Anda di halaman 1dari 14

UNIVERSITAS JEMBER FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN AGROTEKNOLOGI LABORATORIUM HORTIKULTURA LAPORAN PRAKTIKUM NAMA NIM ANGGOTA : M.

WILDAN BADIKARUMA : 101510501004 : 1. ARDIAZ L.A. 2. SHOLIFAH 4. RIDWAN YOGA 5. SITI NURAENI JUDUL ACARA TANGGALPRAKTIKUM ATAU TAMAN KOTA : 10 APRIL 2012 TANGGALPENYERAHAN : 17 APRIL 2012 ASISTEN : 1. ENGGAR WELLY ANGGIA 2. DERIE KUSUMA B.N 3. SITI NUR WAHYU T.N 4. REKYAN LARASATI (101510501009) (101510501015) (101510501169) (101510501033)

GOLONGAN/KELOMPOL : SELASA/7

3. M.KURDIANTORO (101510501033)

:MERANCANG DESAIN HUTAN KOTA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian penting dari struktur pembentuk kota, dimana ruang terbuka hijau kota memiliki fungsi utama sebagai penunjang ekologis kota yang juga diperuntukkan sebagai ruang terbuka penambah dan pendukung nilai kualitas lingkungan dan budaya suatu kawasan. Keberadaan ruang terbuka hijau kota sangatlah diperlukan dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi intrinsik sebagai penunjang ekologis dan fungsi ekstrinsik yaitu fungsi arsitektural (estetika), fungsi sosial dan ekonomi. Ruang terbuka hijau dengan fungsi ekologisnya bertujuan untuk menunjang keberlangsungan fisik suatu kota dimana ruang terbuka hijau tersebut merupakan suatu bentuk ruang terbuka hijau yang berlokasi, berukuran dan memiliki bentuk yang pasti di dalam suatu wilayah kota. Sedangkan ruang terbuka hijau untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan ruang terbuka hijau pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota. Proporsi 30% luasan ruang terbuka hijau kota merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Secara definitif, ruang terbuka hijau adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, ruang terbuka hijau di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota. Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah

perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi masyarakatnya. Ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun arealareal yang diperuntukkan sebagai genangan retensi.

1.2 Tujuan
1. Untuk memahami dan menginterpretasikan fungsi taman kota beserta komponen

komponen penyusunnya.
2. Mahasiswa diharapkan mampu menilai serta memberikan masukan terhadap

penyempurnaan dan perbaikan taman kota yang ada beserta alasan alasannya, melalui desain ulang salah satu obyek praktikum taman kota dari sudut pandang masing masing.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pekarangan. Ruang terbuka hijau diklasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2004). Hutan kota adalah ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan. Hutan kota memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk perkotaan, dalam kegunaan-kegunaan proteksi, estetika, rekreasi dan kegunaan khusus lainnya (Djaiz dan Novian, 2000). Hutan kota merupakan bentuk persekutuan vegetasi pohon yang mampu menciptakan iklim mikro dan lokasinya di perkotaan atau dekat kota. Hutan di perkotaan ini tidak memungkinkan berada dalam areal yang luas. Bentuknya juga tidak harus dalam bentuk blok, akan tetapi hutan kota dapat dibangun pada berbagai penggunaan lahan. Oleh karena itu diperlukan kriteria untuk menetapkan bentuk dan luasan hutan kota. Kriteria penting yang dapat dipergunakan adalah kriteria lingkungan. Hal ini berkaitan dengan manfaat penting hutan kota berupa manfaat lingkungan yang terdiri atas konservasi mikroklimat, keindahan, serta konservasi flora dan kehidupan liar (Fandeli, 2003). Kehadiran pohon dalam lingkungan kehidupan manusia, khususnya diperkotaan, memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, dalam arti harfiah ataupun kiasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman (mulai dari rumput, semak sampai pohon) (Budihardjo, 1993). Dalam pelaksanaan pembangunan hutan kota dan pengembangannya, ditentukan berdasarkan pada objek yang akan dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan letaknya, hutan kota dapat dibagi menjadi lima kelas yaitu : 1. Hutan Kota Pemukiman, yaitu pembangunan hutan kota yang bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang nyaman dan menambah keindahan dan

dapat menangkal pengaruh polusi kota terutama polusi udara yang diakibatkan oleh adanya kendaraan bermotor yang terus meningkat dan lain sebagainya di wilayah pemukiman. 2. Hutan Kota Industri, berperan sebagai penangkal polutan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan perindustrian, antara lain limbah padat, cair, maupun gas. 3. Hutan Kota Wisata/Rekreasi, berperan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreasi bagi masyarakat kota yang dilengkapi dengan sarana bermain untuk anak-anak atau remaja, tempat peristirahatan, perlindungan dari polutan berupa gas, debu dan udara, serta merupakan tempat produksi oksigen.
4. Hutan Kota Konservasi, hutan kota ini mengandung arti penting untuk mencegah

kerusakan, memberi perlindungan serta pelestarian terhadap objek tertentu, baik flora maupun faunanya di alam.
5. Hutan Kota Pusat Kegiatan, hutan kota ini berperan untuk meningkatkan

kenyamanan, keindahan, dan produksi oksigen di pusat-pusat kegiatan seperti pasar, terminal, perkantoran, pertokoan dan lain sebagainya. Di samping itu hutan kota juga berperan sebagai jalur hijau di pinggir jalan yang berlalulintas padat (Irwan, 1997). Jenis tanaman dapat dijadikan simbol atau lambang suatu kota yang dapat dikoleksi pada areal hutan kota. Propinsi Sumatra Barat misalnya, flora yang dikembangkan untuk tujuan tersebut di atas adalah Enau (Arenga pinnata) denga 14 alasan pohon tersebut serba guna dan istilah pagar-ruyung menyiratkan makna pagar enau. Jenis pilihan lainnya adalah kayu manis (Cinnamomum burmanii), karena potensinya besar dan banyak diekspor dari daerah ini (Dahlan, 2004).

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum Pertamanan dengan acara Merancang Disain Taman Kota atau Hutan Kota ini dilaksanakan di Taman Wisata Oleng Sibutong, Kecamatan Arjasa pada tanggal 10 April 2012 pukul 14.00 WIB selesai. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Personal komputer (PC) atau laptop atau notebook (dengan minimal program Windows XP, Vista, Microsoft Office 2003 atau 2007, Ram min = 1 GB). 2. CDR atau CDRW. 3. Printer warna. 4. Kertas HVS atau Glossy Photo Paper. 3.2.2 Bahan
1. Program Punch Home Design Architectural Series 18.

3.3 Cara Kerja


1. Melakukan studi lapang pada salah satu obyek taman kota yang ada di

Kabupaten Jember atau di sekitarnya atau di kota asal mahasiswa yang bersangkutan. 2. 3. 4. Mengambil gambar dari beberapa sudut pandang tertentu good view. Menginventarisir semua komponen taman yang ada ke dalam daftar (contoh tabel tersedia). Menyusun desain taman wisata ke dalam bentuk 2 dimensi (proyeksi vertikal) atau 3 dimensi.
5. Memberikan diskripsi dan saran terhadap taman kota yang dikunjungi tersebut

dengan sistematika 6. Mendiskusikan diksripsi taman wisata yang telah disusun. BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

Hasil dokumentasi salah satu sudut pandang tertenti good view dari Taman Kota Jember atau Alun-Alun Jember :

Hasil desain taman menggunakan program Punch Home Design Architectural Series 18 sebagai berikut :

Desain tampak samping atas

Desain tampak belakang Tabel Komponen Taman No. Nama Komponen Taman Fungsi Komponen Keterangan Lain

Sebagai jalan setapak 1 Floor / lantai dan agar lebih terkesan elegan Sebagai tanda / batas parkir kendaraan Sebagai replika kendaraan yang diparkir Sebagai tempat untuk duduk dan bersantai Sebagai tempat penampung sampah, agar sampah tidak berserakan Sebagai tanaman 6 Starky Hardy Giany Pecan penyejuk dan untuk berteduh Sebagai tanaman 7 Rosa Eutin penambah kesan indah taman Sebagai tempat menanam tanaman Tipe semak Tipe pohon Lantai

Pembatas / marka

Floor

Car / mobil

Exterior accesoris

Bangku

Exterior furniture

Tempat sampah

Exterior furniture

Floor Cutout

Floor

4.2 Pembahasan Ruang Terbuka Hijau dikenal dengan istilah RTH, merupakan istilah yang telah lama diperkenalkan. Pedoman Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan (Inmendagri Nomor 14 Tahun 1988), menegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup di wilayah perkotaan yang mencakup bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung didalamnya, maka diperlukan upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan kawasan-kawasan hijau.

Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di wilayah perkotaan dititikberatkan pada hijau sebagai unsur kota, baik produktif maupun non produktif, dapat berupa kawasan jalur hijau pertamanan kota, kawasan hijau pertanian, kawasan jalur hijau pesisir pantai, kawasan jalur hijau sungai dan bentuk ruang terbuka hijau lainnya. Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian penting dari struktur pembentuk kota, dimana ruang terbuka hijau kota memiliki fungsi utama sebagai penunjang ekologis kota yang juga diperuntukkan sebagai ruang terbuka penambah dan pendukung nilai kualitas lingkungan dan budaya suatu kawasan. Keberadaan ruang terbuka hijau kota sangatlah diperlukan dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi intrinsik sebagai penunjang ekologis dan fungsi ekstrinsik yaitu fungsi arsitektural (estetika), fungsi sosial dan ekonomi. Ruang terbuka hijau dengan fungsi ekologisnya bertujuan untuk menunjang keberlangsungan fisik suatu kota dimana ruang terbuka hijau tersebut merupakan suatu bentuk ruang terbuka hijau yang berlokasi, berukuran dan memiliki bentuk yang pasti di dalam suatu wilayah kota. Sedangkan ruang terbuka hijau untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan ruang terbuka hijau pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota. Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) banyak sekali bentuk dan macamnya. Slah satu bentuk dari RTHK yaitu hutan/taman kota. Hutan/taman kota dalam hal ini dapat kita artikan sebagai kumpulan tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik sebagian atau semuanya hasil rekayasa manusia untuk mendapatkan komposisi tertentu dan juga memperhatikan segi estetika, ketenraman dan kenyamanan yang terdapat di kawasan perkotaan. Menurut Fandeli, 2003 mengemukakan bahwa hutan kota merupakan bentuk persekutuan vegetasi pohon yang mampu menciptakan iklim mikro dan lokasinya di perkotaan atau dekat kota. Hutan di perkotaan ini tidak memungkinkan berada dalam areal yang luas. Bentuknya juga tidak harus dalam bentuk blok, akan tetapi hutan kota dapat dibangun pada berbagai penggunaan lahan. Oleh karena itu

diperlukan kriteria untuk menetapkan bentuk dan luasan hutan kota. Kriteria penting yang dapat dipergunakan adalah kriteria lingkungan. Hal ini berkaitan dengan manfaat penting hutan kota berupa manfaat lingkungan yang terdiri atas konservasi mikroklimat, keindahan, serta konservasi flora dan kehidupan liar. Berdasarkan letaknya, hutan kota dapat dibagi menjadi lima kelas yaitu : 1. Hutan Kota Pemukiman, yaitu pembangunan hutan kota yang bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang nyaman dan menambah keindahan dan dapat menangkal pengaruh polusi kota terutama polusi udara yang diakibatkan oleh adanya kendaraan bermotor yang terus meningkat dan lain sebagainya di wilayah pemukiman. 2. Hutan Kota Industri, berperan sebagai penangkal polutan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan perindustrian, antara lain limbah padat, cair, maupun gas. 3. Hutan Kota Wisata/Rekreasi, berperan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreasi bagi masyarakat kota yang dilengkapi dengan sarana bermain untuk anak-anak atau remaja, tempat peristirahatan, perlindungan dari polutan berupa gas, debu dan udara, serta merupakan tempat produksi oksigen. 4. Hutan Kota Konservasi, hutan kota ini mengandung arti penting untuk mencegah kerusakan, memberi perlindungan serta pelestarian terhadap objek tertentu, baik flora maupun faunanya di alam. 5. Hutan Kota Pusat Kegiatan, hutan kota ini berperan untuk meningkatkan kenyamanan, keindahan, dan produksi oksigen di pusat-pusat kegiatan seperti pasar, terminal, perkantoran, pertokoan dan lain sebagainya. Di samping itu hutan kota juga berperan sebagai jalur hijau di pinggir jalan yang berlalulintas padat Taman kota mempunyai fungsi yang banyak (multi fungsi ) baik berkaitan dengan fungsi hidroorologis, ekologi, kesehatan, estetika dan rekreasi. 1. Taman perkotaan yang merupakan lahan terbuka hijau, dapat berperan dalam membantu fungsi hidroorologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. Pepohonan melalui perakarannya yang dalam mampu meresapkan air ke

dalam tanah, sehingga pasokan air dalam tanah (water saving) semakin meningkat dan jumlah aliran limpasan air juga berkurang yang akan mengurangi terjadinya banjir. Diperkirakan untuk setiap hektar ruang terbuka hijau, mampu menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Sehingga kekeringan sumur penduduk di musim kemarau dapat diatasi. Sekarang sedang digalakan pembuatan biopori di samping untuk dapat meningkatkan air hujan yang dapat tersimpan dalam tanah, juga akan memperbaiki kesuburan tanah. Pembuatan biopori sangat sederhana dengan mengebor tanah sedalam satu meter yang kemudian dimasuki dengan sampah, maka di samping akan meningkatkan air tersimpan juga akan meningkatkan jumlah cacing tanah dalam lubangan tadi yang akan ikut andil menyuburkan tanah. 2. Taman kota mempunyai fungsi kesehatan. Taman yang penuh dengan pohon sebagai jantungnya paru-paru kota merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya. Peran pepohonan yang tidak dapat digantikan yang lain adalah berkaitan dengan penyediaan oksigen bagi kehidupan manusia. Setiap satu hektar ruang terbuka hijau diperkirakan mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari, membuat dapat bernafas dengan lega. 3. Taman kota mempunyai fungsi ekologis, yaitu sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Bahkan rindangnya taman dengan banyak buah dan biji-bijian merupakan habitat yang baik bagi burung-burung untuk tinggal, sehingga dapat mengundang burung-burung untuk berkembang. Kicauan burung dipagi dan sore akan terdengar lagi. 4. Taman kota dapat berfungsi sebagai filter berbagai gas pencemar dan debu, pengikat karbon, pengatur iklim mikro. Pepohonan yang rimbun, dan rindang, yang terus-menerus menyerap dan mengolah gas karbondioksida (CO2), sulfur oksida (SO2), ozon (O3), nitrogendioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan timbal (Pb) yang merupakan 80 persen pencemar udara kota, menjadi oksigen segar yang siap dihirup warga setiap saat. Kita sadari pentingnya tanaman dan hutan sebagai paru-paru kota yang diharapkan dapat membantu menyaring dan menjerap polutan di udara, sehingga program penghijauan harus mulai

digalakkan kembali.Tanaman mampu menyerap CO2 hasil pernapasan, yang nantinya dari hasil metabolisme oleh tanaman akan mengelurakan O2 yang kita gunakan untuk bernafas. Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap delapan kilogram CO2 yang setara dengan CO2 yang diembuskan oleh napas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama. Dengan tereduksinya polutan di udara maka masyarakat kota akan terhindar dari resiko yang berupa kemandulan, infeksi saluran pernapasan atas, stres, mual, muntah, pusing, kematian janin, keterbelakangan mental anak- anak, dan kanker kulit. Kota sehat, warga pun sehat. 5. Taman dapat juga sebagai tempat berolah raga dan rekreasi yang mempunyai nilai sosial, ekonomi, dan edukatif. Tersedianya lahan yang teduh sejuk dan nyaman, mendorong warga kota dapat memanfaatkan sebagai sarana berjalan kaki setiap pagi, olah raga dan bermain, dalam lingkungan kota yang benarbenar asri, sejuk, dan segar sehingga dapat menghilangkan rasa capek. Taman kota yang rindang mampu mengurangi suhu lima sampai delapan derajat Celsius, sehingga terasa sejuk. 6. Memiliki nilai estetika. Dengan terpeliharanya dan tertatanya taman kota dengan baik akan meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan, sehingga akan memiliki nilai estetika. Taman kota yang indah, dapat juga digunakan warga setempat untuk memperoleh sarana rekreasi dan tempat anak-anak bermain dan belajar. Bahkan taman kota indah dapat mempunyai daya tarik dan nilai jual bagi pengunjung. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka didapatkan view seperti pada gambar pada hasil di atas. View yang diambil merupakan jalan setapak yang mengitari alun-alun Jember. Menurut kami kekurangan pada view yang telah diambil antara lain yaitu nampak kendaraan yang diparkir di seberang jalan kurang tertata rapi dikarenakan tidak adanya marka atau batas parkir yang jelas. Selain itu disana tidak disediakan kursi atau bangku untuk duduk dan menikmati keindahan disekitarnya. Kemudian kekurangan yang lain yaitu tanaman dan pepohonannya kurang begitu banyak sehingga masih terkesan panas dan gersang dan banyak sampah yang dibuang sembarangan.

Setelah menganalisis berbagai kekurangannya, maka kami buatlah desainnya menggunakan aplikasi Punch Home Design Architectural Series 18. Desain yang kami buat bermaksud agar terlihat lebih rapi akan tetapi masih terkesan rindang dan nyaman. Selain itu juga terkesan lebih minimalis dan lebih modern. Pada desain yang kami buat, kami menambahkan beberapa komponen yang mungkin cukup membantu agar terlihat seperti yang kami harapkan. Komponen yang kami tambahkan antara lain Pembatas / marka, Car / mobil, Bangku, dan Tempat sampah serta pepohonan yang rindang dan beberapa tanaman semak yang diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga nampak rapi. Pada desain yang kami buat telah nampak kesan rapi, minimalis, dan rindang. Hal tersebut terlihat dengan tertata rapi kendaraan/mobil yang diparkir disekitar taman. Selain itu juga disediakan tempat sampah agar terlihat bersih dan rapi sehingga nyaman dilihat.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Taman/hutan kota sangat dianjurkan untuk keberadaanya dan memiliki luas 30% dari luas kota keseluruhan, hal tersebut telah banyak diatur di dalam peraturan perundangan yang ada dan masih berlaku. 2. Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) memiliki banyak fungsi dan kegunaanya serta memiliki macam. Salah satunya yaitu hutan/taman kota.

3.

Alun-alun Jember merupakan salah satu taman kota. Akan tetapi masih memiliki banyak kekurangan yang perlu disempurnakan.

5.2 Saran Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah agar dalam mendesain sebuah taman perlu diperhatikan segi estetika dan kenyamaan dari pengunjung, sehingga pengunjung yang datang pada taman kota tersebut akan merasa puas akan sarana dan prasarana yang ada. Sehingga yang akan datang pengunjung tersebut akan datang kembali. Untuk praktikan diharapkan lebih memperhatikan instruksi asisten, sehingga dapat melaksanakan praktikum dengan baik dan lancar sehingga memperoleh manfaat.

DAFTAR PUSTAKA Budihardjo. 1993.Taman Kota. Gramedia Pustaka, Jakarta. Dahlan, A. 2004. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau. Penebar Swadaya, Jakarta. Djaiz dan Novian, 2000. Manfaat Hutan Kota. Fakultas Pertanian ITB, Bandung. Fandeli, Chafid. 2004. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM dan PT. Perhutani (Persero). Fandeli, Chafid. 2003. Perencanaan Taman Kota. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM dan PT. Perhutani (Persero). Irwan, P. 1997. Ide dan Konsep Desain Taman. Andi Offset. Yogyakarta.