Anda di halaman 1dari 25

Peran Dokter Dalam Kepolisian

Albert * Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta**

Pendahuluan
Latar Belakang Pada dasarnya suatu profesi memiliki 3 syarat utama, yaitu: diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, memiliki komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. Selain itu juga memiliki 3 syarat umum, yaitu: sertifikasi, organisasi profesi, otonomi dalam bekerja. Pemberian sertifikasi dilakukan. Otonomi mengakibatkan kelompok profesi ini menjadi eksklusif dan memerlukan self regulation dalam rangka menjaga tanggung jawab moral dan tanggung jawab profesinya kepada masyarakat. Mereka umumnya memiliki etika profesi dan standar profesi serta berbagai tatanan yang menunjang adanya upaya self regulation tersebut. Kebebasan dasar dan hak-hak dasar itulah yang disebut hak asasi manusia yang melekat pada manusia secara kodrati sebagai anugerah Tuhan Yang, Maha Esa. Hak-hak ini tidak dapat diingkari. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, negara, pemerintah, atau organisasi apapun mengemban kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali. Ini berarti bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak, dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara. Tujuan Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pengatahuan lebih lanjut mengenai hak dan kewajiban dokter dan publik, dalam hal ini juga menyangkut hak asasi manusia dan peran dokter dalam masalah peradilan.

*Albert, NIM 102008070, Kelompok C-3 **Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta Email: albertz_coolz@yahoo.co

Isi
Skenario: Anda kebetulan menjadi dokter polisi yang ditempatkan di daerah yang rawan terorisme. Pada suatu hari anda dipanggil oleh Kasat serse untuk menemani dia memeriksa seorang tersangaka. Tersangka adalah seorang laki-laki muda yang diduga telah meletakkan sebuah bom di pasar. Bom diduga akan diletakkan pada siang hari pada saat pasar sedang ramai-ramainya, tetapi saat ini polisi belum mengetahui dimana diletakkannya bom tersebut. Oleh karena itu polisi akan melakukan interogasi si tersangka dengan cara agak keras agar dapat memperoleh pengakuan tentang letak bom tersebut. Pada acara tersebut anda diminta menjadi penasehat petugas reserse yang akan menjaga kesehatan tersangaka.

Interogasi dan Penyiksaan


Interogasi adalah sebuah fungsi penyidikan. Tujuan interogasi adalah untuk mendapatkan dan mengumpulkan semua informasi tentang kejadian yang diselidiki serta tentang pelaku kejahatannya dan membuat si terdakwa mengakui kejahatannya. Semua

kategori orang yang dapat diinterogasi adalah korban, saksi, majikan, rekan kerja, teman, kerabat, dan lain-lain. Interogasi bukanlah pengganti penyidikan melainkan sebagai alat bantu penyidikan. Ada persyaratan legal yang melingkupi interogasi yang harus dipahami oleh penyidik. Kegagalan memahami persyaratan ini akan menyia-nyiakan penggunaan informasi yang didapat sebagai barang bukti.1 Pengaturan mengenai alat bukti pada Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut terlihat dalam Pasal 27, yaitu sebagai berikut, alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:1 1. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana; 2. Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan 3. Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada : tulisan, suara, atau gambar; peta, rancangan, foto, atau sejenisnya; huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. 2

Kasat Reserse Terdapat satuan reserse dan kriminal yang disingkat menjadi satuan Reskrim. Pelaksana utama satuan Reskrim ini adalah polres yang berada di bawah naungan Kapolres. Satuan Reskrim bertugas membina fungsi dan menyelengarakan kegiatan-kegiatan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana termasuk fungsi Identifikasi dalam rangka penegakan hukum, koordinasi dan operasional dan adminitrasi penyidikan sesuai ketentuanketentuan dan peraturan yang berlaku. 2,3 Tugas pokok Reserse Polri adalah melaksanakan penyelidikan, penyidikan, dan koordinasi serta pengawasan terhadap Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) berdasarkan Undang-undang no. 8 tahun 1981 dan peraturan perudangan lainnya.4 Fungsi Reserse adalah menyelengarakan segala usaha, kegiatan, dan pekerjaan yang berkenaan dengan pelaksanaan fungsi Reserse Kepolisian dalam rangka penyidikan tindak pidana sesuaidengan Undang-undang yang berlaku dan sebagai Korwas PPNS serta pengelolaan Pudat Informasi Kriminal (PIK).4 Ada beberapa pasal yang mengatur mengenai penyidik dan penyelidik dalam KUHAP, yakni:5 Pasal 4 KUHAP Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia. Pasal 5 KUHAP (1) Penyidik sebagaimana dimaksudkan pasal 4: a. Karena kewajibanya mempunyai wewenang: 1. Menerima laopran atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana; 2. Mencari keterangan dan barang bukti; 3. Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, pengeledahan dan penyitssn. 2. Pemeriksaan dan penyitaan surat; 3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang 4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik.

(2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik. Pasal 7 KUHAP (1) Penyidik adalah: a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia b. Pejabat pegwai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimanan dimaksudkan dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjur dalam peraturan pemerintah Pasal 10 KUHAP (1) Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian Republik Indonesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian negara Republik Indonesia berdasarkan syarat kepangkatan dalam ayat (2) pasal ini. (2) Syarat kepangkatan sbagaimana tersebut pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. Pasal 2 PP no 27/1983 (1) Penyidik adalah: a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu letnan Dua Polisi b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda Tingkat 1 (golongan II/B) atau yang disamakan dengan itu. (2) Dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandasn Kepolisian yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatanya adalah penyidik. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Wewenang penunjukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat dilimpahkan kepada Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (5) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, diangkat oeleh menteri atas usul dari Departemen yang membawahkan pegawai negeri tersebut. Menteri

sebelum melaksanakan pengangkatan terlebih dahulu mendengan pertimbangan Jaksa Agung dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. (6) Wewenang pengangkatan sebagimanan dimaksud dalam ayat (5) dapat dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.

Upaya paksa adalah bentuk upaya dalam mencari dan mengumpulkan bukti untuk membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi sekaligus menemukan siapa tersangkanya dan terkadang mengurangi kemerdekaan seseorang serta mengganggu kebebasan seseorang. Upaya paksa ini dapat berupa penangkapan dan penahan. Penggunaan kekerasan pada suatu interogasi hanya boleh dilakukan apabila:4 Hanya boleh dilakukan setelah upaya persuasif tidak berhasil Hanya untuk tujuan-tujuan perlindungan dan penegakan HAM secara proposional dengan tujuan yang sah. Diarahkan untuk memperkecil terjadinya kerusakan dan luka baik bagi petugas maupun bagi masyarakat. Digunakan hanya apabila diperlukan dan untuk penegakan hukum Penggunaan kekerasan harus sebanding dengan pelangaran dan tujuan yang hendak dicapai. Harus meminilasasi kerusakan dan cedera serta memelihara kehidupan manusia Harus memastikan bahwa bantuan medisdan penunjangnya diberikan kepada orangorang yang terluka atau terkena dampak pada waktu sesegera mungkin. Harus memastikan bahwa sanak keluarga atau teman terdekat yang terlukaatau terkena dampak diberitahu sesegera mungkin.

Penangkapan Berdasarkan Pasal 1 butir 20 KUHAP, dijelaskan: 3 Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan atau peradilan dalam hal serta cara yang diatur dalam undangundang ini. Karakter utama dari penangkapan adalah pengekangan sementara waktu, guna kepentingan penyidikan atau penuntutan, hal ini yang membedakan penangkapan dengan pemidanaan meskipun keduanya memiliki sifat yang sama yaitu adanya pengekangan kebebasan

seseorang. Seseorang ditangkap apabila seseorang tersangka diduga keras melakukan tindakan pidana, kemudian ada dugaan kuat didasarkan pada permulaan bukti yang cukup.3 Untuk menghormati hak asasi tersangka, maka dalam suatu penangkapan kepolisian Republik Indonesia juga memebrikan berbagai peraturan mengenai tatacara penangkapan. Hal ini tercantum dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia no 8 tahun 2009 dalam pasal 15 sampai 21.6 Dalam 19 ayat (1) KUHAP batas waktu penangkapan adalah satu hari, sedangkan dalam Pasal 28 dijelaskan Penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) untuk paling lama 7 x 24 (tujuh kali dua puluh empat) jam. 3 Dalam Pasal 26 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 dijelaskan sebagai berikut. 3 (1) Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen. (2) Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan oleh Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri. (3) Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari. (4) Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan adanya bukti permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera memerintahkan dilaksanakan penyidikan.

Penahanan Pasal 1 butir 21 KUHAP menjelaskan: 3 Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Berdasarkan definisi tersebut terlihat semua instansi penegak hukum memiliki wewenang dalam hal penahanan, tergantung dari tujuan penahanannya. Sebagai contoh, untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik pembantu atas perintah penyidik berwenang melakukan penahanan. 3 Tidak semua pelaku kejahatan dapat dikenakan penahanan. Ditahannya seorang pelaku kejahatan atau tidak harus memenuhi dua syarat, yaitu syarat subjektif dan syarat objektif.144 6

Syarat subjektif adalah alasan terkait dengan pribadi tersangka, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 21 ayat (1) KUHAP yang menjelaskan penahanan dilakukan terhadap seseorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran tersangka atau terdakwa akan melakukan: 3 - melarikan diri; - merusak atau menghilangkan barang bukti; dan/atau - mengulangi tindak pidana. Adapun syarat materil seorang tersangka atau terdakwa ditahan adalah apabila memenuhi ketentuan dalam Pasal 21 ayat (4) KUHAP, yaitu melakukan tindak pidana yang diancam pidana penjara lima tahun atau lebih atau melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP. Walaupun syarat objektif sudah dipenuhi namun kalau syarat subjektif belum terpenuhi, maka tidak bisa dilakukan penahanan. 3 Ketentuan mengenai batas waktu penahanan dalam KUHAP dibagi berdasarkan instansi mana yang melakukan penahanan. Jika penahanan tersebut diberikan oleh penyidik, maka batas waktu penahanannya paling lama dua puluh hari, dan dapat diperpanjang paling lama empat puluh hari. Sehingga, maksimal penahanan atas perintah penyidikan adalah selama enam puluh hari atau sekitar dua bulan. 3 Dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, pengaturan tentang penahanan hanya terdapat dalam satu pasal, yaitu Pasal 25 ayat (2) yang menjelaskan sebagai berikut Untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan, penyidik diberi wewenang untuk melakukan penahanan terhadap tersangka paling lama 6 (enam) bulan..3 Dalam suatu penahan, setiap polisi juga wajib menghormati setiap hak asasi manusia termasuk tersangka dan terdakwa. Hal ini tercantum dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia no 8 tahun 2009 dalam pasal 15 sampai 21.6

Hak dan Kewajiban Dokter


Setiap profesi ahli memiliki kode etik masing-masing yang menyatakan kesamaan nilai, mengakui kewajibankewajiban, serta mengatur standart standart moral yang diharapkan akan dipenuhi. Standart-standart etika umumnya dibentuk dengan 2 cara: melalui perangkat internasional yang dibuat oleh badan-badan seperti PBB dan prinsip-prinsip yang dirancang oleh para ahli sendiri, melalui perwakilan nasional maupun internasionalnya. Keyakinan atau dalil utamanya selalu sama dan menekankan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi si ahli kepada klien atau pasien perorangan, masyarakat dan sesama kolega demi mempertahankan kehormatan profesinya. Kewajiban-kewajiban ini mencerminkan dan menyeimbangkan hak-hak yang dimiliki setiap orang.7

Hak dan kewajiban dokter secara umum diatur dalam undang-undang praktik kedokteran no 29 tahun 2004, pasal 50 dan 51.13 Hak dokter diatur dalam Pasal 50 yakni:13,14 1. Hak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional 2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi, standar prosedur operasional 3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya 4. Menerima imbalan jasa Kewajiban dokter diatur dalam pasal 51 yakni: 13,14 1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien 2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang leih baik, apabila tidak mampu melakukan sesuatu pemeriksaan ata pengobatan. 3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang pasien (menjaga kerahasiaan pasien) bahkan setelah pasien meninggal dunia 4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melaksanakan 5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi

Kode etik Kedokteran yang berkaitan dengan hak dan kewajiban seorang dokter antara lain:15 Pasal 1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. Pasal 2 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi. Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4 Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Pasal 5 Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal 6 Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Pasal 7 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. Pasal 7a Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal 7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien Pasal 7c Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien 9

Pasal 7d Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. Pasal 9 Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati. Pasal 10 Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. Pasal 11 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. Pasal 12 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal 13 Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. Pasal 14 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal 15 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis. Pasal 16 Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. 10

Pasal 17 1. Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

Kewajiban Moral Seorang Dokter Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik-buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri (I Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk melihat hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills). Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleologi lebih ke arah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).16 Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa rules dibawahnya. Ke 4 kaidah dasar moral tersebut adalah:16 1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent. 2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat). 3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no harm. 4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice) Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan

terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).16 11

Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Sebagaimana diuraikan pada pendahuluan, nilai-nilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu kontrak moral antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan kontrak kewajiban moral antara dokter dengan peer-groupnya, yaitu masyarakat profesinya.16 Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi pemimpin dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis.16 Peran Dokter Dalam Kepolisian
Kedokteran Kepolisian atau lebih dikenal sebagai DOKPOL adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk kepentingan tugas kepolisian. Banyak yang mengira bahwa DOKPOL identik dengan Kedokteran Forensik, namun sebenarnya berbeda, oleh karena Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang diterapkan di dalam DOKPOL, sehingga Kedokteran Forensik merupakan bagian dari penerapan DOKPOL. Ilmu-ilmu lain yang juga merupakan bagian terapan dari DOKPOL selain Kedokteran Forensik adalah Forensik Klinik, Psikiatri Forensik, Kedokteran Gigi Forensik, Biomolekuler Forensik, Medikolegal, Toksikologi Kedokteran Forensik, Kedokteran Gawat Darurat, Kesehatan Lapangan, Kedokteran Lalu Lintas dan sebagainya.17 Adapun dasar hukum bahwa DOKPOL berperan dalam tugas kepolisian adalah tercantum dalam Bab III Pasal 14 ayat 1 butir (h) UU No. 2 tahun 2002 yang berbunyi menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian. Disini berarti mengungkapkan bahwa DOKPOL merupakan salah satu pengemban tugas atau fungsi teknis kepolisian harus dapat berperan dalam penyelenggaraan tugastugas pokok Kepolisian sebagaimana yang diamanatkan pada UU No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut.17

12

Rekomendasi dalam

Peraturan Standar

Minimum bagi

Perlakuan

terhadap Narapidana

(ECOSOC, 1977) pada layanan medis menetapkan antara lain sebagai berikut:18 a. "Pada setiap institusi harus tersedia pelayanan medis minimal 1 (satu) medis yang harus bekompetensi memiliki beberapa pengetahuan psikiatri. Layanan medis harus diatur dalam kaitannya dekat dengan administrasi kesehatan umum negara. Mereka harus mencakup sendee psikiatris untuk diagnosis dan, dalam kasus-kasus yang tepat, pengobatan kelainan mental yang menyatakan ". b. "Tahanan yang sakit dan membutuhkan pengobatan spesialis akan di rujuk untuk mendapat perawatan khusus khusus institusi atau rumah sakit sipil. Dimana fasilitas rumah sakit yang disediakan dalam suatu institusi, peralatan mereka, perabot dan perlengkapan farmasi harus tepat untuk medis perawatan dan petugas

pengobatan terhadap tahanan sakit, dan juga akan ada staf sesuai untuk melakukan perawatan yang tepat ". c. "Pelayanan dari petugas gigi yang berkualitas harus tersedia untuk setiap tahanan". Oleh karena itu penting untuk membaca dalam hubungannya dengan UU No. 5, "Prinsip Medis yang Relevan dengan Peranan Petugas Kesehatan, terutama Dokter etika, dalam Perlindungan terhadap Narapidana dan Tahanan terhadap Penyiksaan dan Kekejaman Lain, PerlakuanTidak Manusiawi atau Merendahkan atau Hukuman ". Prinsip-prinsip etika medis, antara lain, menetapkan sebagai berikut:18 a. "Tenaga kesehatan, khususnya dokter, dibebankan dengan perawatan medis dari tahanan dan tahanan, memiliki kewajiban untuk menyediakan mereka dengan perlindungan fisik dan kesehatan mental dan pengobatan penyakit kualitas yang sama dan standar sebagaimana diberikan untuk mereka yang tidak dipenjara atau ditahan ". b. "Hal ini bertentangan dengan etika medis, bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter, untuk terlibat, secara aktif maupun pasif, dalam tindakan yang merupakan partisipasi dalam, penyiksaan atau kekejaman lainnya pengobatan .. " c. "Ini adalah bertentangan dengan etika medis, ... untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka membantu dalam interogasi tahanan dan tahanan dengan cara yang buruk dapat mempengaruhi kesehatan fisik atau mental ... tahanan atau tersangka kejahatan ...

13

Hak dan Kewajiban Tersangka


Sehubungan dengan pemeriksaan tersangka, undang-undang telah memnerikan beberapa hak perlindungan terhadap hak asasinya. Hak tersangka dan terdakwa selama pemeriksaan di muka penyidik dan di muka hakim tersebar dalam beberapa bab dan Pasal-pasal, antara lain dalam Bab VI Pasal 50 sampai dengan Pasal 68 KUHAP, kemudian Pasal 144, 163, 213 KUHAP. Hak- hak tersangka ini harus dihargai dan dihormati. Perlindungan HAM bagi tersangka menrut undang-undang kepolisian no 8 tahun 2009:10 Prinsip Praduga Tak Bersalah Pasal 35 (1) Setiap orang yang diduga melakukan kejahatan memiliki hak untuk dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah sesuai dengan putusan pengadilan dan telah memperoleh semua jaminan yang diperlukan untuk melakukan pembelaan. (2) Setiap anggota Polri wajib menghargai prinsip penting dalam asas praduga tak bersalah dengan pemahaman bahwa: a. penilaian bersalah atau tidak bersalah, hanya dapat diputuskan oleh pengadilan yang berwenang, melalui proses pengadilan yang dilakukan secara benar dan tersangka telah mendapatkan seluruh jaminan pembelaannya; dan b. hak praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah oleh pengadilan adalah hak mendasar, untuk menjamin adanya pengadilan yang adil. (3) Setiap anggota Polri wajib menerapkan asas praduga tak bersalah dalam proses investigasi dengan memperlakukan setiap orang yang telah ditangkap atau ditahan, ataupun orang yang tidak ditahan selama masa investigasi, sebagai orang yang tidak bersalah.

Hak Tersangka Hak tersangka tercantum dalam KUHAP dan undang-undang kepolisian no. 8 tahun 2009 yang anatara lain10,11 Pasal 36 Tersangka mempunyai hak-hak sebagai berikut: a. segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan kepada penuntut umum (terdapat juga di KUHAP pasal 50 ayat 1 dan 2).

14

b. untuk mempersiapkan pembelaan, tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai (terdapat juga di KUHAP pasal 51). c. dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan, tersangka berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik; mendapat bantuan juru bahasa, dalam hal tersangka bisu dan/atau tuli diberlakukan ketentuan Pasal 178 KUHAP; d. guna kepentingan pembelaan, tersangka berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang (terdapat juga di KUHAP pasal 54). e. untuk mendapatkan penasihat hukum tersangka berhak memilih sendiri penasehat hukumnya (terdapat juga di KUHAP pasal 55). f. dalam hal tersangka disangka melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum yang ditunjuk sendiri, pejabat yang bersangkutan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka dan setiap penasihat hukum yang ditunjuk tersebut memberikan bantuannya dengan cuma-cuma; g. tersangka yang dikenakan penahanan berhak menghubungi penasihat hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang (terdapat juga di KUHAP pasal 57). h. tersangka yang berkebangsaan asing yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi proses perkaranya; i. tersangka yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak (terdapat juga di KUHAP pasal 58). j. tersangka yang dikenakan penahanan berhak diberitahukan tentang penahanan atas dirinya oleh pejabat yang berwenang, kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka ataupun orang lain yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya (terdapat juga di KUHAP pasal 59). k. tersangka berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka guna mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan bantuan hukum (terdapat juga di KUHAP pasal 60). 15

l. tersangka berhak secara langsung atau dengan perantaraan penasihat hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal yang tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan; m. tersangka berhak mengirim surat kepada penasihat hukumnya, dan menerima surat dari penasihat hukumnya dan sanak keluarga setiap kali yang diperlukan olehnya, untuk keperluan itu bagi tersangka disediakan alat tulis menulis; surat menyurat antara tersangka dengan penasehat hukumnya atau sanak keluarganya tidak diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara, kecuali jika terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa surat menyurat itu disalahgunakan; n. tersangka berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniwan (terdapat juga di KUHAP pasal 63). o. tersangka berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya; p. tersangka tidak dibebani kewajiban pembuktian (terdapat juga di KUHAP pasal 66). q. tersangka berhak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. r. hak untuk diadili secara adil. Hak ini tercantum juga dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia no 8 tahun 2009 pasal 37 dan 38. Hak tersebut seperti: Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam sidang pengadilan terbuka yang adil oleh pengadilan yang independen dan tidak memihak, dalam penetapan hakhaknya dan kewajiban-kewajibannya serta tuduhan-tuduhan kejahatan terhadapnya. Kewajiban-kewajiban tersangka atau terdakwa Selain mempunyai hak-hak yang diatur oleh KUHAP, seorang tersangka atau terdakwa juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakannya sesuai dengan undang-undang yakni:9 1. Kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan dalam hal yang bersangkutan menjalani penahanan kota (Pasal 22 ayat 3 KUHAP). 2. Kewajiban meminta izin keluar rumah atau kota dari penyidik, penuntut umum atau hakim yang memberi perintah penahanan, bagi tersangka atau terdakwa yang menjalani penahanan rumah atau penahanan kota (Pasal 22 ayat 2 dan 3 KUHAP) 16

3. Kewajiban menaati syarat yang ditentukan bagi tersangka atau terdakwa yang menjalani massa penangguhan misalnya wajib lapor tidak keluar rumah atau kota (penjelasan Pasal 31 KUHAP) 4. Wajib menyimpan isi berita acara (turunan berita acara pemeriksaan) untuk kepentingan pembelaannya (pasal 72 KUHAP dan penjelasannya). 5. Lewajiban menyebut alasan-alasan apabila mengajukan permintaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan serta permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitas (Pasal 79 dan 81 KUHAP). 6. Apabila dipanggil dengan sah dan menyebut alasan yang jelas, maka wajib datang kepada penyidik kecuali memberi alasan yang patut dan wajar (Pasal 112 dan 113 KUHAP). 7. Wajib hadir pada hari sidang yang telah ditetapkan. Kehadiran terdakwa di sidang merupakan kewajiban bukan merupakan haknya, kadi terdakwa harus hadir di sidang pengadilan (penjelasan Pasal 154 ayat 4 KUHAP). Bahkan apabila terdakwa setelah diupayakan dengan sungguh-sungguh tidak dapat dihadirkan dengan baik, maka terdakwa dapat dihadirkan paksa (Pasal 154 ayat 6 KUHAP). 8. Meskipun tidak secara tegas disebut sebagai kewajiban, tetapi pembelaan terdakwa atau penasehat hukum tentu merupakan suatu keharusan (Pasal 182). 9. Kewajiban menghormati dan menaati tata tertib persidangan. 10. Kewajiban membayar biaya perkara yang telah diputus pidana (Pasal 22 ayat 1) 11. Meskipun tidak secara tegas merupakan keharusan, sangat logis jika memori banding perlu dibuat terdakwa yang mengajukan permintaan banding. Pasal 237 KUHAP mengatakan selama pengadilan tinggi, belum memeriksa suatu perkara dalam tingkat banding, baik terdakwa atau kuasanya maupun penuntut umum dapat menyerahkan memori banding atau kontra memori banding kepada pengadilan tinggi. 12. Apabila sebagai pemohon kasasi maka terdakwa wajib mengajukan memori kasasinya, dan dalam waktu 14 hari setelah mengajukan permohonan tersebut, harus sudah menyerahkan kepada panitera (Pasal 248 ayat 1 KUHAP) 13. Apabila terdakwa mengajukan permintaan peninjauan kembali (PK) maka harus menyebutkan secara jelas alasannya (Pasal 264 ayat 1 KUHAP).

17

Hak dan Kewajiban Publik


Bahwa manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa akal budi dan nurani yang memberikan kepadanya kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang akan membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nuraninya itu, maka manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perilaku atau perbuatannya. Di sampaing itu, untuk mengimbangi kebebasan tersebut manusia memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab atas semua tindakan yang dilakukannya. Kebebasan dasar dan hak-hak dasar itulah yang disebut hak asasi manusia yang melekat pada manusia secara kodrati sebagai anugerah Tuhan Yang, Maha Esa. Hak-hak ini tidak dapat diingkari. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, negara, pemerintah, atau organisasi apapun mengemban kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali. Ini berarti bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak, dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara.10 Berbagai instrumen hak asasi manusia yang dimiliki Negara Republik Indonesia,yakni:10 Undang Undang Dasar 1945 Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia:10 Hak asasi pribadi / Personal Right Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing Hak asasi politik / Political Right Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi Hak azasi hukum / Legal Equality Right Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan 18

Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum Hak asasi Ekonomi / Property Rigths Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll Hak kebebasan untuk memiliki susuatu Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan di mata hukum. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan Hak mendapatkan pengajaran Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat Berdasarkan undang-undang no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, maka hak seorang individu dalam bidang hukum meliputi:3 Pasal 3 (1) Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama dan sederajat serta dikaruniai akal dan hati nurani untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam semangat persaudaraan. (2) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum dalam semangat di depan hukum. (3) Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan manusia, tanpa diskriminasi. Pasal 4 Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun. Pasal 5 19

(1) Setiap orang diakui sebagai manusia pribadi yang berhak menuntut dan memperoleh perlakuan serta perlindungan yang samasesuai dengan martabat kemanusiaanya di depan hukum. (2) Setiap orang berhak mendapat bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang objektif dan tidak berpihak. (3) Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya. Pasal 9 (1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. (2) Setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 17 Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan, pengaduan, dan gugatan, baik dalam perkara pidana, perdata, maupun administrasi serta diadili melalui proses peradilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemerikasaan yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar. Pasal 18 (1) Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlakukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundanganundangan. (2) Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukannya. (3) Setiap ada perubahan dalam peraturan perudang-undangan maka beralaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka. (4) Setiap orang yang diperiksa berhak mendapatkan bantuan hukum sejak saat penyidikan sampai adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (5) Setiap orang tidak dapat dituntut untuk kedua kalinya dalam perkara yang sama atas suatu perbutan yang telah memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Pasal 29 20

(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya. (2) Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi dimana saja ia berada. Pasal 30 Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Pasal 33 (1) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan nyawa. Pasal 34 Setiap orang tidak boleh ditangkap, dittahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan, atau dibuang secara sewenag-wenang. Pasal 35 Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tentram, yang menghormati, melindungi dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.

Kewajiban Kewajiban setiap individu menurut undang-undang no 39 tahun 1999 antara lain:11 Pasal 67 Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia. Pasal 69 Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap hak asasi manusia seseorang menimbulkan kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk menghormati hak asasi orang lain secara timbal balik serta menjadi tugas Pemerintah untuk menghormati, melindungi, meneggakan, dan memajukannya. Pasal 70 Dalam menjalankan hak dan kewajiban, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh Undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta 21

penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adli sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Hak dan Kewajiban Publik Menurut undang-undang no 39 tahun 1999, hak publik antara lain:11 Pasal 8 Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pasal 32 Kemerdekaan dan rahasia dalam hubungan surat-menyurat termasuk hubungan komunikasi sarana elektronika tidak boleh diganggu, kecuali atas perintah hakim atau kekuasaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. Pasal 71 Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia. Pasal 72 Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71, meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain. Pasal 73 Hak dan kebebasan yang diatur dalam Undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan kepentingan bangsa. Pasal 100 Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak berpartisipasi dalam perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia. Pasal 101 Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak menyampaikan laporan atas 22

terjadinya pelanggaran hak asasi manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lain yang berwenang dalam rangka perlindungan, penegakkan dan pemajuan hak asasi manusia. Pasal 103 Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, lembaga studi, atau lembaga kemasyarakatan lainnya, baik secara sendiri-sendiri maupun bekerja sama dengan Komnas HAM dapat melakukan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia.

Kewajiban publik Menurut undang-undang no 39 tahun 1999, hak publik antara lain:11 Pasal 68 Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menurut UUD 1945, kewajiban publik terutama dalam bidang hukum antara lain: Pasal 27 ayat (1) Tiap-tiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemeritahan itu dengan tidak ada kecualinya Pasal 30 Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.

23

Daftar Pustaka
1. Hizzal VR. Perlindungan hak asasi tersangka/terdakwa dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. Diunduh dari : http://advokathandal.wordpress.com/perlindungan-hak-asasi-tersangkaterdakwadalam-pemberantasan-terorisme-di-indonesia/; 11 Januari 2012. 2. Panjaitan A. Reserse dan Kriminal. Diunduh dari : http://sumut.polri.go.id.medanwebsite.com/index.php?option=com_content&view=art icle&id=23&Itemid=25; 11 Januari 2012. 3. Hardiman, Budi F. Terorisme, definisi, aksi dan regulasi. Jakarta: Imparsial; 2005. 4. Sunaryo E. Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Bintara Polri di Lapangan. Jakarta:
Kepolisian Negara Republik Indonesia Markas Besar; 2006.h.60.

5. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Cetakan ke 2. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1994. 6. Undang-undang kepolisian. Diunduh dari http://www.kpu.go.id/dmdocuments/UU%20KEPOLISIAN.pdf. 10 Januari 2012. 7. Protokol Istanbul. Diunduh dari www.irct.org/.../DWSDownload.aspx. 10 Januari 2012. 8. Undang-undang kepolisian. Diunduh dari http://www.kpu.go.id/dmdocuments/UU%20KEPOLISIAN.pdf. 10 Januari 2012 9. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana no. 8 tahun 1981. Diunduh dari http://www.wirantaprawira.de/law/criminal/kuhap/index.html#babVI. 10 Januari 2012 10. Prayitno HA, Rahardiansah T. Pendidikan kadeham kebangsaan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti;2006.h.179-230. 11. Undang-undang Republik Indonesia no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Diunduh dari http://www.kejati-jakarta.go.id/useruploads/uu/1299571951.pdf. 10 Januari 2012. 2012. 13. Indries AM, Thiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses penyelidikan. Jakarta: Sagung Seto; 2008.h.342-3. 14. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi ke 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.h.54-6. 24

15. Kode etik kedokteran Indonesia. Diunduh dari http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/sehat/Kode-Etik-Kedokteran.pdf. 10 Januari 2012. 16. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjeptjep Dwidja Siswaja. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar; 2007.h.30-2. 17. Kedokteran kepolisian (dokpol). Diunduh dari http://www.biddokpol.dokkes.polri.go.id/index.php?option=com_content&view=artic le&id=1&Itemid=14. 10 Januari 2012 18. Semiloka Kesehatan dan Hak Asasi Manusia. Prisoners and Detainees Mardjono Reksodiputro. Penerbit: IDI. 2005 hal. 63-7.)

25