Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATAKULIAH HUKUM PERIKATAN DAN JAMINAN

JualBeliAngsuranSecara Finance

Disusunoleh :

Aminah

(116010200111059) Idris AlyFahmi DewaKomang Peter Udayana BayuAjiMadyatama BelaMonalisaNb (116010200111040) (116010200111043) (116010200111044) (116010200111045)

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan Penjualan denganangsuranadalahpenjualanbarangataujasa yang dilaksanakandenganperjanjiandimanapembayarandilakukansecarabertahapatauberangsur.Biasany apadasaatbarangataujasadiserahkankepadapembeli, penjualmenerimauangmuka (down payment) sebagaipembayaranpertamadansisanyadiangsurdenganbeberapa kali angsuran.Karenapenjualanharusmenunggubeberapaperiodeuntukmenagihseluruhpiutangpenjulan nya, makabiasanyapihakpenjualakanmembebankanbungaatassaldo yang belumditerimanya. Resikoatastidaktertagihnyapiutangusahaangsuraninisangattinggi, mungkinsaatakandilakukanpenjualanangsurantelahdilakukansurvaiataspembelidanmemperolehha sil yang baik. Karenapenagihanpiutangusahaangsuranmemakanwaktu yang cukup lama (beberapaperiode), haltersebutkemungkinandapatmerubahhasilsurvai yang telahdilakukansemulaterhadappembeli.Untukmenghindarihal-haldemikian, penjualbiasanyaakanmembuatkontrakjualbeli (security agreement), yang memberikanhakkepadapenjualuntukmenarikkembalibarang yang telah di jualdaripembeli. Untukmengurangibarangangsurantersebutdariresikoterbakaratauhilang, pihakpenjualdapatmenetapkansyaratbagipembeli agar barangangsurantersebutdiasuransikanuntukkepentingkanpihakpenjual.Premiasuransiditanggungo lehpembeli, jikabarangangsuranhilangatauterbakar, pihakasuransiakanmembayargantirugikepadapenjualdanbukanpembeli. Kadangkalamungkinjiwadaripembelidiwajibkanolehpenjualuntukdiasuransikandenganpremiaura nsiatastanggungansipembeli. Jadiuntukmelindungikepentinganpenjualdarikemungkinantidakditepatinyakewajibankewajibanolehpihakpembeli, makaterdapatbeberapabentukperjanjianataukontrakpenjualanangsuran, sebagaiberikut :

1. Perjanjianpenjualanbersyarat (conditional sales contract), di manabarangbarangtelahdiserahkan, tetapihakatasbarang-barangmasihberada di tanganpenjualsampaiseluruhpembayarannyasudahlunas. 2. Padasaatperjanjianditandatanganidanpembayaranpertamatelahdilakukan, hakmilikdapatdiserahkankapadapembeli, tetapidenganmenggadaikanataumenghipotikanuntukbagianhargapenjualan yang belumdibayarkapadasipenjual. 3. Hakmilikatasbarang-baranguntuksementaradiserahkankepadasuatubadan trust (trustee) sampaipembayaranhargapenjualandilunasi. Setelahpembayaranlunasolehpembeli, baru trustee menyerahkanhakatasbarang-barangitukepadapembeli. Perjanjiansemacaminidilakukandenganmembuataktakepercayaan (trust deed / trust indenture). 4. Belisewa (lease-purchase) dimanabarang-barang yang telahdiserahkankepadapembeli. Pembayaranangsurandianggapsewasampaihargadalamkontraktelahdibayarl unas, barusesudahituhakmilikberpidahkepadapembeli.

Penjualanangsurandenganbentuk-bentukperjanjiantersebut di atasdilaksanakanuntukbarangbarangtidakbergerak / barang yang bukanbarangdagang, seperti :gedung, tanah, danaktivaaktivatetaplainnya. Apabilaterjaditidakdipenuhinyakewajiban-kewajibanolehpembeli, makapenjualtetapmemilikihakuntukmemilikikembalibarang yang dijualnya, tetapinilainyasisabarangitumungkinakanlebihrendahdarinilaibarangberdasarkanperhitungan yang sesuaidenganperjanjian yang adasehinggapemilikankembalitersebutdapatmenimbulkankerugian. Untukmengurangikemungkinankerugian yang terjadipemilikankembali, makafaktor-faktor yang harusdiperhatikanolehpenjualadalahsebagaiberikut :

1.

Besarnyapembayaranpertamaatau down payment haruscukupuntukmenutupbesarnyasemuakemungkinanterjadinyapenurunan hargabarangtersebutdarisemulabarangbarumenjadibarangbekas.

2.

Jangkawaktupembayaran di antaraangsuran yang satudengan yang lainhendaknyatidakterlalu lama, kalaudapattidaklebihdarisatubulan.

3.

Besarnyapembayaranangsuranperiodikharusdiperhitungkancukupuntukmen utupkemungkinanpenurunannilaibarang-barang yang adaselamajangkapembayaran yang satudenganpembayaranangsuranberikutnya.

1.2 Latar Belakang Menurut Pasal 1 huruf (b) Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor : 34/KP/II/80 menjelaskan : Jual beli dengan angsuran adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli. Dengan demikian, maka si pembeli seketika sudah menjadi pemilik dan kekurangan pembayarannya kepada penjual akan dianggap sebagai hutang. Apabila diperhatikan kontruksi hukum jual beli secara angsuran maka terlibat dua jenis perjanjian yaitu perjanjian jual beli dan perjanjian kredit. Perjanjian jual beli diatur dalam buku III KUHPerdata dan termasuk perjanjian bernama sedangkan perjanjian kredit tidak terdapat pada KUHPerdata tapi diatur dalam Undang-undang Nomer 10 Tahun 1998 tentang perbankan. Dalam sistem hukum perdata perjanjian jual beli secara angsuran dikelompokkan kedalam perjanjian tidak bernama. Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang pengaturannya secara khusus tidak ada di Undang-Undang. Umumnya pranata jual beli secara angsuran menggunakan bentuk perjanjian baku yang mengikat penjual barang dan pembeli barang. Klausul-klausul dalam perjanjian tersebut telah

dibuat sebelumnya oleh pihak penjual atau kreditur tanpa melibatkan pihak pembeli atau debitur dan pembeli tinggal menandatangani saja. Calon pembeli atau debitur yang tidak setuju dengan klausul-klausul yang terdapat dalam perjanjian tersebut akan menanggung resiko tidak memperoleh barang yang diinginkan. Menurut Allan R. Drebin (1996: 121) dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan

penjualan angsuran barang dagangan adalah: Penjualan barang dagangan yang pembayarannya dilakukan secara bertahap dalam jumlah dan waktu yang telah ditentukan. Dan didalam penjualan angsuran barang-barang dagangan mempunyai ketentuan sebagai berikut: 1. Pembayaran Uang Muka Yaitu pembayaran uang muka yang dilaksanakan secara tunai yang jumlahnya sebesar persentase tertentu dari harga jual barang atau sebesar jumlah rupiah yang telah ditentukan 2. Pembayaran Angsuran Yaitu pembayaran uang tunai periodik sebagai pembayaran angsuran yang besarnya telah ditentukan sebelumnya atau ditentukan besar kecilnya yang tergantung pada lamanya jangka waktu angsuran. Menurut Hadori Yunus Harnanto (1987:6) dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap yaitu pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, penjual menerima pembayaran pertama sebagai bagian dari harga penjualan (down payment) dan sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran dan untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajiban-kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat bentuk perjanjian (kontrak penjualan) penjualan angsuran sebagai berikut: 1. Perjanjian penjualan bersyarat (conditional sales contract). Dimana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada di tangan penjual sampai seluruh pembayarannya pertama.

2. Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayarannya pertama telah dilakukan hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotik untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kepada si penjual. 3. Hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan trust (trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan. 4. Beli-sewa (lease-purchase), dimana barang yang telah diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpindah kepada pembeli. Dalam kegiatan jual beli dengan angsuran ada beberapa pihak yang terlibat, yaitu : a) Pihak penyedia pembiayaan (finance) yang dalam hal ini berkedudukan sebagai pihak penyedia dana atau kreditur b) Pihak konsumen sebagai pihak yang menerima pembiayaan dari kreditur. Perjanjian jual beli secara angsuran pada umumnya dilakukan acara penyerahan hak milik secara fidusia, maksudnya adalah barang yang sudah diserahkan oleh pihak supplier atau showroom kepada debitur, Sebagai akibat dari adanya perjanjian jual beli secara angsuran anatara pihak pembiayaan (finance) dengan pihak debitur dan adanya perjanjian jual beli bersyarat antara debitur dengan pihak supplier, dijaminkan secara fidusia untuk menjamin pelunasan pembayaran hutang debitur kepada pihak perusahaan pembiayaan (finance). Adapun pengertian jaminan fidusia menurut ketentuan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 24 tahun 1999 tentang jaminan fidusia diartikan sebagai Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikkannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Dari pengertian diatas, berarti dengan adanya pembebanan jaminan secara fidusia barang yang merupakan obyek pembiayaan maka hak kepemilikan atas barang beralih kepada pihak perusahaan pembiayaan selaku penerima fidusia.

Berdasarkan pada pemberitaan media elektronik Padang Ekspres yang menyatakan bahwa banyak finance yang tidak memiliki akta fidusia1 , padahal yang dijadikan dasar untuk eksekusi barang obyek fidusia apabila terjadi penunggakan angsuran. Maka dengan ini penulis ingin mengangkat masalah ini kedalam bentuk makalah. 1.3 Rumusan masalah Bagaimana akibat hukum apabila akta fidusia pada transaksi jual beli dengan angsuran di perusahaan pembiayaan tidak didaftarkan ? BAB II PEMBAHASAN

2.1 Kasus Posisi Ia mengungkap banyak dari finance tidak memiliki akta fidusia yang diterbitkan dalam bentuk sertifikat. Padahal, inilah payung kuat yang bisa dijadikan sebagai kekuatan hukum bagi finance untuk melakukan penarikan kendaraan konsumen yang menunggak angsuran kredit. Kendaraan konsumen yang menunggak ditarik bahkan secara paksa oleh finance. Sementara itu, mereka tak punya sertifikat fidusia. Padahal kalau sertifikat fidusianya tak ada, kekuatan hukumnya untuk menarik kendaraan itu tidak ada, jelas Erison kepada Padang Ekspres, Minggu (17/4). Penarikan kendaraan konsumen bisa dilakukan bila finance telah memilik kekuatan hukum yakni berupa akta fidusia yang ditandatangani oleh konsumen. Untuk mendapatkan akta fidusia itu, sebuah badan usaha, harus terlebih dahulu mendaftarkannya ke kehakiman yang ada di provinsi. Pendaftaran itu nanti diterbitkan berupa sertifikat fidusia. Sebagian besar finance belum punya akta fidusia tersebut. Mayoritas banyak yang tidak mendaftarkan, tegas Erison. Dengan tidak adanya sertifikat fidusia, lanjut Erison, banyak muncul pelanggaran yang dilakukan finance. Pada tahun 2010 dan 2011, BPSK telah melaporkan tiga kasus yang
1

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=1922

dilakukan finance ke kepolisian. Salah satunya perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan kepada konsumen. Finance yang dilaporkan antara lain Multi Arta yang bergerak di bidang kredit mobil, dilaporkan ke Polda Sumbar, dan dua laporan pelanggaran lagi dilakukan oleh Adira yang bergerak di bidang kredit sepeda motor, yang dilaporkan ke Poltabes dan Polsek Padang Barat. Tidak hanya kasus di atas saja, tambah Erison lagi, masih banyak kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan kepada konsumen, yang sebagian besar terkait dengan barang dan jasa. Sejak berdiri tahun 2006 lalu, BSPK sudah menerima lebih dari 100 laporan. Sementara di tahun 2011 ini sudah puluhan yang laporan tidak yang di masuk ke BPSK.Lalu,

bagaimanadenganperjanjianfidusia dikantorpendaftaranfidusia bawahtanganadalahsebuahakta alias yang

buatkanaktanotarisdandidaftarkan Pengertianakta di di

dibuatdibawahtangan?

dibuatantarapihak-pihakdimanapembuatanyatidak

hadapanpejabatpembuatakta yang sah yang ditetapkanolehundang-undang (notaris, PPAT dll). Solusi terbaik, kata Erison, seharusnya pelaku usaha benar-benar dapat menganggap konsumen ini adalah mitranya. Bila itu telah dilakukan, paling tidak sengketa tidak akan muncul. Semisal, ketika seorang konsumen terlambat membayar angsuran, paling tidak pelaku usaha memberikan toleransi kepada konsumen. Meski saat ini banyak pihak pelaku usaha yang tidak patuh pada aturan, beberapa diantaranya sudah mulai ada yang bersikap persuasif. Sehingganya banyak juga kasus yang bisa diselesaikan di BPSK dengan cara damai, tutup Erison2. 2.2 Tinjauan umum Unsur pokok dalam perjanjian jual-beli yakni terdapatnya barang dan jasa. Oleh karenanya. Perjanjian jual-beli merupakan perjanjian timbal balik dimana pihak satu yakni penjual berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedangkan pihak lainnya yakni pembeli, berjanji membayar harga dengan sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut. Dan dalam perjanjian jual beli angsuran, timbal balik para pihaknya sama akan tetapi cara permbayaran yang berbeda, karena dilakukan pihak pembeli melalui angsuran atau

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=1922

mencicil, berikut dibawah ini akan dijelaskan secara singkat dan lebih jelas mengenai perbedaan dari perjanjian kredit dan perjanjian jual beli angsuran, antara lain : a) Perjanjian Kredit Perjanjian kredit tidak bersifat konsesual, artinya kesepakatan saja belum menimbulkan hak bagi para pihak untuk menuntut; Dalam perjanjian kredit, salah satu pihaknya telah ditentukan yakni bank atau

lembaga pembiayaan yang pendirian serta syarat-syarat berdirinya mengacu pada ketentuan dibidang ekonomi yang berlaku; Dalam perjanjian kredit, prestasi dari debitor (pihak yang meminjam) adalah pengembalian uang ataupun barang dalam jumlah yang sama ditambah dengan bunga; Objek dalam perjanjian kredit yakni sebagaimana yang telah ditentukan dalam UU Perbankan, yaitu uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu; Dalam perjanjian kredit, jaminan diperlukan oleh bank sebagai dasar penilaian atas keyakinan akan kemampuan debitor untuk melunasi kredit; Dalam perjanjian kredit dibatasi oleh ketentuan Umum Buku Ketiga KUHPerdata dan Bab XIII Buku Ketiga KUHPerdata, serta ketentuan-ketentuan dibidang ekonomi seperti Undang-Undang tentang Perbankan, paket kebijakan pemerintah bidang ekonomi terutama bidang Perbankan, Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI), dan sebagainya.

b) Perjanjian Jual-Beli Angsuran Perjanjian jual-beli dengan angsuran merupakan perjanjian konsesual, dimana kesepakatan saja telah menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak; Dalam perjanjian sewa-beli, tiap individu ataupun badan hukum memiliki kebebasan untuk menjadi para pihak dalam perjanjian tersebut; Dalam perjanjian jual-beli dengan angsuran prestasi pihak pembeli adalah membayar harga angsuran barang yang diperjanjikan, yang jumlahnya diatur melalui suatu perjanjian; Dalam perjanjian jual beli dengan angsuran, objek perjanjian dapat berupa barang bergerak ataupun barang tidak bergerak tanpa pembatasan spesifik mengenai hal tersebut;

Dalam perjanjian jual-beli dengan angsuran, jaminan merupakan pengamanan bagi pelunasan pembayaran harga barang yang harus diperjanjikan sebelumnya; Dalam perjanjian jual-beli dengan angsuran mengacu kepada aturan-aturan dari perjanjian jual-beli yang diatur dalam Bab V Buku Ketiga KUHPerdata. Adapun akibat hukum dari perjanjian jual-beli dengan perjanjian angsuran, adalah sebagai berikut : a) Jual-beli telah terjadi pada saat penjual dan pembeli sepakat mengenai barang dan harga; b) Penjual berkewajiban menyerahkan hak milik atas barang yang diperjual-belikan; c) Pembayaran harga pembelian barang (objek perjanjian) dilakukan dengan cara angsuran yang disepakati dalam perjanjian; d) Hak milik atas barang beralih dari penjual kepada pembeli pada saat terjadinya penyerahan barang (levering). Penjual bertanggung jawab terhadap barang tersebut sampai dengan terjadinya penyerahan barang; e) Penjual menanggung kenikmatan atas barang atau objek perjanjian dan menanggung cacat-cacat yang tersembunyi (vrijwaring, warranty); f) Pihak pembeli memiliki kewajiban berupa utang, yakni harga atau sebagian harga yang belum dibayarnya, meskipun telah memiliki hak atas barang yang dibelinya. 2.3 Analisis kasus Menurut Pasal 1 huruf (b) Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor : 34/KP/II/80 menjelaskan : Jual beli dengan angsuran adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli. Dengan demikian, maka si pembeli seketika sudah menjadi pemilik dan kekurangan pembayarannya kepada penjual akan dianggap sebagai hutang. Dalam jual beli barang melalui finance ada tiga pihak yang terlibat yaitu pihak debitur, supplier dan perusahaan pembiayaan/finance. Biasanya dalam jual beli melalui finance dilakukan penyerahan hak milik secara fidusia untuk menjamin pembayaran utang. Untuk menjamin

kepastian hukum bagi kreditor maka dibuat akta yang dibuat oleh notaris dan didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia. Kemudian kreditor akan memperoleh sertifikat jaminan fidusia berirah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian, memiliki kekuatan hak eksekutorial langsung apabila debitor melakukan pelanggaran perjanjian fidusia kepada kreditor (parate eksekusi), sesuai UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Saat ini, banyak lembaga pembiayaan (finance) dan bank (bank umum maupun

perkreditan) menyelenggarakan pembiayaan bagi konsumen (consumer finance), sewa guna usaha (leasing), anjak piutang (factoring).Pembiayaan Konsumen merupakan kegiatan penyediaan dana bagi konsumen oleh perusahaan pembiayaan untuk membeli barang-barang konsumsi yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau berkala oleh konsumen. Jaminan hutang dari pembiayaan konsumen ini adalah barang konsumen yang menjadi objek pembiayaan konsumen tersebut, biasanya dalam bentuk fidusia. Pihak yang terlibat dalam transaksi pembiayaan konsumen adalah: - Pihak Kreditur (Perusahaan Pembiayaan) - Pihak Konsumen (Debitur) - Pihak Supplier (Yang menyediakan barang) Lembaga Pembiayaan umumnya menggunakan tata cara perjanjian yang mengikutkan adanya jaminan fidusia bagi objek benda jaminan fidusia. Prakteknya lembaga pembiayaan menyediakan barang bergerak yang diminta konsumen (semisal motor atau mesin industri) kemudian diatasnamakan konsumen sebagai debitur (penerima kredit/pinjaman).

Konsekuensinya debitur menyerahkan kepada kreditur (pemberi kredit) secara fidusia. Artinya debitur sebagai pemilik atas nama barang menjadi pemberi fidusia kepada kreditur yang dalam posisi sebagai penerima fidusia. Praktek sederhana dalam jaminan fidusia adalah debitur/pihak yang punya barang mengajukan pembiayaan kepada kreditor, lalu kedua belah sama-sama sepakat mengunakan jaminan fidusia terhadap benda milik debitor dan dibuatkan akta notaris lalu didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia. Kreditur sebagai penerima fidusia akan mendapat sertifkat fidusia, dan salinannya diberikan kepada debitur. Dengan mendapat sertifikat jaminan fidusia maka

kreditur/penerima fidusia serta merta mempunyai hak eksekusi langsung (parate eksekusi), seperti terjadi dalam pinjam meminjam dalam perbankan. Kekuatan hukum sertifikat tersebut sama dengan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Jaminan fidusia yang tidak dibuatkan sertifikat jaminan fidusia menimbulkan akibat hukum yang komplek dan beresiko. Kreditor bisa melakukan hak eksekusinya karena dianggap sepihak dan dapat menimbulkan kesewenang-wenangan dari kreditor. Bisa juga karena mengingat pembiayaan atas barang objek fidusia biasanya tidak full sesuai dengan nilai barang. Atau, debitur sudah melaksanakan kewajiban sebagian dari perjanjian yang dilakukan, sehingga dapat dikatakan bahwa diatas barang tersebut berdiri hak sebagian milik debitor dan sebagian milik kreditor. Apalagi jika eksekusi tersebut tidak melalui badan penilai harga yang resmi atau badan pelelangan umum. Tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai Perbuatan Melawan Hukum (PMH) sesuai diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan dapat digugat ganti kerugian. Bahkan apabila debitor mengalihkan benda objek fidusia yang dilakukan dibawah tangan kepada pihak lain tidak dapat dijerat dengan UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, karena tidak syah atau legalnya perjanjian jaminan fidusia yang dibuat. Mungkin saja debitor yang mengalihkan barang objek jaminan fidusia di laporkan atas tuduhan penggelapan sesuai Pasal 372 KUHPidana : Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Lembaga pembiayaan yang tidak mendaftarkan jaminan fidusia sebenarnya rugi sendiri karena tidak punya hak eksekutorial yang legal. Poblem bisnis yang membutuhkan kecepatan dan customer service yang prima selalu tidak sejalan dengan logika hukum yang ada. Mungkin karena kekosongan hukum atau hukum yang tidak selalu secepat perkembangan zaman. Bayangkan, jaminan fidusia harus dibuat di hadapan notaris sementara lembaga pembiayaan melakukan perjanjian dan transaksi fidusia di lapangan dalam waktu yang relatif cepat.

Dengan demikian melihat definisi jual beli angsuran merupakan jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli,dan biasanya dalam jual beli melalui finance dilakukan penyerahan hak milik secara fidusia untuk menjamin pembayaran utang. Untuk menjamin kepastian hukum bagi kreditor maka dibuat akta yang dibuat oleh notaris dan didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia, maka lembaga pembiayaan sebaiknya mendaftarkan jaminan fidusia tersebut, untuk melindungi hak dan kewajiban debitur dan kreditur apabila terjadi pelanggaran dalam jual beli secara angsuran tersebut. 3.2 Saran