Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN Manfaat zeolit dan material tipe zeolit sebagai katalis selalu dikaitkan dengan sifat-sifat seperti struktur kristal yang unik, macam-macam struktur yang tersedia, kontrol terhadap struktur geometri dan komposisi, modifikasi dengan ion logam, oksida, kelompok, kompleks. Manfaat-manfaat ini dieksplorasi besar-besaran dalam reaksi dengan katalis asam. Baru-baru ini, eksplorasi diperluas hingga reaksi dengan katalis basa. Kebasaan zeolit dan material tipe zeolit dapat diperbaiki dengan pengenalan oksida utama dalam strukturnya dan/atau dengan perubahan muatan elektronegatif pada kerangkanya. Cara untuk menanamkan kebasaan yang kuat adalah dengan impregnasi dengan oksida alkali tanah, yang juga basa. Pengaruh kandungan magnesium dan barium dalam jumlah dan kekuatan situs basa utama dalam zeolit X sudah dipelajari. Pengaruh tersebut ditemukan dengan Temperature Programmed Desorption (TPD) dari CO2 yang menyatakan peningkatan magnesium (barium) menyebabkan peningkatan dalam sejumlah situs basa. Kekuatan situs basa terlihat dari situs basa kuat dengan puncak desorpsi CO2 maksimum di atas 1073 K terbentuk di bawah pengaruh oksida alkali tanah. Jumlah situs basa tergantung pada oksida alkali tanah alam dan meningkat dengan peningkatan ukuran dan elektropositivitas oksida alkali tanah. Semua keberaturan ini, yang disebutkan di atas, ditetapkan dengan kehadiran zeolit X. Akhirakhir ini, struktur zeolit dan material tipe zeolit telah dipelajari untuk mengumpulkan informasi tentang peran struktur dalam kebasaan. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa kebasaan meningkat dengan penurunan rasio atom Si/Al dalam tipe struktur yang sama. Untuk struktur yang berbeda, kebasaan tergantung pada stabilitas selektivitas bentuk,dan masalah difusi. Tujuan studi ini adalah untuk menyelidiki kebasaan pada seri zeolit yang sama dan struktur material tipe zeolit, dimodifikasi dengan barium oksida. Oksida yang terakhir sebelumnya ditemukan sebagai oksida alkai tanah yang paling menjanjikan, mengenai aktivitas dan kebasaan zeolit X. Efisiensi katalisis dipastikan melalui metilasi oksidatif dari toluen dengan metanuntuk membentuk hidrokarbon C8 (etilbenzena dan stirena). Korelasi yang mungkin dari struktur dan kebasaan juga diamati. METODE KARAKTERISASI TPD dengan CO2 dilakukan dengan menggunakan 1 gram sampel tiap percobaan. Sampel dipanaskan dalam aliran gas argon kering (20 ml/menit) hingga mencapai suhu 1073 K (laju pemanasan: 10 K/menit). Setelah mencapai suhu tersebut, suhu dijaga konstan selama 1 jam., kemudian sampel didinginkan hingga suhunya 323 K dan dialirkan CO2 dengan laju aliran 20 ml/menit selama 30 menit. Gas CO 2 yang tidak teradsorpsi kemudian dihilangkan dengan cara mengalirkan gas argon (20 ml/menit) selama 30 menit. Kemudian suhu dinaikkan kembali hingga 1073 K dan dijaga pada suhu tersebut hingga proses desorpsi CO2 selesai. CO2 yang terdesorpsi kemudian diukur jumlahnya dengan menggunakan gas kromatograf yang dilengkapi dengan detektor konduktivitas thermal.

II.

III. DESKRIPSI DETIL TAHAP-TAHAP KARAKTERISASI Dalam percobaan yang telah dilakukan (Predoeva, A. et al, 2002) ada beberapa tahapan, yaitu: 1. Pembuatan Katalis Katalis dibuat dengan metode impregnasi dari zeolit dan bahan-bahan seperti (X, Y, mordenite, ZSM-5, silicalite and AlPO4-5) dengan sejumlah equimolar dari BaO. Mula-mula larutan 0,1 M Ba(NO3)2 sebanyak 179 ml diaduk dengan 15 gram dari masing-masing bahan pada suhu ruangan selama 1 jam, setelah itu campuran dari larutan Ba(NO3)2 dan bahan-bahan tadi diuapkan sampai kering. Kemudian sampel dikeringkan semalaman pada suhu 393 K dan dikalsinasi pada suhu 823 K selama 5 jam untuk mendapatkan BaO. Jumlah dari BaO pada tiap sampel sebanyak 1,2 10-3 mol/gram katalis. 2. Pengujian/ Percobaan Katalitik Pada pengujian katalitik ini digunakan reaktor fixed bed aliran kontinyu dari kaca kuarsa. Sebelum direaksikan, tiap 1 gram dari masing-masing sampel dipanaskan melalui in situ dengan aliran udara 30 ml/menit sampai suhu tercapai dengan kecepatan panas 6 K/menit dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 1 jam. Reaksi dilakukan pada rentang suhu 973-1073 K. Laju aliran total dari gas adalah 30,9 ml/menit (metana 15 ml/menit, udara 15 ml/menit, dan toluena 0,9 ml/menit, setelah melewati saturator suhu dipertahankan pada 295 K). Produk cair didinginkan dengan ice-salt trap, setelah 3 jam waktu beroperasi dan dianalisis secara offline pada kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor ionisasi nyala dan kolom Carbowax (10 % Chromosorb W). Perhitungan dari konversi toluena, selektivitas, dan yield dari rantai Hidrokarbon C8 telah diketahui. 3. Karakterisasi Katalis Teknik karakterisasi dengan TPD-CO2 dilakukan dengan 1 gram sampel untuk masing-masing percobaan. Sampel dipanaskan dengan Argon kering dengan laju alir 20 ml/menit sampai suhu 1073 K tercapai dengan kecepatan panas 10 K/menit dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 1 jam. Kemudian sampel didinginkan pada suhu 323 K dan dikenakan dengan CO2 pada laju alir 20 ml/menit selama 30 menit. Suhu dipertahankan pada 1073 K sampai proses desorpsi dari CO2 selesai. CO2 tersebut dipantau dengan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor konduktivitas termal. Selanjutnya dilakukan pengukuran X-ray spektroskopi fotoelektron (XPS) dengan VG ESCALAB MK II spectrometer dalam kondisi UHV (vakum: ~10-8 Pa) pada suhu ruangan. Mg K (hv = 1253,6 eV) digunakn segabai sumber Xray. Energi ikatan elemennya (BE) C 1s pada 285 eV. Daerah permukaan katalis dapat diketahui dengan metode BET.

IV. INTERPRETASI HASIL KARAKTERISASI Jumlah situs basa dan kebasaan katalis diukur dengan menghitung jumlah CO2 yang terdesorpsi dan suhu dimana proses desorpsi CO2 berjalan maksimum. Grafik TPD-CO2 dengan menggunakan zeolite BaO yang telah dimodifikasi dan katalis zeolite dapat dilihat sebagai berikut:

Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. BaO/NaX BaO/NaY BaO/NaMOR BaO/NaZSM-5 BaO/SIL BaO/AlPO4-5

Dari grafik dapat diketahui bahwa katalis yang memiliki situs basa dengan tingkat kebasaan tinggi adalah katalis BaO/NaX. Katalis yang memiliki situs basa dengan tingkat kebasaan yang sama tetapi jumlahnya lebih sedikit adalah katalis BaO/NaY. Sampel X dan Y memiliki struktur yang analog dan telah dimodifikasi dengan jumlah BaO yang setara. Tingkat kebasaan kedua sampel tersebut ditentukan oleh komposisi kimia, terutama kandungan aluminiumnya. Tingginya kandungan aluminium pada sampel X menyebabkan tingkat kebasaannya tinggi dan selektif untuk hidrokarbon C8. Sedangkan katalis yang memiliki jumlah situs basa yang terbanyak dengan tingkat kebasaan yang tinggi adalah katalis BaO/NaMOR. Tingkat kebasaan katalis Bao/NaMOR tidak dipengaruhi oleh komposisi kimianya, tetapi oleh struktur kristalnya. Lokasi BaO yang tepat pada support modernite menyebabkan tingkat kebasaannya menjadi kuat dan memiliki selektivitas yang tinggi. Kesamaan sifat katalis pada suhu 973K dan 1074K dan struktur kristal (ukuran pori, bentuk geometri) pada ZSM-5 menyebabkan katalis tersebut memiliki kesamaan kebasaan dengan katalis BaO/NaMOR. Katalis BaO/NaZSM-5 memiliki jumlah situs basa terbanyak di antara katalis-katalis yang lain, tetapi tingkat kebasaannya lebih rendah dibandingkan dengan BaO/NaMOR. Katalis BaO/SIL memiliki struktur yang analog dengan katalis BaO/ZSM-5. Rendahnya tingkat kebasaan katalis BaO/SIL disebabkan karena struktur silicalite tidak bersifat basa, sehingga kebasaan dari katalis tersebut hanya berasal dari BaO itu sendiri. Sedangkan pada katalis Bao/AlPO4-5, tingkat kebasaan yang rendah kemungkinan disebabkan karena tersumbatnya BaO.
3

V.

KESIMPULAN Aktivitas dan kebasaan BaO termodifikasi zeolit X, Y, mordenite, ZSM-5, silikat, dan AlPO45 dan katalis zeolit bergantung pada tipe struktural dan komposisi kimia. Keterjangkauan pemodifikasi BaO untuk reagennya juga memainkan peran yang menentukan untuk aktivitas dan kebasaan. Untuk sampel dengan tipe struktural yang sama (BaO/NaX dan BaO/NaX, BaO/NaZSM-5 dan BaO/SIL), aktivitas dan kebasaan bergantung pada komposisi kimia. Dengan demikian, rasio atom Si/Al yang lebih rendah, aktivitas dan kebasaan akan lebih tinggi. Tipe struktural penting bagi lokasi BaO. Pada zeolit X dan Y dengan ukuran pori-pori yang besar, BaO tersisa sebagian tersembunyi untuk reagen dan kebasaannya sendiri kurang berperan untuk aktivitas, seperti yang dibandingkan dengan mordenite dan ZSM-5 dengan pori-pori yang lebih kecil. Kebasaannya, diukur dengan TPD dari CO2, menghasilkan komposisi kimia, tipe struktural, dan lokasi BaO yang signifikan.