Anda di halaman 1dari 4

Metode Numerik Persamaan Diferensial Modern

SOLEHUDIN HIKMATIAR Fisika Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Jl. Raya Cipadung No. 105 Cibiru. Bandung. Jawa Barat INDONESIA solehudin_hikmatiar@yahoo.com http://solehudingoldhikmatiar.wordpress.com/
Abstract: - Pada bab ini dibahas tentang persamaan diferensial biasa, ordinary differential equations (ODE) yang diklasifikasikan kedalam masalah nilai awal (initial value) dan masalah nilai batas (boundary value), dimana kedua keadaan ini solusinya dispesifikasi pada waktu awal (initial time). Banyak hukum-hukum fisika yang sangat pas diformulasikan dalam bentuk persamaan diferensial. Lebih lanjut, tidak mengherankan bahwa solusi komputasi numerik dari persamaan-persamaan diferensial menjadi bagian yang umum dalam pemodelan sistem-sistem fisika. Serta membahas sebuah metedoe perbandingan yang dilakukan dengan perhitungan f tergantung pada x, dan untuk f tergantung pada y. Key-Words: - Metode runge kutta persamaan diferensial biasa, differential equations (ODE), nilai awal (initial value), waktu awal (initial time), nilai batas (boundary value).

1 Pendahuluan
Dalam matematika terapan seseorang sering dihadapkan ke soalan persamaan diferensial dengan syarat awal tertentu seperti berikut ini: y=f(x,y), y(x0)=y0 (1) dengan f(x,y) fungsi yang kontinu pada setiap titik (x,y) pada daerah D di bid ang xy dan (x0, y0) adalahsuatu titik pada D. Akan tetapi karena kendala yang ada di fungsi f, penyelesaian persamaan (1) secara analitik tidak selalu dapat dilakukan. Untuk itu dikembangkanlah metode pendekatan yang berprinsip beda terbagi (divided difference). Metode pendekatan yang cukup sederhana dan banyak digunakan di software komersial seperti Maple dan MATLAB untuk menyelesaikan masalah nilai awal (1) adalah metode Runge-Kutta

(5.8)

(5.9)

2 Rumusan Masalah
Pada saat membahas metode Euler untuk penyelesaian persamaan diferensial, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa truncation error metode Euler terus membesar seiring dengan bertambahnya iterasi (ti). Dikaitkan dengan hal tersebut,metode Runge-KuttaOrde-4 menawarkan penyelesaian persamaan diferensial dengan pertumbuhan truncation error yang jauh lebih kecil. Persamaan-persamaan yang menyusun metode Runge-Kutta Orde-4 adalah

(5.10)

(5.11)

(5.12)

dimana fungsi f(t,w) adalah fungsi turunan.

k1 = f ( xi , yi ) 2.1 Metode
Untuk melihat baik tidaknya suatu metode pendekatan yang digunakan untuk menyelesai-kan menyelesaikan masalah nilai awal (1) perlu dilihat kualitas metode tersebut dan keampuhan komputasinya. Shampine (1976) menyatakan ada empat hal yang harus ditinjau dalam menguji kualitas suatu metode untuk mendapatkan selesaian (1), yaitu keakuratan (galat), kualitas taksiran galat, kestabilan dan keefisienan. Penerapan test kualitas diatas dilakukan Shampine untuk metode-metode yang ordenya berbeda dan dengan panjang langkah bervariasi. Karena objek penelitian disini adalah metode berlangkah tunggal maka pengujian kualitas taksiran galat tidak relevan dilakukan. Pengujian komputasi dilakukan dengan melihat kelakukan selesaian numerik untuk soal ini. 2.1.1 Sub-Metode Metode praktikum ini menggunakan metode rungeKutta, yaitu membandingkan, Metode Runge-Kutta merupakan cara numerik yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial. Persamaan diferensial yang digunakan adalah persamaan diferensial linear orde satu yang berbentuk dan nilai awal . Metode tersebut digunakan untuk mencari nilai pada titik t dan banyak selang n. Langkahlangkah pencariannya adalah menyelesaikan persamaan tersebut secara analitik (mencari nilai eksak), secara numerik (metode Runge-Kutta), menghitung nilai galat dan membandingkan nilai galatnya.

k 2 = f ( xi +

1 1 x, yi + k1 x ) 2 2 1 1 x, yi + k 2 x) 2 2

(8.33c)

k3 = f ( xi +

(8.33d)

k 4 = f ( xi + x, yi + k3 x ) metode Runge-Kutta order empat telah dianggap cukup baik dan memadai untuk menyelesaikan suatu masalah pemodelan dalam bentuk persamaan diferensial terkait.
Konsep Fisika Tentang Osilasi Pegas fungsi waktu berupa sinusoidal yang dapat dinyatakan dalam bentuk sinus atau cosinus. Contoh gerak harmonis diantaranya gerak pada pegas, gerak padabandul atau ayunaan sederhana dan gerak melingkar. Gerak harmonis merupakan gerak periodik, yaitu gerak bolakbalik secara periodik melalui titik kesetimbangan. Pegasyang diberi simpangan sejauh y dari posisi kesetimbangannya akan bergerak bolakbalik melalui titik kesetimbangan tersebut ketika dilepaskan. Gerakan ini disebabkanoleh gaya pemulih yang bekerja pada pegas. Gaya pemulih ini berusaha untuk mengembalikan posisi benda ke posisi kesetimbangannya. Besar gaya pemulihberbanding lurus dengan besar simpangan dan arahnya berlawanan dengan arahsimpangan. Secara matematis besar gaya pemulih pada pegas dapat ditulis sebagaiberikut F=-ky

3 Solusi Masalah
Metode Runge-Kutta adalah alternatif solusi lain dari metode deret Taylor yang tidak membutuhkan perhitungan turunan. Metode ini mengusahakan derajat ketelitian yang lebih tinggi, dan sekaligus menghindarkan kebutuhan mencari turunan yang lebih tinggi dengan jalan mengevaluasi fungsi f(x,y).

Dimana
k = tetapan pegas (N/m) y= simpangan (m) F = gaya pemulih (N)dengan tanda minus menyatakan bahwa arah gaya pemulih berlawanan dengan arah simpangan.

Metode Runge-Kutta order 4 banyak digunakan karena mempunyai ketelitian lebih tinggi. Metode ini mempunyai bentuk: yi + 1 = yi + dengan: 1 (k1 + 2k 2 + 2k3 + k 4 ) x (8.33a) 6

Grafik osilasi Script pada osilasi bandul

Dalam praktikum nin menggunakan metode Rungekutta orde 4, pada diagram fase itu merupakan hasil dari sistem konveksi lorenz, yang merupakan Osilasinya

Script Metode Runge-Kutta

Kesimpulan
Metode Runge-Kutta adalah alternatif solusi lain dari metode deret Taylor yang tidak membutuhkan

perhitungan turunan. Metode ini mengusahakan derajat ketelitian yang lebih tinggi References: [1] http://library.um.ac.id/freecontents/index.php/pub/detail/aplikasi-metoderunge-kutta-pada-persamaan-diferensial-linearorde-satu [2] http://elista.akprind.ac.id

Anda mungkin juga menyukai