Anda di halaman 1dari 3

stoikiometri kompleks amin-tembaga

stoikiometri kompleks amin-tembaga IV. PEMBAHASAN Dalam suatu pelaksanaan analisis anoganik secara kualitatif maupun kuantitatif banyak digunakan reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentukan senyawa kompleks. Suatu ion atau molekul kompleks terdiri atas satu atom (netral atau bermuatan) pusat dan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom atau ion pusat tersebut. Jumlah relatif dari komponen-komponen ini dalam suatu sistem kompleks yang stabil nampaknya mengikuti suatu Stoikiometri tertentu, meskipun tidak dapat ditafsirkan di dalam lingkup konsep valensi yang klasik. (http://whatawonderfulnature.blogspot.com/2009/06/airkesdahannitratkalsiumdll.html) Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani: stoicheion, unsur dan metria, ilmu pengukuran). Suatu rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau satuan terkecil suatu senyawa. Percobaan ini dilakukan untuk menentukan rumus kompleks ammin-tembaga. Dasar pemikiran dilakukannya percobaan ini adalah bahwa apabila ammonia berlebihan ditambahkan ke dalam larutan garam Cu(II) yang telah diketahui jumlahnya maka kompleks berikut akan terbentuk : Cu2+ + xNH3 [Cu(NH3)2]2+ Karena menggunakan ammonia berlebihan maka kebolehjadian ion kompleks di atas berdisosiasi ion-ion yang lebih sederhana seperti [Cu(NH3)x-1]2+, [Cu(NH3)x-2]2+ dan seterusnya berkurang. Jika ammonia bebas dalam larutan kompleks diekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan kemudian ditentukan konsentrasi maka jumlah ammonia bebas dalam larutan kompleks dapat ditentukan dengan mengetahui koefisien distribusi ammonia dalam kedua pelarut tersebut. Apabila jumlah ammonia total sebelum terbentuk kompleks diketahui maka ammonia yang terkomplekskan dapat dihitung dan rumus kompleks dapat ditentukan. (Penanggungjawab Mata Kuliah, 2009 : 21) Perlakuan pada percobaan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu standarisasi larutan NaOH, HCl dan NH3, penentuan koefisien distribusi ammonia dalam air dan kloroform kemudian yang terakhir adalah penentuan rumus molekul kompleks ammin-tembaga (II). Larutan yang digunakan distandarisasi terlebih dahulu agar diperoleh konsentrasi larutan yang sebenarnya, karena pada pembuatan larutan biasanya terdapat kesalahan ketelitian yang mengakibatkan konsentrasi yang dibuat tidak sepenuhnya diperoleh. Pada standarisasi larutan NaOH digunakan larutan standar primer asam oksalat (H2C2O4) yang dibuat dengan melarutkan 0,63 gram asam aksalat dengan air hingga volumenya mencapai 50 mL. NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena NaOH merupakan larutan basa jadi untuk standarisasinya adalah dengan menggunakan larutan standar primer yang bersifat basa, yaitu pada percobaan ini digunakan larutan asam oksalat. Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indicator PP karena indikator PP akan berubah warna menjadi merah muda pada larutan yang bersifat basa jadi dapat memberikan tanda pada titik akhir titrasi pada standarisasi larutan NaOH. Konsentrasi NaOH setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,1 N, hasil standarisasi ini sesuai dengan konsentrasi awal NaOH sebelum distandarisasi yaitu 0,1 N. Pada standarisasi larutan HCl, larutan standar yang digunakan adalah larutan standar NaOH yang telah distandarisasi sebelumnya oleh asam oksalat. HCl distandarisasi dengan NaOH karena HCl merupakan larutan asam maka harus distandarisasi dengan menggunakan larutan standar yang bersifat basa. Konsentrasi HCl setelah distandarisasi diperoleh 0,052 N, hasi yang diperoleh sedikit berbeda dengan konsentrasi HCl yang dibuat yaitu 0,055. Larutan NH3 distandarisasi dengan menggunakan larutan HCl yang sudah distandarisasi sebelummnya. Seperti halnya NaOH, larutan NH3 merupakan larutan basa jadi distandarisasi dengan menggunakan larutan standar yang bersifat asam. Konsentrasi NH3 yang diperoleh setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,17 N sedikit berbeda dengan konsentrasi NH3 yang dibuat yaitu 0,2 N. Setelah semua larutan distandarisasi selanjutnya yaitu perlakuan untuk penentuan koefisien distribusi

ammonia antara air dan kloroform. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform ini dilakukan dengan ditambahkan 10 ml larutan NH3 1 M (hasil standarisasi) dan 10 ml larutan air ke dalam corong pemisah 250 ml, dikocok agar homogen, ditambahkan 25 ml kloroform dikocok selama 5-10 menit, didiamkan sebentar sehingga tampak ada dua lapisan. Pada bagian atas agak keruh dan bawahnya lebih bening. Lapisan atas air dan NH3, lapisan bawah kloroform hal ini dikarenakan adanya perbedaan kepolaran antara senyawa kloroform dengan larutan amoniak dimana berat jenis kloroform lebih besar dibanding berat jenis air. Dimana berat jenis kloroform adalah 1,47 kg/L sedangkan berat jenis air 1 kg/L. Kemudian larutan kloroform diambil dengan mengalirkan lapisan larutan keluar melalui mulut corong pemisah dan mencampurkannya dengan sedikit akuades. Penambahan aquadest ini tidak akan merubah konsentrasi larutan tetapi hanya berfungsi untuk mempercepat titrasi. Larutan tersebut ditambahkan dengan beberapa tetes indikator metil orange hingga warna berubah menjadi orange karena larutan ini bersifat basa sehingga bila dititrasi dengan larutan asam akan terjadi perubahan warna pada titik akhir titrasi. Karena pada titik akhir titrasi indikator metil orange akan berubah warna menjadi merah muda. Setelah itu dititrasi dengan larutan standar HCl. Titrasi dilakukan sebanyak dua kali dimana untuk titrasi pertama diperoleh volume HCl 0,7 mL dan pada titrasi kedua membutuhkan larutan HCl 0,4 mL untuk mengubah warna larutan dari jingga menjadi merah muda, yang menandakan bahwa larutan menjadi asam dan pH larutan semakin menurun. Fungsi penggunaan titran HCl dalam titrasi ini adalah sebagai penurun nilai pH larutan sehingga larutan yang pada awalnya bersifat basa menjadi asam. Apabila memperhatikan jumlah volume titran yang digunakan hingga larutan mencapai titik ekivalen yang begitu sedikit, maka diketahui bahwa proses berlangsung sangat cepat. Dari hasil perhitungan didapatkan besarnya konsentrasi NH3 rata-rata dari dua perlakuan dalam kloroform yaitu 0,00285 N dan konsentrasi NH3 dalam air sebesar 0,197 N. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-masing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,014. Jadi dapat diketahui bahwa hanya sedikit saja larutan NH3 yang terdistribusi dalam larutan kloroform. Kemudian perlakuan selanjutnya yaitu penentuan rumus kompleks ammin-tembaga(II). Percobaan ini dilakukan dengan mencampurkan 10 mL larutan NH3 dengan 10 mL larutan ion Cu2+ kemudian memasukkannya ke dalam corong pemisah, dan dikocok sampai homogen. Larutan ini ditambahkan dengan 25 mL larutan kloroform dan dikocok selama 5-10 menit. Larutan didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan atas adalah larutan Cu2+ dalam ammonia sedangkan lapisan bawah adalah larutan Cu2+ dalam kloroform. Terbentuknya dua lapisan ini karena adanya perbedaan berat jenis antara kloroform dan ammonia. Dimana berat jenis kloroform lebih besar dari berat jenis NH3, sehingga kloroform berada di lapisn bawah. Kemudian larutan Cu2+ dalam kloroform dikeluarkan dari mulut corong. Mengambil larutan ini sebanyak 10 mL dan memindahkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL air dan indikator metil orange (mo). Penambahan aquadest disini juga tidak akan mempengaruhi konsentrasi tetapi hanya untuk mempercepat berlangsungnya titrasi. Larutan ini ditirasi dengan larutan HCl sebanyak dua kali dan diperoleh volume titrasinya adalah sebesar 0,5 mL dan 0,8 mL dan diperoleh konsentrasi rata-rata NH3 adalah 0,0034 N. Dari perhitungan diperoleh Normalitas NH3 dalam CU2+ yang dikomplekskan adalah 0,1966 N. Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-nasing larutan dapat dihitung koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,017. Untuk menentukan rumus kompleks ammin-tembaga dari perhitungan diketahui mol Cu 0,1 N diperoleh 1 mmol dan mol NH3 dalam Cu2+ adalah 1,966 yaitu mendekati 2, sehingga perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 2 . Jadi rumus kompleksnya adalah [Cu(NH3)2]2+. Dalam percobaan ini menunjukkan bahwa atom Cu sebagai atom pusat dan NH3 sebagai ligannya. (http://annisanfushie.wordpress.com/2009/04/22/stoikhiometri-kompleks-ammin-tembagaii/) V. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil adalah senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks ammin tembaga dapat terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui jumlahnya, nilai koefisien distribusi amonia adalah

sebesar 0,017. Jumlah mol NH3 yang terkomplekskan pada percobaan ini adalah sebesar 2 mmol. Dengan perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 2 sehingga rumus kompleks ammin tembaga yang diperoleh pada percobaan ini adalah [Cu(NH3)2]2+.

DAFTAR PUSTAKA http://annisanfushie.wordpress.com/2009/04/22/stoikhiometri-kompleks-ammin-tembagaii/ http://whatawonderfulnature.blogspot.com/2009/06/airkesdahannitratkalsiumdll.html Penanggungjawab Mata Kuliah. 2009. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik Fisik. Palu : UNTAD PRESS