Anda di halaman 1dari 23

TREND CURRENT ISSUE DAN KECENDRUNGAN KEPERAWATAN JIWA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setelah tahun 2000, dunia khususnya bangsa Indonesia memasuki era globalisasi, pada tahun 2003 era dimulainya pasar bebas ASEAN dimana banyak tenaga professional keluar dan masuk ke dalam negeri. Era globalisasi seperti ini banyak muncul permasalahan sosial dalam masyarakat, diantaranya disebabkan oleh faktor politik, sosial budaya serta krisis ekonomi yang tidak kunjung usai. Selain itu mulai terjadi suatu masa transisi/pergeseran pola kehidupan masyarakat dimana pola kehidupan masyarakat tradisional berubah menjadi masyarakat yang maju. Himpitan hidup yang semakin berat di alami hampir oleh semua kalangan masyarakat. Keadaan itu menyebabkan berbagai macam dampak pada aspek kehidupan masyarakat khususnya aspek kesehatan baik yang berupa masalah urbanisaasi, pencemaran, kecelakaan, banyak tindakan kekerasan, kenakalan remaja, penyalahgunaan NAPZA, tauran, penggangguran, tindak penyaluran agresifitas atau anarkis, putus sekolah, PHK, disamping meningkatnya angka kejadian penyakit klasik yang berhubungan dengan infeksi, kurang gizi, dan kurangnya pemukiman sehat bagi penduduk. Pergeseran pola nilai dalam keluarga dan umur harapan hidup yang meningkat juga menimbulkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelompok lanjut usia serta penyakit degeneratif. Hal ini akan semakin memicu atau meningkatkan berbagai gangguan kejiwaan di masyarakat, dari gangguan jiwa yang ringan hingga gangguan jiwa yang tergolong berat. Dengan banyaknya masalah-masalah yang ada dalam keperawatan jiwa yang kini kita hadapi, maka kita perlu mengkaji ulang faktor yang mempengaruhi masalahmasalah keperawatan jiwa. Profesi kesehatan jiwa diharapkan dapat proaktif dalam mencari solusi untuk penanggulangan masalah kesehatan jiwa baik di institusi pelayanan maupun di komunitas, seperti meningkatkan jumlah psikiater dan pemerataan pendistribusiannya; dokter yang terlatih di bidang kesehatan jiwa; mendorong penyediaan layanan tersier spesialistik; mendidik masyarakat dalam mengurangi stigma negatif masyarakat tentang rumah sakit

jiwa; serta mampu menghasilkan inovasi, rekomendasi profesi atau institusi pendidikan dalam menciptakan pedoman penanggulangan masalah kesehatan jiwa di Indonesia. Telah terbukti bahwa upaya pencegahan jauh lebih baik daripada upaya pengobatan. Untuk itu masyarakat luas perlu diberikan informasi tentang kesehatan jiwa beserta permasalahan, pencegahan dan penanganannya. Upaya pelayanan kesehatan jiwa terhadap masyarakat pada saat ini tidak mungkin dilaksanakan oleh petugas kesehatan saja, tetapi perlu peran serta seluruh masyarakat dan keluarga klien untuk memfasilitasi peran aktif dari kader kesehatan dalam upaya kesehatan jiwa.

B. Rumusan Masalah 1. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi 2. Bagaimana cara meningkatkan masalah kesehatan jiwa ? 3. Apa saja faktor penyebab kecenderungan gangguan jiwa ? 4. Apa yang menjadi kecenderungan situasi di era globalisasi yang mempengaruhi kesehatan jiwa ? 5. Bagaimana perubahan orientasi sehat dalam keperawatan jiwa? 6. Bagaimana peningkatan Post Traumatic Syndrome Disorder dan akibatnya? 7. Bagiamana peningkatnya dalam masalah psikososial? 8. Seperti apa trend bunuh diri pada anak dan remaja? 9. Trend / isu dimensi spritual keperawatan jiwa? 10. Masalah dalam napza dan hiv/aids ? 11. Pattern of parenting dalam keperawata jiwa 12. Hal-hal yang mempengaruhi kesehatan jiwa?

13. Bagaimana profesi keperawatan mental psikiatri di Indonesia menghadapinya?

BAB II PEMBAHASAN

A. Trend/curent issue dan kecenderungan dalam keperawatan jiwa Trend atau current issue dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Adapun trend/current issue dalam keperawatan jiwa diantaranya adalah : 1. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi Di Indonesia banyak gangguan jiwa terjadi mulai pada usia 19 tahun dan kita jarang sekali melihat fenomena masalah sebelum anak lahir. Perkembangan terkini menyimpulkan bahwa berbicara masalah kesehatan jiwa harus dimulai dari masa konsepsi atau bahkan harus dimulai dari masa pranikah. Banyak penelitian yang menunjukkan adanya keterkaitan masa dalam kandungan dengan kesehatan fisik dan mental seseorang di masa yang akan datang. Penelitian-penelitian berikut membuktikan bahwa kesehatan mental seseorang dimulai pada masa konsepsi. Diantara hasil penelitian: a. Marc Lehrer ( 300 bayi yg diteliti): stimulasi dini ( berupa suara, musik, getaran, sentuhan ) setelah dewasa memiliki

perkembangan fisik, mental dan emosional yg lebih baik. b. Mednick : ada hubungan skizofrenia dengan infeksi virus dalam kandungan. Mednick membuktikan bahwa mereka yang pada saat epidemi sedang berada pada trimester dua dalam kandungan mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk menderita skizofrenia di kemudian hari. Penemuan penting ini menunjukkan bahwa lingkungan luar yang terjadi pada waktu yang tertentu dalam kandungan dapat meningkatkan risiko menderita skizofrenia. Mednick menghidupkan kembali teori perkembangan neurokognitif, yang menyebutkan bahwa pada penderita skizofrenia terjadi kelainan perkembangan neurokognitif sejak dalam kandungan. Beberapa kelainan neurokognitif seperti berkurangnya kemampuan dalam mempertahankan perhatian, membedakan suara rangsang yang berurutan, working memory, dan fungsi-fungsi eksekusi sering dijumpai pada penderita skizofrenia. Dipercaya kelainan neurokognitif di atas didapat sejak dalam kandungan dan dalam kehidupan selanjutnya diperberat oleh lingkungan, misalnya, tekanan berat dalam kehidupan, infeksi otak, trauma otak, atau terpengaruh zat-zat yang mempengaruhi fungsi otak seperti narkoba. Kelainan neurokognitif yang telah berkembang ini menjadi dasar dari gejala-gejala skizofrenia seperti halusinasi, kekacauan proses pikir, waham/delusi, perilaku yang aneh dan gangguan emosi.

2.

Trend Peningkatan Masalah Kesehatan Jiwa

Masalah kesehatan jiwa akan meningkat di era globalisasi, sudah terbukti dua tahun terakhir, hal ini dikarenakan beban hidup yang semakin berat. Klien gangguan jiwa tidak lagi didominasi kalangan bawah tetapi kalangan mahasiswa, PNS, pegawai swasta, kalangan pejabat dan masyarakat lapisan menengah ke atas juga tersentuh gangguan

psikotik dan depresif. Penyebab dikalangan menengah ke atas sebagian besar akibat tidak mampu mengelola stress dan ada juga akibat post power syndrome atau mutasi jabatan. Kasus-kasus gangguan kejiwaan yang ditangani oleh para psikiater dan dokter di RSJ menunjukkan bahwa penyakit jiwa tidak mengenal baik strata sosial maupun usia. Ada orang kaya yang mengalami tekanan hebat, setelah kehilangan semua harta bendanya akibat kebakaran. Selain itu kasus neurosis pada anak dan remaja, juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Neurosis adalah bentuk gangguan kejiwaan yang mengakibatkan penderitanya mengalami stress, kecemasan yang berlebihan, gangguan tidur, dan keluhan penyakit fisik yang tidak jelas penyebabnya. Neurosis menyebabkan merosotnya kinerja individu. Mereka yang sebelumnya rajin bekerja, rajin belajar menjadi lesu, dan sifatnya menjadi emosional. Melihat kecenderungan penyakit jiwa pada anak dan remaja kebanyakan adalah kasus trauma fisik dan nonfisik. Trauma nonfisik bisa berbentuk musibah, kehilangan orang tua, atau masalah keluarga. Tipe gangguan jiwa yang lebih berat, disebut gangguan psikotik. Klien yang menunjukkan gejala perilaku yang abnormal secara kasat mata. Inilah orang yang kerap mengoceh tidak karuan, dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain, seperti mengamuk.

3. Kecenderungan Faktor Penyebab Gangguan Jiwa Menurut data World Health Organization (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. WHO (2001) menyataan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Adanya gangguan kesehatan jiwa ini sebenarnya disebabkan banyak hal. Namun, menurut Aris Sudiyanto, (Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa (psikiatri) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, ada tiga golongan penyebab gangguan jiwa ini. Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh :

a. Faktor Organobiologis (gangguan fisik, biologis atau organic). Penyebabnya antara lain berasal dari faktor keturunan, kelainan pada otak, penyakit infeksi (tifus, hepatitis, malaria dan lain-lain), kecanduan obat dan alkohol dan lainlain. Kedua, gangguan mental, emosional atau kejiwaan. Faktor ini terdiri dari : Neroanatomi, Neurofisiologi, Neurokimia, Tingkat kematangan dan perkembangan organic, Faktor-faktor pre dan peri-natal. b. Faktor-faktor psikoedukatip Penyebabnya, karena salah dalam pola pengasuhan (pattern of parenting) hubungan yang patologis di antara anggota keluarga disebabkan frustasi, konflik, dan tekanan krisis. Faktor-faktor ini terdiri dari : 1) Interaksi ibu-anak : kehilangan figur ibu karena bekerja atau terpaksameninggalkan anak (perasaan tak percaya dan kebimbangan). 2) Peranan ayah 3) Persaingan antara saudara kandung 4) Inteligensi 5) Hubungan dalam keluarga 6) Pekerjaan 7) Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa bersalah 8) Konsep diri : pengertian identitas diri: apakah saya laki atau perempuan 9) Keterampilan, bakat dan kreativitas 10) Pola adaptasi sebagai reaksi terhadap bahaya

11) Tingkat perkembangan emosi c. Faktor-faktor sosiokultural Penyebabnya dapat berupa stressor psikososial (perkawinan, problem orangtua, hubungan antarpersonal dalam pekerjaan atau sekolah, di lingkungan hidup, dalam masalah keuangan, hukum, perkembangan diri, faktor keluarga, penyakit fisik, dan lain-lain), tingkat ekonomi, masalah perumahan di perkotaan atau pedesaan.

4. Kecenderungan Situasi di Era Globalisasi Perkembangan IPTEK yg begitu cepat dan perdagangan bebas sebagai ciri globalisasi, akan berdampak pada semua faktor termasuk kesehatan. Perawat dituntut mampu memberikan asuhan keperawatan yang profesional dan dapat mempertanggung jawabkan secara ilmiah. Perawat dituntut senantiasa mengembangkan ilmu dan teknologi di bidang keperawatan khususnya keperawatan jiwa. Perawat jiwa dalam era global harus membekali diri dengan bahasa internasional, kemampuan komunikasi dan pemanfaatan teknologi komunikasi, skill yang tinggi dan jiwa entrepreneurship.

5. Perubahan Orientasi Sehat Pengaruh globalisasi terhadap perkembangan pelayanan kesehatan termasuk keperawatan adalah tersedianya alternatif pelayanan dan persaingan penyelenggaraan pelayanan. Tenaga kesehatan (perawat jiwa ) harus mempunyai standar global dalam memberikan pelayanan kesehatan, jika tidak ingin ketinggalan. Fenomena masalah kesehatan jiwa, indicator kesehatan jiwa di masa mendatang bukan lagi masalah klinis seperti prevalensi gangguan jiwa, melainkan berorientasi pd konteks kehidupan sosial. Fokus kesehatan jiwa bukan hanya menangani orang sakit, melainkan pada peningkatan kualitas hidup. Jadi konsep kesehatan jiwa buka lagi sehat atau sakit, tetapi kondisi optimal yang ideal dalam perilaku dan kemampuan fungsi social Paradigma sehat Depkes, lebih menekankan upaya proaktif untuk pencegahan daripada menunggu di Rumah Sakit,

orientasi upaya kesehatan jiwa lebih pada pencegahan (preventif) dan promotif. Penangan kesehatan jiwa bergeser dari hospital base menjadi community base. Empat Ciri Pembentuk Struktur Masyarakat Yang Sehat : a. Suatu masyarakat yang di dalamnya tak ada seorang manusia pun yg diperalat oleh orang lain. Oleh karena itu seharusnya tidak ada yang diperalat/ memperalat diri sendiri, diman manusia itu mjd pusat dari semua aktivitas ekonomi maupun politik diturunkan pada tujuan perkembangan diri manusia. b. Mendorong aktivitas produktif setiap warganya dalam pekerjaannya, merangsang perkembangan akal budi dan lebih jauh lagi, mampu membuat manusia untuk mengungkapkan kebutuhan batinnya berupa seni dan perilaku normatif kolektif. c. Masyarakat terhindar dari sifat2 rakus, eksploitatif, pemilikan berlebihan, narsisme, tidak mendapatkan kesempatan meraup keuntungan material tanpa batas. d. Kondisi masyarakat yang memungkinkan orang bertindak dalam dimensi2 yang dpt dipimpin dan diobservasi. Partisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan struktur masyarakat sehat, kuncinya : Setiap org harus meningkatkan kualitas hidup yang dpt menjamin terciptanya kondisi sehat yang sesungguhnya. Mandiri dan tidak bergantung pada orang lain merupakan orientasi paradigma kesehatan jiwa

6. Meningkatnya Post Traumatic Syndrome Disorder dan Akibat yang Ditimbulkan Masalah kesehatan jiwa akan menjadi The global burdan of disease (Michard & Chaterina, 1999). Hal ini akan menjadi tantangan bagi Public Health Policy yang secara tradisional memberi perhatian yang lebih pada penyakit infeksi. Standar pengukuran untuk kebutuhan kesehatan global secara tradisional adalah angka kematian akibat penyakit. Ini telah menyebabkan gangguan jiwa seolah-olah bukan masalah. Dengan adanya indikator baru, yaitu DALY (Disabilitty Adjusted Life Year) diketahuilah bahwa gangguan jiwa

merupakan masalah kesehatan utama secara internasional. Perubahan sosial ekonomi yang amat cepat dan situasi sosial politik yang tidak menentu menyebabkan semakin tigginya angka pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan, situasi ini dapat meningkatkan angka kejadian krisis dan gangguan jiwa dalam kehidupan manusia. Untuk menjawab tantangan ini diperlukan tenaga-tenaga kesehatan seperti psikiater, psilolog, social Worker, dan perawat psikiatri yang memadai baik dari segi kuantitas. Saat terjadinya tsunami di Aceh, banyak orang yang terpapar dengan kejadian Traumatis, yang mengalami, menyaksikan kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sebenarnya dan mereka yang cedera serta yang dalam ancaman terhadap integritas fisik diri sendiri atau orang lain. Respons yang terjadi berupa rasa takut yang kuat serta tidak berdaya, sedangkan bagi anak-anak apa yang menghadapinya akan dieksperikan dengan perilaku yang kacau. Trauma itu merupakan sesuatu yang katastropik, yaitu trauma diluar rentang. Pengalaman trauma yang umum dialami manusia dalam kejadian sehari-hari. Pengalaman katastropik dalam berbagai bentuk, baik peperangan, pemerkosaan, maupun bencana alam. Ini akan membuat mereka dalam keadaan stress berkepanjangan dan berusaha untuk tidak mengalami stress yang sedemikian. Dengan demikian mereka menjadi manusia yang invalid dalam kondisi kejiwaan dengan akibat dan resultante akhir penderita ini akan menjadi tidak produktif. Mereka juga menjadi manusia yang selalu bermimpi menakutkan terjadi secara berulang-ulang. Akibatnya, tidur yang seharusnya membuat restorasi terhadap kondisi tubuh, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka berada dalam keadaan lelah dan seakan berada dalam kondisi depresi. Mungkin saja mereka akan berperilaku atau merasa seakan-akan kejadian traumatis itu terjadi kembali, termasuk pengalaman, ilusi, halusinasi, dan episode kilas balik dalam bentuk disosiatif. Trauma muncul sebagai akibat dari saling keterkaitan antara ingatan sosial dan ingatan pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan. Oleh karena itu, pemahaman tentang trauma sebagai proses sosial dan sekaligus proses kejiwaan yang bersifat personal mutlak diperlukan untuk mencari jalan keluar dari lingkaran ingatan traumatis yang dialami oleh klien-klien yang mengalami yang mengalami bencana di seluruh penjuru Indonesia.

Sigmund Freud mengemukakan bahwa trauma adalah suatu ingatan yang direpresi. Dan, karena direpresi itulah maka trauma sering berlangsung secara tidak sadar dalam periode yang cukup lama. Perawat jiwa pada masa akan datang penting untuk menekuni kajian trauma, juga menggaris bawahi proses yang dalam studi psikologi sering disebut sebagai transference. Istilah ini merujuk pada transfer pengalaman traumatis yang terjadi dari orang yang secara fisik langsung mengalami peristiwa yang mengerikan kepada orang lain yang tak secara langsung mengalaminya. Freud memberi contoh bahwa psikoanalis juga dapat mengalami proses transference saat ia secara tak sadar melakukan identifikasi dengan korban trauma tersebut. Dori Laub, psikiater yang terlibat dalam pembuatan Shoah, mengatakan bahwa transference itu bisa terjadi saat psikoanalis, atau siapapun juga yang melakukan wawancara dengan korban. Trauma yang katastropik, yaitu trauma di luar rentang pengalaman trauma yang umum di alami manusia dalam kejadian sehari-hari. Mengakibatkan keadaan stress berkepanjangan dan berusaha untuk tidak mengalami stress yang demikian. Mereka menjdi manusia yang invalid dalam kondisi kejiwaan dengan akibat akhir menjadi tidak produktif. Trauma bukan semata-mata gejala kejiwaan yang bersifat individual, trauma muncul sebagai akibat saling keterkaitan antara ingatan sosial dan ingatan pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan.

7. Meningkatnya Masalah psikososial Lingkup kesehatan jiwa sangat luas dan kompleks, juga saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada UU No. 23 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Psikiatri, masalah kesehatan jiwa secara garis besar digolongkan menjadi : a. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup, yaitu masalah kejiwaan yang berkaitan dengan makna dan nilai-nilai kehidupan manusia. Misalnya: 1) Masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan lifecycle kehidupan manusia, mulai dari persiapan pranikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja,

dewasa, usia lanjut. 2) Dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas. 3) Pemukiman yang sehat. 4) Pemindahan tempat tinggal. b. Masalah psikososial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul akibat terjadinya perubahan sosial, meliputi : 1) Psikotik gelandangan (seseorang yang berkeliaran di tempat umum dan diperkirakan menderita gangguan jiwa psikotik dan dianggap mengganggu ketertiban/keamanan lingkungan). 2) Pemasungan penderita gangguan jiwa. 3) Masalah anak jalanan. 4) Masalah anak remaja (tawuran, kenakalan). 5) Penyalaggunaan Narkotik dan psikotropik. 6) Masalah seksual (penyimpangan seksual, pelecehan seksual dll) 7) Tindak kekerasan sosial (kemiskinan, penelantaran tdk diberi nafkah, korban kekerasan pd anak, dll) Stress pasca trauma (ansietas, gangguan emosional, berulang kali merasakan kembali suatu pengalaman traumatik, bencana alam, ledakan, kekerasan, penyerangan/ penganiayaan fisik/ seksual, termasuk pemerkosaan, terorisme, dll). 8) Stress pascatrauma (ansietas, gangguan emosional, berulangkali merasakan kembali suatu pengalaman

traumatik, bencana alam, ledakan, kekerasaan, penyerangan/penganiyaan secara fisik atau seksual, termasuk pemerkosaan, terorisme dan lain-lain). 9) Migrasi ( masalah psikis/ kejiwaan akibat

perubahan sosial, spt cemas, depresi, stress pasca trauma, dll). 10) Masalah usia lanjut yang terisolasi (penelataran, penyalahgunaan fisik, gangguan psikologis, gangguan penyesuaian diri terhadap perubahan, perubahan minat, gangguan tidur, kecemasan, depresi, gangguan pada daya ingat, dll). 11) Masalah kesehatan tenaga kerja di tempat kerja (penurunan produktivitas, stress di tempat kerja, dll)

8. Trend Bunuh Diri pada Anak dan Remaja Bunuh diri merupakan masalah psikologis dunia yang sangat mengancam, angka kejadian terus meningkat dan sangat mengancam Sejak tahun 1958, dari 100.000 penduduk Jepang 25 orang diantaranya meninggal akibat bunuh diri. Sedangkan untuk negara Austria, Denmark, dan Inggris, rata-rata 25 orang. Urutan pertama diduduki Jerman dengan angka 37 orang per 100.000 penduduk. Di Amerika tiap 24 menit seorang meninggal akibat bunuh diri. Jumlah usaha bunuh diri yang sebenarnya 10 kali lebih besar dari angka tersebut, tetapi cepat tertolong. Kini yang mengkhawatirkan trend bunuh diri mulai tampak meningkat terjadi pada anak-anak dan remaja. Di Benua Asia, Jepang dan Korea termasuk Negara yang sering diberitakan bahwa warganya melakukan bunuh diri. Di Jepang, harakiri (menikam atau merobek perut sendiri) sering dilakukan bawahan untuk melindungi nama baik atasannya. Sebagai

contoh, sekretaris pribadi mantan Perdana Menteri Takeshita melakukan bunuh diri, ketika skandal suap perusahaan Recruits Cosmos terbongkar pada tahun 1984 atau yang paling terkenal kasus bunuh dirinya sopir pribadi mantan Perdana menteri Tanaka, ketika skandal suap Lockheed terbongkar. Sang sopir menusuk perutnya, demi menjaga kehormatan pimpinannya. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 mengungkapkan bahwa satu juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau terjadi dalam seiap 40 detiknya. Bunuh diri juga termasuk satu dari tiga penyebab utama kematian pada usia 15-34 tahun, selain faktor kecelakaan. Metode yang paling disukai yaitu menggunakan pistol, menggantung diri dan minum racun. Keberhasilan bunuh diri pada pria lebih banyak 3 x dari wanita. Bunuh diri : suatu tindakan mencabut nyawa sendiri dengan sengaja. Latar belakangnya beragam : asmara, pekerjaan, masalah rumah tangga, ekonomi, perasaan malu dan terlilit utang.

9. Trend / Isu Dimensi Spritual Keperawatan Jiwa Hubungan social antar manusia dirasakan menurun akhir akhir ini, bahkan kadang- kadang hanya sebatas imitasi saja. Menurut Dadang Hawari ( 1996 ) hal hal tersebut dapat menyebabkan perubahan psikososial, antara lain : pola hidup social religious menjadi materialistis dan sekuler. Nilai agama dan tradisional di era modern menjadi serba boleh dan seterusnya. Perubahan yang dirasakan dapat mempengaruhi tidak hanya fisik tapi juga mental, seperti yangmenjadi standar WHO ( 1984 ) yang dikatakan sehat tidak hanya fisik tetapi juga mental, social dan spiritual. Standar sehat yang disampaikan oleh WHO tersebut dapat menjadi peluang besar bagi perawat untuk berbuat banyak, karena mempunyai kesempatan kontak dengan klien selama 24 dimensi spiritual, konsep dalam memberikan asuhan keperawatan spiritual dan proses keperawatan dimensi spiritual. Merujuk dari pentingnya pengetahuan dan agama tersebut untuk jiwa yang sehat banyak penelitian dilakukan di antaranya sebuah penelitian yang mengatakan kelompok

yang tidak terganggu jiwanya adalah yang mempunyai agama yang bagus dan sebaliknya. Karl Jung telah menyimpulkan dari analisanya bahwa mereka yang menderita penyakit mental mengalami suatu kekosongan rohani. Terapinya terletak pada siraman keimanan yang kuat.

10. Masalah Napza dan HIV/ AIDS Gangguan penggunaan zat adiktif ini sangat berkaitan dan merupakan dampak dari pembangunan serta teknologi dari suatu negara yang semakin maju. Hal terpenting yang mendukung merebaknya NAPZA di negara kita adalah perangkat hukum yang lemah bahkan terkadang oknum aparat hukum seringkali menjadi backing, ditambah dengan keragu-raguan penentuan hukuman bagi pengedar dan pemakai, sehingga dampaknya SDM Indonesia kalah dengan Malaysia yang lebih bertindak tegas terhadap pengedar dan pemakai NAPZA. Kondisi ini akan semakin menigkat untuk masa yang akan datang khususnya dalam era globalisasi. Dalam era globalisasi tersebut terdapat gerakan yang sangat besar yang disebut dengan istilah Gerakan Kafirisasi. Bila beberapa dekade yang lalu kita mengenal istilah zionisme, maka dengan ini sejalan dengan globalisasi kita berhadapan dengan dengan ideologi kafirisasi yang disebut dengan Neozionisme, sebuah ideologi yang ingin menciptakan tatanan dunia global yang sekuler dan terlepas sama sekali dari ajaran agama yang mereka anggap sebagai kepalsuan, racun, dan dogmatis fundamentalis. Gerakan konspirasi mereka telah membuat carut marut dan tercabiknya wajah kaum beragama, utamanya umat muslim, mereka menuduh umat islam sebagai fundamentalis, ekstrimis, dan tiran. Bahkan Hungtington (Misionaris Yahudi) pernah mengatakan : Musuh Barat terbesar setelah Rusia hancur adalah Islam. Salah satu program mereka adalah menghancurkan islam melalui penghancuran generasi mudanya dengan cara menebarkan narkotik dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Sekarang para imperalis dan konspirasi Yahudi telah memanfaatkan energi yang tersimpan dalam generasi negeri ini (1,3 juta orang pemuda) yang berusia 15-25 tahun

melalui NAPZA (Narkotik dan Zat Adikif lainnya) dan telah membunuh 30 orang perbulannya. Masalah lainnya muncul seiring dengan merebaknya pemakaian NAPZA. Menjelang tahun 2008 pertumbuhan HIV AIDS di dunia dapat mencapai 4 orang permenit. Ini merupakan ancaman hilangnya kehidupan dan runtuhnya peradaban. Kita semua, khususnya tim kesehatan harus merasa terpanggil menyelamatkan generasi penerus bangsa dari cangkraman NAPZA (Narkotika, Alkohol, psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya). Perawat merupakan komponen terbesar dari seluruh tim kesehatan, maka upaya-upaya pengcegahan dan penatalaksanaan keperawatan menjadi hal yang sangat penting karena perawat senantiasa berada di sisi klien dalam rentang waktu yang lama di banding tim kesehatan lainnya. Melalui forum presentasi orientasi keperawatan jiwa kami berusaha memaparkan suatu topic dengan tema Asuhan Keperawatan pada Pengguna NAPZA.

11. Paterrn of Parenting dalam Keperawatan Jiwa Dengan banyaknya kasus bunuh diri dan depresi pada anak, maka pola asuh keluarga kembali menjadi sorotan. Pola asuh yang baik adalah pola asuh dimana orang tua menerapkan kehangatan dan kontrol yang tinggi dalam keluarganya. Kehangatan adalah bagaimana orang tua menjadi teman berbagi cerita, teman bermain, teman yang menyenangkan bagi anak terutama saat rekreasi, belajar dan berkomunikasi. Berbagai upaya agar anak dekat dan berani bicara pada orang tuanya saat memiliki masalah. Orang tua menjadi teman dalam ekspresi feeling anak sehingga anak menjadi sehat jiwanya. Kontrol yg tinggi adalah bagaimana anak dilatih mandiri dan mengenal disiplin di rumahnya. Kemandirian menjadi hal yg sangat penting dalam kesehatan jiwa, karena akan memiliki self confidence yang cukup. Orang tua juga melatih anak bertanggung jawab mengerjakan tugas-tugas di rumah seperti mencuci, menyiram bunga dll. Tipe Pola Asuh : Autoratif = kontrol tinggi & kehangatan tinggi Otoriter = kontrol tinggi, kehangatan rendah

Permisif = kontrol rendah, kehangatan tinggi Neglected = kontrol rendah, kehangatan Rendah

12. Masalah Ekonomi dan Kemiskinan Pengangguran telah menybabkan rakyat indonesia semakin terpuruk. Daya beli lemah, pendidikan rendah, lingkungan buruk, kurang gizi, mudah teragitasi, kekebalan menurun dan infrastruktur yg masih rendah menyebabkan banyak rakyat mengalami gangguan jiwa. Masalah ekonomi paling dominan menjadi pencetus gangguan jiwa di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan bahwa saat terjadi kenaikan BBM selalu dsertai dengan peningkatan dua kali lipat angka gangguan jiwa. Hal ini diperparah dengan biaya sekolah yang mahal, biaya pengobatan tak terjangkau dan penggusuran yang kerap terjadi.

B. Trend dalam pelayanan keperawatan mental psikiatri 1. Sehubungan dengan trend masalah kesehatan utama dan pelayanan kesehatan jiwa secara global, maka fokus pelayanan keperawatan jiwa sudah saatnya berbasis pada komunitas (community based care) yang memberi penekanan pada preventif dan promotif. 2. Sehubungan dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, perlu peningkatan dalam bidang ilmu pengetahuan dengan cara mengembangkan institusi pendidikan yang telah ada dan mengadakan program spesialisasi keperawatan jiwa. 3. Dalam rangka menjaga mutu pelayanan yang diberikan dan untuk melindungi konsumen, sudah saatnya ada licence bagi perawat yang bekerja di pelayanan. 4. Sehubungan dengan adanya perbedaan latar belakang budaya kita dengan narasumber, yang dalam hal ini kita masih mengacu pada Negara-negara Barat terutama Amerika, maka perlu untuk menyaring konsep-konsep keperawatan

mental psikiatri yang didapatkan dari luar.

C. Trend Pelayanan Keperawatan Mental Psikiatri di Era Globalisasi Sejalan dengan program deinstitusionalisasi yg didukung ditemukannya obat psikotropika yg terbukti dpt mengontrol perilaku klien gangguan jiwa, peran perawat tidak terbatas di RS, tetapi dituntut lbh sensitif thd lingkungan sosialnya, serta berfokus pd pelayanan preventif dan prmotif. Perubahan hospital based care mjd community based care = trend yg signifikan dlm pengobatan gangguan jiwa. Perawat mental psikiatri hrs mintegrasikan diri dlm community mental health, dgn 3 kunci utama : 1. Pengalaman dan pendidikan perawat, peran dan fungsi perawat serta hub perawat dgn 2. Profesi lain di komunitas. 3. Reformasi dlm yankes menuntut perawat meredefinisi perannya. 4. Intervensi pencegahan pendidikan kualitas. keperawatan dan yang menekankan kesehatan, sangat pd aspek saatnya terutama

promosi

sudah

mengembangkan community based car. Pengembangan keperawatan penting, keperawatan mental psikiatri baik dlm jumlah maupun

D. Issue Seputar Yankep Mental Psikiatri 1. Pelayanan kep. Mental Psikiatri, kurang dpt dipertanggung jawabkan karena masih kurangnya hasil2 riset keperawatan Jiwa Klinik. 2. Perawat Psikiatri, kurang siap menghadapi pasar bebas karena

pendidikan yg rendah dan belum adanya licence untuk praktek yang diakui secara internasional. 3. Pembedaan peran perawat jiwa berdasarkan pendidikan dan pengalaman sering kali tdk jelas Position description. job responsibility dan sistem reward di dlm pelayanan. 4. Menjadi perawat psikiatri bukanlah pilihan bagi peserta didik (mahasiswa keperawatan).

E. Trend atau Isu Dimensi Spritual Keperawatan Jiwa Kecepatan informasi dan mobilitas manusia di era modernisasi saat ini begitu tinggi sehingga terjadi hubungan social dan budaya. Hubungan social antar manusia dirasakan menurun akhir akhir ini, bahkan kadang- kadang hanya sebatas imitasi saja. Padahal bangsa Indonesia yang mempunyai / menjunjung tinggi adat ketimuran sangat memperhatikan hubungan social ini. Dengan demikian kita patut waspada dari kehilangan identitas diri tersebut. Perubahan yang terjadi tadi dapat membuat rasa bingung karena muncul rasa tidak pasti antara moral, norma,nilai nilai dan etika bahkan juga hokum. Menurut Dadang Hawari ( 1996 ) hal hal tersebut dapat menyebabkan perubahan psikososial, antara lain : pola hidup social religious menjadi materialistis dan sekuler. Nilai agama dan tradisional diera modern menjadi serba boleh dan seterusnya.Perubahan yang dirasakan dapat mempengaruhi tidak hanya fisik tapi juga mental, seperti yang menjadi standar WHO ( 1984 ) yang dikatakan sehat tidak hanya fisik tetapi juga mental,social dan spiritual. Standar sehat yang disampaikan oleh WHO tersebut dapat menjadi peluang besar bagi perawat untuk berbuat banyak, karena mempunyai kesempatan kontak dengan klien selama 24dimensi spiritual, konsep dalam memberikan asuhan keperawatan spiritual dan proses keperawatan dimensi spiritual. Spritual menurut New Websters Dictionary ( 1981, hal. 1467 ) : spirit berasal dari bahasa latin yaitu spirare. Spirare berarti hembus atau nafas. Spirit ini merupakan bagian yang sangat prinsip dalam hidup manusia. Ia berada dalam jasmani manusia, sebagai jiwa,

dan terpisah dari tubuh saat manusia meniggal. Hal tersebut sesuai dengan pengertian spirit dalam kamus bahasa Indonesia ( Dep Dik Bud 1990 ) yang berarti jiwa, sukma atau roh sedangkan spiritual berartikejiwaan, rohani, mental atau moral. Merujuk dari pentingnya pengetahuan dan agama tersebut untuk jiwa yang sehat banyak penelitian dilakukan di antaranya sebuah penelitian yang mengatakan kelompok yang tidak terganggu jiwanya adalah yang mempunyai agama yang bagus dan sebaliknya. Karl Jung telah menyimpulkan dari analisanya bahwa mereka yang menderita penyakit mental mengalami suatu kekosongan rohani. Terapinya terletak pada siraman keimanan yang kuat. Namun demikian upaya untuk mewujudkan perawat yang professional di Indonesia masih belum menggembirakan, banyak factor yang dapat menyebabkan masih rendahnya peran perawat professional, diantaranya : 1. Keterlambatan pengakuan body of knowledge profesi

keperawatan. Tahun 1985 pendidikan S1 keperawatan pertama kali dibuka di UI, sedangkan di negara barat pada tahun 1869. 2. 3. Keterlambatan pengembangan pendidikan perawat professional. Keterlambatan system pelayanan keperawatan., ( standart, bentuk praktik keperawatan, lisensi ) Menyadari peran profesi keperawatan yang masih rendah dalam dunia kesehatan akan berdampak negatif terhadap mutu pelayanan kesehatan bagi tercapainya tujuan kesehatan sehat untuk semua pada tahun 2010. Peran & Fungsi Perawat Pada Gangguan Jiwa 1. Peran kep. Jiwa : Sebagai pelaksana, pengelola, pendidik & peneliti 2. Fungsi kep. Kes jiwa : Melakukan pencegahan primer, sekunder, tersier thd masalah kes. Jiwaindividu, kelg, kelp & masya. 3. Cakupan : individu, kelg, kelp & komunitas 4. Metodelogi : proses kep.

5. Fokus yan. Kep : pemenuhan KDM disertai respom psikososial ygmaladaptif . Aktivitas Keperawatan Kes. Jiwa 1. Memantau kebutuhan emosi klien 2. Berespon pd klien yg krisis 3. Intervensi utk menurunkan panik pd ggu jiwa 4. Melindungi hak klien 5. Mengkaji efek terapi somatik 6. Membantu perilaku klien 7. Memimpin & membantu tenaga perawatan lain 8. 8.Bertindak sbg role model 9. Mendorong kemandirian klien 10. Bekerjasama dgn profesi lain terapi klien 11. Melakukan wawancara pd klien utk mendapat data 12. Implementasi rencana kep. 13. Menggunakan sumber dr masya. 14. Mendidik klien 15. mendorong klien utk mencoba pola kehidupan yg lbh konstruktif Peran perawat psikiatri tergantung pada: 1. Kompetensi yg diperoleh dr pendidikan 2. Tingkat kebutuhan klien 3. Kesepakatan & pengakuan peran perawat oleh profesi lainoBiaya perawatan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa masalah ekonomi merupakan salah satu masalah yang paling sering menyebabkan gangguan jiwa di Indonesia. Himpitan ekonomi yang semakin besar dikarenakan penghasilan yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dapat menjadi salah satu pencetus untuk seseorang bunuh diri. Saat ini masalah ganguan jiwa semakin meningkat. Beban hidup yang semakin berat, diperkirakan menjadi salah satu penyebab bertambahnya klien gangguan jiwa. Terutama karena meningkatnya harga-harga semua bahan pokok, BBM dan adanya era globalisasi. Pada kasus diatas, klien yang bunuh diri tersebut, penyebabnya adalah karena gangguan sosial atau lingkungan yang berupa stressor psikososial yaitu masalah keuangan. Gangguan jiwa saat ini tidak hanya mengenai orang-orang yang merupakan kalangan kelas bawah, tapi sekarang gangguan jiwa dapat menyerang baik itu orang kalangan bawah, menengah maupun kelas atas. Jika seseorang tidak dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan dan tidak dapat berusaha menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya maka seseorang akan cenderung untuk mengalami gangguan jiwa. Dari berbagai penyebab itulah maka satu demi satu akan muncul tindakan-tindakan yang dapat dikatakan sebagai suatu penyelewengan atau pengingkaran diri akan kondisi atau kenyataan yang ada. Pasien cenderung tidak mampu menerima kondisi yang ada sehingga muncul suatu keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dan

dalam kasus ini pun cenderung akhir dari segala pengingkaran diri pasien adalah dengan melakukan bunuh diri. Bunuh diri merupakan salah satu tindakan yang menjadi trend issue dalam keperawatan jiwa. Tanpa dibatasi umur, status ekonomi, tingkat pendidikan bahkan beban kerja yang dipikul bunuh diri menjadi suatu alternatif terakhir dalam menyelesaikan masalah yang dianggap berat untuk dihadapi. Pola pikir inilah yang seharusnya menjadi pusat garapan perawat-perawat jiwa untuk meluruskan kembali persepsi yang berkembang di masyarakat mengenai tindakan bunuh diri. Hal ini berguna untuk rehabilitasi pasien yang pernah mencoba untuk melakukan tindakan tersebut dan juga untuk pencegahan terjadinya tindakan ini yang semakin marak. Segala tindakan pencegahan dan rehabilitasi ini tentu akan terlaksana dengan dukungan dari segala pihak baik pemerintah maupun bidang kesehatan lainnya.

B. Saran Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai trend dan isu keperawatan jiwa di Indonesia sehingga dapat dikembeangkan dalam tatanan layanan keperawatan.

Beri Nilai