Anda di halaman 1dari 54

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Seorang anak berlari-lari dengan riangnya kesana kemari . Dengan wajah ceria ia bolak-balik mematikan kenop lampu yang ada di ruangan rumahnya. Teriakan dan larangan ibunya sama sekali tidak dihiraukannya, seakan-akan ia tidak mendengar suara panik sang ibu yang takut terjadi sesuatu pada anaknya. Beberapa menit kemudian ketika jingle sebuah iklan muncul di TV, tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya dan berlari kearah TV serta mendengarkan dengan seksama jingle iklan tersebut. Sesaat iklan tersebut berakhir, ia kembali berlari-lari dengan tangan yang berkali-kali dihentakkan ke bawah disertai kata-kata/suara yang hanya ia sendiri dapat mengerti. Dalam beberapa tahun terakhir ini para psikolog dan psikiater semakin banyak mendapat rujukan dari dokter anak untuk mengkonsultasikan

anak-anak usia 2-4 tahun dengan gejala-gejala seperti ilustrasi di atas. Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua. Jumlah penderita autisme meningkat prevalensinya dari 1 : 5000 anak pada tahun 1943 saat Leo Kanner memperkenalkan istilah autisme, menjadi 1 : 100 ditahun 2001 (Nakita, 2002). Kondisi ini menyebabkan banyak orangtua menjadi was-was, sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa kurang normal selalu dikaitkan dengan gangguan autisme. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mencoba lebih menjelaskan apa dan bagaimana gangguan ini, sehingga dapat menghapus kesimpang siuran yang ada yang selama ini sering dijumpai pada para orangtua dan masyarakat tentang gangguan perkembangan autisme.

LANDASAN TEORI

1. Pengertian Autisme Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum ( 1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di alamnya sendiri. Kata autism sendiri berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu autyang berarti diri sendiri dan ism yang secara tidak langsung menyatakan orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen dkk, 1998). Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindak dengan minat pada orang lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Ini, tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka. Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner pertama kali

1943 ( dalam Budiman, 1998) seorang

psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehinggaperilakunya tampak seperti hidup dalam dunianya sendiri. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka

berkomunikasi. Pada awalnya istilah autisme diambilnya dari gangguan schizophrenia, dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung halusinasi dan delusi yang berlangsung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam

perkembangan

yang

tergolong

dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan

kehidupan autistik yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ). Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsifungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling). Autis jugs dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis microsociological tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen, 1998), orang autis memiliki kekurangan pada cretive induction atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis-premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis-premis umum pada kesimpulan khusus, kuat. (Trevarthen, 1998).

2. Gejala-Gejala Autisme Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala, gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia 3 - 4 bulan. Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak berbicara, maka bayi tersebut akan berespon dan bereaksi dengan ocehan serta gerakan. Makin lama bayi makin responsive terhadap rangsang dari luar seiring dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur 6-8 bulan ia sudah bisa berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara. Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Ia bersikap acuh tak acuh dan seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain. Ia lebih suka bermain dengan dirinya sendiri atau dengan mainannya. Berikut ini diuraikan indikator perkembangan yang normal pada masa bayi : Indikator Perkembangan yang Normal USIA KEMAMPUAN PROSES BERPIKIR 3 bln Berespon terhadap suara baru Berceloteh/bersuara Mengikuti benda dengan mata Tersenyum pada suara ibu Melihat objek dan orang 3-6 bln Mengenal ibu Menggapai objek Mengangat tangan kaki dan DAN KOMUNIKASI GERAKAN

Melihat

pergerakan tangan sendiri Memalingkan kepala pada Mengangkat suara Mulai meraban Meniru suara Menangis dengan suara Mengerakkan dalam bermain kepala benda

berbeda 6-9 bln Meniru gerakan sederhana Membuat kata-kata berulang Merayap/merangkak tidak bermakna ( Berdiri berpegangan ke meja Bertepuk tangan

Berespon jika dipanggil nama yang

gagaga, dada, dst)

Menggunakan suara untuk Memindahkan objek dari menarik perhatian satu tangan ke tangan lainnya 9-12 bln Bermain permainan sederhana Melambaikan tangan Bergerak menuju benda yang untuk dada diminati Melihat gambar pada buku tidak Meniru kata-kata baru 12-18 bln Meniru suara dan gerakan Menggelengkan yang baru menyatakan tidak Meniru kata baru instruksi Berjalan sambil

berpegangan Menyatakan

Berhenti ketika dikatakan ingin benda tertentu Mencoret dengan pensil warna

kepala Berjalan sendiri Naik /turun tangga

Menunjuk pada benda yang Mengikuti diinginkan sederhana

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, ( Budiman, 1998) yaitu: 1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti , echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti maknanya, dstnya. 2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya. 3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif

namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton. Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana. 4. Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. 5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya. Gejala gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.

3. Kriteria Diagnostik Pada dasarnya gangguan autisme tergolong dalam gangguan

perkembangan pervasive, namun bukan satu-satunya golongan yang termasuk dalam gangguan perkembangan pervasive ( Pervasive Developmental Disorder) menurut DSM IV (1995). Namun dalam kenyataannya hampir keseluruhan golongan gangguan perkembangan pervasif disebut oleh para orangtua atau masyarakat sebagai Autisme. Padahal di dalam gangguan perkembangan pervasive meski sama-sama ditandai dengan gangguan dalam beberapa area perkembangan seperti kemampuan interaksi sosial, komunikasi serta munculnya perilaku stereotipe, namun terdapat beberapa perbedaan antar a golongan gangguan autistik (Autistic Disorder) dengan gangguan Rett ( Retts Disorder), gangguan disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger (Aspergers Disorder). Gangguan autistik berbeda dengan gangguan Rett dalam rasio jenis kelamin penderita dan pola berkembangnya hambatan. Gangguan Rett hanya dijumpai pada

wanita sementara gangguan Autistik lebih banyak dijumpai pada pria dibanding wanita dengan ratio 5 : 1. Selanjutnya pada sindroma Rett dijumpai pola perkembangan gangguan yang disebabkan perlambatan pertumbuhan kepala (head growth deceleration), hilangnya kemampuan ketrampilan tangan dan munculnya hambatan koordinasi gerak. Pada masa prasekolah, sama seperti penderita autistik, anak dengan gangguan Rett mengalami kesulitan dalam interaksi sosialnya. Selain itu gangguan Autistik berbeda dari Gangguan Disintegratif masa anak, khususnya dalam hal pola kemunduran perkembangan. Pada Gangguan Disintegratif, kemunduran (regresi) terjadi setelah perkembangan yang normal selama minimal 2 tahun sementara pada gangguan autistik abnormalitas sudah muncul sejak tahun pertama kelahiran. Selanjutnya, gangguan autistik dapat dibedakan dengan gangguan Asperger karena pada penderita asperger tidak terjadi keterlambatan bicara. Penderita Asperger sering juga disebut dengan istilah High Function Autism, selain karena kemampuan komunikasi mereka yang cukup normal juga disertai dengan kemampuan kognisi yang memadai. Secara detail, menurut DSM IV ( 1995), kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut : A. Harus ada total 6 gejala dari (1),(2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) : 1. Kelemahan kualitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini : a. Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial. b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya. c. Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain. d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal

balik. 2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini: a. Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal b. Bila anak bias bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi c. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulang-ulang. d. Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf perkembangannya. 3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini : a. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus dan

intensitas yang abnormal atau berlebihan. b. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas. c. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti

menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh. d. Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek.

B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.

C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak Dengan mempelajari kriteria diagnostik di atas, sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk menentukan apakah seorang anak termasuk penyandang

autisme atau gangguan perkembangan lainnya. Namun kesalahan diagnosis masih sering terjadi terutama pada autisme ringan yang umumnya disebabkan adanya tumpang tindih gejala. Sebagai contoh, penyandang hiperaktivitas dengan konsentrasi yang kurang terfokus kadang kala juga menunjukkan keterlambatan bicara dan bila dipanggil tidak selalu berespon sesuai yang diharapkan. Demikian juga bagi penderita retardasi mental yang moderate, severe dan profound mereka menunjukkan gejala yang hampir sama dengan autisme seperti keterlambatan bicara, kurang adaptif dan impulsif.

4. Penyebab Autisme Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam catatan pakar autis (Nakita, 2002) jumlah penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran normal dari tahun ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah mencapai 1 dari 100 kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan pertanyaan, ada perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus terjadinya autisme bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. A. Faktor Genetik Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik.. Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya, karena tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier). (Dr. Sultana MH Faradz, Ph.D, 2003)

B. Ganguan pada Sistem Syaraf Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel purkinye diduga dapat merangsang pertumbuhan akson, gliadan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal, atau sebaliknyapertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinye mati. (Dr.Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K), 2003). Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.

C. Ketidakseimbangan Kimiawi Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Untuk memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66 %) alergi terhadap gluten dan makanan lain. (Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003).
10

Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal, peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.

D. Faktor Psikogenik Ketika autisme pertamakali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasus perdana banyak ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan, yang orangtuanya bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan

komunikasi anak yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Pendapat Kanner ini disebut dengan teori Psikogenik yang menerangkan penyebab autisme dari faktor-faktor psikologis, dalam hal ini perlakuan atau pola asuh orangtua. Namun, penelitian-penelitian selanjutnya tidak menyepakati pendapat Kanner. Alasannya, teori psikogenik tidak mampu menjelaskan ketertinggalan perkembangan kognitif, tingkah laku maupun komunikasi anak autis. Penelitian-penelitian selanjutnya lebih memfokuskan kaitan faktor-faktor organik dan lingkungan sebagai penyebab autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat ini bergeser ke faktor organik dan lingkungan.

E. Faktor Biologis dan Lingkungan Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya penyebabnya bisa tidak sama. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan adanya kelainan atau keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan (developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian

11

dan diagnosis dalam DSM IV. Hasil pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini neurotransmitter yang berbeda dari orang normal. Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002). Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis, diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi persalinan, dan genetik. Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia atau logam dapat mengakibatkan munculnya autisme ( http://www.autism society org, 2002). Zat-zat beracun seperti timah (Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok; kadmium (Cd) dari batu baterai serta turunan air raksa (Hg) yang digunakan sebagai bahan tambalan gigi ( Amalgam). Apabila tambalan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap didalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang. Ketika ibu hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi pada saat pemberian Asi dimana logam yang disimpan ibu ikut dihisap bayi saat menyusui. Sebuah vaksin, MMR (Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran dan memperlihatkan gejala autisme. Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya

12

kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung (siblings) anak penyandang autism terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3 % untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sample kecil. Penelitian pada kembar identik satu telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis ( Nikita, 2002). Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan autisme diantaranya adalah usia ibu (makin tinggi usia ibu, kemungkinan menyandang autis kian besar), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.

F. Kemungkinan Lain Infeksi yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus rubella yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme.

5. Hambatan-Hambatan Anak Autis Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak autistic memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri, acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang tidak hangat, tidak ada

13

kontak mata dengan orang lain dan bagi mereka yang keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas apabila ditinggalkan oleh orang tuanya. Sekitar 50 persen anak autis yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Mereka mengalami kesulitan dalam memahami pembicaran orang lain yang ditujukan pada mereka, kesulitan dalam memahami arti kata-kata dan apabila berbicara tidak pada konteks yang tepat. Sering mengulang kata-kata tanpa bermaksud untuk berkomunikasi, dan sering salah dalam menggunakan kata ganti orang, contohnya menggunakan kata saya untuk orang lain dan menggunakan kata kamu untuk diri sendiri. Mereka tidak mengkompensasikan ketidakmampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa lisan atau menunjuk dengan gerakan tubuh, tetapi mereka menarik tangan orang tuanya untuk mengambil obyek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, seperti: menggeleng, mengangguk, melambaikan tangan dan lain sebagainya. Anak autis memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung untuk menyenangi lingkungan yang rutin dan menolak perubahan lingkungan, minat mereka terbatas artinya mereka apabila menyukai suatu perbuatan maka akan terus menerus mengulang perbuatan itu. anak autistik juga menyenangi keteraturan yang berlebihan. Lorna Wing (1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis yaitu: a. Masalah dalam memahami lingkungan (Problem in understanding the world) 1). Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya. 2). Sulit dalam memahami pembicaraan (Dificulties in understanding speech).

14

Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan. 3). Kesulitan ketika bercakap-cakap (Difiltuties when talking). Beberapa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan ide. 4). Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (Poor pronunciation and voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara. 5). Masalah dalam memahami benda yang dilihat (Problems in understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak. 6). Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa komunikasi;seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah. 7). Indra peraba, perasa dan pembau (The senses of touch, taste and smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif terhadap dingin dan sakit. 8). Gerakan tubuh yang tidak biasa (Unusually bodily movement). Ada gerakangerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan oleh anakanak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya, meloncat-loncat,
15

dan menyeringai. 9). Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya. b. Masalah gangguan perilaku dan emosi (Dificult behaviour and emotional problems). 1. Sikap menyendiri dan menarik diri (Aloofness and withdrawal). Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong. 2. Menentang perubahan (Resistance to change). Banyak anak autis yang menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang. 3. Ketakutan khusus (Special fears). Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami kemungkinan konsekuensinya. 4. Prilaku yang memalukan secara sosial (Socially embarrassing behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di senjang jalan. 5. Ketidakmampuan untuk bermain (Inability to play). Banyak anak autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan denga anak-anak yang lain.

16

6. Perkembangan Gangguan Autisme Cerita tentang Temple Grandin (dalam Wenar, 1994) : Temple Grandin adalah seorang wanita autism yang penuh perjuangan. Ia berhasil mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hewan. Sekarang ini ia mengajar disebuah universitas, menulis beberapa buku tentang ilmu hewan, autisme dan kehidupan pribadinya. Pada usia 6 bulan, Temple mulai menunjukkan tanda- tanda autisme. Ketika digendong, ia terkesan memberontak dan ingin diletakan. Pada usia 2 tahun, terlihat jelas bahwa ia hipersensitif terhadap rasa, suara, bau dan sentuhan. Suara dan pakaian tertentu menimbulkan siksaan baginya. Akibat hipersensitif ini ia sering berteriak, marah dan melempar segala sesuatu. Namun ketertarikannya yang ekslusif terhadap barang-barang atau benda tertentu seperti tangannya sendiri, apel, koin atau pasir membuat ia dapat menarik diri dari lingkungannya selama beberapa lama. Sebagaimana umumnya pada waktu itu, dokter menyarankannya untuk dirawat di rumah sakit atau institusi. Namun Ibunya menolak dan hanya memasukkannya ke terapi bicara. Kelasnya terbatas dan terstruktur. Meski metode pendidikan tidak didesain untuk autisme, namun terapi ini berpengaruh bagi perkembangan Temple. Pada usia 4 tahun ia mulai bicara dan pada usia 5 tahun ia mampu untuk masuk Tk biasa. Temple menyatakan bahwa keberhasilan perkembangannya dipengaruhi oleh orang-orang penting dalam hidupnya seperti ibunya yang tidak henti-henti mencari pertolongan; terapisnya yang tetap menjaganya agar tidak menarik diri ke dunianya sendiri dan guru SLTA nya yang membantunya mengembangkan ketertarikannya pada binatang ke ilmuan. Cerita Temple Grandin ini menunjukkan bahwa penderita autisme tidak selalu menyebabkan ia tidak mampu mengembangkan potensi dirinya. Umumnya orang memperkirakan gangguan perkembangan yang parah akan berdampak bagi perkembangan individu selanjutnya pada masa yang akan datang. Namun ternyata 10 % dari penyandang autisme mampu hidup dengan baik pada masa dewasa, mereka memiliki pekerjaan, dan berkeluarga (Wenar, 1994). Namun memang 60 % menunjukkan ketergantungan sepenuhnya pada keseluruhan aspek kehidupan.
17

Ketidak mampuan komunikasi yang terus berlanjut setelah usia 5 tahun dan IQ dibawah 60 menunjukkan prognosa yang kurang menggembirakan. Namun penyandang autisme yang mampu berbicara sebelum usia 5 tahun dan

memiliki tingkat intelegensi rata-rata (average) memiliki kemungkinan meningkatkan kemampuan penyesuaian dirinya. Pada penyandang autisme, tanda-tanda hambatan perkembangan telah mulai tampak pada masa bayi (Miller dalam Wenar, 1994) seperti kurangnya kontak mata, kurangnya reaksi pada saat akan digendong, kurang mampu tersenyum meski pada orang terdekatnya, kecemasan yang aneh dan kekurang mampuan bermain cilukba. Tubuh bayi juga terkesan kaku sehingga sulit untuk direngkuh dalam pelukan. Pada masa kanak-kanak dan prasekolah, penyandang autisme kurang menunjukkan respon sosial yang positif. Anak kurang lekat pada orangtua, ia tidak mengikuti orangtua jika pergi, jarang mengekspresikan kasih sayang atau mencari perlindungan bila terluka bahkan cenderung menarik diri dan menghindar. Selanjutnya penguasaannya akan bahasa dan pemahaman

komunikasi juga mengalami hambatan. Tidak ada komunikasi timbal balik dengan orang lain. Selain itu anak juga kurang mampu melakukan imitasi sosial atau meniru perilaku orang lain pada usianya. Kemampuannya untuk bermainnya juga terbatas pada bermain sendiri (solitary play) dan permainan tersebut cenderung terbatas dan diulang-ulang secara kaku. Pada pertengahan masa kanak-kanak, anak penyandang autism menunjukkan kecenderungan untuk tidak berteman, tidak kooperatif dan kurang mampu berempati pada orang lain. Respon sosial mereka terkesan aneh dan kurang pada tempatnya sehingga mereka mengalami masalah dalam penyesuaian sosialnya. Aktivitasnya bersifat ritualistik dan rutin serta mereka mengalami stress jika terjadi perubahan dari aktivitas biasa yang dilakukan. Selanjutnya menurut Kanner, Rodriquest dan Ansheden (dalam Wenar,1994)

18

masa remaja merupakan masa perkembangan yang paling dramatik. Periode ini dapat merupakan masa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan. Beberapa remaja mulai menyadari bahwa tingkah lakunya menyimpang dan secara sadar berusaha memperbaiki diri dan tampil sesuai dengan perilaku sosial yang diharapkan. Sekitar 5 15 persen anak autistik mampu mencapai kemampuan penyesuaian sosial yang diharapkan dengan atau tanpa terapi. Meski dalam berkomunikasi, vokalisasinya masih belum sempurna namun sudah cukup dapat dipahami. Memang mereka tetap kurang mampu menunjukkan empati dan peran seksual yang sesuai, namun sisi positifnya dalah mereka kaku dalam memegang aturan dan mampu masuk kelingkungan sosial yang birokratis. Namun disisi lain, mayoritas anak autisme akan terus berkembang dengan gangguan perkembangan yang parah. Mereka tetap hidup dalam alamnya sendiri namun tidak menjadi schizophrenia dalam arti mengalami delusi dan halusinasi.

6. Deteksi Dini Autism Menurut Mardiyono (2010), deteksi dini pada anak dengan autim melalui beberapa tahapan, antara lain : 1. Deteksi Dini Sejak dalam Kandungan Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian. 2. Deteksi Dini Sejak Lahir hingga Usia 5 tahun

19

Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi, tetapi penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia : a. Usia 0-6 bulan b. Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis) Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi Tidak babbling Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal Usia 6 12 Bulan Kaku bila digendong Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da) Tidak mengeluarkan kata Tidak tertarik pada boneka Memperhatikan tangannya sendiri Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus Mungkin tidak dapat menerima makanan cair c. Usia 2 3 tahun Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain Melihat orang sebagai benda

20

Kontak mata terbatas Tertarik pada benda tertentu Kaku bila digendong d. Usia 4 5 Tahun Sering didapatkan ekolalia (membeo) Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar) Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) Temperamen tantrum atau agresif 1. Deteksi Dini dengan Skrening Beberapa ahli perkembangan anak menggunakan klarifikasi yang disebut sebagai Zero to three's Diagnostic Classification of Mental Health and Development Disorders of Infacy and early Childhood. DC-0-3 menggunakan konsep bahwa proses diagnosis adalah proses berkelanjutan dan terus menerus, sehingga dokter yang merawat dalam pertambahan usia dapat mendalami tanda, gejala dan diagnosis pada anak. Menurut Judarwanto W (2010), beberapa deteksi dini dengan menggunakan skrening antara lain : a. MSDD (Multisystem Developmental Disorders) MSDD (Multisystem Developmental Disorders) adalah diagnosis

gangguan perkembangan dalam hal kesanggupannya berhubungan, berkomunikasi, bermain dan belajar. Gangguan MSDD tidak menetap seperti gangguan pada Autistis Spectrum Disorders, tetapi sangat mungkin untuk terjadi perubahan dan perbaikkan. Pengertian MSDD meliputi gangguan sensoris multipel dan interaksi sensori motor. Gejala MSDD meliputi : gangguan dalam berhubungan sosial dan emosional dengan orang tua atau pengasuh, gangguan dalam mempertahankan dan

21

mengembangkan komunikai, gangguan dalam proses auditory dan gangguan dalam proses berbagai sensori lain atau koordinasi motorik. b. Pervasive Developmental Disorders Screening Test PDDST II PDDST-II adalah salah satu alat skrening yang telah dikembangkan oleh Siegel B. dari Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, Amerika Serikat sejak tahun 1997. Perangkat ini banyak digunakan di berbagai pusat terapi gangguan perliaku di dunia. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang cukup baik sebagai alat bantu diagnosis atau skrening Autis.

c. Deteksi Dini Dengan Chat (Cheklist in Toddler) Terdapat beberapa perangkat diagnosis untuk skreening (uji tapis) pada penyandang autism sejak usia 18 bulan sering dipakai di adalah CHAT (Checklist Autism in Toddlers). CHAT dikembangkan di Inggris dan telah digunakan untuk penjaringan lebih dari 16.000 balita. Pertanyaan berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint attention. Menurut American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities. Technical Report : The Pediatrician's Role in Diagnosis and Management of Autistic Spectrum Disorder inChildren.

2. Rapid Attention Back and Fourt Comunicattion Test Tes untuk mengetahui gejala autisme pada anak yang ada saat ini rata-rata memakan waktu hingga dua jam. Untuk itu, tim peneliti dari Universitas Emory dan Georgia Tech mencoba menawarkan cara baru yang lebih cepat. Dengan metode Rapid Attention Back and Forth Communication Test atau Rapid ABC, uji gejala autisme anak hanya berlangsung selama lima menit. Caranya, anak dilibatkan dalam kegiatan yang sederhana yang memerlukan konsentrasi,

22

komunikasi, dan pengenalan. Tes sangat efektif untuk mengetahui gejala awal autisme pada anak usia 18 bulan hingga dua tahun. Meski begitu, tes ini tidak dapat Setelah menggantikan screening autisme secara komprehensif.

mengidentifikasi cepat anak yang berisiko autisme di awal

perkembangan, mereka harus segera mendapat terapi. Menurut Levine (2008), mengatakan gejala gangguan spektrum autisme mencakup gangguan dalam interaksi sosial dan komunikasi, tetapi juga dicirikan oleh perilaku yang tidak biasa seperti gerakan berulang, mengepakkan tangan dan kurangnya kontak mata. Sebelumnya diagnosis dan intervensi terkait dengan hasil jangka panjang lebih baik, katanya seperti dikutip dari Momlogic. Levine juga mencatat bahwa jika orangtua curiga anak mereka mungkin terkena autisme, tes Rapid ABC hanyalah tes cepat. Kemudian harus dilanjutkan dengan uji diagnostik untuk evaluasi emosional dan fisik secara menyeluruh. 7. Penegakan Diagnosa Autisme Penegakan diagnosa yang tepat akan menghasilkan intervensi dan treatment yang tepat, oleh karena itu penting sekali penegakan diagnosa dilakukan secara teliti dan akurat. Pemeriksaan terhadap anak penyandang autisme secara terpadu perlu dilakukan. Tim yang terdiri dari ahli psikologi anak, dokter anak, dokter neurologis serta ahli pendidikan perlu duduk bersama dalam menangani kasus ini. 6.1 Tes tes psikologi 6.1.1 Tes PEP-R Berdasarkan pengalaman Sleeuwen (1996), tes khusus untuk anak autistik disebut dengan Psycho Educational Profile Revised (PEP-R). Tes tersebut dikembangkan oleh di Teacch, sebuah program pendidikan khusus untuk anak autis. Tes ini digunakan untuk anak autistik atau yang terganggu perkembangannya dan dipakai pada anak-anak dengan usia kronologis 6 bulan sampai dengan 7 tahun.

23

Tes PEP-R ini memberikan informasi tentang fungsi perkembangan seperti imitasi, persepsi, ketrampilan motorik halus, ketrampilan motorik kasar, korrdinasi mata dan tangan, performansi kognitif dan kognisi verbal, Tes PEP-R juga dapat mendeteksi masalah-masalah dalam hal relasi dan afeksi, permainan dan minat terhadap benda dan respon penginderaan dan bahasa. Skor PEP-R digunakan untuk membuat rencana pendidikan individual anak sehingga guru dapat tertolong dalam menangani anak autistik.

6.1.2 Vineland Social Maturity Scale Skala Kematangan Sosial Vineland biasanya juga digunakan sebagai data tambahan untuk mendukung diagnosa. Semua versi dari Vineland (dalam Anastasi, 1997 ) terfokus pada apa yang biasa dilakukan individu dan dirancang untuk menilai prilaku adaptif. Data diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara orangtua. Tes Vineland mengklasifikasikan empat domain atau anah adaptif utama yaitu ranah komunikasi, ranah ketrampilan sehari-hari, ranah sosialisasi, ranah ketrampilan motorik yang kemudian disertai dengan komposit perilaku adaptif dan maladaptif. Hasil tes Vineland penyandang autis berada pada kriteria kematangan sosial yang jauh dibawah rata-rata anak seusianya.

6.2. Diagnosa berdasarkan kriteria DSM IV Pada uraian terdahulu (hal.8) telah dijelaskan bahwa autisme tergolong dalam gangguan perkembangan pervasive dan dalam penegakan diagnosa didasarkan pada adanya hambatan pada 3 bidang utama yaitu interaksi sosial, komunikasi dan tingkah laku yang repetitive dan berulang. Selain itu dalam penegakan diagnosa autisme perlu diperhatikan: a. Diagnosa yang berhubungan dan mental retardasi. Dalam beberapa kasus, autisme berhubungan dengan mental retardasi, umumnya pada kriteria Moderate Mental Retarded, IQ 35 50 (DSM IV, 1995).

24

Hampir 75% penyandang autisme berada pada taraf intelegensi mental retardasi. Terjadi abnormalitas dalam perkembangan kognitif penyandang autisme. Sementara menurut Sleeuwen (1996) sekitar 60% anak-anak autistik menderita retardasi mental tingkat moderate (IQ 35-50) dan 20% anak mengalami mental retardasi ringan sedangkan 20% lainnya tidak mengalami mental retardasi dan memiliki IQ > 70 (normal). Beberapa anak memiliki apa yang disebut pulau intelegensi yang artinya mereka memiliki bakat khusus di bidang-bidang tertentu seperti musik, berhitung, menggambar, dsbnya. Selanjutnya Sleeuwen menyatakan dalam mendeteksi mental retardasi pada anak autis dapat dilihat dari kemampuan umum anak yang jauh di bawah rata-rata anak seusianya (terbelakang) dan hambatan dalam komunikasi serta pemahaman sosial. Epilepsi yang menyertai juga berkaitan dengan kapasitas intelegensi yang rendah, namun 1 dari 20 anak yang mengalami epilepsi memiliki fungsi mental yang cukup baik. Retardasi mental dan autisme muncul bersamaan dari awal. b. Hubungannya dengan hasil laboratorium Jika autisme dikaitkan dengan kondisi kesehatan umum, ditemukan bahwa ada perbedaan aktivitas serotonin namun tidak begitu jelas terlihat. Namun hasil pemeriksaan EEG menunjukkan abnormalitas. (DSM IV, 1996) c. Hubungannya dengan kondisi kesehatan umum Beberapa simptom kelainan neurologis terlihat pada penyandang autis, seperti refleks yang primitif, keterlambatan penggunaan tangan yang dominan, dsbnya. Kaitan dengan kondisi kesehatan umum seperti enchepalitis, phenylketonuria, fragile X syndrome, anoxia saat kelahiran dan rubella). 6.3.Diagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan medis - neurologis Seperti telah dikemukakan terdahulu, faktor biologis diperkirakan juga memberikan andil bagi berkembangkanya gangguan autisme pada anak. Oleh maternal

25

karena itu untuk mendukung penegakan diagnosa diperlukan pemeriksaan kesehatan dan neurologis yang lengkap dan terpadu. Selain diagnosa autisme, menurut dr. Rudi Sutadi (1998) terdapat juga pengklasifikasian berat-ringannya autisme dengan menggunakan CARS

(Childhood Autisme Rating Scale). Untuk keperluan ilmiah, klasifikasi ini bermanfaat. Namun disarankan untuk hati-hati dalam penggunaan klasifikasi ringan-sedang-berat ini disebabkan untuk penanganan autis sampai saat ini peringkat tersebut tidak dikaitkan dengan perbedaan prognosis dan intervensi. Intervensi autisme pada klasifikasi manapun tetap sama yaitu intervensi (terutama tata laksana perilaku) yang terpadu dan optimal. Kehati-hatian penggunaan peringkat ini juga disebabkan pengaruhnya pada orangtua penyandang autisme. Bila anak didiagnosis menderita autisme ringan, dapat menimbulkan kelengahan pada orangtua untuk melaksanakan tatalaksana yang optimal. Sedangkan bagi mereka yang dinyatakan berat, mungkin saja merkea menjadi depresi dan putus asa sehingga tidak berbuat apa-apa pada anak mereka.

7. Differential Diagnosa Autisme 1. Autisme Masa kanak ( Childhood Autism ) Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang : a. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan dibawah ini : o Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang. o Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara. o Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.

26

o Bahasa yang tidak lazim yang diulangulang atau stereotipik. o Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.

b. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social : o Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak. o Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama. o Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain. o Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersamasama.

c. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan stereotipik seperti dibawah ini : o Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjamjam. o Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriakteriak minta diulang. o Adanya gerakangerakan motorik aneh yang diulangulang, seperti misalnya mengepakngepak lengan, menggerakgerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok ngetokkan sesuatu. o Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputarputar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus dirabarabanya, suarasuara tertentu. Anakanak ini sering juga menunjukkan emosi

27

yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar. Kecuali gangguan emosi sering pula anak anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium cium/menggigitgigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus. Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak lakilaki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1. 2. PDDNOS Gangguan Perkembangan Pervasif YTT (PDDNOS) PDDNOS juga mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak seperti pada Autisme Masa kanak. Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadangkadang anakanak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.

3. Sindroma Rett Sindroma Rett adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita. Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal sampai sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada saat lahir. Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara umur 5 bulan sampai 4 tahun. Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakangerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.Seringkali memasukan tangan kemulut, menepukkan tangan dan membuat gerakan dengan dua tangannya seperti orang sedang mencuci baju.. Hal ini terjadi antara umur 630 bulan. Terjadi gangguan berbahasa, perseptif maupun ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang hebat. Yang sangat khas adalah timbulnya gerakangerakan tangan yang terus menerus seperti orang yang sedang mencuci baju yang hanya berhenti bila anak tidur.

28

Gejalagejala lain yang sering menyertai adalah gangguan pernafasan, otototot yang makin kaku , timbul kejang, scoliosis tulang punggung, pertumbuhan terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG biasanya menunjukkan kelainan.

4. Disintegrasi Masa Kanak Pada Gangguan Disintegrasi Masa Kanak, hal yang mencolok adalah bahwa anak tersebut telah berkembang dengan sangat baik selama beberapa tahun, sebelum terjadi kemunduran yang hebat. Gejalanya biasanya timbul setelah umur 3 tahun. Anak tersebut biasanya sudah bisa bicara dengan sangat lancar, sehingga kemunduran tersebut menjadi sangat dramatis. Bukan saja bicaranya yang mendadak terhenti, tapi juga ia mulai menarik diri dan ketrampilannyapun ikut mundur. Perilakunya menjadi sangat cuek dan juga timbul perilaku berulangulang dan stereotipik. Bila melihat anak tersebut begitu saja , memang gejalanya menjadi sangat mirip dengan autisme.

5. Sindrom Asperger Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada anak lakilaki daripada wanita. Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah seperti pada Autisme. Pada kebanyakan dari anakanak ini perkembangan bicara tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding anakanak lain seumurnya. Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti mobil,

29

pesawat terbang, atau halhal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah. Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya : harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang sampah dijalan secara sembarangan. Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa

melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain. Perilakunya kadangkadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. Ibu, lihat, bapak itu kepalanya botak dan hidungnya besar ). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh mengatakan begitu, ia akan menjawab : Tapi itu kan benar Bu. Anak SA jarang yang menunjukkan gerakangerakan motoric yang aneh seperti mengepakngepak atau melompatlompat atau stimulasi diri.

8. Penanganan Anak Autis Pertanyaan yang sering dilontarkan orang tua adalah apakah anaknya dapat secara total bebas dari autisme. Agak sulit untuk menerangkan pada orang tua bahwa autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anak-anak lain secara normal. (Wenar, 1994) Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor (Budiman, 1998) yaitu : a. Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak. b. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat

30

dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil. c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya d. Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik. e. Terapi yang intensif dan terpadu.

7.1. Terapi yang Terpadu Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain : A. Terapi medikamentosa Menurut dr. Melly Budiman (1998), pemberian obat pada anak harus didasarkan pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian obat yang umumnya berlangsung jangka panjang. Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat

antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah dosis ya ng

31

paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi bahkan dihentikan.

B. Terapi psikologis Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat dan mudah hilang (Wenar,1994). Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri (self mutilation), tempertantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan menyembuhkan dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi normal. Rutter (dalam Wenar, 1994) membuat pendekatan yang komprehensif dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan : - membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal - meningkatkan kemampuan belajar anak autistik - mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan

interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya hidup sendiri. Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini. - mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri sendiri - mengurangi stress pada keluarga penderita autism. Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen (1996) menyatakan intervensi psikologis anak-anak autistik harus terfokus pada :

32

- memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan keterlambatan perkembangan secara menyeluruh - memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan - mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek dari gangguan utama. Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi penyandang autis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sbb : a. Keteraturan waktu dan tempat yaitu : jadwal harian yang tetap dan ruang yang pasti. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu harus terjadi dengan cara yang sama. Perubahan-perubahan kecil juga diperlukan agar anak autis dapat meningkatkan fleksibilitas mereka. b. Berhubung adanya kesulitan berpikir dan bertingkah laku pada anak autis, maka perlu merangsang dan melatih anak melalui berbagai aspek yang disesuaikan dengan minat yang dimiliki anak. c. Pengajaran dilakukan secara bertahap dan bila memungkinkan menggunakan alat peraga d. Proses pendidikan berlangsung secara individual (khusus). Anak autis tidak memiliki ketrampilan sosial yang diperlukan untuk belajar dalam situasi kelompok. Oleh karena itu, pendekatan individual diberikan pada anak termasuk didalamnya individual play training. Training bermain ini merupakan terapi yang mengajari anak bermain dan membimbing anak ke dalam berbagai kemungkinan fungsional suatu mainan. Contohnya seperti sebuah mobil tidak hanya merupakan benda dengan roda yang berjalan tetapi juga dapat disetir dan mengangkut orang

33

dan benda-benda lain. S ep e rt i h al n ya R u t t er ya n g m en e ka nk an pe rl u n ya m en ga t asi st r ess p ad a keluarga, Sleeuwen (1996) juga menekankan

pentingnya konseling keluarga. Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi (Home training). Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog atau terapis. Terapi tidak hanya dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai anak.

C. Terapi Prilaku Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistic dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA). Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan. Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai ABC; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian

34

memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan. Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.

D. Terapi Wicara Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan bicara dan berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang autisme merupkan keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab lain. Salah seorang tokoh yang mengembangkan terapi bicara ini adalah Lovaas pada tahun 1977 yang menggunakan pendekatan behaviouris - model operant conditioning (dalam Wenar, 1994). Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis. Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) juga membahas mengenai terapi bicara dalam upaya meningkatkan kemampuan komunikasi anak autis. Ia membuat tabel Promotion of Language Development yang menerangkan alur kebutuhan dan masalah perkembangan bahasa anak autis disertai pemecahan masalah yang dapat dilakukan sebagai berikut : Promotion of language Development KEBUTUHAN MASALAH PEMECAHAN

35

1. Perubahan sosial

isolasi social

Perencanaan interaksi Peningkatan kemampuan sosial Interaksi balik

Kurang timbal balik

interaksi

Latihan timbal terstruktur

2. Komunikasi sosial

Kegagalan menggunakan bahasa sosial

Latihan Pemberian Penguatan Fokus pd komunikasi Latihan langsung

3. Kapasitas linguistik

Tidak berkapasitas

Menggunakan tandaalternatif lainnya Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsipprinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus. Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD) : Bersifat: (1) Verbal; (2) NonVerbal; (3) Kombinasi. Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara: 1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, makaTerapis Wicara akan mengikut sertakan latihanlatihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan. 2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan:Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian),

36

misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.

3. Untuk Bahasa: Aktifitasaktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah: a. Phonology (bahasa bunyi); b. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata; c. Morphology (perubahan pada kata), d. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa; e. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas), f. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan; g. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).

4. Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpanganpenyimpangan lainnya dari atributatribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.

5. Pendengaran : Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi; Peran khusus dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber komunikasi: 1. Berbicara:

37

Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll). 2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang nonVerbal.

Dimana Terapis Wicara Bekerja: 1. Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi). 2. Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia. Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal muridmurid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa. 3. Disekolah Luar Biasa: Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi 4. Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya, 5. Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi. 6. Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayananpelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.

38

E. Terapi Biomedik Akhirakhir ini terapi biomedik banyak diterapkan pada anak dengan ASD. Hal ini didasarkan atas penemuanpenemuan para pakar, bahwa pada anak-anak ini terdapat banyak gangguan metabolisme dalam tubuhnya yang mempengaruhi susunan saraf pusat sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja sebagai pencetus dari timbulnya gejala autisme. Yang sering ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb). Logam logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat. Yang dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejalagejala autisme berkurang atau bahkan menghilang. Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy dilakukan bila ada indikasi. Terapi biomedik tidak menggantikan terapiterapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki dari dalam. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.

Integrasi Sensori Integrasi sensoris berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respons yang terarah. Disfungsi dari integrasi sensoris atau disebut juga disintegrasi sensoris berarti ketidak mampuan untuk mengolah rangsang sensoris yang

39

diterima. Gejala adanya disintegrasi sensoris bisa tampak dari : pengendalian sikap tubuh, motorik halus, dan motorik kasar. Adanya gangguan dalam ketrampilan persepsi , kognitif, psikososial, dan mengolah rangsang. Namun semua gejala ini ada juga pada anak dengan diagnosa yang berbeda, misalnya anak dengan ASD. Diagnosa disintegrasi sensoris tidak boleh ditegakkan kalau ada tandatanda gangguan pada Susunan Saraf pusat.

Terapi integrasi sensoris : o Aktivitas fisik yang terarah, bisa menimbulkan respons yang adaptif yang makin kompleks. Dengan demikian efisiensi otak makin meningkat. o Terapi integrasi sensoris meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga ia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. o Aktivitas integrasi sensoris merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks , dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.

E. Terapi Makanan Terapi Diet pada Gangguan Autisme Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet anak autisme. 1. Diet tanpa gluten dan tanpa kasein

40

Berbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein. Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga rumput seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep masakan tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan. Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 13 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya. Makanan yang dihindari adalah : Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kuekue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya. Produkproduk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya. Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu. Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap

41

jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi. Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng. Makanan yang dianjurkan adalah : Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya. Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacangkacangan lainnya. Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya. Buahbuahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya. 2. Diet antiyeast/ragi/jamur Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur. Makanan yang perlu dihindari adalah : o Roti, pastry, biscuit, kuekue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast. o Semua jenis keju. o Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain lain. o Macammacam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macammacam kecap, macammacam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing. o Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lainlain. o Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lainlain.

42

o Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis. o Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es. Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 12 minggu. Setelah itu, untuk mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti dapat dikonsumsi. Makanan yang dianjurkan adalah : o Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu. o Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar. o Makanan sumber protein nabati seperti kacangkacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur. o Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lainlain. o Buahbuahan segar dalam jumlah terbatas.

3. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan. Makanan tersebut

43

tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit. Cara mengatur makanan secara umum 1. Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan selsel yang rusak dan kegiatan seharihari. 2. Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa. 3. Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng. 4. Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 35 porsi per hari. 5. Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet). 6. Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium). 7. Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya. 8. Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan. 9. Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.

F. 10 Jenis Terapi Autisme Akhirakhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan imingiming bisa menyembuhkan autisme. Kadangkadang secara gencar

44

dipromosikan oleh si penjual, ada pula caracara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisantulisan. Para orang tua harus hatihati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai. Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benarbenar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda. 1) Applied Behavioral Analysis (ABA) ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement

(hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia. 2) Terapi Wicara Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadangkadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong. 3) Terapi Okupasi Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerakgeriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot otot halusnya dengan benar.

45

4) Terapi Fisik Autis adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motoric kasarnya. Kadang kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan ototototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya. 5) Terapi Sosial Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anakanak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan temanteman sebaya dan mengajari cara2nya. 6) Terapi Bermain Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknikteknik tertentu. 7) Terapi Perilaku. Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Temantemannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya, 8) Terapi Perkembangan Floortime, Sonrise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan

46

Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik. 9) Terapi Visual Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambargambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi. 10) Terapi Biomedik Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejalagejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anakanak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

Fisioterapi Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh.

7.2 Alternatif terapi lainnya Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan penyandang autis menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) , yaitu : a. Terapi musik Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alat musik.

47

Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri, termasuk pada penyandang autis.

b. Son-rise program Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan mencintai tanpa syarat pada anak-anak autistik. Diciptakan oleh orangtua yang anaknya didiagnosa menderita autisme tetapi karena program latihan dan stimulasi yang intensif dari orangtua anak dapat berkembang tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik. c. Program Fasilitas Komunikasi Meskipun sebenarnya bukan bentuk terapi, tetapi program ini merupakan metode penyediaan dukungan fisik kepada individu dalam mengekspresikan pikiran atau ide-idenya melalui papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau komputer. d. Terapi vitamin Penyandang autis mengalami kemajuan yang berarti setelah mengkomsumsi vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi yang dikombinasikan dengan magnesium, mineral dan vitamin lainnya. e. Diet Khusus (Dietary Intervention) yang disesuaikan dengan cerebral allergies yang diderita penyandang autis.

Mitos Tentang Autisme

Mitos : Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar. Fakta : Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.

48

Mitos : Anak dengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata. Fakta : Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya.

Mitos : Anak dengan autisme sulit melakukan komunikasi secara verbal. Fakta : Banyak anak dengan autisme mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang fungsional. Mereka mengembangkan beberapa keterampilan berkomunikasi, seperti dengan menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau peralatan elektronik lainnya.

Mitos : Anak dengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi. Fakta : Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak. Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Mitos : Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain. Fakta : Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang
49

efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan.

Mitos : Anak dan orang dewasa dengan autisme tidak dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi. Fakta : Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup seharihari.

Mitos : Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anakanak akan melaluinya. Fakta : Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anakanak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya. Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan. Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi. (Dedy Suhaeri/PR/Winny Soenaryo, M.A., O.T.R./L. Pediatric Occupational Therapist)***

50

PENUTUP

Autisme merupakan gangguan perkembangan masa anak yang jumlahnya semakin meningkat saat ini. Namun hal ini tidak berarti anak yang menderita gangguan perkembangan lainnya seperti lambat bicara, sangat aktif dan kurang konsentrasi selalu menderita autisme. Diperlukan ketelitian dalam mendiagnosa gejala karena sering sekali antara satu gejala gangguan tumpang tindih dengan gejalan lainnya. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang terpadu dari berbagai ahli agar diagnosa gangguan yang ditegakkan tepat. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan prognosa dan intervensi yang tepat. Dalam pengklasifikasian gangguan autisme untuk tujuan ilmiah dapat digolongkan atas autisme ringan-sedang dan berat. Namun pengklasifikasian ini jarang dikemukakan pada orangtua karena diperkirakan akan mempengaruhi sikap dan intervensi yang dilakukan. Padahal untuk penanganan dan intervensi antara autisme ringan, sedang dan berat tidak berbeda. Penanganan dan intervensinya harus intensif dan terpadu sehingga memberikan hasil yang optimal. Intervensi pada penyadang autisme mencakup pemberian obat (terapi medikamentosa), terapi psikologis (tata laksana perilaku) yang memfokuskan pada menghilangkan tingkah laku yang tidak dikehendaki dan membentuk tingkah laku yang dikehendaki, terapi wicara dan fisioterapi. Disamping itu dikenal juga beberapa alternatif terapi lainnya seperti terapi musik, son rise program, dstnya. Kunci keberhasilan terapi adalah keterlibatan orangtua dalam prosesterapi sehingga dikenal dengan home training atau home base program. Hal ini disebabkan peningkatan kemampuan pada penyandang autis bersifat lambat dan ada saatnya kemampuan yang telah diperoleh tersebut hilang. Kondisi ini umumnya timbul apabila penanganan yang dilakukan tidak intensif dan terputus-putus. Untuk itu orangtua harus memberikan perhatian yang lebih bagi anak penyandang autis. Selain itu penerimaan dan kasih sayang merupakan hal yang terpenting dalam

51

membimbing dan membesarkan anak autis. Prognosa untuk penyandang autis tidak selalu buruk. Prognosa yang cukup baik terdapat bagi anak autis yang mampu bicara sebelum usia 5 tahun dan memiliki tingkat intelegensi rata-rata. Mereka dapat bersekolah di sekolah normal pada saat remaja dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Memang jumlahnya tidak banyak hanya sekitar 10 %, namun hal ini menimbulkan harapan bagi penyandang autis.

52

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association, Diagnostik and Statistical Manual of Mental Disorders,

Anastasi. A & Urbina S. TES PSIKOLOGI. Psychological Testing 7 E. Edisi Bahasa Indonesia Jilid 1. PT Prenhallindo. Jakarta 1997.

APA. DSM IV. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Fourth Edition. Washington DC, 1995.

Budiman Melly.1998.

Makalah Simposium. Pentingnya Diagnosis Dini dan

Penatalaksanaan Terpadu Pada Autisme. Surabaya .

Budiman, Melly, (2003), Gangguan Metabolisme pada Anak Autistik di Indonesia, (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I.

Departemen Psikiatrik FK-UI. Deteksi Dini Gangguan Jiwa pada Anak. Jakarta.

Dewi R (2010). Peran Orang Tua pada Terapi Biomedis pada Anak Autis. Tesis. Fakutas Psikologi Gunadarma.

Gulo Dali, Kamus Psikologi. Penerbit Tonis. Bandung 1982.

Hamid A.Y (2008). Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC


Hidayat. (2004), Aplikasi Metode TEACCH dan Multisensori-Fernald dalam Optimasi Kemampuan Kognitif dan Prilaku Adaptif Anak Autis, (makalah).

http://www.autism society org.2002 6. Nakita. Majalah . Menangani Anak Autis.


53

PT.Gramedia .Jakarta 2002.

Peeters, Theo, (1998), Autism From Theoritical Understanding to Educational Intervention, London: Whurr Publisher Ltd.

Pusponegoro, Hartono D, (2003), Pandangan Umum mengenai Klasifikasi SpektrumGangguan Autistik dan Kelainan Susunn saraf Pusat (makalah), Jakarta:Konferensi Nasional Autisme-I

Sasanti, Yuniar, (2003), Masalah Perilaku pada Gangguan Spektrum Autism (GSA) (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I

Sleeuwen V. Lieke. AUTISME. Petunjuk Untuk Orangtua, Guru dan Psikolog di Indonesia. Yogyakarta 1996.

Sutadi Rudy. Makalah. Intervensi Dini Tata Laksana Perilaku Penyandang Autisme. Surabaya 1998.
Threvarthen, Colwyn, (1999), Children With Autism, Second Edition, Philadelphia: Jessica Kingsley Publisher.

Washington DC.: American Psychiatric Association Publisher

Wenar. C. DEVELOPMENTAL PSYCHOPATOLOGY. From Infancy to Adolescence. Mc. Graw Hill Inc. New York. 1994

Wing, Lorna, (1974), Autistik Children A Guide for Parents and Professionals, New Jersey: The Chitadel Press.

54