tererosi dan curah hujan tinggi.
Berikut ini adalah tabel kejadian erosi meliputi pengikisan, kekuatan pengikisan
dan pengaruh pengikisan permukaan, alur dan lembah (Tabel 5.3, 5.4, 5.5).

75






PENGIKISAN
PERMUKAAN
(SURFACE EROSION)
KEJADIAN KEKUATAN PENGIKISAN PENGARUH PENGIKISAN PERMUKAAN
Pengikisan permukaan
dapat terjadi pada setiap
permukaan yang
berlereng sangat landai
hingga curam. Pada
lereng yang sangat landai
proses ini berjalan lambat
dan biasanya tidak diikuti
oleh pengikisan parit,
sedangkan pada lereng
curam selalu diikuti oleh
pengikisan alur atau parit.
Apabila hujan lebat, permukaan
tanah ditutupi lembaran tipis air.
Sebagian kecil air meresap ke
dalam tanah, lainnya terkumpul
dan bergerak ke arah lereng
bawah sambil membawa lumpur,
lanau, humus. Bahan rombakan
berasal dari lapisan tanah paling
atas. Kejadian terus terulang
setiap terjadi hujan lebat
sehingga pengikisan berjalan
secara lapis demi lapis di
permukaan tanah.
Pengikisan permukaan tergantung kelerengan, intensitas curah
hujan, sifat fisik tanah, dan kerapatan vegetasi yang menutupi
permukaan tanah. Pengikisan permukaan berlangsung lebih cepat di
permukaan lereng yang dibentuk oleh tanah penutup gembur dan
berbutir halus. Bila terjadi hujan lebat, butir-butir air hujan jatuh
bebas membentur permukaan tanah, menyebabkan lekukan kecil di
permukaan tanah. Adanya lekukan menunjukkan bahwa terjadi
pemindahan sebagian massa tanah karena benturan air hujan. Air
hujan yang terkumpul di permukaan tanah bergerak mengalir ke
arah yang lebih rendah sambil membawa partikel-partikel halus
hasil benturan titik-titik air hujan tadi. Adanya bahan rombakan
yang terbawa oleh aliran air permukaan itu menyebabkan daya
pengikisan air bertambah, proses ini terjadi meluas pada lereng
bukit di wilayah Kabupaten Magetan.
Secara sepintas di daerah landai terlihat tidak
mendatangkan bahaya longsor. Walaupun kejadian
berjalan sangat lambat tetapi membawa pengaruh
terhadap kesuburan tanah terutama tanah bagian atas
yang kaya akan zat-zat hara yang dibutuhkan oleh
tanaman. Pembentukan lapisan yang kaya zat hara ini
membutuhkan waktu yang cukup lama. Bila pengikisan
permukaan berlangsung terus tanpa ada usaha untuk
menguranginya, maka akan terjadi ketidakseimbangan
antara kecepatan pembentukan zat hara dan kecepatan
pengikisan. Akibatnya semua zat yang dibutuhkan oleh
tanaman akan habis terbawa hanyut oleh aliran
permukaan dan yang tertinggal hanyalah tanah yang
tidak subur.
Tabel 5.3 Kejadian erosi meliputi pengikisan, kekuatan pengikisan dan pengaruh pengikisan permukaan
76

Tabel 5.4 Kejadian erosi alur/parit meliputi pengikisan, kekuatan pengikisan dan pengaruh pengikisan alur





PENGIKISAN ALUR/PARIT
(GULLY EROSION)
KEJADIAN KEKUATAN PENGIKISAN PENGARUH PENGIKISAN ALUR
Pengikisan alur terjadi apabila aliran
permukaan bertambah deras. Hal ini
dapat disebabkan karena
bertambahnya volume air akibat
curah hujan yang makin tinggi,
lereng permukaan semakin besar,
dan berkurangnya tumbuh-
tumbuhan yang menutupi daerah
tersebut.
Bertambah derasnya aliran
permukaan menyebabkan daya
kikisnya bertambah kuat, karena
bahan-bahan yang terbawa
hanyut akan menggerus bagian
dasar aliran sehingga
terbentuklah parit-parit kecil
(gully).
Pengikisan alur ini berkurang pada daerah
yang telah dihijaukan kembali, meskipun
memiliki kelerengan dan litologi yang
sama.
Pengikisan alur ini sangat umum terjadi,
terutama pada lereng-lereng perbukitan
yang landai dan pada tebing di pinggir jalan
(road cut). Aliran air yang membawa bahan
rombakan, seperti lumpur, lanau, dan
butiran pasir dengan daya kikis yang cukup
besar, sehingga mampu membentuk alur-
alur yang membentuk pola menjari atau
sejajar.
Pengaruh pengikisan alur terhadap lingkungan kehidupan di
sekitarnya tidak terasa secara langsung, akan tetapi dalam
waktu yang relatif singkat mengakibatkan tipisnya tanah
penutup dan berkurangnya kesuburan tanah. Hal ini tentunya
akan mempengaruhi kehidupan penduduk di daerah tersebut.
77

Tabel 5.5 Kejadian erosi lembah meliputi pengikisan, kekuatan pengikisan dan pengaruh pengikisan lembah

PENGIKISAN LEMBAH
(VALLEY EROSION)
KEJADIAN
KEKUATAN
PENGIKISAN
PENGARUH PENGIKISAN LEMBAH
Pengikisan lembah, kelanjutan dari proses pengikisan alur
yang terjadi sebelumnya. Parit-parit tersebut mempunyai pola
sejajar/hampir sejajar. Bagian yang terletak diantara dua parit
membentuk semacam pematang yang dibentuk oleh batuan
dasar yang ditutupi oleh tanah lapukan yang tidak begitu tebal.
Di bagian lereng pematang ditemukan alur-alur kecil dan
diujung bawah alur tersebut terlihat tumpukan bahan
rombakan yang berbentuk kipas kecil. Hal ini menunjukkan
bahwa bahan-bahan lepas tadi bergerak dari bagian lereng
pematang ke dalam parit akibat pengikisan permukaan. Di
sepanjang dasar parit terdapat penimbunan semua bahan
rombakan yang belum terhanyutkan aliran permukaan. Pada
saat hujan lebat, air yang terkumpul di dalam parit
menghanyutkan bahan rombakan yang telah terkumpul tadi.
Pengikisan
parit sangat
umum terlihat
pada lereng
yang agak
andau hingga
curam dimana
tanahnya agak
gembur dan
tumbuh-
tumbuhan
penutupnya
jarang.
Aliran air itu mempunyai
daya kikis yang lebih besar
karena banyaknya bahan
rombakan yang terbawa
hanyut. Bahan rombakan
berbutir agak kasar yang
terbawa hanyut akan
mempercepat proses
pengikisan dasar parit.
Partikel-partikel tadi selama
dalam perjalannya akan
menggerrus dasar parit,
sehingga lama-kelamaan
parit bertambah dalam.
Pengikisan parit merupakan awal pembentukkan lembah yang
umumnya terjadi di bagian lereng bukit yang dibentuk oleh
batuan berbutir halus, seperti tufa dan batupasir berbutir halus
yang disisipi lempung. Pada daerah-daerah yang dibentuk oleh
breksi, lava dan batuan terobosan jarang ditemukan. Apabila
dijumpai, umumnya pada batuan yang terkekarkan. Dari fakta ini
dapat diketahui bahwa proses pengikisan parit, selain tergantung
pada kemiringan lereng, vegetasi, dan jenis batuan, juga erat
hubungannya dengan stuktur geologi. Pengaruh pengikisan
lembah adalah lereng menjadi semakin curam, kestabilan lereng
terganggu, dan akhirnya dapat menimbulkan longsoran. Apabila
disertai hujan lebat, dapat menimbulkan banjir bandang.
5.1.4 Morfostruktur pasif
Morfostruktur pasif merupakan struktur-struktur pada litosfer yang berupa
batuan (litologi) dan pelapukannya. Gerakan tanah di wilayah penelitian, banyak
dipengaruhi oleh sifat fisik batuan, tanah pelapukan dan tebal tanah yang merupakan
salah satu faktor alam penyebab terjadinya gerakan tanah. Perlapisan batuan yang
miring ke arah luar lereng dapat menyebabkan terjadinya gerakan tanah. Batuan yang
terkekarkan (retakan-retakan), merupakan zona lemah, yang merupakan salah satu
jalan masuknya air ke dalam tanah, akibat adanya zona lemah adalah berkurangnya
kekuatan geser batuan dalam menahan gerakan serta penjenuhan air dalam
tanah/batuan dapat meningkat memicu kenaikan tekanan air pori dalam massa
tanah/batuan, dan akhirnya mendorong massa tersebut untuk bergerak longsor. Jadi
berdasarkan aspek geologi, mempunyai kerentanan gerakan tanah tinggi

1. Tuff Jobolarangan
a. Batuan penyusun terdiri dari tuff lapili dan breksi batuapung.
b. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat, bersifat
lunak sampai agak teguh, plastisitas rendah sampai sedang, dengan ketebalan
tanah pelapukan 1,5 3 meter.
c. Gerakan tanah dijumpai di 22 titik lokasi: longsoran tanah (1). longsoran batu
(), longsoran tanah dan batu (23), runtuhan batu (), runtuhan batu dan tanah
(1), aliran tanah () dan aliran tanah dan batu (1). Jenis gerakan tanah yang
umum terjadi adalah longsoran tanah dan batu, dengan kelerengan berkisar
antara 14-20. Tersebar di Desa Dadi, Desa Sarangan, dan Desa Ngancar
2. Breksi Jobolarangan
a. Batuan penyusun terdiri dari breksi gunungapi, sisipan lava andesit.
b. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat
kemerahan, bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang-tinggi,
dengan ketebalan tanah pelapukan 1,5 2 meter.
c. Gerakan tanah dijumpai di 2 titik lokasi, dengan jenis longsoran tanah (),
longsoran batu (), longsoran tanah dan batu (2), runtuhan tanah (), runtuhan
79

batu (), dan runtuhan tanah dan batu () dengan kelerengan berkisar antara 18-
55. Tersebar di Desa Ngancar

3. Batuan Gunungapi Lawu
a. Batuan penyusun terdiri dari tuff breksian, breksi tuffan, bersisipan lava
andesit.
b. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau, warna coklat kemerahan, bersifat
lunak sampai agak teguh, plastisitas tinggi, dengan ketebalan tanah pelapukan
1 2 meter.
c. Gerakan tanah dijumpai di 17 titik lokasi, dengan jenis longsoran tanah (1),
longsoran tanah dan batu (14), runtuhan tanah dan batu (1), aliran tanah ()
dan aliran tanah dan batu (1). Gerakan yang umum terjadi adalah longsoran
tanah dan batu, dengan kelerengan berkisar antara 10-20. Tersebar di Desa
Sarangan

4. Endapan Lahar Lawu
a. Batuan penyusun: terdiri dari konglomerat berkomponen andesit, basal, dan
sedikit batuapung bercampur dengan pasir gunungapi.
b. Tanah pelapukan umumnya berupa lanau lempungan, warna coklat
kemerahan, bersifat lunak sampai agak teguh, plastisitas sedang, dengan
ketebalan tanah pelapukan 2-3 meter.
c. Gerakan tanah dijumpai di 16 titik lokasi, dengan jenis longsoran tanah (3),
longsoran batu (), longsoran tanah dan batu (15), runtuhan tanah (), runtuhan
batu (1), runtuhan tanah dan batu (1), aliran tanah (), dan aliran tanah dan
batu (), dengan kelerengan berkisar antara 05-18. Tersebar di Desa
Buluhgunung dan Desa Dadi.

80


Gambar 5.3 Diagram hubungan jumlah gerakan tanah dan formasi (litologi).

5.1.5 Morfoasosiasi
Morfoasosiasi merupakan proses-proses dengan skala waktu yang pendek,
nampak dan dapat dirasakan, meliputi proses erosi-denudasional, volkanisme yang
bersifat cepat, fluvial, pantai, pelarutan (karst), angin (aeolian), glasial, dan erosi
gerak massa tanah dan batuan, serta kaitan fisik dengan aktifitas biotik termasuk
manusia, merupakan konfigurasi dari gaya-gaya eksogen. Faktor pemicu gerakan
tanah tidak lepas dari pengaruh keadaan sekitarnya diantaranya penggunaan lahan.
Penggunaan lahan merupakan wujud dari aktivitas manusia seperti pemukiman,
berkebun, berladang dan persawahan, yang merupakan fungsi dari iklim, jenis tanah
dan kelerengan. Aktivitas manusia besar sekali pengaruhnya terhadap terjadinya
gerakan tanah, terutama yang berkaitan dengan bidang kontruksi, kondisi tutupan
lahan atau perubahan penggunaan lahan. Gerakan tanah atau longsor banyak terjadi
di sawah yang basah pada tebing lereng, tegalan atau kebun pada lereng terjal
(Gambar 5.4). Hal ini terjadi karena sawah berpotensi untuk meresapkan air ke
dalam lereng, sehingga tingkat kejenuhan air pada lereng meningkat dan mudah
longsor. Tegalan dengan jenis tanaman yang berakar serabut sering pula berkaitan
erat dengan kejadian gerakan tanah. Hal ini terjadi karena akar serabut berperan
menggemburkan tanah sehingga air permukaan dapat meresap kedalam lereng dan
meningkatkan tekanan air dalam tanah. Pembukaan hutan secara sembarangan,
81

penanaman jenis pohon yang terlalu berat dengan jarak tanam terlalu rapat,
permukiman, dan pemotongan tebing jalan merupakan pola penggunaan lahan yang
umum di daerah longsor.
Gambar 5.4 Gerakan tanah pada sawah berlereng terjal.

5.2 Pengaruh pengunaan lahan terhadap gerakan tanah
Penggunaan lahan adalah wujud dari berbagai aktivitas manusia, seperti
permukiman, berkebun, berladang, dan persawahan, yang merupakan fungsi dari
iklim, jenis tanah, dan kelerengan. Aktivitas manusia besar sekali pengaruhnya
terhadap terjadinya gerakan tanah, terutama yang berkaitan dengan bidang
konstruksi, kondisi tutupan lahan atau perubahan penggunaan lahan. Sering dijumpai
pada lereng yang longsor adanya sawah basah pada tebing lereng, tegalan/kebun
pada lereng terjal atau kolam-kolam air. Hal ini disebabkan karena sawah dan
kolam-kolam berpotensi untuk meresapkan air ke dalam lereng, hingga tingkat
kejenuhan dan tekanan hidrostatis lereng meningkat. Tegalan atau tanaman yang
berakar serabut, sering pula berkaitan erat dengan kejadian gerakan tanah. Tanaman
yang berakar serabut berperan menggemburkan tanah, sehingga air permukaan dapat
mudah meresap ke dalam lereng dan meningkatkan tekanan air dalam tanah.
Pembukaan hutan secara sembarangan, penanaman jenis pohon yang terlalu berat
dengan jarak tanam terlalu rapat, permukiman, dan pemotongan tebing jalan
merupakan pola penggunaan lahan yang umum di daerah longsor. Berikut hubungan
gerakan tanah dengan penggunaan lahan (Gambar 5.5) dan gerakan tanah dengan
aktivitas manusia (Gambar 5.6) yang terjadi di daerah penelitian.
82


Gambar 5.5 Diagram hubungan gerakan tanah dan penggunaan lahan


Gambar 5.6 Hubungan gerakan tanah dan aktivitas manusia

Berdasarkan Gambar 5.5 dan Gambar 5.6 diketahui bahwa:
1. Pengaruh penggunaan lahan terhadap jumlah gerakan tanah cukup dominan. Hal
ini dapat diketahui dari banyaknya kejadian gerakan tanah pada penggunaan
lahan kebun/perkebunan, perladangan, dan sawah, sedangkan gerakan tanah
paling sedikit terjadi pada penggunaan lahan pemukiman.
83

2. Banyaknya kejadian gerakan tanah pada penggunaan lahan kebun/ perkebunan,
pemotongan lereng, permukiman, perladangan, dan sawah mengakibatkan tanah
menjadi gembur untuk berkebun dan berladang, serta tanah jenuh air pada
lereng terjal akibat persawahan. Pembuatan jalan dengan cara pemotongan
lereng berakibat kemiringan lereng tidak stabil kembali yang berpotensi longsor.

5.2.1 Pengaruh curah hujan terhadap gerakan tanah
Iklim merupakan fakor penting yang menyebabkan terjadinya perubahan
bentuk permukaan lahan. Parameter-parameter iklim yang besar pengaruhnya
terhadap gerakan massa adalah hujan dan temperatur. Hujan sebagai penyebab erosi,
bertambahnya berat massa batuan yang telah lapuk, serta memperkecil gaya tarik
antara batuan yang telah lapuk dengan batuan segar di bawahnya yakni dengan
pembentukan bidang peluncur. Temperatur kaitannya dengan intensitas penyinaran
matahari mempengaruhi terjadinya pemuaian dan penyusutan batuan sehingga
mendorong batuan mengalami pelapukan.

Mekanisme hujan dalam memicu gerakan tanah, yaitu setelah hujan deras,
lalu berlangsung proses infiltrasi air hujan ke dalam lereng, sehingga mengakibatkan
naiknya muka air tanah dalam lereng dan mengakibatkan pengurangan kuat geser
tanah/batuan pada lereng, akhirnya terjadi proses pergerakan massa tanah dalam
lereng. meresapnya air hujan ke dalam lereng juga dapat mengakibatkan:
1. Peningkatan berat isi atau beban massa tanah/batuan.
2. Berkurangnya atau hilangnya tegangan suction di zona tidak jenuh air.
3. Erosi internal hanyutnya sebagian material tanah.
4. Perubahan kandungan mineral penyusun massa tanah/batuan pada lereng.

Curah hujan sebagai salah satu komponen iklim, akan mempengaruhi kadar air
dan kejenuhan air. Pada banyak kasus longsor di wilayah Kabupaten Magetan
maupun di tempat lain, air hujan seringkali menjadi pemicu terjadinya longsor.
Hujan dapat meningkatkan kadar air dalam tanah lebih jauh akan menyebabkan
kondisi fisik tubuh lereng berubah-ubah. Kenaikan kadar air akan memperlemah sifat
fisik-mekanik tanah, sehingga mempengaruhi kondisi internal tubuh !ereng dan
84

menurunkan faktor kemanan lereng. Kondisi besaran curah hujan tersebut tentunya
sangat mempengaruhi kondisi tanah atau batuan, karena sifat fisik tanah/batuan
menjadi kurang tahan apabila kandungan air di dalamnya berlebihan, dan dapat
memicu terjadinya gerakan tanah.
Pengaruh air saat terjadi hujan lebat akan menyebabkan perubahan terhadap
sifat fisik tanah, yaitu menurunnya harga kohesi tanah, sehingga kekuatan geser
tanah berkurang, sedangkan bobot massa tanahnya bertambah. Seiring dengan
meningkatnya bobot massa tanah maka kuat geser tanahnya akan menurun.
Disamping itu pengaruh tekanan air pori pada tanah/batuan yang berkekar/ rekahan
akan mempengaruhi kestabilan lereng.
Berdasarkan hal tersebut, maka tingginya curah hujan dapat memicu
terjadinya gerakan tanah. Dengan demikian faktor curah hujan sangat berpengaruh
terhadap terjadinya gerakan tanah. Hubungan ini dapat dilihat berdasarkan tingginya
jumlah gerakan tanah yang diperoleh berdasarkan data lapangan dan besarnya curah
hujan pada masing-masing wilayah kecamatan. Berikut hubungan gerakan tanah
dengan curah hujan di daerah penelitian (Gambar 5.7).


Gambar 5.7 Hubungan gerakan tanah dan curah hujan

85


Berdasarkan Gambar 5.7 diketahui bahwa:
1. Gerakan tanah banyak terjadi pada curah hujan tinggi, yaitu, 3000-3500
mm/tahun.
2. Banyaknya kejadian gerakan tanah pada pada curah hujan 3000-3500 mm/tahun
dipengaruhi oleh tingginya aktivitas manusia yang mengakibatkan tanah
menjadi gembur, lereng menjadi terjal/tegak, tanah menjadi jenuh air (berkebun,
berladang, bermukim, pemotongan lereng, dan persawahan).

5.2.2 Pengaruh Tebal Tanah Terhadap Gerakan Tanah
Ketebalan tanah sangat berpengaruh terhadap terjadinya gerakan tanah.
Tanah yang tebal dapat mendorong longsor akibat dari volume yang besar dan
kestabilan lerengnya yang kecil. Umumnya tanah yang relatif tebal lebih rentan
terhadap kejenuhan air, apalagi bila tanah tersebut porous. Air hujan yang meresap
ke dalam lereng dapat meningkatkan penjenuhan tanah pada lereng sehingga tekanan
air yang merenggangkan ikatan antar butir tanah meningkat, akhirnya massa tanah
tersebut bergerak longsor. Berikut hubungan gerakan tanah dan ketebalan tanah
(Gambar 5.8)

Gambar 5.8 Hubungan gerakan tanah dan ketebalan tanah.
86


Berdasarkan gambar 5.8 di atas diketahui bahwa:
1. Gerakan tanah banyak terjadi pada ketebalan tanah 0.25-0.5 meter.
2. Kondisi di atas disebabkan karena tanah berada pada lereng terjal. Meskipun
tumpukan tanah yang tebal, tetapi rentan terhadap gerakan tanah karena
dijumpai pada lereng terjal. Juga akibat tanah menumpang di atas batuan
impermeable. Air hujan yang jatuh ke tanah langsung menembus tanah dan
mencapai batuan dasar, membentuk bidang gelincir yang memudahkan lapisan
tanah menjadi rentan bergerak.

5.2.3 Pengaruh geomorfologi terhadap gerakan tanah
Faktor geomorfologi merupakan faktor pemicu terjadinya gerakan tanah.
Faktor tersebut meliputi morfologi, kelerengan, kondisi lapukan litologi, intensitas
erosi serta hubungan gerakan tanah dengan penggunaan lahan. Berikut ini hubungan
faktor kendali geomorfologi terhadap gerakan tanah (Tabel 5.6).

Tabel 5.6 Hubungan kendali geomorfologi terhadap gerakan tanah
NO
KENDALLI
GEOMORFOLOGI
GERAKAN TANAH
1
Morfografi (Bentuk
morfologi)
Morfografi yang tinggi dengan klas lereng yang
curam sangat berpotensi untuk terjadinya gerakan
tanah. Pengaruh geologi juga berpengaruh, kondisi
litologi yang belum kompak di perbukitan curam
dengan tingkat lapukan yang tinggi, sehingga soil
menjadi tebal. Kondisi seperti ini sangat peka untuk
terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah tersebut
terjadi pada lereng tengah G. Lawu, lereng bawah
G. Lawu dan kerucut parasiter G. Sidoramping,
dimana sebagian besar terdapat pada lereng tengah
G. Lawu.
Bersambung.
87

2
Morfometri
(Kelerengan)
Kelerengan merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam analisis gerakan tanah, karena
kestabilan lereng berkurang pada morfologi
berlereng terjal, sehingga mengakibatkan semakin
besarnya gaya penggerak massa tanah/batuan
penyusun lereng. Kestabilan lereng berkurang
akibat aktivitas manusia seperti pemotongan lereng
untuk jalan/pemukiman sehingga lereng terbuka.
Apabila terjadi hujan dan air masuk rekahan-
rekahan maka kondisi ini mudah untuk terjadi
gerakan tanah/longsor. Gerakan tanah ini terjadi
pada lereng tengah G. Lawu, dimana kelerengan
pada daerah ini adalah agak terjal-terjal (25-55)
dan dipengaruhi oleh adanya penggunaan lahan
ataupun aktivitas manusia.
3
Morfostruktur aktif
(Erosi)
Erosi merupakan salah satu faktor yang dapat
memicu terjadinya gerakan tanah. Air permukaan
yang berasal dari air hujan, sebagian akan meresap
ke dalam tanah atau batuan melalui ruang antar
butir tanah atau retakan-retakan yang terdapat pada
batuan dan sebagian lagi akan mengalir di atas
permukaan tanah. Akibat aliran air permukaan,
dapat menimbulkan penggerusan (erosi) terutama
pada daerah-daerah berlereng terjal atau tebing
aliran sungai, sehingga lereng bagian bawah
menjadi lebih terjal dan dapat mempercepat
terjadinya gerakan tanah pada lereng di bagian atas.
Erosi ini hampir terjadi diseluruh daerah telitian,
terutama pada lereng tengah G. lawu, dimana
daerah tersebut memiliki kelerengan agak terjal-
terjal dan dipengaruhi oleh adanya penggunaan
lahan serta aktivitas manusia ataupun curah hujan
Lanjutan Hal.86
Bersambung.
88

yang cukup tinggi sehingga menambah potensi
terjadinya erosi yang besar.
4
Morfostruktur pasif
(Pelapukan litologi)
Pelapukan tanah, sifat fisik batuan dan tebal tanah
merupakan salah satu faktor alam penyebab
terjadinya gerakan tanah. Perlapisan batuan yang
miring ke arah luar lereng dapat menyebabkan
terjadinya gerakan tanah. Batuan yang terkekarkan
(retakan-retakan), merupakan zona lemah, yang
merupakan salah satu jalan masuknya air ke dalam
tanah, akibat adanya zona lemah adalah
berkurangnya kekuatan geser batuan dalam
menahan gerakan serta penjenuhan air dalam
tanah/batuan dapat meningkat memicu kenaikan
tekanan air pori dalam massa tanah/batuan, dan
akhirnya mendorong massa tersebut untuk bergerak
longsor. Jadi berdasarkan aspek geologi
mempunyai kerentanan gerakan tanah tinggi,
seperti halnya pada satuan batuan tuff
jobolarangan, breksi jobolarangan, tuff lawu dan
endapan lahar lawu. Pada satuan batuan tersebut
memiliki pelapukan berupa lanau-lanau lempungan
dengan ketebalan mencapai 1-2 meter.
5
Morfoassosiasi
(Penggunaan lahan
terhadap gerakan
tanah)
Penggunaan lahan merupakan wujud dari aktivitas
manusia seperti pemukiman, berkebun, berladang
dan persawahan, yang merupakan fungsi dari iklim,
jenis tanah dan kelerengan. Aktivitas manusia besar
sekali pengaruhnya terhadap terjadinya gerakan
tanah, terutama yang berkaitan dengan bidang
kontruksi, kondisi tutupan lahan atau perubahan
penggunaan lahan. Gerakan tanah atau longsor
banyak terjadi di sawah yang basah pada tebing
lereng, tegalan atau kebun pada lereng terjal. Hal
Lanjutan Hal.87
Bersambung.
89

ini terjadi karena sawah berpotensi untuk
meresapkan air kedalam lereng, sehingga tingkat
kejenuhan air pada lereng meningkat dan mudah
longsor. Tegalan dengan jenis tanaman yang
berakar serabut sering pula berkaitan erat dengan
kejadian gerakan tanah. Hal ini terjadi karena akar
serabut berperan menggemburkan tanah sehingga
air permukaan dapat meresap kedalam lereng dan
meningkatkan tekanan air dalam tanah. Pembukaan
hutan secara sembarangan, penanaman jenis pohon
yang terlalu berat dengan jarak tanam terlalu rapat,
permukiman, dan pemotongan tebing jalan
merupakan pola penggunaan lahan yang umum di
daerah longsor. Sebagian besar gerakan tanah ini
terjadi pada lereng tengah G. Lawu (perladangan,
perkebunan dan jalan) adan lereng bawah G. Lawu
(persawahan dan pemukiman).


5.3 Penentuan Zona Kerentanan Gerakan Tanah
Zona kerentanan gerakan tanah ditentukan berdasarkan pada kejadian
gerakan tanah maupun tingkat kerentanan akan terjadinya gerakan tanah yang dinilai
dari beberapa parameter pengendalinya, yaitu kondisi geologi (litologi, pelapukan,
struktur geologi), kelerengan, tebal tanah, penggunaan lahan, dan curah hujan.
Pemetaannya dilakukan dengan cara tak langsung (cara statistik) dan cara langsung.
Berdasarkan cara pemetaan tak langsung diperoleh rentangan nilai bobot antara -
1.511615 sampai -0.847934. Dari rentang nilai tersebut dikelompokkan menjadi 4
kelas derajat kerentanan gerakan tanah (Tabel 5.7).



Lanjutan Hal.88
90

Tabel 5.7 Pengelompokkan nilai bobot ke dalam kelas zonasi.
BATAS KELAS DERAJAT KERENTANAN
< -1.278038 1 Sangat rendah
> -1.278038 dan < -1.110112 2 Rendah
> -1.110112 dan < -1.037311 3 Menengah
> -1.037311 4 Tinggi

Kemudian dibuat peta zona kerentanan gerakan tanah tak langsung yang rincian
luasan tiap kelasnya adalah sebagai berikut:
1. Zona kerentanan gerakan tanah rendah, seluas 2,43 Km
2
(14,89 %).
2. Zona kerentanan gerakan tanah menengah, seluas 2,83 Km
2
(16,98 %).
3. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, seluas 11,30 Km
2
(68,13 %).

Pemetaan langsung gerakan tanah di lapangan didasarkan pada jumlah kejadian
(titik) gerakan tanah dan daerah pengaruhnya, jenis batuan, tebal tanah lapukan,
kelerengan, dinamika proses pada lereng, penggunaan lahan dan aktivitas manusia
secara langsung maupun tak langsung terhadap gerakan tanah.

Seperti pada zona kerentanan dari hasil proses statistik, maka pada pemetaan
cara langsung dibagi menjadi 2 kelas zona kerentanan:
1 . Zona kerentanan gerakan tanah menengah, seluas 1,49 Km
2
(11,64 %).
2. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, seluas 15,07 Km
2
(88,36 %).

Berdasarkan hasil perhitungan, pengamatan dan penentuan kelas dari peta tak
langsung (statistik) dan peta langsung (lapangan), maka dapat ditentukan peta zona
kerentanan gerakan tanah akhir (final) dengan menumpang susunkan peta statistik
dan peta lapangan dengan mempertimbangkan kelas rata-rata dari kedua peta
tersebut. Hasilnya adalah peta zona kerentanan gerakan tanah final yang
dikelompokan menjadi kerentanan menengah (kelas 3) dan berkerentanan tinggi
(kelas 4):
1. Zona kerentanan gerakan tanah menengah, seluas 5,31 Km
2
(32,42%).
91

2. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi, seluas 11,25 Km
2
(67,53%).

5.3.1 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah
Zona berkerentanan menengah terjadinya gerakan tanah, sebarannya
mencapai 5,31 Km
2
atau 32,42% dari luas wilayah daerah penelitian.
Zona kerentanan gerakan tanah menengah ditandai oleh:
1. Menempati satuan bentuklahan: perbukitan sedang-perbukitan agak kasar,
berkelerengan miring-agak curam (8-20%).
2. Batuan penyusun: satuan tuff Formasi Tuff Jobolarangan dan breksi
Jobolarangan, satuan Tuff Formasi Batuan Vulkanik Lawu dan Breksi lahar
Lawu.
3. Penggunaan lahan: permukiman, sawah tadah hujan, kebun/perkebunan dan
ladang/perladangan yang berada pada daerah dengan kelerengan terjal.
4. Curah hujan rata-rata tahunan pada umumnya 2500-3000 mm/tahun.
5. Tebal tanah berkisar antara <0,25 dan 0,5-0,25 m.
6. Gerakan tanah besar maupun kecil dapat terjadi terutama di daerah yang
berbatasan dengan lembah sungai, gawir/tebing akibat pemotongan jalan atau
pada lereng yang mengalami gangguan.
7. Gerakan tanah lama masih mungkin aktif bergerak kembali bila ada curah hujan
yang tinggi.

5.3.2 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi
Zona ini mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk terjadinya gerakan
tanah, dengan kata lain potensi untuk terjadi gerakan tanah sangat tinggi. Luas
sebarannya 11,25 km
2
atau 67,53% dari luas wilayah daerah penelitian.
Zona kerentanan gerakan tanah tinggi ditandai oleh:
1. Menempati satuan bentuklahan: perbukitan berelief agak kasar-kasar,
berkelerengan agak curam-curam (13-55%).
2. Batuan penyusun: satuan tuff Formasi Tuff dan breksi Jobolarangan, satuan
Tuff Formasi Batuan Vulkanik Lawu dan Breksi lahar Lawu.
92

3. Penggunaan lahan: kebun/perkebunan, permukiman, ladang/perladangan, sawah
tadah hujan, danau/telaga.
4. Curah hujan rata-rata tahunan pada umumnya 3000-3500 mm/tahun.
5. Tebal tanah berkisar antara <0.25-0.5m.
6. Gerakan tanah berukuran besar sampai sangat kecil telah sering terjadi dan akan
cenderung sering terjadi.
7. Gerakan tanah lama dan baru masih dapat aktif bergerak kembali jika ada
pemicu hujan yang tinggi dan proses erosi yang kuat dan intensif.
























93

BAB 6
KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh penulis antara lain :

a. Tingkat kelerengan yang ada didaerah telitian dapat dibagi menjadi : dataran
dengan kelas lereng 0%-2% (0-2) menempati 2,8 %, perbukitan berelief
landai sampai miring dengan kelas lereng 3%-13% (2-13) menempati 6,6 %,
perbukitan berelief agak curam dengan klas lereng 14-20%, (13
o
-25
o
)
menempati 46.7 %, perbukitan curam dengan klas lereng 21-55%, (25
o
-55
o
)
menempati 43.9 % dari luas total daerah penelitian .
b. Pembagian satuan geomorfik daerah penelitian terdiri atas: kerucut parasiter
G. Sidoramping menempati 4,16 % atau 0,70 km
2
, lereng tengah G. Lawu
menempati 77,03 % atau 13,00 km
2
, lereng bawah G. Lawu menempati
12,47 % atau sekitar 2,11 km
2
, Maar menempati 6,30 % atau sekitar 1,05
km
2
.
c. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda terdiri atas: Satuan batuan tuff
Formasi Jobolarangan, Satuan batuan breksi Formasi Jobolarangan, satuan
tuff Gunung api Lawu dan satuan breksi lahar lawu.
d. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terdapat sesar turun
pada tuff Jobolarangan,, breksi Joborangan.
e. Gerakan tanah yang banyak terjadi di daerah penelitian antara lain: longsoran
tanah (land slide), longsoran material rombakan (debris slide), jatuhan batuan
(rock fall), jatuhan material rombakan (debris fall), aliran tanah (soil flow),
aliran material rombakan (debris flow).
f. Penyebab gerakan tanah di daerah penelitian terdiri atas: sifat fisik lapukan
litologi penyusun, kelerengan, tebal tanah, curah hujan dan penggunaan
lahan.
94

g. Hasil pemetaan zona kerentanan gerakan tanah secara langsung dan tidak
langsung didapatkan peta zona kerentanan gerakan tanah akhir. Terdiri atas
zona kerentanan menengah dan zona kerentanan tinggi.





























95

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kabupaten Magetan; 2004, Peta Hidrologi Kabupaten Magetan,
Pemerintah Daerah Kabupaten Magetan.
Bappeda Kabupaten Magetan, 2007, 2008, Kabupaten Magetan Dalam Angka,
Pemerintah Kabupaten Magetan.
Bappeda Kabupaten Magetan, 2008, Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Kabupaten
Magetan, Pemerintah Kabupaten Magetan, hal 2-3.
Hardiyanto, H.C.; 2003, Mekanika Tanah II, Edisi 3, Gadjah Mada University Prees,
hal 326-343.
Bemmelen van, R.W., 1949, The Geology of Indonesia, vol I-A, Gov. Printed office
s The Hague Martinus Nijhof, 732 p.
Herri Soeryana, 1998, Analisa Mekanika Tanah dan Batuan Menunjang Kegiatan
Pemetaan Geologi Teknik, Direktorat Geologi Tata Lingkungan
KEPMEN-ESDM, No. 1452 K/10/MEM/2000, Lampiran III, Pedoman Teknis
Pemetaan Gerakan Tanah, Jakarta.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi,
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, 2007,
Strategi Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia, , Prosiding Seminar Mitigasi
Bencana Geologi, Bandung.
Sudrajat, Untung, dkk, 1975, Struktur geologi Jawa Timur.
Sutarso & Suyitno, 1976, Peta kerangka tektonik Jawa Tengah-Jawa Timur bagian
utara.
Sidato, dkk, 1993, Peta Geologi Lembar Magetan, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi, Bandung.
Soekardi Poespoardoyo, DGTL, 1981, Peta Hidrogeologi Lembar Magetan, Jawa.
Van Bemmelen, R.W., 1949, The Geology of Indonesia, vol I-A, Gov. Printed
offices The Hague Martinus Nijhof, h.732.
Varnes, D. J., 1978, Slope Movement and Typea of Processes in Landslides,
Analysis and Control Transportation Research Board, National Academy of
Sciences, Washington D.C.
Zuidam, R. A. 1983. Aspect Of The Applied Geomorphologic Map of The Rebublic
of Indonesia, scale 1:100.000 with Sub Map scale 1:25.000 Revised,
Bakosurtanal ITC Project, Bakosurtanal, Cibinong, Bogor, Indonesia.




96













LAMPIRAN





















Lampiran 1. Data dasar gerakan tanah Daerah Plaosan dan sekitarnya
LP
KOORDINAT LOKASI
JENIS
GERAKAN
TANAH
TEBAL
TANAH
(m)
LITOLOGI
SATUAN
BATUAN
FORMASI
SLOPE
(...
o
)
SATUAN
BENTUKLAHAN
SATUAN
GEOMORFOLOGI
CURAH
HUJAN
DAN ZONA
(mm/thn)
E S KECAMATAN DESA DUSUN
1 111
o
1512.1 07
o
4110,2 Plaosan Dadi Patukdoro DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 5 Perbktan berelief sedang Lereng bawah gunung api 3000-3500
2 111
o
156.7 07
o
4110.6 Plaosan Dadi Patukdoro DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 9 Perbktan berelief sedang Lereng bawah gunung api 3000-3500
3 111
o
1427.2 07
o
4058.2 Plaosan Dadi Dadi DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 22 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
4 111
o
1425.2 07
o
4057.2 Plaosan Dadi Dadi DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 23 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
5 111
o
1424.3 07
o
4056.8 Plaosan Dadi Dadi DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 25 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
6 111
o
1423 07
o
4056 Plaosan Dadi Dadi DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 24 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
7 111
o
1421.5 07
o
4055.9 Plaosan Dadi Dadi DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 25 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
8 111
o
1417.9 07
o
4054.1 Plaosan Dadi Dadi RF,DF 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 24 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
9 111
o
1341.8 07
o
419.8 Plaosan Dadi Genyong RS,DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 25 Prbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
10 111
o
1249.3 07
o
4056.2 Plaosan Ngancar Ngancar DS 0,10 Breksi Breksi Vulkanik Breksi Jobolarangan 37 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
11 111
o
1237.6 07
o
4042.8 Plaosan Sarangan Ngluweng DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 37 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
12 111
o
129.8 07
o
4041.9 Plaosan Ngancar Ngancar DS 0,20 Breksi Breksi Vulkanik Breksi Jobolarangan 36 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
13 111
o
1423.9 07
o
4045.5 Plaosan Dadi Ngrayong DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 25 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
14 111
o
1411.8 07
o
4023.8 Plaosan Dadi Nguolo RS,DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 35 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
15 111
o
149 07
o
4024.2 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 35 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
16 111
o
145.6 07
o
4025.8 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 33 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
17 111
o
145 07
o
4026.2 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 34 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
18 111
o
143.9 07
o
4029.5 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 32 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
19 111
o
1353.5 07
o
4032.7 Plaosan Dadi Nguolo DS,DF 0,20 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 30 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
20 111
o
143.9 07
o
4029.5 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 30 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
21 111
o
1348.8 07
o
4023.1 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 31 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
22 111
o
1353.6 07
o
4025.2 Plaosan Dadi Nguolo DS 0,30 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 34 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
23 111
o
1346.1 07
o
4022.5 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 33 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
24 111
o
1337.3 07
o
4020.2 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 34 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
25 111
o
1327.5 07
o
4043.5 Plaosan Sarangan Sarangan RS,DS 0,2 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 20 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
26 111
o
1229.6 07
o
407.4 Plaosan Sarangan Ngluweng kulon DS 0,3 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 29 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
27 111
o
126.7 07
o
3951 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 27 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
28 111
o
120.9 07
o
3949.9 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,60 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 28 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
29 111
o
1158.4 07
o
3953 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,50 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 28 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
30 111
o
1155.5 07
o
3956.2 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 31 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
31 111
o
1153.5 07
o
401.3 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,60 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 31 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
32 111
o
1143 07
o
3955.7 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,40 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 30 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
33 111
o
1140.8 07
o
3951.9 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,40 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 30 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
98

34 111
o
1139.3 07
o
3950.5 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 31 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
35 111
o
1135.8 07
o
3949.3 Plaosan Sarangan Cemoro sewu DS 0,30 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 32 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 2500-3000
36 111
o
136.5 07
o
406.4 Plaosan Sarangan Sarangan DS,DF 0,50 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 37 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
37 111
o
2312.8 07
o
4013.7 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 36 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
38 111
o
1318.5 07
o
4016.9 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 38 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
39 111
o
1323.5 07
o
4016 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 33 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
40 111
o
1329.3 07
o
4016 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,30 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 33 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
41 111
o
1333.6 07
o
4016.8 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,20 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 32 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
42 111
o
1340.2 07
o
4012.6 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,20 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 31 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
43 111
o
1348.2 07
o
4006 Plaosan Sarangan Sarangan DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 30 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
44 111
o
1437.5 07
o
4029.8 Plaosan Dadi Gulon RS,DS 0,10 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 22 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
45 111
o
158.5 07
o
4050.4 Plaosan Dadi Dakel DS,LS 0,15 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 20 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
46 111
o
1528.7 07
o
4015.8 Plaosan Dadi Kauman DS 0,20 Tuff Tuff Lapilli Tuff Jobolarangan 23 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
47 111
o
156.4 07
o
405.1 Plaosan Dadi Kaudenan DS,LS 0,25 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 25 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
48 111
o
152.3 07
o
3949.2 Plaosan Dadi Duwet DS,LS 0,25 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 25 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
49 111
o
152.7 07
o
3947.2 Plaosan Dadi Duwet DS,LS 0,20 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 25 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
50 111
o
1439.5 07
o
3948.1 Plaosan Dadi Duwet DS 0,10 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 24 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
51 111
o
1429.3 07
o
3933.6 Plaosan Dadi Panjang DS,LS 0,10 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 25 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
52 111
o
1515.7 07
o
3947.4 Plaosan Dadi Duwet DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 23 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
53 111
o
1518.6 07
o
3938.8 Plaosan Dadi Duwet DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 23 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
54 111
o
1510.9 07
o
3943.6 Plaosan Dadi Duwet DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 24 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
55 111
o
1516.4 07
o
3910.2 Plaosan Dadi Duwet DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 24 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
56 111
o
1515.8 07
o
3919.4 Plaosan Dadi Waru DS 0,10 Aglomerat Aglomerat Lahar Lawu 24 Perbktan berelief agak kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
57 111
o
1426.9 07
o
3919.4 Plaosan Dadi Panjang DS 0,15 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 36 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
58 111
o
1417.4 07
o
3919.2 Plaosan Dadi Panjang DS 0,15 Tuff Tuff Batuan Vulkanik Lawu 37 Perbktan berelief kasar Lereng tengah gunung api 3000-3500
Keterangan: LS = land slide, RF = rock fall; RS = rock slide; DS = debris slide; DF = debris fall










99

Lampiran 2. Aktivitas manusia dan penggunaan lahan di lokasi
LP
LOKASI
AKTIVITAS MANUSIA
PENGGUNAAN LAHAN
KECAMATAN DESA DUSUN LOKAL WILAYAH
1 Plaosan Dadi Patukdoro
Lalulintas jalan, pemukiman Lalulintas, pemukiman Lalulintas, pemukiman
2 Plaosan Dadi Patukdoro Lalulintas jalan, pemukiman Lalulintas, pemukiman Lalulintas, pemukiman
3 Plaosan Dadi Dadi Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan
4 Plaosan Dadi Dadi Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan
5 Plaosan Dadi Dadi Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan
6 Plaosan Dadi Dadi Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan Lalulintas, perladangan
7 Plaosan Dadi Dadi Lalulintas jalan, pemukiman Lalulintas, pemukiman Lalulintas, pemukiman
8 Plaosan Dadi Dadi Pemukiman, perladangan Pemukiman, perladangan Pemukiman, perladangan
9 Plaosan Dadi Genyong Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
10 Plaosan Ngancar Ngancar Perladangan Perladangan Perladangan
11 Plaosan Sarangan Ngluweng Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman
12 Plaosan Ngancar Ngancar Perladangan Perladangan Perladangan
13 Plaosan Dadi Ngrayong Pemukiman, lalulintas Pemukiman, lalulintas Pemukiman, lalulintas
14 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
15 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
16 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
17 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
18 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
19 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
20 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
21 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
22 Plaosan Dadi Nguolo Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
23 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
24 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
25 Plaosan Sarangan Sarangan Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
26 Plaosan Sarangan Ngluweng kulon Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
27 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Pemukiman, perkebunan
28 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
29 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
30 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
100

31 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
32 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
33 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
34 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
35 Plaosan Sarangan Cemoro sewu Perkebunan Perkebunan, lalulintas Perkebunan, lalulintas
36 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
37 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
38 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
39 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
40 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
41 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
42 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas Perladangan, lalulintas
43 Plaosan Sarangan Sarangan Perladangan Perladangan Perladangan
44 Plaosan Dadi Gulon Perladangan Perladangan Perladangan
45 Plaosan Dadi Dakel Perladangan Perladangan Perladangan
46 Plaosan Dadi Kauman Perkebunan Perkebunan Perkebunan
47 Plaosan Dadi Kaudenan Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
48 Plaosan Dadi Duwet Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman
49 Plaosan Dadi Duwet Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman Perladangan, pemukiman
50 Plaosan Dadi Duwet Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
51 Plaosan Dadi Panjang Perkebunan Perkebunan Perkebunan
52 Plaosan Dadi Duwet Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
53 Plaosan Dadi Duwet Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman Perkebunan, pemukiman
54 Plaosan Dadi Duwet Perladangan Perladangan Perladangan
55 Plaosan Dadi Duwet Perladangan Perladangan Perladangan
56 Plaosan Dadi Waru Perladangan Perladangan Perladangan
57 Plaosan Dadi Panjang Perladangan Perladangan Perladangan
58 Plaosan Dadi Panjang Perladangan Perladangan Perladangan




101





















102






























103






























104






























105






























106






























107






























108






























109






























110