Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN LABORATORIUM PENGANTAR TEKNIK KIMIA

Modul 2 Kesetimbangan Kimia

Nama Praktikan NRP Praktikan Nama Partner NRP Partner Nama Asisten Tanggal Percobaan

: Adithya Suryapranata : 6210104 : William B. : 6210100 : Adriana : 29 Maret 2012

Tanggal Pengumpulan Praktikum : 31 Maret 2012 Shift : Kamis Siang

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

BAB I TUJUAN 1. Mempelajari distribusi suatu komponen dalam dua macam pelarut 2. Menentukan tetapan kesetimbangan bagi reaksi I2 + I-<==>I33. Mempelajari metoda yodometri 4. Memplajari standarisasi larutan natrium thiosulfat

BAB II Hasil Percobaan 1. Standarisasi Larutan Na2S2O3 % error = 66.66 % 2. Reaksi Kesetimbangan Kimia Ka experiment=149.7078297 Koefisien Distribusi= 0.00588 % error = 77.3175%

BAB III PEMBAHASAN 1. Standarisasi larutan natrium thiosulfat Larutan kalium dikromat dan natrium thiosulfat dibuat terlebih dahulu. Kalium dikromat dengan konsentrasi 0.0125 M dan volume 100 mL sedangkan natrium thiosulfat dengan konsentrasi sebanyak 0.05 M dan volume 250 mL. Massa yang dibutuhkan untuk membuat Kalium dikromat sebanyak 0.3675 gram dan natrium thiosulfat dengan 3.1 gram. Natrium thiosulfat dibuat dari Kristal Na2S2O3.5H2O dengan dilarutkan pada 250 mL air yang telah dididihkan lalu didinginkan. Lalu dilakukan standarisasi natrium thiosulfat yang telah dicampur air dengan kalium dikromat yang merupakan larutan standar primer. Standarisasi ini dilakukan karena sifat natrium thiosulfat yang tidak stabil untuk waktu yang lama sehingga tidak boleh dilakukan penimbangan secara langsung untuk mengetahui konsentrasinya. Standarisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui normalitas sesungguhnya dari natrium thiosulfat karena dibutuhkan larutan standar untuk mengetahui kadar dari suatu zat. Standarisasi dilakukan dengan menempatkan kalium dikromat sebanyak 10 mL pada labu titrasi kemudian ditambahkan asam sulfat sebanyak 5 mL (larutan berubah menjadi bening), 1 M dan KI (larutan berubah menjadi berwarna coklat) sebanyak 0,5 gram. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium dikromat dan kalium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah dan penambahan kalium iodide dimaksudkan sebagai oksidator bagi kalium dikromat. Setelah dialirkan natrium thiosulfat hingga larutan berwarna kuning muda agak kecoklatan, lalu larutan diteteskan indicator amilum sebanyak 4 tetes. Fungsi penambahan amilum adalah untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi, dilakukan penambahan pada titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Kemudian dilanjutkan titrasi hingga larutan yang tadinya berwarna biru setelah ditambahkan amilum kehilangan warnanya dan menjadi bening. Persen error yang dihasilkan dari standarisasi adalah sebesar 66.66% 2. Reaksi Kesetimbangan Kimia Pada awalnya disiapkan 2 buah corong pisah yang diisi oleh 20 mL larutan I2 dalam CHCl3 (sesuai penugasan asisten). Lalu pada corong pisah A dimasukkan 200 mL air dan pada corong pisah B dimasukkan 200 mL larutan KI dengan konsentrasi 0.1 M. Penambahan KI berfungsi sebagai penyedia ion Iodida (I-) . Ion ini akan membentuk ion I3- setelah bereaksi dengan I2 dalam CHCl3. Kemudian larutan dikocok selama 5 menit dan dibiarkan bereaksi selama 10 menit (tergantung penugasan dari asisten) selama 60 menit. Fungsi pengocokan ini baik untuk corong pisah A maupun B adalah sama, yaitu untuk mempercepat distribusi I2 dalam air dan kloroform (CHCl3). Diperhatikan bahwa pada saat pengocokan bahwa kran dari corong

pisah harus dibuka untuk mengeluarkan gas-gas yang terbentuk selama reaksi terjadi, karena jika tidak tutup dari corong pisah bisa saja terpental karena dorongan dari gas-gas yang terbentuk di dalam corong. Setelah selesai pengocokan selama 60 menit, di dalam corong pisah akan terbentuk 2 fasa, yaitu fasa akuatik atau fasa I2 dalam air pada bagian atas dan fasa I2 dalam CHCl3 pada bagian bawah. Apa yang terjadi? Lapisan air berada di atas lapisan kloroform karena air memiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan dengan massa jenis kloroform( air = 0,996 g/mL dan CHCl3 = 1,48 g/mL). Adapun reaksi yang terjadi di corong pisah B KI(aq) K(aq)+I-(aq) lalu ion I- bereaksi dengan I2 dengan reaksi: I-(aq) + I2 (aq) <=> I3-(aq). Reaksi yang terjadi di fasa akuatik : I3-(aq) + 2S2O32-(aq)3I-(aq) + S4O62-(aq) dan fasa organic: I2(aq) + 2S2O32-(aq)2I-(aq) + S4O62-(aq). Kemudian setelah 60 menit, sampel pada fasa organic diambil sebanyak 5 mL (sama volumenya baik untuk corong pisah A dan B) dan sampel sebanyak 25 mL pada corong pisah B dan 50 mL pada corong pisah A dari fasa akuatik. Pada sampel fasa organic ditambahkan 2 gram KI padat untuk melarutkan I2 dan 20 mL air untuk mengencerkan larutan sebelum dititrasi dengan larutan Na2S2O3 yang telah distandarisasi sebelumnya lalu ditambahkan indicator amilum mendekati titik akhir titrasi yang ditandai dengan campuran yang tidak lagi berwarna biru karena reaksi antara yodium dan natrium thiosulfat hampir selesai. Penambahan indicator amilum ini bertujuan untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi saat titik akhir titrasi (tetapi jika larutan sudah berwarna kecoklatan harus ditambahkan amilum terlebih dahulu sebelum proses titrasi agar perubahan warna terlihat lebih jelas). Dan didapatkan volume Na2S2O3 pada corong pisah A sebanyak 23 mL dan pada corong pisah B sebanyak 3 mL pada corong pisah B dari sampel di fasa organic. Sedangkan pada fasa akuatik, hanya diberikan indicator amilum untuk memperjelas perubahan warna. Kemudian didapatkan volume natrium thiosulfat yang dibutuhkan pada corong pisah A sebanyak 3 mL dan B sebanyak 6 mL. Dilakukan pengocokan lanjutan selama 30 menit dengan pengaturan waktu yang sama dengan awalnya. Hal ini bertujuan agar I2 lebih terdistribusi baik di dalam air maupun kloroform. Dilakukan pengambilan sampel dengan volume yang sama baik untuk fasa organic dan akuatik di corong pisah A dan B. Pada fasa organic di corong pisah A membutuhkan 10.2 mL natrium thiosulfat sedangkan 8.6 mL pada corong pisah B. Kemudian pada fasa akuatik membutuhkan 0.6 mL untuk corong pisah A dan 3.9 mL pada corong pisah B. Hasil dari kedua run diperbandingkan. Jika mendekati (<1. Volumenya) hasil keduanya, volume dirata-rata, namun, jika keduanya berbeda jauh, kita harus memakai yang kedua karena proses distribusi yang lebih merata di run yang kedua dengan waktu total 90 menit (60 menit awal+30 menit tambahan waktu pengocokan). Didapatkan nilai koefisien distribusi dengan membandingkan konsentrasi yodium dalam air (akuatik) dibagi dengan konsentrasi yodium dalam kloroform (organic). Kemudian dapat dihitung tetapan kesetimbangan (Ka) secara percobaan dan teoritis dari data literature. Data Ka percobaan dan literature dibandingkan kemudian didapatkan persen galat dalam perhitungan.

Perbandingan hasil Ka, Kd, persen error dan perlakuan 1. Kelompok Adit-William (20 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 5 menit dan dibiarkan bereaksi selama 10 menit) Ka exp=149.7078297 Koefisien distribusi = 0.00588 % error = 77.3175% 2. Kelompok Beatrice-Bona (40 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 5 menit dan dibiarkan bereaksi selama 10 menit) Ka exp= 171,1715 Koefisien distribusi = 0,0246 % error = 77,243% 3. Kelompok Fiety-Lidya (40 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 10 menit dan dibiarkan bereaksi selama 10 menit) Ka exp= 577,5359 Koefisien distribusi = 0,008197 % error = 15,3317% 4. Kelompok Andre-Fahrizal (20 mL larutan I2 dalam CHCl3, dikocok selama 10 menit dan dibiarkan bereaksi selama 10 menit) Ka exp= 358,9397 Koefisien distribusi = 0,0104 % error = 49,8% Ada berbagai perbedaan baik pada harga Ka, koefisien distribusi dan % error. Dari berbagai perbandingan data di atas dapat disimpulkan 2 pengaruh, yaitu volume yodium dalam kloform yang berbeda dan waktu pengocokan yang berbeda. Pengaruh dari volume yodium yang berbeda mengacu pada perbedaan konsentrasi larutan yang terbentuk pada campuran di corong pisah setiap kelompok dalam 1 meja. Pengaruh dari volume itu adalah ketika volume diperbesar, kesetimbangan bergeser ke arah molekul yang memiliki

koefisien lebih besar berdasarkan reaksi I2 + I- <==> I3-, semakin besar volume, kesetimbangan akan bergeser ke kiri, yang seharusnya menyebabkan tetapan kesetimbangan lebih kecil karena perbandingan konsentrasi produk/reaktan di mana kesetimbangan bergeser ke arah reaktan dan menyebabkan konsentrasi reaktan lebih besar dari produk. Sedangkan pengaruh yang kedua datang dari waktu pengocokan, ada yang 10 menit dan juga 5 menit, pengaruhnya adalah ketika corong pisah dikocok dengan waktu yang lebih lama (kontak yodium dalam larutan lebih intensif) akan memperbesar nilai koefisien distribusi yang dapat dibandingkan hasilnya antara kelompok yang diberi perlakuan volume sama namun waktu pengocokan berbeda, bahwa semakin lama waktu pengocokan akan semakin besar harga koefisien distribusi.

BAB IV KESIMPULAN 1. Harga tetapan kesetimbangan (Ka) dan koefisien distribusi suatu komponen dalam larutan dipengaruhi oleh waktu pengocokan dan juga volume komponen yang telah dicampurkan pada pelarut. 2. Semakin lama waktu pengocokan, semakin besar nilai koefisien distribusi 3. Semakin besar volume awal komponen yang dipergunakan, semakin besar nilai tetapan kesetimbangannya 4. Standarisasi natrium thiosulfat dimaksudkan untuk mengetahui normalitas natrium thiosulfat sesungguhnya sehingga dapat dilakukan analisis kadar komponen secara tepat.

DAFTAR PUSTAKA http://nugiluph24.blogspot.com/2010_10_01_archive.html http://www.scribd.com/doc/71009063/Odometri-Dan-Iodimetri http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Kimia/0180%20Kim%201-6c.htm http://laporan-kimia-analisis.blogspot.com/2011_07_01_archive.html http://fredi-36-a1.blogspot.com/2009/11/iodometri-dan-iodimetri.html

Lampiran A Data Percobaan 1. Standarisasi Larutan Na2S2O3


Run 1 2 V K2Cr2O7(mL) 10 10 V Na2S2O3 (mL) 18.5 15(yang digunakan)

2. Reaksi Kesetimbangan Kimia (20 mL I2 dalam CHCl3, 5 menit kocok dan 10 menit istirahat) [Na2S2O3]=0.05 M V Na2S2O3= 250 mL [KI] awal= 0.1 M
Run 1 2 Rata-rata(yang digunakan)

Corong Pisah A
Waktu 60 Menit 90 Menit V I2 (mL) 5 5 5 Fase Organik V Na2S2O3 (mL) Fase Akuatik V I2 (mL) V Na2S2O3 (mL) 23 50 3 10.2 50 0.6 10.2 50 0.6

Run 1 2 Rata-rata(yang digunakan)

Corong Pisah B
Waktu 60 Menit 90 Menit V I2 (mL) 5 5 5 Fase Organik V Na2S2O3 (mL) 3 8.6 8.6 V I2 (mL) 25 25 25 Fase Akuatik V Na2S2O3 (mL) 6 3.9 3.9

Lampiran B Contoh Perhitungan

1. Standarisasi Larutan Na2S2O3


Run 1 2 V K2Cr2O7(mL) 10 10 V Na2S2O3 (mL) 18.5 15(yang digunakan)

Massa K2Cr2O7=0.3675 gr Mr K2Cr2O7=294 gr/mol V S2O315 mL

V K2Cr2O7=10 mL

nK2Cr2O7= mK2Cr2O7/Mr K2Cr2O7 nK2Cr2O7=0.3675 gr/294 gr/mol nK2Cr2O7=0.00125 mol ekivalensi Cr2O72-=ekivalensi S2O326.(M.V) Cr2O72-=1.(M.V) S2O32[S2O32-]exp= 6.(M.V) Cr2O72-/1. V S2O32[S2O32-] exp=6 x (0.125 M x 10 mL)/1 x 15 mL [S2O32-]exp=0.0833 M Perhitungan [Na2S2O3] teoritis

[K2Cr2O7]=nK2Cr2O7/VK2Cr2O7 [K2Cr2O7]=0.00125 mol/0.01 L [K2Cr2O7]= 0.125 M

Massa Na2S2O3 = 3.1 gr Mr Na2S2O3.5H20= 248 gr/mol V Na2S2O3=250 mL n Na2S2O3= 3.1 gr/248 gr/mol n Na2S2O3=0.0125 M [Na2S2O3]teoritis= n Na2S2O3/ V Na2S2O3

[Na2S2O3]teoritis=0.0125 M/250 mL= 0.05 M %error= | [Na2S2O3]teoritis -[S2O32-]exp | x 100% [Na2S2O3]teoritis %error=|0.05 M-0.0833 M| x 100%=66.66 % 0.05 M

2. Reaksi Kesetimbangan Kimia (20 mL I2 dalam CHCl3, 5 menit kocok dan 10 menit istirahat) [Na2S2O3]=0.05 M V Na2S2O3= 250 mL [KI] awal= 0.1 M Corong Pisah A
Run 1 2 Rata-rata(yang digunakan) Waktu 60 Menit 90 Menit Fase Organik Fase Akuatik V I2 (mL) V Na2S2O3 (mL) V I2 (mL) V Na2S2O3 (mL) 5 23 50 3 5 10.2 50 0.6 5 10.2 50 0.6

Corong Pisah B
Run Waktu 60 Menit 90 Menit Fase Organik V I2 (mL) V Na2S2O3 (mL) 5 5 5 Fase Akuatik V I2 (mL) V Na2S2O3 (mL) 3 25 6 8.6 25 3.9 8.6 25 3.9

1 2 Rata-rata(yang digunakan)

Reaksi:

I2+2e- 2I2 S2O32- S4O62- +2eI2+2 S2O32-2I-+S4O62-

1 mol I2~2 mol S2O32Perhitungan MI2 .VI2avg.Ekivalensi I2=MS2O32-.V S2O32- avg.Ekivalensi S2O32MI2 = MS2O32-.V S2O32- avg. 1 VI2avg. 2

Corong Pisah A

Fasa Organik [I2] CHCl3 = 0.05 M x 10.2 mL 5 mL x 2 = 0.051 M Fasa Aquatik [I2]H2O = 0.05 M x 0.6 mL 50 mL x 2 = 3.10-4 M Koefisien Distribusi (Kd)= [I2]H2O [I2] CHCl3 = 3.10-4 M 0.051 M = 0.00588 Corong Pisah B

Fasa Organik [I2] CHCl3 = 0.05 M x 8.6 mL 5 mL x 2 = 0.043 M Fasa Aquatik [I2]H2O = 0.05 M x 3.9 mL 25 mL x 2 = 3.9.10-3 M

Pada Fasa akuatik terjadi reaksi: I2 + I-<==>I3Dimisalkan: konsentrasi I2 di dalam KI adalah C Konsentrasi total I2 bebas dan ion I2- adalah T

I2 + I- <==> I3Awal: Reaksi: Setimbang: T -X C -X +X X

(T-X) (C-X)

[I2] bebas = T-X = Kd. [I2] CHCl3 =0.00588 x 0.043 M =2.5284 . 10-4 M [I3-] = X= [I2]H2O - [I2] bebas = 3.9.10-3 M - 2.5284 . 10-4 M = 3.64716 . 10-3 M [I-]=C-X= [KI]awal - [I3-] = 0.1 M - 3.64716 . 10-3 M = 0.09635284 M K = Ka exp= [I3-] [I-].[I2] = 3.64716 . 10-3 M 0.09635284 M x 2.5284 . 10-4 M Ka exp = 149.7078297 T percobaan=27oC=300 K T teoritis=25oC=298 K

Reaksi: I2 + I-<==>I3I3- (kJ/mol) Go Ho Go= Go I3--Go I2-Go IGo =-51.4 kJ mol-1-16.4 kJ mol-1-(-54.57) kJ mol-1 Go=-16.23 kJ mol-1
-51.4 -58.5

I2 (kJ/mol)
16.4 27.6

I- (kJ/mol)
-54.57 -55.18

Ho= Ho I3--Ho I2-Ho IHo=-58.5 kJ mol-1-27.6 kJ mol-1-(-55.18) kJ mol-1 Ho=-18.91 kJ mol-1

Vant hoff : d(G )= - H dT dT T2

Go 2 - Go 1 = H (1/T2-1/T1) T2 T1

Go (300K) (-16.23) = -18.91 kJ mol-1 (1/300K-1/298K) 300K 298K

Go (300K) = -16.193 kJ mol-1 G =Go + RT ln K (saat setimbang G =0) Go = - RT ln K -16.193 kJ mol-1 = - 8.314 .10-3 kJ mol-1 K-1 . 300 K ln K Ln K= 6.49226 K=Ka teoritis= exp(6.49226)= 660.01531

% error = | Ka teoritis-Ka exp| x 100% Ka teoritis % error = | 660.01531-149.7078297 | x 100% 660.01531 %error=77.3175%