Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PRAKTEK SISTEM GANDA

METODE PENANGANAN UDANG, RUMPUT LAUT, INDUK ABALONE, DAN PEMBENIHAN ABALONE DI BALAI BUDIDAYA LAUT LOMBOK STASIUN GERUPUK, NUSA TENGGARA BARAT
Oleh
PUJI NUR PARIDI WAHIDURRAHMAN
M. HAMDANI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Penilaian Pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI KELAUTAN DAN PERIKANAN LEMBAR LOMBOK BARAT 2007

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTEK SISTEM GANDA ( P S G ) Judul Metode Penanganan Udang, Rumput Laut, Induk Abalone, Dan Pembenihan Abalone Di Balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Gerupuk, Nusa Tenggara Barat.
Nama 1. PUJI NUR PARIDI 2. WAHIDURRAHMAN 3. M. HAMDANI JurusanBudidaya Perikanan Laut ( B P L )

Telah disetujui oleh : Menyetujui, Guru Pembimbing Mengetahui, Ketua Jurusan

( Kusuma Wardana, S.Pi ) Mengetahui, Kepala Sekolah

( Kurniawati, S.Pi )

(Ir. L. Syaiful Bakhry )


Pembina (IV/a) NIP. 132 055 958

Tanggal pengesahan :.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia - Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Praktek System Ganda ( LPSG ) ini dengan baik dan tepat pada waktunya. LPSG ini berjudul : Metode Penanganan Udang, Rumput Laut, Induk Abalone, Dan Pembenihan Abalone Di Balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Tujuan peraktek sitem ganda ini adalah agar dapat mengetahui metode pemeliharaan udang, rumput laut, induk abalone, dan pembenihan abalone sesuai perosedur. LPSG ini terdiri dari 5 bab, yaitu : Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metode Praktek, Hasil Praktek, serta Kesimpulan dan Saran. Pada bab Hasil Praktek kami menguraikan tentang : Metode Penanganan Udang, Rumput Laut, Induk Abalone, Dan Pembenihan Abalone Di Balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Gerupuk, Nusa Tenggara Barat. Saran serta keritik yang membamgun dari para pembaca sangat kami harapkan untuk menyempurnakan penulisan kedepannya.

Lembar,

Maret 2007

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI . DAFTAR TABEL.. I. PENDAHULUAN.. 1.1 Latar Belakang.. 1.2 Tujuan .. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Udang Windu 2.1.1 Taksonomi Dan Morfologi Udang Windu.. 2.1.2 Penyebaran Udang Windu.. 2.1.3 Tingkah Laku (behavior) Udang Windu. 2.2 Rumput Laut.. 2.2.1 Taksonomi Dan Morfologi Rumput Laut 2.2.2 Penyebaran Rumput Laut.... 2.2.3 Persiapan Lokasi Budidaya Rumput Laut... 2.2.4 Metode Budidaya Rumpkut Laut 2.2.5 Persiapan Bibit Rumput Laut.. 2.2.6 Penanganan Bibit Rumput Laut. 2.2.7 Perawatan Rumput Laut.. 2.2.8 Panen Dan Penanganan Hasil Panen... 2.3 Abalone.. 2.3.1 Taksonomi Dam Morfologi Abalone.. 2.3.2 Penyebaran Abalone 2.3.3 Pengumpulan Induk Abalone Di Alam.. 2.3.4 Penanganan Induk Abalone Di Hatchery.. 2.3.5 Pengelolaan Pakan Induk Abalone. 2.3.6 Teknik Pemijahan Abalone....

I II V 1 1 2 3 3 3 4 5 7 7 8 8 9 10 11 11 12 14 14 15 15 16 18 19

2.3.7 Teknik Pemeliharaan Larva Abalone. III. METODE PRAKTEK.. 3.1 Waktu Dan Tempat 3.2 Alat Dan Bahan.. 3.2.1 Alat.... 3.2.2 Bahan IV. HASIL PRAKTEK.. Penanganan Udang.. 4.1.1 Persiapan Bak Pemeliharaan Udang. 4.1.2 Penebaran Benur.. 4.1.3 Perawatan Benur 4.2 Penanganan Rumput Laut .. 4.2.1 Pengikatan Bibit Dan Pananaman Rumput Laut.. 4.2.2 Perawatan Rumput Laut 4.2.3 Panen Dan Penanganan Hasil Panen. 4.2.4 Metode Budidaya Rumput Laut 4.3 Penanganan Induk Dan Pembenihan Abalone 4.3.1 Pengumpulan Induk Alam. 4.3.2 Penanganan Induk Di Hatchery 4.3.3 Pengelolaan Pakan Induk.. 4.3.4 Teknik Pemijahan.. 4.3.5 Teknik Pemeliharaan Larva.. 4.3.6 Panen Benih... V. KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1Kesimpulan 5.2Saran. DAFTAR PUSTAKA 4.1

20 23 23 23 23 25 26 26 26 26 27 28 28 29 30 30 34 34 35 37 37 39 41 42 42 43

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan praktek. Tabel 2. Bahan bahan yang di gunakan... 23 25

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perairan laut di Indonesia mencapai 8,36 juta ha yang secara individu dapat di manfaatkan untuk pembangunan kawasan budidaya laut. Dari luas tersebut untuk budidaya ikan bersirip (finfish) 20%, kekerangan 10%, rumput laut 60%, dan lainnya 10%. Tingkat pemanfaatan sebagian provinsi baru mencapai kurang dari 1%, namun sebagian telah mencapai di atas 1%-25% yaitu DKI Jakarta sekitar 24%, Bali 8%, Sulawesi Tenggara sekitar 6%, dan NTT sekitar 2% (Ditjenkanbud, 2004 dalam htt://www.Abalone.net/guide) Indonesia memiliki wilayah perairan budidaya sangat luas untuk di kembangkan, di mana sekitar 24,5 juta ha dapat di manfaatkan untuk budidaya laut dan sekitar 913.000 ha untuk pengembangan budidaya air payau. Dari luasan tersebut yang di tujukan bagi pengembangan budidaya air laut seluas 62.040 ha telah dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya moluska termasuk di dalamnya kerang mutiara dan Abalone (Sukadi, 2001 dalam Setyono, 2004a). Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki perairan pantai yang cocok untuk pertumbuhan rumput laut, udang, dan Abalone. Salah satunya adalah perairan pantai di Lombok yang sangat produktif dengan rumput laut dan jenis ikan yang melimpah. Terutama rumput laut jenis Gracillaria sp, yang di budidayakan untuk konsumsi dan rumput laut jenis Hypnea sp., Ulva sp., Kappaphycus sp. untuk pakan alami Abalone.

Berbagai metode budidaya dapat di terapkan di Perairan Lombok, mulai dari budidaya di darat (pembenihan), pembesaran di perairan pantai maupun di perairan dalam (Setyono, 2005a).

I.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Peraktek Sistem Ganda ( P S G ) ini antara lain :
1. Untuk mengetahui teknik pemeliharaan induk dan

benih

abalone. 2. Untuk mengetahui tekhnik penanganan benih udang. 3. Untuk mengetahui tekhnik penanganan rumput laut.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Udang Windu
2.1.1 Taksonomi Dan Morfologi Udang Windu A. Taksonomi Udang windu adalah jenis hewan karnivora yang hidup di air dan menurut Longmuir (1983) dalam Anonimus (2000) diklasifikasikan sebagai berikut: Filum Kelas Devisi Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies B. Morpologi Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian belakang disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu. Oleh karena itu dinamakan kepala dada (cephalothorax ). Bagian perut (abdomen) terdapat ekor dibagian belakangnya (Primavera, 1987 dalam Anonimus, 2000). : Arthropoda : Crustaceae : Malacostraca : Decapoda : Natanita : Panacidae : Penaeus : Panaeus monodon Sub Filum : Mandibulata

Semua badan beserta anggota anggotanya terdiri dari ruas ruas (segmen). Kepala dada terdiri dari 13 ruas, yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas. Sedangkan bagian perut terdiri dari 6 ruas. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota yang beruas ruas pula (Primavera, 1987 dalam Anonimus, 2000). Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton, yang terbuat dari bahan chitin. Kerangka tersebut mengeras, kecuali pada sambungan sambungan antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak. Bagaian kepala dada tertutup oleh kelopak yang kita namakan kelopak kepala atau cangkang kepala (carapace ). Dibagian depan, kelopak kepala memanjang dan meruncing, yang pinggirnya bergigi gigi. Bagian ini kita namakan cucuk kepala (rostrum) (Primavera, 1987 dalam Anonimus, 2000). 2.1.2 Penyebaran Udang Windu Menurut Longmuir (1983) dalam Anonimus (2000), udang adalah jenis hewan air yang suka bermigrasi. Migrasi udang terjadi setelah dewasa biasanya bergantung pada kondisi tempat mereka hidup, misalnya temperatur air pada musim dingian. Migrasi di indonesia dilaporkan oleh Unaar dan Naamin (1984) berdasarkan penangkapan nelaya pengankap udang di Cilacap. Larva dan Post Larva bergerak menuju pantai dan muara sungai, dan udang muda mulai memasuki selat Segara Anak terbawa oleh arus laut dan kemudian tumbuh menjadi dewasa. Penelitian migrasi ini sangat penting dalam perkembangan budidaya udang, karena bila kita

10

mengetahui musim apa udang bertelur atau bermigrasi ke tempat lain, kita akan dengan mudah menangkapnya untuk pembenihan ataupun untuk di jual. 2.1.3 Tingkah Laku (Behaviour) Udang Windu Menurut Longmuir (1983) dalam Anonimus (2000), tingkah laku (Behaviour) Udang Windu dan kebiasaan kebiasaannya adalah sebagai berikut : 1.Mengubur Diri. Kebiasaan ini paling sering dilakakan oleh udang sejak masih muda sampai dewasa. Mereka biasanya mengubur diri di dasar pasir atau lumpur di dasar air. Kebiasaan ini rupa rupanya dilakukan untuk menghindari musuh-musuhnya. Dalamnya mengubur dirinya bervariasi tergantung pada besar kecilnya udang. Biasanya bagian punggungnya berjarak tiga cm dari pernukaan pasir. Dalam kedaan ini udang biasanya bernafas melalui tabung respirasi, terdiri dari antena kedua, insang dan ruangan mandibula pada celah insang. Penguburan diri sangat dipengaruhi oleh cahaya, biasanya udang keluar dari mengubur diri setelah matahari terbenam dan kemudian mengubur diri lagi waktu matahari terbit. Udang besar bereaksi lebih cepat dari pada udang kecil. 2.Ganti Kulit (Moulting) Moulting adalah suatu proses pergantian kulit, pada peristiwa moulting ini, proses bio kimi juga terjadi, yaitu pengeluaran dan penyerapan kalsium dari tubuh hewan. Diduga penyebab moulting

11

adalah perubahan kualitas air ataupun karena makanan serta proses pengeluaran zat zat tertentu dari tubuh udang. 3. Migrasi Migrasi adalah perpindahan udang dari satu tempat ke tempat yang lainnya dan biasanya dipicu oleh persediaan makanan yang menipis. Migrasi juga terjadi bila udang betina akan mulai bertelur, sedangkan udang muda bermigrasi dari daerah muara sungai dan menuju ke laut lepas untuk menjadi dewasa. Migrasi yang terjadi setelah dewasa biasanya bergantung pada kondisi tempat mereka hidup, misalnya temperatur air pada musim dingin. Migrasi di Indonesia dilaporkan oleh Unaar dan Naamin (1984) berdasarkan penangkapan nelayan penangkap udang di Cilacap. Larva dan Post Larva bergerak menuju pantai dan muara sungai, dan udang muda mulai memasuki selat Segara Anak terbawa oleh arus laut dan kemudian tumbuh menjadi dewasa. 4. Sifat Nokturnal Sifat Nokturnal adalah sifat ikan yang aktif mencari makanan pada waktu malam. Pada waktu siang mereka lebih suka beristirahat, baik membenamkan diri maupun menempel pada sesuatu benda yang terbenam dalam air. Apabila keadaan lingkunngan cukup baik, udang jarang sekali manampakkan diri pada waktu siang. Apabila dalam suatu tambak udang nampak aktif bergerak pada waktu siang, ini menunjukkan suatu tanda bahwa ada suatu yang tidak beres. Mungkin karena makanan kurang, kadar garam meningkat, suhu naik, oksegen

12

kurang ataupun karena timbul senyawa senyawa beracun seperti asam sulfida (H2S), zat asam arang (CO2), amoniak (N2H3). Dan lain - lain. 5. Sifat Kanibalisme Sifat Kanibalisme adalah sifat suka memangsa jenisnya sendiri. Sifat ini suka muncul pada udang yang sehat, yang tidak sedang ganti kulit. Dalam keadaan kekurangan makanan sifat kanibalisme akan tampak nyata. Sifat demikian ini sudah mulai tampak pada waktu udang masih berruaya, yaitu mulai tingkatan mysis. Untuk menghindari kanibalisme, udang - udang yang sedang ganti kulit biasanya mencari tempat untuk bersembunyi.

2.2

Rumput Laut

2.2.1 Taksonomi Dan Morfologi Rumput Laut

A. Taksonomi
Devisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies B. Morfologi Di dalam Anonimus (2006), dikatakan bahwa Rumput Laut merupakan makro alga yang hidup dengan daun sejati dan pada : Thallophyta : Rhodophyceae : Gigartinales : Gracillariaceae : Gracillaria : Gracillaria sp. (Anonimus, 2006)

13

umumnya hidup di dasar perairan dan menempel pada substrat (benda lain). Fungsi dari akar, batang, dan daun yang tidak dimiliki oleh rumput laut digantikan oleh thallus. Karena tidak memiliki akar, batang, dan daun pada umumnya tanaman, maka rumput laut di golongkan pada kelompok tumbuhan tingkat rendah (thallophyta) (Anonimus, 2006). Bagian rumput laut secara umum terdiri dari hold fast yaitu bagian dasar dari rumput laut yang berfungsi untuk menempel pada substrat dan selain hold fast yaitu thallus, yaitu bentuk pertumbuhan rumput laut yang mempunyai percabangan. Tidak semua rumput laut bisa diketahui memiliki hold fast atau tidak (Anonimus, 2006). 2.2.2 Penyebaran Rumput Laut Rumput laut banyak terdapat di perairan pantai terbuka, pada kedalaman 5 m kita sudah dapat menemukan rumput laut. Hampir seluruh perairan pantai di Indonesia ditumbuhi rumput laut dari berbagai jenis (Anonimus, 2006).

2.2.3 Persiapan Lokasi Budidaya Rumput Laut Satu hal penting yang mutlak harus di perhatikan dalam budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi budidaya. Lahan budidaya rumput laut memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan sangat mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Syarat syarat tersebut adalah :

14

1. Kualitas air yaitu suhu 25 30 derajat celsius, salinitas lebih


dari 18 ppt, PH 7- 9, kejernihan kurang lebih 5 7 m. 2. Area budidaya harus jauh dari muara sungai dan sumber air tawar.

3. Substrat dasar terdiri dari pasir, pasir lumpur, lumpur, maupun


perairan berkarang. 4. Terlindung dari ombak dan arus yang besar. 5. Memiliki pergerakan air yang tinggi. 6. Keadaan air pada saat surut terrendam minimal 30 60 cm. 7. Lokasi budidaya harus jauh dari lalulintas kapal atau tidak berada pada jalur pelayaran. 8. Bebas dari pencemaran industri.

9. Bebas dari kemungkinan adanya hewan herbivora.


10.Lokasi budidaya dapat dijangkau dengan sarana transportasi darat maupun laut (Anonimus, 2006). 2.2.4 Metode Budidaya Rumput Laut Di dalam Anonimus (2006) dikatakan bahwa selain lokasi budidaya juga perlu di pertimbangkan metode budidaya yang akan di gunakan. Metode budidayan rumput laut perlu disesuaikan dengan kondisi lahan budidaya. Berikut ini adalah beberapa metode budidayan rumput laut, antara lain :

1.

Metode Dasar (bottom methol) a. Metode Sebar (broad cast methol)

15

Metode ini biasanya digunakan pada perairan yang sebagian besar dasarnya terdiri dari batu karang. b. Metode Budidaya Dasar Laut (bottom farm methol) Metode ini cocok untuk perairan yang berarus tidak terlalu kencang dan substratnya berupa bebatuan atau karang.

2.

Metode Lepas Dasar (off bottom methol) a. Meode Tunggal Lepas Dasar (off bottom monoline) Metode ini sesuai dengan perairan berpasir,lumpur pasir, atau berlumpur. b. Metode Jaring Lepas Dasar (off bottom net) Metode ini biasanya digunakan pada perairan yang berpasir dan benih yang ditanam lebih banyak. c. Metode Jaring Lepas Dasar Bentuk Tabung (off bottom tabular net) Metode ini sesuai untuk perairan yang berarus kencang dan bamyak predator.dapat pula digunakan pada perairan yang bersubstrat pasir, lumpur, atau lumpur pasir.

3.

Metode Apung (floating methol) a. Metode Tali Tunggal Apung (floating monoline) Metode ini merupakan perkembangan dari tali tunggal lepas dasar (off bottom monoline). b. Metode Jaring Apung (floating net) Hampir sama dengan tali tunggal apung (floating monoline).

16

2.2.5 Persiapan Bibit Rumput Laut Salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budidaya rumput laut adalah bibit yang digunakan. Oleh sebab itu bibit yang digunakan sebaiknya bibit yang baik sehingga akan menghasilkan panen yang baik pula. Bibit yang digunakan adalah tanaman muda hasil budidaya dengan kriteria sebagai berikut : a. Muda. b. Segar. c. Lendir masih banyak. d. Bercabang banyak dan rimbun. e. Tidak terdapat bercak dan tidak terkelupas.

f. Warna spesifik ( cerah ).


g. Umur 25 35 hari. h. Berat bibit 50 100 gr per rumpun (Anonimus, 2006) 2.2.6 Penanganan Bibit Rumput Laut Pada saat pengangkutan diupayakan agar bibit tetap terendam di dalam air laut. Apabila pengangkutan dilakukan melalui udara atau darat, bibit sebaiknya dimasukan ke dalam kotak karton yang berlapis plastik. Kemudian bibit disusun secara berlapis dan berselang - seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau kain yang dibasahi air laut. Bibit dijaga agar terhindar dari minyak, kehujanan, maupun terkena cahaya matahari secara langsung (Anonimus, 2006). Dalam menjaga kualitas produksi rumput laut dilakukan penggantian bibit yang layu dan kurus dengan bibit yang baru, untuk mendapatkan

17

bibit yang berkualitas baik. Sebaiknya bibit berasal dari bibit khusus yang tersedia dilokasi budidaya (Anonimus, 2006). 2.2.7 Perawatan Rumput Laut Di dalam Anonimus (2006) dikatakan, adapun kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam perawatan rumput laut adalah sebagai berikkut : a. Perawatan yang dilakukan setiap hari untuk membersihkan rumput laut dari tanaman pengganggu dan menyisip atau menyulam tanaman yang mati dan terlepas yang dilakukan pada minggu pertama setelah rumput laut di tanam. b. Mengganti tali yang sudah lapuk atau rusak atau menguatkan jangkar yang goyah. c. Menguatkan tali ikatan tanaman agar tidak terlepas dan saling terkait satu dengan yang lainnya yang dapat menyebabkan tanaman patah. d. Membersihkan lumpur yang melekat pada tanaman dan tali karena dapat memperlambat pertumbuhan. e. Mengganti rumput laut yang rusak atau mati dengan yang baru. f. Monitoring pertumbuhan rumput laut di lakukan beberapa kali dengan cara sampling setiap dua minggu yang di lakukan secara acak. 2.2.8 Panen Dan Penanganan Hasil Panen Beberapa hal penting saat penanaman rumput laut adalah umur dan cuaca. Umur berkaitan erat dengan kualitas rumput laut, jika di gunakan untuk bibit maka baru panen setelah berumur 25 35 hari.

18

Agar kandungan keragenan tersedia lebih banyak maka panen di lakukan saat berumur 45 hari (Anonimus, 2006). A. Cara Panen Panen dilakukan dengan mengangkat tanaman sekaligus. Pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat dengan membuka ikatan tali rafia pada tanaman atau memotong tanaman. Keuntungan pemanenan dengan cara ini adalah pemanenan dapat dilakukan dalam waktu singkat dan dapat melakukan pananaman atau pengikatan kembali bibit bibit rumput laut dengan memilih bagian bagian dari tanaman yang muda dengan laju pertumbuhan yang tinggi, sehingga kandungan keragenan yang dihasilkan akan relatif lebih tinggi (Anonimus, 2006). B. Penanganan Hasil Panen Di dalam Anonimus (2006) dikatakan, jika panen dilakukan pada cuaca yang cerah maka kualitas rumput laut akan terjamin, sebaliknya jika panen dilakukan pada saat mendung akan mengakibatkan permentasi sehingga mutunya menurun. Oleh karena itu mutu rumput laut kering sangat di tentukan dari cara penanganan pasca panen. Perlakuan sebelum penjemuran selalu mengikuti permintaan pasar, yaitu dengan cara : 1. Langsung di jemur setelah panen. Setelah panen rumput laut langsung di jemur di atas para para atau di alasi agar tidak bercampur dengan pasir, tanah ataupun benda benda asing lainnya. Kalau cuaca baik biasanya

19

pengeringan berlangsung 2 3 hari dengan kekeringan 30 35 %. 2. Dicuci terlebih dahulu dengan air tawar. Pengeringan dilakukan dengan cara mencuci rumput laut dengan air tawar kemudian dijemur 1 2 hari, selanjutnya dicuci kembali dengan air tawar untuk melarutkan kadar garam, kemudian dijemur kembali 1 2 hari sampai berwarna putih. Jika belum putih dilakukan pencucian ulang dan dijemur kembali 1 2 hari sehingga berwarna putih kekuningan dengan kadar air 15 20 %. 3. Dilakukan permentasi terlebih dahulu. Pengeringan dilakukan dengan cara membersihkan rumput laut terlebih dahulu kemudian di bungkus dengan plastik yang kemudian direndam atau dijemur 2 3 hari, sehingga menjadi putih transparan. Selanjutanya dijemur diatas para para selama 3 - 4 hari sampai berwarna putih krem dilapisi kristal garam dengan kadar air 20 25 %. Hasil ini disebut kering putih dan disimpan dalam gudang yang tidak lembab.

2.3 Abalone

20

2.3.1 Taksonomi Dan Morfologi Abalone A. Taksonomi Abalone merupakan hewan air pemakan tumbuhan (herbivora) dan menurut Vaught (1989) dalam Septyan (2006) diklasifikasikan sebagai berikut : Filum Kelas Sub Kelas Ordo Famili Sub Famili Genus Sepesies B. Morfologi Menurut Bilowo (1973), Abalone memiliki canagkang yang pipih dan lonjong. Pada cangkangnya terlihat sederetan lubang lubang kecil sebanyak tujuh buah. Lapisan dalam cangkangnya berwarna putih mengkilat, sedangkan otot kakinya sangat tebal. Ukuran tubuh relatif lebih besar dibandingkan cangkangnya sehingga cangkang tersebut hanya menutupi sebagaian kecil organ tubuh. 2.3.2 Penyebaran Abalone Setiawati et all. (1995) menyatakan bahwa Abalone terdapat diperairan pantai berkarang di laut terbuka mulai dari tepi perairan pantai yang dangkal sampai kedalaman 2 m. Abalone biasanya dapat : Moluska : Gastropoda : Prosobranchia : Archaegastropoda : Pleurotomarioidea : Haliotidae : Haliotis : Haliotis asinina

21

di temukan pada balik karang atau bebatuan yang permukaannya kasar serta gelap. Induk akan lebih mudah di tangkap dalam keadaan istirahat, dimana nelayan akan melepas dan mengangkat dengan menggunakan alat tangkap berupa besi yang ujungnya dibuat pipih.

2.3.3 Pengumpulan Induk Abalone Di Alam Pengumpulan induk alam dilakuakan dengan membeli dari para pengepul serta nelayan di sekitar perairan Pantai Kuta dan Pantai Seger. Pengumpulan induk dilakukan saat terjadi bulan purnama dan bulan gelap, karena pada saat itu terjadi surut terendah sehingga memudahkan nelayan untuk menangkap induk (Septyan, 2006) Penangkapan di lakukan dengan meletakkan besi pengait pada bagian posterior yaitu diantara cangkang dan kepala, hal ini dimaksudkan untuk mencegah terlukanya Abalone dan nelyan dapat lebih mudah menangkap ketika Abalone bergerak (Stickney, 2000). Menurut Septyan (2006), peroses seleksi induk dilakukan setelah induk yang ditangkap nelayan terkumpul dan dimasukkan dalam wadah ember bervolume 15 liter. Induk yang di seleksi adalah induk yang memiliki cangkang untuh dan tidak retak, tidak ada bekas luka pada tubuhnya, gerakan lincah serta memiliki panjang tubuh 3,5 6 cm dan telah matang gonat. 2.3.4 Penanganan Induk Abalone di Hatchery Induk alam yang baru datang di aklimatisasi selama kurang lebih 30 menit dan bila kondisi induk yang berada di dalam toples

22

bergerak lincah dan menggeliatkan tubuhnya aklimatisasi berhasil (Setiawati et all, 1995).

maka proses

Abalone dimasukkan dalam keranjang pemeliharaan induk dengan jumlah 30 35 ekor pada tiap keranjangnya. Hal ini dimaksudkan agar populasi Abalone dalam keranjang tidak terlalu padat yang akan berpengaruh terhadap persaingan makanan, persaingan oksigen dan juga parsaingan substrat penempelan (Setyono, 2003). Induk jantan ditempatkan dalam keranjang berwarna merah sebanyak enam keranjang, sedangkan induk betina ditempatkan dalam keranjang berwarna hijau atau biru sebanyak delapan keranjang. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam penyeleksian induk induk matang gonat pada waktu pemijahan (Septyan, 2006). Induk membutuhkan substrat menempel selama masa pemeliharaan. Substrat yang digunakan sebagai tempat menempel adalah genting ukuran 30 x 22 cm dan potongan pipa 8 inci dengan panjang 20 30 cm berwarna hitam (Septyan, 2006). Bak yang digunakan untuk pemeliharaan induk adalah bak beton berukuran 5 x 1 x 1 m. Jumlah bak pemeliharaan induk yang tersedia ada enam bak, namun yang diisi untuk pemeliharaan induk ada dua bak. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pembersihan bak, dimana bakbak kosong dijadikan bak cadangan bila bak pemeliharaan induk yang terisi telah kotor (Septyan, 2006). Bak pemeliharaan induk di lengkapi dengan delapan titik aerasi yang terletak di tengah tengah bak, dan jarak antara titik aerasi adalah 20 cm dan batu aerasi diletakan tepat diantara keranjang hal ini

23

disesuaiakan dengan posisi keranjang pemeliharaan induk di dalam bak yang berjejer dengan jarak antar kerajang 10 15 cm. Hal ini dimaksudkan agar kotoran yang dihasilkan tidak menumpuk karena ruang yang terbatas antar keranjang, selaian itu agar suplai oksigen dapat merata karena ada ruang untuk meletakan aerasi (Septyan, 2006). Pada dasar bak dibuat konstruksi pipa 0,5 inci berbentuk segi empat atau kotak memanjang dan digunakan sebagai alas keranjang induk. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembersihan kotoran, dimana kotoran yang jatuh kedasar bak tidak akan tertumpuk pada dasar keranjang. Hal ini karena ada ruang kosong dibawah keranjang dan kotoran akan terbawa aliran air menuju saluran outlet. Ketinggian air pada bak pemeliharaah induk berkisar antara 40 50 cm (Septyan, 2006). Pembersihan bak dilakukan setiap hari atau minimal dua hari sekali dengan menguras total air dalam bak, menyikat bak serta membersihkan kotoran serta sisa pakan. Hal ini dilakukan karena jumlah kotoran serta sisa pakan yang di hasilkan dan tidak terdorong menuju saluran outlet makin banyak tiap harinya. Begitu juga dengan pembersihan keranjang induk yang dilakukan dua minggu sekali dimana keranjang lama yang telah kotor dan banyak di tumbuhi teritip dibersihkan dan diganti dengan keranjang baru (Stickney, 2000) 2.3.5 Pengelolaan Pakan Induk Abalone Menurut Septyan (2006), pakan Abalone berupa rumput laut dari jenis Gracillria sp. frekuensi pemberian pakan induk yaitu setiap

24

hari dengan dosis pakan yang diberikan berkisar 12 15 % dari total berat induk per keranjang. Pakan di tampung dalam bak berukuran 2 x 2 x 1,5 m yang terbuat dari beton yang dialiri air sampi ketinggian 0,5 m. Rumput laut dalam bak penampungan pakan harus ditebar merata dan tidak bertumpuk karena akan mempercepat peroses pembusukan (Septyan, 2006). Sebelum pemberian pakan, pakan rumput laut dari jenis Gracillaria sp. di bersihkan dari kotoran serta binatang binatang yang menempel. Hal ini bertujuan untuk membersihkan pakan dari kotoran kotoran yang menempel seperti lumpur serta binatangbinatang laut (teritip, kepiting atau binatang laut) yang merupakan kompetitor serta peredator bagi Abalone (Septyan, 2006). 2.3.6 Teknik Pemijhan Abalone A. Persiapan Bak Pemijahan Menurut Septyan (2006), pemijahan dilakukan dalam bak fiberglass ukuran 1,5 x 0,5 x 0,5 m persiapan pemijahan dilakukan dua hari sebelum pemijahan, meliputi pembersihan bak induk, mengisi bak dengan air laut hingga ketinggian air 75 % dari tinggi bak, memasang aerasi, dan mengalirkan air sehingga pergantian air mencapai 100%. Sebagai tempat penempelan induk maka di dalam bak pemijahan diletakkan shelter berupa potongan pipa 8 inci sebanyak satu buah.

B. Seleksi Induk

25

Seleksi induk matang gonad di lakukan 1-2 hari sebelum pemijahan untuk menghindari terjadinya pemijahan lebih awal. Seleksi induk menggunakan sepatula untuk melihat tingkat kematangan gonad. Gonad induk jantan berwarna merah muda atau orange kekuningan, sedangkan induk betina berwarna hijau muda (Capinpin, 1998 dalam Setyono, 2005a). Perbandingan induk jantan dan betina untuk pemijahan adalah 1:2 atau 1:3. Induk yang diseleksi adalah yang telah matang gonad penuh (fully ripe) dengan cirri-ciri gonad mengembung terisi penuh telur dan presentase penutupan gonad terhadap kelenjar pencernaan pada induk yang matang gonad (fully ripe) adalah lebih dari 50% (Setiawati et all, 2005) C. Pemijahan Pemijahan Ablone berlangsung pada pukul 23.00 sampai dengan 05.00. Suasana ruang pemijahan harus tenang dan gelap yang di dasarkan pada pola tingkah laku pemijahan induk di alam bebas dimana induk akan mencari celah karang serta bebatuan yang berwarna gelap unuk mengeluarkan telurnya (Septyan, 2006) D. Pemanenan Telur Menurut Septyan (2006), pemanenan telur dilakukan pada pukul 06.00 sampai dengan 07.00. Alat yang digunakan untuk pemanenan telur adalah saringan telur dengan ukuran mata jaring 80 dan 200 mikron. Sistem penyaringan telur adalah dengan system bertingkat dimana saringan telur dengan ukuran mata jaring 200

26

mikron untuk menyaring kotoran sedangkan saringan 80 mikron untuk menyaring telur. Telur yang disipon adalah telur yang melayanglayang dalam badan air, sedangkan telur yang mengendap disipon namun ditampung dalam toples yang berbeda. 2.3.7 Teknik Pemeliharaan Larva Abalone A. Persiapan Pakan Awal Larva Menurut Setyono (2005b), memberikan pakan untuk larva berupa benthic diatom dari jenis Nitzschia sp. dan mengkulturnya dalam bak fiberglass berukuran 3 x 1 x 0,6 m. Septyan (2006) mengatakan bahwa langkah - langkah yang harus dilakukan dalam persiapan pakan awal larva antara laian : a. Mencuci bak persiapan pakan manggunakan kaporit dengan dosis 0.5 mg/l dengan cara melarutkannya terlebih dahulu kedalam air laut kemudian menyiramkan pada seluruh permukaan bak. Setelah 30 menit bak kemudian dibilas dengan air laut.

b. Membuat substrat penempelan atau Rearing Plate (RP) dengan


menyusun lembaran atau plate yang terbuat dari bahan polyvinyl sebanyak 5 lembar. Sedangkan jarak antara plate adalah 3 5 cm yang disusun dengan pipa paralon (3/4 inci).

c. Menyusun Rearing Plate sebanyak 20 25 set di dalam bak dan


meletakkannya dalam posisi tegak.

d. Memasang penyaring air atau filter bag ukuran mata jaraing 10


mikron pada saluran pamasukan air, kemudian mengisi air dalam bak persiapan pakan hingga volume 1,8 m kubik.

27

e. Memasang aerasi di dalam bak persiapan pakan awal sebanyak lima titik aerasi dan ditempatkan di tengah bak. Sedangkan jarak antara titik aerasi adalah 50 cm.

f. Mengaklimatisasi inokulan Nitzschia sp. yang dikultur di


laboratorium pakan alami selama 30 60 menit. Setelah proses aklimatisasi, selanjutnya menebar inokulan sebanya 40 50 liter untuk setiap bak volume 1.8 m kubik.

g. Memupuk bak persiapan pakan awal larva dengan campuran


pupuk cair dan silikat dengan dosis 15 dan 10 mg / l. B. Pemeliharaan Larva Menurut Septyan (2006), pemeliharaan larva dimulai sejak menebar telur pada bak pemeliharaan dan sebelumnya melakukan proses aklimatisasi 15 30 menit. Pergantian air tidak dilakukan selama sepuluh hari masa pemeliharaan sejak penebaran telur. Penyiponan bak dilakukan setelah umur pemeliharaan dua bulan menggunakan selang sipon 0,2 inci dan tahapan yang dilakukan selama pemeliharaan larva antara lain : a. Menebar larva ke dalam bak setelah proses aklimatisasi selesai dengan menuangkan secara berlahan. b. Memberi aersi pada bak sebanyak lima titik dan membuat aerasi dengan kekuatan sedang.

c. Memberi pakan Gracillaria sp. kepada benih setelah berumur


pemeliharaan 2 2,5 bulan. Sedangkan frekuansi pemberian pakan sekali sehari dengan cara meletakkan pakan diatas Rearing Plate.

28

d. Membersihkan bak dengan cara menyiphon bak pemeliharaan benih dengan menggunakan selang sipon 0,5 inci. e. Mengecek kesehatan benih dengan memisahkan atau membuang benih yang mati di dalam bak pemeliharaan. C. Panen Benih Benih yang siap dipanen adalah benih dengan umur pemeliharaan 8 9 bulan. Proses pemanenan di lakukan dengan menggunakan spatula untuk melepaskan Abalone dari substratnya. Proses ini harus dilakuakna dengan hati hati agar benih yang akan di kirim tidak mengalami stres ataupun terluka anggota tubuhnya (Septyan, 2006).

III. METODE PRAKTEK


3.1 Waktu Dan Tempat

29

Kegiatan Praktek Sistem Ganda ( P S G ) ini dilakukan dari tanggal 24 Januari sampai dengan tanggal 24 Februari 2007, dengan lokasi praktek di Balai Budidaya Laut Lombok (BBL-L), Stasiun Gerupuk, Nusa Tenggara Barat.

3.2 Alat Dan Bahan


Dalam pelaksanaan Praktek Sistem Ganda ( P S G ) alat dan bahan yang digunakan sebagai berikut : 3.2.1 Alat Peralatan yang di gunakan dalam kegiatan peraktek dapat di lihat pada Tabel 1. Tabel 1. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan praktek.
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Alat Batu aerasi dan pemberat aerasi Selang aerasi Keranjang pelastik Waring Shelter pipa Genting Timbangan pakan Filter bag Spatula 102 17 17 17 17 2 8 8 Jumlah 102 Fungsi Salah satu elemen dalam pensuplaian oksigen. Salah satu elemen dalam pensuplaian oksigen. Wadah pemeliharaan induk abalone. Penutup wadah. Media perlindungan dan penempelan induk abalone. Media perlindungan dan penempelan induk abalone. Untuk mangukur pakan. Menyaring air laut. Melepaskan abalone.

30

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Toples Becker glass Piring Hand counter Selang siphon Bak induk Bak pemijahan Bak pengumpul telur Perahu sampan Tali Tali Jangkar Peralatan (keranjang, budidaya pisau, jangkar rentang PE PE berdiameter 10 mm berdiameter 4 mm

5 2 1 1 3 6 2 1 2 secukupnya secukupnya 4 secukupnya

Wadah penampungan telur. Wadah untuk sampling. Media penghitungan telur. Alat menghitung telur dan benih. Membersihkan kotoran dalam bak. Wadah pemeliharaan induk. Wadah pemijahan induk. Wadah penampung telur. Media pengontrol rumput laut. Tali utama pada metode Long Line Tali pengikat jangkar Pemberat pada Long Line dan rakit apung Alat pembuat rakit

gergaji, dan parang) 23 24 25 26 27 28 29 Tali jangkar sudut PE berdiameter 6 mm. Pelampung Pelampung botol aqua Timbangan gantung. Para para. Pisau kerja. Karung plastik. secukupnya secukupnya 1 secukupnya 6 secukupnya Salah satu media dalam metode long line. Salah satu media dalam metode long line. Alat penimbang bibit rumput laut Alat penjemur rumput laut Pemotong rumput laut Alat pengepak rumput laut secukupnya Tali pengikat jangkar

3.2.2. Bahan

31

Bahan bahan yang di gunakan untuk mendukung kegiatan peraktek ini dapat di lihat pada Tabel 2. Tabel 2. Bahan bahan yang digunakan. No. 1 2 3 4 Bahan Abalone Rumput laut Udang Kaporit Fungsi Biota yang dipelihara. Biota yang dipelihara dan pakan abalone. Biota yang dipelihara. Pensteril bak.

IV. HASIL PRAKTEK


4.1 Penanganan Udang
4.1.1 Persiapan Bak Pemeliharaan Udang

32

Bak yang di gunakan untuk pemeliharaan udang adalah bak beton (ukuran 7 x 5 x 2 m) atau volume 70 m kubik. Jumlah bak pemeliharaan yang tersedia adalah 6 bak. Bak pemeliharaan udang di lengkapi 9 titik aerasi. Sebelum bak di gunakan untuk pemeliharaan bak di sikat sampai bersih, bila perlu bagian dalam bak di cat dengan warna biru muda yang bertujuan untuk menyamai warna lingkungan hidup udang, setelah itu bak di sterilkan menggunakan larutan kaporit dengan dosis 10 ppm dan dibiarkan selama 6 jam, kemudian dibilas dengan air asin sampai aroma kaporit hilang. Sebelum bak diisi dengan air, pipa saluran pembuangan dibungkus terlebih dahulu dengan jaring yang bermata jaring 0,5 mm, yang bertujuan untuk menghindari benur keluar dari bak. Pada saluaran pemasukan air ditutup dengan water bag agar air yang masuk kedalam bak steril. Bak diisi air asin 75% dari volume bak dengan keadaan air mengalir dan aerasi tetap terbuka. 4.1.2 Penebaran Benur Benur yang baru datang dikeluarkan dari Sterofom dan kertas plastik pembungkus benur dimasukan kedalam bak yang sudah disiapkan untuk peroses aklimatisasi lebih kurang 30 menit, selanjutnya ikatan pembungkus plastik dibuka dan biarkan air di dalam bak masuk kedalam pembungkus bercampur dengan air di dalam plastik, biarkan benur udang keluar dengan sendirinya ke dalam bak, setelah semua benur keluar, kantong plastik pembungkus benur dipindahkan. Di

33

dalam bak yang berukuran 7 x 5 x 2 m sebaiknya ditebar 75 100 benur agar pertumbuhan benur maksimal. 4.1.3 Perawatan Benur Benur biasanya sudah dapat diberi pakan pelet yang sudah dihaluskan dengan dosis 10 20 % dari berat udang seluruhnya dalam bak. Pakan diberikan 6 kali dalam 24 jam, tiap pemberian pakan berselang 4 jam. Pemberian pakan sebaiknya tidak berlebihan agar pakan tidak menumpuk didasar bak karena dapat menyebabkan perairan di dalam bak keruh dan berbau. Pada hari ke dua setelah penebaran benur, bak disipon untuk menghindari pengendapan pakan didasar bak dan kekeruhan perairan dalam bak, dan penyiponan sebaiknya dilakukan 1 kali sehari setelahnya. Setelah benur berukuran 4 cm atau lebih, benur sebaiknya diberikan pakan ikan rucah yang sudah dipotong kecil kecil karena ikan rucah memiliki kandungan protein yang tinggi dan dapat merangsang pertumbuhan udang. Pemberian pakan pun dikurangi sampai 2 kali sehari dengan dosis pemberian pakan 10 20 % dari berat udang seluruhnya di dalam bak.

4.2 Penanganan Rumput Laut


4.2.1 Pengikatan Bibit Dan Penanaman Rumput Laut

34

Pengikatan bibit rumput laut di Balai Budidaya Laut Lombok

Setasiun Gerupuk ialah dengan cara membuka pelintiran tali nilon


dan memasukkan tali rafia dengan jarak 25 30 cm yang dilipat dan kemudian ujung tali rafia dimasukkan ke dalam lipatan dan ditarik kencang. Bibit rumput laut diikat kan dengan cara menempatkan bibit diantara lipatan dan mengikatnya dengan simpul hidup. A. Pengangkutan Bibit Pada saat pengangkutan diupayakan agar bibit tetap terendam di dalam air laut. Apabila pengangkutan dilakukan melalui udara atau darat, bibit sebaiknya dimasukan ke dalam kotak karton yang berlapis plastik. Kemudian bibit disusun secara berlapis dan berselang - seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau kain yang dibasahi air laut. Bibit dijaga agar terhindar dari minyak, kehujanan, maupun terkena cahaya matahari secara langsung. Dalam menjaga kualitas produksi rumput laut dilakukan penggantian bibit yang layu dan kurus dengan bibit yang baru, untuk mendapatkan bibit yang berkualitas baik. Sebaiknya bibit berasal dari bibit khusus yang tersedia dilokasi budidaya. B. Penanaman Sebelum penanaman, rumput laut dikumpulkan dahulu pada tempat tertentu misalnya keranjang atau bak. Pada saat penyimpanan bibit diusahakan terhindar dari minyak, kehujanan, maupun kekeringan. Setelah bibit tersedia maka dilanjutkan dengan kegiatan penanaman. Untuk metode Rakit Apung dan Long Line, kegiatan penanaman rumput laut dilakukan didarat pada tempat sejuk sehingga tidak terkena cahaya matahari secara langsung.

35

Pada saat pengikatan bibit harus terus dalam keadaan basah, agar mendapat keseragaman pertumbuhan bibit sebaiknya ditimbang atau dikira kira dengan berat 50 100 gr baru kemudian dipotong dan diikatkan pada tali PE 0,2 mm atau tali rafia ( tali pengikat bibit ) dan seterusnya diikatkan pada kerangka rakit ataupun tali ris ( pada metode Long Line ). 4.2.2 Perawatan Rumput Laut Adapun kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam perawatan rumput laut adalah sebagai berikkut : a. Perawatan yang dilakukan setiap hari untuk membersihkan rumput laut dari tanaman pengganggu dan menyisip atau menyulam tanaman yang mati dan terlepas yang dilakukan pada minggu pertama setelah rumput laut di tanam. b. Mengganti tali yang sudah lapuk atau rusak atau menguatkan jangkar yang goyah. c. Menguatkan tali ikatan tanaman agar tidak terlepas dan saling terkait satu dengan yang lainnya yang dapat menyebabkan tanaman patah. d. Membersihkan lumpur yang melekat pada tanaman dan tali karena dapat memperlambat pertumbuhan. e. Mengganti rumput laut yang rusak atau mati dengan yang baru. Monitoring pertumbuhan rumput laut di lakukan beberapa kali dengan cara sampling setiap dua minggu yang di lakukan secara acak. 4.2.3 Panen Dan Penanganan Hasil Panen

36

A. Cara Panen Panen dilakukan dengan mengangkat tanaman sekaligus. Pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat dengan membuka ikatan tali rafia pada tanaman atau memotong tanaman. Keuntungan pemanenan dengan cara ini adalah pemanenan dapat dilakukan dalam waktu singkat dan dapat melakukan pananaman atau pengikatan kembali bibit bibit rumput laut dengan memilih bagian bagian dari tanaman yang muda dengan laju pertumbuhan yang tinggi, sehingga kandungan keragenan yang dihasilkan akan relatif lebih tinggi. B.Penanganan Hasil Metode penanganan hasil yang di terapkan di balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Gerupuk ialah dengan cara langsung di jemur setelah panen. Setelah panen rumput laut langsung di jemur di atas para para atau di alasi agar tidak bercampur dengan pasir, tanah ataupun benda benda asing lainnya. Kalau cuaca baik biasanya pengeringan berlangsung 2 3 hari dengan kekeringan 30 35 % dan di simpan di dalam gudang yang tidak lembab. 4.2.4 Metode Budidaya Rumput Laut Metode budidaya rumput laut yang digunakan di Balai Budidaya Laut Lombok ( BBL-L ) yang berlokasi di Dusun Gerupuk Desa Sengkol Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah adalah menggunakan metode Long Line sedangkan masyarakat disekitar Balai Budidaya menggunakan metode rakit apung.

37

A. Metode Long Line Metode Long Line adalah metode budidaya dengan menggunakan tali panjang yang dibentangkan. Metode budidaya ini banyak diminati karena alat dan bahan yang digunakan tahan lama dan mudah untuk didapatkan. Tekhnik budidaya rumput laut dengan metode ini adalah menggunakan tali sepanjang 10 100 m yang pada ke dua ujungnya diberi pelampung utama yang terbuat dari drum plastik atau styrofoam. Pada setiap jarak 5 m diberi pelampung berupa potongan styrofoam atau botol aqua bekas. Pada pemasangan tali utama harus diperhatikan arah arus pada posisi sejajar atau sedikit menyudut untuk menghindari terjadinya belitan tali satu dengan yang lainnya. Bibit rumput laut sebanyak 50 100 gr diikatkan pada sepanjang tali dengan jarak antara titik lebih kurang 25 cm. Jarak antara tali satu dalam satu blok adalah stengah meter dan jarak antara blok satu meter dengan mempertimbangkan kondisi arus dan gelombang setempat. Dalam satu blok terdapat 4 tali yang berfungsi untuk jalur sampan pengontrolan. Spesifikasi alat : 1. Bahan dan alat utama

a. Tali titik ukuran Poli Etilen (PE) berdiameter 4 mm. b. Tali jangkar ukuran Poli Etilen PE berdiameter 10 mm. c. Tali jangkar sudut Poli Etilen PE berdiameter 6 mm.
d. Pelampung 6 buah. e. Pelampung botol aqua secukupnya. 2. Sarana Penunjang a. Perahu sampan 1 buah.

38

b. Timbangan gantung. c. Waring 50 x 50 m. d. Para para. e. Pisau kerja. f. Karung plastik. B. Metode Rakit Apung Metode Rakit Apung adalah cara pembudidayaan rumput laut dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu atau kayu. Metode ini cocok di terapkan pada perairan berkarang dimana pergerakan air didominasi oleh ombak. Penanaman dilakukan dengan menggunakan rakit atau kayu. Ukuran setiap rakit sangat berpariasi tergantung pada kesediaan material. Ukuran rakit dapat diseseuaikan dengan kondisi perairan tetapi pada perinsipnya ukuran rakit dibuat tidak terlalu besar untuk mempermudah perawatan rumput laut yang ditanam. Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar atau patok dengan tali Poli Etilen (PE) berukuran 10 mm sebagai penahannya. Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan beberapa rakit dapat digabungkan menjadi satu dan setiap rakit di beri jarak 1 m, bibit 50 100 gr diikatkan pada tali rafia berjarak 20 25 cm pada setiap titiknya. Pertumbuhan tanaman yang menggunakan metode apung ini umumnya lebih baik dari pada metode Lepas Dasar, karena pergerakan air dan intensitas cahaya cukup memadai bagi pertumbuhan rumput laut. Metode apung memiliki keuntungan lain yaitu pemeiharaannya mudah dilakukan, terbatasnya tanaman dari

39

gangguan bulu babi dan binatang laut lainnya, kurangnya tanaman yang hilang karena lepasnya cabang cabang, serta pengendapan pada tanaman lebih sedikit. Kerugian dari metode ini adalah biaya lebih mahal dan waktu yang di butuhkan untuk pembutan sarana budidaya yang relatif lebih lama. Sedangkan bagi tanaman itu sendiri adalah tanaman terlalu dekat dengan permukaan air, sehingga tanaman sering muncul ke permukaan air terutama pada saat laut kurang berombak. Munculnya tanaman ke permukaan air dalam waktu lama dapat menyebabkan cabang cabang tanaman menjadi pucat karena kekurangan pigmen dan akhirnya akan mati. Sarana dan peralatan yang di butuhkan dalam satu unit rakit :

a. Tali jangkar Poli Etilen (PE) berdiameter 10 mm. b. Tali rentang Poli Etilen (PE) berdiameter 4 mm.
c. Jangkar 4 buah. d. Tali D15. e. Tempat penjemuran. f. Peralatan budidaya (keranjang, pisau, gergaji, dan parang). g. Perahu jukung 1 unit. h. Bibit rumput laut.

4.3 Penanganan Induk Dan Pembenihan Abalone


4.3.1 Pengumpulan Induk Alam Induk abalone yang dipijahkan didapat dengan cara membeli induk dari nelayan atau pengepul. Pengepul manangkap induk

40

disekitar perairan Pantai Kuta yang banyak ditumbuhi rumput laut jenis Gracillaria sp., Hipnea sp., Ulva sp., dan Eucheuma sp. sedangkan langkah langkah yang dilakukan dalam pengumpulan induk alam adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan media transportasi induk berupa wadah plastik

(toples) dengan volume 15 liter. Sedangkan alat yang digunakan untuk menyeleksi induk yaitu spatula serta plastik packing ukuran 30 x 3 x 0,5 cm.
b. Nelayan menangkap induk dengan menggunakan alat tangkap

berupa besi pengait yang ujungnya dibengkokkan. Proses panangkapkan dengan menyelam pada kedalaman 2 m di perairan Pantai Kuta dan dilengkapi dengan kaca mata selam (snorkle) dan jaring kantung untuk menampung abalone yang tertangkap. c. Membawa induk ke darat kemudian menimbangnya. Setelah ditimbang, kemudian pengepul memasukkan induk kedalam ember hitam bervolume 15 liter. d. Melakukan penyeleksian dengan mengecek kondisi tubuh serta kematangan gonad induk. Seleksi diawali dengan mengecek ada tidaknya luka pada anggota tubuh serta cangkang. Setelah itu membuka bagian tubuh sebelah kanan yaitu dibawah cangkang sehingga akan terlihat gonad dan memilih induk induk yang telah matang gonad penuh. e. Memasukkan induk yang telah diseleksi kedalam toples kemudian mengisi toples dengan air laut secukupnya.

41

f. Menimbang bobot tubuh induk kemudian memasukkannya kembali ke dalam toples yang berisi air laut.
g. Membawa induk yang telah diseleksi menuju hatchery dengan

menggunakan wadah toples. 4.3.2 Penanganan Induk Di Hatchery Induk yang di tangkap di Pantai Kuta merupakan abalone dari jenis Haliotis asinina dimana jenis ini yang mendominasi di perairan tersebut. Sesampainya di hetchery, tahapan tahapan yang di lakukan terhadap induk antara lain :
a.

Malakuka proses aklimatisasi pada induk sampai di

hatchery dengan cara meletakkan toples di bawah kran air laut. Kemudian mengalirkan air laut ke dalam toples secara perlahan lahan selama lebih kurang 30 menit. b. Mempersiapkan keranjang pemeliharaan induk. Membersihkan dan menjemur keranjang di bawah sinar matahari sebelumnya.
c.

Maletakkan shelter ke dalam keranjang pemeliharaan

induk sebanyak satu pasang. Shelter yang digunakan berupa genting berukuran 30 x 22 cm serta potongan pipa 8 inci berwarna hitam dengan panjang 30 40 cm. d. e. Memasukkan induk sebanyak 30 35 ekor pada setiap Memasukkan keranjang keranjang ke dalam bak keranjang pemeliharaan. pemeliharaan induk.

42

f. g. h.
i.

Meletakkan 5 6 buah keranjang dalam setiap bak Mangalirkan air dalam bak pemeliharaan sampai

pemeliharaan induk. ketinggian lebih kurang 50 cm. Melakukan pergantian air dalam bak pemeliharaan setiap Memasang aerasi dalam bak pemeliharaan induk Memberi pakan induk baru dengan Gracillaria sp. yang hari selama masa pemeliharaan. sebanyak delapan titik aerasi dan jarak antar titik 50 cm.
j.

masih segar dengan dosis 12 - 15 % dari berat total induk dalam bak. k. Membersihkan bak pemeliharaan induk setiap satu atau dua hari sekali dengan cara menguras seluruh air dalam bak, kemudian memindahkan keranjang keranjang pemeliharaan induk menuju bak pemeliharaan lainnya yang sudah dibersihkan sebelumnya. l. Menyikat seluruh permukaan bak pemeliharaan sehingga kotoran yang menempel bersih, kemudian mengeringkan bak pemeliharaan satu sampai dua hari. m. induk Setiap hari selalu melakukan pengecekan kesehatan pada setiap keranjang pemijahan. Kemudian

memindahkan induk yang telah mati dari keranjang. 4.3.3 Pengelolaan Pakan Induk
a.

Menampung

pakan

Gracillaria

sp.

dalam

bak

penampungan berukuran 2 x 2 x 1.5 m dan mengalirkan air sehingga terjadi pergantian air.

43

b.
c.

Mencuci dan membilas pakan dari kotoran serta hewan Memberi pakan induk dengan dosis 12 15 %, dengan Memberi pakan dengan menyebarnya secara merat di

air dengan menggunakan air laut yang di alirkan melalui kran. frekuensi pemberian pakan satu atau dua kali sehari. d. dalam keranjang induk. 4.3.4 Teknik Pemijahan Tahapan tahapan yang dilakukan dalam pemijahan induk adalah sebagai berikut : A. Persiapan Bak Pemijahan Bak pemijahan yang digunakan adalah bak fiberglass yang berukuran 1,5 x 0.5 x 0.5 m persiapan bak pemijahan meliputi : a. Membersihka bak pemijahan tiga hari sebelum pemijahan dengan cara menyikat seluruh permukaan bak, kemudian membilas dan mengeringkannya selama dua hari.
b. Meletakkan shelter berupa potongan pipa 8 inci sebanyak

satu buah. c. Memberikan aerasi pada bak dengan kekuatan sedang dan meletakkannya di tengah bak kemudian mengisi air dalam bak pemijahan hingga ketinggian 30 cm.
d. Memasang saringan pengumpul telur atau planktonnet

ukuran mata jaring 80 mikron pada wadah penampungan telur berukuran 50 x 20 x 20 cm.

44

B. Seleksi Induk Melakukan seleksi induk 1 2 hari sebelum tanggal pemijahan yaitu pada bulan purnama dan bulan gelap. Hal hal yang dilakukan dalam penyeleksian induk meliputi : a. Menyeleksi induk yang dipelihara dalam bak pemeliharaan dengan menggunakan spatula yaitu dengan membuka cangkang dan melihat tingkat kematangan gonadnya.
b. Memasukkan induk yang telah diseleksi ke dalam wadah plastik

berupa toples bervolume 15 liter dan memberi aerasi dengan kekuatan sedang. c. Memisahkan induk jantan dan betina dalam wadah atau toples yang berbeda dan mengisi air ke dalam wadah sebanyak 2 3 liter. Membawa induk induk yang telah di seleksi menuju ruang pemijahan yang terletak bersebelahan dengan bak pemeliharaan induk. C. Pemijahan a. Memasukkan induk yang telah diseleksi ke dalam bak pemijahan satu persatu dengan perbandingan jantan dan betina adalah 1 : 2 atau 1 : 3. b. Menutup bak pemijahan dengan menggunakan waring ukuran mata jaring 5 mm. c. Membuat suasana ruang pemijahan gelap dan setenang mungkin dengan menutup jendela serta pintu kemudian mematikan lampu penerang pada ruang pemijahan.

45

D. Pemanenan Telur a. Mempersiapkan wadah dan alat pemanenan telur berupa saringan telur ukuran mata jaring 80 dan 200 mikron.
b. Melepaskan planktonnet dan memindahkan telur yang

terkumpul di dalamnya ke dalam toples yang telah diisi air laut. c. Memanen telur yang masih tertinggal di dalam bak pemijahan dengan menggunakan selang sipon 0,5 inci dan menampung telur di dalam toples. 4.3.5 Teknik Pemeliharaan Larva A. Persiapan Pakan Awal Larva Memberikan pakan untuk larva berupa benthic diatom dari jenis Nitzschia sp. dan mengkulturnya dalam bak fiberglass berukuran 3 x 1 x 0,6 m. langkah - langkah yang harus dilakukan dalam persiapan pakan awal larva antara laian : a. Mencuci bak persiapan pakan manggunakan kaporit dosis 0.5 mg/l dengan cara melarutkannya terlebih dahulu kedalam air laut kemudian menyiramkan pada seluruh permukaan bak. Setelah 30 menit bak kemudian dibilas dengan air laut.

b. Membuat substrat penempelan atau Rearing Plate (RP)


dengan menyusun lembaran atau plate yang terbuat dari bahan polyvinyl sebanyak 5 lembar. Sedangkan jarak antara plate adalah 3 5 cm yang disusun dengan pipa paralon (3/4 inci).

c. Menyusun Rearing Plate sebanyak 20 25 set di dalam bak


dan meletakkannya dalam posisi tegak.

46

d. Memasang penyaring air atau filter bag ukuran mata jaraing


10 mikron pada saluran pamasukan air, kemudian mengisi air dalam bak persiapan pakan hingga volume 1,8 m kubik. e. Memasang aerasi di dalam bak persiapan pakan awal sebanyak lima titik aerasi dan ditempatkan di tengah bak. Sedangkan jarak antara titik aerasi adalah 50 cm.

f. Mengaklimatisasi inokulan Nitzschia sp. yang dikultur di


laboratorium pakan alami selama 30 60 menit. Setelah proses aklimatisasi, selanjutnya menebar inokulan sebanya 40 50 liter untuk setiap bak volume 1.8 m kubik. g. Memupuk bak persiapan pakan awal larva dengan campuran pupuk cair dan Silikat dengan dosis 15 dan 10 mg / l. B. Pemeliharaan Larva Pemeliharaan larva dimulai sejak menebar telur pada bak pemeliharaan dan sebelumnya melakukan proses aklimatisaai 15 30 menit. Pergantian air tidak dilakukan selama sepuluh hari masa pemeliharaan sejak penebaran telur. Penyiponan bak dilakukan setelah umur pemeliharaan dua bulan menggunakan selang sipon 0,2 inci. Tahapan yang dilakukan selama pemeliharaan larva antara lain :

a. Menebar larva ke dalam bak setelah proses aklimatisasi


selesai dengan menuangkan secara berlahan.

b. Memberi aersi pada bak sebanyak lima titik dan membuat


aerasi dengan kekuatan sedang.

c. Memberi pakan Gracillaria sp. kepada benih setelah


berumur pemeliharaan 2 2,5 bulan. Sedangkan frekuansi

47

pemberian pakan sekali sehari dengan cara meletakkan pakan diatas Rearing Plate. d. Membersihkan bak dengan cara menyiphon bak pemeliharaan benih dengan menggunakan selang sipon 0,5 inci. e. Mengecek kesehatan benih dengan memisahkan atau membuang benih yang mati di dalam bak pemeliharaan. 4.3.6 Panen Benih Langkah langkah yang di lakukan dalam peroses pemanenan adalah sebagai berikut :
a.

Mempersiapkan wadah atau media facking serta substrat

penempelan benih selama transportasi yaitu berupa Gracillaria sp. (10 gr).
b.

Menyeleksi benih yang di kirim dengan spatula kemudian Melakukan peroses pengepakan benih yang dipanen dan akan Membersihkan serta mengeringkan bak pemeliharaan benih

memasukkan ke dalam plastk packing (volume 20 liter). c. d. di transportasikan menuju lokasi tujuan. setelah pemanenan selesai di lakukan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

48

Dari Praktek Sistem Ganda ( P S G ) yang dilakukan di Balai Budidaya Laut Lombok ( B B L L ) Stasiun Gerupuk Nusa Tenggara Barat dapat disimpulkan : 1. Pananganan Udang Windu meliputi persiapan bak, penebaran benur, dan perawatan benur. 2. Ukuran benur yang ditebar adalah D1. 3. Pakan yang diberikan pada benur berupa pelet dalam bentuk tepung. 4. Penanganan Rumput Laut meliputi pengikatan bibit, penanaman, perawatan, panen dan penanganan hasil panen. 5. Umur bibit rumput laut yang ditanam adalah 25 - 35 hari.
6. Metode yang digunakan adalah metode Long Line dan metode

Rakit Apung.
7. Penanganan induk dan benih abalone meliputi pengumpulan

induk, penanganan induk, pengelolaan pakan, teknik pemijahan, teknik pemeliharaan larva dan panen benih.
8. Pakan abalone berupa Gracillaria sp. dan pakan larva berupa

benthic diatom dari jenis Nitzchia sp. yang dikultur dalam bak fiberglass.

5.2 Saran
A. Saran untuk Balai Budidaya Laut Lombok ( B B L L ) Stasiun Gerupuk adalah agar :

49

1. 2. saja. 3.

Membuat penampungan air tawar yang lebih besar. Tidak mengandalkan air tawar dari aliran PAM Mengadakan penjagaan di balai budidaya agar

tidak terjadi kehilanagan. B. Saran untuk pegawai lapangan di Balai Budidaya Laut Lombok (BBL-L) Stasiun Gerupuk adalah agar : 1. 2. Areal penanaman rumput laut diperluas untuk Pengontrolan dilakukan lebih sering bila keadaan Membuta hatchery penanganan dan pemijahan mendapatkan hasil yang lebih banyak. cuaca buruk.

3. 4.

induk udang agar tidak perlu membeli benur. Menambah rasio perbandingan induk abalone

untuk meningkatkan peroduksi telur sehingga suplai benih atau induk tidak selalu mengandalkan dari alam. C. Saran untuk pembaca bila akan melaksanakan P S G agar : 1. 2. Tidak merusak pasilitas yang ada di tempat P S G. Melaksanakan P S G sesuai dengan pengarahan

yang diberikan oleh guru pembimbing. 3. Menjaga nama baik sekolah dan korps.

50