Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM Pemasangan Kateter Urin

oleh Amelia Eka Putri, 1006672106

A. Pengertian Tindakan Kateter adalah peralatan bedah yang berbentuk tubuler dan lentur yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh untuk mengeluarkan atau memasukan cairan. Sedangkan pemasangan kateter urin merupakan tindakan memasukkan kateter melalui uretera ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan urin. B. Tujuan Tindakan 1. Mengeluarkan urin. 2. Menghilangkan distensi kandung kemih. 3. Mendapatkan spesimen urin. 4. Mengkaji jumlah residu urin. C. Kompetensi Dasar Lain yang Harus Dimiliki 1. Pengetahuan dasar sistem urinarius a. Kandung kemih normalnya nbersifat steril. b. Spincter uretra bagian luar tidak steril. c. Kandung kemih mempunyai mekanisme pertahanan sendiri, dapat mengosongkan urin sendiri secara teratur, dan dapat mempertahankan keasaman lingkungannya. d. Kuman pathogen yang masuk ke dalam uretra dapat menyebabkan infeksi kandung kemih dan ginjal. 2. Tipe kateter a. Nelaton kateter/straight catheter/kateter sementara (1 lumen)

b. Folley kateter/kateter tetap (2 atau 3 lumen) Mempunyai balon kecil yang dapat dikembungkan untuk menahan selang kateter tetap pada tempatnya. 1) Lumen pertama untuk mengeluarkan urin.

2) Lumen kedua untuk memasukkan cairan steril untuk fiksasi. 3) Lumen ketiga untuk memasukkan cairan atau obat ke dalam vesica urinaria. 3. Bahan kateter a. Kateter plastic Digunakan sementara karena mudah rusak dan tidak fleksibel. b. Kateter latex/karet Digunakan untuk pemakaian dalam jangka waktu sedang (kurang dari 3 minggu). c. Kateter silicon murni/teflon Digunakan untuk penggunaan jangka waktu lama (2 - 3 bulan) karena bahan lebih lentur pada meatus uretra. d. Kateter PVC Digunakan untuk penggunaan 4 - 6 minggu, sangat mahal, bahan lembut, tidak panas dan nyaman bagi uretra. e. Kateter logam Digunakan untuk penggunaan sementara, biasa dipakai untuk pengosongan kandung kemuh pada ibu yang hendak bersalin. 4. Ukuran kateter Ukuran kateter Wanita dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Kateter no 14/16 Kateter no 18/20 Kateter no 8/10

(dalam cm) Panjang kateter Panjang kateter yang masuk Panjang kateter yang diberi jelly

Pria 15 22.5 14 - 20 5 7.5

Wanita 5 7.5 3.7 - 7

3-4

D. Indikasi, Kontra Indikasi, dan Komplikasi Tindakan Indikasi: 1. tidak sadar 2. operasi besar 3. retensi urin 4. inkontinensia urin 5. imobilisasi 6. pengambilan spesimen

Kontraindikasi: Fraktur pinggang. Komplikasi: 1. trauma 2. infeksi 3. sepsis 4. alergi 5. bakterial shock E. Anatomi Daerah Tindakan 6. striktur uretera 7. ruptur uretera 8. perforasi kandung kemih 9. perdarahan

F. Aspek Keamanan dan Keselamatan yang Harus Diperhatikan 1. Perawatan dan pembersihan perineum sebelum kateterisasi sangat penting untuk mnghindari risiko infeksi. 2. Pada klien post-partum dan post-op ginekologi, bagian perineum dan bagian labia mungkin akan membengkak, berhati-hati saat memegang untuk mengurangi ketidaknyamanan. G. Alat dan Bahan 1. kateter steril 2. kapas sublimat/kapas savlon steril 3. kasa 4. korentang steril 5. lumbrikan/jelly 6. betadhine yang sudah diencerkan 7. perlak dan alasnya 8. bengkok untuk kapas kotor 9. bengkok untuk penampung urin H. Prosedur Tindakan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Klien Pria Kaji status klien. Kontrak dengan klien. Jaga privasi klien. Cuci tangan. Mengatur posisi klien supine dan kedua kaki dilebarkan. Meletakkan perlak & alas di bawah bokong. Menyambungkan kateter dengan urobag/penampung urin. Memasang sarung tangan steril. Mencuci gland penis di sekitar meatus 9. dengan antiseptik menggunakan kasa steril (kapas savlon dan betadine). 10. 11. 12.
Mengganti sarung tangan steril. Membuka labia minora dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Vulva dibersihkan dengan kapas savlon minimal 3 kali (dari atas ke bawah).

10. pinset anatomi steril 11. botol steril bila perlu 12. duk steril 13. spuit dan aquadest 14. sketsel 15. hand scoon (2 pasang) 16. plaster 17. gunting

Klien Wanita

Meletakkan duk bolong steril di sekitar perineal. Mengolesi kateter dengan jeli.

13. 14. 15. 16. 17. 17. 18.

Memegang penis (tangan kiri) dan menegakkannya. Memasukkan kateter ke dalam uretra (1525 cm).

Membuka labia minora (tangan kiri). Memasukkan kateter ke dalam uretra perlahan-lahan.

Tampung urin yang keluar.


Jika urine sudah keluar, masukkan kateter ke dalam kurang lebih 2,5 cm.

Lakukan fiksasi kateter atau penggembungan balon kateter dengan menggunakan spuit berisi air steril/NaCI steril. Memfiksasi kateter dengan plester pada paha.

Mencuci tangan.

I. Hal-Hal Penting yang Harus Diperhatikan Perawat 1. Pemasangan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan luka dan perdarahan uretra. 2. Balon yang dikembangkan sebelum memasuki kandung kemih dapat menimbulkan luka pada uretra. J. Hal-Hal Penting yang Harus Dicatat Perawat 1. tanggal dan waktu tindakan 2. tipe dan ukuran kateter 3. deskripsi urin 4. respon klien

Referensi:
Barbara, K., et.al. (2002). Kozier and erbs technique in clinical nursing. New Jersey: Pearsson Education. Kusyati, E. (2006). Keterampilan dan prosedur laboratorium. Jakarta: EGC. Novak, P.D. (1998). Dorlands pocket medical dictionary, 25th edition, diterjemahkan oleh Poppy Kumala. Jakarta: EGC. Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamentals of nursing: concepts, process, and practice, 4th edition, 2nd volume, diterjemahkan oleh Renata Komalaasari. Jakarta: EGC.