Anda di halaman 1dari 12

GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING (GPAB)

by Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian on Thursday, August 4, 2011 at 4:47pm Bising adalah suara yang tidk diharapkan, menggangu Gangguan pendengaran yg disebabkan pajanan bising yang cukup keras ( > 85 dB) dalam jangka waktu yang cukup lama. Umumnya akibat bising di lingkungan kerja. Saat ini : rumah tangga, permainan, musik ( Music Induced Hearing Loss / MIHL ) PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN 1. Gangguan pendengaran / NIHL 2. Gangguan Kesehatan lain Stress : Peningkatan hormon stress: nor-epineprin, cortisol perubahan irama jantung dan tekanan darah. Hipertensi dan penyakit Kardiovaskular Gangguan tidur : usia > 18 tahun , radius 25 Km dari Bandara Schiphol (Amsterdam): 31 % gangguan tidur BB Lahir rendah , Prematur : Rehm - Jansen : prematur akibat bising Bandara Duseldorf - Jerman PERAN KOKLEA (rumah siput) DALAM PROSES MENDENGAR Sensor suara yang masuk : distribusi frekuensi / nada ( dipilah pilah) Mengubah energi akustik menjadi energi listrik, bias dihantarkan ke otak melalui saraf pendengaran EFEK AUDITORIK (1)Adaptasi : Intensitas 70 dB ; pulih dalam waktu 0.5 detik (2)Temporary Threshold Shift (TTS) Peningkatan ambang dengar sementara Intensitas minimum 75 dB Stimulus efektif : 2 6 KHz Perubahan metabolik (koklea) Pemulihan : menit ----- jam Perbaikan struktur sel rambut koklea dlm 48 jam Perbaikan gagal ------- Permanent Threshold Shift / PTS (3) Permanent Threshold Shift / PTS Proses pemulihan TTS tidak lengkap. Pajanan singkat, intensitas sangat tinggi Pajanan berulang,intensitas tinggi (> sering) Kerusakan sel-sel rambut koklea meluas ke serabut saraf pendengaran PENGARUH BISING TERHADAP ORGAN TELINGA Perubahan pada koklea(rumah siput) telinga:

(1) Mikrotrauma Stereosilia (Sel rambut dalam + Sel rambut luar/ paling dipengaruhi) Sementara (TTS): kekakuan stereosilia + respons Permanen(PTS) : kematian stereosilia Berat : kerusakan total organ corti, degenerasi saraf pendengaran, jaringan parut nukleus auditorius batang otak (2) Perubahan vaskular, kimia dan metabolik koklea WHO (1988) 8 -12 % penduduk dunia menerima dampak bising Denmark : GPAB : 28 / 100.000 penduduk USA pekerja terpapar 9 juta ( 1981) menjadi 30 juta ( 1990) Jerman : 12 15 % pekerja GPAB. Daniel N.FKUI,2005:102 pekerja industri baja, usia 30 46 thn, 61.8 % GPAB Morioka Pref. /Jepang ( 1993) : 37 remaja penggemar rock : tinitus/berdenging; 30 diantaranya GPAB. GPAB remaja Norwegia: 12 % (1981) menjadi 22 % (1988) 40 pekerja 5 disko S pura, 22.7 jam / minggu: 41.9 % GPAB Bangkok : 29.06 % motor & Tuk-tuk; bising > 85 dB. Rofii,A.FKUI,1996: pekerja jalan raya (Jakarta) 10,71 % GPAB INTENSITAS DAN WAKTU PAJANAN BISING YANG DIPERKENANKAN ( SK Menaker RI No 51/1999 ) Pajanan bising maksimum 85 dB, 8 jam/hari; 40 jam/minggu tanpa APP( alat pelindung pendengaran) Intensitas/Waktu( jam/ hari) 80 dB maksimal pajanan 24 jam 82 dB maksimal pajanan 16 jam 85 dB maksimal pajanan 8 jam 88 dB maksimal pajanan 4 jam 91 dB maksimal pajanan 2 jam 94 dB maksimal pajanan 1 jam 97 dB maksimal pajanan jam 100 dB maksimal pajanan 1/4 jam Three decibel doubling rate: Setiap penambahan intensitas 3 dB, waktu pajanan berkurang 50 %

Daily Permissible Noise Level Exposure U.S. Department of Labor Occupational Safety & Health Administration (OSHA) Jam/hari 8 ------Sound Level (dB) 90

6 4 3 2 1.5 1 0.5 0.25

92 95 97 100 102 105 110 115

GEJALA GPAB Pendengaran berkurang ( berangsur ) Telinga berdenging ( tinnitus ) Sulit memahami percakapan dgn kekerasan biasa. Sulit memahami percakapan di lingkungan bising ( background noise) Distorsi kualitas suara ( musik ) Intensitas (dB) -------------------------Waktu (tahun) 115 105 100 95

1 3 10 20

Am. National Standart Institute(ANSI) Pajanan 88 dB-10 tahun : peningkatan ambang 9 dB Pajanan 95 dB - 10 tahun : 15 dB Grant (2005)* peningkatan ambang 25 dB 4 KHz GANGGUAN BISING LAIN Transportasi Rumah Tangga Musik Alat Komunikasi/Gadget Permainan anak S.Gold, PhD,Dept of Communicative Disorders at Tennessee State University the noise level of six different types of appliances in ten different kitchens Appliances Loudness : AverageRange Level Loudness(dB SPL*) blender with ice : 83.482 - 85.0 blender w/ water : 80.977 - 86.5

dishwasher : 65.444 - 78.0 electric mixer : 75.071 - 80.0 pop-up toaster : 66.658 - 84.5 stove fan : 65.152 - 76.5 vacuum cleaner : 81.168 - 94 by Ronny Suwento

IMPLAN KOKLEA, HARAPAN BARU BAGI TUNARUNGU


by Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian on Sunday, October 2, 2011 at 1:35pm Teknologi untuk mengatasi gangguan pendengaran semakin maju. Pada 7 Juli lalu, tim medis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo berhasil melakukan implantasi koklea atau rumah siput yang pertama pada penderita tunarungu. Implantasi dilakukan selama 1,5 jam terhadap pasien laki-laki berusia 9 tahun. "Pasien yang mengalami ketulian sejak lahir itu dapat kembali mendengar dengan baik," kata Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr. Julianto Witjaksono saat jumpa pers di Gedung A RSCM, 10 Juli 2009. Implantasi koklea adalah prosedur penanaman alat bantu dengar yang dilakukan melalui tindakan operasi

pada tulang temporal. Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tunarungu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa. Kerusakan pendengaran yang terjadi pada organ telinga luar (daun telinga) dan telinga tengah (gendang telinga) masih dapat ditolong dengan alat bantu dengar. Sedangkan kerusakan pada organ telinga dalam (koklea), hanya dapat ditolong dengan implantasi. Koklea merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea. Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran. Ketua Departemen THT RSCM dr. Ratna D Restuti menjelaskan, operasi koklea dapat dilakukan terhadap semua usia. "Namun pelaksanaan operasi pada pasien usia 2-3 tahun dapat memberikan hasil lebih optimal," ujarnya. Karena alat ditanam, maka gendang telinga tetap utuh dan tidak menimbulkan reaksi atau efek samping yang menggangu, tambah dr. Ratna. Di Indonesia berdasarkan data yang ada penderita gangguan pendengaran sejak lahir berkisar 0,1 persen dari populasi. Dengan operasi ini kualitas hidup anak penderita gangguan pendengaran sejak lahir dapat ditingkatkan, tambahnya. Menurut dr Julianto, penanaman koklea sudah berkembang di sejumlah rumah sakit swasta di Jakarta sejak tahun 2002. Namun tenaga ahli yang melakukan operasi berasal dari FKUI. Menurut staf ahli THT RSCM Prof. dr. Helmi Balfas, implantasi rumah siput di RSCM lebih murah dibanding harus operasi di luar negeri maupun rumah sakit lain di Indonesia selain RSCM. Karena di RSCM implantasi dilakukan dengan alat-alat yang sebagian dimiliki oleh negara dan di sisi lain Departemen THT RSCM FKUI juga adalah rumah sakit pendidikan. Biaya yang diperlukan untuk implant koklea ini sebesar 22.000-26.000 dollar AS, dan belum termasuk biaya perawatan, operasi, obatan-obatan dan pemeriksaan. Prof. Helmi menyebutkan, operasi implant koklea di RSCM tanggl 7 Juli lalu menelan biaya Rp 300 juta. "Ini lebih murah dibandingkan operasi di luar negeri," kata Prof. Helmi Balfas. Implantasi koklea ini melalui beberapa tahapan, seperti seleksi kandidat, yaitu penentuan terhadap pasien apakah layak dioperasi atau tidak. Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan menyeluruh meliputi aspek medis, psikologis, dan sosial pasien. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi pendengaran, pemeriksaan radiology, laboratorium serta konsultasi dengan disiplin ilmu lain.

Pasien yang sudah dioperasi memerlukan waktu sekitar 2 hari untuk pemulihan, setelah itu dilakukan rehabilitasi berupa latihan mendengar dan berbicara. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id

TELINGA DAN KETINGGIAN ( AGAR PERJALANAN UDARA LEBIH MENYENANGKAN TANPA GANGGUAN DI TELINGA)
by Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian on Tuesday, August 9, 2011 at 4:37pm Mengapa telinga TERSUMBAT? Bagaimana perjalanan udara menyebabkan masalah pendengaran? Bagaimana membantu bayi membuka blokir telinga mereka? dan lain-lain... Masalah telinga adalah keluhan medis yang paling umum dari wisatawan pesawat, dan sementara mereka biasanya sederhana, gangguan kecil, mereka kadang-kadang mengakibatkan rasa sakit sementara dan gangguan pendengaran. Mengapa telinga rasa penuh seperti tersumbat/ tertutup ? Biasanya, menelan menyebabkan bunyi klik sedikit atau suara muncul di telinga. Ini terjadi karena gelembung udara kecil telah memasuki telinga tengah, naik dari bagian belakang hidung. Melewati tabung Eustachius, sebuah tabung berlapis membran seukuran pensil yang menghubungkan bagian belakang hidung dengan telinga tengah. Udara di telinga tengah terus-menerus diserap oleh lapisan membran dan kembali dipasok melalui tabung Eustachius. Dengan cara ini, tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga tetap seimbang. Jika, dan ketika, tekanan udara tidak sama telinga terasa tersumbat. Tabung Eustachius dapat diblokir, atau terhambat, karena berbagai alasan. Ketika itu terjadi, tekanan

telinga tengah tidak dapat disamakan. Udara sudah ada diserap dan vakum terjadi, mengisap gendang telinga dalam dan peregangan. Seperti gendang telinga tidak dapat bergetar secara alami, sehingga suara yang teredam atau diblokir, dan peregangan bisa menyakitkan. Jika tabung tetap diblokir, cairan (seperti serum darah) akan merembes ke daerah itu dari membran dalam upaya untuk mengatasi vakum. Ini disebut "cairan di telinga," otitis serosa atau aero-otitis. Penyebab paling umum untuk tabung Eustachio diblokir flu biasa. Infeksi sinus dan alergi hidung juga penyebab. Sebuah hidung tersumbat mengarah ke telinga tersumbat karena selaput membengkak sehingga memblok pembukaan tuba Eustachius. Bagaimana Perjalanan Udara Penyebab Masalah Pendengaran? Perjalanan udara kadang-kadang dikaitkan dengan perubahan yang cepat dalam tekanan udara. Untuk menjaga kenyamanan, tabung Eustachius harus membuka sering dan cukup lebar untuk menyamakan perubahan dalam tekanan. Hal ini terutama terjadi ketika pesawat itu mendarat, pergi dari tekanan atmosfer yang rendah lebih dekat ke bumi di mana tekanan udara lebih tinggi. Sebenarnya, setiap situasi di mana ketinggian atau tekanan yang cepat perubahan terjadi menciptakan masalah. Ini mungkin dialami ketika naik lift atau saat menyelam ke dasar kolam renang. Penyelam laut dalam, serta pilot, diajarkan bagaimana menyamakan tekanan telinga mereka. Siapa saja dapat mempelajari trik ini juga. Cara membuka blok Telinga? Menelan mengaktifkan otot yang membuka tabung Eustachius. Anda menelan lebih sering ketika Anda mengunyah permen karet atau permen biarkan meleleh di mulut Anda. Ini adalah praktek udara yang baik perjalanan, terutama sesaat sebelum take-off dan selama pendaratan . Menguap adalah bahkan lebih baik. Hindari tidur selama pendaratan, karena Anda mungkin tidak menelan cukup sering untuk menjaga dengan perubahan tekanan. (Pramugari akan senang untuk membangunkan Anda sebelum mendarat). Jika menguap dan menelan tidak efektif, jepit hidung tertutup, mengambil seteguk udara, dan mengarahkan udara ke bagian belakang hidung seolah-olah mencoba untuk meniup hidung lembut. Telinga telah berhasil dibuka ketika pop adalah mendengar. Hal ini mungkin harus diulang beberapa kali selama pendaratan. Bahkan setelah mendarat, melanjutkan tekanan menyamakan teknik dan penggunaan dekongestan dan semprotan hidung. Jika telinga gagal untuk membuka atau jika sakit terus berlanjut, mencari bantuan dari dokter yang memiliki pengalaman dalam perawatan gangguan telinga. Para dokter THT mungkin perlu untuk melepaskan tekanan atau cairan dengan sayatan kecil di gendang telinga. Bagaimana Membantu Bayi Aktifkan Telinga mereka?

Bayi tidak bisa sengaja membuka "sumbat" telinga mereka, tetapi muncul dapat terjadi jika mereka menghisap botol atau dot. Makan bayi Anda selama penerbangan, dan jangan biarkan bayi tidur selama pendaratan. Anak-anak sangat rentan terhadap penyumbatan karena mereka Eustachius tabung sempit dibandingkan orang dewasa. Apakah Penggunaan Dekongestan dan Semprotan Hidung Fitur? Banyak penumpang pesawat udara berpengalaman menggunakan pil dekongestan atau semprot hidung satu jam atau lebih sebelum pendaratan. Hal ini akan mengecilkan membran dan membantu telinga terbuka lebih mudah. Wisatawan dengan masalah alergi harus minum obat mereka pada awal penerbangan untuk alasan yang sama. Namun, menghindari kebiasaan semprotan hidung, karena semprot hidung jangka waktu lama akan menyebabkan sumbatan hidung yang lebih berat. Tablet dekongestan dan semprotan dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun, mereka harus dihindari oleh orang-orang dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, irama jantung yang tidak teratur, penyakit tiroid, atau kegugupan yang berlebihan. Orang tersebut harus berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum menggunakan obat ini. Wanita hamil juga harus berkonsultasi dengan dokter mereka terlebih dahulu. Tips untuk Mencegah Ketidaknyamanan Selama Perjalanan Udara Konsultasikan dengan dokter bedah Telinga mengenai berapa lama setelah operasi telinga itu aman untuk terbang. Menunda perjalanan pesawat jika dingin, infeksi sinus, atau serangan alergi hadir. Pasien dalam kesehatan yang baik dapat mengambil pil dekongestan atau semprot hidung sekitar satu jam sebelum turun untuk membantu telinga pop lebih mudah. Hindari tidur selama pendaratan. Mengunyah permen karet atau mengisap permen keras sesaat sebelum take-off dan selama pendaratan. Ketika menggembungkan telinga, jangan menggunakan kekerasan. Teknik yang tepat hanya melibatkan tekanan yang diciptakan oleh pipi dan otot-otot tenggorokan. Konsultasikan dengan dokter THT sebelum terbang, apalagi jika Anda baru menjalani operasi telinga. DARI: http://www.entnet.org/HealthInformation/earsAltitude.cfm

ISING DARI ALAT PEMUTAR REKAMAN


by Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian on Thursday, August 4, 2011 at 4:05pm Ancaman lain untuk pendengaran anak dan remaja: penggunaan alat pemutar rekaman : Walkman, MP3 player, CD player , iPOD ; volume max 100 115 dB. Suara musik secara efisien dan langsung ke dalam telinga melalui ear phone tanpa mengganggu

lingkungannya. Teknologi perangkat musik ini dapat dibawa kemana saja dalam keadaan terpasang dgn ribuan judul lagu. Waktu paparan bertambah lama & risiko gangguan pendengaran menjadi lebih besar. Volume ideal untuk mendengar musik dari alat pemutar rekaman adalah 60% volume max,penggunaan total 60 menit/ hari. Bila > 60 % volume max, waktu harus < 1 jam/hari. Cara mendengar musik dengan volume aman - tanpa terganggu suara lingkungan - dengan earphone khusus yang memiliki fasilitas noise canceling (SONY, Panasonic, BOSE ) sehingga suara dari luar tidak masuk ke telinga. TIPS PENGGUNAAN ALAT PEMUTAR REKAMAN YANG AMAN ( CD/MP3 PLAYER,iPOD) Atur volume di ditempat sepi Atur volume agar masih dapat mendengar percakapan Volume ideal : 60% volume max utk penggunaan total 60 menit/ hari. Bila lebih dari 60 % volume max, kurangi waktu penggunaan . Pilih pemutar rekaman yang dilengkapi pembatas bising (noise limiter) Manfaatkan software khusus (iPOD edisi 2006 keatas ) untuk mengunci ( lock option) volume max TIP MENGHIDARI TERPAPAR BISING DARI SUARA MAINAN 3. Pilih mainan/permainan yang bunyinya tidak melebihi 80 - 85 dB 4. Atur agar jarak mainan/ permainan minimal 30 cm dari telinga 5. Batasi waktu mendengar bunyi mainan tidak lebih dari 10 menit 6. Hindari berada terlalu lama dilingkungan zona permainan yang bising oleh dr. Ronny Suwento, Sp.THT

Otitis Media Supuratif kronik (OMSK)


by Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran & Ketulian on Tuesday, February 1, 2011 at 9:28am

Otitis media supuratif kronik adalah peradangan mukosa telinga tengah disertai keluarnya cairan dari telinga melalui perforasi membran timpani (gendang telinga berlubang). Masyarakat mengenal OMSK sebagai penyakit congek, kopok, toher atau curek. Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus atau hilang timbul. Kejadian OMSK dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain suku

bangsa, jenis kelamin, tingkat sosioekonomi, keadaan gizi, dan kekerapan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA/ batuk pilek).

ISPA yang tidak tertanggulangi dengan baik dapat menyebabkan peradangan di telinga tengah (otitis media). Pada keadaan peradangan tidak teratasi sacara tuntas, daya tahan yang lemah, atau keganasan kuman yang tinggi (virulensi kuman), peradangan telinga tengah dapat berlanjut manjadi OMSK. OMSK terdiri atas OMSK tipe aman dan tipe bahaya. Kedua tipe ini dapat bersifat aktif(keluar cairan) atau tidak aktif (kering). Penatalaksanaan OMSK dapat berupa pengobatan atau operasi. Tujuan operasi pada OMSK tipe bahaya terutama untuk mencegah komplikasi. Gejala OMSK adalah keluar cairan dari telinga yang berulang, lebih dari 2 bulan, cairan kental, dan berbau. Komplikasi yang dapat disebabkan oleh OMSK adalah komplikasi ketulian, kelumpuhan saraf wajah, serta penyebaran infeksi ke otak (7,5%) hingga kematian yang disebabkan oleh OMSK tipe bahaya (33%). Gejala-gejala komplikasi infeksi otak yang disebabkan oleh OMSK antara lain sakit kepala hebat, demam, mual, muntah, dan penurunan kesadaran. Ketulian akibat OMSK disebabkan oleh gendang telinga yang berlubang, cairan atau nanah yang terdapat di telinga tengah, serta tulang pendengaran yang rusak/ erosi. Selain itu ketulian akibat OMSK dapat terjadi karena zat yang diproduksi oleh kuman OMSK masuk ke telinga dalam. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan pusing berputar. Untuk mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) akibat OMSK diperlukan usaha-usaha penanggulangan OMSK baik secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam mengupayakan usaha tersebut diperlukan kerjasama yang terpadu dari baik masyarakat itu sendiri, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Pemerintah dalam hal ini institusi kesehatan. Masyarakat melalui para kader perlu dilibatkan secara aktif dan inovatif terutama pada tingkat promotif. Lini kesehatan terdepan misalnya Puskesmas, Balai Kesehatan, dll memiliki peran yang besar baik di tingkat promotif, kuratif serta deteksi dini timbulnya komplikasi akibat OMSK. Di lain pihak jumlah spesialis THT di Indonesia berjumlah 700 orang. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah lebih kurang 214,1 juta jiwa, tentu jumlah tersebut masih sangat kurang. Menurut WHO dari 606 spesialis THT di Indonesia tercatat 30 orang (5%) yang dikategorikan sebagai Otologist. Angka tersebut jauh berbeda dengan angka di Bangladesh (13,5%), India (28,5%), dan Thailand (25,5%).

Selain itu jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas operasi telinga juga masih sangat terbatas. Oleh sebab itu diperlukan usaha agar masyarakat dapat melakukan usaha-usaha pencegahan OMSK yang berdampak pada ketulian bekerjasama dengan para kader kesehatan, institusi kesehatan, dan lembaga-lembaga terkait. Agar usaha penanggulangan penyakit OMSK dan komplikasinya dapat mencapai sasaran yaitu menurunnya morbiditas dan mortalitas akibat penyakit OMSK, maka diperlukan pengetahuan, pengenalan, dan pencegahan penyakit OMSK oleh masyarakat bersama-sama kader dan tenaga kesehatan. Selain itu diperlukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan bagi tenaga kesehatan di lini terdepan untuk mendiagnosis OMSK dan komplikasi yang ditimbulkan. ANALISIS SITUASI EPIDEMIOLOGI Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggris kurang dari 1%. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK adalah 3,1% populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK. DEMOGRAFI : Gambaran populasi berdasarkan kelompok umur, kelompok pekerjaan, status sosial, dan status pendidikan. Agar dapat secara efektif mengatasi OMSK, ada beberapa pertanyaan yang harus terlebih dahulu dicari jawabannya, antara lain : Seberapa besar jumlah penderita OMSK di suatu daerah ? Bagaimana proporsi penduduk didaerah tersebut ? Bagaimana dengan tingkat pengetahuan penduduk didaerah tersebut ? Untuk menurunkan prevalensi OMSK, perlu diketahui sarana dan SDM yang tersedia. INFRASTUKTUR : Sumber Daya: 7. Jumlah Dokter Spesialis THT yang melakukan operasi telinga 8. Jumlah Dokter Spesialis THT 9. Jumlah Dokter Umum dan tenaga paramedis terlatih 10. Jumlah Tenaga Swadaya Masyarakat (kader terlatih) Sarana dan Fasilitas Rumah Sakit yang memiliki fasilitas operasi telinga/ bedah mikro telinga Rumah Sakit yang memiliki fasilitas diagnostik untuk OMSK

Puskesmas yang memiliki alat diagnostik OMSK (lampu kepala, corong telinga, otoskop/ senter, garputala). TARGET : Menurunkan 50% angka ketulian akibat OMSK pada tahun 2015 INDIKATOR : Jumlah Dokter Umum yang dilatih Jumlah paramedis yang dilatih Jumlah kader/ guru yang dilatih Frekuensi kegiatan promosi yang dilakukan dalam periode tertentu Jumlah anak TK/ SD yang diperiksa setiap tahun Frekuensi pemeriksaan anak TK/ SD Jumlah anak TK/ SD yang dideteksi menderita OMSK Jumlah kasus OMSK yang dirujuk ALTERNATIF PENANGGULANGAN Program akan berhasil apabila tersosialisasi dengan baik, sehingga setiap orang yang terkait dengan upaya penanggulangan OMSK (masyarakat, pemerintah setempat, tenaga medis) dapat menjalankan perannya masing-masing setelah mengetahui masalah yang dihadapi serta tujuan yang hendak dicapai. Melakukan penyuluhan kepada kader, tokoh masyarakat serta masyarakat itu sendiri tentang OMSK mengenai pengertian, gejala, penyebab, dampak dan penatalaksanaan. Advokasi pada pemerintah setempat (PEMDA) untuk memfasilitasi serta menyediakan anggaran untuk memperbaiki maupun melengkapi infrastruktur. Melakukan pendekatan kepada pengusaha serta organisasi swadaya masyarakat untuk saling bekerja sama dalam menanggulangi masalah yang dihadapi penderita kurang mampu. Melakukan analisis situasi, menetapkan tujuan serta evaluasi berkala. Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas kesehatan dan kader untuk melakukan deteksi dini, pengobatan dan rujukan Pelatihan dokter spesialis THT untuk melakukan bedah mikro telinga Meningkatkan upaya deteksi dan intervensi dini.