Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sedang menghadapi masalah gizi

ganda yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan. Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan (Almatsier, 2001). Tingkat konsumsi pangan seseorang, menurut Soegito (1985) dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan makanan dan sikap terhadap makanan. Tingkat ketersediaan makanan dipengaruhi oleh jenis dan jumlah bahan makanan yang tersedia, kemampuan atau daya beli serta jumlah anggota keluarga. Sedangkan sikap terhadap makanan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan gizi dan faktor sosial budaya. FAO (World Summit, 2002) mengemukakan bahwa kemiskinan merupakan penyebab utama dalam masalah kekurangan pangan. Jadi dapat diketahui bahwa dengan suatu kondisi kemiskinan, seseorang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2200 kalori tiap harinya.

Di Kabupaten Bandung, dari data SUSEDA (Survei Sosial Ekonomi Daerah) 2008 diketahui bahwa sekitar 697.172 orang atau 62,3 persen dari jumlah penduduk yang bekerja tercatat memiliki pendapatan tetap setiap bulan. Penduduk dengan pendapatan kurang dari Rp200.000 perbulan menempati jumlah 32,44 persen. Beberapa kecamatan yang termasuk daerah miskin diakibatkan oleh terbatasnya ketersediaan fasilitas penunjang seperti yang terkait dengan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Hal tersebut terjadi di beberapa daerah kecamatan yang merupakan wilayah pedesaan dengan mata pencaharian pokok pertanian seperti kecamatan Kertasari, Cikancung, Nagreg dan Majalaya (Kusmawan, 2011). Menurut Hadikusumah (1981) makin tinggi status sosial masyarakat maka makin tinggi mengkonsumsi gizi/kapita/hari. Rendahnya pendapatan merupakan hal yang menyebabkan orang- orang tidak mampu lagi membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan. Ada pula keluarga-keluarga yang sebenarnya mempunyai penghasilan yang baik akan tetapi sebagian anaknya mengalami kurang gizi, hal ini disebabkan karena cara mengatur belanja keluarga yang kurang baik. Ada juga keluarga yang membeli bahan pangan dalam jumlah cukup tetapi karena kurang pandai memilih tiap jenis pangan yang dibeli berakibat kurangnya mutu dan keragaman pangan yang diperoleh. Diantara keluarga dengan penghasilan cukup atau lebih masih banyak yang belum terbiasa membuat perencanaan pengeluaran keluarga sehingga hasilnya kurang baik (Sajogyo, 1994). Anak usia sekolah membutuhkan zat gizi lebih banyak untuk pertumbuhan dan aktivitasnya, dimana pertumbuhan fisik, intelektual, mental, dan sosial terjadi

secara cepat, sehingga golongan umur ini perlu mendapat perhatian khusus. Faktor kecukupan gizi ditentukan oleh kecukupan konsumsi pangan (Hermina, dkk, 1997). Salah satu bagian dari Kecamatan Kertasari adalah Desa Cihawuk. Menurut Kusmawan (2011) Desa ini memiliki 3.600 kepala keluarga dan 1.224 diantaranya merupakan rumah tangga miskin. Dengan penghasilan kurang dari Rp200.000 perbulan maka daya beli pangan keluarga miskin di Desa Cihawuk dikatakan kurang memadai karena daya beli pangan merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi keadaan gizi seseorang khususnya pada anak yang sedang mengalami pertumbuhan. Dari uraian tersebut maka perlu adanya penelitian yang dapat menggambarkan bagaimana status gizi anak Sekolah Dasar Cihawuk yang ditinjau dari status sosial ekonomi orang tua.

1.2

Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat diidentifikasi beberapa

masalah, antara lain sebagai berikut : 1. Barapa konsumsi energi anak Sekolah Dasar bila ditinjau dari orang tua pendapatan tinggi dan orang tua pendapatan rendah. 2. Adakah perbedaan status gizi anak Sekolah Dasar dari orang tua pendapatan tinggi dan orang tua pendapatan rendah.

1.3

Maksud dan Tujuan Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan asupan energi

anak Sekolah Dasar di Desa Cihawuk bila ditinjau dari status sosial ekonomi orang tua yang berpengaruh pada status gizi anak. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dengan status gizi anak pada usia Sekolah Dasar.

1.4

Kegunaan Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi

penelitian berikutya yang berhubungan dengan status sosial ekonomi orang tua dengan gizi anak. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan didalam membuat program-program perbaikan gizi.

1.5

Kerangka Pemikiran Status gizi merupakan gambaran keseimbangan antara kebutuhan tubuh akan

zat gizi untuk pemeliharaan kehidupan, pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan fungsi normal tubuh dan untuk produksi energi dan pemasukan zat gizi lainnya ke dalam tubuh. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin (Almatsier, 2002).

Menurut Suhardjo (2003) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi diantaranya adalah faktor langsung yaitu konsumsi makanan dan penyakit infeksi. Serta faktor tidak langsung antara lain tingkat pendapatan, pengetahuan tentang gizi dan pendidikan. Almatsier (2002) juga menyatakan teori yang sejalan dengan Suhardjo dimana berbagai faktor sosial ekonomi akan mempengaruhi pertumbuhan anak. Faktor sosial ekonomi yang meliputi pendapatan keluarga, pekerjaan, pendidikan dan pemilikan kekayaan atau fasilitas. Pendapatan keluarga akan mempengaruhi jenis hidangan yang disajikan untuk sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan. Hal ini dapat terlihat anak dengan sosial ekonomi tinggi tentunya pemenuhan kebutuhan gizi sangat cukup baik dibandingkan dengan anak dengan status sosial ekonomi rendah (Marimbi, 2010). Anak-anak usia SD berada pada masa pertumbuhan yang cepat dan sangat aktif, oleh karena itu mereka membutuhkan makanan yang memenuhi kandungan gizi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Beberapa penelitian membuktikan bahwa peran gizi terhadap peningkatan fisik, mental, dan intelektual cukup kuat, namun dari beberapa data penelitian mengenai keadaan gizi anak sekolah menunjukkan angka gangguan pertumbuhan yang cukup tinggi. Data sejumlah provinsi di Indonesia menunjukkan masalah gizi kurang pada anak sekolah masih memprihatinkan (Pari, 2001). Berdasarkan survey Depkes tahun 1997 terhadap 600 ribu anak SD di 27 propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa anak sekolah yang mengalami gangguan masalah kurang gizi berkisar antara 13,6% - 43,7%. Masalah kekurangan gizi pada

usia SD terlihat dengan prevalensi kekurangan energi protein di Indonesia pada siswa SD/MI sebesar 30,1%. Besarnya gangguan pertumbuhan pada siswa SD/MI di Indonesia sebesar 32% di pedesaan dan 18% di wilayah perkotaan (Soekirman, 2000). Berdasarkan hasil penelitian Hidayati, dkk (2007) dalam Lestari (2008) di sekolah dasar di wilayah Kartasura, terdapat 28,17 % siswa yang berstatus gizi kurang, 64,79% siswa berstatus gizi normal, dan 7,04% siswa berstatus gizi lebih. Menurut hasil penelitian Khaumaidi (1994) tingkatan ekonomi mempunyai hubungan yang erat dengan perubahan dan perbaikan konsumsi makanan. Keberadaan makanan akan berpengaruh terhadap gizi seseorang, tetapi dengan tingkat pendapatan yang tinggi belum tentu dapat menjamin keadaan gizi yang baik. Rendahnya tingkat pendapatan merupakan salah satu sebab rendahnya konsumsi pangan dan status gizi.
Berbagai penelitian yang pernah dilakukan terhadap anak-anak sekolah baik di kota maupun pedesaan di Indonesia, didapatkan kenyataan bahwa pada anak Sekolah Dasar ditemukan tanda-tanda penyakit gangguan gizi, atau kurangnya asupan gizi yang memadai baik dalam bentuk ringan maupun berat. Dengan adanya penelitian terhadap status gizi di Desa Cihawuk diharapakan akan adanya perbaikan konsumsi gizi di darah tersebut (Moehji, 2003).

1.6

Metodologi penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif bersifat

analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka, observasi langsung, pemberian kuesioner terhadap responden, dan wawancara semi - struktural.

1.7

Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Juli 2012 di Desa Cihawuk

Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.