Anda di halaman 1dari 16

Fisiologi dan Teknologi Pasca Panen OPERASI PACKING HOUSE

Oleh Pratiwi S.K.K Amalia Hari Kusuma Fitri Kharismawati Galang Susilo Meidita Ellen Chasparinda Rendra Hardian Subandoro Rizal Darma Kusuma H 0909001 H 0909013 H 0909032 H 0909035 H 0909048 H 0909060 H 0909062

Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret 2012

BAB I PENDAHULUAN

Komoditas hasil pertanian termasuk produk yang mudah rusak (perishable product), dimana tingkat kerusakan dapat terjadi dari masa panen hingga pasca panen dan pada saat pendistribusian (pengankutan). Penanganan dan perlakuan produk hasil pertanian (hortikultura) pada pasca panen yang kurang baik dan memadai dapat menyebabkan tingkat kerusakan hingga 30%-40%. Pengembangan suatu produk biasanya dipandang tidak hanya menyangkut bentuk fisiknya saja, tetapi juga merupakan kepuasan baik secara fisik maupun psikologi. Menurut padangan konsumen atau pasar, mutu produk tidak hanya menyangkut semata-mata bentuk, rasa, warna, aroma, dan tekstur, akan tetapi juga bentuk penampilan, pengemasan atau pengepakan, kemudahan penanganan di rumah (disamping disajikan) dan kesesuaian dengan kebiasaan makan dll. Pengembangan mutu produk selain menyangkut teknis budidaya (dimulai sejak belum menghasilkan) yang biasanya pengembangan dan penanganannya di percayakan kepada ahli agronomi, tetapi juga dalam penanganan dan pengembangan mutu produk pada saat, waktu, dan cara panen yang tepat, serta perlakuan atau penanganan pasca panen yang baik melalui penerapan manajemen teknologi packing house (tempat pengemasan). Seperti tahapan pengumpulan atau pengangkutan, penimbangan, sortasi, grading, cleaning (pembersihan), pengeringan secara cermat guna menjaga terjadinya kontaminasi dengan sumber hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang hasil produksi di gudang atau tempat penyimpanan, pengepakan, wraping, dan packing, serta pendistribusian secara baik sehingga terhindar dari kerusakan secara fisik yang dapat merugikan pihak perusahaan Tujuan didirikannya rumah kemasan adalah untuk membantu dan melayani industri (terutama industri skala kecil dan menengah) yang belum mampu melakukan kegiatan pengemasan yang baik di tempat usahanya sendiri tanpa batas minimum order, sehingga produk yang dihasilkan akan menjadi lebih baik dan bermutu serta dimaksudksan mampu bersaing dengsan produk serupa di pasaran. Selain itu untuk penggunaan di bidang pengemasan (khususnya produk pangan) kepada para pelaku

IKM. Keberadaan atau penempatan rumah kemasan idealnya adalah di tiap-tiap kabupaten. Terdapat satu atau dua rumah kemasan guna menjawab kebutuhan para pengusaha IKM dan dapat menjangkau pengusaha IKM yang berada di pelosok daerah.

BAB II ISI

Fungsi dari rumah kemasan diantaranya adalah : (a) Sebagai pusat informasi yang berhubungan dengan kegiatan pengemasan (informasi bahan kemasan yang sesuai dengan produk, informasi pengadaan alat dan mesin pengemas, informasi pengadaan bahan kemasan) dan sebagai pusat konsultasi bagi IKM Pangan dan pengguna lainnya (kalangan pembeli dari pasar modern, distributor ataupun eksportir) yang mempunyai kendala terhadap kemasan produknya. (b) Sebagai pusat pengadaan bahan pengemasan, mulai dari bahan kemasan primer sampai kemasan

distribusi/tersier dan dapat dibeli sesuai dengan kebutuhan produksi. (c) Sebagai mediator desain grafis dan rancangan bentuk kemasan suatu produk pangan (fasilitas desain kemasan dan merk). (d) Sebagai pusat pelayanan pengemasan produk pangan dengan komoditas sesuai dengan permintaan pasar misalnya produk makanan ringan dengan berbagai teknik ( otomatis/semiotomatis ). (e) Memberikan pedoman aplikasi POM, SNI, dan Sertfikat Halal. (f) Sebagai pusat penjualan produk produk pangan IKM yang dikemas atau dijual melalui Rumah Kemasan dan membantu mendistribusikan dan menjualkan produk pangan IKM kepada distributor atau langsung kepada konsumen. (g) Menyediakan jasa konsulasi untuk menentukan merk dan mendaftarkan merk dan lain lainnya. (h) Melakukan sortasi produk pangan atau grading. (i) Pusat layanan informasi mutu produk, criteria, lembaga sertifikasi seperti SNI/BSN. (j) Pusat layanan informasi Halal. (k) Pusat layanan informasi izin BP POM dan pendaftaran. (l) Pusat layanan informasi Barcode. Manfaat Packing House adalah: Meningkatkan mutu pengemasan produk pangan melalui perbaikan pengemasan sehingga tampil lebih menarik dan harga yang masih dapat bersaing dengan produk pangan serupa dipasaran. Dan dapat membantu IKM pangan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi mulai dari masalah teknis sampai financial (menjembatani dengan pihak keuangan seperti bank dan koperasi).

1. Definisi

Rumah pengemasan (packing house) adalah suatu bangunan tempat menangani kegiatan penanganan pasca panen hasil hortikultura sejak dipanen sampai pengemasan dan siap didistribusikan ke pasar tujuan. Packing house identik dengan dengan suatu bangunan yang berfungsi untuk meningkatkan mutu produk hortikultura seperti buah dan sayur dengan serangkaian aktifitas pembersihan / pencucian, sortasi, grading, serta pengemasan. Proses yang terdapat di dalam packing house yang berhubungan dengan penanganan pascapanen dilakukan untuk mendapatkan produk yang baik. 2. Syarat pendirian Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan pendirian bangunan packing house diantaranya : a. Bangunan harus jauh dari rumah atau tempat tinggal. b. Bangunan sebaiknya memiliki konstruksi yang baik. c. Pondasi lantai harus terbuat dari beton untuk memudahkan pencucian atau pembersihannya setelah proses pengemasan. d. Luas ruangan minimal 55 m2. e. Peralatan dan perlengkapan yang tepat untuk grading dan penanganan produk harus tersedia, seperti meja untuk sortasi dan grading, tangki untuk pencucian dan bahan kimia, serta rak pengeringan atau pallets. f. Bangunan harus mempunyai pencahayaan yang cukup, saluran air yang memadai, fasilitas pembuangan limbSah yang tepat, serta ruang penyimpanan yang memadai untuk bahan pengemas dan bahan bahan kimia yang digunakan. g. Packing house harus jauh dari aktivitas yang dianggap tidak sesuai dengan penanganan produk segar. h. Bangunan dilengkapi dengan fasilitas telekomunikasi. i. Harus terdapat ruang yang memadai untuk bongkar muat produk. j. Bangunan harus terlindung dari serangga, burung, tikus, dan hama lain yang dapat mencemari produk.

k. Harus terdapat persediaan bahan yang cukup dalam packing house. l. Semua operasi harus berada dalam packing house. 3. Proses dalam operasi packing house Proses proses yang terdapat di dalam packing house berupa aliran bahan yang terdiri dari sortasi dan pengepakan atau pengemasan bahan yang tidak terlepas dari penataan ruang kerja yang baik. Berikut ialah beberapa manfaat dari aliran bahan yang dirancang dengan baik (Machfud dan Agung, 1990) : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. Meningkatkan efisiensi produksi Penggunaan luasan ruang yang lebih baik Aktifitas penanganan menjadi lebih sederhana Penggunaan alat lebih efisen; lebih hemat waktu Menurunkan waktu proses Menurunkan penumpukan dalam proses Penggunaan tenaga kerja lebih efisien/efektif Mengurangi kerusakan produk Meminimalisir kemungkinan kecelakaan Mengurangi jarak perjalanan Sebagai dasar tata letak yang efisien Pengawasan lebih mudah Pengendalian produksi menjadi sederhana Mengurangi kondisi crowded Urutan kerja menjadi logis

Dalam packing house terdapat proses-proses: 1. Penerimaan bahan baku dan pengumpulan Penerimaan bahan baku merupakan proses awal dari sebuah proses packing house, produk-produk hasil panen akan diangkut dari lahan menuju packing house. Proses ini akan dilanjutkan menuju proses-proses yang selanjutnya. engumpulan merupakan kegiatan menempatkan buah hasil pemetikan pada suatu tempat atau wadah untuk memudahkan

pengangkutannya ke bangsal penanganan. Pengumpulan buah diupayakan di tempat teduh yang tidak langsung terdedah sinar matahari atau menutup timbunan buah dengan terpal plastik atau dedaunan (Broto, 1997). 2. Penimbangan Proses pengukuran berat bahan awal sebagai acuan untuk

mendapatkan seberapa banyak komoditi yang hilang atau rusak selama proses packing house. 3. Pembersihan Pembersihan dalam Pembersihan dalam penanganan BHP adalah:

Mengeluarkan atau memindahkan benda asing (kotoran) dan bahan-bahan yang tidak diinginkan dari bahan utama (Produk yang diinginkan). Perlakuan pembersihan ada dua yaitu metode kering dan metode basah (Rusendi). 4. Sortasi atau pemilihan Sortasi dilakukan dengan tujuan memisahkan hasil panen yang baik dan yang jelek. Pengertian baik disini adalah yang tidak mengalami kerusakan fisik dan menarik. Sedangkan hasil yang jelak adalah hasil yang telah mengalami kebusukan atau kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit. Pemilihan merupakan kegiatan baik dilakukan secara manual maupun menggunakan mesin untuk memisahkan buah yang baik dan sehat dengan buah yang rusak atau cacat oleh berbagai sebab. Sedangkan pemilahan merupakan kegiatan baik dilakukan secara manual maupun

menggunakan mesin untuk memilahkan buah berdasarkan golongan atau kelas mutu yang disyaratkan (Broto, 1997). 5. Grading dan kriteria mutu Standar mutu komoditi di Indonesia masih belum diterapkan, namun ditingkat petani sudah ada standar mutu berdasarkan factor-faktor tertentu. Klasifikasi dan Standar Mutu komoditi hasil pertanian yang berlaku di petani: 1) Mutu A 2) Mutu B 3) Mutu C (Nurbanah, 1998) 6. Pelilinan Pelapisan dengan lilin pada buah dan sayuran telah dilakukan sejak tahun 1920. Dimana bahan dari lilin tersebut terbuat bukan dari proses kimiawi melainkan dari bahan alami seperti Carnauba Wax, daun Palem Brasil, Candellia Wax, dari tanaman sejenis Euphorbia, Shellac jenis food grade yang terbuat dari sejenis kumbang di India dan Pakistan. Di Amerika bahan lilin tersebut harus disertifikasi keamananan (untuk dikonsumsi) oleh badan yang khusus mengurusi konsumsi yaitu FDA (Food and Drug Administration). Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika, seperti dikutip dari Go Ask Alice, Senin (8/2/2010), lapisan lilin yang banyak dipakai pada buah-buahan berasal dari bahan alami (non petroleum-based) dan aman dipakai untuk semua jenis makanan. Menurut Pantastico (1986), pelapisan lilin merupakan usaha penundaan kematangan yang bertujuan untuk memperpanjang umur simpan produk hortikultura. Pemberian lapisan lilin ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kehilangan air yang terlalu banyak dari komoditas akibat penguapan sehingga dapat memperlambat kelayuan karena lapisan lilin menutupi sebagian stomata (pori-pori) buah-buahan dan sayursayuran, mengatur kebutuhan oksigen untuk respirasi sehingga dapat mengurangi kerusakan buah yang telah dipanen akibat proses respirasi, dan

menutupi luka-luka goresan kecil pada buah. Pelapisan lilin dapat menekankan respirasi dan transpirasi yang terlalu cepat dari buah-buahan dan sayur-sayuran segar karena dapat mengurangi keaktifan enzim-enzim pernafasan sehingga dapat menunda proses pematangan. Keuntungan lainnya yang diberikan lapisan lilin ini pada buah adalah dapat memberikan penampilan yang lebih menarik karena memberikan kesan mengkilat pada buah dan menjadikan produk dapat lebih lama diterima oleh konsumen. Namun demikian pelapisan lilin tidak dapat mengatasi kebusukan, untuk lilin sering dikombinasikan dengan fungisida dan bakterisida. Berbagai jenis fungisida atau bakterisida dapat digunakan untuk mengendalikan pembusukan pada buah selama penyimpanan, salah satunya adalah Benlate 50. Benlate termasuk kelompok fungisida benzimidazoles dengan nama umum Benomil dan merupakan fungisida yang aman untuk digunakan (Juran, 1971). Menurut Chiang (1973) dan Eckert (1996), pertumbuhan jamur pada buah yang disimpan akan mempercepat kerusakan buah, meningkatkan proses respirasi pada buah sehingga proses degradasi senyawa-senyawa

makromolekul menjadi mikromolekul dan molekul-molekul terlarut menjadi cepat. Penggunaan Benlate sangat efektif menekan pertumbuhan jamur selama penyimpanan buah sehingga kerusakan buah akibat pertumbuhan jamur dapat ditekan. Dengan demikian proses respirasi berjalan lambat sehingga proses degradasi makromolekul juga lambat. Hal ini mengakibatkan kehilangan bobot buah menjadi kecil, perubahan warna berjalan padatan terlarut menjadi sedikit serta kadar vitamin C dapat dipertahankan karena proses oksidasi. Menurut Eckert (1996), penggunaan Benlate dengan konsentrasi rendah tidak mempengaruhi rasa dan sekaligus dapat berfungsi sebagai bahan anti bopeng sehingga penampakan buah lebih baik. Tebal lapisan lilin harus seoptimal mungkin. Jika lapisan terlalu tipis maka usaha dalam menghambatkan respirasi dan transpirasi kurang efektif. Jika lapisan terlalu tebal maka kemungkinan hampir semua pori-pori komoditi

akan tertutup. Apabila semua pori-pori tertutup maka akan mengakibatkan terjadinya respirasi anaerob, yaitu respirasi yang terjadi tanpa menggunakan O2sehingga sel melakukan perombakan di dalam tubuh buah itu sendiri yang dapat mengakibatkan proses pembusukan lebih cepat dari keadaan yang normal (Roosmani, 1975). Pemberian lapisan lilin dapat dilakukan dengan penghembusan, penyemprotan, pencelupan (30 detik) atau pengolesan. Menurut Pantastico (1996), pelilinan dapat mencegah kehilangan air 30 50 % dari kondisi umum. Dengan konsentrasi lilin yang semakin tinggi menutupi permukaan buah maka kehilangan air akibat transpirasi dapat dicegah sehingga persentase susut bobot kecil. Semakin tinggi konsentrasi lilin mengakibatkan semakin kecilnya rongga udara sehingga proses respirasi dan oksidasi semakin lambat dan proses degradasi klorofil terhambat, dengan demikian perubahan warna buah semakin lambat. Berikut ini adalah konsentrasi emulsi lilin optimal pada beberapa komoditas hortikultura yang diberikan pada tabel 1. sebagai berikut : Tabel 1. Konsentrasi emulsi lilin optimal pada beberapa komoditas hortikultura Konsentasi lilin Komoditas optimal (%) AlpukatApel Cabe Jeruk Kentang Mangga Alphonso Nanas Pepaya Pisang Raja Wortel Sumber : Balai Hortikultura 48 12 12 12 6 6 6 9 12

Pelapisan lilin untuk buah-buahan pada umumnya menggunakan lilin lebah yang dibuat dalam bentuk emulsi lilin dengan konsentrasi 4% sampai dengan 12%. Sedangkan kepekatan emulsi lilin yang ideal untuk buah alukat adalah emulsi lilin 4%. Untuk membuat lapisan lilin 4 % dilakukan pencampuran emulsi lilin 12% dengan 2 bagian air. Berikut ini adalah komposisi dasar emulsi lilin 12 % yang diberikan dalam tabel 2. sebagai berikut : Tabel 2. Komposisi dasar emulsi lilin 12% Bahan Dasar Komposisi Lilin lebahTrietanolamin 120 gram40 gram Asam oleat 20 gram Air panas 820 gram Sumber : Balai Hortikultura, 2002 Lilin adalah ester dari asam lemak berantai panjang dengan alkohol monohidrat berantai panjang atau sterol (Bennett, 1964). Lilin lebah merupakan lilin alami komersial yang merupakan hasil sekresi dari lebah madu (Apis mellifica) atau lebah lainnya. Madu yang diekstrak dengan sentrifusi sisir madunya dapat digunakan lagi, sedangkan yang diekstrak dengan pengepresan mengakibatkan sarang lebah hancur. Sarang yang hancur dapat dijadikan lilin atau dapat dibuat untuk sarang baru. Hasil sisa pengepresan dan sarang yang hancur dicuci dan dikeringkan, kemudian dipanaskan sehingga menjadi lilin atau malam (Winarno, 1981). Lilin lebah pada umumnya digunakan sebagai bahan kosmetik, bahan pembuat lilin bakar, dan industri pemeliharaan. Lilin ini berwarna putih kekuningan sampai coklat, titik cairnya 62.8-70 oC dan bobot jenisnya 0.952-0.975 kg/m3. Lilin lebah banyak digunakan untuk pelilinan komoditas hortikultura karena mudah didapat dan murah (Bernett, 1964). Lilin karnauba merupakan lilin yang didapat dari pohon palem (Copernica Cerifera). Sedangkan

lilin spermaceti adalah lilin yang didapat dari kepala ikan paus (Phesester

macrocephalus). Lilin ini banyak digunakan dalam industri obat dan kosmetik (Bernett, 1964 dalam Pantastico 1986). Menurut Dominica (1998) diketahui bahwa kombinasi perlakuan suhu dingin (15-18 oC) dapat memperpanjang umur simpan buah selama 7 hari. Salah satu contohnya adalah jeruk pacitan, kesegaran buah dapat dipertahankan dengan pemberian lapisan lilin 6% setelah disimpan pada suhu rendah (Nainggolan, 1992). Emulsi lilin yang dapat digunakan sebagai bahan pelapisan lilin harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu tidak

mempengaruhi bau dan rasa yang akan dilapisi, mudah kering dan jika kering tidak lengket, tidak mudah pecah, mengkilap dan licin, tidak menghasilkan permukaan yang tebal, mudah diperoleh, murah harganya, dan yang terpenting tidak bersifat racun (Roosmani, 1975). Cara Pelapisan lilin untuk buah-buahan Setelah buah dipanen, buah disortir dengan baik dengan kematangan yang seragam, kemudian buah dicuci dengan air bersih, dibersihkan dengan cara disikat untuk membuang segala kotoran yang menempel pada kulitnya dimana tentu proses ini akan menghilangkan lapisan lilin natural tersebut dan ditiriskan. Kemudian buah dicelupkan ke dalam larutan lilin benlate dengan konsentrasi tertentu selama 1 menit, lalu ditiriskan kembali. Selanjutnya buah dicelupkan kedalam emulsi lilin selama 30 detik, ditiriskan dan dianginanginkan agar cepat kering dan pelapisan merata. Lilin yang digunakan untuk memoles sekitar setengah kilogram dan dapat digunakan untuk memoles sampai sekitar 160.000 buah atau sekitar 2 tetes lilin sudah cukup untuk melapisi 1 buah. 7. Pendinginan Suhu tinggi merusak mutu buah dan sayur. Pendingian pendahuluan merupakan upaya untuk menghilangkan panas lapangan. Tujuan umumnya adalah untuk memperlambat respirasi hasil, memperkecil kerentanan terhadap

serangan mikroorganisme, mengurangi kehilangan air, dan meringan beban sistem pendinginan pada kendaraan pengankut. 8. Pengemasan Pengemasan merupakan kegiatan untuk menempatkan buah pada suatu wadah dengan tujuan melindungikomoditi dari kerusakan dan mempermudah perlakuan selanjutnya. Kegiatan pengemasan sebenarnya sudah dimulai sejak pemanenan. Pengemasan yang dilakukan ditempat pemanenan hanya bersifat semantara. Karenanya, alat yang digunakanpun sederhana. Misalnya, wadah pemetikan yang digunakan untuk mengumpulkan hasil dilapangan. Wadah ini digunakan untuk memindahkan hasil panen ketempat pengumpulan, karenanya wadah yang bersifat kuat dan besar. Pada proses ini terjadi kerusakan fisik karena gesekan dan tindihan. Kemasan harus memenuhi syarat kualitas, higienis, ventilasi, dan ketahanan untuk menjamin kesesuaian penanganan, pengangkutan, distribusi, dan menjaga kualitas.Kemasan harus bebas dari bahan dan bau asing (Astriana, 2011). Beberapa persyaratan alat kemas untuk produk hortikultura segar yang disesuaikan dengan produk yang dikemas : 1. Dapat melindungi komoditi, artinya pengemasan dapat melindungi komoditi dari kerusakan secara fisik. 2. Dapat memperkecil kehilangan air, artinya alat kemas perlu dilengkapi bahan yang dapat mengendalikan terjadinya penguapan, misalnya plastik. 3. Dapat mengatur suhu, artinya kemasan perlu adanya ventilasi yang cukup agar mudah mengatur suhu didalam alat kemas. 4. Dapat mudah beradaptasi, artinya alat kemas harus dapat tahan terhadap air dan tidak boleh mudah rusak. 5. Harus sesuai dengan sistem penanganan dan jenis. Bila penanganan pasca panen dilakukan dengan mesin, bentuk alat kemasnya pun harus sesuai dengan mesin dan komoditi yang dikemas.

Macam alat kemas untuk pengemasan hasil hortikultura ada berbagai bentuk ukuran dan alat kemas. Bentuk ukuran dan alat kemas disesuaikan dengan komoditi terutama komoditi yang akan dikonsumsi segar. Bahan alat kemas dapat berupa: 1. Kayu, bahan pengemas untuk bahan labu, semangka, mentimun dan cabe. 2. Bambu, bahan pengemas untuk wortel, kentang dll 3. Karton, bahan pengemas untuk alpukat, jeruk dll 4. Plastik.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1. Packing house didirikan untuk membantu dan melayani industri (terutama industri skala kecil dan menengah) yang belum mampu melakukan kegiatan pengemasan yang baik di tempat usahanya sendiri tanpa batas minimum order, sehingga produk yang dihasilkan akan menjadi lebih baik dan bermutu serta dimaksudksan mampu bersaing dengsan produk serupa di pasaran. 2. Tujuan Packing House adalah untuk menyiapkan bahan sesuai keperluan pembeli, pengkelasan sesuai tuntutan pasar, menampung sementara sebelum dipasarkan. 3. Rumah pengemasan (packing house) adalah suatu bangunan tempat menangani kegiatan penanganan pasca panen hasil hortikultura sejak dipanen sampai pengemasan dan siap didistribusikan ke pasar tujuan. 4. Proses proses operasi yang terdapat di dalam packing house terdiri dari penerimaan bahan baku dan pengumpulan, penimbangan, pembersihan, sortasi atau pemilihan, grading dan criteria mutu, pengemasan. pelilinan, pendinginan, dan

DAFTAR PUSTAKA

Astriana, Fitria. 2011. Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Usahatani Jambu Biji.Skripsi Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi Manajemen IPB 2011. Broto, Wisnu. 1997. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk Pasar. ebookpangan.com. Chiang, N. and Lee,N., 1983. The Effect of Washing and Chemical Treatment Upon The Rates of Respiration and Decay of Detached Bananas. Taiwan Univ. Coll. Agric. Spec. Publ. No. 13. Csiro, 1972. Banana Ripening Guide. Division of Food Research Circular 8. Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia. Dalal, V.B., Eipeson, W.E. and Singh, N.S., 1991. Wax Emultion for Fresh Fruits and Vegetables to Extend Their Storage Life. Ind. Fd. Packer 25 (5). Direktorat Jendral Industri Kecil Dan Menengah. 2006. Panduan Rumah Kemasan (Packing House). Bogor. Eckert, J.Q., 1996. Penyakit Tanaman Budidaya Tropika dan Cara-cara Pengendaliannya, dalam Pantastico (Ed), Fisiologi Pasca Panen. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. Fatadiata, Radit. 2012. Analisis Kelayakan Operasional Packing House Untuk Komoditas Manggis di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. IPB. Bogor. Iznaga, F.A., 1978. Harvesting and Marketing.Escoagroservice Bull. No. 15, 23. Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat. 2009. Pedoman Pendaftaran Rumah Pengemasan (Packing House Registration Guideline). Jakarta. Pantastico, ER. B. 1989. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Rusendi, Dedi. Pembersihan, Sortasi, dan Grading. Tim Penulis PS. 1992. Pasca Panen Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.