Anda di halaman 1dari 15

KATARAK SENILIS IMATUR

Oleh : Maria Maudy M 01.206.5221

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Nama NIM Fakultas Universitas Tingkat Bagian

: Maria Maudy M : 01.206.5221 : Kedokteran : Universitas Islam Sultan Agung : Program Pendidikan Profesi Dokter : Ilmu Penyakit Mata

Judul Laporan Kasus : Katarak Senilis Imatur Pembimbing : dr. Djoko Heru Santosa, Sp.M.

Kudus, 21 April 2012 Pembimbing Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD KUDUS

dr. Djoko Heru Santosa, Sp.M.

KATARAK
I. DEFINISI
Katarak adalah suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh. Katarak berasal dari bahasa Yunani cataracta yang berarti air terjun. Asalkata ini mungkin sekali karena pasien katarak seakan-akan melihat sesuatu seperti tertutupoleh air terjun di depan matanya. Seorang dengan katarak akan melihat benda seperti ditutupi kabut.

II. KLASIFIKASI KATARAK


Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan perkembangan, etiologi, lokasi di lensa, bentuk serta derajat opafikasinya. Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan menjadi

katarak kongenital, katarak juvenil dan katarak senilis. 1. Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik, trauma atau infeksi prenatal dimana kelainan utama terjadi di nukleus lensa. Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa 2. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir. Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa. Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu sediaan penyakit keturunan lain.

3. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Telah diketahui bahwa katarak senilis berhubungan dengan bertambahnya usia dan berkaitan dengan proses penuaan lensa.

Berdasarkan stadiumnya, katarak dibagi menjadi stadium insipien, stadium imatur,stadium matur, dan stadium hipermatur. 1. Stadium insipient. Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda),terutama mengenai korteks anterior, sedangkan aksis relatif masih jernih. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. 2. Stadium imatur. Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Kekeruhan terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa, maka inar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap,akibat bayangan iris pada lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+) 3. Stadium matur . Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya, sehingga semua sinar yangmelalui pupil dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa. Tak ada bayangan iris. Shadow test (-). Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara. Shadow test membedakan stadium matur dari imatur, dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika,oleh karena pada katarak polaris anterior juga terdapat shadow test (-), karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Dengan melebarkan pupil, akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil saja. Kadangkadang, walaupun masih stadium imatur, dengankoreksi, visus tetap buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk lagi1/300 atau satu per tak hingga, hanya ada persepsi cahaya, walaupun lensanya belumkeruh seluruhnya. Keadaan ini disebut vera matur. 4. Stadium hipermatur. Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah mencair, sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke bawah. Melalui pupil, pada daerah yang keruh, nukleus ini terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah, dengan warna yang lain daripada bagian yang diatasnya, yaitu kecoklatan. Pada stadium ini juga terjadikerusakan kapsul lensa, yang menjadi lebih
4

permeabel, sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi kempis, yang di bawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak Morgagni.

Pada perjalanan dari stadium I ke stadium IV, dapat timbul suatu keadaan yang disebut intumesensi yaitu penyerapan cairan bilik mata depan oleh lensa sehingga lensamenjadi cembung dan iris terdorong ke depan, bilik mata depan menjadi dangkal. Hal ini tidak selalu terjadi. Pada umumnya terjadi pada stadium II.

Selain itu terdapat jenis katarak lain : Katarak rubella : Ditularkan melalui Rubella pada ibu hamil Katarak Brunesen Katarak yang berwarna coklat sampai hitam, terutama pada nucleus lensa Dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi. Katarak Komplikata : Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi. Mempunyai tanda khusus yaitu selamanya dimulai di korteks atau dibawah kapsul menuju ke korteks atau dibawah kapsul menuju sentral Pada lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular ayng sewaktu-waktu menjadi katarak lamelar. Katarak Diabetik : Akibat adanya penyakit Diabetes Mellitus. Meningkatkan insidens maturasi katarak >> Pada lensa terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsularyang sebagian jernih dengan pengobatan. Katarak Sekunder Adanya cincin Soemmering (akibat kapsul pesterior yang pecah) dan Mutiara Elsching (epitel subkapsular yang berproliferasi) Katarak Traumatika Dapat terjadi akibat trauma mekanik, agen-agen fisik (radiasi, aruslistrik, panas dan dingin)

III. PATOFISIOLOGI
Lensa mengandung tiga komponen anatomis yaitu : Nukleus zone sentral Korteks perifer Kapsul anterior dan posterior Sebagian besar katarak terjadi karena suatu perubahan fisik dan perubahan kimia pada protein lensa mata yang mengakibatkan lensa mata menjadi keruh. Perubahan fisik (perubahan pada serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar lensa) menyebabkan hilangnya transparansi lensa. Perubahan kimia pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi progresif sehingga nucleus menjadi kuning atau kecokelatan juga terjadi penurunan konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta peningkatan hidrasi lensa. Perubahan ini dapat terjadi karena meningkatnya usia sehingga terjadi penurunan enzim yang menyebabkan proses degenerasi pada lensa.

IV. GEJALA DAN TANDA


-

Pengurangan ketajaman penglihatan secara bertahap Pandangan seperti ada kabut atau air terjun Silau, sehingga penglihatan di malam hari lebih nyaman dibandingkan siang hari Miopia Kesulitan membaca bila tidak cukup cahaya Sering berganti kacamata

V. DIAGNOSIS
ANAMNESIS : Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap (gejala utama katarak) Mata tidak merasa sakit, gatal , atau merah Gambaran umum gejala katarak yang lain seperti : Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film Perubahan daya lihat warna Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata Lampu dan matahari sangat mengganggu Sering meminta resep ganti kacamata Penglihatan ganda (diplopia)

PEMERIKSAAN FISIK MATA Pemeriksaan ketajaman penglihatan Melihat lensa dengan penlight dan loop Dengan penyinaran miring (45 derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedangkan bayangan dekat dan kecil dengan pupil terjadi katarak matur. Slit lamp Pemeriksaan opthalmoskop (sebaiknya pupil dilatasi)

VII. DIFFERENTIAL DIAGNOSA


- Leukokoria - Ablasi retina - Oklusi pupil - Retinoblastoma

VIII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan untuk katarak adalah pembedahan (operasi). Medikamentosa diberikan dengan tujuan mengatasi gejala yang ditimbulkan oleh penyulit misalnya, silau maka pasien dapat menggunakan kacamata. Untuk megurangi inflamasi dapat diberikan steroid ringan. Dapat pula dianjurkan diet dengan gizi yang seimbang, suplementasi vitamin A,C,E, serta antioksidan lainnya dengan dosis yang tepat dapat membantu memperlambat progresifitas katarak. Ekstraksi katarak adalah cara pembedahan dengan mengangkat lensa yang katarak. Dapat dilakukan dengan intrakapsular yaitu mengeluarkan lensa dengan isi kapsul lensa atau ekstrakapsular yaitu mengeluarkan isi lensa (korteks dan nucleus) melalui kapsul anterior yang dirobek dengan meninggalkan kapsul posterior. a. Operasi katarak ekstrakapsular atau ekstraksi katarak ekstra kapsular (EKEK) Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular, kemungkinan akan dilakukan bedah gloukoma, mata dengan presdiposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadi katarak sekunder. b. Operasi katarak intrakapsular atau ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK) Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat dilakukan pada zonula zinn telah rapuh atau berdegenerasi da mudah diputus. Pada tindakan ini tidak akan terjadi katarak sekunder.

IX.

KOMPLIKASI
Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan

katarak traumatic. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti blok pupil,glaukoma sudut tertutup, uveitis,retinal detachment , rupture koroid, hifema,perdarahan

retrobulbar, neuropati optik traumatic

X.

PROGNOSIS
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadangkadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat.

Daftar Pustaka 1. Ilyas, H.S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2004. 2. Ilyas, H.S. Ilmu Penyakit Mata , dkk. Edisi 2. Sagung seto. Jakarta 2002 3. http://www.jakarta-eye-centre.com 4. http://www.docstoc.com/docs/11078641/katarak

STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Umur Agama Pekerjaan Suku bangsa Alamat : Tn. M : 67 tahun : Islam : Petani : Jawa : Kudus

Tanggal Pemeriksaan : 18 April 2012 Pemeriksa : Maria Maudy M

II. ANAMNESIS Anamnesis secara Keluhan Utama : Autoanamnesis pada tanggal 18 April 2012 : Penglihatan mata kanan dan kiri kabur

Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang dengan keluhan penglihatan mata kanan dan kiri kabur,

dirasakan sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu, awalnya kedua mata jika untuk melihat seperti ada kabut, lama- kelamaan kedua mata untuk melihat menjadi tambah buram, jarak lebih dari 2 meter terlihat sangat buram . Mata tidak merah, tidak kemeng, tidak nrocos. Pasien tidak mengeluh sakit pada mata. Sebelumnya tidak ada riwayat trauma tumpul atau tajam (seperti tertusuk atau kecolok) hingga kena mata. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Hipertensi (-) Riwayat Diabetes melitus (-) Riwayat asma (-) Riwayat maag (-)

10

Riwayat Penyakit Keluarga

: Riwayat menderita penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

Riwayat social ekonomi

: Biaya ditanggung JAMKESMAS. Kesan Ekonomi : kurang.

III. PEMERIKSAAN FISIK A. VITAL SIGN Tensi (T) Nadi (N) Suhu (T) : : : 130/80 mmHg 88x/ menit 36 C 24 x / menit Baik Compos mentis Cukup

Respiration Rate (RR) : Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi : : :

B. STATUS OFTALMOLOGI Gambar: OD OS

1 2 2 1

Keterangan: 1. Arkus senilis 2. Lensa keruh sebagian

11

OCULI DEXTRA(OD) 2/60 tidak dikoreksi Gerak bola mata normal, enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Edema (-), hiperemis(-), nyeri tekan (-), blefarospasme (-), lagoftalmus (-), ektropion (-), entropion (-) Edema (-), injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-), infiltrat (-), hiperemis (-) Putih Bulat, jernih, edema (-), arkus senilis (+) keratik presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-) jernih, dangkal, hipopion (-), hifema (-) Kripta(+), atrofi (-) coklat, edema(-), synekia (-) Bulat, letak sentral, : 3 mm, refleks pupil (+) Keruh sebagian Shadow test (+)

PEMERIKSAAN Visus Koreksi

OCULI SINISTRA(OS) 1/60 tidak dikoreksi Gerak bola mata normal,

Bulbus okuli

enoftalmus (-), eksoftalmus (-), strabismus (-) Edema (-), hiperemis(-), nyeri tekan (-),

Palpebra

blefarospasme (-), lagoftalmus (-) ektropion (-), entropion (-) Edema (-), injeksi konjungtiva (-),

Konjungtiva

injeksi siliar (-), infiltrat (-), hiperemis (-)

Sklera

Putih Bulat, jernih Edema merata (-),

Kornea

arkus senilis (+) keratik presipitat (-), infiltrat (-), sikatriks (-)

Camera Oculi Anterior (COA)

Jernih, dangkal hipopion (-), hifema (-), Kripta(+), atrofi (-),coklat,

Iris

edema(-), synekia (-) Bulat, letak sentral,

Pupil

: 3 mm, refleks pupil (+)

Lensa

Keruh sebagian Shadow test (+)


12

Jernih Papil NII bulat, batas tegas, ablatio (-), eksudat (-) + suram TIO digitalis N lakrimasi (n)

Vitreus Retina

Jernih Papil NII bulat, batas tegas, ablatio (-), eksudat (-)

Fundus Refleks TIO Sistem Lakrimasi

+ suram TIO digitalis : N lakrimasi(n)

IV. RESUME Subjektif: Pasien datang dengan keluhan penglihatan mata kanan dan kiri kabur,

dirasakan sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu, awalnya kedua mata jika untuk melihat seperti ada kabut, lama- kelamaan kedua mata untuk melihat menjadi tambah buram, jarak lebih dari 2 meter terlihat sangat buram . Mata tidak merah, tidak kemeng, tidak nrocos. Objektif:
2/60 Arkus senilis

visus kornea Camera Oculi Anterior (COA)

1/60
arkus senilis

jernih, dangkal

jernih, dangkal

Keruh sebagian Shadow test (+) + suram

Lensa

Keruh sebagian Shadow test (+)

Fundus reflex

+ suram

V. DIAGNOSA DIFFERENSIAL

i. ii.

ODS katarak senilis immatur ODS katarak senilis insipen

VI. DIAGNOSA KERJA ODS Katarak senilis immatur

13

VII. DASAR DIAGNOSIS Pemeriksaan subjektif : Pasien datang dengan keluhan penglihatan mata kanan dan kiri kabur, dirasakan sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu, awalnya kedua mata jika untuk melihat seperti ada kabut, lama- kelamaan kedua mata untuk melihat menjadi tambah buram, jarak lebih dari 2 meter terlihat sangat buram . Mata tidak merah, tidak kemeng, tidak nrocos.

Pemeriksaan objektif : Dari pemeriksaan visus OD 2/60 ; OS 1/60. Pada OS ditemukan arkus senilis, COA jernih dangkal, lensa keruh sebagian shadow test (+), fundus reflex (+) suram. Pada OD ditemukan arkus senilis, COA jernih dangkal, lensa keruh sebagian shadow test (+), fundus reflex (+) suram.

VIII. TERAPI Medikamentosa: Operatif: OS EKEK + IOL Gentamycin 6xII OS Glukon 250 mg 1x Dexa 3x2

IX. PROGNOSIS OKULI DEKSTRA (OD) Quo Ad Visam Quo Ad Sanam : : Dubia ad bonam Dubia ad bonam ad bonam Dubia ad bonam OKULI SINISTRA (OS) Dubia ad bonam Dubia ad bonam ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad Kosmetikam : Quo Ad Vitam :

X. PEMBAHASAN Usul : Pengawasan dan evaluasi TIO apakah ada tanda glaukoma sekunder pada mata EKEK + IOL OD
14

Saran: Gunakan tetes mata secara teratur Konsumsi obat secara teratur Kontrol pasca operasi EKEK dilakukan 1 minggu setelah operasi, 1 bulan setelah operasi, 2 bulan setelah operasi, maupun jika terdapat keluhan maupun masalah-masalah lain sebelum jadwal kontrol yang telah ditentukan. Lindungi mata dari debu ataupun benda asing pasca operasi untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

15