Anda di halaman 1dari 4

Alveoloplasti DEFINISI Menurut Archer ada beberapa istilah yang dapat didefinisikan sebagai berikut: Alveoplasti adalah suatu

u tindakan bedah untuk membentuk prosesus alveolaris sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan immediate maupun gigi tiruan yang akan dipasang beberapa minggu setelah operasi dilakukan. Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus alveolaris, baik sebagian maupun seluruhnya. Adapun pembuangan seluruh prosesus alveolaris yang lebih dikenal sebagai alveolektomi diindikasikan pada rahang yang diradiasi sehubungan dengan perawatan neoplasma yang ganas. Karena itu penggunaan istilah alveolektomi yang biasa digunakan tidak benar, tetapi karena sering digunakan maka istilah ini dapat diterima. Alveolektomi sebagian bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat menerima gigi tiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam; mengurangi ketidakteraturan puncak ridge atau elongasi; dan menghilangkan eksostosis. Alveolotomi adalah suatu tindakan membuka prosesus alveolaris yang bertujuan untuk mempermudah pengambilan gigi impaksi atau sisa akar yang terbenam, kista atau tumor, atau untuk melakukan tindakan apikoektomi. Indresano dan Laskin mendefinisikan istilah alveoloplasti sebagai suatu prosedur untuk membentuk prosesus alveolaris, dan alveolektomi adalah suatu prosedur pembuangan prosesus alveolaris. Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa alveoloplasti adalah suatu tindakan pembuangan sebagian prosesus alveolaris untuk mempersiapkan bentuk yang dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan. TUJUAN TINDAKAN ALVEOLOPLASTI

Alveoloplasti dilakukan dengan tujuan untuk membentuk prosesus alveolaris setelah tindakan pencabutan gigi; memperbaiki abnormalitas dan deformitas alveolar ridge yang berpengaruh dalam adaptasi gigi tiruan; membuang bagian ridge prosesus alveolaris yang tajam atau menonjol; membuang tulang interseptal yang terinfeksi pada saat dilakukannya gingivektomi; mengurangi tuberositas agar mendapatkan basis gigi tiruan yang baik, atau untuk menghilangkan undercutundercut; serta memperbaiki prognatisme maksila sehingga didapatkan estetik yang baik pada pemakaian gigi tiruan INDIKASI ALVEOLOPLASTI Dalam melakukan alveoloplasti ada beberapa keadaan yang harus dipertimbangkan oleh seorang dokter gigi. Keadaan-keadaan tersebut antara lain :
(i) pada rahang di mana dijumpai neoplasma yang ganas, dan untuk penanggulangannya akan

dilakukan terapi radiasi


(ii) pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya undercut; cortical plate yang tajam; puncak

ridge yang tidak teratur; tuberositas tulang; dan elongasi, sehingga mengganggu dalam proses pembuatan dan adaptasi gigi tiruan
(iii) jika terdapat gigi yang impaksi, atau sisa akar yang terbenam dalam tulang; maka

alveoloplasti dapat mempermudah pengeluarannya


(iv)pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya kista atau tumor (v) akan dilakukan tindakan apikoektomi (vi)jika terdapat ridge prosesus alveolaris yang tajam atau menonjol sehingga dapat

menyebabkan facial neuralgia maupun rasa sakit setempat


(vii)

pada tulang interseptal yang terinfeksi; di mana tulang ini dapat dibuang pada waktu dilakukan gingivektomi pada kasus prognatisme maksila, dapat juga dilakukan alveoloplasti yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan antero-posterior antara maksila dan mandibula

(viii)

KONTRA INDIKASI ALVEOLOPLASTI Adapun kontra indikasi dilakukannya tindakan alveoloplasti adalah :

(i)

pada pasien yang masih muda, karena sifat tulangnya masih sangat elastis maka proses resorbsi tulang lebih cepat dibandingkan dengan pasien tua. Hal ini harus diingat karena jangka waktu pemakaian gigi tiruan pada pasien muda lebih lama dibandingkan pasien tua.

(ii)

pada pasien wanita atau pria yang jarang melepaskan gigi tiruannya karena rasa malu, sehingga jaringan pendukung gigi tiruan menjadi kurang sehat, karena selalu dalam keadaan tertekan dan jarang dibersihkan. Hal ini mengakibatkan proses resorbsi tulang dan proliferasi jaringan terhambat.

(iii)

jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak mengganggu adaptasi gigi tiruan baik dalam hal pemasangan, retensi maupun stabilitas.

FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM MELAKUKAN ALVEOLOPLASTI Dalam melakukan tindakan alveoloplasti terdapat beberapa factor yang harus dipertimbangkan oleh seorang dokter gigi, yaitu : A. Bentuk Prosesus Alveolaris Pada pembuatan gigi tiruan dibutuhkan bentuk prosesus alveolaris yang dapat memberikan kontak serta dukungan yang maksimal. Karena itu selain menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan gigi tiruan, maka dalam melakukan alveolo-plasti harus diperhatikan juga bentuk prosesus alveolaris yang baik. Yaitu bentuk U yang seluas mungkin, sehingga dapat menyebarkan tekanan mastikasi pada permukaan yang cukup luas. B. Sifat Tulang Yang Diambil Untuk mendapatkan suatu hasil terbaik maka suatu gigi tiruan harus terletak pada tulang kompakta, bukan tulang spongiosa. Karena itu pada waktu melakukan alveoloplasti dengan pembuangan tulang yang banyak harus diusahakan untuk mempertahankan korteks tulang pada saat membuang tulang medular yang lunak. Hal ini disebabkan karena tulang spongiosa lebih cepat dan lebih banyak mengalami resorbsi dibandingkan dengan tulang kompakta. C. Usia Pasien Dalam melakukan alveoloplasti usia pasien juga harus dipertimbangkan, karena semakin muda pasien maka jangka waktu pemakaian gigi tiruan semakin lama. Tulang pada pasien muda lebih plastis dan lebih cenderung mengalami resorbsi dibandingkan atrofi, serta pemakaian tulang

alveolar lebih lama daripada pasien tua. Jadi pem-buangan tulang pada pasien muda dianjurkan lebih sedikit dan mungkin tidak perlu dilakukan trimming tulang. D. Penambahan Free Graft Jika pada waktu pencabutan gigi atau alveoloplasti dilakukan ada tulang yang secara tidak sengaja terbuang atau terlalu banyak diambil, maka harus diusahakan untuk mengembalikan pecahan tulang ini ke daerah operasi. Pecahan tulang ini disebut free graft. Replantasi free graft ini dapat mempercepat proses pembentukan tulang baru serta mengurangi resorbsi tulang. E. Proses Resorbsi Tulang Pada periodontitis tingkat lanjut yang ditandai dengan resorbsi tulang interradikular, maka alveoloplasti harus ditunda sampai soket terisi oleh tulang baru. Penundaan selama 4 - 8 minggu ini dapat menghasilkan bentuk sisa ridge yang lebih baik. Selain itu harus diingat juga bahwa pada setiap pembe-dahan selalu terjadi resorbsi tulang, maka harus dihindari terjadinya kerusakan tulang yang berlebih akibat suatu tindakan bedah, karena keadaan ini dapat mempengaruhi hasil perawatan.