Anda di halaman 1dari 21

Tugas Bisnis Pariwisata

Pertumbuhan Pariwisata dan Ekonomi Nasional

Oleh
Kelompok IV :

1.

Andrea Ferdian Colognesi

(0906205109) (1006205021) (1006205023) (1006205024) (1006205025) (1006205031) (1006205040) (1006205148) (1006205164)

2. Luh Putu Fiadevi Wulandari 3. Ni Putu Vivin Wisnayanti 4. Putu Yesy Fransiska Dewi 5. Rai Gita Pratiwi 6. Luh Putu Eka Oktaviantari 7. Ni Nym Ayu Suri Tri Cahyaning Dewi 8. A. A. Ayu Raras Indraswari 9. I Gede Made Dharma Tatwa Dyatmika

Fakultas Ekonomi Universitas Udayana 2012

A. EKONOMI NASIONAL
Ekonomi Nasional diperuntukkan bagi ekonom dan masyarakat yang menginginkan agar Indonesia menjadi negara yang mandiri sehingga ribuan trilyun rupiah hasil SDA bisa memakmurkan rakyat, tidak tergantung oleh hutang luar negeri atau lembaga IMF (yang mendikte pemerintah RI untuk mengkonversi hutang swasta jadi hutang negara/rakyat), tidak mementingkan konglomerat di atas rakyat Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republi Indonesia Tahun 1945, ihwal Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial antara lain dinyatakan sebagai berikut: 1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; 2) Cabang-cabang produski yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; 3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; 4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas asas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Kondisi ekonomi dapat dikatakan sangat berpengaruh terhadap suatu negara, kondisi ekonomi itu sendiri dapat juga mencerminkan bagaimana keadaan suatu negara. Maju atau tidaknya , tingkat keamanannya, hingga menyangkut masalah kesehatan sangat di pengaruhi oleh kondisi ekonominya. Untuk perekonomian Indonesia masih dalam tahap memperbaiki , hal ini dikarenakan Indonesia sempat terkena krisis yang membuat perekonomian Indonesia turun drastis pada saat pemerintahan orde baru. Sebenarnya pertumbuhan perekonomian Indonesia yang sangat bagus terjadi pada masa orde baru, atau pada masa pemerintahan Soeharto. Pada saat itu pemerintah mencanangkan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut pelita ,yang kebijakan ekonominya mencakup segala bidang seperti, kebutuhan pokok,pendidikan dan kesehatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, penyebaran pembangunan, dan lain- lain.

[1]

Pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, kesuksesan ini mendapatkan penghargaan dari FAO(Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985. Ini suatu prestasi yang sangat luar biasa bagi Indonesia , dan sangat sulit di ulangi hingga saat ini. Namun dampak negative pada saat pemerintahan Soeharto ialah terjadinya krisis moneter yang melanda negara ini, yang disebabkan banyaknya hutang luar negeri. Selain itu KKN pun merajalela, kemudian timbulah perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan, antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam. Hal ini yang menyebabkan runtuhnya orde baru. Setelah orde baru sampai saat ini Indonesia masih berusaha untuk memperbaiki kondisi ekonominya dan hal itu membawa dampak yang positif , hal ini dapat diketahui selama tiga tahun dari 2005, 2006, dan 2007 perekonomian Indonesia tumbuh cukup signifikan yang pertumbuhan diatas 6%. Bahkan pada pertengahan bulan oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Pada tahun 2010 perkembangan perekonomian Indonesia bisa di bilang cukup baik walaupun sempat terjadi penurunan sebelumnya, bahkan deputi gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 akan tumbuh pada kisaran 6,3-6,5%.

B. KONTRIBUSI PARIWISATA TERHADAP EKONOMI NASIONAL DAN REGIONAL


Kontribusi Pariwisata Terhadap Ekonomi Nasional Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi. Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung. Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha perjalanan wisata dan bisnis pariwisata tersebut secara langsung dan tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi terhadap pariwisata dunia melampaui US$ 800 billion pada tahun 1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 1998.
[2]

Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di Kanada pada tahun 2007. Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari wisatawan asing yang berwisata di Kanada. Sementara pemerintah Komboja mencatat bahwa sector pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas taksi dan aktifitas pelayanan di bandara. Pada kedua studi kasus di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah di mana pariwisata tersebut dapat dikembangkan dengan baik. Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir. Menurut Canada Government Revenue Attributable to Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud Tourism employment adalah ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata. Dan WTO mencatat kontribusi sector pariwisata terhadap penyediaan lahan pekerjaan sebesar 7% secara internasional. Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga menyediakan peluang kerja diluar bidang pariwisata khususnya peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier bahan makanan, yang akan mendukung operasional industri perhotelan dan restoran. Sedangkan menurut Mitchell dan Ashley 2010, mencatat bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup berarti, dan indeks terbesar terjadi di Negara New Zealand sebesar 1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian
[3]

Chile, Papua New Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di Indonesia indeks penyerapan tenaga kerja dari sector pariwisata sebesar 0,74, masih lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 0,84. Dalam dua kasus di atas, pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang mengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian agriculture masih lebih besar indeks penyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir semua Negara pada penjelasan di atas. Kontribusi Pariwisata Terhadap Ekonomi Regional Berdasarkan fakta yang ada, pariwisata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap keadaan suatu daerah baik itu dampak sosial, budaya sampai dengan ekonomi. Namun, dampak yang sangat berperan dalam pengembangan masyarakat suatu daerah adalah dampak ekonomi. Dengan adanya sektor pariwisata ini mampu mengembangkan ekonomi lokal terutama pada daerah yang mempunyai daya tarik wisata yang cukup baik. Selain itu, dampak ekonomi juga dapat bersifat positif maupun negatif dalam setiap pengembangan obyek wisata. Segi Positif Dampak ekonomi dari segi positif ini ada yang langsung dan ada juga yang tidak langsung. Dampak positif langsungnya antara lain membuka lapangan pekerjaan yang baru untuk komunitas lokal, yang sesuai dengan kemampuan dan skill dari masyarakat sekitar sehingga masyarakat lokal bisa mendapatkan peningkatan taraf hidup yang layak. Namun, selain untuk masyarakat lokal, dampak ekonomi juga akan berpengaruh bagi pemerintah daerah yang akan mendapatkan pendapatan dari pajak. Pajak yang didapatkan oleh pemerintah biasanya dalam bentuk pajak hiburan dan sebagainya. Sedangkan dampak ekonomi yang tidak langsung adalah kemajuan pemikiran akan pengembangan suatu obyek wisata, terutama dengan adanya emansipasi wanita sehingga wanita pun bisa bekerja. Dengan begitu dapat lebih mengembangkan perekonomian lokal melalui pemberdayaan masyarakat dari semua kalangan, tidak terkecuali kaum wanita. Segi Negatif Dari segi negatifnya, dampak terhadap ekonomi lokal sebenarnya tidak serta merta berjalan lancer, banyak faktor yang menyebabkan tidak semua masyarakat lokal menerima dampak dari perkembangan perekonomian,
[4]

antara lain adanya kebocoron. Kebocoran dalam pariwisata ini banyak disebabkan karena adanya investor yang menanamkan modalnya untuk mengembangkan objek wisata di suatu daerah. Hal seperti inilah yang sebenarnya harus dapat dicegah oleh pemerintah daerah agar pendapatan yang diterima oleh daerah tidak dijajah oleh para investor luar. Berdasarkan data dari sumber yang kami dapatkan, Pengembangan suatu obyek wisata yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan pendapatan ekonomi yang baik juga untuk komunitas setempat (Joseph D. Fritgen, 1996). Menurut Prof.Ir Kusudianto Hadinoto bahwa suatu tempat wisata yang direncanakan dengan baik, tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi yang memperbaiki taraf , kualitas dan pola hidup komunitas setempat, tetapi juga peningkatan dan pemeliharaan lingkungan yang lebih baik. Menurut Mill dalam bukunya yang berjudul The Tourism, International Business (2000, p.168-169), menyatakan bahwa : pariwisata dapat memberikan keuntungan bagi wisatawan maupun komunitas tuan rumah dan dapat menaikkan taraf hidup melalui keuntungan secara ekonomi yang dibawa ke kawasan tersebut.

C. PERTUMBUHAN PARIWISATA DAN DAMPAKNYA TERHADAP SUATU PEREKONOMIAN


Pertumbuhan Pariwisata Pariwisata merupakan industry perdagangan jasa yang memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakupn pengaturan pergerakan wisatawan dari Negara asalnya, di daerah tujuan wisata hingga kembali ke Negara asalnya yang melibatkan berbagai hal, seperti: transportasi, penginapan, restoran, pemandu wisata, dan lain-lain. Oleh karena itu, industry pariwisata memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Dalam menjalankan perannya, industry pariwisata harus menerapkan konsep dan peraturan serta panduan yang berlaku dalam pengembangan pariwisata agar mampu mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang nantinya bermuara pada pemberian manfaat ekonomi bagi industry pariwisata dan masyarakat local. Industry-industri pariwisata yang sangat berperan dalam pengembangan pariwisata adalah: biro perjalanan wisata, hotel dan restoran. Selain itu juga di dukung oleh industry-industri pendukung pariwisata lainnya. Pariwisata Indonesia menjadi sektor paling menjanjikan. Bahkan, sektor ini memiliki peran penting terhadap perekonomian. Ini bisa dilihat dari tren pertumbuhannya yang selalu di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan melebihi perkembangan pariwisata dunia.
[5]

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu mengatakan tahun 2011, perolehan devisa dari pariwisata diperkirakan mencapai USD8,5 miliar. Angka ini naik 11,8 persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan, kenaikan ini melebihi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan ada di level 6,5 persen dan pertumbuhan pariwisata dunia yang hanya berkisar 4,5 persen. Untuk kontribusi terhadap devisa, sektor pariwisata ada di peringkat lima setelah minyak dan gas bumi, minyak kelapa sawit, batubara, dan karet olahan, kata Mari Pangestu, di Jakarta, (5/1). Mari Pangestu menjelaskan bahwa visi pariwisata, fokusnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan. Upaya yang perlu dilakukan agar sejalan dengan visi tersebut adalah peningkatan daya saing produk wisata, pengembangan daya tarik, promosi terpadu dan berkesinambungan, serta pengembangan institusi dan sumber daya manusia. Untuk pariwisata ada tiga hal utama. Destinasi yang sudah ada akan dikembangkan, mengembangkan destinasi baru, dan wisata minat khusus. Untuk wisata minat khusus yang akan dikembangkan adalah MICE (Meeting Incentives Convention and Exhibition), wisata bahari dan alam, wisata olahraga, serta wisata belanja dan kuliner, katanya. Untuk pengembangan destinasi pariwisata, tambahnya, akan difokuskan pada pengembangan 15 Destination Management Organization (DMO), desa wisata, pusat rekreasi masyarakat, pasar wisata, zona kreatif, daya tarik wisata serta melakukan kerjasama dan kemitraan. Berdasarkan draft Renstra hingga 2014, pada 2014 Indonesia akan memiliki 15 destinasi wisata yang telah menerapkan tata kelola destinasi yang berkualitas (Destination Management Organization). Untuk pariwisata berbasis pedesaan, ditargetkan tahun 2014 akan ada 822 desa, naik dibandingkan 2011 yang hanya sejumlah 674 desa. Untuk sektor ekonomi kreatif, visi yang diusulkan adalah meningkatkan kualitas hidup, toleransi, dan penciptaan nilai tambah. Langkah-langkah yang akan dilakukan agar sejalan dengan visi tersebut adalah peningkatan daya saing dan penciptaan nilai tambah, pengembangan institusi, apresiasi dan penegakan hukum, promosi terpadu dan berkesinambungan, pengembangan SDM dan bahan baku, serta pengembangan teknologi dan akses pembiayaan.

[6]

Dampak Pertumbuhan Pariwisata Terhadap Suatu Perekonomian Pariwisata disambut sebagai industri yang membawa aliran devisa, lapangan pekerjaan dan cara hidup modern. Industri periwisata memberikan keunikan tersendiri dibandingkan dengan sektor ekonomi lain karena adanya empat faktor, yaitu : a. Pariwisata adalah Industri Ekspor Fana Segala transaksi yang terjadi di industri pariwisata berupa pengalaman yang dapat diceritakan kepada orang lain, tetapi tidak dapat dibawa pulang sebagai cinderamata. b. Butuhnya Barang dan Jasa Tambahan oleh Wisatawan Saat seorang wisatawan mengunjungi suatu destinasi, ia selalu membutuhkan barang dan jasa tambahan, seperti transportasi dan kebutuhan air bersih. c. Pariwisata adalah Produk Fragmented But Intergreted Maksudnya disini adalah pariwisata sebagai produk yang terpisah-pisah tetapi terintegrasi dan langsung mempengaruhi sektor ekonomi lain. UU nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan secara jelas menyatakan, pariwisata berkaitan dengan banyak sektor atau multisektor. Koordinasi strategis lintas sektor terkait dengan pariwisata di antaranya dengan bidang pelayanan ke pelayanan kepabeanan, keimigrasian, dan karantina; bidang keamanan dan ketertiban; bidang prasarana umum yang mencakupi jalan, air abersih, listrik, telekomunikasi, dan kesehatan lingkungan; bidang transportasi darat, laut, dan udara; dan bidang promosi pariwisara dan kerjasama luar negeri. Kerjasama antarsektor harus diatur dengan tata kerja, mekanisme dan hubungan baik untuk manfaat bersama. d. Pariwisata Merupakan Ekspor yang Sangat Tidak Stabil Sifat kepariwisataan yang dinamis dan musiman, membuat industri ini mngalami fluktuasi yang sangat tinggi. Industri pariwisata rentan terhadap banyak hal, seperti politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Dampak pariwisata terhadap perekonomian bisa bersifat positif dan bisa negatif. Secara umum dampak tersebut dapat dikelompokkan(Cohen, 1984) sebagai berikut : 1. Dampak terhadap peneriamaan devisa 2. Dampak terhadap pendapatan masyarakat 3. Dampak terhadap peluang kerja 4. Dampak terhadap harga dan tarif 5. Dampak terhadap distribusi manfaat dan keuntungan 6. Dampak terhadap kepemilikan dan pengendalian
[7]

7. 8.

Dampak terhadap pembangunan Dampak terhadap pendapatan pemerintah

Keunikan industri pariwisata terhadap perekonomian berupa dampak ganda (multiplier effect) dari pariwisata terhadap ekonomi. Pariwisata memberikan pengaruh tidak hanya terhadap sektor ekonomi yang langsung terkait dengan industri periwisata, tetapi juga industri tidak langsung terkait dengan industri pariwisata. Gambar A. Dampak Ganda Pariwisata terhadap Perekonomian

Pariwisata memberikan keuntungan berganda ke bawah, terutama bagi masyarakat setempat (trickle down). Secara ideal, pariwisata menghidupkan pemaok-pemasok lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap import. Dampak ganda dapat memperbaiki kualitas pelayanan lokal dengan berinvestasi dan mendorong pembelajaan dalam negeri. Namun, tidak tertutup kemungkianan, dampak ganda memperbesar kebocoran devisa, apabila pembelanjaan masyarakat sarat dengan import. Pariwisata memberikan keuntungan sebagai dampak positif, yang juga memberikan kerugian sebagai dampak negatif. Beberapa keuntungan dari pariwisata terhadap perekonomian di antaranya sebagai berikut :

[8]

a. Dampak terhadap Penerimaan Devisa Di Indonesia, kontribusi pariwisata terhadap neraca peneriamaan negara dihitung melalui Neraca Pariwisata Nasional (Nesparnas). Pada umumnya diistilahkan dengan Tourism Satellite Account (TSA). Nesparnas menghitung secara kuantitatif melaui standar statistik dengan mengacu pada UN System of National Accounts yang menampilkan definisi dan klasifikasi yang dipergunakan untuk survey sesuai standar internasional. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa sumbangan periwisata terhadap perekonomian dan keterkaitannya dengan berbagai sektor ekonomi lain baik konsumsi yang dilakukan oleh wisatawan untuk sektor pariwisata maupun sektor lain. Perhitungan Nesparnas terdiri atas beberapa subsektor dalam ekonomi (perdagangan, hotel, restoran, transportasi dan jasa), faktor pendapatan (upah, keuntungan, dan bunga) serta komposisi pengeluaran (konsumsi, pemerintah, investasi, ekspor, dan impor). Ketiga komponen itu dihitung menjadi satu sebagai devisa dari sektor kepariwisataan. Nesparnas menggambarkan besaran devisa yang mengalir masuk dan mengalir keluar dari sektor pariwisata. Besarnya kontribusi pariwisata dalam bentuk devisa ke dalam negara penerimaan negara dicontohkan sebagai berikut :

b. Dampak terhadap Pendapatan Masyarakat Setiap kegiatan pariwisata menghasilkan pendapatan khususnya bagi masyarakat setempat . Pendapatan itu dihasilkan dai transaksi antara wisatawan dan tuan rumah dalam bentuk pembelanjaan yang dilakukan oleh wisatawan. Pengeluaran wisatawan terdistribusi tidak hanya ke pihak-pihak yang terlibat langsung dalam industri pariwisata seperti hotel, restoran, biro perjalanan wisata,
[9]

dan pemandu wisata. Distribusi pengeluaran wisatawan juga diserap ke sektor pertanian, sektor industri kerajinan, sektor angkutan, sektor komunikasi, dan sektor lain yang terkait. Gambar Dampak Pariwisata tehadap Masyarakat

c. Dampak terhadap Peluang Kerja Pariwisata merupakan industri yang menawarkan beragam jenis pekerjaan kreatif sehingga mampu menampung jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. Seorang wisatawan dilayani oleh banyak orang. Sebagai contoh, wisatawan yang bersantai di pantai dapat memberikan pendapatan bagi penjual makan-minum, penyewa tikar, pemijat, dan pekerja lain. d. Dampak terhadap Struktur Ekonomi Peningkatan pendapatan masyarakat dari industri pariwisata membuat struktur ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Masyarakat bisa memperbaiki kehidupan dari bekerja di industri pariwisata. e. Dampak dalam Membuka Peluang Investasi Keragaman usaha dalam industri pariwisata memberikan peluang bagi para investor untuk menanamkan modal. Kesempatan berinvestasi di daerah wisata berpotensi membentuk dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. f. Dampak terhadap Aktivitas Wirausaha Adanya kebutuhan wisatawan saat berkunjung ke destinasi wisata mendorong masyarakat untuk menyediakan kebutuhannya dengan membuka
[10]

usaha atau wirausaha. Pariwisata membuka peluang untuk berwirausaha dengan menjajahkan berbagai kebutuhan wisatawan, baik produk barang maupun produk jasa. Selain keuntungan-keuntungan itu, pariwisata memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat di antaranya sebagai berikut : a. Bahaya Ketergantungan terhadap Industri pariwisata Melihat banyaknya keuntungan yang dapat diperoleh dari sektor pariwisata namun beberapa daerah tujuan wisata menjadi sangat tergantung dari kepariwisataan untuk kehidupannya. Hal ini menjadikan wisatawan sangat rentan terhadap perubahan permintaan wisata. b. Pengembalian Modal Lambat Industri pariwisata adalah Industri dengan investasi yang besar dan pengembalian modal yang lambat. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi pengusaha pariwisata untuk mendapatkan pinjaman untuk modal usaha. c. Mendorong Timbulnya Biaya Eksternal Lain Pengembangan pariwisata menyebabkan muncul biaya eksternal lain bagi penduduk di daerah tujuan wisata, seperti biaya kebersihan lingkungan, biaya pemeliharaan lingkungan yang rusak akibat aktivitas wisata, dan peluang lain.

D. MENGUKUR SUMBANGAN PARIWISATA


1. Foreign Exchange Earnings Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat local menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya. Pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar pendapatan mereka, 38% pendapatannya adalah berasal dari Foreign Exchange Earnings perdagangan valuta asing. Sebagai contoh, bahwa pariwisata mampu menyumbangkan pendapatan untuk Negara India, berdasarkan hasil survey ekonomi India pada tahun 2010-11, bahwa akibat kedatangan wisatawan asing ke India pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan dari perdangan Valas sebesar 34,56% atau sebesar 14,193 Juta US Dolar meningkat jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 11,394 Juta US Dolar.
[11]

Sementara pemerintah China mencapat bahwa sumbangan pariwisata akibat perdagangan Valas telah mencapai 5,1 Juta US Dolar untuk kurun waktu hanya empat bulan saja pada tahun 2010. Dari kedua contoh tersebut sudah dianggap cukup menguatkan pendapat bahwa pembangunan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan suatu Negara khususnya dari aktifitas perdagangan valuta asing. 2. Contributions To Government Revenues Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi. Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung. Dalam kedua konteks di atas, WTO memprediksi bahwa usaha perjalanan wisata dan bisnis pariwisata tersebut secara langsung dan tidak langsung termasuk juga pajak perorangan telah berkontribusi terhadap pariwisata dunia melampaui US$ 800 billion pada tahun 1998, dan pada tahun 2010 berlipat dua kali jika dibandingkan tahun 1998. Menurut penelitian, pariwisata Kanada menghasilkan $ 19, 7 Juta pendapatan untuk ketiga tingkat pemerintahan gabungan di Kanada pada tahun 2007. Dan Belanja Kanada menyumbang tiga dari setiap empat dolar, sementara satu dari empat dolar berasal dari wisatawan asing yang berwisata di Kanada. Sementara pemerintah Komboja mencatat bahwa sector pariwisata secara langsung dan nyata telah memberikan sumbangan pendapatan bagi pemerintah melalui aktifitas penjualan tiket masuk wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Angkor sebesar 1,2 Juta US Dolar, dari Visa sebesar 3 juta US Dolar, dan aktifitas taksi dan aktifitas pelayanan di bandara. Pada kedua studi kasus di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata memang benar dapat meningkatkan pendapatan bagi pemerintah di mana pariwisata tersebut dapat dikembangkan dengan baik. 3. Employment Generation Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.
[12]

Menurut Canada Government Revenue Attributable to Tourism, (2007), mendifinisikan bahwa yang dimaksud Tourism employment adalah ukuran yang dipakai untuk mengukur besarnya tenaga kerja yang terserap secara langsung pada sector pariwisata termasuk juga besarnya tenaga kerja yang terserap di luar bidang pariwisata akibat keberadaan pembangunan pariwisata. Dan WTO mencatat kontribusi sector pariwisata terhadap penyediaan lahan pekerjaan sebesar 7% secara internasional. Hasil studi pada dampak pembangunan pariwisata di Tripura, India menunjukkan bahwa industry pariwisata adalah industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mampu menciptakan peluang kerja dari peluang kerja untuk tenaga yang tidak terdidik sampai dengan tenaga yang sangat terdidik. Pariwisata juga menyediakan peluang kerja diluar bidang pariwisata khususnya peluang kerja bagi mereka yang berusaha secara langsung pada bidang pariwisata dan termasuk juga bagi mereka yang bekerja secara tidak langsung terkait industri pariwisata seperti usaha-usaha pendukung pariwisata; misalnya pertanian sayur mayor, peternak daging, supplier bahan makanan, yang akan mendukung operasional industri perhotelan dan restoran. Sedangkan menurut Mitchell dan Ashley 2010, mencatat bahwa sumbangan pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan sector lainnya menunjukkan angka yang cukup berarti, dan indeks terbesar terjadi di Negara New Zealand sebesar 1,15 disusul oleh Negara Philipines, kemudian Chile, Papua New Guinea, dan Thailand sebesar 0,93. Sementara di Indonesia indeks penyerapan tenaga kerja dari sector pariwisata sebesar 0,74, masih lebih rendah jika dibandingkan Negara Afrika Selatan yang mencapai 0,84. Dalam dua kasus di atas, pariwisata memegang peranan penting dalam penyerapan tenaga kerja di hampir semua Negara yang mengembangkan pariwisata, walaupun harus diakui sector pertanian agriculture masih lebih besar indeks penyerapannya dan berada di atas indeks penyerapan tenaga kerja oleh sector pariwisata di hampir semua Negara pada table di atas. 4. Infrastructure Development Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah. Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus membangun yakni daya tarik wisata attractions khususnya daya tarik wisata man-made, sementara
[13]

untuk daya tarik alamiah dan budaya hanya diperlukan penataan dan pengkemasan. Karena Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi accesable akhirnya akan mendorong pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan wisata, sementara fasilitas pendukung pariwisata Amenities seperti hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan. Pembangunan infrastruktur pariwisata dapa dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkan pihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan Bandara Internasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akan dinikmati oleh penduduk local dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local akan mendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya. 5. Development of Local Economies Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata. Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya. WTO memprediksi bahwa pendapatan pariwisata secara tidak langsung disumbangkan 100% secara langsung dari pengeluaran wisatawan pada suatu kawasan. Dalam kenyataannya masyarakat local lebih banyak berebut lahan penghidupan dari sector informal ini, artinya jika sector informal bertumbuh maka masyarakat local akan mendapat menfaat ekonomi yang lebih besar. Sebagai contoh, peran pariwisata bagi Provinsi Bali terhadap perekonomian daerah PDRB sangat besar bahkan telah mengungguli sector pertanian yang pada tahun-tahun sebelumnya memegang peranan penting di Bali. Salah satu cara melihat sumbangan sektor pariwisata terhadap PDRB dapat dilihat dengan dua cara, yaitu: Dari sisi permintaan (demand side) yang berkaitan dengan pengeluaran wisatawan. Gabungan dari sisi penawaran (supply side) dan sisi permintaan (demand side). Dari sisi penawaran sebagian sektor pariwisata bisa dilihat dalam PDRB yang mencakup restoran/rumah makan dan jasa hiburan. Sedangkan sisi permintaan adalah semua pengeluaran wisatawan baik wisman maupun wisnus, di luar pengeluaran yang telah ada dalam sisi penawaran, yang merupakan output dari usaha-usaha yang melayani para wisatawan. Dengan mengalikan rasio nilai tambah dari usaha-usaha tersebut dengan outputnya maka diperoleh
[14]

nilai tambah yang ditimbulkan oleh permintaan wisatawan. Sehingga dengan menjumlahkan kedua nilai tambah dari sisi penawaran dan permintaan dapat diperoleh nilai tambah sektor pariwisata secara keseluruhan. Diharapkan dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung di DKI Jakarta serta peningkatan rata-rata pengeluaran mereka melebihi dari pertumbuhan PDRB akan semakin meningkatkan sumbangan sektor pariwisata. Pembelanjaan wisman selama di Jakarta merupakan pemasukan devisa yang dibawa secara langsung oleh para tamu mancanegara tersebut. Dengan terpuruknya nilai rupiah terhadap mata uang US$ sejak pertengahan tahun 1997 akan mengakibatkan harga barang dan jasa di Jakarta dan Indonesia pada umumnya menjadi sangat murah apabila diukur dengan mata uang US$. Sebenarnya dari sisi ekspor barang dan jasa atau dalam hal ini pengeluaran wisman di Indonesia akan menjadikan permintaan barang dan jasa akan semakin meningkat yang pada gilirannya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Sementara itu barang-barang impor akan menjadi mahal apabila diukur dengan mata uang rupiah, sehingga bahan baku usaha industri yang masih banyak mengandalkan dari luar negeri akan semakin tidak efisien. Kenaikan harga barang dan jasa pada umumnya tidak bisa terelakkan lagi. Ini bisa dilihat dengan tingginya laju inflasi pada tahun 1998 yang hampir mencapai 80 persen. Daya beli masyarakat menjadi turun, suku bunga pinjaman di bank menjadi tinggi mengakibatkan lesunya roda perekonomian nasional maupun regional. Banyak perusahaan yang gulung tikar akibat resesi ini sehingga peningkatan pengangguran tidak terelakkan lagi dengan banyaknya pekerja yang di-PHK. Di sisi lain banyak usaha-usaha kecil yang sifatnya informal bermunculan dengan menampung tenaga kerja korban PHK, seperti munculnya cafe-cafe di ibukota. Usaha-usaha tersebut berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Pariwisata merupakan bagian dari usaha penyediaan sarana pariwisata. Tampaknya dengan terpuruknya berbagai usaha akhir-akhir ini menjadikan sebagian usaha pariwisata tetap bisa bertahan. Sumbangan Sektor Pariwisata dari Sisi Permintaan Dari total pengeluaran wisman pada tahun 1998 sebesar Rp 7.796,89 milyar dan wisnus sebesar Rp 4.725,82 milyar tercipta nilai tambah Rp 7.455,53 milyar. Nilai tambah ini ternyata yang terbesar terserap pada usaha jasa akomodasi, yaitu 24,5 persen diikuti dengan pengeluaran untuk transport sebesar 20,7 persen.

[15]

Sedangkan porsi terkecil dikeluarkan untuk keperluan tamasya yang hanya mencapai 2,8 persen dari total nilai tambah yang diciptakan wisatawan. Sejalan dengan krisis ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini dengan melemahnya dunia usaha, maka pertumbuhan PDRB DKI Jakarta atas dasar harga konstan (1993) juga mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu 17,58 persen. Padahal lima tahun terakhir sebelum tahun 1998 terjadi peningkatan di atas 5 persen. Apabila dilihat menurut sektor penurunan terbesar terjadi pada sektor bangunan/konstruksi, yaitu sebesar 38,29 persen. Sedangkan PDRB DKI Jakarta menurut harga berlaku pada tahun 1998 mencapai Rp 123.316,20 milyar dimana 3,72 persennya diciptakan oleh permintaan barang dan jasa dari wisman dan 2,33 persen diciptakan oleh wisnus. Angka ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai tambah yang diciptakan oleh wisatawan pada tahun 1997. PDRB harga berlaku pada tahun 1997 mencapai Rp 91.375,10 milyar di mana 5,58 persen diciptakan oleh wisman dan 1,69 persen oleh wisnus. Dari hasil estimasi memang menunjukkan bahwa sumbangan wisman terhadap nilai tambah yang diciptakan oleh wisman lebih besar jika dibandingkan dengan wisnus. Secara keseluruhan gambaran sumbangan nilai tambah sektor pariwisata yang diciptakan oleh wisman dan wisnus terhadap PDRB DKI Jakarta seperti berikut: Dari tahun 1993 sampai dengan 1998, sumbangan terbesar sektor pariwisata terhadap PDRB DKI Jakarta terjadi pada tahun 1997, yaitu 7,26 persen terhadap total PDRB. Sedangkan yang terendah terjadi pada tahun 1995 yang hanya mencapai 5,44 persen. Namun apabila di lihat pada tahun 1997 dan 1998 di mana krisis ekonomi melanda Indonesia, justru pariwisata memberikan sumbangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan tahun-tahun tidak terjadinya krisis. Ini menunjukkan bahwa pariwisata bisa merupakan sektor yang bisa diharapkan menjadi sektor andalan dalam menciptakan nilai tambah dimasa krisis. Bahkan sesuai dengan GBHN bahwa sektor pariwisata khususnya pemasukan devisa dari wisman dapat menjadi sektor andalan penerimaan devisa setelah menurunnya ekspor Indonesia akhir-akhir ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk terus bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan mobilitas masyarakat Indonesia yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah kunjungan wisnus. Jumlah kunjungan wisnus maupun PDRB menurut harga yang berlaku menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Sedangkan jumlah wismannya terlihat adanya tren yang menurun sejak tahun 1997. Hal ini berkaitan
[16]

dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di ibukota mulai dari bulan Mei 1998 di mana pemberitaan terjadinya kerusuhan di luar negeri sudah tidak bisa dibendung lagi yang mengakibatkan ditundanya atau dibatalkannya rencana perjalanan wisman untuk berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya. Sumbangan Sektor Pariwisata dari Sisi Permintaan Dan Penawaran Selama kurun waktu tujuh tahun (1992 - 1998) sumbangan sektor pariwisata berdasarkan metode gabungan antara sisi permintaan dan penawaran mengalami fluktuasi naik turun. Sumbangan terbesar terjadi pada tahun 1997 yang mencapai 10,95 persen dan paling rendah terjadi pada tahun 1993 sebesar 8,80 persen. Namun bila dilihat menurut jenis kegiatan sumbangan paling banyak selama kurun waktu tujuh tahun adalah rumah makan/restoran. Pada tahun 1997 di mana krisis ekonomi mulai melanda Indonesia, justru sektor pariwisata memberikan sumbangan terbesar terhadap PDRB selama kurun waktu 7 tahun (1992 - 1998). Tahun berikutnya, 1998, krisis ekonomi semakin terasa dampaknya oleh masyarakat dan dunia usaha pada umumnya, termasuk usaha pariwisata. Sehingga sumbangan sektor pariwisata terhadap PDRB pada tahun tersebut mengalami penurunan sebesar 14,43 persen, yaitu dari 10,95 persen pada tahun 1997 menjadi 9,37 persen pada tahun 1998. Namun jika dilihat perkembangan PDRB pada tahun yang sama terjadi penurunan sebesar 17,58 persen. Ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih bisa diharapkan sebagai salah satu pendorong roda ekonomi di DKI Jakarta dengan meningkatkan sumbangan sektor ini terhadap PDRB. Jika dilihat nilai tambah yang diciptakan sektor pariwisata pada tahun 1998 sebesar Rp 11.574,07 milyar memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada sektor ini sebesar Rp 238,50 milyar atau 2,06 persen yang berasal dari pajak pembangunan I (PB I), pajak hiburan dan retribusi. Pada tahun 1998 terjadi penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana PAD yang diperoleh pada tahun tersebut sebesar Rp 319,81 milyar atau sebesar 3,20 persen dari nilai tambah sektor pariwisata. Seperti halnya nilai tambah pariwisata, PAD pariwisata terbesar selama kurun waktu 6 tahun (1993-1998) terjadi pada tahun 1998. Namun apabila dilihat sumbangan PAD pariwisata terbesar terhadap perolehan total PAD di DKI Jakarta justru terjadi pada tahun 1997 yaitu sebesar 27,01 persen. Sedangkan pada tahun 1998 hanya mencapai 21,17 persen. Di sini juga menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih bisa menjadi salah satu pemasukan utama PAD.
[17]

Kasus (Pulau Bali)


Seperti yang telah kita ketahui bersama, Pulau Bali merupakan daya tarik wisata yang dimiliki oleh Negara Indonesia secara Internasional. Oleh karena itu, harus ada perhatian khusus dari pemerintah pusat mengenai bagaimana mengatur perputaran perekonomian yang terjadi di Pulau Bali. Jangan sampai terjadi kebocoran yang cukup besar sehingga menjadi tidak ada gunanya keberadaan pariwisata di Pulau Bali. Berdasarkan fakta yang didapatkan, Pembangunan di Propinsi Bali didasarkan pada bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian dalam arti luas guna melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan, pengembangan sektor pariwisata dengan karakter kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu, serta sektor industri kecil dan kerajinan yang berkaitan dengan sektor pertanian dan sektor pariwisata (Anonim, 1999; Anonim, 2001. Dari pernyataan diatas, diketahui bahwa keadaan perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata salah satunya. Tentu juga dengan didukung oleh perkembangan sektor industri kecil yang memainkan peran dalam sektor pariwisatanya juga. Hal itu juga ditandai dengan pertumbuhan ekonomi Bali yang selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pada perencanaan lima tahun yang dikeluarkan oleh pemerintah, Bali mengalami kenaikan-kenaikan yang cukup signifikan. Penjabarannya dapat dilihat dibawah ini : Pelita I perekonomian Bali tumbuh 7,32%; Pelita II sebesar 8,55%; Pelita III sebesar 14,01%, Pelita IV sebesar 8,28%; dan pada Pelita V tumbuh sebesar 8,40%. Sedangkan dalam Pelita VI (1994-1998) pertumbuhan perekonomian Bali ratarata 5,07% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebelumnya. Pertumbuhan perekonomian Bali 1999-2003 atas dasar harga konstan tahun 1993 sebesar 2,78%, Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan lima tahun sebelumnya yang disebabkan oleh dampak krisis ekonomi nasional 1997/1999 dan Bom Kuta I tahun 2002. Namun pertumbuhan ekonomi Bali 2004-2005 atas harga konstan tahun 2000 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 5.09%. Walau tahun 2005 Bali lagi-lagi diguncang Bom Kuta II, tetapi tidak banyak berpengaruh terhadap perekonomian Bali karena wisatawan tetap datang ke Bali walau sedikit mengalami penurunan. Pulau Bali mengalami pertumbuhan ekonomi lokal yang cukup signifikan disamping faktor pariwisata yang sangat indah, Pulau Bali memiliki adat yang cukup kuat sehingga masyarakat lokal tidak mudah mengalami degradasi sosial walaupun banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Pulau Bali. Dengan begitu,
[18]

keekonomian lokal di Pulau Bali sangat terjaga dan tidak terlalu banyak kebocoran yang terjadi sehingga masyarakat lokal dapat terberdayakan.

[19]

Daftar Pustaka
Canada Government Revenue Attributable to Tourism. 2007. Research Paper: Income and Expenditure Accounts Technical Series: Catalogue no. 13-604-M No. 60. Canada : Canada Government Revenue Attributable. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. 2005. Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 2009. Jakarta : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Antara, Made. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Bali Rai Utama, Bagus. 2011. Dimensi Ekonomi Pariwisata: Kajian Terhadap Dampak Ekonomi dan Refleksi Dampak Pariwisata Terhadap Pembangunan Ekonomi Provinsi Bali. Denpasar : S3 Doktor Pariwisata, Universitas Udayana. Website : http://pisoftskill.blogspot.com/2011/03/perekonomian-indonesia.html http://architecturetourism.files.wordpress.com/2009/06/multiplier-effectpariwisata1.jpg. Diunduh Maret 2012 http://kppo.bappenas.go.id/preview/282 http://travel.kompas.com/read/2012/01/06/08213046/Pertumbuhan.Pariwisata. Selalu.di.Atas.Pertumbuhan.Ekonomi http://student.eepisits.edu/~wongthathu/COOL/MANAJ.%20PROYEK%20SI/Day%201/Contoh %20Tugas/Tugas%20ManPro%201/Lampiran/rupe18.htm

[20]