Anda di halaman 1dari 112

PENGARUH DIVIDEND PER SHARE DAN RETURN ON EQUITY TERHADAP HARGA SAHAM

Studi pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 (terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Pada Fakultas Bisnis Dan Manajemen Universitas Widyatama

Disusun Oleh: NAMA NRP : : Denny 0202047

FAKULTAS BISNIS DAN MANAJEMEN UNIVERSITAS WIDYATAMA


Terakreditasi (Accredited)- Peringkat A SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor : 010/BAN-PT/AK-X/S1/V/2002 Tanggal 19 Maret 2007

2008

PENGARUH DIVIDEND PER SHARE DAN RETURN ON EQUITY TERHADAP HARGA SAHAM
Studi pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 (terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Pada Fakultas Bisnis Dan Manajemen Universitas Widyatama

Disusun Oleh : NAMA : NRP : Denny 0202047

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Lasmanah, S.E., M.Si.

Mengetahui, Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Ketua Program Studi Bisnis dan Manajemen

Sri Astuti Pratniningsih, S.E, M.A.

DR. H. Tendi Haruman, S.E., M.M.

SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini : Nama NRP Tempat Tanggal Lahir : DENNY : 02.02.047 : Purwakarta, 28 April 1984

Menyatakan dengan ini bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007, merupakan hasil pekerjaan saya sendiri. Apabila terbukti skripsi ini bukan merupakan pekerjaan saya sendiri, saya bersedia menerima segala sanksi yang telah ditetapkan. Demikian skripsi ini dibuat sebagaimana mestinya dan benar adanya.

Bandung, 26 September 2008 Penulis,

Denny

ABSTRAK Harga minyak yang terus melambung tinggi menyebabkan harga si emas hitam ini terus naik. Negara-negara yang bergantung dari minyak berupaya untuk mengganti sumbernya dengan energi yang lain. Dengan pergantian tersebut, harga komoditas pertambangan seperti batubara, gas alam, dan lainnya menjadi naik. Sehingga terjadi lonjakan pendapatan pada perusahaan pertambangan. Dengan semakin baik kinerja perusahaan secara otomatis akan meningkatkan pemberian dividen kepada para pemegang sahamnya. Dengan pemberian dividen yang meningkat maka harga saham akan naik. Namun kenyataannya harga saham tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena harga saham perusahaan sering berfluktuasi dari waktu ke waktu. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menuangkan dalam skripsi ini dengan judul Pengaruh dividend per share dan return on equity terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verifikatif. Metode deskriptif bertujuan untuk melakukan pengujian gambaran yang cukup jelas mengenai objek. Metode verifikatif bertujuan untuk menguji hipotesis, yaitu pengaruh variabel X (dalam penelitian ini adalah dividend per share dan return on equity) terhadap variabel Y (dalam hal ini adalah harga saham). Untuk pengujian hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Uji t digunakan untuk menguji hipotesis secara parsial, sedangkan uji F digunakan untuk menguji hipotesis secara simultan. Analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan regresi linier sederhana, regresi linier berganda, korelasi dan determinasi yang dilakukan melalui program SPSS v.15 Hasil penelitian diperoleh variabel dividend per share memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,695 yang berarti hubungan dividend per share dengan harga saham adalah kuat. Pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara parsial antara variabel dividend per share terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai thitung yang berada di daerah penolakan Ho dan uji signifikansi yang di bawah nilai alpha. Hasil penelitian diperoleh variabel return on equity memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,645 yang berarti hubungan return on equity dengan harga saham adalah kuat. Pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara parsial antara variabel return on equity terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai thitung yang berada di daerah penolakan Ho dan uji signifikansi yang di bawah nilai alpha. Hasil penelitian diperoleh variabel dividend per share dan return on equity secara simultan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,805 yang berarti hubungan dividend per share dan return on equity secara simultan dengan harga saham adalah sangat kuat. Pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara simultan antara variabel dividend per share dan return on equity terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai Fhitung yang berada di daerah penolakan Ho dan uji signifikansi yang di bawah nilai alpha.

KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmannirrahim Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas segala rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen pada Fakultas Bisnis dan Manajeman di Universitas Widyatama. Penulis menyadari bahwa skripsi ini dalam pembuatannya masih terdapat kekurangan yang jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dan disamping itu penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan dengan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada : 1. Ibu Lasmanah, S.E., M.Si., selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu, membimbing, mengarahkan serta meluangkan waktunya bagi penulis sampai dengan selesainya skripsi ini. 2. Kedua Orangtua penulis, Mamah dan Bapak tercinta. Terima kasih untuk doa, motivasi, dorongan, dan hal-hal positif yang telah diberikan kepada penulis. Terima kasih Mah, Pa... 3. Ibu Prof. Dr. Hj. Koesbandijah Abdoelkadir, M.S., Ak., selaku Ketua Yayasan Universitas Widyatama. 4. Bpk Dr. H. Mame S. Sutoko, Ir., D.E.A., selaku Rektor Universitas Widyatama. 5. Ibu Sri Astuti Pratminingsih, S.E., M.A., selaku Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama.

6.

Bpk Nugroho Julistiadi S.E., M.M., Phd , selaku Pembantu Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Univesitas Widyatama.

7.

Bpk H. Dr. Tendi Haruman, S.E., M.M., selaku Ketua Program Studi Manajemen S1 dan D3 Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama.

8.

Bpk Iwan Ridwansyah, S.E., selaku Sekretaris Program Studi Manajemen S1 Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama.

9.

Seluruh Staf Pengajar Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama.

10. Seluruh Staf Administrasi dan Staf Perpustakaan serta seluruh Karyawan Universitas Widyatama. 11. Pimpinan Pojok Bursa Efek Universitas Sangga Buana. 12. Kakak dan Adik penulis yang selalu memberikan dorongan dan motivasi. 13. Keluarga besar Bapak Acep Kundrat. Ibu dan Bapak terima kasih buat segalanya. 14. Teman curhat, berkelahi, dan segalanya bagi penulis. Terima kasih Asti Martha Aulia SE. Dukungan dan doa sangat berarti bagi penulis. 15. Teman seperjuangan penulis, Raymond. Terima kasih buat belajar barengnya, buat diskusinya, buat sarannya dan buat dukungannya. 16. Teman-teman kelas B Manajemen, teman-teman di ECOMODA FC, BTP FC, Futsal Iber FC, Timnas Widyatama, Futsal Widyatama, teman-teman Manajemen dan Akuntansi lainnya, Unit Bola, Smansa, Kostan Sangkuriang, komunitas futsal Bandung, teman-teman di Cikampek, Purwakarta dan Bandung serta teman-teman yang penulis kenal. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Bandung, 26 September 2008

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam perusahaan, fungsi keuangan menempati posisi yang sangat penting

yang akan mempengaruhi perkembangan perusahaan. Adapun fungsi keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua kegiatan, yaitu kegiatan mencari dana dan kegiatan menggunakan dana. Kegiatan mencari dana harus dilakukan secara efisien oleh pihak manajemen terutama bagian keuangan. Manajer keuangan harus mencari dana yang diperlukan dengan pengorbanan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan. Oleh karena itu, manajer keuangan harus mempertimbangkan dengan cermat sifat dan biaya dari masing-masing sumber dana yang akan dipilih. Pada prinsipnya pemenuhan kebutuhan dana operasional dan investasi perusahaan dapat disediakan dari dua sumber, yaitu sumber pendanaan yang berasal dari dalam perusahaan (modal intern) dan sumber pendanaan yang berasal dari luar perusahaan (modal ekstern). Sumber pendanaan yang berasal dari dalam perusahaan antara lain terdiri dari modal sendiri dan laba yang ditahan. Sedangkan sumber pendanaan yang berasal dari luar perusahaan, antara lain melalui pinjaman, baik jangka panjang ataupun jangka pendek dan melalui penerbitan saham dan obligasi. Perusahaan yang membutuhkan modal investasi atau dana operasional cenderung memilih sumber pendanaan yang disediakan oleh pasar, yaitu melalui penerbitan saham perusahaan. Pemilihan alternatif ini dikarenakan untuk menghindarkan kemungkinan resiko kondisi debt equity ratio yang terlalu tinggi jika menggunakan pinjaman sehingga membuat cost of capital perusahaan tidak lagi minimal. Dalam penerbitan saham dan obligasi, diperlukan suatu tempat untuk memfasilitasi itu semua, maka keberadaan pasar modal sangat penting. Pasar modal berfungsi sebagai lembaga perantara antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana. Di samping itu pasar modal dapat

mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena pihak investor dapat memilih alternatif investasi yang memberikan tingkat keuntungan (return) yang optimal. Pendapatan yang diperoleh oleh seorang investor apabila mereka menanamkan modalnya pada suatu perusahaan ataupun membeli saham perusahaan terdiri dari dua macam, yaitu: 1) Laba karena selisih harga jual dan harga beli saham (capital gain) 2) Dividen (pembagian laba perusahaan) Capital gain diperoleh ketika harga jual saham lebih tinggi dari harga beli saham tersebut. Sedangkan dividen adalah bagian keuntungan yang diperoleh perusahaan yang dibagikan kepada investor berdasarkan laba operasi ataupun menurut kebijakan perusahaan tersebut. Kebijakan dividen tersebut akan menetapkan berapa besar bagian laba bersih yang akan dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham dan berapa besar bagian dari laba bersih itu yang akan ditahan kembali (retained earning). Untuk memperoleh pendapatan yang diinginkan, maka seorang investor perlu melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan sebelum membuat keputusan untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Salah satu kinerja perusahaan yang dinilai adalah dari aspek keuangan perusahaan. Dan kinerja keuangan ini dapat diketahui dari laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan. Informasi kondisi perusahaan yang ingin diketahui dan dinilai oleh pihak investor adalah terutama mengenai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pertumbuhan laba yang cukup stabil sehingga memberikan keuntungan kepada para investor. Salah satu kinerja keuangan yang banyak dianalisis oleh investor adalah tingkat profitabilitas perusahaan, karena hal ini berkaitan erat dengan tingkat keuntungan yang diharapkan investor dalam kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut.

Menurut Dewi Astuti (2004;36), Para investor dan kreditur sangat berkepentingan dalam

mengevaluasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba saat ini maupun di masa yang akan datang. Banyak terdapat rasio keuangan yang dapat menunjukkan tingkat kinerja suatu perusahaan, di antaranya adalah dividend per share (DPS) dan return on equity (ROE). Dividend per share dipilih dengan pertimbangan, semakin besar tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dividen per lembar saham bagi pemilik, maka akan memberikan koreksi yang positif terhadap harga saham perusahaan yang berimbas pada indeks harga saham. Hal ini akan mempengaruhi investor dalam membuat keputusannya di pasar modal. Pendapatan bagi pemegang saham di lihat dari pembagian dividen. Pendapatan dividen diukur dari besarnya dividend per share. Dividend per share adalah salah satu indikator keuangan yang banyak diperhatikan oleh para investor dalam pertimbangan berinvestasi dalam sebuah perusahaan karena dividend per share menghitung seberapa besar dividen yang akan diterima oleh investor pada setiap lembar saham yang dimiliki, dengan alasan inilah dividend per share dipilih menjadi salah satu variabel dalam penelitian ini. Adapun alasan pemilihan variabel return on equity dalam penelitian ini karena return on equity merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat laba yang dihasilkan dari investasi pemegang saham, dengan demikian return on equity yang tinggi berarti perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan pendapatan bagi para pemegang sahamnya. Tingkat pengembalian yang tinggi ini memiliki kemungkinan pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham pun akan semakin besar. Oleh karena itu, bagi investor yang berkepentingan akan menunjukkan perhatian kepada keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dan prospeknya di masa depan. Dalam penelitian ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada perusahaan yang bergerak dalam sektor pertambangan. Seperti yang kita ketahui, kinerja perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan dapat dikatakan baik. Hal ini dikarenakan perusahaan mengalami peningkatan penjualan yang

berakibat pada peningkatan laba bersih yang cukup signifikan. Peningkatan penjualan diakibatkan dari semakin meningkatnya harga jual komoditas seperti batubara, timah, tembaga, nikel, gas alam dan lainnya dimana komoditas seperti batubara digunakan sebagai energi alternatif pengganti minyak bumi yang dikhawatirkan cadangannya semakin menipis. Menurut Sunarsip, Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence dalam jurnalnya yang berjudul Memperkuat Kinerja Perusahaan Pertambangan, dalam situs Bisnis Indonesia.com, saat ini sektor pertambangan (migas dan nonmigas) dinilai sebagai sektor yang paling bergairah. Penilaian ini memang tidak keliru. Tingginya harga minyak dunia dan komoditas pertambangan lainnya turut membentuk citra ini. Tingginya harga komoditas pertambangan ini tentunya dapat mendongkrak kinerja sektor pertambangan. Euforianya pun sudah terlihat. Kini, saham-saham dari emiten sektor pertambangan menjadi incaran para investor yang berburu gain. Secara mikro, kinerja perusahaan yang tergabung di sektor pertambangan memang mengalami lonjakan besar. Setidaknya ini dapat dilihat dari pencapaian laba perusahaan. Pada 2007, kinerja keuangan perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan (BUMN dan swasta) umumnya meningkat dratis dibandingkan dengan 2006. Dengan perkembangan tersebut, memang pantas bila harga saham dari para emiten pertambangan mengalami lonjakan. Namun, perlu dilihat seberapa besar pengaruh faktor fundamental dan sentimen telah membentuk harga saham tersebut. Berdasarkan pengamatan penulis, faktor sentimen masih cukup besar mempengaruhi harga saham sektor pertambangan kita, terkait dengan harga komoditas pertambangan di pasar global. Bank Indonesia telah melansir laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan I 2008. Menarik menganalisis kinerja NPI dengan kinerja sektor pertambangan kita. Ini mengingat, kinerja sektor eksternal kita selama 2007-2008 ini tidak lepas dari pengaruh faktor harga minyak. Dari sisi volume, ekspor pertambangan pada 2007 juga mengalami kenaikan 7,8% atau mencapai 245 juta ton. Kenaikan volume ekspor pertambangan ini terjadi pada komoditas nikel (tumbuh 103,7%), aluminium

(65,5%)dan batubara (7,9%). Namun, kinerja yang diperoleh pada 2007 ini tidak berlanjut pada triwulan I 2008. Di tengah tingginya harga komoditas dunia, nilai ekspor sektor pertambangan pada triwulan I 2008 hanya mencapai US$5,5 miliar (pangsa 20,7%), atau hanya tumbuh 1,5%. Pertumbuhan ini sangat rendah karena komoditas unggulan seperti tembaga dan batubara, tumbuh negatif masing-masing 27,2%, dan 1,3%. Hanya ekspor komoditas timah (tumbuh 288,5%) dan nikel (10,3%) yang tumbuh cukup tinggi, terutama didorong oleh tingginya volume ekspor. Dengan laba bersih yang meningkat, maka kemampuan perusahaan untuk memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya akan jauh lebih besar. Hal tersebut berdampak pula pada kemampuan perusahaan yang tinggi untuk memberikan keuntungan kepada pemegang sahamnya atas modal yang telah ditanamkannya (modal sendiri). Dengan semakin meningkatnya dividen yang diberikan kepada pemegang saham, maka saham perusahaan yang bersangkutan akan diburu oleh para investor, sehingga mengakibatkan harga saham akan naik. Dengan permintaan yang semakin tinggi namun yang tersedia di pasar terbatas maka harga saham akan naik dengan sendirinya. Tetapi pada kenyataannya harga saham tidak selalu meningkat. Bahkan harga saham sering berfluktuasi dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat dilihat dari sumber yang disediakan oleh yahoo.finance di mana dapat dilihat bahwa harga saham perusahaan sering berfluktuasi. Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian perkembangan dividend per share dan return on equity serta dampaknya terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan dengan judul penelitian Pengaruh dividend per share dan return on equity terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007.

1.2

Identifikasi Masalah Dari latar belakang penelitian di atas maka masalah yang dapat

diidentifikasi sebagai berikut: 1. Bagaimana perkembangan dividend per share dan return on equity perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 2. Bagaimana perkembangan harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 3. Bagaimana pengaruh dividend per share dan return on equity secara parsial maupun simultan terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari penyusunan penelitian ini adalah dalam rangka memperoleh

data dan informasi mengenai dividend per share dan return on equity untuk diolah sekaligus dianalisis serta menghitung pengaruh terhadap harga saham, sedangkan yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis perkembangan dividend per share dan return on equity pada perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 2. Menganalisis perkembangan harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 3. Menganalisis perkembangan dividend per share dan return on equity secara parsial maupun simultan terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007

1.4

Kegunaan Hasil Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

pihak-pihak sebagai berikut: 1. Bagi perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan yang menjadi unit analisis, semoga hasil dari penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam menentukan kebijakan dividen perusahaan dan peningkatan kinerja keuangan perusahaan, sehingga dapat meningkatkan harga saham

2. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk lebih memahami bagaimana cara menganalisis dan memecahkan masalah-masalah yang nyata melalui teori yang didapatkan dalam bangku kuliah 3. Bagi Universitas dan rekan-rekan mahasiswa, khususnya mahasiswa yang memilih konsentrasi manajemen keuangan, dapat memperoleh tambahan pengetahuan mengenai pengaruh dividend per share dan return on equity terhadap harga saham perusahaan 4. Bagi investor, penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu sudut pandang baru dalam menilai keadaan perusahaan dalam hubungannya dengan keputusan memilih saham perusahaan di pasar modal

1.5

Kerangka Pemikiran Kondisi keuangan suatu perusahaan merupakan faktor yang penting untuk

berinvestasi dalam saham. Kondisi keuangan perusahaan yang baik memberikan laba yang tinggi bagi perusahaan. Laba yang tinggi akan membawa dampak positif, investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan karena termotivasi untuk mendapatkan dividen dari perusahaan yang bersangkutan. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, maka harga saham akan naik seiring dengan banyaknya permintaan. Perubahan harga saham ini akan memberikan keuntungan yang tinggi kepada para pemegang sahamnya. Investor membutuhkan informasi-informasi keuangan dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Salah satu sumber informasi yang dapat dipergunakan oleh investor dalam mengambil keputusan investasi adalah laporan keuangan. Laporan keuangan memuat berbagai macam gambaran dari suatu perusahaan emiten mengenai kondisi performa dan prospek perusahaan tersebut di masa yang akan datang. Sehingga investor dapat menggunakan berbagai macam analisis untuk menilai kinerja perusahaan emiten, membandingkannya dengan perusahaan-perusahaan emiten sejenis sekaligus dapat memutuskan untuk membeli, menjual atau tetap mempertahankan modalnya dalam kepemilikan saham tertentu.

Informasi yang berasal dari perusahaan emiten yang pada umumnya disediakan bagi para pelaku pasar modal dan dipublikasikan dalam bentuk laporan keuangan adalah terdiri dari neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan modal dan arus kas. Publikasi laporan keuangan ini sangat penting, seperti yang diungkapkan oleh: Rico Lesmana dan Rudy Surjanto (2003;3), Tujuan utama dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi-informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam mengambil keputusan secara ekonomi. Hasil analisis finansial yang diperoleh dari laporan keuangan tersebut akan digunakan oleh para investor untuk mengambil keputusan dalam menentukan saham mana yang akan dibeli, dijual, atau dipertahankan. Seperti yang telah dikemukakan dalam latar belakang penelitian, pendapatan yang diperoleh oleh seorang investor yang menanamkan modalnya pada suatu perusahaan ataupun membeli saham perusahaan, salah satunya adalah dividen. Dividen merupakan bagian keuntungan bersih setelah pajak yang dibagikan kepada pemegang saham dibagi dengan jumlah saham yang beredar. Karena dividen merupakan salah satu potensi keuntungan dari investasi melalui saham, maka pihak manajemen memperhatikan kebijakan dividen yang akan diterapkan dalam rangka menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk kepemilikan saham. Menurut Martono dan Agus Harjito (2007;253), Kebijakan dividen (dividen policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Ross, Westerfield dan Jaffe (2002;460), Clearly, investors prefer higher dividend to lower dividend at any single date if the dividend level is held constant every other date. In other

words, if the dividend per share for each other date is held constant, the stock price will rise. Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa dividen merupakan faktor yang berpengaruh terhadap harga saham. Pembayaran dividen selalu diikuti dengan kenaikan harga saham, sedangkan penurunan dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham. Dan ini menunjukkan bahwa investor secara keseluruhan lebih menyukai pembayaran dividen. Selain melihat dividen per saham, para investor biasanya juga melihat tingkat profitabilitas perusahaan, hal ini berkaitan erat dengan tingkat keuntungan atau pendapatan yang diharapkan investor dari kepemilikan saham. Investor sangat perlu untuk mengetahui secara baik tingkat profitabilitas perusahaan agar investor dapat memperoleh pendapatan di masa yang akan datang. Profitabilitas menurut Dewi Astuti (2004;36), Kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba. Satusatunya ukuran profitabilitas yang paling penting adalah laba bersih. Para investor dan kreditur sangat berkepentingan dalam mengevaluasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba saat ini maupun di masa mendatang. Sedangkan menurut Agus Sartono (2001;122), Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Kemudian menurut Gibson (2001;285), Profitabilitas is the relationship between revenue and cost generated by using the firm assets-both current and fixed in productivity activity. Rasio profitabilitas sendiri memiliki beberapa jenis penilaian yang penggunaannya tergantung pada keputusan investor di dalam melakukan perhitungan. Salah satunya adalah rasio pengembalian atas ekuitas saham biasa. Rasio ini menunjukkan keberhasilan atau kegagalan pihak manajemen dalam memaksimumkan tingkat hasil pengembalian investasi pemegang saham dan menekankan pada hasil pendapatan sehubungan dengan jumlah yang

diinvestasikan. Adapun rasio ini terkenal pula dengan sebutan return on equity

(ROE). Analisis ini sering digunakan oleh para investor karena di dalamnya mencerminkan kemungkinan tingkat laba yang akan diperoleh pemegang saham. Return on equity dapat dicari dengan pendapatan setelah pajak dibagi dengan total modal sendiri. Return on equity digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Rasio ini sangat umum digunakan oleh para investor karena rasio ini mencerminkan kemungkinan laba yang dapat diperoleh pemegang saham, karena pemegang saham berarti sebagai pemilik dari perusahaan. Dengan demikian return on equity yang tinggi berarti perusahaan tersebut memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi para pemegang saham. Menurut Susan Irawati (2006;61), Return on equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Martono dan Agus Harjito (2007;60), Return on equity (ROE) atau yang sering disebut dengan rentabilitas modal sendiri dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Dengan demikian return on equity dapat dirumuskan menurut Gitman (2003;145), ROE = Net Profit After Tax / Stockholders Equity x 100% Return on equity yang tinggi dapat diartikan bahwa perusahaan akan memberikan peluang tingkat pengembalian atau pendapatan yang cukup besar bagi para investor. Tingkat pengembalian yang tinggi memiliki kemungkinan pendapatan yang diharapkan oleh investor akan naik pula dan hal ini akan berdampak pada peningkatan harga saham. Sehingga dapat disimpulkan bahwa return on equity akan mempengaruhi harga saham. Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2007;317), Jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, harga saham akan meningkat dengan kata lain profitabilitas akan meningkatkan harga saham.

Sedangkan menurut Heru Tjaraka (2008) dalam jurnalnya yang berjudul Analisis-analisis fundamental yang berpengaruh terhadap harga saham, dalam situs www.google.com, mengemukakan bahwa, Return on equity sangat mempengaruhi harga saham perusahaan yang bersangkutan di samping faktor-faktor yang lain seperti earning per share, debt equity ratio dan lain-lain. Berlakunya hukum permintaan dan penawaran akan mempengaruhi harga saham. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan perekonomian, kondisi pasar dan industri. Semakin banyak permintaan, maka semakin tinggi harga saham tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan apabila suatu perusahaan mampu memberikan dividen yang cukup tinggi dan menunjukkan tingkat profitabilitas, dalam hal ini return on equity yang cukup baik, maka investor akan lebih tertarik dengan saham perusahaan yang bersangkutan. Semakin banyak investor yang membeli saham, maka harga saham tersebut akan naik. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menggambarkannya dengan bentuk skema pemikiran sebagai berikut:

Gambar 1.1 Skema Kerangka Pemikiran Perusahaan Laporan Keuangan

Neraca

Laporan Laba/Rugi Modal

Aktiva

Kewajiban

Pendapatan

Laba

Biaya

Modal Pinjaman

Modal Sendiri Dividen ROE Retained Earning

Keterangan : Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti =

Harga Saham

Dari kerangka pemikiran di atas dapat ditarik hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh dari dividend per share dan return on equity secara simultan terhadap harga saham perusahaan sektor pertambangan periode 2002-2007 2. Terdapat pengaruh secara parsial dari dividend per share terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 20022007 3. Terdapat pengaruh secara parsial dari return on equity terhadap harga saham pada perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 20022007

1.6

Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penyusunan penelitian

ini adalah metode deskriptif dan metode verifikatif. Menurut Moch. Nazir (2003;4), Metode deskriptif adalah suatu metode yang berusaha

menyimpulkan, menyajikan serta menganalisis data agar cukup jelas. Sedangkan menurut Marzuki (2002;7), Metode verifikatif adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode statistik secara parsial (uji t) yaitu menggunakan analisis regresi linier sederhana, koefisien korelasi, dan koefisien determinasi. Sedangkan untuk menguji hipotesis secara simultan digunakan uji F. Selanjutnya nilai pengujian yang diperoleh dibandingkan dengan tabel distribusi t dan F.

1.7

Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data secara langsung di

Internet atau dengan mengunjungi pusat referensi pasar modal di Universitas

Sangga Buana. Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2008.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Manajemen Keuangan Manajemen keuangan adalah salah satu fungsi operasional perusahaan

yang sangat penting di samping fungsi operasional lainnya seperti manajemen pemasaran, manajemen operasi, manajemen sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Menurut Susan Irawati (2006;1), Manajemen keuangan adalah suatu proses dalam pengaturan aktivitas atau kegiatan keuangan dalam suatu organisasi, dimana di dalamnya termasuk kegiatan planning, analisis dan pengendalian terhadap kegiatan keuangan yang biasanya dilakukan oleh manajer. Sedangkan menurut Sutrisno (2003;3), Manajemen keuangan adalah semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Penerapan proses manajemen dalam bidang keuangan ini tentunya disertai dengan tujuan tertentu, yaitu agar berbagai aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya sehingga manajemen dapat memaksimalkan kekayaan pemilik perusahaan dan dapat meminimalkan biaya guna pengambilan keputusan yang efektif dan efisien.

2.2

Laporan Keuangan Informasi mengenai perusahaan merupakan unsur yang penting bagi

investor untuk membuat keputusan investasi, karena informasi tersebut memberikan gambaran suatu perusahaan baik mengenai kondisi performa dan prospek dimasa yang akan datang. Informasi yang berasal dari perusahaan emiten yang umum tersedia bagi para pelaku pasar dan dipublikasikan adalah laporan keuangan.

2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan pada hakikatnya merupakan hasil dari proses akuntansi yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan dengan menyajikan laporan-laporan periodik berisi data keuangan yang akan digunakan oleh pihak manajemen, investor, kreditur, dan pihak-pihak lain di luar perusahaan yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi. Informasi yang tertuang di dalam laporan keuangan adalah mengenai kekuatan finansial dan kinerja perusahaan pada saat tahun yang berlaku. Yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah suatu daftar yang menggambarkan posisi keuangan pada suatu saat tertentu dan suatu daftar yang menggambarkan hasil operasi suatu perusahaan pada periode tertentu ditambah dengan laporan keuangan lainnya, biasanya digunakan bermacam-macam lampiran untuk menambah data yang sudah ada dalam laporan keuangan itu. Daftar-daftar itu biasanya dianggap sebagai bagian dari laporan keuangan. Menurut Martono dan Agus Harjito (2007;51), Laporan keuangan merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Sedangkan menurut Slamet Sugiri (2001;15), Laporan keuangan hasil akhir dari proses akuntansi, laporan keuangan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh pelbagai pihak (misal: pemilik dan kreditur). Laporan keuangan yang utama terdiri dari laporan rugi-laba, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Kemudian menurut Munawir (2004;2), Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihakpihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Dari kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan yang pertama terdiri dari neraca dan perhitungan rugi-laba, sedangkan laporan keuangan lainnya merupakan laporan pelengkap yang sifatnya membantu untuk

memperoleh penjelasan lebih lanjut seperti laporan perubahan modal dan laporan arus kas. Selain itu, laporan keuangan berisi informasi mengenai posisi keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk melihat kinerja perusahaan. Bagi investor yang melakukan analisis perusahaan, informasi laporan keuangan yang dipublikasikan merupakan salah satu jenis informasi yang paling mudah dan murah didapatkan dibanding dengan alternatif informasi lainnya. Di samping itu, informasi laporan keuangan akuntansi sudah cukup menggambarkan kepada kita sejauhmana perkembangan kondisi perusahaan selama ini dan apa saja yang telah dicapainya. Menurut Warren, Reeve, dan Fess (2005;24), Laporan keuangan yang utama bagi perusahaan perseorangan adalah laporan laba-rugi, laporan ekuitas pemilik (laporan perubahan modal), neraca, dan laporan arus kas. Berdasarkan pernyataan di atas maka laporan keuangan yang paling utama bagi perusahaan perseorangan adalah neraca, laporan rugi-laba, laporan perubahan ekuitas pemilik, dan laporan arus kas. Apabila terdapat laporan yang lain maka itu hanya sebagai laporan tambahan.

2.2.2 Tujuan dan Pemakai Laporan Keuangan Hasil akhir dari suatu proses pencatatan keuangan di antaranya adalah laporan keuangan. Laporan keuangan ini merupakan pencerminan dari prestasi manajemen perusahaan pada satu periode tertentu. Pada dasarnya laporan keuangan dimaksudkan untuk menyediakan informasi keuangan untuk digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Menurut IAI (2004;4), tujuan laporan keuangan ada tiga yaitu: 1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2. Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara

umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. 3. Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilaksanakan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Sedangkan para pemakai laporan keuangan menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005;3-5), 1. Investor Investor sangat berkepentingan terhadap risiko yang ada dan hasil pengembangan dari investasi yang dilakukannya. 2. Kreditur Kreditur membutuhkan informasi untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunga dapat dibayar pada saat jatuh tempo. 3. Pemasok dan kreditur lainnya Pemasok dan kreditur tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. 4. Shareholders Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan perusahaan, pembagian keuntungan, dan penambahan modal berikutnya. 5. Pelanggan Pelanggan berkepentingan terhadap informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila terlibat dengan perusahaan lain. 6. Pemerintah Pemerintah berkepentingan terhadap alokasi sumber daya dan oleh karenanya berkepentingan dengan aktivitas perusahaan.

7. Karyawan Karyawan memerlukan informasi untuk melakukan penilaian atas kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa.

8. Masyarakat Laporan keuangan membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta aktivitasnya.

2.2.3 Manfaat Laporan Keuangan Manfaat dari laporan keuangan itu sendiri terletak pada interpretasi masing-masing pemakainya. Pemakai dalam konteks ini adalah pihak-pihak yang berkepentingan. Umumnya secara ekonomis terhadap perusahaan yang

mengeluarkan laporan keuangan yang bersangkutan. Manfaat internal dari hasil interpretasi laporan keuangan di antaranya adalah laporan tingkat kesehatan keuangan perusahaan, kondisi keuangan perusahaan dibandingkan dengan perusahaan pesaing, efektifitas manajemen dalam pengoperasian perusahaan tersebut, sedangkan secara eksternal dari hasil interpretasi laporan keuangan di antaranya adalah bagi investor sebagai laporan untuk menanamkan atau menarik modalnya pada perusahaan, bagi kreditur untuk membantu pengambilan keputusan dan dalam hal pemberian pinjaman kepada perusahaan dan sebagainya. Secara luas manfaat pokok dari laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai tingkat kesehatan keuangan perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan, dari hasil analisis tersebut diketahui potensi-potensi dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki perusahaan sehingga pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan dapat mempergunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

2.2.4 Analisis Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang paling penting bagi para pemakai laporan keuangan dalam rangka pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan akan menjadi lebih bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi apabila dengan informasi keuangan tersebut

dapat diprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan mengolah lebih lanjut laporan keuangan melalui proses perbandingan, evaluasi dan analisis trend akan diperoleh prediksi tentang apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Disinilah arti penting suatu analisis laporan keuangan.

2.2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan adalah penelaahan dengan mempelajari hubungan-hubungan atau tendensi-tendensi untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasional serta perkembangan perusahaan menurut laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan yang bersangkutan. Menurut Aliminsyah dan Padji MA (2005;166), analisis laporan keuangan adalah: Mencari hubungan yang ada antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain agar dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan. Sedangkan menurut Dewi Astuti (2004;29), Analisis laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan investasi. Kemudian menurut Brigham dan Houston (2004;100), Financial statement analysis generally begins with asset of financial ratios designed to reveal a companies strength and weakness as compared with the other companies in the same industry had to show weather its financial position has been improving or deriorating overtime . Artinya, analisis laporan keuangan pada umumnya dimulai dari aktiva rasio keuangan yang dibuat untuk menyatakan kekuatan dan kelemahan perusahaan yang dibandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri yang sama dimana ditunjukkan dalam posisi keuangan yang sama dalam waktu yang sama . Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan adalah membedah dan menguraikan pos-pos laporan keuangan untuk mencari hubungan antara unsur-unsur dalam laporan keuangan agar dapat

diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan sehingga informasi tersebut dapat di gunakan dalam membuat keputusan bisnis dan investasi.

2.2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan Tujuan analisis laporan keuangan adalah menggunakan data historis akuntansi untuk membantu memprediksi bagaimana kinerja perusahaan di masa mendatang. Hal ini merupakan hal terpenting dari suatu analisis laporan keuangan. Investor pada prinsipnya sangat memperhatikan tingkat profitabilitas perusahaan yang akan dapat menjamin tingkat keuntungan yang akan diperoleh. Sedangkan dari sudut manajemen, analisa laporan keuangan berguna sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan dimasa mendatang. Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty (2005;57), Tujuan dari analisis laporan keuangan adalah mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, terkaan, dan intuisi. Mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakkan pada setiap proses pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan tidaklah berarti mengurangi kebutuhan akan penggunaan pertimbanganpertimbangan melainkan hanya memberikan dasar yang layak dan sistematis dalam menggunakan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Sedangkan menurut Harahap (2004;195-197), tujuan analisis laporan keuangan adalah: 1. Dapat memberikan informasi yang lebih dalam daripada yang terdapat dari laporan keuangan biasa. 2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan. 3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan. 4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.

5. Mengetahui

sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-

model dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi dan peningkatan. 6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan. Dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan merupakan tujuan analisa laporan keuangan juga antara lain: a. Dapat menilai prestasi perusahaan b. Dapat memproyeksi keuangan perusahaan c. Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek waktu tertentu: 1) Posisi keuangan (asset, neraca, dan modal) 2) Hasil usaha perusahaan (hasil dan biaya) 3) Likuiditas 4) Solvabilitas 5) Aktivitas 6) Rentabilitas dan profitabilitas 7) Indikator pasar modal d. Menilai perkembangan dari waktu ke waktu e. Melihat komposisi struktur keuangan dan arus kas 7. Dapat menentukan peringkat perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis. 8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal. 9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya. 10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang. Dengan menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan maka akan diperoleh semua jawaban yang berhubungan dengan masalah posisi keuangan perusahaan dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Dari semua tujuan tersebut, tujuan yang terpenting dari analisis laporan keuangan

adalah untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, terkaan, dan intuisi serta mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian pada setiap proses pengambilan keputusan.

2.2.5 Analisis Rasio Keuangan Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analisis keuangan memerlukan beberapa tolok ukur. Tolok ukur yang sering dipakai adalah analisis rasio keuangan, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya. Menurut Harahap (2004;297), Analisis rasio keuangan adalah angka yang diperoleh hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti). Sedangkan menurut Susan Irawati (2006;22), Rasio keuangan merupakan suatu teknik analisis dalam bidang manejemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai alat ukur kondisikondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu, ataupun hasil-hasil usaha dari suatu perusahaan pada setiap periode tertentu dengan jalan membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan, baik daftar neraca maupun rugilaba. Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis rasio keuangan merupakan suatu teknik dalam manajemen keuangan yaitu dengan membandingkan dua buah variabel yang dapat diambil dari neraca ataupun dari laporan rugi-laba.

2.2.6 Jenis-Jenis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan merupakan salah satu teknik dalam menganalisa laporan keuangan yang banyak digunakan untuk menilai kinerja perusahaan karena penggunaannya yang relatif mudah. Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2007;70),pengelompokkan rasio keuangan menurut tujuan pengukuran, yaitu:

1. Rasio Likuiditas, yaitu rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. 2. Rasio Leverage, yaitu rasio yang mengukur sejauhmana perusahaan dibiayai oleh hutang. 3. Rasio Aktivitas, yaitu rasio yang dimaksudkan untuk mengukur tingkat efektifitas pemanfaatan sumber daya perusahaan. 4. Rasio Profitabilitas, yaitu rasio yang menunjukkan ukuran tingkat efektifitas manajemen seperti ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan dari pendapatan investasi. 5. Rasio Pertumbuhan, yaitu rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonomi di tengah pertumbuhan ekonomi dan sektor usaha. 6. Rasio Penilaian, yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar usaha di atas biaya investasi.

2.2.6.1 Rasio Profitabilitas Salah satu rasio yang digunakan dalam menganalisa kinerja keuangan dari suatu perusahaan adalah rasio profitabilitas. Menurut Martono dan Agus Harjito (2007;59), Rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis rasio yang menunjukkan laba dalam hubungannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan laba dalam hubungannya dengan investasi. Rasio profitabilitas merupakan hal yang sangat penting, tidak hanya bagi manajemen sebagai alat ukur kinerja perusahaan, tetapi juga bagi investor dan kreditur. Kedua rasio ini merupakan efektifitas keseluruhan dari operasi perusahaan. Menurut Agus Sartono (2001;122), Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Sedangkan menurut Dewi Astuti (2004;36),

Profitabilitas adalah suatu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Satu-satunya ukuran profitabilitas yang paling penting adalah laba bersih. Para investor dan kreditur sangat berkepentingan dalam mengevaluasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba saat ini maupun di masa mendatang. Dengan demikian bagi investor sangat berkepentingan dengan analisa profitabilitas ini, karena memuat informasi mengenai tingkat keuntungan yang akan diterimanya. Menurut Susan Irawati (2006;58), untuk mengukur rasio profitabilitas digunakan rasio-rasio sebagai berikut: 1. Net Profit Margin (NPM) 2. Gross Profit Margin (GPM) 3. Operating Profit Margin (OPM) 4. Operating Ratio (OR) 5. Return on Assets (ROA) 6. Return on Equity (ROE) 7. Earning per Share (EPS) 8. Return on Investment (ROI)

Dalam penelitian ini yang penulis teliti lebih lanjut adalah mengenai analisis return on equity (ROE), karena ini berkaitan langsung dengan investasi dari pemegang saham, sehingga dapat mencerminkan pendapatan yang diterima oleh pemegang saham.

2.3 Return on Equity 2.3.1 Pengertian Return on Equity Rentabilitas modal sendiri dalam hal ini adalah pengembalian atas ekuitas saham biasa digunakan untuk mengukur tingkat laba yang dihasilkan dari investasi pemegang saham. Investor memandang bahwa return on equity merupakan indikator profitabilitas yang penting, karena return on equity merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam rangka

melakukan tugasnya yakni menghasilkan keuntungan yang maksimal bagi para pemilik modal. Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2007;74), Return on equity merupakan rasio untuk mengukur seberapa banyak keuntungan (laba) yang menjadi hak pemilik modal sendiri. Sedangkan menurut Susan Irawati (2006;61), Return on equity atau yang sering disebut dengan rate of return on net worth, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Kemudian menurut Ross, Westerfield, dan Jaffe (2002;37), Return on equity is defined as net income (after interest and taxes) dividend by average common stockholders equity. Artinya, return on equity adalah laba bersih yang dibagi (setelah bunga dan pajak) dengan rata-rata modal sendiri. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan, bahwa return on equity adalah rasio yang digunakan oleh para investor untuk melihat sejauhmana perusahaan dapat memberikan keuntungan di masa yang akan datang. Atau dengan kata lain, dengan return on equity yang tinggi, perusahaan memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi para pemegang saham. Dalam hal ini akan berdampak pada peningkatan harga saham.

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Return on Equity Banyak hal yang mempengaruhi return on equity berfluktuasi yaitu karena berbagai faktor yang terjadi, baik itu dalam perusahaan sendiri ataupun karena faktor dari luar perusahaan. Menurut Agus Sartono (2001;124), Return on equity atau return on net worth dipengaruhi oleh besar kecilnya hutang perusahaan. Apabila proporsi hutang makin besar maka rasio ini akan makin besar pula.

Dari pernyataan di atas maka faktor yang mempengaruhi tingkat return on equity salah satunya adalah tingkat hutang perusahaan. Tingkat hutang perusahaan yang tinggi maka rasio pengembalian akan tinggi pula. Ini dikarenakan kemampuan perusahaan untuk memberikan keuntungan yang besar kepada para pemegang saham. Karena alasan dana yang tersedia cukup besar yaitu dana dari pinjaman pihak luar, maka perusahaan mampu memberikan keuntungan yang tinggi bagi para pemegang saham.

2.3.3 Faktor yang Menentukan Return on Equity Faktor yang menentukan return on equity besar atau kecil sangat bergantung pada kinerja perusahaan itu sendiri. Kinerja perusahaan yang baik akan memberikan tingkat return on equity yang baik dan atau sebaliknya. Menurut Susan Irawati (2006;61), ROE = Laba Bersih Setelah Pajak / Total Modal Sendiri x 100% Dari rumus di atas maka dapat dikatakan bahwa faktor yang menentukan tingkat return on equity adalah jumlah laba bersih setelah pajak dan jumlah total modal sendiri. Jika jumlah laba bersih yang didapat perusahaan tinggi sementara jumlah total modal sendiri perusahaan rendah maka tingkat return on equity akan tinggi. Namun sebaliknya apabila jumlah laba bersih yang didapat perusahaan rendah sementara jumlah total modal sendiri perusahaan tinggi maka tingkat return on equity akan rendah. Menurut Sri Hasnawati (2006) dalam jurnalnya yang berjudul Penilaian saham, memahami cara-cara berinvestasi di pasar modal, dalam situs www.google.com mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan tingkat return on equity, yaitu: 1. Tax (Pajak) Semakin tinggi pajak yang diberikan oleh perusahaan maka return on equity akan rendah. Hal ini dikarenakan kas perusahaan yang lebih besar (banyak) digunakan untuk pembayaran pajak. 2. Profit Margin

Semakin tinggi profit margin yang didapat, maka return on equity akan semakin tinggi karena tingkat penjualan yang tinggi menunjukkan tingkat keuntungan yang didapat yang dengan sendirinya jika laba besar maka tingkat return on equity akan tinggi pula. 3. Asset Turnover Semakin efisien (tinggi) tingkat perputaran aktiva maka semakin efisien kas perusahaan sehingga tingkat return on equity akan tinggi pula. Hal ini dikarenakan kas perusahaan dapat dihemat sehingga kas perusahaan tetap stabil yang berakibat pada tingkat return on equity pun akan tinggi. 4. Financial Leverage Semakin tinggi tingkat financial leverage maka semakin rendah tingkat return on equity. Hal ini dikarenakan dengan semakin tinggi tingkat financial leverage maka semakin banyak hutang yang digunakan sehingga kas perusahaan lebih banyak untuk membayar hutang.

2.4 Dividen 2.4.1 Pengertian Dividen Investasi dalam bentuk saham akan memberikan dua jenis keuntungan kepada investor, yaitu keuntungan berupa dividen dan capital gain. Capital gain diperoleh dari selisih harga jual dan beli saham. Sedangkan dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan. Menurut Tangkilisan dan Hessel (2003;227), Dividen adalah bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada para pemegang saham (pemilik modal sendiri, equity). Sedangkan menurut Rusdin (2006;73), Dividen adalah bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Kemudian menurut Watson dan Head (2004;178), A dividend is a cash payment made on a quarterly or semi-annual basis by company to its shareholders. It is a distribution of after tax profit.

Artinya, dividen adalah pembayaran tunai kepada para pemegang saham yang dibuat oleh perusahaan yang dilakukan per empat bulan sekali atau setengah tahun sekali. Dan ini termasuk penyaluran keuntungan perusahaan dari laba setelah pajak. Sehingga dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dividen adalah bagian keuntungan bersih setelah pajak yang dibagikan kepada pemegang saham. Karena dividen merupakan salah satu potensi keuntungan dari investasi melalui saham, maka pihak manajemen perusahaan perlu memperhatikan kebijakan dividen yang akan diterapkan dalam rangka menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan dalam bentuk kepemilikan saham.

2.4.2 Jenis-Jenis Dividen Terdapat beberapa jenis dividen yang dapat dibayarkan kepada para pemegang saham, tergantung pada posisi dan kemampuan perusahaan yang bersangkutan. Berikut ini adalah jenis-jenis dividen menurut Brigham dan Houston (2004;95): 1. Cash Dividend (Dividen tunai) Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Pada umumnya cash dividend lebih disukai oleh para pemegang saham dan lebih sering dipakai perseroan jika dibandingkan dengan jenis dividen yang lain. 2. Stock Dividend (Dividen saham) Stock dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Pembayaran stock dividend juga harus disarankan adanya laba atau surplus yang tersedia, jangan adanya pembayaran dividen saham ini maka jumlah saham yang beredar meningkat, namun pembayaran dividen saham ini tidak akan merubah posisi likuiditas perusahaan karena yang dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas perusahaan. 3. Property Dividend (Dividen barang) Property dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk barang (aktiva selain kas). Property dividend yang dibagikan ini haruslah merupakan

barang yang dapat dibagi-bagi atau bagian-bagian yang homogen serta penyerahannya kepada pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan. 4. Scrip Dividend Scrip dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk surat (scrip) janji hutang. Perseroan akan membayar sejumlah tertentu dan pada waktu tertentu, sesuai dengan yang tercantum dalam scrip tersebut. Pembayaran dalam bentuk ini akan menyebabkan perseroan mempunyai hutang jangka pendek kepada pemegang scrip. 5. Liquidating Dividend Liqidating dividend adalah dividen yang dibagikan berdasarkan pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

2.4.3 Kebijakan Dividen 2.4.3.1 Pengertian Kebijakan Dividen Kebijakan dividen merupakan suatu keputusan untuk menginvestasikan kembali laba yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan atau untuk membagikannya kepada pemegang saham (investor). Menurut Martono dan Agus Harjito (2007;253), Kebijakan dividen (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Sutrisno (2003;303), Kebijakan dividen adalah memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan selama satu periode akan dibagi semua atau dibagi sebagian untuk dividen dan sebagian lagi tidak dibagi dalam bentuk laba ditahan. Kemudian menurut Gitman (2003;553),

Dividend policy is the firms plan action to be followed whenever dividend decision must be made. Artinya, kebijakan dividen adalah kegiatan rencana perusahaan untuk membuat keputusan apakah dividen akan dibagikan atau tidak. Dari pengertian kebijakan dividen tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen adalah suatu keputusan untuk menginvestasi kembali laba yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan atau untuk membagikannya kepada para pemegang saham.

2.4.3.2 Teori Kebijakan Dividen Teori kebijakan dividen menjelaskan bagaimana sifat dari dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Teori dari Kebijakan dividen ini akan mempengaruhi harga saham. Menurut Ridwan Sundjaja dan Inge Barlian (2003;383-387), ada tiga teori yang membahas tentang kebijakan dividen dan berpengaruh terhadap harga saham. Ketiga teori tersebut adalah: a. Teori Residu Dividen Teori ini menjelaskan bahwa investor lebih senang apabila perusahaan menahan keuntungannya untuk diinvestasikan kembali daripada jika keuntungan itu dibayarkan berupa dividen di mana re-investasi akan menghasilkan lebih banyak dibandingkan saham-saham lain yang risikonya kira-kira seimbang. b. Teori Irrelevansi Dividen Teori ini menjelaskan bahwa kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan. c. Teori Relevansi Dividen Teori ini menjelaskan bahwa investor umumnya menghindari risiko dan dividen yang diterima sekarang mempunyai risiko yang lebih kecil daripada dividen yang diterima di masa yang akan datang. perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari asset

2.4.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Kebijakan dividen yang diambil perusahaan, sangat bergantung pada berbagai faktor yang terjadi, baik itu yang terjadi di dalam perusahaan maupun yang terjadi di luar perusahaan. Menurut Agus Sartono (2001;292-295), faktor-faktor yang

mempengaruhi kebijakan dividen ada lima yaitu: 1. Kebutuhan dana perusahaan Kebutuhan dana perusahaan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen karena posisi kas perusahaan harus diperhatikan. 2. Likuiditas perusahaan Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen karena dividen merupakan kas keluar bagi perusahaan, maka semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. 3. Kemampuan meminjam Perusahaan yang memiliki kemampuan meminjam lebih besar akan memiliki kemampuan untuk membayar dividen yang lebih besar pula. 4. Keadaan pemegang saham Jika keadaan pemegang saham lebih besar berorientasi pada capital gain, maka dividend payout akan rendah, sehingga memungkinkan perusahaan untuk menahan laba untuk investasi yang profitable. 5. Stabilitas dividen Bagi para investor faktor stabilitas dividen akan lebih menarik daripada dividend payout ratio yang tinggi.

2.4.3.4 Jenis-Jenis Kebijakan Dividen Ada beberapa bentuk pemberian dividen secara tunai atau cash dividend yang diberikan kepada pemegang saham. Adapun bentuk kebijakan tersebut menurut Sutrisno (2003;305-307), ada empat yaitu: 1. Kebijakan pemberian dividen yang stabil

Yaitu dividen akan diberikan secara tetap per lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan berfluktuasi. 2. Kebijakan dividen yang meningkat Yaitu perusahaan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil. 3. Kebijakan dividen dengan rasio yang konstan Yaitu perusahaan memberikan dividen yang besarnya mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan. 4. Kebijakan dividen reguler yang rendah ditambah ekstra Yaitu perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan ekstra dividen. 2.5 Saham

2.5.1 Pengertian Saham Saham merupakan salah satu efek yang diperdagangkan di pasar modal. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa si pemilik kertas adalah pemilik perusahaan penerbit kertas tersebut. Dengan demikian jika seorang investor membeli saham, maka ia akan menjadi pemilik atau pemegang saham perusahaan yang bersangkutan. Saham adalah tanda bukti kepemilikan atau keikutsertaan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan terbuka. Bagi perusahaan yang bersangkutan, hasil yang diterima dari penjualan saham-sahamnya akan tetap tertanam di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya, meskipun bagi pemegang saham itu sendiri bukanlah merupakan penanaman yang permanen, karena setiap waktu pemegang saham dapat menjual sahamnya. Menurut Ardiyos (2001;244), Saham adalah bagian dari modal sendiri di dalam perseroan dan bukti kepemilikannya disebut saham. Sedangkan menurut Rusdin (2006;68), Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan.

Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan sehingga para pemegang saham berhak pula menentukan arah kebijakan perusahaan melalui rapat umum pemegang saham. Besarnya risiko yang ditanggung pemegang saham adalah sebesar jumlah saham yang dimiliki apabila perusahaan itu bangkrut.

2.5.2 Jenis-Jenis Saham Saham yang beredar di masyarakat terdapat dalam berbagai jenis. Adapun maksud dari pembagian ini adalah hanya untuk membedakan dari karakteristik saham itu sendiri. Menurut Martono dan Agus Harjito (2007;367-368), saham dapat dibedakan menjadi: 1. Berdasarkan cara pengalihannya a. Saham atas unjuk (Bearer stock) Di atas sertifikat ini tidak dituliskan nama pemiliknya. Dengan pemilikan saham atas unjuk, seorang pemilik sangat mudah untuk mengalihkan atau memindahkannya kepada orang lain karena sifatnya mirip dengan uang. Pemilik saham atas unjuk ini harus berhati-hati membawa dan menyimpannya, karena jika saham tersebut hilang, maka pemilik tidak dapat meminta gantinya. b. Saham atas nama (Registered stock) Di atas sertifikat saham dituliskan nama pemiliknya. Cara peralihan dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus memuat daftar nama pemegang saham. Jika saham tersebut hilang, pemilik dapat meminta gantinya. 2. Berdasarkan manfaatnya a. Saham biasa (Common stock) Saham biasa selalu ada dalam struktur modal saham. Jenis-jenis saham biasa antara lain: saham biasa unggulan, saham biasa yang tumbuh, saham biasa yang stabil, dan lain-lain. b. Saham preferen (Prefered stock) Saham preferen terdiri dari beberapa jenis, antara lain: saham preferen kumulatif, saham preferen bukan kumulatif, dan lain-lain.

Kelebihan saham biasa adalah kemampuannya memberikan keuntungan yang cukup besar, bergantung kepada perkembangan perusahaan yang bersangkutan. Di samping mendapatkan penghasilan dari dividen, pemilik saham biasanya juga memperoleh keuntungan dari capital gain. Adapun karakteristik saham biasa yaitu: 1. Saham biasa tidak menjanjikan pendapatan yang bersifat tetap dan pasti. Pendapatan investasi saham dapat berupa dividen dan capital gain. Pembayaran dividen kepada investor bergantung pada kebutuhan manajemen perusahaan yang menyangkut kondisi dan rencana perusahaan di masa yang akan datang. 2. Pemilik saham biasa mempunyai hak untuk mengikuti rapat umum pemegang saham yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu perusahaan. Hak suara yang dimiliki pemegang saham adalah sebanding dengan jumlah saham yang dimilikinya. Dengan demikian setiap pembelian saham dapat berperan untuk menentukan masa depan perusahaan. 3. Saham biasa tidak memiliki masa jatuh tempo tertentu. Dengan demikian emiten tidak perlu berkewajiban untuk membayar kembali harga pembelian saham yang telah diterbitkannya. Berbeda dengan obligasi, perusahaan memiliki kewajiban unutk mengembalikan baik itu berupa bunga atau nominalnya.

2.5.3 Harga Saham 2.5.3.1 Pengertian Harga Saham Karena saham-saham itu diperdagangkan di pasar modal, maka dibutuhkan suatu sistem penilaian sebagai tolok ukur baik buruknya saham tersebut dengan pasar saham. Menurut Rusdin (2006;68), harga pasar saham adalah: Harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung, jika bursa sudah tutup maka harga pasar saham tersebut adalah harga penutupannya. Sedangkan menurut Van Horne dan Wachowicz (2000;5), menyatakan bahwa:

The market value price serves as a barometer or business performance it indicates how well management is doing in behalf of its stockholders. Management is under continuous review stockholders who are dissatisfied with management performance may sell their stock and invest in other company. This action, if than by other dissatisfied stockholders will put downward pressured on market price per share. Artinya, nilai harga pasar mencerminkan petunjuk atau kinerja bisnis yang menandakan bagaimana manajemen telah bekerja dengan baik. Apabila manajemen tidak bekerja dengan baik, maka para pemegang saham akan menjual saham mereka dan menginvestasikan pada perusahaan lain. Apabila para pemegang saham merasa kecewa, maka harga pasar per lembar dengan sendirinya akan turun. Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa harga pasar saham yang terbentuk di pasar ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Jika penawaran akan saham tinggi, maka harga saham tersebut akan naik.

2.5.3.2 Nilai Saham Dalam praktik perdagangan saham, nilai saham dibedakan menurut cara pengalihan dan manfaat yang diperoleh bagi pemegang saham. Menurut Rusdin (2006;68), nilai saham terbagi atas tiga jenis yaitu: 1. Nilai Nominal (Nilai pari) Merupakan nilai yang tercantum dalam sertifikat saham yang bersangkutan, di Indonesia saham yang diterbitkan harus memiliki nilai nominal dan untuk satu jenis saham yang sama pada suatu perusahaan harus memiliki satu jenis nilai nominal. 2. Nilai Dasar Pada prinsip harga dasar saham ditentukan dari harga perdana saat saham tersebut diterbitkan, harga dasar ini akan berubah sejalan dengan dilakukannya berbagai tindakan emiten yang berhubungan dengan saham, antara lain: Right issue, Stock split, waran, dll. 3. Nilai Pasar

Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung, jika bursa sudah tutup maka harga pasar saham tersebut adalah harga penutupannya. Sedangkan menurut Mustopo Ali Sasongko (2008) dalam jurnalnya yang berjudul Analisa penilaian saham, dalam situs www.WealthIndonesia.com, mengemukakan bahwa ada beberapa jenis nilai saham, yaitu: 1. Nilai Nominal Merupakan nilai per lembar saham yang berkaitan dengan hukum 2. Nilai Buku Merupakan nilai saham menurut pembukuan perusahaan 3. Nilai Pasar Merupakan harga saham di bursa efek 4. Nilai Intrinsik Merupakan nilai sebenarnya dari saham Dari pernyataan di atas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu nilai saham terdiri dari beberapa jenis yaitu nilai nominal, nilai dasar, nilai buku, nilai pasar dan nilai intrinsik. Nilai nominal saham tertera pada saham itu sendiri. Nilai dasar saham adalah harga pertama kali saham diperjualbelikan di pasar perdana. Nilai buku yaitu harga saham menurut catatan perusahaan. Nilai pasar saham terjadi ketika penutupan pasar bursa. Sedangkan nilai intrinsik yaitu nilai sebenarnya dari saham.

2.5.3.3 Jenis-Jenis Harga Saham Harga saham ditentukan oleh harga yang terjadi pada saat saham tersebut pertama kali diterbitkan perusahaan yang melakukan IPO (initial public offering) yaitu di pasar perdana dan pada saat saham tersebut diperjualbelikan di pasar sekunder. Menurut Rusdin (2006;109-114), Harga saham ada dua yaitu ketika pertama kali di jual yaitu pada saat perusahaan melakukan IPO (initial public offering) dan yang kedua yaitu pada saat di jual di pasar sekunder (lantai bursa).

Sedangkan menurut Dev Group on Research (2008) dalam jurnalnya yang berjudul Indeks saham dan obligasi, dalam situs www.infovesta.com mengemukakan bahwa ada beberapa jenis harga saham, yaitu: 1. Harga saham sektoral Yaitu harga saham yang tergabung dalam sektor-sektor tertentu yang ada di BEI 2. Harga saham gabungan Yaitu harga saham semua perusahaan yang terdaftar di BEI 3. Harga saham individual Yaitu harga saham dari masing-masing saham terhadap harga dasarnya 4. Harga saham LQ-45 Yaitu harga saham dengan 45 saham unggulan yaitu terlikuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar yang tinggi 5. Harga saham JII Yaitu harga saham perusahaan menurut syariat islam 6. Harga saham kompas 100 Yaitu harga saham perusahaan yang tergabung dalam 100 besar perusahaan pilihan menurut harian suratkabar kompas Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat diambil kesimpulan yaitu harga saham terjadi ketika pertama kali perusahaan melakukan initial public offering, dimana harga saham ditetapkan oleh perusahaan. Dan yang kedua harga yang terjadi ketika di pasar sekunder yang terjadi karena kekuatan pasar yaitu permintaan dan penawaran saham tersebut. Sedangkan pada saat saham tersebut diperjualbelikan di lantai bursa maka harga saham tersebut dapat bermacammacam sesuai dengan jenis saham dari perusahaan tersebut.

2.5.3.4 Faktor yang Menentukan Perubahan Harga Saham Faktor yang menentukan perubahan harga saham adalah karena jumlah permintaan dan penawaran akan saham yang terjadi di pasar bursa. Seperti yang dikemukakan oleh Martono dan Agus Harjito (2007;373),

Harga saham sebagai komoditas perdagangan, tentu dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. Pada gilirannya, permintaan dan penawaran merupakan manifestasi dari kondisi psikologi pemodal. Sedangkan menurut Ali Arifin (2004;116-125), Faktor yang menentukan perubahan harga saham yaitu kondisi fundamental emiten, permintaan dan penawaran, tingkat suku bunga, valuta asing, dana asing, indeks harga saham gabungan, dan rumors. Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu faktorfaktor yang menentukan perubahan harga saham sangat beragam. Namun yang paling utama adalah kekuatan pasar itu sendiri yaitu permintaan dan penawaran akan saham itu sendiri. Sesuai dengan hukum ekonomi, semakin tinggi permintaan akan saham tersebut maka harga saham akan naik.

2.6

Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham Untuk mencapai keuntungan yang diharapkan, perusahaan membutuhkan

dana untuk membiayai kegiatan perusahaan dan dana tersebut dapat diperoleh di pasar modal. Keuntungan dari penjualan saham dapat ditentukan berdasarkan tingkat profitabilitas yang dinilai dengan dividend per share dan return on equity yang dapat dilihat dari hasil publikasi laporan keuangan sebuah perusahaan. Laporan tersebut selanjutnya dapat menjadi sumber informasi bagi investor untuk membeli saham. Dengan adanya transaksi saham yang dilakukan oleh investor dapat menentukan fluktuasi harga pasar saham. Sebagaimana dikemukakan oleh Van Horne dan Wachowicz (2000;317), The objective of a company must be create value its stockholder. Value is represented by a market price of a companys common stock, which in turn is a function of a firm investment, financing, and dividend decision. Artinya, bahwa tujuan suatu perusahaan adalah menciptakan nilai harga saham pemegang saham. Nilai diwakili oleh harga pasar saham biasa suatu perusahaan,

yang pada gilirannya merupakan suatu fungsi dari investasi perusahaan, keputusan pembiayaan dan dividen. Adapun pendapat lain dari Martono dan Agus Harjito (2007;317), mengatakan bahwa: Ketiga keputusan keuangan (keputusan investasi, pendanaan, dan dividen) diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan laba. Laba yang diperoleh, diharapkan mampu meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin pada makin tingginya harga saham, sehingga kemakmuran para pemegang saham dengan sendirinya makin bertambah. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa jika nilai suatu perusahaan yang diukur dengan harga saham dapat meningkat maka akan meningkatkan investasi, pembiayaan dan dividen perusahaan. Untuk meningkatkan harga saham suatu perusahaan, maka manajemen perusahaan harus dapat meningkatkan kinerja perusahaan, salah satunya adalah faktor profitabilitas yang dapat diukur dengan beberapa rasio seperti dividend per share dan return on equity.

2.6.1 Pengaruh Dividend per Share Terhadap Harga Saham Ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profitabilitas yang akan berpengaruh pada harga saham suatu perusahaan dapat diukur dengan dividend per share. Adapun pendapat yang dikemukakan oleh Ross, Westerfield, dan Jaffe (2002;460), mengatakan bahwa: Clearly, investors prefer higher dividend to lower dividend at any single date if the dividend level is held constant every other date. In other words, if the dividend per share for each other date is held constant, the stock price will rise. Artinya, bahwa investor lebih menyukai dividen yang tinggi daripada dividen yang rendah pada saat waktu yang sama atau pada saat waktu yang berbeda. Apabila dividen per lembar stabil (tetap sama), maka harga saham akan naik. Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa dividen merupakan faktor yang berpengaruh terhadap harga saham. Pembayaran dividen selalu diikuti dengan kenaikan saham, sedangkan penurunan dividen akan diikuti dengan

penurunan harga saham dan ini menunjukkan bahwa investor secara keseluruhan lebih menyukai pembayaran dividen daripada capital gain. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham seperti yang dikemukakan oleh Weston dan Brigham (2002;26), yang berpendapat bahwa harga saham perusahaan tergantung pada faktor-faktor berikut: 1. Proyeksi laba per saham 2. Saat diperolehnya laba 3. Tingkat risiko dari proyeksi laba 4. Proporsi utang perusahaan 5. Kebijakan pembagian dividen Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa dividen merupakan faktor yang berpengaruh terhadap harga saham. Dan hal ini ditunjukkan dengan kenyataan bahwa investor lebih tertarik dengan dividen.

2.6.2 Pengaruh Return on Equity Terhadap Harga Saham Jika suatu perusahaan mempunyai masa depan yang baik dan dapat memberikan profitabilitas bagi para investor maka transaksi saham perusahaan mengalami kenaikan dan tingkat harga saham perusahaan akan mengikuti laju perkembangan dan kondisi perusahaan tersebut. Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2007;317), Jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, harga saham akan meningkat dengan kata lain profitabilitas akan meningkatkan harga saham. Sedangkan menurut Heru Tjaraka (2008) dalam jurnalnya yang berjudul Analisis-analisis fundamental yang berpengaruh terhadap harga saham, dalam situs www.google.com mengemukakan bahwa, Return on equity sangat mempengaruhi harga saham perusahaan yang bersangkutan di samping faktor-faktor yang lain seperti earning per share, debt equity ratio dan lain-lain. Dari kutipan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan seorang manajer dalam menjalankan operasi perusahaan melalui kebijakan-kebijakan yang

ditetapkan dapat dilihat dari keberhasilannya dalam memaksimalkan kekayaan pemilik. Dengan demikian biasanya seorang investor akan memilih perusahaan yang dapat memaksimalkan nilai pasar kekayaannya melalui harga saham yang tinggi dan kemampuan perusahaan memberikan keuntungan berupa return on equity yang akan mempengaruhi harga saham perusahaan.

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1

Objek Penelitian Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap perusahaan

go-public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia khususnya yang tergabung dalam sektor pertambangan. Adapun objek penelitian yang akan diteliti adalah mengenai dividend per share dan return on equity yang terdapat dalam laporan keuangan. Untuk periode laporan keuangan ini, penulis menggunakan laporan keuangan periode tahun 2002 sampai dengan 2007.

3.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Sebelum menganalisis, berikut ini adalah gambaran umum perusahaan yang akan diteliti, yang menyajikan sejarah singkat perusahaan 1. PT Aneka Tambang, Tbk PT Aneka Tambang, Tbk adalah pemimpin perusahaan pertambangan dan mineral di Indonesia. Perusahaan didirikan sejak 5 Juli 1968 yang merupakan gabungan (merger) dari tujuh perusahaan yaitu PT Nikel Indonesia, PN Tambang Bauksit Indonesia, PN Logam Mulia, BPU Perusahaan-Perusahaan Tambang Umum Negara, Proyek Pertambangan Intan Martapura, PN Tambang Emas Cikotok, dan Proyek Emas Logas, Pakan Baru. Tanggal 21 Mei 1975, menurut Keputusan Departemen Kehakiman Republik Indonesia, status perusahaan berubah dari semula Perusahaan Negara (PN) kemudian menjadi perusahaan Terbatas (PT). Selama 30 tahun pengoperasian perusahaan, Aneka Tambang, Tbk telah membuktikan pencapaian yang signifikan. Tahun demi tahun, perusahaan secara terus-menerus melakukan pengembangan-pengembangan mulai dari segi operasi yang dimulai dari pengembangan operasi perusahaan ataupun dari pengembangan segi keuangan, hubungan masyarakat dan sumber daya manusia.

2. PT Bumi Resources, Tbk Bumi Resources, Tbk telah hadir di Indonesia dan beroperasi sejak tahun 1973 dengan nama PT Bumi Modern, Tbk. Fokus bisnis perusahaan yang utama dan pertama pada saat itu adalah industri perhotelan dan pariwisata. Perusahaan mempunyai hotel bintang lima yang berlokasi di Surabaya dengan luas tanah sekitar 1,3 hektar. Pengoperasian hotel tersebut menjadi komersial dilakukan sejak tahun 1979. Tahun 1994, perusahaan telah memiliki kurang lebih dari 12 apartemen untuk komunitas bisnis, di mana kepemilikan dari apartemen tersebut lebih banyak dimiliki oleh kalangan dari luar negeri. Tahun 2000, manajemen perusahaan memutuskan untuk beralih fokus operasi perusahaan dari yang semula industri perhotelan dan pariwisata kemudian menjadi bisnis industri gas alam dan minyak di mana menurut manajemen perusahaan menawarkan prospek yang lebih cerah. Perpindahan fokus operasi ini akan mendorong perusahaan untuk lebih mempunyai posisi yang kompetitif. 3. PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk telah beroperasi sejak tanggal 2 Maret 1981 di Tanjung Enim dengan nama perusahaan untuk pertama kali yaitu Tambang Batubara Bukit Asam. Pertambangan yang dilakukan telah beroperasi sejak tahun 1919 di bawah Pemerintah Belanda saat itu. Kemudian pada tahun 1942 diambil alih oleh Pemerintah Jepang, dan tahun 1945 (pada saat kemerdekaan Republik Indonesia) diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, yang kemudian perusahaan dinasionalisasikan oleh pemerintah Indonesia. Tanggal 30 Oktober 1990, pemerintah menggabungkan

pengoperasian Perusahaan Umum (Perum) Tambang Batubara di Sawah Lunto dengan Tambang Batubara Bukit asam. Sejak tahun 1983, perusahaan dengan pemerintah sepakat untuk fokus pengembangan perusahaan hanya kepada batubara. 4. PT Tambang Timah, Tbk PT Tambang Timah, Tbk adalah penggabungan dari 3 perusahaan pertambangan milik Pemerintah Belanda dengan wilayah pengoperasian yaitu

di Indonesia. Area operasi perusahaan terletak di Kepulauan Bangka, Kepulauan Riau, dan beberapa wilayah di Sumatera. Tahun 2000 perusahaan menargetkan untuk menjadi perusahaan yang memproduksi komoditas beragam. Untuk mencapai tujuan tersebut perusahaan memulai dengan pertambangan di Natal, Sumatera Utara dan Kalimantan dengan investasi awal kurang lebih Rp 100 milyar. Tahun 1997 Perusahaan memenangkan tender yang dilakukan pemerintah untuk ekplorasi emas dan batubara di Sumatera, Kalimantan dan Jawa Timur. Untuk mendukung kegiatan perusahaan tersebut, maka perusahaan membentuk anak perusahaan yaitu PT Timah Investment Mineral, PT Kutaraja Tembaga Raya dan PT DOK dan Perkapalan Air Kantung. Tahun 1998, Rapat Umum Pemegang Saham memutuskan untuk mengakuisisi PT Berau Coal dan PT Kaltim Prime Coal dan Tambang Emas Okiral dan menjadikan Tambang timah sebagai induk perusahaan dimana segala tanggungjawab yang utama untuk perencanaan jangka panjang dan keseluruhan operasi dari anak perusahaan tersebut berada di Induk perusahaan. 5. PT Perusahaan Gas Negara, Tbk PT Perusahaan Gas Negara, Tbk telah beroperasi sejak tahun 1965. Perusahaan secara terus-menerus melakukan pendistribusian gas alam melalui pipa-pipa gas yang menghubungkan pemasok dengan pasar. Pada tahun ini, perusahaan telah membangun pipa untuk distribusi gas kurang lebih sepanjang 4.140 km yang meliputi enam distribusi utama di mana pembangunan ini ditujukan untuk melayani kepentingan industri, perdagangan, dan sektor rumah tangga. Perusahaan juga melakukan ekspansi pangsa pasar baru untuk wilayah domestik dan regional dengan membangun jaringan pipa gas yang baru. Untuk wilayah Jawa Barat telah terhubungkan untuk pendistribusian gas sepanjang 636 km. Bahkan di masa yang akan datang, perusahaan berencana membangun jaringan pipa baru yang menghubungkan Kalimantan dan Jawa yaitu sepanjang 1.220 km.

3.2

Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah

metode deskriptif dan metode verifikatif. Menurut Sugiyono (2006;11), Metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk

mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. Sedangkan menurut Marzuki (2002;7), Metode verifikatif adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan. Tujuan metode verifikatif ini adalah dimana penulis melakukan pengujian hipotesis yang dianalisis dengan metode statistik secara parsial dengan menggunakan uji t. Sedangkan untuk menguji hipotesis secara simultan digunakan uji F, selanjutnya nilai pengujian yang diperoleh dibandingkan dengan tabel distribusi t dan F.

3.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data berupa informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Misalnya data company profile, laporan keuangan yang dipublikasikan, dan harga saham. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kuantitatif yaitu data yang dinyatakan dalam angka-angka yang menunjukkan nilai terhadap besaran atau variabel yang diwakilinya. Sebagian data bersifat kualitatif yaitu data yang bukan berbentuk angka. Sumber data dalam penelitian ini merupakan data sekunder dimana data telah tersedia di laporan keuangan yang terdapat dalam Indonesian Capital Market Directory, BEI, Pojok Bursa, Website. Informasi-informasi ini diperoleh melalui penelitian ke perpustakaan, yaitu dengan membaca dan mengkaji buku-buku, koran, jurnal, dan membuka berbagai situs internet yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data Untuk melengkapi dan menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dan informasi sebagai berikut: 1. Penelitian Lapangan (Field research) Yaitu penelitian untuk mendapatkan data dari unit analisis yang akan diteliti dengan melakukan pengumpulan data secara langsung dengan mengunjungi pusat referensi pasar modal Pojok Bursa Universitas Sangga Buana (USB). 2. Riset Kepustakaan (Library research) Yaitu penelitian yang mempelajari literatur, buku-buku, dan media lain yang mempunyai kaitan langsung dengan masalah yang akan diteliti. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan teori yang mendukung masalah dalam penulisan skripsi ini.

3.2.3 Operasionalisasi Variabel Untuk menguji hipotesis, variabel-variabel yang akan diteliti perlu diberikan batasan-batasan dan ditentukan indikator-indikatornya. Adapun variabel -variabel tersebut terdiri dari dua variabel independen dan satu variabel dependen, yaitu: 1. Variabel independen, yaitu variabel bebas yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel lain, antara lain: a. Dividend per share (DPS) sebagai variabel independen kesatu (
1

Dividend per share merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kepastian dari modal yang ditanamkannya, yakni berupa dividen. b. Return on equity (ROE) sebagai variabel independen kedua (
2

Return on equity merupakan rasio untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri. 2. Variabel dependen yaitu variabel tidak bebas yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Variabel dependen yang digunakan adalah harga saham sebagai variabel (Y). Harga saham dalam penelitian ini adalah rata-rata harga saham pada saat closing price.

Adapun operasionalisasi variabel-variabel tersebut ke dalam dimensidimensi dan indikator-indikatornya sebagai berikut: Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Varia bel Divide nd per Share (DPS) Konsep Variabel Nilai yang Perkembangan dividend per Indikator Formula Ukur an Skala

menunjukkan jumlah

DPS

Perse DPS t DPS t 1 x100% ntase DPS t 1 (%)

Rasio

uang share

yang dibayarkan kepada pemegang saham

Return on Equity (ROE)

Pengembalian atas saham

Perkembangan

ROE

ekuitas return on equity biasa

ROE t ROE t 1 Perse x100% ROE t 1 ntase


(%)

Rasio

yang digunakan untuk mengukur tingkat laba yang dihasilkan investasi pemegang saham dari

Harga Pasar

Rata-rata harga Perkembangan saham pada harga saham closing price.

Perse

Rasio

Po

Pt Pt

Pt
1

x100 %

ntase (%)

Saham saat

Sumber : Data yang tersedia diolah kembali oleh penulis

3.2.4 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian adalah perusahaan-perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2002-2007. Jumlah perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 19 perusahaan dimana metode yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu dengan metode purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2002-2007. 2. Kelengkapan data dari perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2002-2007 Berdasarkan kriteria tersebut maka jumlah sampel yang diteliti sebanyak lima perusahaan yaitu sebagai berikut: Tabel 3.2 Sampel Penelitian No 1 2 3 4 5 Perusahaan PT Aneka Tambang, Tbk PT Bumi Resources, Tbk PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk PT Tambang Timah, Tbk PT Perusahaan Gas Negara, Tbk Kode ANTM BUMI PTBA TINS PGAS

Sumber: Indonesian Capital Market Directory

3.2.5 Metode Analisis Data Statistik Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan memperhitungkan nilai dan perkembangan dividend per share, return on equity, dan harga saham. Tahap-tahap analisis data statistik sebagai berikut: 1. Analisis terhadap dividend per share 2. Analisis terhadap return on equity 3. Analisis terhadap harga saham

Data tersebut di atas dapat diketahui melalui laporan keuangan yang dikeluarkan oleh emiten yang tergolong ke dalam kelompok sektor pertambangan periode 2002-2007 yang terdapat di Indonesian Capital Market Directory dan untuk mengetahui pengaruh dari variabel-variabel di atas, maka digunakan analisis regresi, koefisien korelasi, koefisien determinasi dan pengujian hipotesis dengan menggunakan software SPSS v.15. Setelah dianalisis kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan di atas.

3.2.6 Analisis Statistik Untuk menguji analisis yang digunakan, dilakukan pengujian secara verifikatif untuk menghitung apakah terdapat pengaruh dari dividend per share dan return on equity terhadap harga saham.

3.2.6.1 Uji Normalitas Data Distribusi normal memegang peranan penting dalam statistik

inferensial,yaitu sebagai model distribusi peluang (probability distribution). Paling sedikit, ada tiga alasan yang melandasi pentingnya distribusi normal dalam statistik inferensial (Furqon, 2008;124). 1. Distribusi normal merupakan model yang baik untuk mendekati frekuensi distribusi fenomenal alam dan sosial jika sampelnya besar. Populasi berbagai perilaku dan karakteristik alam dan sosial yang berskala interval dan rasio umumnya diasumsikan berdistribusi normal. 2. Ada hubungan yang kuat antara besarnya sampel dengan distribusi rata-rata yang diperoleh dari sampel-sampel acak yang diambil dari suatu populasi yang sama. Semakin besar sampel, distribusi rata-rata sampel semakin mendekati distribusi normal. Lebih jauh central limit theorm menyatakan bahwa distribusi rata-rata yang diperoleh dari sampel yang besar (banyak) cenderung normal (walaupun populasi dari mana sampel itu diambil tidak normal). 3. Distribusi normal memberikan penghampiran (aproksimasi) yang baik terhadap distribusi teoritis lainnya yang pada umumnya lebih sulit digunakan.

Untuk memodelkan distribusi peluang ukuran yang digunakan adalah dengan menggunakan P-Plot yang dapat ditampilkan dengan menggunakan software SPSS v.15, dimana jika titik-titik yang menunjukkan sampel dekat dengan garis, maka dapat dikatakan bahwa data tersebut adalah normal.

3.2.6.2 Analisis Regresi Linier Sederhana Analisis regresi ini digunakan untuk memperkirakan nilai dari variabel tidak bebas (Y) pada nilai variabel bebas (X) tertentu, sehingga dapat diketahui berapa besar pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. Setiap perubahan variabel bebas (X) akan diimbangi dengan perubahan variabel tidak bebas (Y). adapun persamaan garis regresi linier sederhana adalah sebagai berikut:
a bx e

Dimana: a b = Intercept (konstanta) = Koefisien arah garis linier yang menunjukkan satu satuan X terhadap perubahan Y Y X = Variabel yang mewakili harga saham sebagai variabel tidak bebas = Variabel yang mewakili dividend per share dan return on equity sebagai variabel bebas e = Error term

Nilai a dapat diperoleh dengan rumus:

a n

Sedangkan nilai b dapat diperoleh dengan rumus:

n n
2 2

3.2.6.3 Analisis Koefisien Korelasi Analisis korelasi digunakan untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuatnya hubungan suatu variabel yang satu dan variabel yang lain dengan tidak mempersoalkan apakah suatu variabel tertentu tergantung kepada variabel lain. Ukuran statistik yang biasa digunakan untuk skala pengukuran data yang berbentuk rasio dan hipotesis yang digunakan bersifat asosiatif atau hubungan adalah koefisien korelasi least square, yaitu:

r n

n
2 2

Dibawah ini merupakan tabel pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi Tabel 3.3 Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien 0,00 0,199 0,20 0,399 0,40 0,599 0,60 0,799 0,80 1,000 Tingkat Hubungan Sangat rendah Rendah Sedang Kuat Sangat kuat

Sumber : Sugiyono (Metode penelitian bisnis, 2006;183)

3.2.6.4 Analisis Koefisien Determinasi Koefisien determinasi merupakan kuadrat dari koefisien korelasi sebelumnya telah dicari. Analisis koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel dividend per share (
1

) dan return on equity (

berpengaruh terhadap variabel harga saham (Y). Besarnya koefisien determinasi terletak antara 0 dan 1 atau 0% sampai dengan 100%. Sebaliknya jika r2 = 0, model tidak menjelaskan sedikit pun pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

Kecocokan model dikatakan lebih baik jika r2 semakin dekat dengan 1. Jadi untuk batas nilai koefisien determinasi adalah 0

r2

1 dapat dihitung dengan

dasar mengkuadratkan nilai koefisien korelasi (r). Adapun formula koefisien determinasi yaitu:

kd
Dimana: kd r = Koefisien determinasi = Koefisien korelasi

r 2 *100%

3.2.6.5 Pengujian Hipotesis (Uji t) Pengujian dilakukan dengan uji statistik t dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan hipotesis statistik Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan antara variabel bebas atau independen (dividend per share dan return on equity) dengan variabel tidak bebas atau variabel dependen (harga saham). Apabila hipotesis penelitian tersebut dinyatakan ke dalam hipotesis statistik sebagai berikut: 1) Hipotesis pertama H01 : rx1y = 0; menunjukkan variabel
1

(dividend per share) tidak

berpengaruh terhadap variabel Y (harga saham) H01 : rx1y 0; menunjukkan variabel


1

(dividend

per

share)

berpengaruh terhadap variabel Y (harga saham) 2) Hipotesis kedua


02

:r

0 ; menunjukkan variabel

(return on equity) tidak

berpengaruh terhadap variabel Y (harga saham)


02

:r

0 ; menunjukkan variabel

(return on equity) berpengaruh

terhadap variabel Y (harga saham) b. Menentukan tingkat signifikansi sebesar 5% (

0,05 )

c. Mengambil kesimpulan -ttabel thitung ttabel, maka Ho diterima dan Ha tolak

Gambar 3.1 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji t)

Daerah Penolakan Ho

Daerah Penerimaan Ho

Daerah Penolakan Ho

Tabel (1/2

df)

3.2.6.6 Analisis Hipotesis Secara Simultan (Uji F) Pengujian secara simultan digunakan untuk mengetahui nilai yang memberikan kuatnya pengaruh atau hubungan dua variabel atau lebih secara bersama-sama.

1.

Analisis Regresi Linier Berganda Teknik regresi berganda digunakan untuk mengetahui hubungan

fungsional antara variabel dependen dihubungkan dengan dua atau lebih variabel independen. Rumus dari regresi linier berganda sebagai berikut:

a b1

b2

Dimana: Y
1

= Harga saham = Dividend per share = Return on equity = Konstanta = Koefisien korelasi dividend per share = Koefisien korelasi return on equity = Error term Dalam pengujian regresi linier berganda, untuk memperoleh penelitian

a
b1

b2

yang akurat diperlukan pengujian dengan asumsi klasik, yaitu: a. Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross sectional). Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Pertama, uji DurbinWatson (DW test). Kedua, uji Lagrange Multiplier (LM) yaitu statistik Breusch-Godfrey. Ketiga, uji autokorelasi dengan statistik Q yaitu Box Pearce dan Ljung Box. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan cara yang pertama, yaitu uji Durbin-Watson (DW test). Keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah dengan ketentuan sebagai berikut: 1,65 < DW < 2,35 (Tidak autokorelasi) 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 (Tidak dapat disimpulkan) DW < 1,21 atau DW > 2,79 (Terjadi autokorelasi) Jika dalam penelitian ini tidak terbebas dari masalah autokorelasi, maka cara yang dapat dilakukan adalah: 1) Mengubah bentuk fungsional atau mentransformasikan variabel-variabel yang dalam model menjadi bentuk yang disebut first difference. Selain itu dapat dilakukan dengan memperbanyak data. Apabila data yang digunakan semakin besar, maka standar error cenderung turun

2) Mempertimbangkan Generalized Least Squares, Auto Regressive (AR) atau Auto Regressive Integrated Moving Average (Arima) b. Multikolinieritas Multikolinieritas memiliki arti antara variabel bebas yang satu dengan variabel bebas yang lain dalam model regresi terjadi hubungan yang mendekati sempurna. Multikolinieritas hampir selalu ada dalam model persamaan regresi yang menggunakan lebih dari dua variabel. Pengujian ini ditujukan untuk lebih mengetahui adanya hubungan yang sempurna antar variabel. Salah satu cara untuk mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dengan melihat Matriks koefisien korelasi Pearson. Menurut Cornellius Trihendradi (2005;212), Jika nilai korelasi Pearson lebih dari 0,8 maka terjadi multikolinieritas, dan apabila nilai korelasi Pearson kurang dari 0,8 maka tidak terjadi multikolinieritas, sehingga model tersebut layak untuk digunakan. Jika terdapat korelasi yang sempurna diantara sesama variabel-variabel bebas sehingga nilai koefisien korelasi diantara sesama variabel bebas ini sama dengan satu maka konsekuensinya adalah: 1) Koefisien korelasi menjadi tidak bisa ditaksir 2) Nilai standard error setiap koefisen korelasi regresi menjadi tidak terhingga 3) Probabilitas untuk menerima hipotesis yang salah semakin besar Beberapa cara untuk mengatasi adanya multikolinieritas yaitu dengan menggunakan koutsouiamis dengan melakukan langkah berikut: 1) Melakukan regresi variabel terikat atas setiap variabel bebas yang terkandung dalam suatu model regresi yang sedang diuji. 2) Kemudian dari hasil regresi ini dipilih salah satu model regresi yang secara apriori dan statis paling meyakinkan. Model regresi yang dipilih disebut regresi elementar (elementary regression). 3) Selanjutnya variabel-variabel bebas yang lain dimasukkan satu per satu untuk diregresikan terhadap variabel terikat yang ditentukan. Dari hasil regresi dapat dilihat nilai koefisien regresi standard error dan R 2 .

Berdasarkan variabel-variabel bebas yang dimasukkan dalam percobaan dapat diklasifikasikan sebagai variabel yang berguna (usefull), tidak berguna (superfluous), dan merusak hasil (detrimental).

2.

Analisis Koefisien Korelasi Ganda Analisis korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah dan

kuatnya hubungan antara dua variabel atau lebih secara bersama-sama dengan variabel yang lain. Adapun rumus korelasi ganda untuk dua variabel independen sebagai berikut:

b1
1, 2

b2
2

Tanda (+) dan (-) yang terdapat dalam koefisien korelasi menunjukkan adanya arah hubungan antara dua variabel tersebut. Tanda (-) menunjukkan hubungan yang berlawanan arah, yang artinya jika satu variabel naik, maka variabel yang lainnya turun. Sedangkan tanda (+) menunjukkan hubungan yang searah, yang artinya jika satu variabel naik, maka variabel yang lainnya naik. Tabel 3.4 Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien 0,00 0,199 0,20 0,399 0,40 0,599 0,60 0,799 0,80 1,000 Tingkat Hubungan Sangat rendah Rendah Sedang Kuat Sangat kuat

Sumber : Sugiyono (Metode penelitian bisnis, 2006;183)

3.

Analisis Koefisien Determinasi Analisis koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar

variabel dividend per share (

) dan return on equity (

) berpengaruh terhadap

variabel harga saham (Y). Besarnya koefisien determinasi terletak antara 0 dan 1 atau 0% sampai dengan 100%. Sebaliknya jika r2 = 0, model tidak menjelaskan sedikit pun pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Kecocokan model dikatakan lebih baik jika r2 semakin dekat dengan 1. Jadi untuk batas nilai koefisien determinasi adalah 0

r2

1 dapat dihitung dengan dasar mengkuadratkan nilai

koefisien korelasi (r) dengan rumus sebagai berikut:

kd
Dimana: kd r = Koefisien determinasi = Koefisien korelasi

r 2 *100%

4.

Uji Signifikansi F (Simultan) Uji signifikansi F bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh variabel
1

dan

secara simultan terhadap variabel Y signifikan. Pengujian dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menentukan hipotesis statistik


1

: R1

R2

0 ; menunjukkan variabel

(dividend per share) dan

(return on equity) tidak berpengaruh secara simultan terhadap variabel Y (harga saham)
1

: R1

R2

0 ; menunjukkan kedua variabel X1 dan X2 (dividend per

share dan return on equity) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Y (harga saham) b. Menentukan tingkat signifikansi sebesar c. Mengambil kesimpulan Fhitung Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
5% atau 0,05

Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima

Gambar 3.2 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji F)

Daerah Penerimaan Ho

Daerah Penolakan Ho

F tabel (a, k, df = n-k-1)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Perkembangan Dividend per Share dan Return on Equity Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2002-2007 Sebelum membahas pengaruh dividend per share dan return on equity

terhadap harga saham, terlebih dahulu akan dibahas perkembangan dividend per share, return on equity dan harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode tahun 2002-2007.

4.1.1 Perkembangan Dividend per Share Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Dividend per share dapat didefinisikan sebagai bagian pendapatan setelah pajak yang dibagikan kepada pemegang saham. Dividend per share yang tinggi diyakini akan dapat meningkatkan harga pasar saham perusahaan. Dividend per share dapat diperoleh dengan formula sebagai berikut: Dividends paid to common stockholders DPS = Common shares outstanding Dividend per share yang digunakan dalam penelitian ini, penulis ambil dari laporan keuangan sehingga tidak perlu lagi dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus di atas. Adapun perkembangan dividend per share pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Perkembangan Dividend per Share Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 No 1 2 3 4 5 Emiten ANTM BUMI PTBA TINS PGAS Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah Nilai dan Perkembangan Dividend per Share 2002 47 63 25 135 27 63 25 2003 34 2,5 58 68 60 222,5 44,5 68 2,5 % -0,28 1 -0,08 1,72 1 3,36 0,67 1,72 -0,28 2003 34 2,5 58 68 60 222,5 44,5 68 2,5 2004 39 86 68 2 195 39 86 2 % 0,15 -1 0,48 -0,97 -1,34 -0,27 0,48 -1 2004 39 86 68 2 195 39 86 2 2005 128 5 87 162 51 433 86,8 162 5 % 2,28 1 0,01 1,38 24,5 29,17 5,8 24,5 0,01 2005 128 5 87 162 51 433 86,8 162 5 2006 150 10 101 1 105 367 73,4 150 1 % 0,17 1 0,16 -0,99 1,06 1,4 0,28 1,06 -0,99 2006 150 10 101 1 105 367 73,4 150 1 2007 326 33 105 207 208 879 175,8 326 33 % 1,17 2,3 0,04 206 0,98 210,5 42,1 206 0,98

Sumber : Data yang telah diolah

Berdasarkan tabel 4.1, dapat dilihat pada tahun 2002, rata-rata dividend per share dari kelima perusahaan pertambangan sebesar Rp 27 per lembar. Dividend per share tertinggi pada tahun 2002 adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dengan Rp 63 per lembar. Pada tahun ini, perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp 177,955 milyar. Perusahaan berada pada urutan kedua dengan laba tertinggi untuk tahun 2002 dan laba tertinggi diperoleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk sebesar Rp 1.115,714 milyar. Adapun dividend per share terendah diberikan oleh PT Tambang Timah, Tbk yaitu sebesar Rp 25 per lembar. Laba bersih yang diperoleh perusahaan pada tahun 2002 sebesar Rp 13,431 milyar dan perusahaan berada pada posisi terakhir dengan laba bersih terendah dibandingkan perusahaan pertambangan lainnya. PT Bumi Resources, Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk pada tahun yang sama tidak memberikan dividend per share. Untuk tahun 2003, rata-rata dividend per share dari kelima perusahaan pertambangan sebesar Rp 44,5 per lembar. Dividend per share tertinggi diberikan oleh PT Tambang Timah, Tbk sebesar Rp 68 per lembar. Laba bersih perusahaan meningkat sebesar 469% sehingga menjadi Rp 76,372 milyar. Perusahaan pada tahun sebelumnya merupakan perusahaan dengan tingkat pemberian dividend per share terendah bila dibandingkan dengan perusahaan lain. Namun untuk tahun 2003, perusahaan memberikan dividend per share yang cukup tinggi dikarenakan kenaikan laba bersih yang cukup besar. Adapun perusahaan dengan tingkat dividend per share terendah untuk tahun 2003 adalah PT Bumi Resources, Tbk dengan Rp 2,5 per lembar. Laba bersih PT Bumi Resources, Tbk untuk tahun 2003 adalah Rp 107,565 milyar naik sebesar 18% dari semula Rp 91,100 milyar. Perusahaan berada pada urutan keempat dalam hal pencapaian laba tahun 2003. Laba tertinggi pada tahun ini adalah PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan Rp 509,481 milyar. Perusahaan mengalami penurunan laba bersih sebesar 54%. Pada periode 2002-2003, perkembangan dividend per share dapat dikatakan relatif tidak berfluktuasi signifikan. Hal ini dikarenakan pada periode ini kelima perusahaan pertambangan tersebut memberikan dividend per share yang hampir sama yaitu kurang dari Rp 100 per lembar sehingga perkembangan

pun tidak jauh berbeda. Namun pada perusahaan seperti PT Tambang Timah, Tbk, PT Bumi Resources, Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk pada periode ini, mereka mengalami kenaikan dalam hal pemberian dividend per share. Kenaikan terbesar dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan kenaikan sebesar 172%. Dari semula pemberian dividend per share hanya Rp 25 per lembar pada tahun 2002 menjadi Rp 62 per lembar untuk tahun 2003. Adapun PT Bumi Resources, Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk mengalami kenaikan dividend per share sebesar 100% karena kedua perusahaan pada tahun sebelumnya tidak memberikan dividend per share. Sementara penurunan tingkat dividend per share terjadi pada PT Aneka Tambang, Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dengan penurunan masing-masing sebesar 28% dan 8% pada periode 2002-2003. Tahun 2004, rata-rata dividend per share dari kelima perusahaan sebesar Rp 39 per lembar. Adapun PT Bumi Resources, Tbk dalam tahun ini tidak memberikan dividend per share kepada para pemegang sahamnya. PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk memberikan dividend per share Rp 86 per lembar, tertinggi dibanding perusahaan lain. Pada tahun ini perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp 419,802 milyar naik sekitar 99,5% dari semula tahun 2003 mencapai Rp 210,390 milyar yang menjadikan laba tertinggi kedua tahun 2004. Sementara laba tertinggi diperoleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk sebesar Rp 474,338 milyar. Namun jika dilihat dari pertumbuhan laba bersih, maka PT Batubara Bukit Asam, Tbk menjadi nomor satu dibanding PT Perusahaan Gas Negara, Tbk. Sementara untuk dividend per share terendah diberikan oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan Rp 2 per lembar. Perusahaan memutuskan untuk membagikan dividend per share dengan jumlah kecil karena keuntungan perusahaan yang terus menurun dari tahun ke tahun. Walaupun perusahaan memperoleh laba tertinggi pada tahun ini dibanding dengan perusahaan pertambangan lain namun tetap tidak mengubah keputusan pemilik perusahaan untuk memberikan dividend per share yang kecil. Untuk periode 2003-2004, relatif sama dengan periode 2002-2003. Pada periode ini, kelima perusahaan pertambangan memberikan dividend per share yang relatif tidak jauh berbeda. Kenaikan hanya terjadi pada PT Aneka Tambang,

Tbk dan PT Batubara Bukit Asam, Tbk yaitu masing-masing sebesar 15% dan 48%. Adapun perusahaan lainnya, seperti PT Bumi Resources, Tbk mengalami penurunan pemberian dividend per share sebesar 100% dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk sebesar 97%. PT Tambang Timah, Tbk pada periode ini memberikan dividend per share yang sama dari tahun 2003 sampai tahun 2004 yaitu sebesar Rp 68, sehingga kenaikan hanya 0%. Untuk tahun 2005 rata-rata dividend per share kelima perusahaan pertambangan adalah sebesar Rp 86,6 per lembar. Untuk dividend per share tertinggi diberikan oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan dividend per share sebesar Rp 162 per lembar. Sedangkan dividend per share terendah diberikan oleh PT Bumi Resources, Tbk dengan Rp 5 per lembar. Pada tahun sebelumnya PT Bumi Resources, Tbk tidak memberikan dividend per share, tetapi untuk tahun 2005, perusahaan memutuskan untuk memberikan dividend per share. Tahun 2005, laba bersih terendah ditempati oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan Rp 107,499 milyar. Perusahaan mengalami penurunan laba bersih sebesar 39,5% dari tahun sebelumnya. Walaupun perusahaan memperoleh laba bersih yang rendah namun tidak menyebabkan perusahaan untuk tidak mampu membagikan dividend per share. Hal tersebut dapat dilihat bahwa manajemen perusahaan memutuskan untuk memberikan dividend per share paling tinggi diantara perusahaan pertambangan lainnya. Perolehan laba bersih tertinggi tahun 2005 ditempati oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan Rp 862,013 milyar. Laba perusahaan meningkat 82% dari tahun sebelumnya yang semula Rp 474,338 milyar. Periode 2004-2005 terjadi lonjakan yaitu ketika PT Perusahaan Gas Negara, Tbk memberikan dividend per share untuk tahun 2005 sebesar Rp 51 dari semula pada tahun 2004 yaitu sebesar Rp 2 per lembar. Akibat dari pemberian dividend per share yang tinggi ini menjadikan terjadinya perkembangan dividend per share sekitar 2450%. Selain itu pada periode ini, kelima perusahaan pertambangan mengalami kenaikan dalam hal pemberian dividend per share. Adapun kenaikan PT Aneka Tambang, Tbk sebesar 228%, PT Bumi Resources, Tbk sebesar 100%, PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk sebesar 1% dan PT Tambang Timah, Tbk sebesar 138%.

Untuk tahun 2006, rata-rata pemberian dividend per share dari kelima perusahaan pertambangan adalah Rp 73,4 per lembar. Untuk dividend per share tertinggi diberikan oleh PT Aneka Tambang, Tbk dengan Rp 150 per lembar. Hal tersebut sangat wajar mengingat pada tahun ini, PT Aneka Tambang, Tbk memperoleh laba yang sangat signifikan yaitu sebesar Rp 1.552,77 milyar, naik 84% dari tahun sebelumnya dimana laba bersih yang diperoleh sebesar Rp 807,936 milyar. Pada tahun ini juga laba bersih tertinggi diperoleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan laba bersih Rp 1.892,705 milyar yang menjadikan perusahaan menempati urutan kedua dalam hal pembagian dividend per share tertinggi yaitu Rp 105 per lembar. Sedangkan tingkat dividend per share terendah diberikan oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan Rp 1 per lembar. Untuk PT Tambang Timah, Tbk, perusahaan pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2005 adalah pemberi dividend per share tertinggi dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Namun untuk tahun 2006 perusahaan hanya memberikan dividend per share Rp 1 per lembar sehingga menjadikan perusahaan dengan tingkat terendah dalam hal pemberian dividend per share kepada para pemegang sahamnya. Pada tahun ini perusahaan hanya memperoleh laba bersih sebesar Rp 208,147 milyar. Sangat berbeda jauh bila dibandingkan dengan pencapaian laba bersih perusahaan pertambangan lain. Untuk periode 2005-2006, perkembangan kelima perusahaan

pertambangan dapat dikatakan relatif stabil yaitu terjadi kenaikan pada PT Aneka Tambang, PT Bumi Resources, Tbk, PT Batubara Bukit Asam, Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk. Tetapi PT Tambang Timah, Tbk mengalami penurunan perkembangan dividend per share yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan pada tahun 2005 perusahaan memberikan dividend per share sebesar Rp 162 per lembar tetapi pada tahun 2006 perusahaan hanya memberikan dividend per share sebesar Rp 1 per lembar sehingga terjadi penurunan sebesar 990%. Untuk tahun 2007, rata-rata jumlah pemberian dividend per share untuk kelima perusahaan pertambangan sebesar Rp 175,8 per lembar. Perusahaan dengan tingkat pemberian dividend per share tertinggi adalah PT Aneka

Tambang, Tbk dengan Rp 326 per lembar. Perusahaan tahun ini memperoleh laba tertinggi diantara perusahaan pertambangan lainnya yaitu sebesar Rp 5.132,460 milyar. Kenaikan laba bersih mencapai 230% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 1.552,777 milyar. Adapun tingkat pemberian dividend per share terendah diberikan oleh PT Bumi Resources, Tbk dengan Rp 33 per lembar. Dari segi laba bersih yang diperoleh, PT Bumi Resources, Tbk memperoleh laba bersih yang cukup kecil bila dibandingkan dengan perusahaan pertambangan lainnya. Adapun tahun 2007, PT Aneka Tambang, Tbk telah dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2006 dan 2007 memberikan dividend per share tertinggi. Hal tersebut dikarenakan pencapaian laba bersih yang sangat tinggi. Dan untuk PT Bumi Resources, Tbk, selama dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2006 dan 2007 menjadi perusahaan dengan tingkat pemberian dividend per share terendah. Periode 2006-2007 terjadi lonjakan yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan PT Tambang Timah, Tbk memberikan dividend per share yang cukup tinggi pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 207 dari semula Rp 1 per lembar pada tahun 2006. Akibatnya terjadi lonjakan perkembangan dividend per share sebesar 2060%. Akibat harga timah yang cukup tinggi menjadikan perusahaan memperoleh laba bersih yang tinggi yang mengakibatkan kenaikan pula dalam hal pemberian dividend per share. Dari uraian di atas, maka perkembangan tingkat dividend per share dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut :

Gambar 4.1 Grafik Perkembangan Dividend per Share Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007
250 200 150 100 50 0 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 -50 1 ANTM 2 BUMI 3 PTBA 4 TINS 5 PGAS

Sumber : Data yang telah diolah Berdasarkan gambar grafik tersebut, dapat dilihat pada periode 2002-2003, umumnya perusahaan memberikan dividend per share yang tidak jauh berbeda. Hal tersebut dikarenakan laju pertumbuhan laba yang masih kecil pada periode tersebut. Pada periode 2003-2004, umumnya perusahaan memberikan dividend per share yang tidak terlalu besar sehingga kenaikan tidak terlalu signifikan. Periode selanjutnya yaitu 2004-2005, terjadi lonjakan ketika PT perusahaan Gas Negara, Tbk memberikan dividend per share yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp 51 dari semula Rp 1 per lembar sehingga tampak pada gambar, titik perusahaan tersebut menempati titik paling maksimal. Periode 2005-2006 perusahaan pertambangan umumnya memberikan dividend per share yang stabil, dimana dapat terlihat kenaikan dari tahun sebelumnya. Periode 2006-2007, perusahaan memberikan dividend per share yang lebih tinggi sehingga semua perusahaan mengalami kenaikan terutama PT Tambang Timah, Tbk.

4.1.2 Perkembangan Return on Equity Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Return on equity yaitu perbandingan laba setelah dikurangi bunga modal pinjaman dan pajak dengan modal sendiri yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Artinya, profit modal sendiri dapat digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal sendiri yang dioperasionalkan dalam perusahaan. Return on equity dapat diperoleh melalui formula sebagai berikut: EAT ROE = Equity Return on equity yang digunakan dalam penelitian ini, penulis ambil dari laporan keuangan sehingga tidak perlu lagi dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus di atas. Adapun perkembangan return on equity pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut : x 100%

Tabel 4.2 Perkembangan Return on Equity Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 No 1 2 3 4 5 Emiten ANTM BUMI PTBA TINS PGAS Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah Nilai dan Perkembangan Return on Equity 2002 11% 12% 13% 1% 50% 87% 17,4% 50% 1% 2003 13% 13% 15% 3% 16% 60% 12% 16% 3% % 0,18 0,08 0,15 2 -0,68 1,73 0,35 2 -0,68 2003 13% 13% 15% 3% 16% 60% 12% 16% 3% 2004 33% 83% 25% 12% 15% 168% 33,6% 83% 12% % 1,54 5,38 0,66 3 -0,06 10,52 2,10 5,38 -0,06 2004 33% 83% 25% 12% 15% 168% 2005 28% 52% 23% 7% 21% 131% % -0,15 -0,37 -0,08 -0,42 0,04 -0,62 -0,12 0,4 -0,42 2005 28% 52% 23% 7% 21% 131% 26,2% 52% 7% 2006 36% 62% 21% 12% 34% 165% 33% 62% 12% % 0,28 0,19 -0,08 0,71 0,62 1,72 0,34 0,71 -0,08 2006 36% 62% 21% 12% 34% 165% 33% 62% 12% 2007 59% 70% 27% 53% 25% 234% 46,8% 70% 25% % 0,64 0,13 0,28 3,42 0,26 4,73 0,95 3,42 0,13

33,6% 26,2% 83% 12% 52% 7%

Sumber : Data yang telah diolah

Pada tabel 4.2 diatas dapat dilihat untuk tahun 2002 rata-rata return on equity kelima perusahaan pertambangan sebesar 17,4%. Tingkat return on equity tertinggi dimiliki oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan tingkat return on equity sebesar 50%. Pada tahun ini, perusahaan memiliki jumlah modal sendiri yang paling besar diantara perusahaan yang lainnya yaitu sebesar Rp 2.248,295 milyar. Dengan modal sendiri yang besar dan laba yang paling besar pada tahun 2002, menjadikan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk memberikan return on equity yang paling tinggi. Adapun return on equity terendah pada tahun 2002 adalah PT Tambang Timah, Tbk dengan 1%. Perusahaan pada tahun ini memiliki modal sendiri sebesar Rp 1.318,722 milyar. Adapun untuk laba yang diperoleh, perusahaan pada tahun yang sama mendapatkan laba yang rendah bila dibandingkan dengan perusahaan lain. Untuk tahun 2003, rata-rata tingkat return on equity sebesar 12%. Perusahaan pertambangan dengan return on equity tertinggi pada tahun 2003 adalah PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan 16%. Perusahaan pada tahun ini memiliki jumlah modal sendiri sebesar Rp 3.261,967 milyar yang menjadikan perusahaan sebagai modal sendiri tertinggi serta dengan laba bersih yang tertinggi pada saat yang sama. Perusahaan pertambangan dengan return on equity terendah tahun 2003 adalah PT Tambang Timah, Tbk dengan 3%. Untuk kedua kalinya perusahaan memberikan return on equity yang rendah. Hal tersebut dikarenakan laba bersih yang diperoleh perusahaan adalah terendah dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Pada periode 2002-2003, umumnya perusahaan mengalami tingkat pertumbuhan return on equity. Pertumbuhan terbesar dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk. Walaupun perusahaan memberikan return on equity paling kecil namun perkembangan return on equity perusahaan adalah yang tertinggi. Pada periode ini, PT Tambang Timah, Tbk berada pada titik paling maksimal karena pada periode ini perusahaan mengalami kenaikan return on equity yang tertinggi yaitu sebesar 200%. Hal ini dikarenakan laba bersih dari penjualan yang mereka peroleh cukup besar. Sedangkan modal sendiri yang ada dalam perusahaan sangat

kecil. Sedangkan penurunan tingkat return on equity terjadi pada PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan penurunan sebesar 68%. Penurunan diakibatkan adanya pengurangan jumlah modal sendiri yang disetorkan para pemilik perusahaan. Tahun 2004, rata-rata tingkat return on equity untuk kelima perusahaan pertambangan adalah 33,6%. PT Bumi Resources, Tbk memiliki tingkat return on equity tertinggi yaitu sebesar 83% dibandingkan perusahaan pertambangan lainnya. PT Bumi Resources, Tbk pada tahun ini memperoleh peningkatan yang cukup besar yaitu ketika jumlah modal sendiri yang disetorkan bertambah dari semula Rp 801,761 milyar menjadi Rp 1.453,430 milyar dengan kenaikan sebesar 81%, yang menjadikan perusahaan tertinggi dalam hal tingkat return on equity. Sedangkan return on equity terendah dimiliki oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan 12%. Dan untuk ketiga kalinya perusahaan memberikan return on equity terendah bila dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Untuk tahun ini, perusahaan hanya menambah modal sendiri sebesar Rp 1.509,260 milyar dari semula Rp 1.392,565 milyar naik 8%. Periode 2003-2004, kelima perusahaan pertambangan memiliki

perkembangan return on equity yang berbeda. Secara umum pada periode ini kelima perusahaan pertambangan tersebut mengalami kenaikan tingkat return on equity dari periode sebelumnya. Hal ini dikarenakan kenaikan laba bersih perusahaan serta jumlah modal yang disetorkan pemilik perusahaan terbilang kecil. Namun PT Perusahaan Gas Negara, Tbk pada periode ini tetap mengalami penurunan dalam hal tingkat return on equity. Penurunan terjadi tidak terlalu signifikan yaitu hanya 6%. Pada periode ini, PT Bumi Resources, Tbk mengalami kenaikan return on equity yang tertinggi, yaitu sekitar 538% sehingga tampak dari grafik tersebut menempati titik paling maksimal. Adapun PT Tambang Timah, Tbk menempati posisi kedua sebagai perusahaan dengan tingkat kenaikan return on equity terbesar di samping PT Bumi Resources, Tbk. Untuk tahun 2005, rata-rata return on equity sebesar 26,2%. Adapun perusahaan dengan tingkat return on equity tertinggi dimiliki oleh PT Bumi Resources, Tbk dengan 52%. Perusahaan pada tahun ini mampu mendapatkan keuntungan yang tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk memberikan return

on equity yang tinggi pula dan tambahan modal sendiri yang disetorkan membuat return on equity semakin tinggi. Adapun perusahaan dengan tingkat return on equity terendah pada tahun 2005 adalah PT Tambang Timah, Tbk sebesar 7%. Pada tahun ini perusahaan hanya menambah modal sendiri sebesar Rp 24,770 milyar. Hal tersebut sangat berbeda jauh dengan perusahaan lain dimana mereka menambah modal sendiri sangat besar. Periode 2004-2005, umumnya kelima perusahaan pertambangan

mengalami penurunan tingkat return on equity. Penurunan terbesar terjadi pada PT Tambang Timah, Tbk dengan penurunan sebesar 42%. Adapun penurunan terbesar kedua yaitu PT Bumi Resources, Tbk dengan 37%. Tetapi pada periode ini terjadi kenaikan pada PT Perusahaan Gas Negara, Tbk sebesar 4%. Kenaikan tersebut walaupun sangat tipis namun dibandingkan dengan perusahaan pertambangan lain yang mengalami penurunan tingkat return on equity pada periode ini tentu lebih baik. Bagi PT Perusahaan Gas Negara, Tbk hal ini sangat berarti karena setelah dua periode berturut-turut mereka mengalami penurunan tingkat return on equity. Untuk tahun 2006, rata-rata return on equity sebesar 33%. Perusahaan dengan tingkat return on equity tertinggi dimiliki oleh PT Bumi Resources, Tbk dengan besar 62%. Untuk kedua kalinya perusahaan mampu memberikan return on equity yang tinggi dikarenakan pemilik perusahaan menambah modal sendiri yang ada di perusahaan sehingga modal sendiri bertambah besar dari yang semula Rp 2.353,460 milyar menjadi Rp 3.599,460 milyar. Untuk perusahaan dengan return on equity terendah dimiliki oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan 12%. Adapun yang menjadi penyebab karena perusahaan hanya menambah modal sendiri sangat kecil sehingga kinerja perusahaan tidak berkembang dengan baik. Periode selanjutnya yaitu 2005-2006, kelima perusahaan mengalami kenaikan perkembangan return on equity yang sangat kecil sehingga tampak pada grafik, rata-rata perusahaan tersebut memiliki tingkat return on equity di bawah 100%. Adapun kenaikan return on equity terbesar dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk dengan kenaikan sebesar 71%. Kenaikan terbesar kedua yaitu PT

Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan 62%. Penurunan return on equity terjadi pada PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dengan 8%. Tahun 2007, rata-rata return on equity untuk kelima perusahaan pertambangan adalah 46,8%. Perusahaan pertambangan dengan tingkat return on equity tertinggi adalah PT Bumi Resources, Tbk dengan return on equity sebesar 70%. Kenaikan modal sendiri menjadi penyebab kinerja perusahaan semakin baik. Dengan penambahan modal sendiri sebesar Rp 7.620,150 menjadikan perusahaan sebagai perusahaan dengan jumlah modal sendiri tertinggi diantara perusahaan yang lain dengan kenaikan sebesar 212%. Adapun perusahaan dengan tingkat return on equity terendah yaitu PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan 25%. Perusahaan hanya menambah modal sendiri sebesar Rp 731,945 milyar Untuk periode periode 2006-2007, dapat dilihat bahwa umumnya kelima perusahaan pertambangan tersebut mengalami kenaikan tingkat return on equity sehingga tidak ada yang berada pada titik minus (penurunan return on equity). PT Tambang Timah, Tbk berada pada titik maksimal pada periode ini karena pada sebelumnya yaitu tahun 2006 perusahaan memiliki tingkat return on equity yang sangat kecil namun pada tahun 2007 mengalami lonjakan yang sangat signifikan yaitu sebesar 342%. Kenaikan return on equity paling kecil pada periode ini terjadi pada PT Bumi Resources, Tbk yaitu dengan 13%. Dari uraian di atas, maka perkembangan tingkat return on equity dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut :

Gambar 4.2 Grafik Perkembangan Return on Equity Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007
6 5 4 3 1 ANTM 2 BUMI 3 PTBA

2
1 0 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 -1

4 TINS 5 PGAS

Sumber : Data yang telah diolah Dari gambar 4.2 dapat terlihat perkembangan return on equity, dimana pada periode 2002-2003 terjadi perkembangan yang berbeda untuk setiap perusahaan. Adapun kenaikan tertinggi dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk. Periode 2003-2004, umumnya perusahaan mengalami kenaikan return on equity dikarenakan penambahan modal sendiri dan laba yang diperoleh. Periode 20042005, perusahaan secara keseluruhan berada pada situasi penurunan tingkat return on equity, hanya PT perusahaan Gas Negara, Tbk yang mengalami kenaikan. Periode selanjutnya 2005-2006, terjadi kenaikan return on equity dikarenakan penambahan modal sendiri yang dilakukan perusahaan. Periode terakhir yaitu 2006-2007, terjadi kenaikan dari periode sebelumnya dimana kenaikan tertinggi dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk.

4.2

Perkembangan Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Harga pasar saham adalah harga rata-rata saham pada saat closing price.

Harga saham yang penulis gunakan dalam penelitian ini, diambil dari sumber Indonesian Capital Market Directory dimana harga saham yang tertera adalah harga saham perbulan. Kemudian harga saham tersebut di jumlah per bulan selama setahun setelah itu dibagi dengan 12. Pada tabel 4.3 dapat dilihat rata-rata harga pasar saham kelima perusahaan yang tergabung dalam sektor

pertambangan.

Tabel 4.3 Perkembangan Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 No 1 2 3 4 5 Emiten ANTM BUMI PTBA TINS PGAS Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah Nilai dan Perkembangan Harga Saham 2002 810 30 600 510 1950 390 810 30 2003 975 120 675 1020 1550 4340 868 1550 120 % 0,20 3 0,13 1 1 5,33 1,07 3 0,20 2003 975 120 675 1020 1550 4340 868 1550 120 2004 1590 620 910 2120 1400 6640 1328 2120 620 % 0,63 4,17 0,35 1,08 -0,06 6,17 1,23 4,17 -0,06 2004 1590 620 910 2120 1400 6640 1328 2120 620 2005 2460 809 1645 1960 3850 10724 2144 3850 809 % 0,55 0,30 0,81 -0,07 1,75 3,34 0,67 1,75 -0,07 2005 2460 809 1645 1960 3850 10724 2144 3850 809 2006 4890 816 3000 2160 11200 22066 4413 11200 816 % 0,99 0,01 0,82 0,10 1,90 3,82 0,76 1,90 0,01 2006 4890 816 3000 2160 11200 22066 4413 11200 816 2007 7630 2800 6370 14650 11300 42750 8550 14650 2800 % 0,56 2,43 1,12 5,78 0,08 9,97 2 5,78 0,08

Sumber : Data yang telah diolah

Pada tabel 4.3 dapat dilihat, bahwa perkembangan harga saham pada perusahaaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Hal tersebut diakibatkan karena faktor eksternal dan internal perusahaan. Faktor eksternal diantaranya inflasi, suku bunga, rumors, krisis global dan lain-lain. Adapun faktor internal perusahaan yaitu kinerja perusahaan itu sendiri ataupun karena faktor psikologis dari para pemegang saham ketika mereka menjual saham perusahaan pertambangan tersebut. Rata-rata harga saham perusahaan pertambangan pada tahun 2002 adalah Rp 390. Tahun 2002 harga saham tertinggi dimiliki oleh PT Aneka Tambang, Tbk dengan harga saham sekitar Rp 810. Faktor yang menyebabkan harga saham perusahaan tinggi adalah tingkat dividend per share yang tinggi dan return on equity yang tinggi. Akibatnya para investor banyak yang berinvestasi pada saham perusahaan. Adapun perusahaan dengan harga saham terendah untuk tahun 2002 adalah PT Bumi Resources, Tbk dengan harga saham yaitu Rp 30. Untuk tahun 2002, PT Bumi Resources, Tbk tidak memberikan dividend per share kepada para pemegang sahamnya. Hal tersebut yang membuat investor tidak tertarik untuk membeli saham perusahaan ini, sehingga harga saham pun jatuh. Padahal tingkat return on equity yang diberikan perusahaan cukup tinggi. Adapun pada tahun 2003 rata-rata harga saham sebesar Rp 868. Tahun 2003, perusahaan dengan harga saham tertinggi adalah PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan harga saham sekitar Rp 1550. Dengan tingkat dividend per share yang tinggi dan return on equity tertinggi pada tahun 2003, menjadikan saham PT Perusahaan Gas Negara, Tbk sangat menarik bagi investor. Sehingga pada akhirnya investor pun tertarik untuk membeli saham perusahaan ini. Sedangkan harga saham terendah pada tahun 2003 yaitu PT Bumi Resources, Tbk dengan harga Rp 120. Perusahaan pada tahun ini memberikan dividend per share yang rendah yang menyebabkan saham perusahaan tidak menarik untuk investor. Pada periode 2002-2003 PT Tambang Timah, Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk memiliki tingkat kenaikan yang sama yaitu 100%. Sedangkan PT Batubara Bukit Asam, Tbk dan PT Aneka Tambang, Tbk tidak jauh berbeda

dengan kenaikan sebesar 13% dan 20%. Sedangkan kenaikan terbesar dialami oleh PT Bumi Resources, Tbk dengan kenaikan sebesar 300%. Kenaikan sebesar 300% terjadi ketika harga saham yang semula Rp 30 menjadi Rp 120. Kenaikan tersebut dikarenakan kinerja perusahaan yang cukup baik dan banyaknya investor yang membeli saham perusahaan. Tahun 2004 rata-rata harga saham sebesar Rp 1328. Tahun 2004, perusahaan pertambangan dengan harga saham tertinggi adalah PT Tambang Timah, Tbk dengan harga saham yaitu Rp 2120. Untuk perusahaan dengan harga saham terendah pada tahun 2004 adalah PT Bumi Resources, Tbk. Harga saham PT Tambang Timah melonjak tajam karena pembagian dividend per share yang cukup besar yang mengakibatkan munculnya sentimen positif dari para pemegang sahamnya dan para investor lain. Adapun PT Bumi Resources, Tbk pada tahun 2004 tidak memberikan dividend per share sehingga muncul sentimen negatif dari para pemegang saham perusahaan atau investor lainnya. Saham perusahaan tidak lagi menarik karena tidak ada pemberian dividend per share kepada para pemegang sahamnya. Pada periode 2003-2004, PT Bumi Resources, Tbk membuktikan dengan kinerja perusahaan yang semakin baik yang dapat dilihat dari kenaikan penjualan pada tahun 2004 yang berasal dari kenaikan penjualan batu bara. Kinerja tersebut tercermin dari naiknya harga saham perusahaan. Kenaikan yang cukup besar yaitu 417% dari semula harga saham hanya Rp 120 menjadi Rp 620. Kenaikan cukup besar terjadi juga pada PT Tambang Timah, Tbk dengan 108%. Sedangkan perusahaan pertambangan lainnya kenaikan hanya berkisar di antara 35% sampai dengan 63%. Perusahaan yang mengalami penurunan harga saham adalah PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan penurunan sebesar 6%. Penurunan harga saham dikarenakan penjualan sebagian saham perusahaan yang dilakukan oleh investor dan para pemegang saham dikarenakan kinerja perusahaan yang relatif stabil. Untuk tahun 2005, rata-rata harga saham kelima perusahaan Rp 2144. Harga saham tertinggi dimiliki oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk. Harga saham perusahaan naik tajam karena faktor harga jual gas alam di pasaran

internasional yang tinggi yang mengakibatkan tingkat laba bersih yang diperoleh perusahaan ikut naik. Dengan laba bersih yang tinggi dapat dikatakan perusahaan tersebut berkinerja baik sehingga para investor tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut. Akibatnya harga saham perusahaan naik cukup tinggi. Harga saham terendah pada tahun 2005 adalah PT Bumi Resources, Tbk dengan harga saham Rp 809. Harga saham perusahaan tidak berfluktuasi terlalu tinggi, dikarenakan pemberian dividend per share yang kecil dibandingkan dengan perusahaan pertambangan lainnya. Dengan dividend per share yang kecil, investor tidak lagi tertarik dengan saham perusahaan tersebut. Untuk periode 2004-2005, PT Perusahaan Gas Negara, Tbk mampu memperbaiki kinerja perusahaan dengan memperbaiki keseluruhan aktivitas operasi perusahaan sehingga kinerja perusahaan semakin baik. Dan dapat dilihat dari harga saham yang naik 175%. Manajemen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan agar perusahaan dapat memberikan hasil yang optimum bagi para pemegang sahamnya. Penurunan harga saham dialami oleh PT Tambang Timah, Tbk sebesar 7%. Sedangkan perusahaan pertambangan lainnya mengalami kenaikan berkisar 3% sampai dengan 81%. Tahun 2006, rata-rata harga saham kelima perusahaan pertambangan sebesar Rp 4413. Pada tahun ini perusahaan pertambangan mengalami pertumbuhan laba yang signifikan. Harga berbagai komoditas di pasaran internasional naik dengan cepat seperti batubara, gas alam, tembaga, nikel serta berbagai komoditas pertambangan lainnya. Harga saham perusahaan pun naik tajam dengan peningkatan hampir 2%. Kenaikan harga saham tertinggi dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk yaitu sekitar 190%. Kenaikan harga saham ini dipicu oleh harga gas alam di pasaran internasional yang tinggi dan stabil serta jumlah pasokan gas alam yang terbatas. Kenaikan terendah harga saham pada tahun 2006 adalah PT Bumi Resources, Tbk. Dengan kenaikan harga batubara seharusnya laba bersih perusahaan akan naik, karena dengan naiknya laba harga saham perusahaan akan naik. Laba naik maka saham perusahaan akan diburu oleh para investor karena investor beranggapan apabila laba naik maka kinerja perusahaan tersebut sangat baik. Tetapi pada kenyataannya harga saham

perusahaan naik sangat tipis yaitu hanya 1%. Tingkat pemberian dividend per share yang kecil mengakibatkan harga saham turun karena tidak menarik lagi bagi investor untuk membeli saham tersebut. Periode 2005-2006, harga saham PT Perusahaan Gas Negara, Tbk terus mengalami kenaikan. Kenaikan yang terjadi sebesar 190%. Harga saham perusahaan yang semula Rp 3850 berubah menjadi Rp 11200. Harga saham melonjak karena persediaan saham perusahaan yang terbatas di pasaran sedangkan permintaan terhadap saham perusahaan semakin banyak. Akibatnya harga saham naik cukup signifikan. Saham perusahaan terus dicari oleh investor karena investor melihat adanya perbaikan yang menyeluruh yang dilakukan manajemen sehingga hasilnya dapat dilihat yaitu berupa kenaikan laba bersih dan peningkatan penjualan. Perusahaan pertambangan lain pada periode ini hanya mengalami kenaikan berkisar 1% sampai 99%. Untuk tahun 2007 rata-rata harga saham perusahaan pertambangan sebesar Rp 8550. Adapun harga saham tertinggi yaitu PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan Rp 11300. Dalam dua tahun berturut-turut, harga saham PT Perusahaan Gas Negara, Tbk tertinggi dibandingkan dengan perusahaan pertambangan lainnya. Tingkat dividend per share yang tinggi dan return on equity yang tinggi pula mengakibatkan harga saham perusahaan naik walau kenaikan dari tahun sebelumnya cukup tipis yaitu berkisar 8%. Apabila PT Perusahaan Gas Negara, Tbk menempati perusahaan dengan harga saham tertinggi maka PT Bumi Resources, Tbk menempati posisi sebagai perusahaan dengan harga saham terendah untuk tahun 2007. Perusahaan tersebut menempati posisi sebagai perusahaan dengan harga saham terendah dua tahun berturut-turut. Tetapi jika dilihat dari kenaikan maka harga saham PT Bumi Resources, Tbk menempati posisi kedua dengan kenaikan sangat signifikan yaitu 248% di bawah PT Tambang Timah, Tbk dengan kenaikan sebesar 578%. Periode 2006-2007, umumnya perusahaan mengalami kenaikan harga saham. Kenaikan diakibatkan karena harga komoditas pertambangan yang semakin mahal sehingga laba perusahaan bertambah yang berakibat pada munculnya sentimen positif dari para investor. Kenaikan tertinggi pada periode ini dialami oleh PT Tambang Timah,

Tbk sebesar 578% dari semula harga saham perusahaan Rp 2160 menjadi Rp 14650. Adapun kenaikan terendah dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara, Tbk dengan 8%. Dari uraian di atas, maka perkembangan harga saham dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut : Gambar 4.3 Grafik Perkembangan Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007
7 6 5 1 ANTM 4 3 2 1 0 -1 2002-2003 2003-2004 2004-2005 2005-2006 2006-2007 2 BUMI 3 PTBA 4 TINS 5 PGAS

Sumber : Data yang telah diolah Dari gambar 4.3 di atas dapat dilihat perkembangan harga saham perusahaan pertambangan periode 2002-2007. Pada periode 2002-2003 secara umum perusahaan mengalami kenaikan harga saham, perusahaan dengan kenaikan terbesar adalah PT Bumi Resources, Tbk. Periode 2003-2004 secara umum perusahaan mengalami kenaikan harga saham. Hanya PT Perusahaan Gas Negara, Tbk pada periode ini yang mengalami penurunan harga saham. Periode 2004-2005, harga saham perusahaan cenderung naik. Namun PT Bumi Resources, Tbk mengalami penurunan harga saham. Periode 2005-2006, umumnya harga saham perusahaan naik hanya harga saham PT Bumi Resources, Tbk yang

kembali menurun. Periode terakhir, 2006-2007, harga saham cenderung berfluktuasi.

4.3

Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Secara Parsial Maupun Simultan Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2002-2007 Untuk mengetahui apakah secara statistik terdapat hubungan atau

pengaruh antara dividend per share dan return on equity terhadap harga saham maka harus dilakukan pengujian statistik baik secara parsial maupun simultan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji normalitas data, regresi linier sederhana, regresi berganda, koefisien korelasi, koefisien determinasi serta pengujian hipotesis baik uji t maupun uji F.

4.3.1 Uji Normalitas Data Uji normalitas data dilakukan dengan mengamati sebaran titik varian dari masing-masing variabel yaitu dividend per share, return on equity dan harga saham atas normal P-Plot of Regression Standar Residual. Grafik normal P-Plot of Regression Standar Residual menunjukkan tingkat normal atau tidaknya data terhadap suatu penelitian. Untuk melihat normalitas data pada masing-masing variabel penelitian yaitu variabel dividend per share, return on equity dan harga saham dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.4 Diagram Distribusi Normal Dividend per Share Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007

Normal P-P Plot of dividend per share

1.0

0.8

Expected Cum Prob


0.6

0.4

0.2

0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob


Transforms: natural log

Pada gambar di atas maka dapat dipastikan data variabel dividend per share berdistribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat dari sebaran titik varian yang mendekati garis tengah. Jika titik sebaran mendekati garis tengah maka data tersebut berdistribusi normal. Selanjutnya pada gambar 4.5 adalah gambar diagram disribusi normal untuk variabel return on equity.

Gambar 4.5 Diagram Distribusi Normal Return on Equity Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007

Normal P-P Plot of return on equity

1.0

0.8

Expected Cum Prob


0.6

0.4

0.2

0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob


Transforms: natural log

Pada gambar di atas maka dapat dipastikan data variabel return on equity berdistribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat dari sebaran titik varian yang mendekati garis tengah. Jika titik sebaran mendekati garis tengah maka data tersebut berdistribusi normal. Selanjutnya pada gambar 4.6 adalah gambar diagram disribusi normal untuk variabel harga saham.

Gambar 4.6 Diagram Distribusi Normal Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007

Normal P-P Plot of harga saham

1.0

0.8

Expected Cum Prob


0.6

0.4

0.2

0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob


Transforms: natural log

Pada gambar di atas maka dapat dipastikan data variabel harga saham berdistribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat dari sebaran titik varian yang mendekati garis tengah. Jika titik sebaran mendekati garis tengah maka data tersebut berdistribusi normal. Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas pengaruh dividend per share dan return on equity terhadap harga saham secara parsial.

4.3.2 Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Secara Parsial Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 20022007 Untuk dapat mengetahui pengaruh masing-masing antara dividend per share dan return on equity terhadap harga saham, maka perlu menganalisisnya terlebih dahulu secara parsial.

4.3.2.1 Pengaruh Dividend per Share Secara Parsial Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Untuk mengetahui pengaruh dividend per share terhadap harga saham maka diperlukan pengujian statistik secara parsial sebagai berikut:

1. Regresi Linier Sederhana Untuk lebih mengetahui hubungan dividend per share terhadap harga saham maka dilakukan pengujian regresi linier sederhana. Di bawah ini adalah tabel pengujian variabel dividend per share terhadap harga saham. Tabel 4.4 Regresi Linier Sederhana Dividend per Share Terhadap Harga Saham
Coefficients(a)
Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Dividend per Share ,914 ,024 Std. Error ,213 ,005 Standardized Coefficients Beta ,695 t B 4,293 4,631 Sig. Std. Error ,000 ,000

a Dependent Variable: Harga Saham

Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 0,914 + 0,024 X1 Dari persamaan di atas maka dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar 0,914 menyatakan bahwa jika tidak ada perubahan dividend per share maka harga sahamnya adalah 0,914. Nilai koefisien regresi dari dividend per share bertanda

positif sebesar 0,024. Hal ini mengandung arti bahwa kenaikan variabel dividend per share sebesar satu unit akan meningkatkan harga saham sebesar 0,024 unit. 2. Koefisien Korelasi Agar dapat mengetahui keeratan hubungan antara dividend per share dengan harga saham maka akan diukur dengan koefisien korelasi. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS v.15, maka diperoleh hasil koefisien korelasi sebagai berikut: Tabel 4.5 Koefisien Korelasi Dividend per Share Terhadap Harga Saham
Correlations
Dividend per Share 1 25 ,695(**) ,000 25 Harga Saham ,695(**) ,000 25 1 25

Dividend per Share

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

Harga Saham

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa besarnya koefisien korelasi adalah sebesar 0,695 yang berada antara 0,60 - 0,799, yang artinya dividend per share memiliki hubungan yang kuat terhadap harga saham.

3. Koefisien Determinasi Untuk melihat seberapa besar variabel dividend per share berpengaruh terhadap variabel harga saham maka dihitung dengan menggunakan koefisien determinasi. Besarnya koefisien determinasi dapat ditentukan dari besarnya koefisien korelasi (r). Besarnya koefisien determinasi (r 2 ) adalah kuadrat besarnya koefisien korelasi (r), yaitu: kd = r2 * 100% kd = (0,695)2 * 100% kd = 0,483025 * 100% kd = 48,3%

Besarnya koefisien determinasi adalah sebesar 48,3%, artinya dapat dikatakan bahwa pengaruh dividend per share terhadap harga saham hanya sebesar 48,3% sedangkan sisanya yaitu 51,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4. Pengujian Hipotesis (Uji t) Agar dapat mengetahui apakah terdapat pengaruh antara dividend per share terhadap harga saham maka perlu dilakukan pengujian hipotesis. Langkahlangkah pengujian hipotesis sebagai berikut: d. Merumuskan hipotesis nol
01

:r

0 ; menunjukkan variabel dividend per share (X1) tidak


berpengaruh terhadap harga saham (Y)

01

:r

0 ; menunjukkan variabel dividend per share (X1) berpengaruh


terhadap variabel harga saham (Y)

e. Menentukan tingkat signifikansi Tingkat signifikansi yang diambil untuk penelitian ini adalah 5% atau 0,05 dengan uji 2 pihak sehingga diperoleh nilai t tabel sebesar 2,069. Adapun nilai t hitung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.6 Pengujian Hipotesis (Uji t)
Coefficients(a)
Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Dividend per Share ,914 ,024 Std. Error ,213 ,005 Standardized Coefficients Beta ,695 t B 4,293 4,631 Sig. Std. Error ,000 ,000

a Dependent Variable: Harga Saham

f.

Kesimpulan Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan -ttabel thitung ttabel (2,069

4,631

2,069), maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel dividend

per share berpengaruh positif terhadap harga saham. Sedangkan dalam pengujian tingkat signifikansi, terdapat hubungan yang signifikan antara dividend per share

terhadap harga saham karena dalam penelitian diperoleh hasil tingkat uji signifikansi dibawah tingkat alpha (0,00 < 0,05). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, maka penerimaan dan penolakan Ho dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.7 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji t)

Daerah Penolakan Ho

Daerah Penerimaan Ho

Daerah Penolakan Ho

-4,631

-2,069

2,069

4,631

4.3.2.2 Pengaruh Return on Equity Secara Parsial Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Untuk mengetahui pengaruh return on equity terhadap harga saham maka diperlukan pengujian statistik secara parsial sebagai berikut:

1. Regresi Linier Sederhana Untuk lebih mengetahui hubungan return on equity terhadap harga saham maka dilakukan pengujian regresi linier sederhana. Di bawah ini adalah tabel pengujian variabel return on equity dan harga saham.

Tabel 4.7 Regresi Linier Sederhana Return on Equity Terhadap Harga Saham
Coefficients(a)
Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Return on Equity ,682 ,653 Std. Error ,248 ,162 Standardized Coefficients Beta ,645 t B 2,749 4,043 Sig. Std. Error ,011 ,001

a Dependent Variable: Harga Saham

Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 0,682 + 0,653 X2 Dari persamaan di atas maka dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar 0,682 menyatakan bahwa jika tidak ada perubahan return on equity maka harga sahamnya adalah 0,682. Nilai koefisien regresi dari return on equity bertanda positif sebesar 0,653. Hal ini mengandung arti bahwa kenaikan variabel return on equity sebesar satu unit akan meningkatkan harga saham sebesar 0,653 unit.

2.

Koefisien Korelasi Agar dapat mengetahui keeratan hubungan antara return on equity dengan

harga saham maka akan diukur dengan koefisien korelasi. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS v.15, maka diperoleh hasil koefisien korelasi sebagai berikut: Tabel 4.8 Koefisien Korelasi Return on Equity Terhadap Harga Saham
Correlations
Harga Saham 1 25 ,645(**) ,001 25 Return on Equity ,645(**) ,001 25 1 25

Harga Saham

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

Return on Equity

Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N

** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa besarnya koefisien korelasi adalah sebesar 0,645 yang berada antara 0,60 - 0,799, yang artinya return on equity memiliki hubungan yang kuat terhadap harga saham. 3. Koefisien Determinasi Untuk melihat seberapa besar variabel return on equity berpengaruh terhadap variabel harga saham maka dihitung dengan menggunakan koefisien determinasi. Besarnya koefisien determinasi dapat ditentukan dari besarnya koefisien korelasi (r). Besarnya koefisien determinasi (r 2 ) adalah kuadrat besarnya koefisien korelasi (r), yaitu: kd = r2 * 100% kd = (0,645)2 * 100% kd = 0,416025 * 100% kd = 41,6% Besarnya koefisien determinasi adalah sebesar 41,6%, artinya dapat dikatakan bahwa pengaruh return on equity terhadap harga saham hanya sebesar 41,6% sedangkan sisanya yaitu 58,4% adalah pengaruh dari faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4. Pengujian Hipotesis (Uji t) Agar dapat mengetahui apakah terdapat pengaruh antara return on equity terhadap harga saham maka perlu dilakukan pengujian hipotesis. Langkahlangkah pengujian hipotesis adalah sebagai berikut: a. Merumuskan hipotesis nol
02

:r

0 ; menunjukkan variabel return on equity


berpengaruh terhadap harga saham (Y)

(X2) tidak

02

:r

0 ; menunjukkan variabel return on equity (X2) berpengaruh


terhadap variabel harga saham (Y)

b.

Menentukan tingkat signifikansi Tingkat signifikansi yang diambil untuk penelitian ini adalah 5% atau 0,05

dengan uji 2 pihak, sehingga diperoleh nilai t tabel sebesar 2,069. Adapun nilai t hitung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.9 Pengujian Hipotesis (Uji t)
Coefficients(a) Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B 1 (Constant) Return on Equity ,682 ,653 Std. Error ,248 ,162 Beta ,645

Model

t B 2,749 4,043

Sig. Std. Error ,011 ,001

a Dependent Variable: Harga Saham

c.

Kesimpulan Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan -ttabel 4,043 thitung ttabel (-2,069

2,069) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel return on

equity berpengaruh positif terhadap harga saham. Sedangkan dalam pengujian tingkat signifikansi, terdapat hubungan yang signifikan antara return on equity terhadap harga saham karena dalam penelitian diperoleh hasil tingkat uji signifikansi dibawah tingkat alpha (0,00 < 0,05). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, maka penerimaan dan penolakan Ho dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 4.8 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji t)

Daerah Penolakan Ho

Daerah Penerimaan Ho

Daerah Penolakan Ho

-4,043

-2,069

2,069

4,043

4.3.3 Pengaruh Dividend per Share dan Return on Equity Secara Simultan Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Tergabung Dalam Sektor Pertambangan Periode 2002-2007 Untuk dapat mengetahui pengaruh dividend per share dan return on equity terhadap harga saham secara simultan, maka kita perlu menganalisisnya dengan melakukan uji statistika secara simultan yaitu dengan regresi linier berganda, koefisien korelasi berganda, koefisien determinasi dan pengujian hipotesis (uji F).

4.3.3.1 Uji Asumsi Klasik Agar memperoleh penelitian yang akurat maka dilakukan uji asumsi klasik sebagai berikut: 1. Auto korelasi Auto korelasi digunakan untuk melihat apakah ada pengaruh dari variabelvariabel dalam modelnya melalui selang waktu. Ukuran dalam pengujian autokorelasi adalah sebagai berikut: 1,65 < DW < 2,35 (Tidak autokorelasi) 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 (Tidak dapat disimpulkan)

DW < 1,21 atau DW > 2,79 (Terjadi autokorelasi) Untuk mengetahui terdapat autokorelasi atau tidak pada variabel dividend per share dan return on equity terhadap harga saham dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.10 Autokorelasi Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham
Model Summary(b)
Model 1 R ,805(a) R Square ,647 Adjusted R Square ,615 Std. Error of the Estimate ,87380 Durbin-Watson 1,897

a Predictors: (Constant), dividend per share, return on equity b Dependent Variable: harga saham

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Durbin-Watson (D-W) sebesar 1,897 yang berada 1,65 < DW < 2,35 yang artinya tidak terjadi autokorelasi. 2. Multikolinieritas Uji multikolinieritas ditujukan untuk lebih mengetahui adanya hubungan yang sempurna atau pasti di antara beberapa atau semua variabel independen dari model regresi. Caranya dengan melihat tolerance value dari variance inflation fantor (VIF). Bila nilai tolerance value < 0,1 atau VIF untuk variabel bebas >10, maka terjadi multikolinieritas. Tabel 4.11 Multikolinieritas Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham
M o d e l

1 (Constant) return on equity dividend per share

Standardiz Unstandardized ed Coefficients Coefficients Std. B Error Beta ,652 ,197 ,449 ,018 ,139 ,005 ,442 ,522

t Toleran ce 3,307 3,222 3,802

Sig. VIF ,003 ,004 ,001

Collinearity Statistics Std. B Error ,850 ,850 1,176 1,176

Coefficients(a) a Dependent Variable: harga saham

Dari hasil perhitungan pada tabel diatas, di dapat hasil tolerance value di atas 0,1 dan VIF di bawah 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas di antara variabel bebas.

4.3.3.2 Regresi Linier Berganda Teknik regresi berganda digunakan untuk mengetahui hubungan fungsional antara variabel dependen yang dihubungkan dengan dua atau lebih variabel independen. Setelah melakukan uji asumsi klasik selanjutnya adalah dengan melakukan pengujian regresi linier berganda. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut: Tabel 4.12 Regresi Linier Berganda Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham
Coefficients(a)
Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Return on Equity Dividend per Share ,653 ,448 ,018 Std. Error ,197 ,139 ,005 Standardized Coefficients Beta ,442 ,524 t B 3,320 3,225 3,820 Sig. Std. Error ,003 ,004 ,001

a Dependent Variable: Harga Saham

Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 0,653 + 0,018 X1 + 0,448 X2 Dari persamaan di atas maka dapat dijelaskan bahwa konstanta sebesar 0,653 menyatakan bahwa jika tidak ada perubahan dividend per share dan return on equity maka harga sahamnya adalah 0,653. Penjelasan berikutnya yaitu dividend per share memiliki koefisien korelasi regresi bertanda positif sebesar 0,018. Hal ini mengandung arti bahwa perubahan variabel dividend per share sebesar satu unit akan meningkatkan harga saham sebesar 0,142 unit. Sedangkan untuk return on equity memiliki koefisien korelasi regresi bertanda positif sebesar 0,448. Hal ini mengandung arti bahwa perubahan variabel return on equity sebesar satu unit akan meningkatkan harga saham sebesar 0,084 unit.

4.3.3.3 Koefisien Korelasi Berganda Korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah kuat hubungan antara dua variabel secara bersama-sama atau lebih dengan variabel yang lain. Hubungan korelasi secara simultan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.13 Koefisien Korelasi Berganda dan Koefisien Determinasi Dividend per Share dan Return on Equity Terhadap Harga Saham
Model Summary
Model 1 R ,805(a) R Square ,649 Adjusted R Square ,617 Std. Error of the Estimate ,87219

a Predictors: (Constant), Dividend per Share, Return on Equity

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa besarnya koefisien korelasi ganda adalah sebesar 0,805 yang berada antara 0,80 - 1,000 yang artinya dividend per share dan return on equity secara simultan memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap harga saham.

4.3.3.4 Koefisien Determinasi Analisis koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel dividend per share dan return on equity berpengaruh terhadap variabel harga saham. Untuk koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.13 yaitu sebesar 0,649 atau 64,9%, artinya dapat dikatakan bahwa pengaruh dividend per share dan return on equity secara simultan terhadap harga saham sebesar 64,9% sedangkan sisanya yaitu 35,1% adalah pengaruh dari faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4.3.3.5 Pengujian Hipotesis (Uji F) Agar dapat mengetahui apakah terdapat pengaruh antara dividend per share dan return on equity terhadap harga saham secara simultan maka perlu dilakukan pengujian hipotesis. Langkah-langkah pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan hipotesis nol


1

: R1

R2

0 ; menunjukkan variabel

(dividend per share) dan

(return on equity) tidak berpengaruh secara simultan terhadap variabel Y (harga saham)
1

: R1

R2

0 ; menunjukkan kedua variabel X1 dan X2 (dividend per share

dan return on equity) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Y (harga saham) b. Menentukan tingkat signifikansi sebesar
5% atau 0,05

Tingkat signifikansi yang diambil untuk penelitian ini adalah 5% atau 0,05 dengan uji 2 pihak, sehingga diperoleh nilai F tabel sebesar 3,44. Adapun nilai F hitung dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.14 Pengujian Hipotesis (Uji F)
ANOVA(b)
Sum of Squares 30,889 16,736 47,624

Model 1

df 2 22 24

Regression Residual Total

Mean Square 15,444 ,761

F 20,302

Sig. ,000(a)

a Predictors: (Constant), Dividend per Share, Return on Equity b Dependent Variable: Harga Saham

c. Kesimpulan Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan Fhitung > Ftabel (20,302 > 3,44), maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel dividend per share dan return on equity berpengaruh positif terhadap harga saham. Sedangkan dalam pengujian tingkat signifikansi, terdapat hubungan yang signifikan antara dividend per share dan return on equity terhadap harga saham karena dalam penelitian diperoleh hasil tingkat uji signifikansi dibawah tingkat alpha (0,00 < 0,05). Berdasarkan uji hipotesis dapat digambarkan daerah penolakan dan penerimaan Ho sebagai berikut :

Gambar 4.9 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho (Uji F)

Daerah Penerimaan Ho

Daerah Penolakan Ho

3,44

20,302

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan pembahasan yang telah

dilakukan pada bab IV maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Perkembangan dividend per share dan return on equity dari lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007. a. Perkembangan dividend per share Dapat disimpulkan bahwa dividend per share pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 cenderung berfluktuasi. Hal ini disebabkan oleh naik turunnya laba bersih sehingga berpengaruh terhadap pembagian dividend per share. b. Perkembangan return on equity Dapat disimpulkan bahwa return on equity pada lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 cenderung berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena peningkatan rata-rata laba bersih lebih kecil dari peningkatan jumlah modal sendiri. 2. Perkembangan harga saham lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007. Dapat disimpulkan bahwa harga saham lima perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007 cenderung meningkat. Kenaikan ini disebabkan karena meningkatnya faktor-faktor pada perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan, seperti kinerja perusahaan yang baik yaitu dengan peningkatan laba bersih yang signifikan sehingga para investor tertarik untuk membeli saham perusahaan pertambangan dikarenakan kemampuan perusahaan untuk memberikan dividend per share dan return on equity yang maksimal. 3. Pengaruh dividend per share dan return on equity secara parsial maupun secara simultan terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam sektor pertambangan periode 2002-2007.

a. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel dividend per share memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,695 yang berarti hubungan dividend per share dengan harga saham adalah kuat. Hasil pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara parsial antara variabel dividend per share terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung yang berada di daerah penolakan Ho serta dalam uji tingkat signifikansi yang di bawah nilai alpha. b. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel return on equity memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,645 yang berarti hubungan return on equity dengan harga saham adalah kuat. Hasil pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara parsial antara variabel return on equity terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung yang berada di daerah penolakan Ho serta dalam uji tingkat signifikansi yang di bawah nilai alpha. c. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel dividend per share dan return on equity secara simultan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan harga saham. Adapun tingkat keeratan hubungan sebesar 0,805 yang berarti hubungan dividend per share dan return on equity secara simultan dengan harga saham adalah sangat kuat. Hasil pengujian hipotesis, menunjukkan terdapat pengaruh secara simultan antara variabel dividend per share dan return on equity terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dari nilai Fhitung yang berada di daerah penolakan Ho serta dalam uji tingkat signifikansi yang di bawah nilai alpha.

5.2

Saran Dengan melihat hasil penelitian pada bab IV maka penulis memberikan

saran yang mungkin akan berguna baik untuk investor maupun pihak-pihak lain. Saran-saran tersebut sebagai berikut :

1.

Dalam hal memilih saham, sebaiknya investor melakukan analisis terlebih dahulu seperti melakukan analisis fundamental perusahaan (analisis internal perusahaan) yaitu salah satunya dengan melakukan analisis terhadap tingkat dividend per share dan return on equity, karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terhadap harga saham.

2.

Bagi peneliti lain dapat meneliti variabel-variabel lain seperti emiten dari sektor lainnya yang berbeda dengan jumlah data yang lebih banyak agar memberikan hasil yang lebih baik.

3.

Bagi manajemen perusahaan, sebaiknya lebih meningkatkan kinerja perusahaan karena dengan kinerja yang semakin baik maka investor akan tertarik untuk membeli saham perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Sartono., 2001, Manajemen Keuangan (Teori dan Aplikasi), Edisi Keempat, Yogyakarta, BPFE Ali Arifin., 2004, Membaca Saham, Yogyakarta, Andi Aliminsyah dan Padji MA., 2005, Kamus Istilah Akuntansi, Cetakan Kedua, Bandung, CV. Yrama Widya Ardiyos., 2001, Kamus Ekonomi, Cetakan Pertama, Jakarta, Citra Harta Prima Brigham, Eugene F. and Houston, Joel., 2004, Fundamentals of Financial Management, Tenth Edition, Thomson South Western Cornelius Trihendradi., 2005, Analisis Data Statistik, Yogyakarta, Andi Dev Group on Research., 2008, Indeks Saham dan Obligasi, dalam situs www.google.com Dewi Astuti., 2004, Manajemen Keuangan Perusahaan, Cetakan Ketiga, Jakarta, Ghalia Indonesia Dwi Prastowo dan Rifka Julianty., 2005, Analisis Laporan Keuangan (Konsep dan Aplikasi), Edisi kedua, Yogyakarta, UPP AMP YKPN Furqon., 2008, Metodologi Untuk Penelitian Bisnis, Bandung, Alfabeta Gibson, Charles H., 2001, Financial Reporting Analysis, 8th ed, South Western College Publishing Gitman, Lawrence J., 2003, Principles of Management Finance, Tenth Edition, Addison Wesley, Boston Heru Tjaraka., 2008, Analisis-analisis Fundamental yang Berpengaruh Terhadap Harga Saham, dalam situs www.google.com Ikatan Akuntan Indonesia., 2004, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta, Salemba Empat Martono dan Agus Harjito., 2007, Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Keenam, Yogyakarta, Ekonisia Marzuki., 2002, Metodologi Riset, Yogyakarta, PT Prasetya Widya Pratama Moch. Nazir., 2003, Metode Penelitian, Jakarta , Ghalia Indonesia

Munawir., 2004, Analisa Laporan Keuangan, Edisi Keemapt, Cetakan Ketigabelas, Yogyakarta, Liberty Mustopo Ali Sasongko., 2008, Analisa Penilaian Saham, dalam situs www.WealthIndonesia.com Rico Lesmana dan Rudi Surjanto., 2003, Financial Performance Analyzing, Jakarta, Elex Media komputindo Riduwan., 2008, Dasar-Dasar Statistika, Cetakan Keenam, Bandung, Alfabeta Ridwan S. Sundjaja dan Inge Barlian., 2003, Manajemen Keuangan, Edisi Keempat, Jakarta, Literata Lintas Media Ross, Westerfield, Jaffe., 2002, Corporate Finance, 5th, Mc Graw-Hill Rusdin., 2006, Pasar Modal, Cetakan Kesatu, Bandung, Alfabeta Slamet Sugiri., 2001, Sistem Pengawasan Manajemen, Yogyakarta, UPP AMP YKPN Sofyan Syafri Harahap., 2004, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, Cetakan Keempat, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti., 2007, Manajemen Keuangan, Edisi Kelima, UPP AMP YKPN Sugiyono., 2006, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Keenam, Bandung, Alfabeta Sunarsip., 2008, Memperkuat Kinerja Perusahaan Pertambangan, dalam situs www.google.com Sri Hasnawati., 2006, Penilaian Saham, Memahami Cara-cara Berinvestasi di Pasar Modal, dalam situs www.google.com Susan Irawati., 2006, Manajemen Keuangan, Cetakan Kesatu, Bandung, Pustaka Sutrisno., 2003, Manajemen Keuangan, Cetakan Ketiga, Yogyakarta, Ekonisia Tangkilisan dan Nogi Hessel., 2003, Manajemen Keuangan Bagi Analisis Kredit Perbankan, Yogyakarta, Balairuna dan Co Van Horne, James. and Wachowicz, John M., 2000, Published Under The Financial Times, Twelfth Edition, Madrid, Spain Warren, Carl S., Reeve, James M., Fess, Philip E., 2005, Accounting (Edisi Bahasa Indonesia), Edisi Ke 21, Jakarta, Salemba Empat

Watson, Denzil. and Head, Anthony., 2004, Corporate Reporting Analysis, 8th ed, South Western College Publishing Weston, J Fred. and Brigham, F Eugene., 2002, Essentials Of Managerial Finance, The Dryden Press www.google.com www.infovesta.com www.WealthIndonesia.com

TABEL DISTRIBUSI NILAI t 0.50 dk 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 40 60 120 0.25 1.000 0.816 0.765 0.741 0.727 0.718 0.711 0.706 0.703 0.700 0.697 0.695 0.692 0.691 0.690 0.689 0.688 0.688 0.687 0.687 0.686 0.686 0.685 0.685 0.684 0.684 0.684 0.683 0.683 0.683 0.681 0.679 0.677 674.000 untuk uji dua pihak (two tail test) 0.20 0.10 0.05 untuk uji satu pihak (one tail test) 0.10 0.05 0.03 3.078 6.314 12.706 1.886 2.920 4.303 1.638 2.353 3.182 1.533 2.132 2.776 1.476 2.015 2.571 1.440 1.943 2.447 1.415 1.895 2.365 1.397 1.860 2.306 1.383 1.833 2.262 1.372 1.812 2.228 1.363 1.796 2.201 1.356 1.782 2.179 1.350 1.771 2.160 1.345 1.761 2.145 1.341 1.753 2.131 1.337 1.746 2.120 1.333 1.740 2.110 1.330 1.734 2.101 1.328 1.729 2.093 1.325 1.725 2.086 1.323 1.721 2.080 1.321 1.717 2.074 1.319 1.714 2.069 1.318 1.711 2.064 1.316 1.708 2.060 1.315 1.706 2.056 1.314 1.703 2.052 1.313 1.701 2.048 1.311 1.699 2.045 1.310 1.697 2.042 1.303 1.684 2.021 1.296 1.671 2.000 1.289 1.658 1.980 1.282 1.645 1.960 0.02 0.01 31.821 6.965 4.541 3.747 3.365 3.143 2.998 2.896 2.821 2.764 2.718 2.681 2.650 2.624 2.602 2.583 2.567 2.552 2.539 2.528 2.518 2.508 2.500 2.492 2.485 2.479 2.473 2.467 2.462 2.457 2.423 2.390 2.358 2.326 0.01 0.01 63.657 9.925 5.841 4.604 4.032 3.707 3.499 3.355 3.250 3.169 3.106 3.055 3.012 2.977 2.947 2.921 2.898 2.878 2.861 2.845 2.831 2.819 2.807 2.797 2.787 2.779 2.771 2.763 2.756 2.750 2.704 2.660 2.617 2.576

TABEL DISTRIBUSI NILAI F untuk = 0.05 dk Pembilang 2 3 200 216 19.00 19.16 9.55 9.28 6.94 6.59 5.79 5.41 5.14 4.76 4.74 4.35 4.46 4.07 4.26 3.86 4.10 3.71 3.98 3.59 3.88 3.49 3.80 3.41 3.74 3.34 3.68 3.29

dk Penyebut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

1 161 18.51 10.13 7.71 6.61 5.99 5.59 5.32 5.12 4.96 4.84 4.75 4.67 4.60 4.54

4 225 19.25 9.12 6.39 5.19 4.53 4.14 3.84 3.63 3.48 3.36 3.26 3.18 3.11 3.06

5 230 19.30 9.01 6.26 5.05 4.39 3.97 3.69 3.48 3.33 3.20 3.11 3.02 2.96 2.90