Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

DELTA- AND EPSILON-PROTEOBACTERIA

Disusun Oleh : Burhan Firmansyah 31091201 Prasetya Adiguna 31091202 FAKULTAS BIOTEKNOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2011

Gliding myxobacteria Beberapa bakteri menunjukkan motilitas yang disebut gliding. Gliding bacteria mempunyai tangkai panjang atau filament yang khas dalam morfologi.nya, tidak mempunyai flagella tetapi dapat berpindah saat menyentuh permukaan. Satu kelompok dari gliding bacteria, fruiting myxobacteria, mempunyai susunan struktur multiseluler yang disebut fruiting bodies dan menunjukkan siklus hidup yang kompleks melibatkan komunikasi interseluler. Secara filogenetis, gliding bacteria adalah anggota dari Deltaproteobacteria. Fruiting myxobacteria menunjukkan pola perilaku dan siklus hidup yang paling kompleks dari semua bakteri. Untuk menyandi kompleksitas tersebut, kromosom dari myxobacteria ini sangat besar. Sebagai contoh Myxococcus xanthus, memiliki kromosom tunggal yang melingkar 9.2 Mbp, dua kalinya Escherichia coli. Memang , kromosom tersebut 2/3 dari ukuran seluruh genom milik yeast, eukariota, yang didistribusikan di 16 kromosom. Sel vegetatif dari fruiting myxobacteria itu sederhana, tidak berflagella, tangkai gram negative yang dapat menggelinding di atas permukaan dan memperoleh nutrisi primer mereka dengan melisis bakteri lain dan menggunakan nutrient yang terlepas. Dibawah kondisi appropriate, segerombolan agregat sel vegetatif dan mengkonstruksi fruiting bodies, dengan beberapa sel yang terkonversi menjadi struktur resting yang disebut myxospores. Tabel Klasifikasi Fruiting Myxobacteria

Karakteristik Sel vegetatif meruncing Myxospora bulat atau oval, fruiting body biasanya halus dan berlendir tanpa sporangia atau tangkai yang terlihat Myxospora berbentuk batang: Myxospora tidak mengandung sporangia, fruiting body tanpa tangkai Myxospora tertanam dalam kantung lendir: Fruiting body tanpa tangkai Fruiting body bertangkai, sporangia tunggal Fruiting body bertangkai, sporangia ganda Fruiting body berwarna coklat tua, kluster terdiri dari

Genus Myxococcus

Archangium

Cystobacter Mellitangium Stigmatella Angiococcus

sporangia berbentuk bulat tipis tanpa dinding luar Sel vegetatif tidak meruncing (ujungnya bulat atau tumpul),

myxospora menyerupai sel vegetative; sporangia selalu diproduksi Fruiting body tanpa tangkai, myxospora berbentuk tangkai Fruiting body tanpa tangkai. Myxospora oval; sangat selulolitik Fruiting body tanpa tangkai, Myxospora berbentuk bulat Fruiting body bertangkai
Fruiting bodies Fruiting body yang dimiliki oleh myxobacteria bervariasi dari massa globuler myxospora yang sederhana dalam melepas lendir hingga form yang kompleks dengan dinding fruiting body dan sebuah tangkai. Fruiting bodies seringkali berwarna mencolok dan memiliki morfologi yang rumit. Mereka biasanya dapat dilihat dengan lup atau mikroskop bedah pada kayu busuk yang basah atau bahan dari tumbuhan. Fruiting bodies dari myxobacteria sering terbentuk pada pellet, contohnya pada pellet pakan kelinci, setelah mereka telah terinkubasi pada tempat yang lembab selama beberapa hari. Metode lain untuk mengisolasi fruiting myxobacteria adalah dengan menyiapkan Petri dengan air agar (1,5% agar dalam akuades tanpa penambahan nutrient. Di tengah plate ditempatkan sedikit sample tanah, kulit kayu busuk atau bahan alam yang lain. Myxobacteria di dalam inokulum melisis sel dari bacteria dan menggunakan produk yang dilepaskan oleh mereka sebagai nutrient: saat mereka tumbuh mereka berkerumun/bergerombol di semua permukaan plate pada inokulum. Setelah beberapa hari hingga seminggu, plate diamati dibawah mikroskop bedah untuk kawanan myxobacteria atau fruiting bodies, dan kultur murni didapat dengan mentransfer sel dari fruiting bodies atau dari tepi gerombolan ke media organic. Banyak myxobacteria yang bisa tumbuh dalam laboratorium pada media yang kompleks yang mengandung peptone atau casein hydrolysate, yang menyediakan asam amino atau peptida kecil sebagai nutrient, dan sebagian besar adalah obligat aerob. Pengecualian yang aneh adalah organisme fakultatif Anaemyxobacter, sel yang dapat tumbuh dengan respirasi anaerob bersamaan dengan reduksi nitrat, fumarat atau beberapa senyawa yang terklorinasi.

Polyangium Sorangium Nannocystis Chondromyces

Stigmatella aurantiaca Siklus hidup fruiting myxobacterium Sel vegetatif mengekskresikan lendir, dan meninggalkan jejak lendir saat berpindah diatas permukaan yang padat. Jejak tersebut kemudian digunakan oleh sel lain yang berkerabat. Fruiting bodies yang tersusun adalah sebuah struktur yang kompleks yang diproduksi oleh diferensiasi sel di daerah tangkai dan bantalan kepala myxospora. Fruiting bodies tidak akan tersusun jika adequate nutrient untuk pertumbuhan vegetatif itu ada tetapi selama kekurangan nutrien, kawanan sel vegetatif mulai berbuah. Agregat sel, kemungkinan melalui respon chemotactic dengan sel bermigrasi ke arah satu sama lain dan membentuk gundukan atau tumpukan sel; sebuah single fruiting body memiliki sel sebanyak 109 atau lebih. Saat massa sel bertambah, diferensiasi fruiting body menjadi tangkai dan kepala dimulai. Tangkai adalah hasil perubahan dari lendir, dengan sedikit sel yang mungkin bisa terperangkap. Sebagian besar sel terakumulasi dalam kepala fruiting body, dimana mereka mengalami diferensiasi menjadi myxospora. Pada genera tertentu, myxospora diapit struktur berdinding besar yang disebut kista. Dibandingkan dengan sel vegetatif, myxospora lebih resisten terhadap kekeringan, vibrasi sonic, radiasi UV dan panas, tetapi derajat resistensi terhadap panasnya lebih rendah daripada endospora bakteri. Fungsi utama dari encysted

myxospore adalah untuk mengaktifkan organisme untuk bertahan hidup selama kekeringan di habitatnya. Setelah diseminasi ke habitat yang cocok atau pemulihan kondisi pertumbuhan yang memadai, akhirnya myxospore berkecambah oleh pecahnya kapsul, dengan pertumbuhan dan munculnya sel vegetatif. Myxobacteria biasanya terpigmentasi oleh pigmen karotenoid, dan pigmen utamanya adalah karotenoid glukosidase. Formasi pigmen dibantu dengan sinar dan salah satu fungsi dari pigmen adalah fotoproteksi, yang dibutuhkan karena di alam myxobacteria biasanya menyusun fruiting bodies dalam cahaya. Pada genus Stigmatella, cahaya menstimulasi formasi fruiting body dan mengkatalisis produksi lipid feromon 2,5,8-trimethyl-8-hydroxy-nonane-4-one. Substansi ini menginisasi tahapan agregasi. Fruiting myxobacteria terklasifikasi dalam morfologi dasar menggunakan karakteristik dari sel vegetatif, myxospore dan struktur fruiting body dan pada dasar filogenetis, menggunakan 16S rRNA analisis sekuensi gen.

Siklus hidup Myxococcus xanthus

Fruiting body (A) Myxococcus fulvus, (B) Stigmatella aurantiaca, (C) Chondromyces crocatus Proteobacteria pereduksi sulfat dan sulfur Sulfat (SO42-) dan sulfur (S0) adalah akseptor elektron untuk grup Deltaproteobacteria anaerob yang menggunakan senyawa organic atau H2 sebagai donor elektron. Hidrogen sulfida (H2S) adalah produk dari reduksi Sulfat (SO42-) dan sulfur (S0). Lebih dari 40 genera dfari organism tersebut, secara kolektif disebut disimilatif sulfate-reducing bacteria dan sulfur reducing bacteria telah diketahui, dan beberapa yang utama ditunjukkan pada table 15.21. Kata dissumilative mengacu pada penggunaan sulfat atau sulfur sebagai akseptor elektron dalam pembangkit energi, bukan penerimaan sulfur sebagai sumber biosintesis. Gambaran umum Genera bakteri yang mereduksi sulfat yang membentuk grup 1, termasuk Desulfovibrio, Desulfomonas, Desulfotomaculum, dan Desulfobulbus, menggunakan laktat, piruvat, ethanol, atau asam lemak tertentu sebagai penyumbang elektron, mereduksi sulfat menjadi hydrogen sulfida; bakteri-bakteri tersebut tidak bisa mengkatabolis asetat. Generayang membentuk grup 2, termasuk Desulfobacter, Desulfococcus, Desulfosarcina, dan Desulfonema, spesialisasi dalam oksidasi asam lemak, partikel-partikel asetat, mereduksi sulfat menjadi sulfida. Bakteri pereduksi sulfat dalam bagian terbesar bersifat anaerob, dan teknik anoksik yang tegas harus dipergunakan dalam kultivasi. Bakteri pereduksi sulfat tumbuh tersebar luas di perairan dan lingkungan teresterial yang menjadi anoksik sebagai hasil dari proses dekomposisi mikrobia. Genus yang paling baik dipelajari adalah Desulfivibrio yang umum ditemukan di habitat berair atau tanah gambut yang mengandung material organic yang melimpah dan kandungan sulfat yang cukup. Desulfotomaculum yang secara filogenetik merupakan anggota kelompok bakteri gram positif yang memiliki batang pembentuk endospora ditemukan terutama di tanah. Pertumbuhan dan reduksi sulfat oleh Desulfotomaculum di beberapa makanan kaleng mengakibatkan kerusakan bahan makanan yang disebut dengan sulfida stinker (munculnya bau sulfida). Genera lain pereduksi sulfat asli berasal dari perairan tawar anoksik (group 1) atau lingkungan laut (grup 1 dan 2) dan terkadang terisolasi dalam perut mamalia. Pereduksi sulfur

Disimilatif bakteri pereduksi sulfur dapat mereduksi elemen sulfur menjadi sulfida tetapi tidak dapat mereduksi sulfat menjadi sulfida. Spesies dari Desulfuromonas tumbuh anaerob dengan memasangkan oksidasi asetat atau ethanol ke reduksi sulfur menjadi sulfida. Namun, kemampuan mereduksi sulfur seperti halnya senyawa sulfur yang lain misalnya tiosulfat, sulfit, atau dimetil sulfoksid (DMSO), tersebar luas dalam sejumlah chemoorganotrophic biasanya tidak selalu bakteri aerob (Proteus, Campylobacter, Pseudomonas, dan Salmonella). Desulfuromonas bukan bakteri yang berarti bakteri anaerob dan hanya menggunakan sulfur sebagai akseptor elektron (Table 15.21). Disimilatif bakteri pereduksi sulfur memiliki habitat yang sama dengan beberapa bakteri pereduksi sulfat, dan sering membentuk asosiasi dengan bakteribakteri pengoksidasi H2S menjadi S seperti bakteri sulfur hijau. Produksi sulfur , dari oksidasi sulfida kemudian direduksi kembali menjadi H2S selama metabolisme pengurangan sulfur, melengkapi siklus sulfur anoksik Fisiologi bakteri pereduksi sulfur Jangkauan penyumbang elektron yang digunakan dalam bakteri pereduksi sulfat cukup luas. Hidrogen, laktat, dan pirufat merupakan yang paling sering digunakan, dan banyak dari spesies group 1 juga menggunakan malate, sulfonat, dan alcohol primer tertentu (misal ethanol, propanol, dan butanol) sebagai penyumbang elektron. Beberapa suku dari Desulfotomaculum menggunakan glukosa, tetapi jarang di antara pereduksi sulfat. Group 1 pereduksi sulfat mengoksidasi laktat, pirufat, atau ethanol menjadi asetat dan kemudian mengekskresi asam lemak sebagai produk akhir. Group 2 pereduksi sulfat mengoksidasi asam lemak (termasuk asetat), laktat, sukinat, dan bahkan benzoat pada beberapa spesies menjadi CO2. Desulfosarcina, Desulfonema, Desulfococcus, Desul fobacterium, Desulfotomaculum, dan spesies tertentu dari Desulfovibrio, merupakan golongan unik di antara pereduksi sulfat dengan kemampuan mereka untuk tumbuh secara chemolithotrophical dan autotrophical dengan H2 sebagai penyumbang elektron; SO42- sebagai penerima elektron, dan CO2 sebagai sumber karbon. Sedikit dari pereduksi sulfat dapat menggunakan hidrokarbon, bahkan minyak mentah itu sendiri sebagai penyumbang elektron. Proses ini penting karena sampai organisme diketahui, itu telah diperkirakan bahwa hidrokarbon hanya dapat dioksidasi dalam kondisi oksik. Di samping menggunakan sulfat sebagai akseptor elektron, banyak bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi nitrat menjadi NH3 atau mereduksi sulfonat,

seperti isetionat (HO-CH2-CH2-SO3-) menjadi sulfida. Elemen sulfur dapat direduksi menjadi sulfida oleh banyak bakteri pereduksi sulfat. Senyawa organic tertentu dapat juga difermentasi oleh bakteri pereduksi sulfat. Senyawa yang paling umum difermentasi adalah pirufat, yang mana adalah turunan dari reaksi phosphoroclastic menjadi asetat, CO2, dan H2. Selain itu, meskipun dianggap sebagai anaerob, bakteri pereduksi sulfat tertentu, terutama strain yang diisolasi dari habitat mikroba di mana mereka hidup berdampingan dengan cyanobacteria penghasil O2, yang cukup dapat menerima oksigen dan dapat bernafas dengan O2 sebagai akseptor elektron. Seridaknya terdapat satu spesies, Desulfovibrio oxyclinae, dapat tumbuh dengan O2 sebagai akseptor elektron dalam kondisi mikrooksik. Isolasi Pengayaan spesies Desulfovibrio cukup mudah dalam media laktat-sulfat anoksik yang mengandung besi. Agen pereduksi, seperti tioglikolat atau askorbat, diperlukan untuk menerima sedikit E0. Ketika bakteri pereduksi sulfat tumbuh, sulfida yang terbentuk dari kombinasi reduksi sulfat dengan besi membentuk hitam, larutan besi sulfida. Penghitaman ini bukan hanya mengindikasika reduksi sulfat, tetapi besi juga mengikat dan mendetoksifikasi sulfida, membentuk pertumbuhan sel dengan hasil yang lebih tinggi. Setelah pertumbuhan terjadi dalam pengayaan dengan bukti penghitaman medium, pemurnian dapat dicapai dengan menggoreskan ke dalam tabung yang dilapisi dengan agar tipis, disebut dengan roll tubes, atau pada cawan petri dalam sarung kotak anoksik. Bisa juga pemurnian dengan menggunakan agar encer. Dengan cara memasukkan cairan pengayaan sebelumnya ke dalam media agar encer, kemudian dikocok. Dalam pemadatan, individu sel dari bakteri pereduksi sulfat didistribusikan ke seluruh permukaan agar hingga membentuk koloni berwarna hitam yang dapat dipisahkan secara aseptis untuk mendapatkan hasil yang murni. Tabel karakteristik genera bakteri pereduksi sulfat dan sulfur

Genus

Karakteristik

Group 1 pereduksi sulfat: pengoksidasi non-asetat Desulfovibrio Berflagella polar, batang melengkung, tidak berspora, Desulfomicrobium gram negative, mengandung desulfoviridin, termofilik Batang bergerak, tidak berspora, gram negative, tidak mengandung desulfoviridin

Desulfobotulus Desulfofustis Desulfotomaculum

Vibriosis, gram negative, bergerak, tidak mengandung desulfoviridin Batang bergerak, mendegradasi glikolat dan glioksalat Batang lurus atau melengkung, bergerak dengan peritrichous atau flagella polar, gram negative, tidak mengandung desulfoviridin, memproduksi endospora, menggunakan asetat sebagai sumber energy Batang, mereduksi deklorasi 3-klorobenzoat menjadi benzoate Sel bulat atau oval, habitat air asin, mengoksidasi senyawa aromatic termasuk hidrokarbon toluene menjadi CO2 Berbentuk kapsul, hipertermofilik, dapat bertahan hingga suhu 83C, mengandung koenzim unik, membentuk sejumlah metana selama pertumbuhan, H2, format, glukosa, laktat dan pirufat sebagai penyumbang elektron, SO421, S2O32-, atau SO32- sebagai akseptor elektron Lonjong atau berbentuk seperti lemon, tidak berspora, gram negative, tidak mengandung desulfoviridin, bergerak menggunakan flagella polar, menggunakan propionate sebagai penyumbang elektron dengan asetat dan CO2 sebagai produk Batang melengkung, psikrofil,menggunakan propionate, laktat, atau alcohol sebagai penyumbang elektron Batang kecil, gram negative, mengandung desulfoviridin, termofilik, tumbuh optimal hingga 70C, anggota dari

Desulfomonile Desulfobacula Archaeglobus

Desulfobulbus

Desulforhopalus Thermodesulfobacterium

bakteri tapi mengandung lemak Group 2 pereduksi sulfat: pengoksidasi asetat Desulfobacter Batang, tidak berspora, gram negative, tidak mengandung desulfoviridin, bergerak menggunakan flagella polar, menggunakan asetat sebagai penyumbang elektron, dan Desulfobacterium Desulfococcus mengoksidasinya menjadi CO2 melalui siklus asam sitrit Batang, terdapat gelembung gas, hidup di air asin, mampu tumbuh autotrofik dengan jalur asetil-CoA Sel bulat, tidak bergerak, gram negative, mengandung desulfoviridin, tidak berspora, menggunakan asam lemak C1 hingga C14 sebagai penyumbang elektron dengan oksidasi lengkap menjadi CO2, mampu tumbuh autotrofik denDesulfonema gan jalur asetil-CoA Panjang, menggelinding dengan filament, gram positif, tidak berspora, menggunakan asam lemak C2 hingga C12 sebagai penyumbang elektron dengan oksidasi lengkap

menjadi CO2, mampu tumbuh autotrofik dengan jalur Desulfosarcina asetil-CoA Sel berpaker, gram negative, tidak berspora, tidak mengandung desulfoviridin, menggunakan asam lemak C2 hingga C14 sebagai penyumbang elektron dengan oksidasi lengkap menjadi CO2, mampu tumbuh autotrofik dengan Desulfarculus jalur asetil-CoA Vibriosis, gram negative, bergerak aktif, tidak mengandung desulfoviridin, menggunakan asam lemak C2 hingga Desulfacinum C18 sebagai penyumbang elektron Sel oval runcing, gram negative, menggunakan asam lemak C1 hingga C18, sangat beranekaragam, mempu Desulforhabdus Thermodesulforhabtumbuh autotrofik, termofilik Batang, tidak berspora, gram negative, tidak bergerak, menggunakan asam lemak untuk dioksidasi menjado CO2 Gram negative, batang bergerak, termofilik, menggunakan

dus asam lemak hingga C18 Pereduksi sulfur disimilatif Desulfuromonas batang lurus, flagella sisi tunggal, tidak berspora, gram negative, tidak mereduksi sulfat, asetat, sukinat, ethanol, atau propanol sebagai penyumbang elektron, anaerobic, Desulfurella Sulfurospirillum Campylobacter sat spesies mampu mereduksi deklorasi trikloroetilen Batang pendek bergerak, gram negative, membutuhkan asetat, termofilik Vibriosis kecil, mereduksi S dengan H2 atau format sebagai penyumbang elektron Melengkung, batang vibriosis runcing, berflagella polar, gram negatif, tidak berspora, tidak mampu mereduksi sulfat tetapi mampu mereduksi sulfur, sulfit, tiosulfat, nitrat, atau fumarat anaerobic dengan asetat atau bermacam karbon lain sebagai penyumbang elektron, aerob fakultatif, mikroaerofilik. Epsilonproteobacteria Epsilonproteobacteria merupakan kelas kelima dari Proteobacteria yang awalnya telah didefinisikan oleh bakteri pathogen tertentu, khususnya Campylobacter dan Helicobacter. Namun, pelajaran lingkungan habitat laut dan teresterialtelah menunjukkan keanekaragaman Epsilonproteobacteria yang dapat ditemukan di berbagai habitat di alam, di mana jumlah dan kemampuan metaboliknya memainkan peran penting dalam ekologi.

Epsilonproteobacteria banyak terdapat di lingkungan yang tinggi akan sulfur baik dalam keadaan oksik maupun anoksik, seperti di sekitar lubang panas bumi, di mana mereka bermetabolisme katalis mengubah sulfur dan hidup berdampingan dengan hewan yang hidup di daerah tersebut. Banyak dari bakteribakteri ini yang hidup autotrof dan menggunakan H2, format, sulfida, atau tiosulfat sebagai penyumbang elektron, dengan nitrit, oksigen, atau elemen sulfur sebagai akseptor elektron, tergantung dari peseies tertentu. Dalam bagian ini akan dideskripsikan grup-grup utana dari kultur Epsilonproteobacteriadan komentar dari keanekaragaman lingkungan dari bagian kelas ini.

Campylobacter dan Helicobacter Dua genera ini merupakan kunci yang mewakili Epsilonproteobacteria secara keseluruhan. Meskipun mereka mewakili dari kelas ini, Campylobacter and Helicobacter, mereka membagi beberapa jumlah karakteristik. Mereka adalah gram-negatif, motil spirilla, dan sebagian besar spesiesnya merupakan pathogen bagi manusia dan beberapa hewan. Spesies Campylobacter and Helicobacter juga merupakan mikroakrofilik dan oleh karena itu dibiakkan dari specimen klinis dalam media terinkubasi rendah O2 (3-15%) dan tinggi CO2 (3-10%). Spesies Campylobacter lebih dari selusin yang telah diidentifikasi, menyebabkan radang usus akut yang biasanya diikuti dengan diare berdarah, dan pathogenesis ini disebabkan oleh beberapa factor, termasuk enterotoksin yang berhubungan dengan kolera toksin. Helicobacter pylori, juga merupakan pathogen yang menyebabkan gastritis akut dan kronis, membentuk ulkus peptikum. Penelitian tentang H. pylori dan perannya dalam gastritik dan penyakit peptic ulcer dipelajari oleh Barry Marshall dan Robin Warren yang pada tahun 2005 menerima Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran.

Campylobacter dan Helicobacter Arcobacter Genus Arcobacter, anggota lain dari Campylobacteraceae, di antara Epsilonproteobacteria ini merupakan macam dari spesies yang tidak biasa ditunjukkan dalam keanekaragaman habitat. Beberapa spesies merupakan pathogen, sering menginfeksi saluran reproduksi dan pencernaan pada manusia dan hewan dan menyebabkan kegagalan reproduksi pada hewan, penyakit seperti diare pada sebagian besar hewan, dan gastroenteritis dan apendikitis pada manusia. Acrobacter juga telah dideteksi terdapat pada air limbah dan waduk, jadi siklus kotoran-ke-air-ke-mulut merupakan cara infeksi Arcobacter yang menyebabkan gastrointestinal. Spesies Arcobacter nitrofigilis, terikat pada sedimen dan akar tanaman rawa payau Spartina dan dapat memperbaiki nitrogen.

Arcobacter

Sulfurospirillum dan Thiovulvum Sulfurospirillum, family Campylobacteraceae, merupakan bakteri nonpatogen, hidup bebas sebagai mikroaerofil di habitat air tawar dan asin. Mereka mereduksi elemen sulfur (S) dan beberapa spesies juga menggunakan selenatatau arsenat sebagai akseptor elektron. Thiovulvum, family Helicobacteraceae, juga merupakan bakteri mikroaerofil yang hidup di habitat air tawar dan asin yang kaya akan lumpur sulfur dan mengandung oksigen, di mana dia akan mengoksidasi sulfida, mengubah sejumlah besar gumpalan sulfur dari sitoplasma pada sel. Ketika motil, sel Thiovulvum yang berflagelata secara peristis, berenang dengan kecepatan tinggi. Anggota dari genus ini, yang belum dibawa ke kultur murni, mengeluarkan lendir dari batang sel untuk menempel di permukaan yang padat.

Thiovulvum Wolinella Hanya satu spesies, Wolinella succinogenes, yang sedah diketahui dari genus Wolinella, bakteri anaerob yang terisolasi dari rumen sapi. Tidak seperti Epsilonprotobacteria, W. succinogenes tumbuh baik pada kondisi anaerob dan sedikit kandungan oksigen (<2%). Namun bakteri ini dapat bernafas anaerob menggunakan fumarat atau nitrat sebagai akseptor elektron dengan H2 atau format sebagai penyumbang elektron. Meskipun bakteri ini hanya dapat ditemukan pada bagian rumen, genom dari W. succinogenes, yang menunjukkan bagian terbesar dari homologi Campylobacter dan Helicobacter, mengandung gen cadangan yang menyandikan fiksasi nitrogen, sel ekstensif mekanisme sinyal dan menunjukkan jalur metabolism

lengkap, tidak munculnya dari genom cukup relative. Ini menunjukkan Wolinella juga tinggal pada lingkungan lain di luar rumen.

Wolinella Habitat Epsilonproteobacteria Di samping bermacam genera yang telah disebutkan di atas, masih banyak spesies dan genera lain yang belum disebutkan, di sini banyak grup dalam kelas ini yang diketahui hanya dari 16s rRNA sekuens gen yang diperoleh dari lingkungan. Melalui pelajaran sekuens lingkungan dan upaya kultivasi, anggota dari Epsilonproteobacteria mulai tersingkir dari habitatnya di air tawar dan asin di mana banyak kandungan sulfur tersedia, sebagaian telah berpindah di kedalaman laut yang dekat dengan lubang panas bumi di mana banyak terkandung sulfida dan air beroksigen. Juga mereka hidup berdampingan dengan hewan yang berhabitat di sekitar lubang panas bumi seperti cacing tabumg Alvinella dan udang Rimicaris, filament dan kultur Epsilonprotebacteria melalui kemampuannya memetabolisme sulfur, mendetoksifikasi sulfida yang dapat dari tubuh hewan. Pelajaran mengenai penempatan filogenetik, aktifitas metabolism dan peran ekologi dari bakte keanekaragaman prokariotik. Tabel karakteristik genera Epsilonprobacteria ri kelas kelima Proteobacteria menunjukkan suatu area baru tentang adanya

Genus
Campylobacter

Habitat
Organ reproduksi,

Deskripsi karakter
Ramping, batang

Fisiologi dan metabolisme


Mikroaerofil,

rongga mulut, dinding usus manusia dan hewan; patogen Beragam habitat (air tawar, rawa, air asin, organ reproduksi hewan, Arcobacter tanaman; beberapa spesies pathogen bagi manusia dan hewan Dinding usus dan Helicobacter rongga mulut manusia dan hewan; pathogen Air tawar dan asin Sulfurospirillum yang mengandung sulfur Air tawar dan asin Thiovulvum yang mengandung sulfur, belum bisa dikulturkan

melengkung spiral; bergerak memilin dengan flagella tunggal Mikroaerofil, aerob, chemoorganotrophic, Ramping, betang melengkung, bergerak dengan flagella tunggal mengoksidasi sulfida menjadi elemen sulfur (S) oleh beberapa spesies, memfiksasi nitrogen oleh satu spesies Batang spiral rapat, beberapa spesies melekat pada serat periplasmik Vibrioid spiral runcing, bergerak dengan flagella Sel mengandung gumpalan sulfur orthorombic, bergerak cepat dengan flagella peritrichous Mikroaerifilik, chemoorganotrophic, memproduksi urea (asimilasi nitrogen) Mikroaerofilik, mereduksi elemen sulfur (S) Mikroaerofilik, chemolithotrophic, mengoksidasi senyawa sulfur terreduksi (H2S) Anaerob, bernafas Bergerak cepat dengan flagella, menggunakan fumarat, nitrat, atau senyawa lain sebagai akseptor elektron, dengan H2 atau format sebagai penyumbang elektron chemoorganotrophic

Wolinella

Rumen sapi

hanya satu spesies yang diketahui, W. succigogenes

Daftar Sumber Gambar http://202.114.65.51/

http://schaechter.asmblog.org http://tolweb.org http://topnews.net.nz http://static.howstuffworks.com http://www.micro.iastate.edu http://www.webenfermedades.com http://www.whoi.edu-cms http://www.wolinella.mpg.de