Anda di halaman 1dari 6

SEJARAH PERKEMBANGAN DIPLOMASI AMERIKA SERIKAT

Pendahuluan
Pada tanggal 4 Juli 1776 Amerika Serikat memproklamirkan kemerdekaannya. Ketika merdeka, Amerika Serikat hanya terdiri atas 13 negara bagian dan bentuk negaranya adalah konfederasi. Mulai tahun 1776 sampai tahun 1787 penyelenggaran Negara diatur melalui Article of Confederation. Peran Diplomasi dalam perjuangan kemerdekaan Amerika hingga Amerika dipandang sebagai negara yang kuat dalam berdiplomasi menjadikan saya tertarik dalam membahas Sejarah Diplomasi Amerika tersebut. Sejarah suatu negara merupakan identitas dari negara tersebut. Dengan memahami sejarahnya, kita bisa memahami bagaimana sebenarnya negara itu sendiri. Berdasarkan Latar belakang tersebut maka di dalam tulisan ini saya akan menjelaskan secara singkat bagaimana sejarah perkembangan diplomasi AS yang berlangsung sejak masa kolonial hingga kini.

Analisis
Diplomasi adalah sinonim dengan kebijaksanaan ataupun politik luar negeri yang mempunyai dua sisi utama, yaitu perumusan politik luar negeri dan para pejabat yang menerapkannya. (W.W Kulski, 1968: 624) Diplomasi adalah alat yang dipakai suatu negara untuk melaksanakan politik luar negerinya. Diplomasi yang dilakukan AS dalam mencapai kepentingannya memberikan

kontribusi dalam berbagai kemajuan di AS. Berikut adalah penjelasan singkat saya tentang perkembangan diplomatik AS sejak sebelum kemerdekaan hingga kini. Perkembangan Diplomasi di Amerika Serikat Pada 1776, Benjamin Franklin bersama diplomat-diplomat pertama AS mendapatkan dukungan dalam hal revolusi. Diplomasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi AS pada waktu itu, bisa dibuktikan dengan berhasilnya Benjamin Franklin mendapatkan dukungan Perancis dalam perang revolusi melawan pemerintahan Inggris. Bisa dikatakan bahwa keberhasilan terbesar AS dalam diplomasi saat itu adalah hubungannya dengan Perancis. Pada tanggal 10 Januari 1781, Kongres Kontinental mendirikan Departemen Luar Negeri, di bawah kendali seorang sekretaris urusan luar negeri. Namun kritik datang dari berbagai arah bahwa Departemen Luar Negeri tidak menjalankan fungsinya dengan efisien dan sekertarisnya justru membuat peraturan-peraturan yang membatasi kebebasan dalam bertindak. Konstitusi baru pada tahun 1789 memberi Presiden kewenangan untuk membuat treaty dan menunjuk duta besar, namun tetap dengan nasihat dan persetujuan Senat. Hal ini menciptakan pembagian kekuasaan atas pelaksanaan hubungan luar negeri antara legislatif dan eksekutif. Pada tanggal 15 September 1789, Kongres meloloskan sebuah undang-undang, yaitu: An Act to provide for the safe keeping of the Acts, Records, and Seal of the United States, and for other purposes. Undang-undang ini mengubah nama Departemen Luar Negeri (Department of Foreign Affairs) menjadi Departemen Negara (Department of State) karena tugas domestik baru diberikan kepada departemen tersebut. Salah satu tugas awal Departemen Luar Negeri adalah pertahanan Republik baru ini. Departemen Luar Negeri bertanggung jawab untuk mempromosikan keberadaan dan kemerdekaan AS, khususnya mengenai pelanggaran batas oleh Eropa. Departemen Luar Negeri juga berperan dalam menegosiasikan perluasan AS. Diplomasi AS menemui kegagalannya ketika permasalahan di Eropa mengarah kepada peperangan yang mengakibatkan AS menderita kerugian besar karena kekalahan atas hancurnya Washington. Namun, dalam kondisi yang lemah pun, negosiasi oleh para diplomat membuat kemajuan penting bagi AS. Diplomasi memberikan kontribusi dalam ekspansi negara tersebut dan menentukan sikapnya terhadap ambisi Eropa dalam berbagai belahan bumi.

Selama abad ke-19, ekspansi AS terus dilakukan melalui diplomasi. Pembelian berbagai wilayah pun dilakukan menyusul pembelian Lousiana. Wilayah-wilayah tersebut yaitu Florida, Hawaii, Texas, Oregon, California, Southern Arizona, New Mexico dan juga Alaska. Setelah bernegosiasi bertahun-tahun dan setelah membantu Panama melepaskan diri dari Kolombia, AS menrumuskan perjanjian dengan Panama pada tahun 1903 untuk membangun Terusan Panama, sehingga meningkatkan keterlibatan AS di Amerika Latin dan Pasifik. Menteri Luar Negeri John Hay dan Departemen Negara memainkan peran penting dalam proyek kanal. Tantangan eksternal yang berkurang setelah berakhirnya perang sipil di Amerika menyebabkan berkurangnya aktivitas diplomasi, namun saat itu merupakan periode dimana profesionalisme dalam hubungan luar negeri meningkat. Pertumbuhan hubungan diplomatik perlahan tumbuh. Salah satu keberhasilannya yaitu tumbuhnya perdagangan, wilayah dan hubungan luar negeri AS khususnya di Asia dan Amerika Latin. Menyusul kemenangan AS dalam Perang Spanyol-Amerika pada tahun 1898, melalui diplomasi, AS menguasai pangkalan angkatan laut di pantai Teluk Guantanamo, Kuba. AS, melalui Amandemen Platt menerima hak untuk mencampuri urusan Kuba serta kontrol penuh atas Kepulauan Filipina, Puerto Rico, dan Guam. Itu juga merupakan tahun di mana AS mencaplok Kepulauan Hawaii. George Washington telah memperingatkan aliansi yang terlibat bahwa Amerika akan tetap menjauh dari urusan Eropa, begitupun yang dikatakan dalam doktrin Monroe. Namun Departemen Luar Negeri di bawah arahan Presiden Wilson menjadi sangat terlibat dalam urusan Eropa sebelum masuk AS ke Perang Dunia I. Semasa Perang Dunia I dan sesudahnya, banyak diplomasi yang dilakukan oleh para diplomat AS. Presiden Wilson dan penasehatnya beserta sekertaris negara mengarahkan negaranya menuju perdamaian dunia dan atas bantuan AS, dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa. Diplomasi AS dalam Perjanjian Versailles sangat berperat penting dalam memberikan perdamaian pada dunia setelah Perang Dunia I.

Namun kegagalan diplomasi lainnya dirasakan oleh pihak AS atas tidak adanya dukungan internasional saat invasi ke Jepang pada tahun 1931. Setelah hancurnya Pearl Harbour oleh Jepang, akhirnya AS bergerak memerangi negara tersebut habis-habisan. Semasa Perang Dunia II, diplomasi AS difokuskan pada penanganan masalah antara kekuatan barat dan Uni Soviet, terutama di Eropa Timur dan Jerman. Departemen dalam negeri AS dan berbagai departemen lainnya memainkan peran yang signifikan dalam membangun institusi politik dan ekonomi selepas perang dunia. Di sinilah fondasi awal terbentuknya PBB, IMF dan juga World Bank. Konflik yang ditangani oleh para diplomat dan militer saat itu hanya sebatas konflik kecil dalam berbagai negara seperti di Yunani, Filipina, Guatemala, Kuba, Zaire, Bolivia, Kamboja, Laos, Angola, El Salvador, Nikaragua, dan Grenada. Meskipun mengalami berbagai konfrontasi serta ketegangan, para diplomat dan militer mampu membuat kemajuan besar, diantaranya yaitu Perjanjian Larangan Uji Nuklir pada tahun 1963, SALT I pada 1972, dan perjanjian FordBrezhnev pada tahun 1974, yang kemudian memberi kontribusi pada terbentuknya SALT II dan serangkaian perjanjian nonproliferasi nuklir. Dimulainya kembali hubungan bilateral dengan China menjadi keberhasilan diplomatik yang luar biasa di era itu, mulai tahun 1969 dan mencapai puncaknya dengan kunjungan Presiden Nixon ke Beijing pada tahun 1972. Bertahun-tahun setelah perang, fokus diplomat AS tertuju pada Timur Tengah seperti dalam masalah pengeboman teroris di Libanon daninvasi Irak ke Kuwait. AS juga memainkan peran mediasi dalam berbagai konflik di berbagai belahan bumu, terutama di Timur Tengah. Runtuhnya komunisme Soviet setelah kehancuran Tembok Berlin pada tahun 1989 menciptakan kondisi yang benar-benar baru bagi para diplomat AS. Konfrontasi dan penahanan Uni Soviet lagi menjadi motif utama diplomasi AS. Diplomat AS menjadi terlibat dalam membantu negara-negara Eropa Timur dan Tengah serta bekas koloni Uni Soviet dalam mengembangkan demokrasi dan ekonomi pasar yang layak. Pada awal pemerintahan Presiden George W. Bush, pemerintahan memperoleh peningkatan yang signifikan dalam pendanaan program dan jumlah personil urusan luar negeri. Manajemen

Departemen Luar Negeri pun juga mengalami peningkatan. Presiden Bush dan Perdana Menteri Tony Blair dari Inggris menyatakan keprihatinan atas isu pengembangan sejata nuklir dan biologis di Irak, mereka mereka membentuk sebuah koalisi dari 49 negara, termasuk Australia, Denmark, Italia, Jepang, dan Belanda. Namun, keengganan negara-negara tertentu lainnya untuk berpartisipasi (khususnya sekutu Jerman dan Perancis), preferensi mereka untuk melanjutkan inspeksi senjata PBB di Irak dan kritik luas dari tindakan AS akhirnya menimbulkan ketegangan dalam hubungan mereka dengan AS. Amerika Serikat dan Inggris memimpin koalisi dalam menginvasi Irak pada Maret 2003 dan dengan cepat menggulingkan rezim Saddam Hussein. Menenteramkan negeri dan memulihkan infrastruktur ternyata lebih sulit. Namun, lambat laun hal ini bisa diatasi. Meskipun menuai kritik, khususnya dalam hal perang di Irak, AS terus memimpin dunia dalam bantuan kemanusiaan di luar negeri Setelah menjabat, Presiden Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengumumkan rencana untuk meningkatkan sumber daya yang ditujukan untuk diplomasi dan bantuan asing dan
memperluas hubungan luar negeri. Selama beberapa bulan pertama, pemerintahan difokuskan pada

upaya untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke Afghanistan, Pakistan, dan Irak, memetakan jalan ke depan pada perdamaian Timur Tengah serta mengatasi ambisi nuklir Iran. Hubungan dengan Rusia dibangun kembali, kerjasama dengan RRC juga dibentuk serta pemeliharaan hubungan dekat dengan sekutu di Eropa dan Asia serta negara-negara di belahan bumi Barat. Dalam pidato kebijakan luar negeri dalam Dewan Hubungan Luar Negeri pada bulan Juli 2009, Menlu Clinton menguraikan lima pendekatan kebijakan: 1) Memperbarui dan menciptakan sarana untuk bekerja sama dengan mitra internasional, termasuk negara-negara berkembang dan lembaga-lembaga multilateral, 2) Terlibat dengan negara-negara yang lain tidak setuju dengan kebijakan AS, 3) Mengangkat dan mengintegrasikan pembangunan ekonomi di luar negeri sebagai pilar inti dari kekuatan Amerika, 4) Mengintegrasikan upaya sipil dan militer di daerah konflik sehingga dapat beroperasi secara terkoordinasi dan saling melengkapi dan 5) Memperkuat sumber pengaruh tradisional AS, termasuk kekuatan ekonomi. Menurut Sekretaris, pemerintahan Obama berencana untuk mengadopsi kebijakan ini sebagai prioritas utama, termasuk dunia yang bebas dari kekerasan, senjata nuklir, pemanasan global, kemiskinan, dan

pelanggaran hak asasi manusia, dan di atas itu semua, sebuah dunia di mana ada lebih banyak orang tempat untuk terus hidup dengan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan.

Kesimpulan
Peran diplomasi dalam kemajuan Amerika Serikat merupakan suatu hal yang sangat penting. Bisa dilihat kemajuan AS dalam berbagai bidang tidak lepas dari peran diplomasi. Berbagai keberhasilan yang digapai hingga kini merupakan suatu bukti bahwa AS memiliki kualitas yang cukup baik dalam hal kegiatan diplomatik. Selain keberhasilan, ada juga beberapa kegagalan yang dialami oleh AS sepanjang sejarah diplomasinya. Namun, hal itu bukanlah masalah besar karena AS selalu bisa bangkit dan mengatasi permasalahannya dan kembali dalam pembangunan negaranya.

Daftar Pustaka
www.usdiplomacy.org/exhibit/index.php future.state.gov/when/timeline.html elib.unikom.ac.id/files/disk1/373/jbptunikompp-gdl-dewitriwah-18612-1-%28pertemu-t.pdf file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/196904301998021MOCH_ERYK_KAMSORI/SEJ.AMERIKA/BAHAN_AJAR/BAB_IX.Bangsa_Amerika.pdf

Nama : Muhamad Ridi Pradana NIM : 1002045141

Kelas : HI Reguler B