Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS I STAFILOMA OS ec SUSPEK ULKUS KORNEA dan LEUKOMA OD

ANGGUN SAFARIANTININGRUM H1A 006 003

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITRAAN KLINIK MADYA BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2011

RINGKASAN AWAL

Wanita 20 tahun datang ke poli mata RSUP NTB dengan keluhan mata kirinya terasa nyeri sejak 6 hari yang lalu. Nyeri sudah sering dirakan sejak dulu (usia 2 th) dan dirasakan semakin lama semakin menghebat, puncaknya adalah 6 hari yang lalu pasien merasakan mata kirinya sangat nyeri seperti akan terlepas, berair (+), keluar kotoran (+), gatal (+) pingsan (+). Pasien mengaku saat berusia 2 tahun ada sesuatu yang berwarna putih menutupi sebagian bagian hitam matanya. Bagian putih tersebut muncul tiba-tiba, lama kelamaan semakin menonjol hingga membuat mata kiri pasien ikut menonjol. Matanya kiri berwarna kemerahan, gatal dan nyeri, penglihatan (-). Pasien mengeluhkan mata kanan penglihatan kabur (+), bercak putih pada mata (+), berair (+), kemerahan (-), gatal (-), silau (+) jika terlalu banyak cahaya. Riwayat trauma mata (-) dan riwayat penyakit mata (-). Riwayat pengobatan (+). Riwayat alergi makanan (-) dan alergi obat-obatan (-). Pada pemeriksaan mata kanan didapatkan visus 6/40 yang tidak meningkat dengan penggunaan pinhole. Visus mata kiri 0. Palpebra superior dan inferior mata kanan normal, kornea mata kanan tampak jaringan putih pada arah jam 12, kornea mata kiri tak tampak tertutupi jaringan berwarna putih, TIO palpasi kesan normal.

Pasien didiagnosis Stafiloma OS e.c suspek ulkus dan Leukoma OD. Rencana terapi pada pasien yaitu enukleasi serta pemasangan implan OS dan medikamentosa OD.

LAPORAN KASUS

1. Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat Pekerjaan Tanggal pemeriksaan : Ny. S : 20 tahun : Perempuan : Islam : Jago, Praya : Ibu Rumah Tangga : 17 November 2011

2. Anamnesis Keluhan utama : Mata kiri nyeri

Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien mengeluhkan mata kirinya terasa nyeri sejak 6 hari yang lalu. Nyeri ini sering dirasakan sejak pasien berusia 2 tahun (sejak 18 tahun yang lalu), nyeri dirasakan muncul tanpa ada pemicu sebelumnya dan menghilang dengan sendirinya. Nyeri ini dirasakan semakin lama semakin menghebat, puncaknya adalah 6 hari yang lalu pasien merasakan mata kirinya sangat nyeri seperti akan terlepas kemudian pasien pingsan. Pasien mengatakan mata kirinya sering berair dan mengeluarkan kotoran serta gatal. Pasien mengaku saat berusia 2 tahun ada sesuatu yang berwarna putih menutupi sebagian bagian hitam matanya. Bagian putih tersebut muncul tiba-tiba. Pasien mengatakan bagian putih tersebut lama kelamaan semakin menonjol hingga membuat mata kiri pasien ikut menonjol. Matanya berwarna kemerahan, gatal dan nyeri. Waktu itu pasien sempat rawat inap di rumah sakit untuk operasi sebab mata kirinya sudah tak dapat melihat lagi. Sekarang mata kiri pasien benar-benar menonjol hingga tidak dapat ditutup dan sudah mengalami kebutaan. Pasien juga mengeluhkan sejak 1 tahun yang lalu timbul putih pada mata kanannya. Pasien mengaku mata kanannya terkadang terasa sakit apabila pasien banyak bekerja, apabila pasien istirahat sakitnya menghilang. Pasien mengatakan mata kanannya sering berair namun tidak gatal, terasa silau apabila melihat cahaya terlalu sering, dan matanya terasa pegal apabila melihat terlalu lama. Pasien juga mengeluhkan pandangan mata kanannya sudah agak kabur, tapi pasien tidak mengingat pastinya sudah berapa lama pandangannya kabur. Pasien

mengaku sering merasakan pusing, mual muntah dan demam disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat trauma pada mata (-), DM(-), cepat terserang penyakit (-), riwayat penyakit mata lainnya (-) Riwayat Pengobatan: Saat pasien berusia 2 tahun pasien sempat menjalani rawat inap di rumah sakit karena masalah mata kirinya tersebut, namun pasien mengaku tidak ingat pengobatan apa yang didapatkannya waktu itu, pasien hanya mengingat dokter mengtakan bahwa penyakit matanya sudah tidak dapat dioperasi karena sudah benar-benar rusak. 2 hari yang lalu pasien memeriksakan matanya ke rumah sakit praya, kemudian pasien dirujuk ke poli mata. Di rumah sakit praya pasien mengatakan mata kanannya diberikan obat tetes mata. Selain itu pasien mengaku jarang mengkonsumsi obat-obatan. Riwayat Penyakit Keluarga dan Sosial: Pasien mengakui tidak ada keluarga dan tetangganya yang memiliki keluhan serupa. Pasien pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama kurang lebih 1 tahun. Riwayat alergi: Riwayat alergi makanan (-) dan alergi obat-obatan (-)

3. Pemeriksaan Fisik Status Generalis KU Keadaan sakit Kesadaran/GCS Keadaan gizi : Sedang : Sedang : Composmentis/E4V5M6 : Cukup (Kurus)

Pemeriksaan Tanda Vital Tekanan darah Nadi Napas : 110/70 mmHg : 84 kali/menit : 18 kali/menit

Status Lokalis Pemeriksaan Visus Pin-hole Lapang pandang Mata kanan 6/40 6/40 6/40 (+) (-) Fotofobia Pasien tidak merasa silau dan sakit jika matanya disinari Kedudukan bola mata 1. Tes Hirschberg 2. Tes Cover-Uncover Gerakan bola mata Nyeri pada pergerakan bola mata Palpebra Superior Edema Hiperemi Silia (-) (-) Normal (bulu mata tumbuh ke arah luar) Entropion Ektropion Ptosis Pseudoptosis Lagophtalmos (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) Margo palpebra tidak ditemukan sekret yang mengering Nyeri tekan Palpebra Inferior Edema Hiperemi (-) (-) Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi (-) (-) (-) Normal (bulu mata tumbuh ke arah luar) (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) tidak ditemukan sekret yang mengering (-) Normal Normal Kesan baik ke segala arah (-) Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Mata kiri 0 Tidak dapat dievaluasi

Silia

(-) Krusta (-)

(-) Krusta (-) tidak ditemukan sekret yang mengering (-)

Margo palpebra

tidak ditemukan sekret yang mengering

Nyeri tekan Konjungtiva Palpebra Superior Hiperemi Folikel Sikatrik Konjungtiva Palpebra Inferior Hiperemi Folikel Sikatrik Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva Injeksi Silier Sekret

(-)

(-) (-) (-)

Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi

(-) (-) (-)

Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi

(-) (-) (-) (-)

Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi Tertutupi jaringan

Pinguekula Pterigium

(-) (-)

Kornea

Leukoma arah jam 12

berwarna putih (kesan Leukoma adheren).

COA Iris

Kesan normal Warna coklat Bentuk sulit dievaluasi

Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi

Pupil

Diameter 3 mm Reflek langsung (+) Reflek tak langsung (+)

Tidak dapat dievaluasi

Lensa

Jernih

Tidak dapat dievaluasi

Palpasi TIO Refleks Fundus

Kesan normal Fundus reflex (+)

Tidak dapat dievaluasi Tidak dapat dievaluasi

4. Diagnosis Stafiloma anterior OS e.c suspek ulkus kornea perforasi dengan Leukoma kornea OD 5. Usulan pemeriksaan Pemeriksaan Tonometri ODS Kultur Goresan / kerokan pada kornea ODS CT scan mata DL, Roentgen Thorax

6. Rencana terapi OS : Pro Enukleasi dan impalan Analgetik : asam mefenamat 500 mg 3 dd 1

OD : pro kultur goresan kornea untuk mengetahui medikamentosa yang efektif perbaikan KU dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian vitamin yang mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. KIE pasien : Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih Berikan analgetik jika nyeri

7. Prognosis: Stafiloma beresiko tinggi (sebesar 77%) menjadi degenerasi korioretinal. Hal ini dikarenakan terjadinya atropi dari koroid dan retina, retraksi koroid dari optik disk, dan terlepasnya posterior vitreus. Perubahan ini meningkatkan

prevalensi terjadinya perdarahan koroid dan terlepasnya retina, yang akan menyebabkan buruknya fungsi penglihatan. Oleh karena itu, pada kasus yang demikian harus selalu diobservasi gejala dan mendapatkan pemeriksaan optalmoskopi secara berkala.

IDENTIFIKASI MASALAH

Diagnosis stafiloma e.c suspek ulkus kornea pada mata kiri dan leukoma pada mata kanan didapatkan berdasarkan hasil autoanamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien. Berdasarkan autoanamnesis yang telah dilakukan, pasien mengeluh mata kirinya terasa sangat nyeri disertai dengan mata menonjol dan kebutaan. Pasien mengeluhkan gejala ini diawali dengan timbulnya sesuatu yang berwarna putih pada bagian mata pasieny ang berwarna hitam, pasien mengaku matanya merah, berair, banyak keluar kotoran, gatal dan nyeri. Sedangkan pada matanya yang sebelah kanan, pasien mengaku mulai merasakan penurunan penglihatan (kabur), nyeri, sering berair, keluar kotoran namun tidak gatal. Pasien juga mengatakan muncul sesuatu yang berwarna putih pada mata kanannya. Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang benar serta melakukan pemeriksaan penunjang lainnya. Misalnya pada kasus ini dapat dilakukan pemeriksaan tonometri pada mata kiri dan kanan pasien untuk mengetahui apakah ada peningkatan TIO sehingga dapat diketahui penyebab dari stafiloma yang dicurigai pada kasus ini. Juga dapat dilakukan pengerokan/ biopsi pada leukoma sehingga dapat diketahui penyebab leukoma sehingga dapat dilakukan terapi yang sesuai dengan penyebab.

ANALISA KASUS

1.

Pengetahuan medik dasar

Stafiloma Stafiloma sklera adalah penonjolan sklera akibat desakan uvea ke sklera yang menipis dan teregang. Stafiloma dapat terjadi akibat glaukoma kongenital, trauma, skleritis, uveitis, miopi degeneratif, atau akibat dari prosedur operasi.

Stafiloma terjadi akibat penonjolan uvea ke dalam sklera yang mengalami ekstasia. Hal ini terjadi akibat peningkatan terus menerus dari tekanan intraokular pada awal kehidupan, seperti yang terjadi pada glaukoma kongenital, dapat menyebabkan peregangan dan penipisan sclera.

Pada pasien dengan ulkus kornea, saat semua kornea terkelupas keluar, iris yang terinflamasi akan mengeluarkan eksudat. Kemudian eksudat akan terkumpul dan membentuk lapisan fibrous pada lapisan epitel konjungtiva atau kornea yang tumbuh cepat sehingga terbentuk pseudokornea yang tipis dan tidak tahan terhadap tekanan intraokular akibatnya pseudokornea bersama lapisan iris akan menonjol keluar. Sikatrik ektasia inilah yang disebut sebagai stafiloma anterior. Sikatrik yang terjadi pada kornea cenderung mengalami penonjolan (ektatik). Ektatik sikatrik kornea dimana di dalamnya terdapat iris yang terjepit disebut sebagai anterior stafiloma (stafiloma kornea). Stafiloma ini dapat berhubungan dengan glaukoma sekunder sudut tertutup, yang dapat menyebabkan penonjolan yang progres jika tidak ditangani.

Gejala yang dapat muncul adalah penglihatan kabur, warna kebiruan dan penonjolan bagian anterior mata. Riwayat gejala seperti ulkus kornea yaitu, nyeri, kemerahan, fotofobia, berair, dan penglihatan kabur, dan perubahan warna keputihan. Kemudian diikuti perubahan warna kebiruan dan penonjolan dari bagian depan mata. Dari pemeriksaan fisik mata akan tampak penonjolan jaringan skar terlobulasi yang menghitam karena lapisan iris yang terletak dibelakangnya.

Gambar : Stafiloma anterior

Terapi : Lesi yang besar dan kebutaan ditangani dengan enukleasi dan implant Enukleasi adalah eksisi dari lapisan bola mata. Prosedur ini dapat menggunakan anastesi lokal pada pasien dewasa dan anastesi umum pada pasien anak-anak. Langkah operasinya dengan pemisahan konjungtiva dengan kapsul tenon, pemisahan otot ekstraokular, pemotongan saraf optik dan pengeluaran bola mata, menanam bola mata palsu serta penutupan konjungtiva.

Prognosis Stafiloma beresiko tinggi (sebesar 77%) menjadi degenerasi korioretinal. Hal ini dikarenakan terjadinya atropi dari koroid dan retina, retraksi koroid dari optic disk, dan terlepasnya posterior vitreus. Perubahan ini meningkatkan prevalensi terjadinya perdarahan koroid dan terlepasnya retina, yang akan menyebabkan buruknya fungsi penglihatan. Oleh karena itu, pada kasus yang demikian harus selalu diobservasi gejala dan mendapatkan pemeriksaan optalmoskopi secara berkala.

Ulkus Kornea Definisi Hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditentukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Ulkus kornea dibedakan dalam bentuk : 1. Ulkus kornea sentral 2. Ulkus kornea perifer

Gejala Klinis Gejala subjektif : a.Rasa sakit pada mata b.Mata merah c.Sensasi benda asing d.Silau

e.Air mata banyak keluar f.Penglihatan menurun

Gejala objektif : a. Opasitas kornea berwarna putih b. Hipopion bisa ada atau tidak c. Konjunctiva merah

Perjalanan Penyakit Ulkus kornea dapat meluas ke dua arah, yaitu melebar dan mendalam. Ulkus kecil dan superfisial lebih cepat sembuh dan konea dapat menjadi jernih kembali. Tetapi bila ulkus turut menghancurkan membran yang baru sehingga menimbulkan sikatrik. Pada kasus yang berat dapat menimbulkan hipopion. Hipopion adalah pus yang terkumpul dalam kamera okuli anterior. Hipopion dapat terjadi pada ulkus yang mengalami perforasi maupun yang tidak mengalami perforasi. Sikartik yang terjadi setelah ulkus kornea sembuh dapat tipis atau tebal. Sikatrik yang tipis sekali yang hanya dapat dilihat dengan slit lamp disebut nebula. Sedangkan sikatrik yang agak tebal dan dapat kita lihat menggunakan senter disebut makula. Sikatrik yang tebal sekali disebut leukoma. Nebula yang difuse, yang terdapat pada daerah pupil lebih mengganggu daripada leukoma yang kecil yang tidak menutupi daerah pupil. Hal ini disebabkan karena leukoma menghambat semua cahaya yang masuk, sedangkan nebula membias secara ireguler, sehingga cahaya yang jatuh di retina juga terpencar dan gambaran akan menjadi kabur sekali.

Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi,

virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.

Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti : Ketajaman penglihatan Tes refraksi Tes air mata Pemeriksaan slit-lamp Keratometri (pengukuran kornea) Respon reflek pupil Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur

Penatalaksanaan Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.

2.

Sujektif Berdasarkan hasil anamnesis pada pasien didapatkan keluhan utama pasien adalah nyeri pada mata kiri yang disertai mata menonjol dan hilangnya penglihatan mata kiri (kebutaan). Pasien mengatakan hal ini dialaminya sejak usia 2 tahun. Hal ini sangat berpengaruh dengan gejala kebutaan yang timbul karena gejala stafiloma yang awalnya hanya penurunan penglihatan seiring berjalannya waktu dapat menyebabkan buruknya penglihatan.

3. Objektif

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan visus OD 6/40 dan tidak maju dengan pin hole yang berarti bukan kelainan refraksi. Visus OS 0 kemungkinan sudah terjadi kerusakan hingga retina. Bilik mata depan OD kesan normal. Kornea OD tampak ada jaringan putih kesan leukoma, kornea OS tidak tampak. OS tampak menonjol.

4. Assasement : OS : stafiloma OS e.c suspek ulkus kornea OD: leukoma kornea 5. Planning : OS : Pro Enukleasi dan impalan Analgetik : asam mefenamat 500 mg 3 dd 1

OD : pro kultur goresan kornea untuk mengetahui medikamentosa yang efektif perbaikan KU dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian vitamin yang mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. KIE pasien : Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih Diberitahukan mengenai pemasangan mata buatan Berikan analgetik jika nyeri

RINGKASAN AKHIR

Seorang wanita berusia 20 tahun datang ke Poli Mata RSUP NTB dengan keluhan utama mata kirinya terasa nyeri sejak 6 hari yang lalu. Nyeri sudah sering dirasakan sejak dulu (usia 2 th),semakin lama semakin menghebat, puncaknya adalah 6 hari yang lalu pasien merasakan mata kirinya sangat nyeri seperti akan terlepas, berair (+), keluar kotoran (+), gatal (+) pingsan (+). Pasien mengaku saat berusia 2 tahun ada sesuatu yang berwarna putih menutupi sebagian bagian hitam matanya. Bagian putih tersebut muncul tiba-tiba, lama kelamaan semakin menonjol hingga membuat mata kiri pasien ikut menonjol. Matanya kiri berwarna kemerahan, gatal dan nyeri, penglihatan (-). Pasien mengeluhkan mata kanan penglihatan kabur (+), bercak putih pada mata (+), berair (+), silau (+) jika terlalu banyak cahaya. Pemeriksaan fisik didapatkan visus OD 6/40 dan tidak maju dengan pin hole. Visus OS 0. Bilik mata depan OD kesan normal. Kornea OD tampak ada jaringan putih kesan leukoma, kornea OS tidak tampak tertutup jaringan putih (kesan leukoma). OS tampak menonjol. TIO palpasi OD kesan normal. Pasien didiagnosis Stafiloma OS e.c suspek ulkus dan Leukoma OD . Rencana terapi pada pasien yaitu enukleasi serta pemasangan implan OS dan medikamentosa OD. Serta dilakukan KIE terhadap pasien bahwa pada matanya akan dipasang mata buatan sehingga pasien tidak kaget, serta disarankan untuk tidak terlalu sering memegang mata dengan tangan kotor, tidak sering mengucekucek mata, dan apabila nyeri dapat diberikan anti nyeri.

GAMBAR MATA KANAN DAN MATA KIRI PASIEN

Okuli Dextra

Okuli Sinistra