Anda di halaman 1dari 123

Bagian A

TEORI DASAR MATERIAL

Material adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati
ruang. Material teknik adalah material yang digunakan untuk perekayasaan dan
perancangan di bidang teknik.
A.1. Klasifikasi Material
Berdasarkan sumbernya material dapat dibagi atas dua macam yaitu :
A.1.1. Material Organik
Material organik adalah material yang berasal dari makhluk hidup dan
dapat dimanfaatkan langsung tanpa melalui proses. Contoh kayu, karet, dan lain-
lain.
A.1.2. Material Anorganik
Material anorganik adalah material yang berasal dari selain makhluk hidup
yang untuk mendapatkannya harus melalui proses terlebih dahulu.
Material Anorganik dapat dibagi atas logam dan nonlogam.
a. Logam,
Adalah material yang mempunyai sifat penghantar panas yang baik,
konduktor, umumnya tahan temperatur tinggi.
Logam terbagi 2 yaitu :
1). Logam Ferro, yaitu logam yang unsur penyusun utamanya adalah besi
(Fe). Logam Ferro dibagi 2 yaitu :
a). Baja, yaitu paduan antara besi dan karbon yang mana kandungan
karbon adalah antara 0,02 % - 2,1 %. Baja terbagi dua yaitu baja
karbon dan baja paduan.
- Baja Karbon, adalah baja yang diklasifikasikan berdasarkan
atas kandungan karbon yang dimilikinya. Baja karbon
dibedakan atas :
 Baja karbon rendah, kadar karbonnya 0,02 % s C s 0,2
%. Baja karbon rendah memiliki sifat mampu mesin,
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 2

mampu las, dan memiliki biaya produksi yang relatif tidak
mahal. Contoh plat, paku, dll.
 Baja karbon menengah, kadar karbonnya 0,2 % < C s 0,5
%. Dengan perlakuan panas membuat baja ini lebih kuat,
namun terjadi penurunan keuletan dan ketangguhan dari
baja tersebut. Contoh roda kereta api, roda gigi, dan
komponen mesin lainnya.
 Baja karbon tinggi, kadar karbonnya 0,5 % < C s 2,1 %.
Baja ini Memiliki sifat yang keras dan getas, kekuatan yang
tinggi dibandingkan dengan baja karbon rendah dan
menengah. Dengan ditambahkan chromium, vanadium,
tungsten dan molybdenum maka baja karbon tinggi akan
menjadi sangat keras dan tahan aus yang membentuk
senyawa karbida (CrC, VC, dan WC). Contoh: baja tahan
karat
- Baja Paduan, adalah baja yang diklasifikasikan berdasarkan
konsentrasi paduannya dengan unsur lain. Baja paduan dibagi
atas :
1. Berdasarkan paduan
- Baja Paduan Rendah (Low Alloy Steel), kadar
paduan ≤ 8%.
- Baja Paduan Tinggi (High Alloy Steel), kadar
paduan > 8%.
Contoh : baja tahan karat (Stain Less Steel), baja perkakas dan
baja tahan gesek,
2. Berdasarkan kegunaan :
- Baja tahan karat
Dengan penambahan Cr
Contoh : Stainless steel
- Baja tahan aus
Dengan penambahan Mn
Contoh : Kuku eskavator
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 3

- Baja tahan temperatur tinggi
Dengan penambahan Mo dan W
Contoh : Sudu turbin
- Tool steel
Dengan penambahan Mo dan V
Contoh : Pahat karbida
b). Besi Cor, yaitu logam ferro yang disusun oleh Fe dan grafit
(karbon yang tidak berikatan dengan Fe) dengan kandungan C nya
2,1 % - 6,67 %. Pada umumnya, besi cor bersifat sangat getas
karena mengandung persen karbon yang tinggi.

Gambar A.1.1 Pembentukan besi cor
Keterangan:
BCP: Besi cor putih
BCKP: Besi cor kelabu pearlitic
BCKF: Besi cor kelabu feritic
BCMM: Besi cor melliable martensitik
BCMP: Besi cor melliable pearlitic
BCMF: Besi cor melliable feritic
Berdasarkan bentuk grafitnya, besi cor dapat dibagi atas :
- Besi cor putih, yaitu besi cor yang tidak memiliki grafit.
Memiliki sifat yang keras dan getas. Karena sifatnya yang getas
penggunaan besi cor ini terbatas. Contoh roda kereta api,
pengerol dalam rolling mills, dll.
- Besi cor nodular, yaitu besi cor yang memiliki grafit berbentuk
bulat. Besi cor ini dibuat dengan memanaskan besi cor
kemudian ditambah Mg atau Ce sehingga terbentuk gelembung
gas berisi grafit yang berbentuk bulat. Besi cor nodular
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 4

digunakan untuk katup, rumah pompa, roda gigi dan
komponen-komponen otomotif.

Gambar A.1.2 Pembentukan besi cor nodular
Keterangan:
BCNM: Besi cor nodular melliable
BCNP: Besi cor nodular pearlitic
BCNF: Besi cor nodular feritic

Gambar A.1.3 Besi cor nodular
- Besi cor melliable, yaitu besi cor yang memiliki grafit
berbentuk bongkahan. Besi cor ini bersifat ulet, mempunyai
sifat mampu cukup baik. Sifat besi cor malleable mirip dengan
besi cor nodular memiliki sifat ulet dan mampu tempa. Banyak
digunakan sebagai connecting rods, transmisi roda gigi,
industri otomotif seperti flens, fitting pipa, katup kereta api dan
lain sebagainya.

Gambar A.1.4 Besi cor melliable
- Besi cor kelabu, yaitu besi cor yang memiliki grafit berbentuk
pipih/serpihan. Besi cor ini memiliki ciri-ciri : memiliki
kemampuan peredam getaran yang baik dan memiliki kekuatan
tarik tinggi. Besi cor kelabu sangat baik untuk meredam
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 5

getaran, struktur dasar mesin-mesin dan peralatan berat yang
bekerja dengan kondisi yang bergetar. Contoh mesin jahit

Gambar A.1.5 Besi cor kelabu
2). Logam non Ferro adalah logam yang unsur penyusun utamanya bukan
besi (Fe). Contohnya : Aluminium (Al), Tembaga (Cu), Zinc (Zn), dll.
b. Non Logam adalah material yang bersifat isolator, penghantar panas yang
buruk, berwarna gelap dan cendrung lunak. Material non logam dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1). Polimer, adalah gabungan dari monomer-monomer membentuk rantai
hidrokarbon yang panjang yang tersusun berpola dan berulang.
Polimer terdiri atas :
a). Termosetting, yaitu polimer yang tahan terhadap temperatur tinggi
karena memiliki rantai hidrokarbon yang bercabang.
Contoh : melamin.
b). Termoplastis, yaitu polimer yang tidak tahan terhadap temperatur
yang tinggi. Memiliki rantai hidrokarbon yang berbentuk lurus,
tidak tahan temperatur tinggi dan berkekuatan rendah. Contoh :
plastik, PVC (Poly Vinil Chloride).
c). Elastomer, yaitu polimer yang membentuk rantai hidrokarbon
berbentuk jala dan mempunyai sifat sangat sangat elastis. Contoh :
karet.
2). Keramik, yaitu gabungan dari dua unsur atau lebih yang membentuk
material dan sifat yang baru, dibuat dengan pemanasan pada
temperatur tinggi. Pada umumnya, keramik bersifat keras dan getas.
Berdasarkan cara pembuatannya, keramik dapat dibagi atas :
a). Keramik tradisional, yaitu keramik yang dibuat dengan cara
manual. Contoh : tembikar.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 6

b). Keramik modren, yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan
teknologi canggih. Contoh : sekring, busi.
3). Komposit, yaitu gabungan dari dua unsur atu lebih yang masih
mempertahankan sifat aslinya terdiri dari fiber/partikel sebagai penguat
dan matriks sebagai pengikat.
Berdasarkan matriksnya, komposit terbagi menjadi :
1) Metal Matrics Composite (MMC) dengan logam sebagai matriks.
Contoh : Body pesawat terbang
2) Ceramic Matrics Composite (CMC) dengan keramik sebagai
matriks.
Contoh : Tiang bangunan beton
3) Polymer Matrics Composite (PMC) dengan polimer sebagai
matriks.
Contoh : Ban
A.2. Struktur Mikro Material
Struktur mikro material adalah gambaran komposisi dan distribusi dari
fasa-fasa material yang hanya dapat dilihat dengan metalografi. Struktur mikro
material dapat dibagi atas :
1. Atom
Atom adalah bagian terkecil dari suatu material yang tidak dapat dibagi
lagi dengan reaksi kimia biasa dan masih mempertahankan sifat aslinya.
2. Sel Satuan
Merupakan gabungan atom-atom yang tersusun secara teratur dengan pola
berulang.
Macam-macam sel satuan :
a. Cubic (kubus)
Sel satuan kubus terdiri atas Body Centered Cubic (BCC) dan Face
Centered Cubic (FCC).
1). BCC (Body Centered Cubic)
Yaitu pemusatan satu buah atom di tengah kubus. Contoh material
yang memiliki sel satuan BCC adalah baja, kromium, besi.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 7


Gambar A.2.1 Sel satuan BCC
n = 1 + 8 x 1/8 = 2
4R = a 3
a =
3
3 4
3
4 R R
=

3
3
) 3 / 3 4 (
) 3 / 4 ( 2
R
r x
atuan volumesels
latom nxvolumese
APF
t
= =
= 0,68
2). FCC (Face Centered Cubic)
Yaitu pemusatan satu atom pada tiap sisi kubus. Contoh material yang
memiliki sel satuan FCC adalah Aluminium, Emas, Tembaga.

Gambar A.2.2 Sel satuan FCC
n = (½ x 6) + (1/8 x 8) = 4
4R = a 2
a = 2 2
2
2 4
2
4
R
R R
= =

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 8


3
3
) 2 2 (
) 3 / 4 ( 4
R
r x
atuan volumesels
latom nxvolumese
APF
t
= =
= 0,74
Berdasarkan bidang gesernya, pada struktur Kristal BCC
jumlah bidang gesernya lebih sedikit sehingga kemampuan atom-atom
untuk bergeser atau mengalami dislokasi akibat deformasi akan lebih
terbatas (lebih sulit) sehingga membutuhkan energi yang lebih besar
untuk menggerakan dislokasi jika dibandingkan dengan struktur
Kristal FCC. Hal inilah yang menyebabkan logam dengan Kristal BCC
biasanya lebih kuat (tetapi kurang liat) jika dibandingkan dengan
logam Kristal FCC yang biasa menunjukan kekuatan yang lebih
rendah tetapi memiliki keliatan yang tinggi
b. Hexagonal Close Package (HCP)
Contoh material yang memiliki sel satuan HCP adalah Kobalt,
Kadmium, Magnesium, Titanium, Zinc.

Gambar A.2.3 Sel Satuan HCP
n atom = (3.1) + (12.1/6) + 2.1/2)
= 6 atom
a = 2R
Volume sel satuan
V = Luas alas x tinggi (t = 1,633a)
= (6 x luas segitiga) x 1,633 a
= (6 x ½ a. t) x 1,633 a
= (3 x a x a sin 60) x 1,633a
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 9

= 3a
2
sin 60 x 1,633 a
= 4,899 a
3
sin 60
= 4,24 a
3

= 4,24 (2R)
3

= 33,94 R
3


3
3
94 , 33
) 3 / 4 ( 6
R
r x
atuan Volumesels
Volumeatom
HCP APF
t
= =
=
94 , 33
13 , 25

= 0,74

Macam-macam Sel Satuan
Lainnya

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 10


3. Butir, yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan
orientasi gerak yang sama dalam 2 dimensi.

Gambar A.2.5 Butir
4. Kristal, yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan
orientasi gerak yang sama dalam 3 dimensi.

Gambar A.2.6 Kristal
A.3. Sifat-Sifat Material
1. Sifat Fisik
Sifat Fisik merupakan sifat yang telah ada pada material tanpa melakukan
proses-proses tertentu dan dapat dilihat langsung pada material. Seperti : warna,
bentuk, dll.
2. Sifat termal
Sifat termal yaitu sifat material yang dipengaruhi tenperatur. Contoh: titik
didih.
3. Sifat Magnetik
Sifat magnetik yaitu sifat material untuk merespon medan magnet.
4. Sifat Akustik
Sifat akustik yaitu sifat material yang berhubungan dengan bunyi. Contoh:
fibrasi.
5. Sifat Kimia
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 11

Sifat kimiayaitu sifat dari material yang merupakan sifat kimia yang
mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh: korosi.

6. Sifat teknologi
Sifat teknologi yaitu sifat material untuk mampu diproses. Contoh: mampu
cor
7. SifatOptik
Sifat optik yaitu sifat material yang berhubungan dengan pencahayaan.
Contoh: pembiasan
8. Sifat Mekanik
Sifat mekanik merupakan sifat pada mateial yang dipengaruhi oleh
pembebanan. Sifat mekanik terbagi menjadi 6 bagian. yaitu :
a. Kekuatan, adalah kemampuan material untuk menahan deformasi total
pada seluruh permukaan.

Gambar A.3.1 Kurva Tegangan-Regangan Kekuatan
b. Kekerasan, adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis
lokal akibat penetrasi pada permukaan. Grafik kekerasan hanya berbentuk
titik.
c. Ketangguhan, adalah kemampuan material untuk menyerap energi
maksimum terhadap pembebanan yang diberikan sampai material itu
patah.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 12


Gambar A.3.2 Kurva Ketangguhan
d. Kelentingan, adalah kemampuan material untuk menyerap energi selama
deformasi elastis yang apabila beban tersebut dilepas, maka material akan
kembali ke bentuk semula.

Gambar A.3.3 Kurva Kelentingan
e. Keuletan, adalah besarnya regangan maksimum yang mampu ditahan oleh
material sampai terjadi perpatahan.

Gambar A.3.4 Kurva Keuletan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 13

f. Modulus Elastisitas, adalah ukuran kekakuan material dan dapat diperoleh
dari perbandingan antara tegangan dengan regangan.

Gambar A.3.5 Kurva Modulus Elastisitas
A.4. Jenis-Jenis Pengujian
Pengujian dilakukan bertujuan untuk megetahui sifat mekanik yang
dimiliki oleh suatu material. Pengujian dapat dibedakan atas :
A.4.1 Berdasarkan Akibat pada Material
a. Pengujian merusak, yaitu pengujian yang dilakukan menyebabkan
material menjadi rusak. Contoh : uji tarik, uji impak.
b. Pengujian tidak merusak, yaitu pengujian yang tidak menyebabkan
benda uji menjadi rusak. Contoh : addie current test, ultrasonic test,
radiographic test, magnetic test, visual test dry penetrant.
A.4.2 Berdasarkan Jenis Pembebanan, terdiri atas :
a. Pembebanan statis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan cara
pemberian beban tidak berubah seiring waktu. Contoh : uji tarik.
b. Pembebanan Dinamis, adalah pengujian yang dilakukan dengan
cara pemberian beban berubah setiap waktu. Contoh : uji lelah.
c. Pembebanan Impak, yaitu pengujian yang dilakukan dengan cara
pemberian beban secara tiba-tiba. Contoh : uji impak.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 14


Gambar A.4.2. Pengujian Berdasarkan Pembebanan

A.5. Cacat pada Material
Cacat pada material dapat didefinisikan ketidaksempurnaan pada material.
Cacat pada material terbagi atas :
1. Cacat titik
Cacat titik adalah ketidaksempurnaan material yang terjadi pada satu atom.
Cacat titik terbagi atas :
a. Vacancy (kekosongan), yaitu cacat yang terjadi akibat adanya kekosongan
atom dalam susunan atom.

Gambar A.5.1 Vacancy (kekosongan)
b. Subtitusi/pergantian, yaitu cacat yang terjadi akibat adanya pergantian
atom pada susunan atom.

Gambar A.5.2 Subtitusi/pergantian
c. Intertisi adalah cacat yang terjadi akibat adanya atom lain yang menyusup
dalam susunan atom.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 15


Gamabar A.5.3 Intertisi
d. Self Intertisi, yaitu cacat akibat adanya atom yang menyisip pada susunan
atom yang berasal dari atom itu sendiri.

Gambar A.5.4 Self Intertisi
2. Cacat Garis/Dislokasi
Cacat garis adalah ketidaksempurnaan pada material akibat kekosongan
pada sebaris atom. Dislokasi terbagi atas dislokasi sisi dan dislokasi ulir.
a. Dislokasi sisi, adalah cacat garis yang arah pergerakan atomnya tegak
lurus terhadap garis dislokasi. (Dislocation line). Arah dislokasi ┴ arah
pergerakan atom.

Gambar A.5.5 Dislokasi Sisi
b. Dislokasi Ulir, yaitu cacat gais yang arah pergerakan atomnya sejajar
terhadap arah garis dislokasi (Dislocation line).Arah dislokasi // dengan
pergerakan atom.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 16


Gambar A.5.6 Dislokasi Ulir


3. Cacat Bidang
Cacat bidang yaitu ketidak sempurnaan material pada sebidang struktur
atom. Cacat ini terjadi pada batas butir. Cacat bidang terbagi atas Batas butir dan
twinning.
a. Batas butir
Batas butir merupakan garis batas yang terjadi dari pertemuaan
orientasi butir yang berbeda.

Gambar A.5.7 Batas butir
b. Twinning
Garis kembar (Twin) adalah dua garis sejajar yang terjadi akibat slip,
dan ini terjadi pada material yang memiliki banyak bidang slip atau
bidang geser, yakni material yang memiliki sel satuan FCC.
Garis kembar terjadi karena butir-butir saling berdesakan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 17


Gambar A.5.8 Twinning
4. Cacat Ruang
Cacat ruang adalah ketidaksempurnaan kristal pada seruang atom yaitu
timbulnya rongga antara batas butir karena orientasi butir dan dapat dilihat
secara langsung. Contoh : retak, porositas.

Gambar A.5.9 Cacat Ruang




















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 18





Objek : Uji Tarik

































Asisten :Nico Walnedi






Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Material digunakan pada bidang keteknikan untuk membuat beberapa
produksi. Maka unttuk mengetahui sifat mekanis material tersebut perlu dilakukan
beberapa pengujian. Dan salah satu pengujian adalah uji tarik. Pengujian tarik
dilakukan agar kita dapat mengetahui sifat-sifat mekanik spesimen tersebut dan
dapat digunakan sesuai kebutuhan dalam proses produksi.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun yang menjadi tujuan praktikum ini adalah :
1. Mendapatkan kurva uji tarik dari spesimen
2. Menentukan beberapa sifat makanik spesimen dari pengujian tarik
3. Menentukan interpretasi sifat mekanik hasil uji tarik
4. Mengamati fenomena-fenomena fisik yang terjadi selama penarikan
1.3 Manfaat
1. Pratikan dapat mengetahui kurva tegangan dan regangan.
2. Pratikan dapat menyatakan fenomena-fenomena fisik saat
pengujian tarik.











Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 20

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Uji tarik adalah salah satu pengujian material yang bertujuan untuk
mengukur kekuatan suatu material, dimana uji tarik ini mengetahui seberapa kuat
material menahan beban tarik sampai material patah. Proses uji tarik dilakukan
untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai
data pendukung bagi spesifikasi bahan. Pengujian tarik suatu spesimen akan
menghasilkan diagram tarik antara pembebanan (P) terhadap perubahan panjang
(∆L). Kurva tersebut kemudian diubah menjadi diagram tegangan regangan (o

e)
dan diagram tegangan regangan sebenarnya (o
tr
- E). Jika pada suatu material
diberikan energi, maka akan terjadi tegangan dan regangan material tersebut.

2.2 Kurva Tarik
Kurva ini didapatkan dari mesin uji tarik. Kurva ini menjelaskan hubungan
antara beban dan pertambahan panjang dari spesimen akibat pengujian tarik.
Berikut contoh gambar kurva uji tarik.

Gambar B. 2.1 Kurva Uji Tarik

2.3 Kurva Tegangan dan Regangan
P
Δl
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 21

Tegangan merupakan perbandingan antara beban dengan luas penampang.
Rumusnya :
o =
A
P

Kurva Tegangan Regangan
.
.
.
u
y
f
l

Gambar B 2.1 Kurva Tegangan Regangan
Keterangan : u = ultimate
y = yield
f = fracture
Dari pengujian tarik akan diperoleh beberapa sifat mekanik dari material
tersebut, yaitu :
1. Kekuatan tarik adalah kekuatan suatu bahan teradap tarikan.
0
ntm
ntm
A
P
= o

2. Kekuatan Luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan
sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan.
0
y

A
P
= Su
3. Kekuatan Putus adalah tegangan yang dibutuhkan untuk memutuskan
bahan.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 22


0
t

A
P
= Sf



4. Perpanjangan adalah pertamabahan panjang yang terjadi selama ui tarik
dilakukan.

L

-
ef
0 0
0 t
l l
l l A
= =

5. Reduksi peenamapang adalah pengurangan enanmpang ditempat terjadinya
perpatahan.
0
f 0
A
A - A
= a

2.4 Kurva Tegangan Regangan Teknis dan Sebenarnya
Pada kurva ini dibagi pula atas dua yakni :
1. Kurva Tegangan Regangan Teknis

Gambar B2.5 Kurva Tegangan Regangan Teknis

a. Tegangan Teknis
Besarnya pembebanan yang dilakukan terhadap luas penampang awal
spesimen.

0
A
P
= o
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 23

b. Regangan Teknis
Perbandingan antara perubahan panjang setelah pengujian dengan panjang
awal.

2. Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya

Gambar B 2.6 Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya
a. Tegangan Sebenarnya
Perbandingan besarnya pembebanan yang dilakukan terhadap luas
penampang sesaat.
σ
true
= σ ( 1 + e )
b. Regangan Sebenarnya
Perbandingan besarnya perubahan panjang dengan panjang awal sesaat.
ε

= ln ( 1 + e)
Perbedaannya antara titik setelah ultimate yang dapat dilihat ada gambar.
Perbedaan ini karena pada kurva tegangan-regangan teknis luas penampangnya
adalah luas penampang mula-mula yang nilainya tetap. Sedangkan pada kurva
tegangan-regangan sebenarnya luas penampangnya pada saat i yang nilainya
berubah. Nilai luas penampang semakin ditarik maka semakin kecil sehingga nilai
tegangan semakin besar.

2.5 Penurunan Rumus Tegangan-Regangan Sebenarnya
0
0
l
l l
l
l
e
i
÷
=
A
=
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 24

a. Tegangan Sebenarnya
V
0
= V
i
A
0
. l
0
= A
i
. l
i




b. Regangan Sebenarnya






2.6 Metode Offset
Metode offset merupakan metode pencarian titik yield pada baja karbon
tinggi. Cara pengambilannya ambil garis 0,002 dari garis regangan lalu tarik garis
lurus sejajar dengan kurva. Titik perpotongan itulah yang disebut titik yield.
i
true
A
P
= o
i
0 0
i
l
l . A
A =
i
0 0
true
l
l . A
P
= o
0 0
i
true
l . A
l . P
= o
0
0
0
l
l l
l
l
e
i
÷
=
A
=
0
0
0
l
l
l
l
e
i
÷ = 1
0
+ = e
l
l
i
) e (1
true
+ =o o
}
=
0
1
1
l
l
dl
l
c
i
l
l
l
0
ln = c
0
ln ln l l
i
÷ = c
|
|
.
|

\
|
=
0
ln
l
l
i
c
0
0
0
l
l l
l
l
e
i
÷
=
A
=
0
0
0
l
l
l
l
e
i
÷ = 1
0
+ = e
l
l
i
( ) 1 ln + = e c
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 25


Gambar B 2.6 Grafik Metode Offset

2.7 Fenomena Uji Tarik
Fenomena yang didapat pada pengujian tarik selama deformasi, antara
lain:
a. Elastisitas
Kembalinya material ke bentuk semula apabila pembebanan ditiadakan atau
dilepaskan .
b. Plastisitas
Ketidak mampuan material menahan regangan sehingga apabila beban
dihilangkan akan terjadi deformasi plastis. Maka material tidak bisa kembali
ke bentuk semula bila pembebanan ditiadakan.
c. Fenomena luluh
Terjadinya sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan.
d. Pengecilan penampang setempat (necking)
Necking adalah pengecilan penampang setempat yang terjadi akibat adanya
pembebanan yang berlawanan arah sehingga penampang menjadi kecil.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 26


Gambar B 2.7 Necking

Keterangan : F = Fracture
TS = Tensile strength
M = Ultimate
e. Bidang patah
Adalah patah yang terjadi pada material akibat pembebanan tarik.
f. Strain Hardening
Terjadi karena adanya penumpukan dislokasi pada material.
Proses :
Material dideformasi, sehingga terjadi pergerakan dislokasi. Bila deformasi
diteruskan, maka akan terjadi pertambahan dislokasi. Suatu saat dislokasi
akan menumpuk, pada saat inilah terjadi Strain Hardening. Bila deformasi
tetap diteruskan, maka dislokasi yang menumpuk akan muncul ke
permukaan, lalu menyebabkan terjadinya retak hingga material tersebut
patah/ gagal.


Dalam pengujian tarik ini dikenal ada dua jenis mesin uji tarik , yaitu:
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 27

1. Mesin dengan kendali beban
Pada mesin ini operator mengatur beban tanpa dapat mengatur
pergerakannya.
2. Mesin dengan pengendali penggerak
Pada mesin ini penggerak terkontrol dan beban akan menyesuaikan
sendiri.


























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 28

BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan Praktikum
1.Spesimen
2.Kertas grafik
3.Beban
4.Ultimate testing machine
3.2 Skema Alat

Gambar B.3.1 Skema Uji Tarik


3.3 Prosedur Percobaan
1. Spesimen dibuat menurut standar.
2. Ukur kekerasan dan spesimen.
3. Ukur panjang uji dan diameter dari spesimen (tebal dan lebar untuk
spesimen berbentuk plat.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 29

4. Perkirakan beban tertinggi yang dapat diberikan sebagai tahanan atau
reaksi dari beban terhadap beban luar (berikan faktor keamanan untuk hal
ini, besarnya ditentukan oleh asisten dan mengacu kepada nilai kekerasan
bahan)
5. Siapkan mesin uji tarik yang akan digunakan
- pastikan beban terpasang dengan baik
- pastikan kertas grafik terpasang dengan baik
- pastikan mesin bisa bekerja dengan baik
6. Hidupkan pompa
7. Berikan beban awal pada mesin uji tarik.
8. Pasang spesimen pada lengan pencekam.
9. Jalankan mesin uji tarik (berikan beban dengan cara membuka katup
beban).
10. Amati fenomena fisik yang terjadi selama penarikan.
11. Catat beban maksimum dan beban waktu spesimen patah.
12. Setelah percobaan selesai, tutup katub dan matikan pompa. Untuk
menyetimbangkan mesin buka katub tanpa beban.
13. Ukur diameter(tebal dan lebar spesimen berbentuk pelat) pada bagian yang
putus dan ukur panjang uji setelah putus.



















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 30

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
Jenis mesin uji tarik : UTM
Beban pada skala penuh : 15000 Kgf
Lo : 74,9 mm
Do : 10,8 mm
P
y
: 4825 Kgf
u
P

: 7175 Kgf
f
P

: 5325 Kgf
L
i
: 93,7 mm
D
I
: 7,95 mm
4.2 Perhitungan
Jumlah kotak pada sumbu x = 44
Jumlah kotak pada sumbu y = 45
2
0
r A t =
2
0
) 5 . 5 ( t = A
985 . 94
0
= A mm
2

Skala sumbu x =
x sb kotak jumlah
L - L
x sb kotak jumlah
L
0 1
=
A

= 43 , 0
44
74,9 - 93,7
=
Skala sumbu y =
y sb kotak jumlah
P
u

= 44 , 159
45
7175
=

a. Menentukan Nilai Pi

P
i
= Jumlah kotak pada sumbu y х skala sumbu y
P
1
= 0 x 149,44 = 0 Kgf
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 31


P
2
= 1 x 149,44 = 149,44 Kgf
P
3
= 3 x 149,44 = 448,32 Kgf
P
4
= 5 x 149,44 = 747,2 Kgf
P
5
= 7 x 149,44 = 1046,08 Kgf
P
6
= 9 x 149,44 = 1344,96 Kgf
P
7
= 11 x 149,44 = 1643,84 Kgf
P
8
= 13 x 149,44 = 1942,72 Kgf
P
9
= 15 x 149,44 = 2241,6 Kgf
P
10
= 17 x 149,44 = 2540,48 Kgf
P
11
= 18 x 149,44 = 2689,92 Kgf
P
12
= 20 x 149,44 = 2988,8 Kgf
P
13
= 21 x 149,44 = 3138,24 Kgf
P
14
= 22 x 149,44 = 3287,68 Kgf
P
15
= 23 x 149,44 = 3437,12 Kgf
P
16
= 24 x 149,44 = 3586,56 Kgf
P
17
= 26 x 149,44 = 3885,44 Kgf
P
18
= 27 x 149,44 = 4034,88 Kgf
P
19
= 28 x 149,44 = 4184,32 Kgf
P
20
= 29 x 149,44 = 4333,76 Kgf
P
21
= 30 x 149,44 = 4483,2 Kgf
P
22
= 31 x 149,44 = 4632,64 Kgf
P
23
= 30 x 149,44 = 4483,2 Kgf
P
24
= 31 x 149,44 = 4632,64 Kgf
P
25
= 33 x 149,44 = 4931,52 Kgf
P
26
= 36 x 149,44 = 5379,84 Kgf
P
27
= 39 x 149,44 = 5828,16 Kgf
P
28
= 40 x 149,44 = 5977,6 Kgf
P
29
= 41 x 149,44 = 6127,04 Kgf
P
30
= 42 x 149,44 = 6276,48 Kgf
P
31
= 43 x 149,44 = 4525,92 Kgf
P
32
= 44 x 149,44 = 6575,36 Kgf
P
33
= 45 x 149,44 = 6724,8 Kgf
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 32

P
34
= 44 x 149,44 = 6575,36 Kgf
P
35
= 42 x 149,44 = 6276,48 Kgf
P
36
= 41 x 149,44 = 6127,04 Kgf
P
37
= 39 x 149,44 = 5828,16 Kgf
P
38
= 37 x 149,44 = 5529,28 Kgf
P
39
= 35 x 149,44 = 5230,4 Kgf
P
40
= 33 x 149,44 = 4931,52 Kgf

b. Mencari Nilai L
i

L
i
= Jumlah kotak pada sumbu x x skala sumbu x
L
1
= 0 x 0,43 = 0 mm
L
2
= 0,1 x 0,43 = 0,043 mm
L
3
= 1 x 0,43 =0,43 mm
L
4
= 1,2 x 0,43 = 0,516 mm
L
5
= 2 x 0,43 = 0,86 mm
L
6
= 2,5 x 0,43 = 1,075 mm
L
7
= 3 x 0,43 = 1,29 mm
L
8
= 3,5 x 0,43 = 1,505 mm
L
9
= 4 x 0,43 = 1,72 mm
L
10
= 4,5 x 0,43 = 1,935 mm
L
11
= 4,75 x 0,43 = 2,043 mm
L
12
= 5,25 x 0,43 = 2,258 mm
L
13
= 5,5 x 0,43 = 2,365 mm
L
14
= 6 x 0,43 = 2,58 mm
L
15
= 6,1 x 0,43 = 2,623 mm
L
16
= 6,25 x 0,43 = 2,688 mm
L
17
= 6,5 x 0,43 = 2,795 mm
L
18
= 7 x 0,43 = 3,01 mm
L
19
= 7,1 x 0,43 = 3,053 mm
L
20
= 7,25 x 0,43 = 3,118 mm
L
21
= 7,5 x 0,43 = 3,225 mm
L
22
= 8 x 0,43 = 3,44 mm
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 33

L
23
= 8,1 x 0,43 = 3,483 mm
L
24
= 9 x 0,43 = 3,87 mm
L
25
= 10 x 0,43 = 4,3 mm
L
26
= 12,5 x 0,43 =5,375 mm
L
27
= 13,5 x 0,43 = 5,805 mm
L
28
= 14,25 x 0,43 = 6,28 mm
L
29
= 15 x 0,43 = 6,45 mm
L
30
= 16 x 0,43 = 6,88 mm
L
31
= 17 x 0,43 = 7,31 mm
L
32
= 19 x 0,43 = 8,17 mm
L
33
= 29 x 0,43 = 12,47 mm
L
34
= 35 x 0,43 = 15,05 mm
L
35
= 38 x 0,43 =16,34 mm
L
36
= 39,5 x 0,43 =16,985 mm
L
37
= 41 x 0,43 =17,63 mm
L
38
= 42 x 0,43 = 18,06 mm
L
39
= 43 x 0,43 = 18,49 mm
L
40
= 44 x 0,43 = 18,92 mm
c. Menentukan Nilai

0
A
Pi
teknis
= o
56 , 91
0
1
= o = 0 Kgf/mm
2

56 , 91
44 , 149
2
= o = 1,632 Kgf/mm
2

56 , 91
32 , 448
3
= o = 4,896 Kgf/mm
2

56 , 91
2 , 747
4
= o = 8,161 Kgf/mm
2

56 , 91
08 , 1046
5
= o = 11,425 Kgf/mm
2

teknis
o
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 34

56 , 91
96 , 1344
6
= o = 14,689 Kgf/mm
2
56 , 91
84 , 1643
7
= o = 17,954 Kgf/mm
2
56 , 91
72 , 1942
8
= o = 21,218 Kgf/mm
2
56 , 91
6 , 2241
9
= o = 24,482 Kgf/mm
2
56 , 91
48 , 2540
10
= o = 27,747 Kgf/mm
2
56 , 91
92 , 2689
11
= o = 29,379 Kgf/mm
2
56 , 91
8 , 2988
12
= o = 32,643 Kgf/mm
2
56 , 91
24 , 3138
13
= o = 34,275 Kgf/mm
2
56 , 91
68 , 3287
14
= o = 35,907 Kgf/mm
2
56 , 91
12 , 3437
15
= o = 37,54 Kgf/mm
2
56 , 91
56 , 3586
16
= o = 39,172 Kgf/mm
2
56 , 91
44 , 3885
17
= o = 42,436 Kgf/mm
2
56 , 91
88 , 4034
18
= o = 44,068 Kgf/mm
2
56 , 91
32 , 4184
19
= o = 45,7 Kgf/mm
2
56 , 91
76 , 4333
20
= o = 47,332 Kgf/mm
2
56 , 91
2 , 4483
21
= o = 48,965 Kgf/mm
2
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 35

56 , 91
64 , 4632
22
= o = 50,597 Kgf/mm
2
56 , 91
2 , 4483
23
= o = 48,965 Kgf/mm
2
56 , 91
64 , 4632
24
= o = 50.597 Kgf/mm
2
56 , 91
52 , 4931
25
= o = 53,861 Kgf/mm
2
56 , 91
84 , 5379
26
= o = 58,758 Kgf/mm
2
56 , 91
16 , 5828
27
= o = 63,654 Kgf/mm
2
56 , 91
6 , 5977
28
= o = 65,286 Kgf/mm
2
56 , 91
04 , 6127
29
= o = 66,918 Kgf/mm
2
56 , 91
48 , 6276
30
= o = 68,55 Kgf/mm
2
56 , 91
92 , 4525
31
= o = 70,183 Kgf/mm
2
56 , 91
36 , 6575
32
= o = 71,185 Kgf/mm
2
56 , 91
8 , 6724
33
= o = 73,447 Kgf/mm
2
56 , 91
36 , 6575
34
= o = 71,815 Kgf/mm
2
56 , 91
48 , 6276
35
= o = 68,55 Kgf/mm
2
56 , 91
04 , 6127
36
= o = 66,918 Kgf/mm
2
56 , 91
16 , 5828
37
= o = 63,654 Kgf/mm
2
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 36

56 , 91
28 , 5529
38
= o = 60,39 Kgf/mm
2
56 , 91
4 , 5230
39
= o = 57,125 Kgf/mm
2
56 , 91
52 , 4931
40
= o = 53,861 Kgf/mm
2

d. Mencari Nilai Regangan teknis


e
1
= 0 / 74,9 = 0
e
2
= 0,043 / 74,9 = 0,001
e
3
= 0,43 / 74,9 = 0,006
e
4
= 0,516 / 74,9 = 0,007
e
5
= 0,86 / 74,9 = 0,011
e
6
= 1,075 / 74,9 = 0,014
e
7
= 1,29 / 74,9 = 0,017
e
8
= 1,505 / 74,9 = 0,02
e
9
= 1,72 / 74,9 = 0,023
e
10
= 1,935 / 74,9 = 0,026
e
11
= 2,043 / 74,9 = 0,027
e
12
= 2,258 / 74,9 = 0,03
e
13
= 2,365 / 74,9 = 0,032
e
14
= 2,58 / 74,9 = 0,034
e
15
= 2,623 / 74,9 = 0,035
e
16
= 2,688 / 74,9 = 0,036
e
17
= 2,795 / 74,9 = 0,037
e
18
= 3,01 / 74,9 = 0,04
e
19
= 3,053 / 74,9 = 0,041
e
20
= 3,118 / 74,9 = 0,042
e
21
= 3,225 / 74,9 = 0,043
0
L
L
e
i
teknis
A
=
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 37

e
22
= 3,44 / 74,9 = 0,046
e
23
= 3,483 / 74,9 = 0,047
e
24
= 3,87 / 74,9 = 0,052
e
25
= 4,3 / 74,9 = 0,057
e
26
= 5,375 / 74,9 = 0,072
e
27
= 5,805 / 74,9 = 0,078
e
28
= 6,128 / 74,9 = 0,082
e
29
= 6,45 / 74,9 = 0,086
e
30
= 6,08 / 74,9 = 0,092
e
31
= 7,31 / 74,9 = 0,098
e
32
= 8,17 / 74,9 = 0,109
e
33
= 12,47 / 74,9 = 0,166
e
34
= 15,05 / 74,9 = 0,201
e
35
= 16,34 / 74,9 = 0,218
e
36
= 16,985 / 74,9 = 0,227
e
37
= 17,63 / 74,9 = 0,235
e
38
= 18,06 / 74,9 = 0,241
e
39
= 18,49 / 74,9 = 0,247
e
40
= 18,92 / 74,9 = 0,253


e. Menentukan Nilai

σ
1
= 0 x (0 + 1) = 0 Kgf/mm
2
σ
2
= 1,632 x (0.001 + 1) = 1,633 Kgf/mm
2

σ
3
= 4,896 x (0,06 + 1) = 4,925 Kgf/mm
2
σ
4
= 8,161 x (0,007 + 1) = 8,217Kgf/mm
2
σ
5
= 11,425 x (0,0011 + 1) = 11,556 Kgf/mm
2
σ
6
= 14,689 x (0,014+ 1) = 14,900 Kgf/mm
2
σ
7
= 17,954 x (0,017+ 1) = 18,263 Kgf/mm
2
σ
8
= 21,218 x (0,02 + 1) = 21,644 Kgf/mm
2
σ
9
= 24,482 x (0,023 + 1) = 25,045 Kgf/mm
2
true
o
) 1 ( + = e x
teknis true
o o
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 38

σ
10
= 27,747 x (0,026 + 1) = 28,463 Kgf/mm
2
σ
11
= 29,379 x (0,027 + 1) = 30,180Kgf/mm
2
σ
12
= 32,643 x (0,03 + 1) = 33,627 Kgf/mm
2
σ
13
= 34,275 x (0,032 + 1) = 35,357 Kgf/mm
2
σ
14
= 35,907 x (0,034 + 1) = 37,144 Kgf/mm
2
σ
15
= 37,54 x (0,035 + 1) = 38,854 Kgf/mm
2
σ
16
= 39,172 x (0,036 + 1) = 40,577 Kgf/mm
2
σ
17
= 42,436 x (0,037 + 1) = 44,020 Kgf/mm
2
σ
18
= 44,068 x (0,04 + 1) = 45,839 Kgf/mm
2
σ
19
= 45,7 x (0,041 + 1) = 47,563 Kgf/mm
2
σ
20
= 47,332 x (0,042 + 1) = 49,303 Kgf/mm
2
σ
21
= 48,965 x (0,043 + 1) = 51,073 Kgf/mm
2
σ
22
= 50,597 x (0,046 + 1) = 52,921 Kgf/mm
2
σ
23
= 48,965 x (0,047 + 1) = 51,242 Kgf/mm
2
σ
24
= 50.597 x (0,052 + 1) = 53,211 Kgf/mm
2
σ
25
= 53,861 x (0,057 + 1) = 56,953 Kgf/mm
2
σ
26
= 58,758 x (0,072 + 1) = 62,974 Kgf/mm
2
σ
27
= 63,654 x (0,078 + 1) = 68,587 Kgf/mm
2
σ
28
= 65,286 x (0,082 + 1) = 70,627 Kgf/mm
2
σ
29
= 66,918 x (0,086 + 1) = 72,681 Kgf/mm
2
σ
30
= 68,55 x (0,092 + 1) = 74,847 Kgf/mm
2
σ
31
= 70,183 x (0,098 + 1) = 74,847 Kgf/mm
2
σ
32
= 71,185 x (0,109 + 1) = 79,648Kgf/mm
2
σ
33
= 73,447 x (0,166 + 1) = 85,675 Kgf/mm
2
σ
34
= 71,815 x (0,201 + 1) = 86,245 Kgf/mm
2
σ
35
= 68,55 x (0,218 + 1) = 83,505 Kgf/mm
2
σ
36
= 66,918 x (0,227 + 1) = 82,093 Kgf/mm
2
σ
37
= 63,654 x (0,235 + 1) = 78,637Kgf/mm
2
σ
38
= 60,39 x (0,241 + 1) = 74,951 Kgf/mm
2
σ
39
= 57,125 x (0,247 + 1) = 71,227 Kgf/mm
2
σ
40
= 53,861 x (0,253 + 1) = 67,467 Kgf/mm
2

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 39

f. Menentukan Nilai


ε
1
= Ln (0 + 1) = 0
ε
2
= Ln (0,001 + 1) = 0,001
ε
3
= Ln (0,006 + 1) = 0,006
ε
4
= Ln (0,007 + 1) = 0,007
ε
5
= Ln (0,011 + 1) = 0,011
ε
6
= Ln (0,014 + 1) = 0,014
ε
7
= Ln (0,017 + 1) = 0,017
ε
8
= Ln (0,02 + 1) = 0,02
ε
9
= Ln (0,023 + 1) = 0,023
ε
10
= Ln (0,026 + 1) = 0,026
ε
11
= Ln (0,027 + 1) = 0,027
ε
12
= Ln (0,03 + 1) = 0,03
ε
13
= Ln (0,032 + 1) = 0,031
ε
14
= Ln (0,0,34 + 1) = 0,034
ε
15
= Ln (0,035 + 1) = 0,034
ε
16
= Ln (0, 036 + 1) = 0, 035
ε
17
= Ln (0, 037 + 1) = 0,037
ε
18
= Ln (0,04 + 1) = 0,039
ε
19
= Ln (0,041 + 1) = 0,04
ε
20
= Ln (0,042 + 1) = 0,041
ε
21
= Ln (0,043 + 1) = 0,042
ε
22
= Ln (0,046 + 1) = 0,045
ε
23
= Ln (0,047 + 1) = 0,045
ε
24
= Ln (0,052 + 1) = 0,05
ε
25
= Ln (0,057 + 1) = 0,056
ε
26
= Ln (0,072 + 1) = 0,069
ε
27
= Ln (0,078 + 1) = 0,075
ε
28
= Ln (0,082 + 1) = 0,079
ε
29
= Ln (0,086 + 1) = 0,083
true
c
) 1 ( + = e Ln
true
c
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 40

ε
30
= Ln (0,092 + 1) = 0,088
ε
31
= Ln (0,098 + 1) = 0,093
ε
32
= Ln (0,109 + 1) = 0104
ε
33
= Ln (0,166 + 1) = 0,154
ε
34
= Ln (0,201 + 1) = 0,183
ε
35
= Ln (0,218 + 1) = 0,197
ε
36
= Ln (0,227 + 1) = 0,204
ε
37
= Ln (0,235 + 1) = 0,211
ε
38
= Ln (0,241 + 1) = 0,216
ε
39
= Ln (0,247 + 1) = 0,221
ε
40
= Ln (0,253 + 1) = 0,225






























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 41

4.3 Grafik
1. Kurva Tegangan Regangan Teknis




2. Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya











0.000
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
80.000
0
.
0
0
0
0
.
0
0
6
0
.
0
1
1
0
.
0
1
7
0
.
0
2
3
0
.
0
2
7
0
.
0
3
2
0
.
0
3
5
0
.
0
3
7
0
.
0
4
1
0
.
0
4
3
0
.
0
4
7
0
.
0
5
7
0
.
0
7
8
0
.
0
8
6
0
.
0
9
8
0
.
1
6
6
0
.
2
1
8
0
.
2
3
5
0
.
2
4
7
0.000
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
80.000
90.000
100.000
0
.
0
0
0
0
.
0
0
6
0
.
0
1
1
0
.
0
1
7
0
.
0
2
3
0
.
0
2
7
0
.
0
3
1
0
.
0
3
4
0
.
0
3
7
0
.
0
4
0
0
.
0
4
2
0
.
0
4
5
0
.
0
5
6
0
.
0
7
5
0
.
0
8
3
0
.
0
9
3
0
.
1
5
4
0
.
1
9
7
0
.
2
1
1
0
.
2
2
1
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 42

4.4 Analisa
Pada percobaan uji tarik ini akan terlihat fenomena-fenomena pada
spesimen, yaitu:
1. Elastisitas
Yaitu saat percobaan, pada daerah elastis jarum cepat bergerak, dan jika
beban dihilangkan maka spesimen kembali kebentuk semula dengan P
yield

= 4825.
2. Plastisitas
Yaitu spesimen tidak mampu menahan pembebanan dan jika beban
dilepaskan tidak kembali ke bentuk semula. Ini terjadi ketika berada di
daerah plastis dan telah melewati P
y
= 4825.
3. Fenomena Luluh
Yaitu spesimen mengalami sebagian kecil deformasi plastis. Ini terjadi
pada beban 4825. Yaitu pada titik yield, karena pada batas itu spesimen
bisa menahan pembebanan.
4. Necking
Yaitu pengecilan penampang spesimen karena adanya pembebanan. Ini
terjadi setelah spesimen melewati titik ultimatenya, yaitu 7175.
5. Bidang Patah
Yaitu spesimen tidak mampu lagi menahan pembebanan dan
menyebabkan spesimen putus. Ini terjadi setelah mencapai batas
maksimal, yaitu titik fracture, P
f
= 5325. Peerpatahan terjadi karena
ikatan-ikatan antar partikel tidak sanggup lagi menahan beban yang
mengakibatkan spesimen putus.

Pada pengujian tarik juga terjadi penambahan panjang spesimen ini terjadi
setelah spesimen melewati daerah elastis dan masuk ke daerah plastis. Yaitu
setelah P
yield
= 4825. Ini dapat dilihat sebelum L
0
= 74,9 mm dan setelah diberi
pembebanan sampai mencapai P
f
= 5325 spesimen menjadi 93,7 mm. Jadi dengan
kata lain spesimen bertambah panjang.
Dan pada data dapat dilihat juga perbandingan antara D
0
dan D
1
. D
0
= 10,8
dan setelah dilakukan pembebanan ternyata didapatkan D
1
= 7,95. Pengecilan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 43

diameter ini terjadi setelah spesimen melewati titik ultimatenya maka akan terjadi
pengecilan penampang (necking).
Apabila terjadi pemanjangan dan necking dalam waktu yang lama, itu
menandakan suatu material atau spesimen bisa dianggap ulet, namun jika suatu
spesimen mengalami necking yang sebentar maka dapat dikatakan bahwa material
ersebut memiliki sifat getas.
Dari kurva pada mesin dapat ditentukan / didapatkan kurva tegangan
regangan teknis dan sebenarnya.
























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 44

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada pengujian tarik, akan didapat kurva yang menunjukkan antara beban
tarik dengan perubahannya. Dari pengujian ini juga didapatkan sifat mekanik dari
suatu material, yaitu:
1. Kekuatan tarik
2. Keuletan
3. Tegangan luluh
4. Tegangan putus
5. Modulus elastisitas
Selain itu, juga bisa dilihat fenomena-fenomena yang terjadi pada uji tarik,
yaitu:
a. Elastisitas
b. Plastisitas
c. Fenomena luluh
d. Bidang patah
e. Necking
5.2 Saran
1. Teliti dalam melihat skala pada alt pengujian.
2. Teliti dalam memeriksa grafik agar mendapatkan hasil yang maksimal.







Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 45

loodcess
crosshead
spesimen
TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM
1. Bagaimana hubungan antara kekuatan tarik dengan kekerasan. Tuliskan
rumusnya dan tentukan batasan pemakainya
Hubungan antara kekuatan tarik dan kekerasan berbanding lurus semakin
besar kekuatan maka kekerasan semakin besar pula.
Kekuatan tarik =
0 A
F



Kekerasan =
A
F


2. Bagaimana cara memprkirakan kekuatan tarik spesimen untuk menentukan
skala beban pada mesin uji tarik
Cara menentukan kekuatan tarik pada mesin uji tarik yaitu dengan
perbandingan :
- Melihat jenis material yang diuji.
- Memperlihatkan bentuk penampang dari specimen dan kekerasan dari
specimen.
- Besarnya pembebanan diukur dengan dinamometer yang ada
disamping mesin.
3. Apakah yang saudara ketahui tentang mesin uji tarik, gambarkan sketsa
mesin dan jelaskan prinsip kerjanya








4. Apakah yang saudara ketahui tentang kekuatan tarik, batas luluh,
perpanjangan dan reduksi penampang?
- Kekuatan Tarik adalah kemampuan material untuk menahan
deformasi total hingga patah
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 46

- Batas luluh adalah batas dimana terjadi perubahan sifat dari elastis
menjadi plastis.
- Perpanjangan adalah pertambahan panjang saat dilakukan uji tarik.
- Reduksi penampang adalah pengurangan luas peenampang akibat
ditambahnya pembebanan pada uji tarik

5. Gambarkan kurva uji tarik, kurva tegangan-regangan teknis dan kurva
tegangan-regangan sebenarnya
a. Kurva e - o
(Tegangan dan Regangan Teknis)


b. Kurva E - tr o
(Tegangan dan Regangan Sebenarnya)












Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 47

TUGAS SESUDAH PRAKTIKUM
1. Jelaskan pengertian-pengertian berikut:
a. Tegangan dan regangan teknik
b. Tegangan dan regangan sebenarnya.
c. Buatlah diagram tersebut dari pengujian tarik yang dilakukan!
Jawab :
a. Tegangan teknik merupakan banyaknya gaya yang diberikan pada luas
penampang spesimen.
Regangan teknik merupakan besarnya perubahan panjang material yang
diberi gaya terhadap panjang awal.
b. Tegangan sebenarnya merupakan gaya yang diberikan pada luas wilayah
tertentu sewaktu dilakukan pengujian tarik.
Regangan sebenarnya merupakan perubahan ukuran material terhadap
panjang sesaat sewaktu dilakukan pengujian tarik.
c. Diagram/ Grafik untuk pengujian tarik


0.000
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
80.000
0
.
0
0
0
0
.
0
0
6
0
.
0
1
1
0
.
0
1
7
0
.
0
2
3
0
.
0
2
7
0
.
0
3
2
0
.
0
3
5
0
.
0
3
7
0
.
0
4
1
0
.
0
4
3
0
.
0
4
7
0
.
0
5
7
0
.
0
7
8
0
.
0
8
6
0
.
0
9
8
0
.
1
6
6
0
.
2
1
8
0
.
2
3
5
0
.
2
4
7
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 48



2. Nyatakan dan berikan interprestasi atas hasil pengujian tarik tersebut.
Jawab:
Interprestasi atas pengujian tarik adalah uji tarik dilakukan dengan UTM
yang bertujuan untuk mendapatkan kurva uji tarik kemudian kurva ini akan
diubah menjadi kurva tegangan-regangan sebenarnya.
3. Bila hubungan antara tegangan sebenarnya dan perpanjangan garis sejajar
dapat dinyatakan dengan persamaan σ = Kɛ
n
, tentukan harga K dan n :
Y = 18.38e
8.374x
Harga k = 18.38
Harga n = 8.374

0.000
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
80.000
90.000
100.000
0
.
0
0
0
0
.
0
0
6
0
.
0
1
1
0
.
0
1
7
0
.
0
2
3
0
.
0
2
7
0
.
0
3
1
0
.
0
3
4
0
.
0
3
7
0
.
0
4
0
0
.
0
4
2
0
.
0
4
5
0
.
0
5
6
0
.
0
7
5
0
.
0
8
3
0
.
0
9
3
0
.
1
5
4
0
.
1
9
7
0
.
2
1
1
0
.
2
2
1
y = 18.383e
8.3747x

0
20
40
60
80
100
120
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
Series1
Expon. (Series1)
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 49

4. Apakah dari pengujian yang dilakukan anda dapat langsung menghitung
modulus elastisitas dari bahan tersebut?
Jawab :
Nilai modulus elastisitas dari bahan dapat ditentukan karena terdapat kurva
yang langsung diperoleh nilai tegangan dan regangan.
































Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 50







Objek : Uji Keras

























Asisten :Andi Nofrianto













Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 51

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.
Material mempunyai berbagai macam sifat mekanik yaitu
kekerasan,keuletan,ketangguhan,kelentingan,kekuatan,dll. Pemahaman
mengenai sifat tersebut harus dikuasai oleh seorang engineer. Dan untuk
mendapatkan material yang berkualitas diperlukan pengujian terhadap
material tersebut.
Pada pratikum kali ini akan dibahas salah satu sifat mekanik,yaitu
kekerasan. Kekerasan tiap material berbeda-beda untuk dapat menentukan
nilai kekerasan dari suatu bahan dapat digunakan beberapa metode seperti
metode rockwell,brineel,vickers,meyers,dan knoop.untuk itu di pelajari cara
menentukan kekerasan material agar daoat di proses sesuai dengan sifatnya.
I.2 Tujuan
1. Mahasiswa mampu membandingkan beberapa metode pengukuran
kekerasan.
2. Mahasiswa mampu menentukan angka kekerasan bahan.
3. Mahasiswa mampu mengiterpretasikan hasil uji keras.
I.3 Manfaat
Dari pengujian keras, praktikan mampu mengetahui sifat mekanik dari
sebuah material, sehingga dapat menggunakan material yang tepat untuk
membuat suatu produk.








Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 52

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Khusus
Definisi kekerasan secara umum adalah ketahanan material terhadap
deformasi plastis lokal akibat penetrasi di permukaan.
Kekerasan dapat juga didefinisikan melalui beberapa pandangan yaitu :
1. Ketahanan terhadap goresan
Dilakukan dengan menggoreskan material yang lebih keras dari
benda uji.
2. Ketahanan terhadap deformasi plastis
Diukur dengan pemberian beben lokal melalui penekanan. Cara
yang umum dilakukan dengan metode Brinell, Rockwell,
Vickers, Meyers, Knoop.
3.besarnya energi yang diserap selama pembebanan dinamik
2.2 Metode Pengujian Kekerasan
Beberapa definisi yang dipakai untuk menyatakan kekerasan adalah:
2.2.1 Metode Goresan
Ketahanan terhadap goresan dilakukan secara langsung
menggoreskan material yang lebih keras dari pada spesimen uji.
Kekerasan diukur dengan skala Mohs, yaitu :
a. Talk , yaitu batuan yang sangat lunak dengan kekerasan 1 pada
skala Mohs, mempunyai komposisi kimia(OH)2 Mg3Si4O10,
pada umumnya berwarna putih. Berikut merupakan gambarnya :

Gambar 1.13 Talk
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 53

b. Gypsum , yaitu salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium
yang mendominasi pada mineralnya. Yang paling umum
ditemukan adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan rumus
kimia CaSO4.2H2O. Sifat lunak dan pejal dengan skala Mohs
1,5-2 dan umumnya berwarna putih, kelabu, cokelat, kuning dan
transparan. Berikut merupakan gambarnya :

Gambar1.14 Gypsum
c. Kalsit, yaitu merupakan mineral utama pembentuk batu
gamping, dengan unsur pembentuk kimianya terdiri dari Ca
dan CO3 . Pada umumnya tidak berwarna atau transparan
dengan kekerasan 3 skala Mohs. Berikut merupakan gambarnya
:

Gambar 1.15 Kalsit
d. Fluorit, yaitu bersifat transparan dan memiliki variasi warna
hijau, merah, pink, ungu, orange, biru, dan putih. Kekerasan 4
skala Mohs dengan unsur kimia CaCO3. Berikut merupakan
gambarnya :
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 54


Gambar 1.16 Fluorit

e. Apatit, yaitu memiliki warna yang bervariasi yang banyak,
seperti kuning, putih, cokelat, biru, hingga ungu terang. Bersifat
transparan dan memiliki kekerasan 5 skala Mohs. Berikut
merupakan gambarnya :

Gambar 1.17 Apatit
f. Felspar, yaitu bersifat keras dan memiliki unsur kimia(KAlSi
3
O
8

- NaAlSi
3
O
8
- CaAl
2
Si
2
O
8
). Umumnya berwarna putih, cokelat
dan hijau dengan kekerasan 6 skala Mohs. Berikut merupakan
gambarnya :

Gambar 1.18 Felspar
g. Kuarsa, yaitu salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak
kontinen bumi dan memiliki unsur kimia SiO2. Bersifat
transparan dan tidak memiliki warna dengan kekerasan 7 skala
Mohs. Berikut merupakan gambarnya :
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 55


Gambar 1.19 Kuarsa
h. Topas, yaitu memiliki unsur kimia Al
2
SiO
4
(F,OH)
2
). Bersifat
transparan bening, dengan warna biru, cokelat, orange, hijau,
kuning dan pink. Nilai kekerasan 8 skala Mohs. Berikut
merupakan gambarnya :

Gambar 1.20 Topas
i. Korundium, yaitu memiliki unsur kimia (Al
2
O
3
). Bersifat
transparan dengan warna cokelat, merah hati, biru, ungu dan
pink. Nilai kekerasan 9 Skala Mohs. Berikut merupakan
gambarnya :

Gambar 1.21 Korundium
j. Intan, yaitu mineral yang secara kimia merupakan bentuk
kristal, atau alotrop, dari karbon. Intan terkenal karena memiliki
sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama faktor kekerasannya
dan kemampuannya mendispersikan cahaya. Kekerasan 10 skala
Mohs. Berikut merupakan gambarnya :
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 56


Gambar 1.22 Intan

Semakin tinggi indeks Mohs, maka semakin keras material.
Kekuatan logam terletak pada 4-6 Indeks Mohs dan yang paling
keras merupakan intan dengan kekerasan 10 skala Mohs.
2.2.2 Metode Pantulan


h 1
h 2


Gambar 1.23 Metode lantunan bola

Dilakukan dengan cara Scleroscope (metode lantunan bola).
Pengujian dilakukan dengan menjatuhkan bola dengan ukuran
tertentu dan ketinggian lantunan bola. Material lunak dapat
memberikan pantulan terhadap bola baja lebih rendah dibandingkan
material keras. Hal ini dikarenakan energi yang diserap oleh
material yang lebih lunak akan lebih besar dibandingkan dengan
material yang keras. Sehingga pantulannya akan semakin rendah.

ΔEP = EP1 – EP2\
= mgh1 – mgh2
= mg( h1 - h2 )
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 57

Semakin rendah nilai ketinggian dari pantulan ( h2 ) dari suatu
benda menyebabkan meningkatnya nilai ΔEP dikarenakan energi
yang diserap oleh material besar
Kerugian menggunakan metode ini adalah :
a. Bila material keras maka kemungkinan bola menjadi patah.
b. Tidak dapat dihitung kekerasannya
c. Bila plat tipis, pantulan tidak murni lagi karena sudah ada pengaruh
landasan.
2.2.3 Metode Penekanan
Logam yang diuji ditekan sehingga berbentuk bekas penekanan.
Prinsip umum pengujian ini adalah menekan spesimen uji dengan
suatu indentor, lalu dicari nilai kekerasannya. Metode ini terbagi
menjadi 5 cara, yaitu :
2.2.3.1 Kekerasan Brinell
Yaitu berupa pembentukan lekukan pada permukaan
dengan menggunakan bola baja sebagai penetrator. Beban
diletakkkan selama waktu beberapa saat, lekukan diameter
diukur dengan mikroskop.
Setelah beban dihilangkan kemudian dicari rata-rata dari 2
buah pengukuran diameter pada jejak yang berarah tegak
lurus.

x
D/2 D t t

d/2
Gambar 1.24 Pengukuran Diameter Pada Jejak Yang
Berarah Tegak Lurus.

t = D/2 – x
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 58

2 2
) 2 / ( ) 2 / ( d D x ÷ =
÷ = 2 / D t
2 2
) 2 / ( ) 2 / ( d D ÷
) ( 2 / 1
2 2
d D D ÷ ÷ =
BHN = P/A = P/πDt
) ) 2 / ( ) 2 / ( 2 / (
2 2
d D D D
P
BHN
÷ ÷
=
t


) ( 2 /
2 2
d D D D
P
÷ ÷
=
t

) (
2
2 2
d D D D
P
BHN
÷ ÷
=
t

2.2.3.2 Kekerasan Meyer
Meyer mengajukan definisi kekerasan yang lebih rasional
dari pada Brinell yakni berdasarkan luas proyek jejak
bukan luas permukaannya. Tekanan rata-rata antara
penumbuk dan lekukan adalah beban dibagi proyeksi
lekukan.
r = ½ d
A =
2
r
= (½ d)
2

= 4 /
2
d t
BHN =
2 2
4
4 / d
P
d
P
A
P
t t
= =





Gambar 1.25 Pengukuran Diameter Pada Jejak
Yang Berarah Tegak Lurus.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 59

2.2.3.3 Kekerasan Vickers
Uji kekerasan Vickers dilakukan dengan menggunakan
penumbuk piramida intan yang dasarnya berbentuk bujur
sangkar. Besarnya sudut antara permukaan piramida yang
saling berhadapan adalah 136
o
.




Gambar 1.26 Penumbuk Piramida Intan
Gambar dibawah ini adalah penumbuk piramida intan
tampak depan







Gambar 1.27 Penumbuk Piramida Intan
(Tampak Depan)
X = d/2 sin 45
0

= d/2 ½ 2
= d/4 2]

0 0 0
68 4
2
68
2 d/4
68
) (
Sin
d
Sin Sin
x FG
Fo = = =
Luas = ½ . 2x . fo
= ½ . 2(d/4 2)
0
68 4
2
Sin
d

=
0
68 8
2
Sin
d


Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 60

1. A (Luas permukaan lekukan)
= 4 x luas A
=
0
2
68 8
4
Sin
d
x
= ½
0
2
68 Sin
d

VHN =
2
0
0
2
68 . 2
68 2
d
Sin P
Sin
d
P
A
P
= =

VHN =
2
2 1 854 , 1
2
d d
d
d
P +
= =
2.2.3.4 Kekerasan Knop
Disebut juga dengan kelarasan mikro. Pada dasarnya
pengujian knop hampir sama dengan Vickers, tetapi
berbeda pada fungsinya dimana pengujian Knop dilakukan
untuk menguji material yang kecil.
Bentuk penekanan






Gambar 1.28 Bentuk Penekan Kekerasan Knop
b = l / 7,11 ; b.t = 4 - HKN = P/A = P/(l x b /2)
l / b = 7,11 = P/ (l x l/7,11)/
2
HKN =
2
2 , 14
l
P

2.2.3.5 Kekerasan Rockwell
Uji kekerasan yang paling banyak dipakai adalah uji
Rockwell, hal ini dikarenakan, Cepat , Bebas dari kesalahan
Vb = 7,11
b/t = 4,00
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 61

manusia dan Mampu membedakan kekerasan yang
memiliki perbedaan kecil pada baja yang diperkeras,
sehingga bagian yang mendapat perlakuan panas dapat diuji
kekerasannya. Uji Rockwell menggunakan kerucut intan
sebagai penetrasi dan untuk Superficial. Rockwell
menggunakan bola baja dengan diameter 1/16, 1/8, ¼,1/2
(inchi).
Skala Rockwell :
Superficial Rockwell :
A = Beban mayor 60 kg
B = Beban mayor 100 kg
C = Beban mayor 150 kg
Penggunaan skala Rockwell untuk logam :
Keras = Skala Rockwell A
Lunak = Skala Rockwell B
HT = Skala Rockwell C






Gambar C.2.5 Bentuk Penekanan Rockwell (Tampak Samping)








Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 62

Skala kekerasan bahan







Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 63


2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kekerasan
Beberapa faktor – faktor yang mempengaruhi kekerasan antara lain :
2. Jenis material
Dimana material anorganik terbagi atas 2 yaitu logam dan non logam
dimana pada umumnya logam cenderung memiliki kekerasan yang
lebih tinggi dibandingkan non logam dikarenakan logam memiliki
ikatan ion dan kovalen
3. Komposisi paduan jika unsur paduan yang saling menguatkan maka
material semakin keras
4. Berdasarkan kandungan karbon dari material tersebut maka apabila
%C yang terdapat pada material tinggi maka material tersebut akan
bersifat keras.



















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 64

BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan dan Bahan
Pada percobaan uji keras, digunakan :
- Beban
- Tuas pengendali
- Spesimen uji
- Penumpuk
- Skala

3.2 Skema Alat

Gambar C.3.1 Alat Uji Keras Rockwell

3.3 Prosedur Percobaan
1. Permukaan benda uji (specimen) dibersihkan hingga permukaan tersebut
rata dan sejajar terhadap permukaan meja uji.
2. Pemilihan metode pengujian kekerasan yang dipakai didasarkan atas
keperluan.
3. Pengukuran kekerasan dilakukan dibeberapa titik pada permukaan benda
uji.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 65

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan

Material No. Beban Identor Warna Skala HRC


Besi
1
2
3
4
5


60 Kg


Diamond Cone


Hitam
48,5
51,5
51,5
52
52


Baja
1
2
3
4
5


60 kg


Diamond Cone


Hitam
42,5
45
44
45
46,5


Kuningan
1
2
3
4
5


60 Kg


Diamond Cone


Hitam
34
36
33,5
32,5
33,5
Tabel C.4.1 Data perhitungan

4.2 Perhitungan
Konversi harga kekerasan dari Rockwell ke Brinell
1. Interpelasi data dan tabel konversi harga kekerasan.
A. Besi
1. HRA = 48,5 BHN = 144
2. HRA = 51,5 BHN = 160,5
52 51,5
51,5 x
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 66

51 159

159 161
159
51 52
51 5 , 51
÷
÷
=
÷
÷ x


159
3
5 , 0
1
÷
=
x

X = 160,5
3. HRA = 51,5 BHN = 160,5
4. HRA = 52 BHN = 162
5. HRA = 52 BHN = 162

B. Baja
1. HRA = 42,5 BHN = 119
2. HRA = 45 BHN = 130
3. HRA = 44 BHN = 125
4. HRA = 45 BHN = 130
5. HRA = 46,5 BHN = 137
C. Kuningan
1. HRA = 34 BHN = 34
2. HRA = 36 BHN = 36
3. HRA = 33,5 BHN = 33,5
4. HRA = 32,5 BHN = 32,5
5. HRA = 33,5 BHN = 33,5










Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 67

4.3 Tabel Perhitungan
Bahan No HRA BHN
Besi
1 48,5 144
2 51,5 160,5
3 51,5 160,5
4 52 162
5 52 162
Baja
1 42,5 119
2 45 130
3 44 125
4 45 130
5 46,5 137
Kuningan
1 34 34
2 36 36
3 33,5 33,5
4 32,5 32,5
5 33,5 33,5
Tabel C.4.5 Data perhitungan


















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 68

4.4 Grafik
1. HRA

2. BHN






0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5
Besi
Baja
Kuningan
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
1 2 3 4 5
besi
baja
kuningan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 69

4.5 Analisa

Pengujian uji keras merupakan jenis pengujian yang bersifat merusak
spesimen. Alat uji yang dipakai dalam pratikum kali ini adalah Rockwell
Hardness Tester. Pada saat spesimen diuji dengan mesin Rockwell, material akan
mendapat tekanan atau penetrasi dari identor intan, sehingga terlihat pada
spesimen akan ada lekukan atau lubang-lubang pada permungkaan material .
Pada percobaan yang telah kami lakukan digunakan 3 buah spesimen,
yaitu tembaga, alumunium, dan kuningan. Pada pratikum diambil lima titik pada
tiap spesimen . Kelima titik ini diambil untuk mewakili nilai kekerasan material
tersebut. Pada mesin Rockwell Hardness Tester, digunakan skala A dengan beban
sebesar 60 kg. Nilai kekerasan yang didapat dari mesin Rockwell satuannya adalah
HRC, yang nantinya akan di konversikan ke nilai kekerasan Brinell yang
satuannya BHN. Konversi nilai kekerasan didapatkan menggunakan tabel
konversi harga kekerasan.
Pada pengujian pertama yaitu tembaga, didapatkan nilai kekerasan rata-
ratanya 2,88 HRC. Namun setelah dikonversikan ke nilai kekerasan Brinell,
nilainya adalah 0 BHN untuk kelima titik yang di uji. Hal ini disebabkan karena
nilai yang bisa dikonversikan dalam harga Brinell adalah nilai yang kekerasannya
20 kg ke atas dari Rockwell skala A.
Pada pengujian alumunium, dari kelima titik yang diuji nilai kekerasannya
maka didapat nilai kekerasan rata-ratanya adalah 46,6 HRC. Setelah
dikonversikan ke harga kekerasan Brinell maka didapatkan nilai kekerasannya
berkisar 120 BHN sampai 123 BHN.
Pada pengujian kuningan, dari kelima titik yang diuji nilai kekerasannya,
maka didapatkan nilai rata-rata nilai kekerasannya adalah 32,44 HRC. Setelah
dikonversikan ke harga kekerasan Brinell maka didapatkan nilai kekerasan Brinell
sekitar 77 BHN sampai 79 BHN.
Pengujian keras pada tiap-tiap spesimen , nilai kekerasan yang didapat dari
kelima titik yang diuji berbeda-beda. Ini terjadi karena kekersan pada seluruh
bagian material tidaklah sama. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya
dislokasi pada material tersebut.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 70

Selanjutnya dari nilai kekerasan dari masing-masing spesimen yang telah
diuji didapatkan bahwa nilai kekerasan alumunium lebih keras dibandingkan nilai
kekerasan dari kuningan dan nilai kekerasan tembaga. Namun menurut literatur
nilai kekerasan kuningan dalah yang paling tinggi dari spesimen alumunium dan
tembaga. Pada dasarnya kuningan terdiri dari unsur tembaga dan seng dimana
unsur tembaga yang terkandung lebih banyak dari kandungan seng.
Pada grafik juga kelihatan dengan jelas yang mana nilai kekerasan
alumunium lebih tinggi dari nilai kekerasan kuningan maupun nilai kekerasan
tembaga. Nilai rata-rata kekerasan untuk spesimen alumunium adalah 46,6 HRC
dan nilai kekerasan rata-rata untuk kuningan adalah 32,44 HRC. Sedangkan untuk
tembaga yang mana memiliki nilai rata-rata kekerasannya yang paling kecil
diantara spesimen yang diuji adalah 2,88 HRC. Dari nilai tersebut jelas
menunjukan bahwa pada percobaan ini nilai kekerasan yang paling tinggi adalah
spesimen alumunium dan paling rendah adalah spesimen tembaga.
Pada pengujian ini terdapat beberapa kesalahan yang terjadi bila dibandingkan
secara teoristis yaitu :
1. Nilai kekerasannya tidak sama disemua titik pada spesimen
2. Nilai kekerasan pada kuningan harusnya lebih tinggi bila dibanding
nilai kekerasan pada spesimen Aluminium tetapi jika kita ambil nilai
rata-rata kekerasannya nilai kekerasan alumunium lebih tinggi dari
nilai kekerasan tembaga.
Perbedaan nilai kekerasan percobaban dengan literatur bisa disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Ketidaktelitian dalam membaca skala.
2. Alat uji yang kurang akurat.
3. Dislokasi pada daerah tertentu pada material.
4. Ukuran butir yang tidak sama pada material.
5. Terjadinya beban yang tidak stabil.



Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 71

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Nilai kekerasan dari masing-masing titik yang diuji pada tiap spesimen
berbeda-beda.
2. Dari percobaan yang didapatkan, nilai kekerasan yang paling tinggi
adalah alumunium. Yang kedua adalah kuningan dan yang paling randah
adalah tembaga. Namun dari literatur nilai kekerasan kuningan lebih
tinggi daripada nilai kekerasan alumunium.
3. Metode pengujian dengan Rockwell lebih mudah digunakan
dibandingkan pengujian dengan metode lainnya karena skala pada
Rockwell dapat langsung dibaca.

5.2 Saran
1. Teliti dalam membaca skala Rockwell agar tidak terjadi kesalahan
dalam menentukan angka kekerasan spesimen.
2. Perhatikan cara pengamplasan dengan benar agar permukaan rata.
3. Hindari gerakan yang berlebihan pada saat menggunakan Rockwell
Hardness Tester agar terjadi keseimbangan pada saat penunjukan
skala.











Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 72

TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM
1) Kekerasan suatu bahan menurun jika bahan tersebut dipanaskan. Hal ini
dikarenakan fase atau struktur dari bahan tersebut berubah menjadi mendekati ke
cair yang berkonsekuensi pada perubahan sifat mekanis suatu bahan. Selain itu,
kemampuan dukung bahan cenderung menurun.
2) Metode Pengukuran
a. Brinell
Identor : Bola baja, d = 10 mm
Rumus :
) (
2
2 2
d D D D
P
BHN
÷ ÷
=
t

b. Rockwell
Identor : - Kerucut intan
- Bola baja, d = ½, 1/4, 1/8, 1/16 inchi
Kekerasan dapat dibaca langsung pada skala mesin.
c. Vickers
Identor : Piramid intan
Rumus : VHN =
2
854 , 1
d
P

d. Meyer
Identor : Bola baja
Rumus : MHN =
2
4
d
P
A
P
t
=
3) Kekerasan suatu bahan berbanding lurus dengan kekuatan tariknya karena
pada dasarnya kekerasan merupakan ketahanan suatu bahan terhadap deformasi
plastis akibat penetrasi pada permukaan, sedangkan kekuatan tarik adalah ukuran
besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan.
Kekerasan dan kekuatan tarik adalah sebanding dengan semakin kerasnya suatu
bahan maka akan semakin tinggi kekuatan kolerasinya.


Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 73

TUGAS SESUDAH PRAKTIKUM

1. Kekerasan sebanding dengan kekuatan
Kekerasan dan kekuatan bahan terhadap deformasi adalah semakin
tinggi. Semakin luas permukaan benda maka akan semakin besar
kekuatan yang diperlukan untuk mematahkan benda tersebut.
Hubungan antara kekerasan dengan kekuatan :

A
P
c =
Keterangan :
c = Kekuatan tarik (kg/mm
2
)
P = Berat beban (kg)
A = Luas penampang (mm
2
)
Kekerasan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi
plastis lokal akibat adanya penetrasi di permukaan.
Kekuatan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi
plastis secara menyeluruh di permukaan.
Dengan mengetahui kekerasan kita bisa memperkirakan kekuatan tarik
material tersebut. “ TS(Mpa) = 3,45 x BHN “.

2. Mengapa konsep kedataran dan kerataan perlu dalam uji keras?
Karena tidak rata dan datarnya suatu permukaan specimen akan
mempengaruhi dalam atau dangkalnya lekukan yang dihasilkan oleh
pembebanan. Selain itu apabila specimen tidak datar atau rata. Maka
akan mengakibatkan identor tidak berada dalam posisi tegak pada saat
pembebanan dilakukan
3. Tentukan rata-rata standar deviasi dari data yang dilakukan maka akan
diperoleh :
Standar Deviasi untuk tembaga = 203,6
Standar Deviasi untuk kuningan = 69,2
Standar Deviasi untuk baja = 69,2
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 74








Objek : Uji Impak















Asisten :Faisal Rahman










Asisten: Viktor Martin



Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 75

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Produk yang beredar pada saat sekarang terbuat dari berbagai macam jenis
material. Karena itulah produk yang satu jenis bisa memiliki harga yang berbeda-
beda. Karena material yang digunakan mempengaruhi kualitas produk tersebut.
Karena sifat-sifat material tersebut berbeda-beda yang mana dapat diketahui
melalui berbagai pengujian. Salah satunya adalah uji impak, uji ini perlu agar
perancang mampu mengetahui kemampuan material menahan pembebanan secara
tiba-tiba.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan percobaan mengenai uji impak ini adalah sebagai
berikut:
a. Menentukan harga impak berbagai jenis logam
b. Menentukan pengaruh temperatur terhadap harga impak
c. Mengamati permukaan patahan benda uji
d. Mampu material patah ulet dan getas dari hasil uji impak
1.3 Manfaat
Dengan melakukan percobaan ini, pratikan bisa tahu apa itu uji impak. Dan
dapat mengetahui sifat-sifat sebuah material setelah dilakukan pengujian. Dan
pratikan dapat membedakan antara material ulet dan getas, serta faktor-faktor
yang mempengaruhi harga impak pada suatu material.










Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 76

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Uji impak merupakan merupakan pengujian untuk mengetahui kekuatan
dan ketangguhan material terhadap pembebanan yang diberikan secara tiba-tiba.
Spesimen memiliki ukuran dan bentuk standar, yaitu :

Gambar D.2.1 Spesimen Uji Impak
Parameter yang diperoleh adalah Energi impak yakni besar energi yang
diserap untuk mematahkan benda kerja (spesimen). Harga impak adalah energi
impak tiap satuan luas penampang di daerah takikan.
h
1
α
α-90°

β
r
L
h2
y
x

Gambar D.2.2 Mekanisme Uji Impak
Turunan Rumus HI berdasarkan gambar diatas adalah:
x = r . sin (α – 90
o
)
= r . sin (-cos α)
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 77

y = r
h
1
= y + x
= r + r . (-cos α)
= r (1 – cos α)
cos =

L = r. cos β
r = L + h
2

h
2
= r – L
= r – r . cos β
= r (1 – cos β)
Pada uji impak ini berlaku hukum kekelan energi, sehingga:
Em1 = Em2
Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2 + EI
Mgh1 + ½ mv2 = mgh2 + ½ mv2 + EI
EI = mgh1 – mgh2
= mg (h1 – h2)
= mg ( r (1-cos α)) – (r (1-cos β))
= mgr (cos β - cos α)
Jadi, berdasarkan turunan rumus diatas, didapatkan persamaan berikut:

Ket: HI = Harga Impak
EI = Energi Impak
α = Sudut yang dibentuk saat Hammer dijatuhkan
β = Sudut yang dibentuk saat Hammer telah mematahkan spesimen
A = Luas penampang spesimen
Karakteristik HI Material:
Material Ulet mempunyai HI yang besar
Material Getas mempunyai HI yang kecil
Adapun yang mempengaruhi Harga Impak suatu material adalah sebagai
berikut:
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 78

1. Bentuk takikan
Dalam percobaan uji impak ini, terdapat 4 jenis takikan yang umum
digunakan, yaitu:
a. Takikan-V

Gambar D.2.3 Takikan V
b. Takikan-U

Gambar D.2.4 Takikan U
c. Takikan-I

Gambar D.2.5 Takikan I
d. Takikan-Keyhole

Gambar D.2.6 Takikan Keyhole
Dari keempat jenis takikan diatas, takikan V memiliki HI terkecil, karena
spesimen mudah dipatahkan dari 3 jenis takikan yang lain.


2. Kecepatan pembebanan
Semakin cepat hammer diayunkan, maka semakin kecil pula energi ynag
dibutuhkan untuk mematahkan spesimen, sehingga harga impak juga
semakin kecil.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 79

3. Temperatur
Pengaruh Temperatur terhadap harga impak baja dapat dilihat pada
gambar berikut.

Gambar D.2.7 Temperatur dependence of the Charpy V-notch impact
energi (curve A) and percent shear fracture (curve B) for
an A283 steel.
Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa material ulet akan berubah menjadi
getas pada temeperatur rendah. Namun untuk beberapa jenis material,
memiliki rentangan temperatur untuk berubah dari ulet menjadi getas.

Gambar D.2.8 Perbandingan Harga Impak Kelompok Material
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa Harga Impak material FCC dan
HCP tidak terpengaruh oleh temperatur. Begitu juga dengan material yang
sangat keras dang getas, tidak terpengaruh oleh temperatur. Material yang
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 80

dapat berubah dari ulet menjadi getas adalah saat terjadi perubahan
temperatur adalah material BCC.
4. Kadar Karbon
Kadar karbon mempengaruhi Harga Impak material karena semakin keras
material, maka semakin getas pula material tersebut, sehingga Harga
Impaknya akan semakin kecil. Berikut ini bagan perbandingan Harga
Impak Material untuk Komposisi karbon yang berbeda pada berbagai
temperatur.

Gambar D.2.9 Pengaruh kadar karbon terhadap Energi Impak Material
Bentuk patahan yang mungkin terjadi ada 2 jenis patahan yaitu patah getas dan
patah ulet. Adapun ciri-ciri dari masing-masing patahan ini adalah sebagai
berikut:
1. Patah Getas:
- Energi impak kecil
- Temperatur rendah
- Bekas patahan datar dan mengkilap
- Terjadi pada batas butir
2. Patah Ulet:
- Energi impak besar
- Temperatur Tinggi
- Bekas patahan berserabut
- Terjadi pada butir
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 81



Gambar D.2.10 Bentuk Patahan Baja A36 pada berbagai temperatur
Prosedur uji impak dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu:
1. Metode izoed
Metode izoed ini dilakukan dengan cara meletakkan spesimen dalam
posisi vertikal dan pembebanan dilakukan dari arah depan takikan
seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar D.2.11 Skema Standar Pengujian Metode Izod
2. Metode Charpy
Pembebanan yang dilakukan pada metode charpy ini dilakukan dari
belakang takikan dengan posisi spesimen pada alat uji adalah
horizontal seperti yang terlihat pada gambar.

Gambar D.2.12 Skema Standar Pengujian Metode Charpy




Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 82

BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan
Adapun peralatan yang digunakan dalam uji impak ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat uji impak
2. Spesimen
3. Pendulum/ hammer
4. Thermometer
3.2 Skema Alat


Gambar D.3.1 Skema Alat Uji Impak

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 83

3.3 Prosedur Pengujian
Prosedur atau tahapan yang dilakukan dalam uji impak ini adalah sebagai
berikut:
- Pengukuran harga impak dilakukan atas batang uji.
- Spesimen dengan ukuran-ukuran standar yang telah diberi takikan
(notch).
- Pengujian impak dilakukan menurut metode charpy.
- Lakukan pengujian untuk temperatur spesimen yang berbeda


























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 84


BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN


4.2 Perhitungan
Alumunium Temperatur Kamar
1. Alumunium Temperatur Kamar
A = L (t-h)
= 0,66 (0,66 – 0,04)
= 0,41
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 118 – cos 141)
= 59,63

= 145,4

2. Baja Temperatur Kamar
A = L (t-h)
= 0,79 (0,725 – 0,075)
= 0,513
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 75 – cos 141)
= 200,77

= 391,36

3. Alumunium Temperatur Freezer
A = L (t-h)
= 0,66 (0,65 – 0,12)
= 0,35
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 120 – cos 141)
= 53,71

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 85

= 153,46

4. Baja Temperatur Freezer
A = L (t-h)
= 0,65 (0,67 – 0,12)
= 0,36
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 10 – cos 141)
= 341,46

= 9485

5. Alumunium Nitrogen
A = L (t-h)
= 0,65 (0,65 – 0,05)
= 0,39
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 122 – cos 141)
= 47,91

= 122,85

6. Alumunium Temperatur Kamar
A = L (t-h)
= 0,73 (0,725 – 0,125)
= 0,438
EI = mgr ( cos β - cos α )
= 26.62 x 10 x 0.738 (cos 61 – cos 141)
= 244,57

= 558,37






Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 86

4.2 Grafik
1. Grafik EI

2. Grafik HI










0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
Kamar Freezer Nitrogen cair
Alumunium
Baja
0
5000
10000
15000
20000
25000
30000
35000
40000
45000
50000
Kamar Freezer Nitrogen cair
Alumunium
Baja
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 87

4.3 Analisa
Percobaan uji impak dilakukan untuk mengetahui sifat
mekanik dari suatu matterial yang mana diberikan pembebanan
secara tiba-tiba. Pada percobaan uji impak ini menggunakan dua
macam material yaitu baja dan alumunium, dengan diberi takikan
V. Pengujian dilakukan dengan metoda charpy.
Pada pengujian impak kita dimaksudkan untuk bisa
membandingkan pengaruh temperatur terhadap harga impak dan
energi impak setiap material. Jadi untuk setiap spesimen kita
memvariasikan temperaturnya, agar lebih jelas perbedaanna
masing-masing. Ke tiga variasi tersebut yaitu:
3. Suhu kamar
4. Suhu freezer
5. Nitrogen cair
Pada teori menyebutkan, untuk material FCC (dalam
pratikum ini adalah alumunium) perubahan temperatur tidak
membawa dampak yang signifikan terhadp harga impak dan energi
impak, namun berbeda dengan material BCC (dalam pratikum ini
adalah baja) perubahan temperatur menimbulkan dampak pada
harga impak dan energi impak.
Pada hasil perhitungan, untuk alumunium menunjukkan
hasil yang sama dengan teori, yaitu energi impaknya menurun
seiring menurunnya suhu, ini dikarenakan material menjadi getas
bila suhu rendah. Begitu juga dengan harga impaknya. Namun
berbeda dengan baja, tidak terjadi kesesuaian data dengan teori.
Seharusnya semakin rendah temperatur maka suatu material akan
menjadi lebih getas, namun dari grafik dilihat semakin rendah suhu
maka material semakin ulet, ini dapat dilihat dari energi impaknya.
Temperatur kamar memiliki energi impak yang kecil dari padda
nitrogen cair, padahal seharusnya temperatur kamar akan memiliki
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 88

energi impak yang besar karena memiliki sifat lebih ulet dari
nitrogen cair.
Dan jga bahan yang sel satuan BCC akan bersifat lebih
getas dari pada material FCC. Namun yang didapat malah
sebaliknya. Semakin ulet maka harga impak dan energi impak
makin kecil.
Tidak sesuainya hasil paratikum yang didapat dengan teori,
terjadi karena beberapa faktor, diantaranya:
1. Temperatur benda uji atau spesimen yang telah
berubah. Ini bisa dikarenakan pada saat pengukuran,
suhu tangan berpindah pada spesimen sehingga
temperatur tidak akurat lagi.
2. Adanya kesalahan pembacaan skala pada saat
mengukur atau membaca sudut β, dan juga dalam
mengukur dimensi dari spesimen.
3. Letak posisi spesimen pada alat uji tidak pas atau tepat
takikannya dengan hammer. Sehinngga pembebanan
tidak pas dan membuat data yang tercatat tidak seperti
yang diharapkan.
4. Alat yang sudah tidak dalam kondisi yang sempurna,
skala sudut yang mungkin lupa dikalibrasi dengan
benar.
5. Spesimen yang tidak memenuhi standar, contoh bentuk
takikan yang tidak memenuhi standar. Kedalaman
takikan tidak sama sehinga konsentrasi tegangannya
berbeda-beda.





Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 89

BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan

a. Uji impak dapat dilakukan 2 metode,yaitu : metode izoed dan metode
charpy.
b. Spesimen atau material dengan temperatur tinggi memiliki HI yang kecil,
sedangkan material dengan temperatur yang rendah memiliki HI yang
besar.
c. Permukaan patahan pada material ada 2, yaitu patahan ulet dengan
permukaan berserabut. Dan patahan getas dengan permukaannya
mengkilap.
d. Pada hasil pratikum, semu spesimen bai baja maupun alumunium memiliki
permukaan patahan berserabut, jadi materialnya ulet.
5.2 Saran
- Praktikan harus hati-hati dalam melakukan perccobaan ini.
- Pahami prosedur percobaan.
- Praktikan harus lebih teliti dalam mengambil data agar tidak terjadi
kesalahan.
- Pratikan harus menenmpatkan posisi takikan segaris lurus dengan
hammer.
















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 90


Tugas Sebelum Praktikum
1. Gambar dan tuliskan macam-macam standar pengujian Impak:
a. Metode izod
Metode izod ini dilakukan dengan cara meletakkan spesimen dalam
posisi vertikal dan pembebanan dilakukan dari arah depan takikan
seperti yang terlihat pada gambar.
b. Metode Charpy
Pembebanan yang dilakukan pada metode charpy ini dilakukan dari
belakang takikan dengan posisi spesimen pada alat uji adalah
horizontal seperti yang terlihat pada gambar.

2. Apa yang dimaksud dengan temperatur transisi?
Yaitu temperatur yang mana terjadinya perubahan sifat material dari satu
sifat ke sifat yang lain.
3. Apa kegunaan temperatur transisi material dalam perancangan konstruksi
mesin adalah untuk mengetahui pada suhu berapa suatu material berubah
sifat-sifat mekaniknya. Sehingga kemampuan dukung beban dalam
perancangan dapat diukur
4. Jelaskan dan gambarkan kurva energi impak vs temperatur untuk material
yang memiliki sel satuan BCC dan FCC?
Dari diagram dapat dilihat bahwa harga impak material FCC dan BCC
tidak terpengaruh oleh temperatur. Begitu juga dengan material yang
sangat keras dan getas, tidak terpengaruh oleh temperatur. Material yang
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 91

dapat berubah dari ulet menjadi getas adalah saat terjadi perubahan
temperatu adala material BCC.

Gambar. Perbandingan Harga Impak Kelompok Material

5. Faktor-Faktor yang mempengaruhi harga impak adalah :
a. Bentuk takikan, takikan V memiliki HI paling kecil karena material
dengan jenis takikan V lebih mudah dipatahkan.
b. Kecepatan pembebanan, semakin cepat suatu beban diberikan, maka
HI yang dibutuhkan makin kecil
c. Temperatur, berpengaruh terhadap sifat sel satuan BCC dan FCC
d. Kadar Karbon, semakin tinggi kadar karbon suatu material maka
semakin keras dan getaslah material tersebut





Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 92

Tugas Setelah Praktikum
1. Perbedaan patah ulet dan patah getas.
a. Patah Getas:
- Energi impak kecil
- Temperatur rendah
- Bekas patahan datar dan mengkilap
- Terjadi pada bata butir
b. Patah Ulet:
- Energi impak besar
- Temperatur Tinggi
- Bekas patahan berserabut
- Terjadi pada butir
2. Hal-hal yang menyebabkan patah getas:
a. Temperatur yang rendah, karena semakin rendah temperatur suatu
spesimen, maka material akan bersifat semakin getas
b. Kadar Karbon, semakin tinggi kadar karbon suatu material maka
semakin keras dan getaslah material tersebut
c. Semakin cepat suatu beban diberikan, maka HI yang dibutuhkan makin
kecil
3. Interpretasi Harga impak, HI diperoleh dengan membandingkan Energi
Impak dengan luas permukaan spesimen yang patah. EI sangat
dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan dan kondisi spesimen (jenis
takikan, temperatur, dan kadar karbon).








Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 93






Objek : Uji Tekan













Asisten :Pupadri Ahmad Faisal













Asisten: Ronny Pribadi




Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 94

BAB I
PENDAHULUAN
1.4 Latar Belakang
Dalam suatu proses produksi tentunya diharapkan hasil yang berkualitas untuk
itu perlu diperhatikan material-material yang digunakan baik yang berfungsi
sebagai mesin perkakas maupun material sebagai bahan baku produk, maka itu
material-material tersebut harus tepat penggunaannya. Untuk itulah sebagai
seorang engineer kita harus mampu melakukan pengujian-pengujian terhadap
sebuah material baik pengujian merusak maupun pengujian tidak merusak.
1.5 Tujuan
Pengujian tekan dilakukan untuk mendapatkan
e. Fenomena yang terjadi pada uji tekan
f. Pengaruh pengujian tekan dengan tingkat deformasi bervariasi terhadap
kekerasan alumunium
1.6 Manfaat
Dengan melakukan percobaan uji tekan kita mampu untuk mengetahui sifat
mekanik dari sebuah material sehingga kita dapat memprediksi pengaruh
pembebanan terhadap material dan mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi
pada saat berlangsungnya uji tekan, dengan begitu kita dapat menggunakan
material tersebut sesuai dengan sifat-sifat mekaniknya.













Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 95

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Pengertian
Pengujian tekan adalah salah satu pengujian mekanik yang tergolong pada
jenis pengujian merusak karena setelah melakukan pengujian spesimen sudah
tidak bisa digunakan kembali.
II. Fenomena-fenomena uji tekan
Fenomena-fenomena uji tekan
1. Barelling
Barelling merupakan penambahan diameter pada benda uji setelah
diberi pembebanan, dapat terjadi jika diameter dari benda uji lebih besar
dari pada panjang benda uji ( d > h ).
Gerakan antara spesimen dan dies yang menghambat pemukaan atas
dan bawah spesimen berekspansi secara bebas ini bisa menyebabkan
timbulnya fenomena Barelling









Gambar D.2.1 Barelling


2. Bucling
Bucling merupakan pembengkokan pada material setelah diberi
pembebanan.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 96


Bucling dapat terjadi jika:
- Diameter dari benda uji lebih kecil dari pada panjang benda uji
(d < h )
- Spesimen tidak sesumbu






Gambar D.2.2 Bucling

3. Strain hardening
Strain hardening, yaitu pengerasan pada material akibat penumpukan
dislokasi pada batas butir.

Gambar D.2.3 Strain hardening

III. Turunan rumus
Pada pengujian tekan terhadap benda uji akan terbentuk suatu diagram
perbandingan antara tegangan dan regangan.
o =
o A
P

L

-
e
0 0
0 t
l l
l l A
= =
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 97

Jika balok dengan ketinggian awal (ho) menjadi hi maka regangan
aksial atom menjadi :
- regangan sebenarnya yaitu
ɛ = ∫

= ln

= - ln

- regangan teknis yaitu
e =

=

-1























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 98

BAB III
METODOLOGI
3.4 Peralatan
Adapun peralatan yang digunakan dalam uji impak ini adalah sebagai
berikut:
5. Mesin uji universal dan peralatan pendukungnya
6. Dial indicator dan standar magnetik
7. Jangka sorong
8. Tungku pemanas
9. Alat uji kekerasan dan peralatan pendukungnya
10. Mesin amplas sabuk
11. Mesin poles
3.5 Skema Alat
Ket :
1. Penekan (punch)
2. Spesimen
3. Pelat penahan
4. Standar magnetik
5. Dial indicator
6. Kepala silang bawah
7. Pemegang punch

Gambar D.3.1 Skema Alat Uji Tekan
3.6 Prosedur Pengujian
Prosedur atau tahapan yang dilakukan dalam uji tekan ini adalah sebagai
berikut:
- Siapkan spesimen (batangan alumunium) berdiameter 22 mm dan
panjang 33 mm
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 99

- Ratakan permukaan potong dan usahakan ketegak lurusan antara
permukaan potong dengan sumbu potong alumunium pada mesin
amplas sabuk.
- Persiapkan peralatan seperti gambar
- Lakukan pengujian tekan dengan regangan (ɛ) yang di variasikan dan
jumlah yang telah ditentukan oleh asisten
- Potong satu spesimen untuk tiap tingkat deformasi dibagian tengahnya,
amplas pada amplas sabuk dan haluskan bagian tersebut pada mesin
poles. Ukur dan catat nilai kekerasannya.




























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 100

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan
No.

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

(kgf)

(mm)

(mm)
Fenomena
(mm)
1. 30% 28,15 25,3 44,78 15,37 - 56,3 4,15 Buckling
2. 30% 31 25,3 22,96 8,04 - 23 8 Bareling
3. 20% 60,45 25,3 44,78 5,11 - 26,4 1,75 Bareling

4.2. Perhitungan
1. Hi Teori
1. hi =

=

= 60,45 – 44,70
= 44,78 = 15,37 mm
2. hi =

=

= 31 – 2296
= 22,96 = 8,04 mm
3. hi =

=

= 28,15 – 23,04
= 23,04 = 5,11


2. Mencari percobaan
1.

= 60,45 – 56,3
= 4,15 mm
2.

= 31 – 23
= 8 mm
3.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 101

= 28,15 – 26,4
= 1,75 mm


4.3. Tabel hasil uji kekerasan pada material yang telah di deformasi
No.


P
(kgf)
HRC BHN
1.


30%
-
5
-
2. 14
3. -12
4. 14
5. 11
1.


20%
-
40 110
2. 15
-
3. 12
4. 4
5. 13

1. Angka kekerasan

a. Untuk spesimen 1, = 30% Setelah di tekan
Titik 1 HRA = 5 → BHN = -
Titik 2 HRA = 14 → BHN = -
Titik 3 HRA = -12 → BHN = -
Titik 4 HRA = 14 → BHN = -
Titik 5 HRA = 11 → BHN = -

b. Untuk spesimen 2, = 20% Setelah di tekan
Titik 1 HRA = 40 → BHN = 110
Titik 2 HRA = 15 → BHN = -
Titik 3 HRA = 12 → BHN = -
Titik 4 HRA = 4 → BHN = -
Titik 5 HRA = 13 → BHN = -
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 102


c. Sebelum di tekan
Titik 1 HRA = 2 → BHN = -
Titik 2 HRA = 7 → BHN = -
Titik 3 HRA = -19 → BHN = -
Titik 4 HRA = 1 → BHN = -
Titik 5 HRA = -17 → BHN = -
























Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 103

1.4 Analisa dan Pembahasan

Pada hal yang di dapatkan . terjadi fenomena fenomena pada pengujian
tekan ini. Pada spesimen yang pertama terjadi fenomena buckling . Yaitu
pembengkokkan pada material setelah di beri pembebanan . Sedangkan untuk
spesimen 2 dan 3 terjadi fonomena barrelling, yaitu penambahan diameter
spesimen setelah di beri pembebanan .
Untuk perbandingan ∆h teori dengan ∆h percobaan ,di dapatkan hasil yang
tidak sama untuk spesimen 1 dan 3 , sebaggian untuk spesimen 2 dapat di katakan
sama meski memiliki perbedaan 0,04 mm
Untuk nilai kekerasan setiap spesimen , setiap titik titik nya tidak ada yang
sama , semunya berbada , Cuma ada 2 titik yang sama nilai kekerasanya .
Dan pengujian keras yang di lakukan pada spesimen 1 , dan 3 spesimen
sebelum di tekan , di dapatkan bahwa nilai kekerasan spesimen setelah di tekan
naik , di dapatkan bahwa nilai kekerasa spesimen spesimen setelah di tekan naik ,
ini dapat di lihat pada grafik yang mana grafik kekerasan benda uji sebelum di
tekan berada dibawah nilai kekerasan spesimen setelah di lakukan penekanan
Namun antara spesimen1 dan 3 , yang mengalami peningkatan nilai
kekuatan yang besar adalah spesimen no 3. Ini terjadi karena spesimen ke 3m
mengalami fenomena bareling , jadi proses penekanan lebih efektif untuk
membuat terjadinya strain hardening , yaitu pengerasan yang terjadi pada material
karena penumpukan dislokasi pada batas butir
Jadi dengan kata lain penekanan pada spesimeterjadi pengerasan pada
suatu material .








Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 104

Tugas Sebelum Praktikum

1. Sebutkan ciri-ciri dan cara melakukan pengujian tekan! Jawab : Ciri-ciri
pengujian tekan adalah :
a. Pada pengujian spesimen akan diberikan gaya luar berupa tekanan .
b. Terjadinya peristiwa barelling akibat adanya gesekan antara
permukaan tekan dengan dies penahan .
c. Terjadi bucling akibat ketidak seimbangan antara panjang
spesimen dengan diameter spesimen .
d. Terjadi pengerasan material akibat penumpukan dislokasi pada
batas butir .

Cara melakukan pengujian tekan:
a. Siapkan spesimen (batangan alumunium) berdiameter 22 mm dan
panjang 33 mm .
b. Ratakan permukaan potong dan usahakan ketegak lurusan antara
permukaan potong dengan sumbu potong alumunium pada mesin
amplas sabuk.
c. Persiapkan peralatan seperti gambar

Keterangan :
1. Penekan (punch)
2. Spesimen
3. Pelat penahan
4. Standar magnetik
5. Dial indicator
6. Kepala silang bawah
7. Pemegang punch
d. Lakukan pengujian tekan dengan regangan (ɛ) yang di variasikan
dan jumlah yang telah ditentukan oleh asisten.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 105

e. Potong satu spesimen untuk tiap tingkat deformasi dibagian
tengahnya, amplas pada amplas sabuk dan haluskan bagian tersebut
pada mesin poles. Ukur dan catat nilai kekerasannya.
2. Jelaskan perbedaan antara kekuatan tekan dengan kekuatan tarik ! Jawab:
Perbedaan antara kekuatan tekan dengan kekuatan tarik adalah
kemampuan benda untuk menahan tekanan maksimum, sedangkan
kekuatan tarik adalah kemampuan benda untuk menahan beban tarik
maksimum.
3. Apa pengaruh pengerjaan dingin terhadap sifat mekanik alumunium ?
Jawab:
Pengaruh pengerjaan dingin terhadap alumunium adalah menurunnya
kekuatan logam.
4. Apa pengaruh pemanasan terhadap sifat mekanik alumunium ?
Jawab :
Pengaruh pemanasan terhadap sifat mekanik alumunium adalah struktur
butir logam mudah terdeformasi.

















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 106

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM
2. Kegunaan alat :
a) Dial Indikator, untuk mengukur besarnya pembebanan pada material.
b) Standar magnetic, pengokoh dial indicator.
c) Penekan (punch), menekan material
d) Pelat penahan, bagian yang menahan material dari pembebanan.

3. Fenomena yang terjadi pada uji tekan :
a) Barreling, perubahan dimensi fisik material akibat gesekan antara penekan
dengan specimen dengan syarat h/d < 3/2.
b) Buckling, adalah pembengkokkan pada material setelah diberi beban
dengan syarat h/d > 3/2.

4. Pengaruh pengujian tekan dengan tingkat deformasi yang bervariasi terhadap
kekerasan aluminium adalah :
a) Jika h/d < 3/2, maka deformasi material yang semakin kecil akan
menghasilkan nilai kekerasan yang semakin kecil.
b) Jika h/d > 3/2, maka deformasi material yang semakin besar akan
menghasilkan nilai kekerasan yang semakin besar.

5. Pengaruh pemanasan setelah pengujian tekan menyebabkan nilai kekerasan
aluminium semakin kecil.

6. Perbedaan aplikasi pemberian beban tekan dan beban tarik adalah :
a) Pemberian beban tekan, artinya kita mengukur kemampuan material untuk
menahan beban tekan maksimum.
b) Pemberian beban tarik, artinya kita mengukur kemampuan material
menahan beban tarik maksimum.









Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 107

Objek : NDT

































Asisten :Ferdial Rafli





BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 108

Material memiliki sifat dan kualityas yang berbeda-beda. Maka,
kita perlu mengetahui sifat dan kualitas agar material yang kita gunakan aman saat
dilakukan pembebanan. Salah satu cara untuk mendeteksi kekurangan dan cacat
pada produk tanpa merusak material secara permanen.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui prosedur-prosedur pengujian NDT
2. Mengetahui penggunaan NDT pada pengujian material dan mengetahui
jenis-jenis cacat pada material
1.3 Manfaat
Kita dapat melakukan pengujian untuk melihat cacat dan kerusakan yang
terjadi pada material yang kita uji tanpa merusak material.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 109

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Non-Destructive Test (NDT)
Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap
suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain tanpa
merusak benda yang kita tes atau inspeksi.
2.2 Metode-Metode NDT
1. Visual Inspection
Metode ini merupakan langkah yang pertama kali diambil dalam NDT.
Metode ini bertujuan menemukan cacat atau retak permukaan dan korosi.
Dalam hal ini tentu saja adalah retak yang dapat terlihat oleh mata
telanjang atau dengan bantuan lensa pembesar ataupun boroskop.

Gambar E.2.1 Visual inspection dengan boroskop /4/
2. Liquid Penetrant Test
Metode Liquid Penetrant Test merupakan metode NDT yang sederhana,
dimana pada metode ini digunakan untuk menemukan cacat di permukaan
terbuka dari komponen solid, baik logam maupun non logam, seperti
keramik dan plastik fiber. Melalui metode ini, cacat pada material akan
terlihat lebih jelas. Caranya adalah dengan memberikan cairan berwarna
terang pada permukaan yang diinspeksi. Cairan ini harus memiliki daya
penetrasi yang baik dan viskositas yang rendah agar dapat masuk pada
cacat dipermukaan material. Selanjutnya, penetrant yang tersisa di
permukaan material disingkirkan. Cacat akan nampak jelas jika perbedaan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 110

warna penetrant dengan latar belakang cukup kontras. Seusai inspeksi,
penetrant yang tertinggal dibersihkan dengan penerapan developer.

Gambar E.2.2 Dye Penetrant Test /5/
Kelemahan dari metode ini antara lain adalah bahwa metode ini hanya bisa
diterapkan pada permukaan terbuka. Metode ini tidak dapat diterapkan
pada komponen dengan permukaan kasar, berpelapis, atau berpori.
3. Magnetic Particle Test
Metode ini dilakukan untuk cacat permukaan dan bawah permukaan dan
dapat diketahui untuk komponen dari bahan ferromagnetik. Prinsip dari
metode ini adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya
cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran
medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya
cacat pada material. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya
kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik
dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah
kebocoran medan magnet.

Gambar E.2.3 Magnetc Partcle Inspection /6/
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 111

Kelemahannya, metode ini hanya bisa diterapkan untuk material
ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak
lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir
inspeksi
4. Eddy Current Test
Pada inspeksi ini memanfaatkan prinsip elektromagnetisasi arus listrik
dialirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet
didalamnya. Jika medan magnet ini dikenakan pada benda logam yang
akan diinspeksi, maka akan timbul arus eddy yang kemudian menginduksi
adanya medan magnet. Medan magnet pada benda akan berinteraksi
dengan medan magnet pada kumparan dan mengubah impedansi bila ada
cacat.

Gambar E.2.4 Eddy Cerrent Test /7/
Keterbatasan dari metode ini yaitu hanya dapat diterapkan pada
permukaan yang dapat dijangkau. Selain itu metode ini juga hanya
diterapkan pada bahan logam saja.
5. Ultrasonic Inspection
Pada metode ini prinsip yang digunakan adalah prinsip gelombang suara,
dimana gelombang suara yang dirambatkan pada spesimen uji dan sinyal
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 112

yang ditransmisi atau dipantulkan diamati dan interpretasikan. Gelombang
ultrasonic yang digunakan memiliki frekuensi 0.5 – 20 MHz. Gelombang
suara akan terpengaruh jika ada void, retak, atau delaminasi pada material.
Gelombang ultrasonic ini dibangkitkan oleh transducer dari bahan
piezoelektri yang dapat menubah energi listrik menjadi energi getaran
mekanik kemudian menjadi energi listrik lagi.

Gambar E.2.5 Ultrasonic Inspection/8/
6. Radiography Inspection
Pada metode ini sinar X dan siner gamma digunakan untuk menemukan
cacat pada material yang menggunakan prinsip sinar X dipancarkan
menembus material yang diperiksa saat menembus objek, sebagian sinar
akan diserap sehingga intensitasnya berkurang. Intensitas akhir kemudian
direkam dalam film yang sensitif. Jika ada cacat pada material, maka
intensitas yang terekam dalam film tentu akan bervariasi, hasil rekaman
pada film inilah yang akan memperlihatkan bagian material yang
mengalami cacat.

Gambar E.2.6 Gamma-ray Crawler /9/
2.3 Aplikasi NDT di dunia Industri
Salah satu contoh penggunaan visual test pada dunia industry adalah dengan
menggunakan ultrasonic inspection. Ultrasonic inspection ini sering digunakan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 113

untuk pengecekan berkala pada pabrik yang banyak menggunakan pipa dalam
proses produksinya. alat ultrasonic inspection yang digunakan berupa portable,
sehingga mudah untuk dibawa oleh inspecter untuk mengecek pada daerah yang
diperlukan.

Gambar E.2.7 Inspeksi dengan Ultrasonic Inspection /10/

Gambar E.2.8 Pengubah gelombang Ultrasonic menjadi Grafik Digital /10/
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 114

BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan
1. Spesimen uji
2. Kaca Pembesar
3. Seperangtkat alat uji dari penetran, developer, dan cleaner
a. Skema Alat
a. Visual Test

Gambar E.3.1 Skema alat

b. Visible Dye penetrant

Gambar E.3.2 Skema alat
3.3 Prosedur Percobaan
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 115

Visual test :
1. Bersihkan spesimen dengan tissue, dan pastikan specimen dalam keadaan
bersih, kering, dan tidak ada kontaminan di permukaan specimen.
2. Lakukan pengamatan dibawah white-lihgt dengan menggunakan bantuan
kaca pembesar.
3. Tandai letak cacat specimen
4. Sketsa specimen dan gambarkan letak cacat specimen berikut.
Dye Penetrant Test :
1. Bersihkan dengan menggunakan tissue ddan cleaner, dan pastikan
specimen dalam keadaan bersih, kering, dan tidak ada kontaminasi di
ermukaan specimen
2. Semprotkan cairan penetrant diseluruh permukaan yang ingin diamati,
paqstikan tidak ada penetran yang menggenang dipermukaan spesimen
3. Diamkan spesimen (min 10 menit – max 2 jam) untuk dwell time
4. Bersihkan sisa penetran dengan menggunakan tissue byang telah dibasahi
dengan cairan solvent
5. Keringkan specimen
6. Semprotkan developer keseluruh permukaan specimen, pastikan lapisan
developer tipis
7. Diamkan specimen (min 10menit – max 2 jam) untuk development time
8. Amati specimen dibawah white-light dengan bantuan kaca pembesar
9. Tandai indikasi cacat pada seluruh permukaan
10. Lakukan pengecekan ulang dengan metoda touch up
11. Sketysa cacat pada specimen yang vtelah dievaqluasi dan gambarkan
letyak cacat specimen tersebut
12. Bersihkan specimen dengan menggunakan cairan solvent remover
13. Letakan specimen ke tempat semula

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 116

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel data hasil pengujian
No Jenis Pengujian Jumlah Cacat Jenis Cacat
1 Visual test 5
Retak, cacat akibat
pengelasan
2 Dye Penetrant 10
Retak, cacat hasil
pengelasan

4.2 Foto Pengujian
a. Alat dan bahan


Gambar E.4.1 foto alat dan bahan

b. Visual test

Gambar E.4.2 foto specimen
c. Dye-penetrant test
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 117


Gambar E.4.3 foto specimen diberi cairan penetran

Gambar E.4.4 foto specimen setelah dibersihkan kembali

Gambar E.4.5 foto specimen setelah disemprot developer
a. Analisa
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 118

Pengujian dilaskukan pada sambungan pengelasan. Pada pengujian
kjali ini, yaitu Non Destructive Test kita melakukan nya dengan dua
metode, yaitu:
1. Visual test
2. Dye penetreant test
Jadi pada keduanya kita Cuma mengamati apakah ada cacat yang tampak
pada permuykaan benda uji.
Yang pertama dilakukan, pengujian dengan menggunakan metoda
Dye penetrant test. Sebelumnya benda uji dise,prot dengan cleaner, ini
bertujuan agar permukaan specimen bersih dan tidak ada bekas-bekas
material lain yang vmenempel pada specimen. Setelah spesimen
dibersihkan dan dilap dengan tisu sampain bersih, cairan penetran yang
berwarna merah disemprotkan kepada specimen, jarak penyemprotan sekitar
30 cm dan dilakukan searah (tidak bolak balik). Hal ini agar permukaan
terkena cairan penetran secara merata dan cfairan tidak ada yang
menumpuk. Setelah disemprot. Cairan dibiarkan selama 10 menit. Agar
cairan tersebut masuk (penetrasi) kedalam cacat-cacat atau retak-retak pada
permukaan secara baik dan maksimal. Setelah itu material kembvali
dibersihkan dfengan tisu dan claeaner. Setelah specimen bersih, lalu cairan
developer yang berguna untuk menghambat sisa penetran yang ada dalam
crack, disemprotkan tipis searah specimen. Setelah ditunggu beberapa saat
terlihat ada cairan penetran yang tampak pada permukaan specimen setelah
developer disemprot kemudian dibersihkan.
Dari warna penetran yang terdapat pada permukaan itulah kiata
melighat cacat yang terjadi. Jika kita ragu pada satu cacat material. Kita bias
menggunakan metode touch up , ini lebiah akurat karena cairan developer
yang terlah diberikan tadi kurang maksimal dalam mengangkat cairan
penetran, jadi cairan developer diberikan kepada tissue, kemudian kita
oleskan secfara merata ke permukaan specimen agar cairan developer
bekerja dengan baik.
Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 119

Padas metode visual kita hanya bias melihat secara lansung dimana
adanya cacat setelah spersimen diberikan. Didapatkan banyak cacat yang
berbeda antara kedua metode ini. Visual tes hanya nampak 4 cacat. Sedang
kan padamn dye penetrant test hanya dapat 10 cacat pada specimen yang
sama. Jadi dengan kata lain, ujadi ki9ta bandingkan antara keduia metode
ini , metode dye penetrant test lebih efektif dari pada metode visual test.
Pengujian NDT sangat sangat penting dilakuakan, karena pengujian
ini berguna untuk mengecek produk yang akan dipasarkan. Dengan kata lain
NDT adalah pengujian untuk control kualitas (quality control) terhadap
suatu material tersebut . sedangkan pengujian yang lain untuk mengtetahui
sifat mekaniknya
















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 120

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pengujian NDT adalah pengujian yang tidak merusak yang bertujuan
untuk quality control (perawatan).
Metode dye penetrant test lebih efektif untuk mengetahui jumlah cacat dari pada
metode visual test. Ini dapat dilihat dari jumlah cacat yang didapat dari masing-
masing metode.
5.2 Saran
1. Diharapkan pratikan membersihkan specimen dengan baik.
2. Pratikan diharapkan teliti dalam melihat cacat yang ada.

















Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 121

TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM
1. Jenis cacat internal dan eksternal ?
- cacat internal
a. vagancy : kekosongan atom
b. subtitusi : penggantian atom
c. intertisi : penyisipan atom
d. self intertisi : penyisipan oleh atom sendiri
e. dislokasi : dislokasi yang arah geraknya tegak lurus terhadap
garis dislokasi
f. dislokasi ulir : dislokasi yang arah geraknya sejajar dengan garis
dislokasi
2. Jelaskan batasan dan prinsip dasar dari pengujian liquid penetrant, magnetik
partikel, ultrasonic, dan radiography test?
a. liquid penetrant test
prinsip kerjanya : cairan penetrant di aplikasikan kepermukaan benda
uji, selanjutnya cairan penetrant yang terperangkap di dalam crack
akan diserap oleh developer.
Batasan : -permukaan bersih
-crack harus membuka ke permukaan

b. magnetik partikel test
prinsip kerjanya : benda uji dimagnetisasi dan partikel magnet
ditaburkan kepermukaan benda uji, partikel magnet akan terakumulasi
dengan adanya polarisasi.

c. Ultrasonic test
prinsip kerjanya : energi listrik dikonversi menjadi energi mekanis
oleh transduser kedalam benda uji, energy mekanis akan dikembalikan
oleh flaw ke transduser menjadi energy listrik.
Batasan : komponen yang kecil dan tipis.


Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 122

d. radiography test
prinsip kerjanya : radiasi yang dihasilkan oleh isotop/ generator
melalui benda uji.
Batasan : - adanya perbedaan density terhadap ketebalan.
- sensitivity turun dengan bertambahnya ketebalan.
-crack harus sejajar dengan beban.
-resiko radiasi.

3. cari di internat mengenai eddy current test ?
inspirasi ini memanfaatkan prinsip electro magnet, prinsipnya arus listrik
di alirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet
didalamnya, jika medan magnet ini dikenakan pada logam yang akan
diinspeksi, maka akan terbangkit arus eddy, arus eddy kemudian
menginduksi adanya medan magnet, medan magnet pada benda akan
berinteraksi dengan medan magnet pada kumparan, dan mengubah
impedansi bila ada cacat.
Keterbatasan dari metoda ini yaitu hanya dapat diterapkan pada
permukaan yang dapat dijangkau. Selain itu, metoda ini juga hanya
diterapkan pada bahan logam saja.













Laporan Akhir Mateerial Teknik

Kelompok 19 123

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM

1.Terangkan batasan serta sifat dari cairan penetrant ?
Batasanya hanya pada permukaan, tidak bias digunakan pada permukaan kasar,
berlapis, berpori, sensitive terhadap kontaminasi dari luar.
Sifat : - bewarna
- viscositas rendah, sehingga cairan bias masuk pada cacat.
2. Jelaskan tentang pengujian joke magnetization ?
Pengujian ini adalah pendektesian cacat dengan menggunakan kerapatan fluks
magnet dengan melewati specimen yang akan diperiksa.
3. Sketsa ide anda untuk melakukan inspeksi cacat halus pada material
Dengan menggunakan microscop
Penggunaanya : specimen langsung diamati dengan menggunakan kroscop.



Laporan Akhir Mateerial Teknik

mampu las, dan memiliki biaya produksi yang relatif tidak mahal. Contoh plat, paku, dll.  Baja karbon menengah, kadar karbonnya 0,2 % < C  0,5 %. Dengan perlakuan panas membuat baja ini lebih kuat, namun terjadi penurunan keuletan dan ketangguhan dari baja tersebut. Contoh roda kereta api, roda gigi, dan komponen mesin lainnya.  Baja karbon tinggi, kadar karbonnya 0,5 % < C  2,1 %. Baja ini Memiliki sifat yang keras dan getas, kekuatan yang tinggi dibandingkan dengan baja karbon rendah dan menengah. Dengan ditambahkan chromium, vanadium,

tungsten dan molybdenum maka baja karbon tinggi akan menjadi sangat keras dan tahan aus yang membentuk senyawa karbida (CrC, VC, dan WC). Contoh: baja tahan karat  Baja Paduan, adalah baja yang diklasifikasikan berdasarkan konsentrasi paduannya dengan unsur lain. Baja paduan dibagi atas : 1. Berdasarkan paduan   Baja Paduan Rendah (Low Alloy Steel), kadar paduan ≤ 8%. Baja Paduan Tinggi (High Alloy Steel), kadar paduan > 8%. Contoh : baja tahan karat (Stain Less Steel), baja perkakas dan baja tahan gesek, 2. Berdasarkan kegunaan :  Baja tahan karat Dengan penambahan Cr Contoh : Stainless steel  Baja tahan aus Dengan penambahan Mn Contoh : Kuku eskavator Kelompok 19 2

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Baja tahan temperatur tinggi Dengan penambahan Mo dan W Contoh : Sudu turbin

Tool steel Dengan penambahan Mo dan V Contoh : Pahat karbida

b). Besi Cor, yaitu logam ferro yang disusun oleh Fe dan grafit (karbon yang tidak berikatan dengan Fe) dengan kandungan C nya 2,1 % - 6,67 %. Pada umumnya, besi cor bersifat sangat getas karena mengandung persen karbon yang tinggi.

Gambar A.1.1 Pembentukan besi cor Keterangan: BCP: Besi cor putih BCKP: Besi cor kelabu pearlitic BCKF: Besi cor kelabu feritic BCMM: Besi cor melliable martensitik BCMP: Besi cor melliable pearlitic BCMF: Besi cor melliable feritic Berdasarkan bentuk grafitnya, besi cor dapat dibagi atas :  Besi cor putih, yaitu besi cor yang tidak memiliki grafit. Memiliki sifat yang keras dan getas. Karena sifatnya yang getas penggunaan besi cor ini terbatas. Contoh roda kereta api, pengerol dalam rolling mills, dll.  Besi cor nodular, yaitu besi cor yang memiliki grafit berbentuk bulat. Besi cor ini dibuat dengan memanaskan besi cor kemudian ditambah Mg atau Ce sehingga terbentuk gelembung gas berisi grafit yang berbentuk bulat. Besi cor nodular 3

Kelompok 19

fitting pipa.3 Besi cor nodular  Besi cor melliable. yaitu besi cor yang memiliki grafit berbentuk bongkahan.1. mempunyai sifat mampu cukup baik. Gambar A.4 Besi cor melliable  Besi cor kelabu.Laporan Akhir Mateerial Teknik digunakan untuk katup. industri otomotif seperti flens. Banyak digunakan sebagai connecting rods. Sifat besi cor malleable mirip dengan besi cor nodular memiliki sifat ulet dan mampu tempa. rumah pompa. roda gigi dan komponen-komponen otomotif.1. transmisi roda gigi. Besi cor ini bersifat ulet. yaitu besi cor yang memiliki grafit berbentuk pipih/serpihan. katup kereta api dan lain sebagainya. Besi cor ini memiliki ciri-ciri : memiliki kemampuan peredam getaran yang baik dan memiliki kekuatan tarik tinggi.1.2 Pembentukan besi cor nodular Keterangan: BCNM: Besi cor nodular melliable BCNP: Besi cor nodular pearlitic BCNF: Besi cor nodular feritic Gambar A. Besi cor kelabu sangat baik untuk meredam 4 Kelompok 19 . Gambar A.

penghantar panas yang buruk. Elastomer. PVC (Poly Vinil Chloride). yaitu gabungan dari dua unsur atau lebih yang membentuk material dan sifat yang baru. tidak tahan temperatur tinggi dan berkekuatan rendah. Memiliki rantai hidrokarbon yang berbentuk lurus. b. berwarna gelap dan cendrung lunak. Keramik tradisional. dll. Contoh : tembikar. Tembaga (Cu). Berdasarkan cara pembuatannya. Non Logam adalah material yang bersifat isolator. Contoh : karet.1. Contoh : melamin. Polimer terdiri atas : a). Contoh mesin jahit Gambar A. Termoplastis. Logam non Ferro adalah logam yang unsur penyusun utamanya bukan besi (Fe). dibuat dengan pemanasan pada temperatur tinggi. b). yaitu polimer yang tahan terhadap temperatur tinggi karena memiliki rantai hidrokarbon yang bercabang. Pada umumnya. yaitu keramik yang dibuat dengan cara manual.5 Besi cor kelabu 2). 2). Contohnya : Aluminium (Al). Keramik. struktur dasar mesin-mesin dan peralatan berat yang bekerja dengan kondisi yang bergetar. keramik dapat dibagi atas : a). c). adalah gabungan dari monomer-monomer membentuk rantai hidrokarbon yang panjang yang tersusun berpola dan berulang. Material non logam dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1). Polimer. Termosetting. yaitu polimer yang membentuk rantai hidrokarbon berbentuk jala dan mempunyai sifat sangat sangat elastis. Contoh : plastik. yaitu polimer yang tidak tahan terhadap temperatur yang tinggi.Laporan Akhir Mateerial Teknik getaran. Kelompok 19 5 . keramik bersifat keras dan getas. Zinc (Zn).

Macam-macam sel satuan : a. Contoh : Body pesawat terbang 2) Ceramic Matrics Composite (CMC) dengan keramik sebagai matriks. Struktur Mikro Material Struktur mikro material adalah gambaran komposisi dan distribusi dari fasa-fasa material yang hanya dapat dilihat dengan metalografi. 2. Berdasarkan matriksnya. Struktur mikro material dapat dibagi atas : 1. kromium. komposit terbagi menjadi : 1) Metal Matrics Composite (MMC) dengan logam sebagai matriks. BCC (Body Centered Cubic) Yaitu pemusatan satu buah atom di tengah kubus. busi. Keramik modren. Sel Satuan Merupakan gabungan atom-atom yang tersusun secara teratur dengan pola berulang. 3). Kelompok 19 6 . Contoh : Tiang bangunan beton 3) Polymer Matrics Composite (PMC) dengan polimer sebagai matriks. besi. 1).Laporan Akhir Mateerial Teknik b). Atom Atom adalah bagian terkecil dari suatu material yang tidak dapat dibagi lagi dengan reaksi kimia biasa dan masih mempertahankan sifat aslinya. Contoh material yang memiliki sel satuan BCC adalah baja. Contoh : sekring. Cubic (kubus) Sel satuan kubus terdiri atas Body Centered Cubic (BCC) dan Face Centered Cubic (FCC). yaitu gabungan dari dua unsur atu lebih yang masih mempertahankan sifat aslinya terdiri dari fiber/partikel sebagai penguat dan matriks sebagai pengikat. Contoh : Ban A. yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan teknologi canggih. Komposit.2.

68 2).1 Sel satuan BCC n = 1 + 8 x 1/8 = 2 4R = a 3 a = 4R 3  4R 3 3 nxvolumeselatom 2 x(4 / 3r 3 ) APF   volumeselsatuan (4R 3 / 3) 3 = 0. Contoh material yang memiliki sel satuan FCC adalah Aluminium. FCC (Face Centered Cubic) Yaitu pemusatan satu atom pada tiap sisi kubus. Emas.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar A. Gambar A.2. Tembaga.2 Sel satuan FCC n = (½ x 6) + (1/8 x 8) = 4 4R = a 2 a = 4R 2  4R 2  2R 2 2 Kelompok 19 7 .2.

1/2) = 6 atom a = 2R Volume sel satuan V = Luas alas x tinggi = (6 x luas segitiga) x 1.633 a = (6 x ½ a. Hal inilah yang menyebabkan logam dengan Kristal BCC biasanya lebih kuat (tetapi kurang liat) jika dibandingkan dengan logam Kristal FCC yang biasa menunjukan kekuatan yang lebih rendah tetapi memiliki keliatan yang tinggi b.633a (t = 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik APF  nxvolumeselatom 4 x(4 / 3r 3 )  volumeselsatuan (2 R 2 ) 3 = 0.1/6) + 2. Titanium.633 a = (3 x a x a sin 60) x 1.74 Berdasarkan bidang gesernya. Magnesium. Kadmium.2. pada struktur Kristal BCC jumlah bidang gesernya lebih sedikit sehingga kemampuan atom-atom untuk bergeser atau mengalami dislokasi akibat deformasi akan lebih terbatas (lebih sulit) sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk menggerakan dislokasi jika dibandingkan dengan struktur Kristal FCC. t) x 1.633a) Kelompok 19 8 .3 Sel Satuan HCP n atom = (3.1) + (12. Gambar A. Zinc. Hexagonal Close Package (HCP) Contoh material yang memiliki sel satuan HCP adalah Kobalt.

94 R3 APF HCP  Volumeatom 6 x(4 / 3r 3 )  Volumeselsatuan 33.74 Macam-macam Sel Satuan Lainnya Kelompok 19 9 .24 (2R)3 = 33.899 a3 sin 60 = 4.633 a = 4.13 33.94 R 3 = 25.94 = 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik = 3a2 sin 60 x 1.24 a3 = 4.

Sifat Akustik Sifat akustik yaitu sifat material yang berhubungan dengan bunyi.5 Butir 4. Sifat Fisik Sifat Fisik merupakan sifat yang telah ada pada material tanpa melakukan proses-proses tertentu dan dapat dilihat langsung pada material. 3. 4.2.3. 5. Contoh: titik didih. Kristal. 2. Sifat Kimia Kelompok 19 10 .6 Kristal A. Seperti : warna. bentuk. dll.2. Gambar A. yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan orientasi gerak yang sama dalam 3 dimensi. Contoh: fibrasi. Sifat Magnetik Sifat magnetik yaitu sifat material untuk merespon medan magnet. yaitu Merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan orientasi gerak yang sama dalam 2 dimensi. Gambar A. Butir. Sifat-Sifat Material 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik 3. Sifat termal Sifat termal yaitu sifat material yang dipengaruhi tenperatur.

Sifat teknologi Sifat teknologi yaitu sifat material untuk mampu diproses. SifatOptik Sifat optik yaitu sifat material yang berhubungan dengan pencahayaan. Gambar A. Kekuatan. Kekerasan.3. Contoh: mampu cor 7. adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis lokal akibat penetrasi pada permukaan. Contoh: korosi. yaitu : a. Sifat Mekanik Sifat mekanik merupakan sifat pada mateial yang dipengaruhi oleh pembebanan. Contoh: pembiasan 8.1 Kurva Tegangan-Regangan Kekuatan b. adalah kemampuan material untuk menahan deformasi total pada seluruh permukaan. 6. c. Sifat mekanik terbagi menjadi 6 bagian. adalah kemampuan material untuk menyerap energi maksimum terhadap pembebanan yang diberikan sampai material itu patah.Laporan Akhir Mateerial Teknik Sifat kimiayaitu sifat dari material yang merupakan sifat kimia yang mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Kelompok 19 11 . Ketangguhan. Grafik kekerasan hanya berbentuk titik.

3.3. adalah besarnya regangan maksimum yang mampu ditahan oleh material sampai terjadi perpatahan. Gambar A.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar A.3 Kurva Kelentingan e. Kelentingan. Gambar A.3.4 Kurva Keuletan Kelompok 19 12 . maka material akan kembali ke bentuk semula. adalah kemampuan material untuk menyerap energi selama deformasi elastis yang apabila beban tersebut dilepas. Keuletan.2 Kurva Ketangguhan d.

2 Berdasarkan Jenis Pembebanan. Modulus Elastisitas.4. ultrasonic test. b. Pengujian tidak merusak.4. visual test dry penetrant. Contoh : uji tarik. Pengujian merusak. A. Contoh : uji lelah. yaitu pengujian yang dilakukan menyebabkan material menjadi rusak. Pengujian dapat dibedakan atas : A. Gambar A. Pembebanan Impak. adalah pengujian yang dilakukan dengan cara pemberian beban berubah setiap waktu. Jenis-Jenis Pengujian Pengujian dilakukan bertujuan untuk megetahui sifat mekanik yang dimiliki oleh suatu material. Kelompok 19 13 . Pembebanan Dinamis. adalah ukuran kekakuan material dan dapat diperoleh dari perbandingan antara tegangan dengan regangan. magnetic test. uji impak. radiographic test. yaitu pengujian yang dilakukan dengan cara pemberian beban tidak berubah seiring waktu.3. terdiri atas : a. Contoh : addie current test. c.1 Berdasarkan Akibat pada Material a.Laporan Akhir Mateerial Teknik f.4.5 Kurva Modulus Elastisitas A. Contoh : uji impak. Contoh : uji tarik. yaitu pengujian yang dilakukan dengan cara pemberian beban secara tiba-tiba. Pembebanan statis. b. yaitu pengujian yang tidak menyebabkan benda uji menjadi rusak.

5. Pengujian Berdasarkan Pembebanan A.5.2 Subtitusi/pergantian c.2. Cacat titik terbagi atas : a. Kelompok 19 14 . yaitu cacat yang terjadi akibat adanya kekosongan atom dalam susunan atom. Cacat pada material terbagi atas : 1. Gambar A.1 Vacancy (kekosongan) b. Subtitusi/pergantian. Intertisi adalah cacat yang terjadi akibat adanya atom lain yang menyusup dalam susunan atom.4.5. Cacat pada Material Cacat pada material dapat didefinisikan ketidaksempurnaan pada material. Gambar A. Vacancy (kekosongan).Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar A. Cacat titik Cacat titik adalah ketidaksempurnaan material yang terjadi pada satu atom. yaitu cacat yang terjadi akibat adanya pergantian atom pada susunan atom.

Dislokasi sisi.5. yaitu cacat akibat adanya atom yang menyisip pada susunan atom yang berasal dari atom itu sendiri. adalah cacat garis yang arah pergerakan atomnya tegak lurus terhadap garis dislokasi. Kelompok 19 15 .4 Self Intertisi 2.5 Dislokasi Sisi b. Gambar A.3 Intertisi d.Arah dislokasi // dengan pergerakan atom. Self Intertisi. (Dislocation line). Dislokasi terbagi atas dislokasi sisi dan dislokasi ulir.5. Dislokasi Ulir. Gambar A. yaitu cacat gais yang arah pergerakan atomnya sejajar terhadap arah garis dislokasi (Dislocation line). a.5.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gamabar A. Arah dislokasi ┴ arah pergerakan atom. Cacat Garis/Dislokasi Cacat garis adalah ketidaksempurnaan pada material akibat kekosongan pada sebaris atom.

dan ini terjadi pada material yang memiliki banyak bidang slip atau bidang geser. a. Cacat Bidang Cacat bidang yaitu ketidak sempurnaan material pada sebidang struktur atom. yakni material yang memiliki sel satuan FCC. Cacat ini terjadi pada batas butir.5. Twinning Garis kembar (Twin) adalah dua garis sejajar yang terjadi akibat slip.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar A.5. Gambar A. Cacat bidang terbagi atas Batas butir dan twinning. Batas butir Batas butir merupakan garis batas yang terjadi dari pertemuaan orientasi butir yang berbeda.6 Dislokasi Ulir 3. Garis kembar terjadi karena butir-butir saling berdesakan Kelompok 19 16 .7 Batas butir b.

8 Twinning 4.5.9 Cacat Ruang Kelompok 19 17 . Contoh : retak. porositas.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar A. Gambar A.5. Cacat Ruang Cacat ruang adalah ketidaksempurnaan kristal pada seruang atom yaitu timbulnya rongga antara batas butir karena orientasi butir dan dapat dilihat secara langsung.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Objek : Uji Tarik Asisten :Nico Walnedi Kelompok 19 18 .

1.1 Latar Belakang Material digunakan pada bidang keteknikan untuk membuat beberapa produksi. Kelompok 19 19 .2 Tujuan Praktikum Adapun yang menjadi tujuan praktikum ini adalah : 1. Pratikan dapat mengetahui kurva tegangan dan regangan. Menentukan beberapa sifat makanik spesimen dari pengujian tarik 3.3 Manfaat 1. Mendapatkan kurva uji tarik dari spesimen 2. Mengamati fenomena-fenomena fisik yang terjadi selama penarikan 1. Maka unttuk mengetahui sifat mekanis material tersebut perlu dilakukan beberapa pengujian.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB I PENDAHULUAN 1. 2. Menentukan interpretasi sifat mekanik hasil uji tarik 4. Dan salah satu pengujian adalah uji tarik. Pengujian tarik dilakukan agar kita dapat mengetahui sifat-sifat mekanik spesimen tersebut dan dapat digunakan sesuai kebutuhan dalam proses produksi. Pratikan dapat menyatakan fenomena-fenomena fisik saat pengujian tarik.

2. P Δl Gambar B. dimana uji tarik ini mengetahui seberapa kuat material menahan beban tarik sampai material patah. Pengujian tarik suatu spesimen akan menghasilkan diagram tarik antara pembebanan (P) terhadap perubahan panjang (∆L).). maka akan terjadi tegangan dan regangan material tersebut. 2. Kurva ini menjelaskan hubungan antara beban dan pertambahan panjang dari spesimen akibat pengujian tarik.3 Kurva Tegangan dan Regangan 20 Kelompok 19 .Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Jika pada suatu material diberikan energi.1 Kurva Uji Tarik 2.2 Kurva Tarik Kurva ini didapatkan dari mesin uji tarik. Kurva tersebut kemudian diubah menjadi diagram tegangan regangan ( – e) dan diagram tegangan regangan sebenarnya (tr . Proses uji tarik dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan. Berikut contoh gambar kurva uji tarik.1 Definisi Uji tarik adalah salah satu pengujian material yang bertujuan untuk mengukur kekuatan suatu material.

Kekuatan tarik adalah kekuatan suatu bahan teradap tarikan. Su  y 0 3.f l Gambar B 2. . yaitu : 1.y . Kelompok 19 21 .Laporan Akhir Mateerial Teknik Tegangan merupakan perbandingan antara beban dengan luas penampang. Rumusnya :  =   Kurva Tegangan Regangan u . ntm  2.1 Kurva Tegangan Regangan Keterangan : u = ultimate y = yield f = fracture Dari pengujian tarik akan diperoleh beberapa sifat mekanik dari material tersebut. ntm 0 Kekuatan Luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan. Kekuatan Putus adalah tegangan yang dibutuhkan untuk memutuskan bahan.

Perpanjangan adalah pertamabahan panjang yang terjadi selama ui tarik dilakukan.Laporan Akhir Mateerial Teknik Sf  t 0 4. Tegangan Teknis Besarnya pembebanan yang dilakukan terhadap luas penampang awal spesimen.l0 L  l0 l0 5.  P A0 Kelompok 19 22 .Af A0 2.4 Kurva Tegangan Regangan Teknis dan Sebenarnya Pada kurva ini dibagi pula atas dua yakni : 1. Kurva Tegangan Regangan Teknis Gambar B2.5 Kurva Tegangan Regangan Teknis a. a A0 . Reduksi peenamapang adalah pengurangan enanmpang ditempat terjadinya perpatahan. ef  lt .

true =σ(1+e) Regangan Sebenarnya Perbandingan besarnya perubahan panjang dengan panjang awal sesaat. Perbedaan ini karena pada kurva tegangan-regangan teknis luas penampangnya adalah luas penampang mula-mula yang nilainya tetap. Nilai luas penampang semakin ditarik maka semakin kecil sehingga nilai tegangan semakin besar. ε = ln ( 1 + e) Perbedaannya antara titik setelah ultimate yang dapat dilihat ada gambar. e l l i  l 0  l l0 2. σ b. Tegangan Sebenarnya Perbandingan besarnya pembebanan yang dilakukan terhadap luas penampang sesaat.Laporan Akhir Mateerial Teknik b.6 Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya a.5 Penurunan Rumus Tegangan-Regangan Sebenarnya Kelompok 19 23 . Sedangkan pada kurva tegangan-regangan sebenarnya luas penampangnya pada saat i yang nilainya berubah. Regangan Teknis Perbandingan antara perubahan panjang setelah pengujian dengan panjang awal. 2. Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya Gambar B 2.

002 dari garis regangan lalu tarik garis lurus sejajar dengan kurva. Titik perpotongan itulah yang disebut titik yield. li Ai  A 0 .6 Metode Offset Metode offset merupakan metode pencarian titik yield pada baja karbon tinggi.Laporan Akhir Mateerial Teknik a. l0 = Ai . Tegangan Sebenarnya  true  P Ai V0 = Vi A0 . Regangan Sebenarnya   l0 l1 1 dl l li l0   ln l   ln l i  ln l 0   ln  i  l   0   ln e  1 l  e l l i  l 0  l0 l0 e li l 0  l0 l0 li  e 1 l0 2. li A 0 . l0 e l l i  l 0  l0 l0 e li l 0  l0 l0 li  e 1 l0  true   true   (1  e) b. Kelompok 19 24 . l0 li P . Cara pengambilannya ambil garis 0. l0 li  true  P A 0 .

Elastisitas Kembalinya material ke bentuk semula apabila pembebanan ditiadakan atau dilepaskan .Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar B 2. b.6 Grafik Metode Offset 2. Maka material tidak bisa kembali ke bentuk semula bila pembebanan ditiadakan. Kelompok 19 25 . Fenomena luluh Terjadinya sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan. c. d. antara lain: a.7 Fenomena Uji Tarik Fenomena yang didapat pada pengujian tarik selama deformasi. Pengecilan penampang setempat (necking) Necking adalah pengecilan penampang setempat yang terjadi akibat adanya pembebanan yang berlawanan arah sehingga penampang menjadi kecil. Plastisitas Ketidak mampuan material menahan regangan sehingga apabila beban dihilangkan akan terjadi deformasi plastis.

Suatu saat dislokasi akan menumpuk. pada saat inilah terjadi Strain Hardening. yaitu: Kelompok 19 26 . maka dislokasi yang menumpuk akan muncul ke permukaan.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar B 2. Bila deformasi tetap diteruskan. Bidang patah Adalah patah yang terjadi pada material akibat pembebanan tarik. f. Bila deformasi diteruskan. sehingga terjadi pergerakan dislokasi. maka akan terjadi pertambahan dislokasi. = Ultimate Dalam pengujian tarik ini dikenal ada dua jenis mesin uji tarik . Proses : Material dideformasi. lalu menyebabkan terjadinya retak hingga material tersebut patah/ gagal. Strain Hardening Terjadi karena adanya penumpukan dislokasi pada material.7 Necking Keterangan : F = Fracture TS = Tensile strength M e.

Mesin dengan kendali beban Pada mesin ini operator mengatur beban tanpa dapat mengatur pergerakannya.Laporan Akhir Mateerial Teknik 1. Kelompok 19 27 . 2. Mesin dengan pengendali penggerak Pada mesin ini penggerak terkontrol dan beban akan menyesuaikan sendiri.

Kelompok 19 28 .1 Peralatan Praktikum 1.Ultimate testing machine 3.Kertas grafik 3. 3. Ukur kekerasan dan spesimen.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB III METODOLOGI 3.Spesimen 2.2 Skema Alat Gambar B. Spesimen dibuat menurut standar. Ukur panjang uji dan diameter dari spesimen (tebal dan lebar untuk spesimen berbentuk plat.3 Prosedur Percobaan 1.Beban 4.3. 2.1 Skema Uji Tarik 3.

Ukur diameter(tebal dan lebar spesimen berbentuk pelat) pada bagian yang putus dan ukur panjang uji setelah putus. 10. Setelah percobaan selesai. Catat beban maksimum dan beban waktu spesimen patah. Amati fenomena fisik yang terjadi selama penarikan. Jalankan mesin uji tarik (berikan beban dengan cara membuka katup beban). Untuk menyetimbangkan mesin buka katub tanpa beban. 8. Perkirakan beban tertinggi yang dapat diberikan sebagai tahanan atau reaksi dari beban terhadap beban luar (berikan faktor keamanan untuk hal ini. 9. Kelompok 19 29 . Berikan beban awal pada mesin uji tarik. 11.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4. 13. tutup katub dan matikan pompa. Siapkan mesin uji tarik yang akan digunakan pastikan beban terpasang dengan baik pastikan kertas grafik terpasang dengan baik pastikan mesin bisa bekerja dengan baik 6. Pasang spesimen pada lengan pencekam. 12. besarnya ditentukan oleh asisten dan mengacu kepada nilai kekerasan bahan) 5. Hidupkan pompa 7.

95 mm Pu Pf Li DI 4.43 44 Pu jumlah kotak sb y 7175  159.44 = 0 Kgf Kelompok 19 30 .9  0.44 45 a.5) 2 A0  94 .Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.7 mm : 7.2 Perhitungan Jumlah kotak pada sumbu x = 44 Jumlah kotak pada sumbu y = 45 A0  r 2 A0   (5. Menentukan Nilai Pi Pi = Jumlah kotak pada sumbu y х skala sumbu y P1 = 0 x 149.9 mm : 10.L0  jumlah kotak sb x jumlah kotak sb x 93.1 Data Percobaan Jenis mesin uji tarik Beban pada skala penuh Lo Do Py : UTM : 15000 Kgf : 74.8 mm : 4825 Kgf : 7175 Kgf : 5325 Kgf : 93.7 .985 mm2 Skala sumbu x = = Skala sumbu y = = L L1 .74.

44 = 6276.44 = 4483.64 Kgf P25 = 33 x 149.44 = 149.44 = 4184.68 Kgf P15 = 23 x 149.44 = 4034.44 = 5379.6 Kgf P29 = 41 x 149.04 Kgf P30 = 42 x 149.44 = 1942.88 Kgf P19 = 28 x 149.44 = 4632.44 = 747.44 = 2540.52 Kgf P26 = 36 x 149.44 = 4333.76 Kgf P21 = 30 x 149.44 = 4483.44 = 1643.44 = 6724.8 Kgf P13 = 21 x 149.36 Kgf P33 = 45 x 149.48 Kgf P31 = 43 x 149.16 Kgf P28 = 40 x 149.44 = 6127.2 Kgf P5 = 7 x 149.96 Kgf P7 = 11 x 149.44 = 3437.84 Kgf P27 = 39 x 149.12 Kgf P16 = 24 x 149.32 Kgf P20 = 29 x 149.44 Kgf P18 = 27 x 149.44 = 3138.24 Kgf P14 = 22 x 149.08 Kgf P6 = 9 x 149.44 = 5977.6 Kgf P10 = 17 x 149.84 Kgf P8 = 13 x 149.8 Kgf 31 Kelompok 19 .64 Kgf P23 = 30 x 149.44 = 448.56 Kgf P17 = 26 x 149.Laporan Akhir Mateerial Teknik P2 = 1 x 149.44 = 3885.44 = 6575.44 = 5828.44 = 4931.2 Kgf P22 = 31 x 149.72 Kgf P9 = 15 x 149.44 = 1046.44 = 2689.44 = 3586.92 Kgf P32 = 44 x 149.92 Kgf P12 = 20 x 149.44 = 3287.32 Kgf P4 = 5 x 149.44 = 4525.44 = 2241.44 = 4632.48 Kgf P11 = 18 x 149.44 = 2988.44 Kgf P3 = 3 x 149.2 Kgf P24 = 31 x 149.44 = 1344.

75 x 0.118 mm L21 = 7.1 x 0.43 = 3.43 mm L4 = 1.43 = 1.86 mm L6 = 2.43 = 0 mm L2 = 0.43 = 2.365 mm L14 = 6 x 0.516 mm L5 = 2 x 0.043 mm L12 = 5.01 mm L19 = 7.795 mm L18 = 7 x 0.25 x 0.28 Kgf P39 = 35 x 149.43 = 0.43 = 2.225 mm L22 = 8 x 0.43 = 2.44 = 5230.43 = 2.44 = 4931.5 x 0.053 mm L20 = 7.43 = 2.43 = 3.43 = 3.1 x 0.58 mm L15 = 6.43 = 0.2 x 0.5 x 0.44 = 6276.43 = 1.1 x 0.505 mm L9 = 4 x 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik P34 = 44 x 149.43 = 0.4 Kgf P40 = 33 x 149.43 =0.44 = 5529.43 = 2.44 mm 32 Kelompok 19 .43 = 1.075 mm L7 = 3 x 0.43 = 1.43 = 3.5 x 0.72 mm L10 = 4.43 = 1.04 Kgf P37 = 39 x 149.623 mm L16 = 6.5 x 0.258 mm L13 = 5.44 = 6575.5 x 0.44 = 6127.43 = 2.29 mm L8 = 3.25 x 0.16 Kgf P38 = 37 x 149.43 = 3.688 mm L17 = 6. Mencari Nilai Li Li = Jumlah kotak pada sumbu x x skala sumbu x L1 = 0 x 0.043 mm L3 = 1 x 0.935 mm L11 = 4.52 Kgf b.5 x 0.25 x 0.44 = 5828.36 Kgf P35 = 42 x 149.48 Kgf P36 = 41 x 149.

43 =16.43 = 3.1 x 0.3 mm L26 = 12.5 x 0.896 Kgf/mm2 = 8.32 91.43 = 18.08 91.5 x 0.49 mm L40 = 44 x 0.25 x 0.43 = 18.805 mm L28 = 14.56 149 .17 mm L33 = 29 x 0.43 = 6.87 mm L25 = 10 x 0.56 747 .632 Kgf/mm2 = 4.28 mm L29 = 15 x 0.5 x 0.63 mm L38 = 42 x 0.43 = 12.375 mm L27 = 13.45 mm L30 = 16 x 0.43 = 8.92 mm c.483 mm L24 = 9 x 0.43 = 15.88 mm L31 = 17 x 0.56 5  Kelompok 19 33 .34 mm L36 = 39. Menentukan Nilai  teknis  teknis  Pi A0 1  2  0 91.43 = 3.43 = 18.43 = 7.43 = 4.985 mm L37 = 41 x 0.43 = 6.2 91.56 = 0 Kgf/mm2 = 1.31 mm L32 = 19 x 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik L23 = 8.43 =5.05 mm L35 = 38 x 0.43 =16.47 mm L34 = 35 x 0.43 =17.161 Kgf/mm2 = 11.56 1046 .06 mm L39 = 43 x 0.43 = 5.425 Kgf/mm2 3  4  448 .43 = 6.44 91.

48 = 27.954 Kgf/mm2 = 21.56 = 39.44 = 42.88 = 44.68 = 35.56 = 48.643 Kgf/mm2 3138 .7 Kgf/mm2 91.218 Kgf/mm2 = 24.84 91.56 3586 .54 Kgf/mm2 91.56 4333 .56 2540 .907 Kgf/mm2 91.92 = 29.275 Kgf/mm2 91.56 = 32.56 = 14.32 = 45.56  21  4483 .24 = 34.482 Kgf/mm2 9   10   11  2241 .068 Kgf/mm2 91.56  12   13   14   15   16   17   18   19   20  2988 .56 3437 .8 91.965 Kgf/mm2 Kelompok 19 34 .436 Kgf/mm2 91.172 Kgf/mm2 91.332 Kgf/mm2 91.56 3885 .56 4184 .12 = 37.56 1942 .76 = 47.2 91.56 3287 .379 Kgf/mm2 91.56 1643 .56 2689 .Laporan Akhir Mateerial Teknik 6  7  8  1344 .6 91.56 4034 .689 Kgf/mm2 = 17.72 91.747 Kgf/mm2 91.96 91.

36 = 71.654 Kgf/mm2 91.918 Kgf/mm2 91.6 91.56 4525 .861 Kgf/mm2 91.56 = 65.56 5828 .92 = 70.48 = 68.2 91.Laporan Akhir Mateerial Teknik  22  4632 .286 Kgf/mm2 6127 .447 Kgf/mm2 6575 .654 Kgf/mm2 91.04 = 66.815 Kgf/mm2 91.56  25   26   27   28   29   30  5977 .64 = 50.758 Kgf/mm2 91.56 5828 .56 6127 .64 = 50.56 5379 .56 4931 .597 Kgf/mm2 91.965 Kgf/mm2 4632 .52 = 53.56  23   24  4483 .16 = 63.36 = 71.56 = 48.84 = 58.56 6276 .597 Kgf/mm2 91.185 Kgf/mm2 91.48 = 68.918 Kgf/mm2 91.04 = 66.183 Kgf/mm2 91.55 Kgf/mm2 91.8 91.56  37  Kelompok 19 35 .16 = 63.56 = 73.56 6575 .56  31   32   33   34   35   36  6724 .56 6276 .55 Kgf/mm2 91.

01 / 74.04 = 0.118 / 74.9 e9 = 1.9 e17 = 2.03 = 0.043 / 74.125 Kgf/mm2 4931 .9 e19 = 3.034 = 0.041 = 0.56  39   40  5230 .9 e16 = 2.39 Kgf/mm2 91.9 e4 = 0.9 e20 = 3.86 / 74.043 Kelompok 19 36 .035 = 0.02 = 0. Mencari Nilai Regangan teknis eteknis  Li L0 e1 = 0 / 74.43 / 74.58 / 74.861 Kgf/mm2 91.9 e13 = 2.56 d.225 / 74.001 = 0.623 / 74.72 / 74.036 = 0.9 e14 = 2.9 e11 = 2.795 / 74.56 = 57.011 = 0.9 e3 = 0.053 / 74.9 e10 = 1.043 / 74.9 e15 = 2.4 91.017 = 0.9 e2 = 0.9 =0 = 0.032 = 0.516 / 74.365 / 74.9 e5 = 0.935 / 74.037 = 0.688 / 74.52 = 53.023 = 0.9 e8 = 1.9 e12 = 2.9 e21 = 3.014 = 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik  38  5529 .006 = 0.9 e6 = 1.027 = 0.026 = 0.007 = 0.9 e7 = 1.29 / 74.042 = 0.505 / 74.258 / 74.9 e18 = 3.075 / 74.28 = 60.

34 / 74.047 = 0.17 / 74.0011 + 1) σ6 = 14.87 / 74.218 = 0.092 = 0.47 / 74.9 e37 = 17.08 / 74.644 Kgf/mm2 = 25.9 e29 = 6.896 x (0.007 + 1) σ5 = 11.9 e39 = 18.925 Kgf/mm2 = 8.9 e25 = 4.92 / 74.247 = 0.985 / 74.9 e40 = 18.9 e32 = 8.166 = 0.227 = 0.9 e30 = 6.9 e38 = 18.06 / 74.44 / 74.900 Kgf/mm2 = 18.9 e34 = 15.253 e.9 e36 = 16.001 + 1) σ3 = 4.217Kgf/mm2 = 11.556 Kgf/mm2 = 14.017+ 1) σ8 = 21.63 / 74.9 e33 = 12.425 x (0.052 = 0.072 = 0.45 / 74.805 / 74.263 Kgf/mm2 = 21.161 x (0.05 / 74.483 / 74.633 Kgf/mm2 = 4.098 = 0.482 x (0.9 e28 = 6.375 / 74.046 = 0.31 / 74.218 x (0.9 e35 = 16. Menentukan Nilai  true  true   teknis x(e  1) σ1 = 0 x (0 + 1) σ2 = 1.9 e23 = 3.9 e27 = 5.3 / 74.045 Kgf/mm2 37 .023 + 1) Kelompok 19 = 0 Kgf/mm2 = 1.632 x (0.078 = 0.241 = 0.057 = 0.9 e26 = 5.201 = 0.109 = 0.9 e31 = 7.49 / 74.Laporan Akhir Mateerial Teknik e22 = 3.014+ 1) σ7 = 17.02 + 1) σ9 = 24.082 = 0.128 / 74.235 = 0.06 + 1) σ4 = 8.086 = 0.9 = 0.954 x (0.9 e24 = 3.689 x (0.

577 Kgf/mm2 = 44.072 + 1) σ27 = 63.047 + 1) σ24 = 50.7 x (0.467 Kgf/mm2 Kelompok 19 38 .098 + 1) σ32 = 71.587 Kgf/mm2 = 70.180Kgf/mm2 = 33.953 Kgf/mm2 = 62.854 Kgf/mm2 = 40.563 Kgf/mm2 = 49.918 x (0.974 Kgf/mm2 = 68.227 + 1) σ37 = 63.847 Kgf/mm2 = 74.758 x (0.275 x (0.201 + 1) σ35 = 68.379 x (0.03 + 1) σ13 = 34.092 + 1) σ31 = 70.144 Kgf/mm2 = 38.436 x (0.654 x (0.965 x (0.082 + 1) σ29 = 66.648Kgf/mm2 = 85.681 Kgf/mm2 = 74.357 Kgf/mm2 = 37.597 x (0.332 x (0.637Kgf/mm2 = 74.241 + 1) σ39 = 57.041 + 1) σ20 = 47.218 + 1) σ36 = 66.447 x (0.654 x (0.675 Kgf/mm2 = 86.227 Kgf/mm2 = 67.747 x (0.052 + 1) σ25 = 53.032 + 1) σ14 = 35.057 + 1) σ26 = 58.109 + 1) σ33 = 73.54 x (0.643 x (0.627 Kgf/mm2 = 35.286 x (0.027 + 1) σ12 = 32.907 x (0.Laporan Akhir Mateerial Teknik σ10 = 27.55 x (0.068 x (0.020 Kgf/mm2 = 45.247 + 1) σ40 = 53.026 + 1) σ11 = 29.166 + 1) σ34 = 71.034 + 1) σ15 = 37.235 + 1) σ38 = 60.627 Kgf/mm2 = 72.043 + 1) σ22 = 50.463 Kgf/mm2 = 30.39 x (0.597 x (0.035 + 1) σ16 = 39.073 Kgf/mm2 = 52.172 x (0.125 x (0.042 + 1) σ21 = 48.242 Kgf/mm2 = 53.839 Kgf/mm2 = 47.303 Kgf/mm2 = 51.04 + 1) σ19 = 45.086 + 1) σ30 = 68.965 x (0.183 x (0.037 + 1) σ18 = 44.505 Kgf/mm2 = 82.55 x (0.036 + 1) σ17 = 42.951 Kgf/mm2 = 71.815 x (0.861 x (0.046 + 1) σ23 = 48.211 Kgf/mm2 = 56.921 Kgf/mm2 = 51.078 + 1) σ28 = 65.847 Kgf/mm2 = 79.245 Kgf/mm2 = 83.861 x (0.185 x (0.918 x (0.093 Kgf/mm2 = 78.253 + 1) = 28.

035 = 0.079 = 0.011 = 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik f.042 = 0.078 + 1) ε 28 = Ln (0.037 = 0.026 + 1) ε 11 = Ln (0.046 + 1) ε 23 = Ln (0.034 = 0.0.056 = 0.001 + 1) ε 3 = Ln (0.042 + 1) ε 21 = Ln (0.026 = 0.001 = 0.032 + 1) ε 14 = Ln (0.017 = 0.007 + 1) ε 5 = Ln (0.023 = 0. Menentukan Nilai  true  true  Ln (e  1) ε 1 = Ln (0 + 1) ε 2 = Ln (0.057 + 1) ε 26 = Ln (0.05 = 0.006 + 1) ε 4 = Ln (0. 036 + 1) ε 17 = Ln (0.034 = 0.041 = 0.04 = 0.043 + 1) ε 22 = Ln (0.045 = 0.014 = 0.006 = 0.02 + 1) ε 9 = Ln (0.045 = 0.035 + 1) ε 16 = Ln (0.027 + 1) ε 12 = Ln (0.069 = 0.082 + 1) ε 29 = Ln (0.017 + 1) ε 8 = Ln (0.052 + 1) ε 25 = Ln (0.041 + 1) ε 20 = Ln (0.34 + 1) ε 15 = Ln (0.014 + 1) ε 7 = Ln (0.039 = 0.007 = 0.075 = 0.04 + 1) ε 19 = Ln (0.02 = 0.03 + 1) ε 13 = Ln (0.083 39 .023 + 1) ε 10 = Ln (0.011 + 1) ε 6 = Ln (0.047 + 1) ε 24 = Ln (0.027 = 0.072 + 1) ε 27 = Ln (0. 037 + 1) ε 18 = Ln (0.03 = 0.031 = 0.086 + 1) Kelompok 19 =0 = 0.

154 = 0.247 + 1) ε 40 = Ln (0.225 Kelompok 19 40 .227 + 1) ε 37 = Ln (0.183 = 0.201 + 1) ε 35 = Ln (0.088 = 0.218 + 1) ε 36 = Ln (0.Laporan Akhir Mateerial Teknik ε 30 = Ln (0.216 = 0.235 + 1) ε 38 = Ln (0.253 + 1) = 0.109 + 1) ε 33 = Ln (0.166 + 1) ε 34 = Ln (0.241 + 1) ε 39 = Ln (0.204 = 0.221 = 0.093 = 0104 = 0.211 = 0.092 + 1) ε 31 = Ln (0.197 = 0.098 + 1) ε 32 = Ln (0.

031 0.023 0.000 50.017 0.000 0.000 0.056 0.032 0.086 0.098 0.037 0.042 0.000 0.040 0.218 0.000 20.000 10.235 0.221 Kelompok 19 41 .000 70.197 0.041 0.000 80.154 0. Kurva Tegangan Regangan Sebenarnya 100.075 0.035 0.043 0.023 0.027 0.006 0.047 0.000 60.037 0.247 2.011 0.211 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4. Kurva Tegangan Regangan Teknis 80.000 0.000 60.3 Grafik 1.000 0.000 40.006 0.000 30.000 70.000 40.034 0.083 0.000 0.000 50.000 20.027 0.017 0.093 0.078 0.045 0.057 0.000 30.166 0.011 0.000 90.000 10.

8 dan setelah dilakukan pembebanan ternyata didapatkan D1 = 7. karena pada batas itu spesimen bisa menahan pembebanan. Bidang Patah Yaitu spesimen tidak mampu lagi menahan pembebanan dan menyebabkan spesimen putus. Dan pada data dapat dilihat juga perbandingan antara D0 dan D1. Fenomena Luluh Yaitu spesimen mengalami sebagian kecil deformasi plastis. Pengecilan 42 Kelompok 19 . yaitu 7175. yaitu titik fracture.4 Analisa Pada percobaan uji tarik ini akan terlihat fenomena-fenomena pada spesimen. Ini terjadi pada beban 4825. Yaitu setelah Pyield = 4825. 2. Yaitu pada titik yield. 3. yaitu: 1. Ini terjadi setelah spesimen melewati titik ultimatenya. Necking Yaitu pengecilan penampang spesimen karena adanya pembebanan.9 mm dan setelah diberi pembebanan sampai mencapai Pf = 5325 spesimen menjadi 93. 4.7 mm.95. Peerpatahan terjadi karena ikatan-ikatan antar partikel tidak sanggup lagi menahan beban yang mengakibatkan spesimen putus. Ini dapat dilihat sebelum L0 = 74.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4. Ini terjadi ketika berada di daerah plastis dan telah melewati Py = 4825. pada daerah elastis jarum cepat bergerak. Pf = 5325. Elastisitas Yaitu saat percobaan. Ini terjadi setelah mencapai batas maksimal. 5. D0 = 10. Jadi dengan kata lain spesimen bertambah panjang. dan jika beban dihilangkan maka spesimen kembali kebentuk semula dengan P yield = 4825. Pada pengujian tarik juga terjadi penambahan panjang spesimen ini terjadi setelah spesimen melewati daerah elastis dan masuk ke daerah plastis. Plastisitas Yaitu spesimen tidak mampu menahan pembebanan dan jika beban dilepaskan tidak kembali ke bentuk semula.

itu menandakan suatu material atau spesimen bisa dianggap ulet.Laporan Akhir Mateerial Teknik diameter ini terjadi setelah spesimen melewati titik ultimatenya maka akan terjadi pengecilan penampang (necking). Dari kurva pada mesin dapat ditentukan / didapatkan kurva tegangan regangan teknis dan sebenarnya. Kelompok 19 43 . Apabila terjadi pemanjangan dan necking dalam waktu yang lama. namun jika suatu spesimen mengalami necking yang sebentar maka dapat dikatakan bahwa material ersebut memiliki sifat getas.

Fenomena luluh d. Bidang patah e.2 Saran 1. Teliti dalam melihat skala pada alt pengujian. yaitu: a. yaitu: 1. juga bisa dilihat fenomena-fenomena yang terjadi pada uji tarik. Tegangan putus 5. akan didapat kurva yang menunjukkan antara beban tarik dengan perubahannya. Dari pengujian ini juga didapatkan sifat mekanik dari suatu material. Tegangan luluh 4. 2. Elastisitas b. Keuletan 3. Modulus elastisitas Selain itu. Teliti dalam memeriksa grafik agar mendapatkan hasil yang maksimal. Necking 5. Kekuatan tarik 2.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB V PENUTUP 5. Plastisitas c. Kelompok 19 44 .1 Kesimpulan Pada pengujian tarik.

Bagaimana hubungan antara kekuatan tarik dengan kekerasan. gambarkan sketsa mesin dan jelaskan prinsip kerjanya loodcess spesimen 4. Apakah yang saudara ketahui tentang mesin uji tarik. Kekuatan tarik Kekerasan = F A = F A0 2. Bagaimana cara memprkirakan kekuatan tarik spesimen untuk menentukan skala beban pada mesin uji tarik Cara menentukan kekuatan tarik pada mesin uji tarik yaitu dengan perbandingan :    Melihat jenis material yang diuji. Memperlihatkan bentuk penampang dari specimen dan kekerasan dari specimen. perpanjangan dan reduksi penampang? crosshead  Kekuatan Tarik adalah kemampuan material untuk menahan deformasi total hingga patah Kelompok 19 45 . batas luluh. Tuliskan rumusnya dan tentukan batasan pemakainya Hubungan antara kekuatan tarik dan kekerasan berbanding lurus semakin besar kekuatan maka kekerasan semakin besar pula. Besarnya pembebanan diukur dengan dinamometer yang ada disamping mesin. 3. Apakah yang saudara ketahui tentang kekuatan tarik.Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM 1.

 (Tegangan dan Regangan Sebenarnya) Kelompok 19 46 . Gambarkan kurva uji tarik. Perpanjangan adalah pertambahan panjang saat dilakukan uji tarik. Reduksi penampang adalah pengurangan luas peenampang akibat ditambahnya pembebanan pada uji tarik 5. Kurva tr .Laporan Akhir Mateerial Teknik    Batas luluh adalah batas dimana terjadi perubahan sifat dari elastis menjadi plastis. kurva tegangan-regangan teknis dan kurva tegangan-regangan sebenarnya a.e (Tegangan dan Regangan Teknis) b. Kurva  .

Tegangan dan regangan teknik b.166 0.017 0.000 30.000 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SESUDAH PRAKTIKUM 1.000 40.032 0.235 0.047 0.006 0. Regangan teknik merupakan besarnya perubahan panjang material yang diberi gaya terhadap panjang awal. Tegangan dan regangan sebenarnya. b.000 70. Diagram/ Grafik untuk pengujian tarik 80.086 0. c. Jelaskan pengertian-pengertian berikut: a.043 0.247 Kelompok 19 47 . Tegangan sebenarnya merupakan gaya yang diberikan pada luas wilayah tertentu sewaktu dilakukan pengujian tarik.000 0.000 0.000 50.218 0. Regangan sebenarnya merupakan perubahan ukuran material terhadap panjang sesaat sewaktu dilakukan pengujian tarik. Tegangan teknik merupakan banyaknya gaya yang diberikan pada luas penampang spesimen.000 60. c.023 0.011 0.027 0. Buatlah diagram tersebut dari pengujian tarik yang dilakukan! Jawab : a.000 20.035 0.078 0.057 0.098 0.037 0.000 10.041 0.

38 Harga n = 8. Bila hubungan antara tegangan sebenarnya dan perpanjangan garis sejajar dapat dinyatakan dengan persamaan σ = Kɛn .027 0.040 0. Nyatakan dan berikan interprestasi atas hasil pengujian tarik tersebut.000 70.2 0. Jawab: Interprestasi atas pengujian tarik adalah uji tarik dilakukan dengan UTM yang bertujuan untuk mendapatkan kurva uji tarik kemudian kurva ini akan diubah menjadi kurva tegangan-regangan sebenarnya.000 0.075 0.000 90.05 0.154 0.000 30.15 0.037 0.221 Kelompok 19 48 .045 0.006 0.211 2.042 0.017 0.1 0.25 Series1 Expon.011 0.000 80.197 0.000 10.000 40.000 0.083 0.000 20.374 120 y = 18.023 0.000 60.056 0.031 0.374x Harga k = 18.000 0. tentukan harga K dan n : Y = 18.383e8.034 0. 3.3747x 100 80 60 40 20 0 0 0.38e8.093 0.000 50. (Series1) 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik 100.

Apakah dari pengujian yang dilakukan anda dapat langsung menghitung modulus elastisitas dari bahan tersebut? Jawab : Nilai modulus elastisitas dari bahan dapat ditentukan karena terdapat kurva yang langsung diperoleh nilai tegangan dan regangan. Kelompok 19 49 .Laporan Akhir Mateerial Teknik 4.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Objek : Uji Keras Asisten :Andi Nofrianto Kelompok 19 50 .

3. 2. Kelompok 19 51 .untuk itu di pelajari cara menentukan kekerasan material agar daoat di proses sesuai dengan sifatnya.dan knoop.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB I PENDAHULUAN I.yaitu kekerasan.meyers.vickers.kelentingan. Dan untuk mendapatkan material yang berkualitas diperlukan pengujian terhadap material tersebut. I.brineel.keuletan. I. Pemahaman mengenai sifat tersebut harus dikuasai oleh seorang engineer. Material mempunyai berbagai macam sifat mekanik yaitu kekerasan. Mahasiswa mampu membandingkan beberapa metode pengukuran kekerasan. Pada pratikum kali ini akan dibahas salah satu sifat mekanik.dll. sehingga dapat menggunakan material yang tepat untuk membuat suatu produk.1 Latar Belakang.kekuatan. Kekerasan tiap material berbeda-beda untuk dapat menentukan nilai kekerasan dari suatu bahan dapat digunakan beberapa metode seperti metode rockwell.2 Tujuan 1. Mahasiswa mampu menentukan angka kekerasan bahan.ketangguhan.3 Manfaat Dari pengujian keras. Mahasiswa mampu mengiterpretasikan hasil uji keras. praktikan mampu mengetahui sifat mekanik dari sebuah material.

Vickers. Kekerasan dapat juga didefinisikan melalui beberapa pandangan yaitu : 1. Rockwell. Cara yang umum dilakukan dengan metode Brinell. mempunyai komposisi kimia(OH)2 Mg3Si4O10.besarnya energi yang diserap selama pembebanan dinamik 2. 2.1 Metode Goresan Ketahanan terhadap goresan dilakukan secara langsung menggoreskan material yang lebih keras dari pada spesimen uji. Knoop.13 Talk Kelompok 19 52 .2. Talk .Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kekerasan diukur dengan skala Mohs. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1. Ketahanan terhadap goresan Dilakukan dengan menggoreskan material yang lebih keras dari benda uji. Ketahanan terhadap deformasi plastis Diukur dengan pemberian beben lokal melalui penekanan. yaitu : a. Meyers.2 Metode Pengujian Kekerasan Beberapa definisi yang dipakai untuk menyatakan kekerasan adalah: 2. yaitu batuan yang sangat lunak dengan kekerasan 1 pada skala Mohs. pada umumnya berwarna putih. 3.1 Teori Khusus Definisi kekerasan secara umum adalah ketahanan material terhadap deformasi plastis lokal akibat penetrasi di permukaan.

Berikut merupakan gambarnya : Gambar1. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1. orange. ungu. cokelat. Kalsit. pink. Pada umumnya tidak berwarna atau transparan dengan kekerasan 3 skala Mohs. Berikut merupakan gambarnya : Kelompok 19 53 . Gypsum . dan putih. Sifat lunak dan pejal dengan skala Mohs 1.14 Gypsum c. dengan unsur pembentuk kimianya terdiri dari Ca dan CO3 . kelabu.15 Kalsit d. kuning dan transparan. yaitu merupakan mineral utama pembentuk batu gamping. Kekerasan 4 skala Mohs dengan unsur kimia CaCO3. biru. yaitu salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium yang mendominasi pada mineralnya.5-2 dan umumnya berwarna putih.2H2O. Fluorit. merah. yaitu bersifat transparan dan memiliki variasi warna hijau.Laporan Akhir Mateerial Teknik b. Yang paling umum ditemukan adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan rumus kimia CaSO4.

cokelat dan hijau dengan kekerasan 6 skala Mohs. seperti kuning. Apatit. hingga ungu terang.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar 1.NaAlSi3O8 . yaitu bersifat keras dan memiliki unsur kimia(KAlSi3O8 .18 Felspar g. Kuarsa. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1. Bersifat transparan dan tidak memiliki warna dengan kekerasan 7 skala Mohs. putih.17 Apatit f. Umumnya berwarna putih. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1. cokelat. yaitu memiliki warna yang bervariasi yang banyak. yaitu salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak kontinen bumi dan memiliki unsur kimia SiO2.CaAl2Si2O8). biru. Bersifat transparan dan memiliki kekerasan 5 skala Mohs.16 Fluorit e. Berikut merupakan gambarnya : Kelompok 19 54 . Felspar.

Bersifat transparan dengan warna cokelat. atau alotrop.21 Korundium j. yaitu memiliki unsur kimia (Al2O3). Intan terkenal karena memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa. Nilai kekerasan 8 skala Mohs.20 Topas i. Nilai kekerasan 9 Skala Mohs. Bersifat transparan bening. Topas. orange. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar 1. hijau. yaitu mineral yang secara kimia merupakan bentuk kristal. kuning dan pink. dengan warna biru. biru. Kekerasan 10 skala Mohs. Berikut merupakan gambarnya : Gambar 1. merah hati.19 Kuarsa h. dari karbon. ungu dan pink. cokelat. yaitu memiliki unsur kimia Al2SiO4(F. terutama faktor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan cahaya. Korundium.OH)2 ). Berikut merupakan gambarnya : Kelompok 19 55 . Intan.

2. Pengujian dilakukan dengan menjatuhkan bola dengan ukuran tertentu dan ketinggian lantunan bola. Hal ini dikarenakan energi yang diserap oleh material yang lebih lunak akan lebih besar dibandingkan dengan material yang keras. Kekuatan logam terletak pada 4-6 Indeks Mohs dan yang paling keras merupakan intan dengan kekerasan 10 skala Mohs. Sehingga pantulannya akan semakin rendah. ΔEP = EP1 – EP2\ = mgh1 – mgh2 = mg( h1 . Material lunak dapat memberikan pantulan terhadap bola baja lebih rendah dibandingkan material keras.h2 ) Kelompok 19 56 .23 Metode lantunan bola Dilakukan dengan cara Scleroscope (metode lantunan bola).Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar 1. maka semakin keras material.22 Intan Semakin tinggi indeks Mohs. 2.2 Metode Pantulan h1 h2 Gambar 1.

b. Setelah beban dihilangkan kemudian dicari rata-rata dari 2 buah pengukuran diameter pada jejak yang berarah tegak lurus.2. 2. Tidak dapat dihitung kekerasannya c. lalu dicari nilai kekerasannya. x D/2 D t t d/2 Gambar 1. lekukan diameter diukur dengan mikroskop. t = D/2 – x Kelompok 19 57 .2. Bila plat tipis.3.1 Kekerasan Brinell Yaitu berupa pembentukan lekukan pada permukaan dengan menggunakan bola baja sebagai penetrator. Beban diletakkkan selama waktu beberapa saat. pantulan tidak murni lagi karena sudah ada pengaruh landasan. Metode ini terbagi menjadi 5 cara.3 Metode Penekanan Logam yang diuji ditekan sehingga berbentuk bekas penekanan.Laporan Akhir Mateerial Teknik Semakin rendah nilai ketinggian dari pantulan ( h2 ) dari suatu benda menyebabkan meningkatnya nilai ΔEP dikarenakan energi yang diserap oleh material besar Kerugian menggunakan metode ini adalah : a. Bila material keras maka kemungkinan bola menjadi patah. Prinsip umum pengujian ini adalah menekan spesimen uji dengan suatu indentor.24 Pengukuran Diameter Pada Jejak Yang Berarah Tegak Lurus. yaitu : 2.

2 Kekerasan Meyer Meyer mengajukan definisi kekerasan yang lebih rasional dari pada Brinell yakni berdasarkan luas proyek jejak bukan luas permukaannya. Kelompok 19 58 .Laporan Akhir Mateerial Teknik x ( D / 2) 2  ( d / 2) 2 t  D / 2  ( D / 2) 2  (d / 2) 2  1 / 2( D  D 2  d 2 ) BHN = P/A = P/πDt BHN  P D( D / 2  ( D / 2) 2  (d / 2) 2 ) P  BHN  D / 2( D  D 2  d 2 ) 2P D( D  D 2  d 2 ) 2.25 Pengukuran Diameter Pada Jejak Yang Berarah Tegak Lurus. r=½d A = r2 = (½ d) 2 = d 2 / 4 BHN = P P 4P  2  2 A d / 4 d Gambar 1.3.2. Tekanan rata-rata antara penumbuk dan lekukan adalah beban dibagi proyeksi lekukan.

Gambar 1. Besarnya sudut antara permukaan piramida yang saling berhadapan adalah 136 o .2.26 Penumbuk Piramida Intan Gambar dibawah ini adalah penumbuk piramida intan tampak depan Gambar 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik 2. 2x . 2(d/4 2) = d2 8Sin680 d2 4 Sin680 Kelompok 19 59 . fo = ½ .3 Kekerasan Vickers Uji kekerasan Vickers dilakukan dengan menggunakan penumbuk piramida intan yang dasarnya berbentuk bujur sangkar.27 Penumbuk Piramida Intan (Tampak Depan) X = d/2 sin 45 0 = d/2 ½ 2 = d/4 2] Fo  FG( x) d/4 2 d2   0 0 Sin68 Sin68 4Sin680 Luas = ½ .3.

Sin68 0  d2 d2 2Sin68 0 P VHN =  A VHN = 1.3. Pada dasarnya pengujian knop hampir sama dengan Vickers.11)/ .4 Kekerasan Knop Disebut juga dengan kelarasan mikro.t = 4 l / b = 7.11 b/t = 4. b.2 P l2 .HKN = P/A = P/(l x b /2) = P/ (l x l/7. A (Luas permukaan lekukan) = 4 x luas A = 4x =½ d2 8Sin68 0 d2 Sin68 0 P 2 P.2. Cepat . hal ini dikarenakan.28 Bentuk Penekan Kekerasan Knop b = l / 7.00 Gambar 1. tetapi berbeda pada fungsinya dimana pengujian Knop dilakukan untuk menguji material yang kecil.11 . Bebas dari kesalahan Kelompok 19 60 14.5 Kekerasan Rockwell Uji kekerasan yang paling banyak dipakai adalah uji Rockwell.3.Laporan Akhir Mateerial Teknik 1. Bentuk penekanan Vb = 7.854P d1  d 2 d  2 2 d 2.2.11 2 HKN = 2.

Laporan Akhir Mateerial Teknik manusia dan Mampu membedakan kekerasan yang memiliki perbedaan kecil pada baja yang diperkeras.2. Rockwell menggunakan bola baja dengan diameter 1/16. 1/8.5 Bentuk Penekanan Rockwell (Tampak Samping) Kelompok 19 61 . ¼.1/2 (inchi). sehingga bagian yang mendapat perlakuan panas dapat diuji kekerasannya. Skala Rockwell : Superficial Rockwell : A = Beban mayor 60 kg B = Beban mayor 100 kg C = Beban mayor 150 kg Penggunaan skala Rockwell untuk logam : Keras = Skala Rockwell A Lunak = Skala Rockwell B HT = Skala Rockwell C Gambar C. Uji Rockwell menggunakan kerucut intan sebagai penetrasi dan untuk Superficial.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Skala kekerasan bahan Kelompok 19 62 .

Berdasarkan kandungan karbon dari material tersebut maka apabila %C yang terdapat pada material tinggi maka material tersebut akan bersifat keras. Komposisi paduan jika unsur paduan yang saling menguatkan maka material semakin keras 4. Kelompok 19 63 .Laporan Akhir Mateerial Teknik 2. Jenis material Dimana material anorganik terbagi atas 2 yaitu logam dan non logam dimana pada umumnya logam cenderung memiliki kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan non logam dikarenakan logam memiliki ikatan ion dan kovalen 3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kekerasan Beberapa faktor – faktor yang mempengaruhi kekerasan antara lain : 2.

2. Pengukuran kekerasan dilakukan dibeberapa titik pada permukaan benda uji.Tuas pengendali . Permukaan benda uji (specimen) dibersihkan hingga permukaan tersebut rata dan sejajar terhadap permukaan meja uji.2 Skema Alat Gambar C. 3.Penumpuk .1 Peralatan dan Bahan Pada percobaan uji keras.Skala 3. Kelompok 19 64 .1 Alat Uji Keras Rockwell 3.3.Spesimen uji . digunakan : .3 Prosedur Percobaan 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB III METODOLOGI 3. Pemilihan metode pengujian kekerasan yang dipakai didasarkan atas keperluan.Beban .

5 2. HRA = 51.5 33.5 x Kelompok 19 65 . 1 2 Beban Identor Warna Skala HRC 48.1 Data perhitungan 4. Interpelasi data dan tabel konversi harga kekerasan.5 BHN = 144 BHN = 160.5 52 52 42.2 Perhitungan Konversi harga kekerasan dari Rockwell ke Brinell 1.5 32. Besi 1.4. HRA = 48.1 Data Hasil Percobaan Material No.5 52 51.5 34 36 Kuningan 3 4 5 60 Kg Diamond Cone Hitam 33.5 45 Baja 3 4 5 1 2 60 kg Diamond Cone Hitam 44 45 46.5 51.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.5 Tabel C.5 Besi 3 4 5 1 2 60 Kg Diamond Cone Hitam 51.5 51. A.

5  51 x  159  52  51 161  159 1 3  0.5 x  159 X = 160.5 BHN = 162 BHN = 162 B.5 C. HRA = 45 5.Laporan Akhir Mateerial Teknik 51 159 51. HRA = 51. HRA = 33.5 2.5 4.5 BHN = 32. HRA = 52 5.5 BHN = 34 BHN = 36 BHN = 33. HRA = 36 3.5 3. HRA = 46. Baja 1. HRA = 44 4. HRA = 52 BHN = 160. HRA = 45 3. HRA = 32.5 BHN = 33. Kuningan 1. HRA = 33.5 BHN = 119 BHN = 130 BHN = 125 BHN = 130 BHN = 137 Kelompok 19 66 . HRA = 42. HRA = 34 2.5 4.5 5.

5 Data perhitungan Besi Baja Kuningan BHN 144 160.5 33.5 160.5 Kelompok 19 67 .3 Tabel Perhitungan Bahan No 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 HRA 48.5 51.5 52 52 42.5 51.5 33.5 32.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4.5 162 162 119 130 125 130 137 34 36 33.4.5 45 44 45 46.5 34 36 33.5 32.5 Tabel C.

4 Grafik 1. BHN 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 besi baja kuningan Kelompok 19 68 . HRA 60 50 40 Besi 30 20 10 0 1 2 3 4 5 Baja Kuningan 2.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4.

material akan mendapat tekanan atau penetrasi dari identor intan.5 Analisa Pengujian uji keras merupakan jenis pengujian yang bersifat merusak spesimen. Pada pengujian kuningan. maka didapatkan nilai rata-rata nilai kekerasannya adalah 32. didapatkan nilai kekerasan rataratanya 2. Hal ini disebabkan karena nilai yang bisa dikonversikan dalam harga Brinell adalah nilai yang kekerasannya 20 kg ke atas dari Rockwell skala A.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4. alumunium. dan kuningan. yaitu tembaga. Pada mesin Rockwell Hardness Tester. Ini terjadi karena kekersan pada seluruh bagian material tidaklah sama. Pada pengujian pertama yaitu tembaga. digunakan skala A dengan beban sebesar 60 kg.6 HRC. Setelah dikonversikan ke harga kekerasan Brinell maka didapatkan nilai kekerasan Brinell sekitar 77 BHN sampai 79 BHN. Setelah dikonversikan ke harga kekerasan Brinell maka didapatkan nilai kekerasannya berkisar 120 BHN sampai 123 BHN. 69 Kelompok 19 . Pengujian keras pada tiap-tiap spesimen . Alat uji yang dipakai dalam pratikum kali ini adalah Rockwell Hardness Tester. Kelima titik ini diambil untuk mewakili nilai kekerasan material tersebut. Pada pengujian alumunium. yang nantinya akan di konversikan ke nilai kekerasan Brinell yang satuannya BHN. Pada percobaan yang telah kami lakukan digunakan 3 buah spesimen.88 HRC.44 HRC. Pada saat spesimen diuji dengan mesin Rockwell. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya dislokasi pada material tersebut. sehingga terlihat pada spesimen akan ada lekukan atau lubang-lubang pada permungkaan material . Konversi nilai kekerasan didapatkan menggunakan tabel konversi harga kekerasan. dari kelima titik yang diuji nilai kekerasannya maka didapat nilai kekerasan rata-ratanya adalah 46. nilainya adalah 0 BHN untuk kelima titik yang di uji. nilai kekerasan yang didapat dari kelima titik yang diuji berbeda-beda. Namun setelah dikonversikan ke nilai kekerasan Brinell. Nilai kekerasan yang didapat dari mesin Rockwell satuannya adalah HRC. Pada pratikum diambil lima titik pada tiap spesimen . dari kelima titik yang diuji nilai kekerasannya.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Selanjutnya dari nilai kekerasan dari masing-masing spesimen yang telah diuji didapatkan bahwa nilai kekerasan alumunium lebih keras dibandingkan nilai kekerasan dari kuningan dan nilai kekerasan tembaga. Namun menurut literatur nilai kekerasan kuningan dalah yang paling tinggi dari spesimen alumunium dan tembaga. Pada dasarnya kuningan terdiri dari unsur tembaga dan seng dimana unsur tembaga yang terkandung lebih banyak dari kandungan seng. Pada grafik juga kelihatan dengan jelas yang mana nilai kekerasan alumunium lebih tinggi dari nilai kekerasan kuningan maupun nilai kekerasan tembaga. Nilai rata-rata kekerasan untuk spesimen alumunium adalah 46,6 HRC dan nilai kekerasan rata-rata untuk kuningan adalah 32,44 HRC. Sedangkan untuk tembaga yang mana memiliki nilai rata-rata kekerasannya yang paling kecil diantara spesimen yang diuji adalah 2,88 HRC. Dari nilai tersebut jelas

menunjukan bahwa pada percobaan ini nilai kekerasan yang paling tinggi adalah spesimen alumunium dan paling rendah adalah spesimen tembaga. Pada pengujian ini terdapat beberapa kesalahan yang terjadi bila dibandingkan secara teoristis yaitu : 1. Nilai kekerasannya tidak sama disemua titik pada spesimen 2. Nilai kekerasan pada kuningan harusnya lebih tinggi bila dibanding nilai kekerasan pada spesimen Aluminium tetapi jika kita ambil nilai rata-rata kekerasannya nilai kekerasan alumunium lebih tinggi dari nilai kekerasan tembaga. Perbedaan nilai kekerasan percobaban dengan literatur bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1. Ketidaktelitian dalam membaca skala. 2. Alat uji yang kurang akurat. 3. Dislokasi pada daerah tertentu pada material. 4. Ukuran butir yang tidak sama pada material. 5. Terjadinya beban yang tidak stabil.

Kelompok 19

70

Laporan Akhir Mateerial Teknik

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 1. Nilai kekerasan dari masing-masing titik yang diuji pada tiap spesimen berbeda-beda. 2. Dari percobaan yang didapatkan, nilai kekerasan yang paling tinggi adalah alumunium. Yang kedua adalah kuningan dan yang paling randah adalah tembaga. Namun dari literatur nilai kekerasan kuningan lebih tinggi daripada nilai kekerasan alumunium. 3. Metode pengujian dengan Rockwell lebih mudah digunakan dibandingkan pengujian dengan metode lainnya Rockwell dapat langsung dibaca. karena skala pada

5.2

Saran 1. Teliti dalam membaca skala Rockwell agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan angka kekerasan spesimen. 2. Perhatikan cara pengamplasan dengan benar agar permukaan rata. 3. Hindari gerakan yang berlebihan pada saat menggunakan Rockwell Hardness Tester agar terjadi keseimbangan pada saat penunjukan skala.

Kelompok 19

71

Laporan Akhir Mateerial Teknik

TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM

1)

Kekerasan suatu bahan menurun jika bahan tersebut dipanaskan. Hal ini

dikarenakan fase atau struktur dari bahan tersebut berubah menjadi mendekati ke cair yang berkonsekuensi pada perubahan sifat mekanis suatu bahan. Selain itu, kemampuan dukung bahan cenderung menurun. 2) Metode Pengukuran a. Brinell Identor Rumus b. Rockwell Identor : - Kerucut intan - Bola baja, d = ½, 1/4, 1/8, 1/16 inchi Kekerasan dapat dibaca langsung pada skala mesin. c. Vickers Identor Rumus d. Meyer Identor Rumus 3) : Bola baja : MHN =
P 4P  A d 2

: Bola baja, : BHN 

d = 10 mm

2P

D( D  D 2  d 2 )

: Piramid intan : VHN =
1,854P d2

Kekerasan suatu bahan berbanding lurus dengan kekuatan tariknya karena

pada dasarnya kekerasan merupakan ketahanan suatu bahan terhadap deformasi plastis akibat penetrasi pada permukaan, sedangkan kekuatan tarik adalah ukuran besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan. Kekerasan dan kekuatan tarik adalah sebanding dengan semakin kerasnya suatu bahan maka akan semakin tinggi kekuatan kolerasinya.

Kelompok 19

72

“ TS(Mpa) = 3. Mengapa konsep kedataran dan kerataan perlu dalam uji keras? Karena tidak rata dan datarnya suatu permukaan specimen akan mempengaruhi dalam atau dangkalnya lekukan yang dihasilkan oleh pembebanan.2 Kelompok 19 73 .Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SESUDAH PRAKTIKUM 1.45 x BHN “.6 Standar Deviasi untuk kuningan = 69.2 Standar Deviasi untuk baja = 69. Selain itu apabila specimen tidak datar atau rata. 2. Kekuatan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis secara menyeluruh di permukaan. Maka akan mengakibatkan identor tidak berada dalam posisi tegak pada saat pembebanan dilakukan 3. Tentukan rata-rata standar deviasi dari data yang dilakukan maka akan diperoleh : Standar Deviasi untuk tembaga = 203. Hubungan antara kekerasan dengan kekuatan : c P A Keterangan : c = Kekuatan tarik (kg/mm 2 ) P = Berat beban (kg) A = Luas penampang (mm 2 ) Kekerasan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi plastis lokal akibat adanya penetrasi di permukaan. Kekerasan sebanding dengan kekuatan Kekerasan dan kekuatan bahan terhadap deformasi adalah semakin tinggi. Semakin luas permukaan benda maka akan semakin besar kekuatan yang diperlukan untuk mematahkan benda tersebut. Dengan mengetahui kekerasan kita bisa memperkirakan kekuatan tarik material tersebut.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Objek : Uji Impak Asisten :Faisal Rahman Asisten: Viktor Martin Kelompok 19 74 .

1.3 Manfaat Dengan melakukan percobaan ini. Karena sifat-sifat material tersebut berbeda-beda yang mana dapat diketahui melalui berbagai pengujian. Karena itulah produk yang satu jenis bisa memiliki harga yang berbedabeda. serta faktor-faktor yang mempengaruhi harga impak pada suatu material. Dan pratikan dapat membedakan antara material ulet dan getas. uji ini perlu agar perancang mampu mengetahui kemampuan material menahan pembebanan secara tiba-tiba. pratikan bisa tahu apa itu uji impak.1 Latar Belakang Produk yang beredar pada saat sekarang terbuat dari berbagai macam jenis material. Menentukan harga impak berbagai jenis logam b. Mengamati permukaan patahan benda uji d.2 Tujuan Adapun tujuan dilakukan percobaan mengenai uji impak ini adalah sebagai berikut: a. Dan dapat mengetahui sifat-sifat sebuah material setelah dilakukan pengujian. Salah satunya adalah uji impak. Karena material yang digunakan mempengaruhi kualitas produk tersebut. Kelompok 19 75 . Mampu material patah ulet dan getas dari hasil uji impak 1. Menentukan pengaruh temperatur terhadap harga impak c.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB I PENDAHULUAN 1.

Spesimen memiliki ukuran dan bentuk standar. Harga impak adalah energi impak tiap satuan luas penampang di daerah takikan. x α-90° α h1 r β y L h2 Gambar D. sin (-cos α) Kelompok 19 76 . sin (α – 90o) = r . yaitu : Gambar D.2 Mekanisme Uji Impak Turunan Rumus HI berdasarkan gambar diatas adalah: x = r .1 Spesimen Uji Impak Parameter yang diperoleh adalah Energi impak yakni besar energi yang diserap untuk mematahkan benda kerja (spesimen).2.2.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB II TINJAUAN PUSTAKA Uji impak merupakan merupakan pengujian untuk mengetahui kekuatan dan ketangguhan material terhadap pembebanan yang diberikan secara tiba-tiba.

cos β = L + h2 =r–L = r – r .cos α) Jadi.Laporan Akhir Mateerial Teknik y =r = r + r . sehingga: Em1 = Em2 Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2 + EI Mgh1 + ½ mv2 EI = mgh2 + ½ mv2 + EI = mgh1 – mgh2 = mg (h1 – h2) = mg ( r (1-cos α)) – (r (1-cos β)) = mgr (cos β . (-cos α) = r (1 – cos α) h1 = y + x cos L r h2 = = r. berdasarkan turunan rumus diatas. didapatkan persamaan berikut: Ket: HI = Harga Impak EI = Energi Impak α = Sudut yang dibentuk saat Hammer dijatuhkan β = Sudut yang dibentuk saat Hammer telah mematahkan spesimen A = Luas penampang spesimen Karakteristik HI Material: Material Ulet mempunyai HI yang besar Material Getas mempunyai HI yang kecil Adapun yang mempengaruhi Harga Impak suatu material adalah sebagai berikut: 77 Kelompok 19 . cos β = r (1 – cos β) Pada uji impak ini berlaku hukum kekelan energi.

Takikan-I Gambar D. 2. Takikan-Keyhole Gambar D.6 Takikan Keyhole Dari keempat jenis takikan diatas.2.5 Takikan I d. yaitu: a. Bentuk takikan Dalam percobaan uji impak ini. karena spesimen mudah dipatahkan dari 3 jenis takikan yang lain. Takikan-U Gambar D. Kelompok 19 78 .2. takikan V memiliki HI terkecil. sehingga harga impak juga semakin kecil.2. maka semakin kecil pula energi ynag dibutuhkan untuk mematahkan spesimen. Takikan-V Gambar D.Laporan Akhir Mateerial Teknik 1.2. Kecepatan pembebanan Semakin cepat hammer diayunkan.4 Takikan U c. terdapat 4 jenis takikan yang umum digunakan.3 Takikan V b.

Gambar D.Laporan Akhir Mateerial Teknik 3. Dari grafik diatas. memiliki rentangan temperatur untuk berubah dari ulet menjadi getas. dapat dilihat bahwa material ulet akan berubah menjadi getas pada temeperatur rendah.2. tidak terpengaruh oleh temperatur. Material yang Kelompok 19 79 .2. Temperatur Pengaruh Temperatur terhadap harga impak baja dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar D. Begitu juga dengan material yang sangat keras dang getas. Namun untuk beberapa jenis material.8 Perbandingan Harga Impak Kelompok Material Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa Harga Impak material FCC dan HCP tidak terpengaruh oleh temperatur.7 Temperatur dependence of the Charpy V-notch impact energi (curve A) and percent shear fracture (curve B) for an A283 steel.

Patah Ulet: . Gambar D.Laporan Akhir Mateerial Teknik dapat berubah dari ulet menjadi getas adalah saat terjadi perubahan temperatur adalah material BCC. Adapun ciri-ciri dari masing-masing patahan ini adalah sebagai berikut: 1. 4. Kadar Karbon Kadar karbon mempengaruhi Harga Impak material karena semakin keras material.2.Energi impak kecil .Energi impak besar . Berikut ini bagan perbandingan Harga Impak Material untuk Komposisi karbon yang berbeda pada berbagai temperatur.Temperatur Tinggi .Terjadi pada butir Kelompok 19 80 . maka semakin getas pula material tersebut. Patah Getas: .Bekas patahan datar dan mengkilap .Bekas patahan berserabut . sehingga Harga Impaknya akan semakin kecil.Terjadi pada batas butir 2.9 Pengaruh kadar karbon terhadap Energi Impak Material Bentuk patahan yang mungkin terjadi ada 2 jenis patahan yaitu patah getas dan patah ulet.Temperatur rendah .

2.12 Skema Standar Pengujian Metode Charpy Kelompok 19 81 .2.10 Bentuk Patahan Baja A36 pada berbagai temperatur Prosedur uji impak dapat dilakukan dengan 2 metode.2. Metode izoed Metode izoed ini dilakukan dengan cara meletakkan spesimen dalam posisi vertikal dan pembebanan dilakukan dari arah depan takikan seperti yang terlihat pada gambar. yaitu: 1.11 Skema Standar Pengujian Metode Izod 2.Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar D. Gambar D. Metode Charpy Pembebanan yang dilakukan pada metode charpy ini dilakukan dari belakang takikan dengan posisi spesimen pada alat uji adalah horizontal seperti yang terlihat pada gambar. Gambar D.

2 Skema Alat Gambar D.1 Skema Alat Uji Impak Kelompok 19 82 . Spesimen 3. Alat uji impak 2.3. Thermometer 3. Pendulum/ hammer 4.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB III METODOLOGI 3.1 Peralatan Adapun peralatan yang digunakan dalam uji impak ini adalah sebagai berikut: 1.

3 Prosedur Pengujian Prosedur atau tahapan yang dilakukan dalam uji impak ini adalah sebagai berikut:     Pengukuran harga impak dilakukan atas batang uji. Spesimen dengan ukuran-ukuran standar yang telah diberi takikan (notch).Laporan Akhir Mateerial Teknik 3. Pengujian impak dilakukan menurut metode charpy. Lakukan pengujian untuk temperatur spesimen yang berbeda Kelompok 19 83 .

35 EI = mgr ( cos β .62 x 10 x 0.65 – 0.41 EI = mgr ( cos β .77 = 391.cos α ) = 26.513 EI = mgr ( cos β .62 x 10 x 0.cos α ) = 26.4 2.04) = 0.36 3.66 (0. Baja Temperatur Kamar A = L (t-h) = 0.79 (0.738 (cos 120 – cos 141) = 53.63 = 145.71 Kelompok 19 84 .2 Perhitungan Alumunium Temperatur Kamar 1.66 – 0.cos α ) = 26. Alumunium Temperatur Freezer A = L (t-h) = 0.075) = 0.12) = 0.738 (cos 75 – cos 141) = 200.725 – 0.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4. Alumunium Temperatur Kamar A = L (t-h) = 0.66 (0.62 x 10 x 0.738 (cos 118 – cos 141) = 59.

738 (cos 122 – cos 141) = 47.65 – 0.46 = 9485 5.725 – 0.cos α ) = 26.cos α ) = 26.36 EI = mgr ( cos β .738 (cos 10 – cos 141) = 341.12) = 0.05) = 0.125) = 0.46 4.91 = 122.438 EI = mgr ( cos β .65 (0.73 (0.37 Kelompok 19 85 .738 (cos 61 – cos 141) = 244. Alumunium Temperatur Kamar A = L (t-h) = 0.65 (0. Alumunium Nitrogen A = L (t-h) = 0.62 x 10 x 0.57 = 558.62 x 10 x 0.85 6. Baja Temperatur Freezer A = L (t-h) = 0.39 EI = mgr ( cos β .cos α ) = 26.Laporan Akhir Mateerial Teknik = 153.67 – 0.62 x 10 x 0.

Grafik EI 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Kamar Freezer Nitrogen cair Alumunium Baja 2.2 Grafik 1. Grafik HI 50000 45000 40000 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 Kamar Freezer Nitrogen cair Alumunium Baja Kelompok 19 86 .Laporan Akhir Mateerial Teknik 4.

Jadi untuk setiap spesimen kita memvariasikan temperaturnya. agar lebih jelas perbedaanna masing-masing. Pada hasil perhitungan. Ke tiga variasi tersebut yaitu: 3. padahal seharusnya temperatur kamar akan memiliki Kelompok 19 87 . untuk material FCC (dalam pratikum ini adalah alumunium) perubahan temperatur tidak membawa dampak yang signifikan terhadp harga impak dan energi impak. Suhu kamar 4. Nitrogen cair Pada teori menyebutkan.3 Analisa Percobaan uji impak dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik dari suatu matterial yang mana diberikan pembebanan secara tiba-tiba.Laporan Akhir Mateerial Teknik 4. Seharusnya semakin rendah temperatur maka suatu material akan menjadi lebih getas. Pada percobaan uji impak ini menggunakan dua macam material yaitu baja dan alumunium. Namun berbeda dengan baja. dengan diberi takikan V. tidak terjadi kesesuaian data dengan teori. namun berbeda dengan material BCC (dalam pratikum ini adalah baja) perubahan temperatur menimbulkan dampak pada harga impak dan energi impak. Begitu juga dengan harga impaknya. untuk alumunium menunjukkan hasil yang sama dengan teori. ini dapat dilihat dari energi impaknya. Suhu freezer 5. yaitu energi impaknya menurun seiring menurunnya suhu. Temperatur kamar memiliki energi impak yang kecil dari padda nitrogen cair. ini dikarenakan material menjadi getas bila suhu rendah. Pengujian dilakukan dengan metoda charpy. namun dari grafik dilihat semakin rendah suhu maka material semakin ulet. Pada pengujian impak kita dimaksudkan untuk bisa membandingkan pengaruh temperatur terhadap harga impak dan energi impak setiap material.

Spesimen yang tidak memenuhi standar. Adanya kesalahan pembacaan skala pada saat mengukur atau membaca sudut β. 2. Letak posisi spesimen pada alat uji tidak pas atau tepat takikannya dengan hammer. diantaranya: 1. Tidak sesuainya hasil paratikum yang didapat dengan teori. Namun yang didapat malah sebaliknya. suhu tangan berpindah pada spesimen sehingga temperatur tidak akurat lagi. Dan jga bahan yang sel satuan BCC akan bersifat lebih getas dari pada material FCC. 3. 4. contoh bentuk takikan yang tidak memenuhi standar. skala sudut yang mungkin lupa dikalibrasi dengan benar. Temperatur benda uji atau spesimen yang telah berubah. Kedalaman takikan tidak sama sehinga konsentrasi tegangannya berbeda-beda. Alat yang sudah tidak dalam kondisi yang sempurna. dan juga dalam mengukur dimensi dari spesimen. Ini bisa dikarenakan pada saat pengukuran. Semakin ulet maka harga impak dan energi impak makin kecil. 5.Laporan Akhir Mateerial Teknik energi impak yang besar karena memiliki sifat lebih ulet dari nitrogen cair. Sehinngga pembebanan tidak pas dan membuat data yang tercatat tidak seperti yang diharapkan. Kelompok 19 88 . terjadi karena beberapa faktor.

Pada hasil pratikum. sedangkan material dengan temperatur yang rendah memiliki HI yang besar.2 Saran  Praktikan harus hati-hati dalam melakukan perccobaan ini. Spesimen atau material dengan temperatur tinggi memiliki HI yang kecil. Praktikan harus lebih teliti dalam mengambil data agar tidak terjadi kesalahan. Pratikan harus menenmpatkan posisi takikan segaris lurus dengan hammer.1 Kesimpulan a.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB V PENUTUP 5. Permukaan patahan pada material ada 2. d. Kelompok 19 89 . b. 5. Uji impak dapat dilakukan 2 metode. jadi materialnya ulet. Dan patahan getas dengan permukaannya mengkilap. c.yaitu : metode izoed dan metode charpy. yaitu patahan ulet dengan permukaan berserabut.    Pahami prosedur percobaan. semu spesimen bai baja maupun alumunium memiliki permukaan patahan berserabut.

Jelaskan dan gambarkan kurva energi impak vs temperatur untuk material yang memiliki sel satuan BCC dan FCC? Dari diagram dapat dilihat bahwa harga impak material FCC dan BCC tidak terpengaruh oleh temperatur. Material yang 90 Kelompok 19 . Gambar dan tuliskan macam-macam standar pengujian Impak: a. Apa yang dimaksud dengan temperatur transisi? Yaitu temperatur yang mana terjadinya perubahan sifat material dari satu sifat ke sifat yang lain. b. Begitu juga dengan material yang sangat keras dan getas. tidak terpengaruh oleh temperatur. Apa kegunaan temperatur transisi material dalam perancangan konstruksi mesin adalah untuk mengetahui pada suhu berapa suatu material berubah sifat-sifat mekaniknya.Laporan Akhir Mateerial Teknik Tugas Sebelum Praktikum 1. Metode Charpy Pembebanan yang dilakukan pada metode charpy ini dilakukan dari belakang takikan dengan posisi spesimen pada alat uji adalah horizontal seperti yang terlihat pada gambar. Metode izod Metode izod ini dilakukan dengan cara meletakkan spesimen dalam posisi vertikal dan pembebanan dilakukan dari arah depan takikan seperti yang terlihat pada gambar. 2. 3. Sehingga kemampuan dukung beban dalam perancangan dapat diukur 4.

Perbandingan Harga Impak Kelompok Material 5. Gambar. berpengaruh terhadap sifat sel satuan BCC dan FCC d. semakin cepat suatu beban diberikan. Kecepatan pembebanan.Laporan Akhir Mateerial Teknik dapat berubah dari ulet menjadi getas adalah saat terjadi perubahan temperatu adala material BCC. semakin tinggi kadar karbon suatu material maka semakin keras dan getaslah material tersebut Kelompok 19 91 . Kadar Karbon. Faktor-Faktor yang mempengaruhi harga impak adalah : a. b. Bentuk takikan. takikan V memiliki HI paling kecil karena material dengan jenis takikan V lebih mudah dipatahkan. maka HI yang dibutuhkan makin kecil c. Temperatur.

maka HI yang dibutuhkan makin kecil 3. EI sangat dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan dan kondisi spesimen (jenis takikan. Perbedaan patah ulet dan patah getas. Energi impak kecil Temperatur rendah Bekas patahan datar dan mengkilap Terjadi pada bata butir Patah Ulet: Energi impak besar Temperatur Tinggi Bekas patahan berserabut Terjadi pada butir 2. Hal-hal yang menyebabkan patah getas: a. maka material akan bersifat semakin getas b. Semakin cepat suatu beban diberikan. temperatur. karena semakin rendah temperatur suatu spesimen. HI diperoleh dengan membandingkan Energi Impak dengan luas permukaan spesimen yang patah. dan kadar karbon). Interpretasi Harga impak. semakin tinggi kadar karbon suatu material maka semakin keras dan getaslah material tersebut c. Temperatur yang rendah. a. Kadar Karbon. Patah Getas: b. Kelompok 19 92 .Laporan Akhir Mateerial Teknik Tugas Setelah Praktikum 1.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Objek : Uji Tekan Asisten :Pupadri Ahmad Faisal Asisten: Ronny Pribadi Kelompok 19 93 .

dengan begitu kita dapat menggunakan material tersebut sesuai dengan sifat-sifat mekaniknya.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB I PENDAHULUAN 1. Kelompok 19 94 . maka itu material-material tersebut harus tepat penggunaannya.4 Latar Belakang Dalam suatu proses produksi tentunya diharapkan hasil yang berkualitas untuk itu perlu diperhatikan material-material yang digunakan baik yang berfungsi sebagai mesin perkakas maupun material sebagai bahan baku produk. 1.5 Tujuan Pengujian tekan dilakukan untuk mendapatkan e.6 Manfaat Dengan melakukan percobaan uji tekan kita mampu untuk mengetahui sifat mekanik dari sebuah material sehingga kita dapat memprediksi pengaruh pembebanan terhadap material dan mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi pada saat berlangsungnya uji tekan. Pengaruh pengujian tekan dengan tingkat deformasi bervariasi terhadap kekerasan alumunium 1. Fenomena yang terjadi pada uji tekan f. Untuk itulah sebagai seorang engineer kita harus mampu melakukan pengujian-pengujian terhadap sebuah material baik pengujian merusak maupun pengujian tidak merusak.

dapat terjadi jika diameter dari benda uji lebih besar dari pada panjang benda uji ( d > h ).2. II. Bucling Bucling merupakan pembengkokan pada material setelah diberi pembebanan.1 Barelling 2. Gerakan antara spesimen dan dies yang menghambat pemukaan atas dan bawah spesimen berekspansi secara bebas ini bisa menyebabkan timbulnya fenomena Barelling Gambar D. Pengertian Pengujian tekan adalah salah satu pengujian mekanik yang tergolong pada jenis pengujian merusak karena setelah melakukan pengujian spesimen sudah tidak bisa digunakan kembali.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Barelling Barelling merupakan penambahan diameter pada benda uji setelah diberi pembebanan. Kelompok 19 95 . Fenomena-fenomena uji tekan Fenomena-fenomena uji tekan 1.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Bucling dapat terjadi jika:   Diameter dari benda uji lebih kecil dari pada panjang benda uji (d < h ) Spesimen tidak sesumbu

Gambar D.2.2 Bucling

3. Strain hardening Strain hardening, yaitu pengerasan pada material akibat penumpukan dislokasi pada batas butir.

Gambar D.2.3 Strain hardening

III.

Turunan rumus Pada pengujian tekan terhadap benda uji akan terbentuk suatu diagram

perbandingan antara tegangan dan regangan.

 =

 o

e

lt - l0 L  l0 l0

Kelompok 19

96

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Jika balok dengan ketinggian awal (ho) menjadi hi maka regangan aksial atom menjadi :  regangan sebenarnya yaitu ɛ=∫

= ln

= - ln  regangan teknis yaitu e=

=

-1

Kelompok 19

97

Laporan Akhir Mateerial Teknik

BAB III METODOLOGI

3.4

Peralatan Adapun peralatan yang digunakan dalam uji impak ini adalah sebagai berikut: 5. Mesin uji universal dan peralatan pendukungnya 6. Dial indicator dan standar magnetik 7. Jangka sorong 8. Tungku pemanas 9. Alat uji kekerasan dan peralatan pendukungnya 10. Mesin amplas sabuk 11. Mesin poles

3.5

Skema Alat Ket : 1. Penekan (punch) 2. Spesimen 3. Pelat penahan 4. Standar magnetik 5. Dial indicator 6. Kepala silang bawah 7. Pemegang punch Gambar D.3.1 Skema Alat Uji Tekan

3.6

Prosedur Pengujian Prosedur atau tahapan yang dilakukan dalam uji tekan ini adalah sebagai berikut:  Siapkan spesimen (batangan alumunium) berdiameter 22 mm dan panjang 33 mm

Kelompok 19

98

amplas pada amplas sabuk dan haluskan bagian tersebut pada mesin poles. Ukur dan catat nilai kekerasannya.    Persiapkan peralatan seperti gambar Lakukan pengujian tekan dengan regangan (ɛ) yang di variasikan dan jumlah yang telah ditentukan oleh asisten Potong satu spesimen untuk tiap tingkat deformasi dibagian tengahnya.Laporan Akhir Mateerial Teknik  Ratakan permukaan potong dan usahakan ketegak lurusan antara permukaan potong dengan sumbu potong alumunium pada mesin amplas sabuk. Kelompok 19 99 .

15 – 23.4 (mm) 4.15 mm 2. percobaan = 60. Perhitungan 1.04 = 5.70 = 15. (mm) 1.3 25. 30% 30% 20% 28.04 5. Kelompok 19 100 .45 – 56. Data Pengamatan No. Hi Teori 1.96 3.11 = 31 – 2296 = 8. = 31 – 23 = 8 mm 3.78 2.75 Fenomena (mm) Buckling Bareling Bareling 4.11 (kgf) (mm) 56. 2. hi = = = 22.1.45 (mm) 25.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4. Mencari 1.37 8. 3.04 mm = 60.45 – 44.3 23 26.3 (mm) 44.04 = 28. hi = = = 23.2.3 = 4.15 8 1.37 mm 2.78 (mm) 15.78 22.96 44.15 31 60.3 25. hi = = = 44.

3. Untuk spesimen 2. 4. 2. 20% 30% P (kgf) HRC 5 14 -12 14 11 40 15 12 4 13 110 BHN 1.75 mm 4. 4. 1. 2. 3.3. Titik Titik Titik Titik Titik 1 2 3 4 5 = 20% Setelah di tekan HRA = HRA = HRA = HRA = HRA = 40 15 12 4 13 → → → → → BHN = BHN = BHN = BHN = BHN = 110 101 Kelompok 19 .15 – 26. Titik Titik Titik Titik Titik 1 2 3 4 5 = 30% Setelah di tekan HRA = HRA = HRA = HRA = HRA = 5 14 -12 14 11 → → → → → BHN = BHN = BHN = BHN = BHN = - b.Laporan Akhir Mateerial Teknik = 28.4 = 1. Angka kekerasan a. Tabel hasil uji kekerasan pada material yang telah di deformasi No. 5. Untuk spesimen 1. 1. 5.

Laporan Akhir Mateerial Teknik c. Sebelum di tekan Titik Titik Titik Titik Titik 1 2 3 4 5 HRA = HRA = HRA = HRA = HRA = 2 7 -19 1 -17 → → → → → BHN = BHN = BHN = BHN = BHN = - Kelompok 19 102 .

di dapatkan hasil yang tidak sama untuk spesimen 1 dan 3 . Pada spesimen yang pertama terjadi fenomena buckling . ini dapat di lihat pada grafik yang mana grafik kekerasan benda uji sebelum di tekan berada dibawah nilai kekerasan spesimen setelah di lakukan penekanan Namun antara spesimen1 dan 3 . jadi proses penekanan lebih efektif untuk membuat terjadinya strain hardening .04 mm Untuk nilai kekerasan setiap spesimen .4 Analisa dan Pembahasan Pada hal yang di dapatkan . semunya berbada . di dapatkan bahwa nilai kekerasa spesimen spesimen setelah di tekan naik . Dan pengujian keras yang di lakukan pada spesimen 1 . yaitu pengerasan yang terjadi pada material karena penumpukan dislokasi pada batas butir Jadi dengan kata lain penekanan pada spesimeterjadi pengerasan pada suatu material . yang mengalami peningkatan nilai kekuatan yang besar adalah spesimen no 3. Untuk perbandingan ∆h teori dengan ∆h percobaan .Laporan Akhir Mateerial Teknik 1. Kelompok 19 103 . di dapatkan bahwa nilai kekerasan spesimen setelah di tekan naik . terjadi fenomena fenomena pada pengujian tekan ini. yaitu penambahan diameter spesimen setelah di beri pembebanan . setiap titik titik nya tidak ada yang sama . Ini terjadi karena spesimen ke 3m mengalami fenomena bareling . Yaitu pembengkokkan pada material setelah di beri pembebanan . Cuma ada 2 titik yang sama nilai kekerasanya . Sedangkan untuk spesimen 2 dan 3 terjadi fonomena barrelling. dan 3 spesimen sebelum di tekan . sebaggian untuk spesimen 2 dapat di katakan sama meski memiliki perbedaan 0.

Terjadinya peristiwa barelling akibat adanya gesekan antara permukaan tekan dengan dies penahan . Terjadi bucling akibat ketidak seimbangan antara panjang spesimen dengan diameter spesimen . b. Kepala silang bawah 7. Pemegang punch d. b. Persiapkan peralatan seperti gambar Keterangan : 1. Terjadi pengerasan material akibat penumpukan dislokasi pada batas butir . Standar magnetik 5. c. Sebutkan ciri-ciri dan cara melakukan pengujian tekan! Jawab : Ciri-ciri pengujian tekan adalah : a. Penekan (punch) 2. c. Siapkan spesimen (batangan alumunium) berdiameter 22 mm dan panjang 33 mm . Pada pengujian spesimen akan diberikan gaya luar berupa tekanan . Spesimen 3. Cara melakukan pengujian tekan: a. d. Lakukan pengujian tekan dengan regangan (ɛ) yang di variasikan dan jumlah yang telah ditentukan oleh asisten. Pelat penahan 4. Dial indicator 6. Kelompok 19 104 . Ratakan permukaan potong dan usahakan ketegak lurusan antara permukaan potong dengan sumbu potong alumunium pada mesin amplas sabuk.Laporan Akhir Mateerial Teknik Tugas Sebelum Praktikum 1.

Jelaskan perbedaan antara kekuatan tekan dengan kekuatan tarik ! Jawab: Perbedaan antara kekuatan tekan dengan kekuatan tarik adalah kemampuan benda untuk menahan tekanan maksimum. 3. 2. amplas pada amplas sabuk dan haluskan bagian tersebut pada mesin poles.Laporan Akhir Mateerial Teknik e. Apa pengaruh pemanasan terhadap sifat mekanik alumunium ? Jawab : Pengaruh pemanasan terhadap sifat mekanik alumunium adalah struktur butir logam mudah terdeformasi. sedangkan kekuatan tarik adalah kemampuan benda untuk menahan beban tarik maksimum. Apa pengaruh pengerjaan dingin terhadap sifat mekanik alumunium ? Jawab: Pengaruh pengerjaan dingin terhadap alumunium adalah menurunnya kekuatan logam. Kelompok 19 105 . Ukur dan catat nilai kekerasannya. Potong satu spesimen untuk tiap tingkat deformasi dibagian tengahnya. 4.

Pengaruh pengujian tekan dengan tingkat deformasi yang bervariasi terhadap kekerasan aluminium adalah : a) Jika h/d < 3/2. bagian yang menahan material dari pembebanan. b) Standar magnetic. maka deformasi material yang semakin besar akan menghasilkan nilai kekerasan yang semakin besar. b) Jika h/d > 3/2. c) Penekan (punch). adalah pembengkokkan pada material setelah diberi beban dengan syarat h/d > 3/2. Fenomena yang terjadi pada uji tekan : a) Barreling. 4. artinya kita mengukur kemampuan material menahan beban tarik maksimum.Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SETELAH PRAKTIKUM 2. b) Pemberian beban tarik. perubahan dimensi fisik material akibat gesekan antara penekan dengan specimen dengan syarat h/d < 3/2. pengokoh dial indicator. Kegunaan alat : a) Dial Indikator. menekan material d) Pelat penahan. Perbedaan aplikasi pemberian beban tekan dan beban tarik adalah : a) Pemberian beban tekan. b) Buckling. Kelompok 19 106 . 5. 6. maka deformasi material yang semakin kecil akan menghasilkan nilai kekerasan yang semakin kecil. artinya kita mengukur kemampuan material untuk menahan beban tekan maksimum. untuk mengukur besarnya pembebanan pada material. 3. Pengaruh pemanasan setelah pengujian tekan menyebabkan nilai kekerasan aluminium semakin kecil.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Objek : NDT Asisten :Ferdial Rafli BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelompok 19 107 .

3 Manfaat Kita dapat melakukan pengujian untuk melihat cacat dan kerusakan yang terjadi pada material yang kita uji tanpa merusak material. Kelompok 19 108 . Salah satu cara untuk mendeteksi kekurangan dan cacat pada produk tanpa merusak material secara permanen. Maka.2 Tujuan 1. 1. Mengetahui penggunaan NDT pada pengujian material dan mengetahui jenis-jenis cacat pada material 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik Material memiliki sifat dan kualityas yang berbeda-beda. Mengetahui prosedur-prosedur pengujian NDT 2. kita perlu mengetahui sifat dan kualitas agar material yang kita gunakan aman saat dilakukan pembebanan.

dimana pada metode ini digunakan untuk menemukan cacat di permukaan terbuka dari komponen solid. Melalui metode ini. Liquid Penetrant Test Metode Liquid Penetrant Test merupakan metode NDT yang sederhana. Gambar E.1 Defenisi Non-Destructive Test (NDT) Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat. cacat pada material akan terlihat lebih jelas.2 Metode-Metode NDT 1.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. seperti keramik dan plastik fiber.2. atau discontinuity lain tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Dalam hal ini tentu saja adalah retak yang dapat terlihat oleh mata telanjang atau dengan bantuan lensa pembesar ataupun boroskop. 2. Caranya adalah dengan memberikan cairan berwarna terang pada permukaan yang diinspeksi.1 Visual inspection dengan boroskop /4/ 2. retak. baik logam maupun non logam. Selanjutnya. Cacat akan nampak jelas jika perbedaan Kelompok 19 109 . Visual Inspection Metode ini merupakan langkah yang pertama kali diambil dalam NDT. Cairan ini harus memiliki daya penetrasi yang baik dan viskositas yang rendah agar dapat masuk pada cacat dipermukaan material. penetrant yang tersisa di permukaan material disingkirkan. Metode ini bertujuan menemukan cacat atau retak permukaan dan korosi.

Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet.Laporan Akhir Mateerial Teknik warna penetrant dengan latar belakang cukup kontras.2 Dye Penetrant Test /5/ Kelemahan dari metode ini antara lain adalah bahwa metode ini hanya bisa diterapkan pada permukaan terbuka. atau berpori.2. penetrant yang tertinggal dibersihkan dengan penerapan developer. Magnetic Particle Test Metode ini dilakukan untuk cacat permukaan dan bawah permukaan dan dapat diketahui untuk komponen dari bahan ferromagnetik. Seusai inspeksi. 3. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik dipermukaan. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material.2. Prinsip dari metode ini adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji.3 Magnetc Partcle Inspection /6/ Kelompok 19 110 . Gambar E. Gambar E. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet. berpelapis. Metode ini tidak dapat diterapkan pada komponen dengan permukaan kasar.

Selain itu.4 Eddy Cerrent Test /7/ Keterbatasan dari metode ini yaitu hanya dapat diterapkan pada permukaan yang dapat dijangkau.2. 5. Medan magnet pada benda akan berinteraksi dengan medan magnet pada kumparan dan mengubah impedansi bila ada cacat. Ultrasonic Inspection Pada metode ini prinsip yang digunakan adalah prinsip gelombang suara. dimana gelombang suara yang dirambatkan pada spesimen uji dan sinyal Kelompok 19 111 .Laporan Akhir Mateerial Teknik Kelemahannya. Jika medan magnet ini dikenakan pada benda logam yang akan diinspeksi. Eddy Current Test Pada inspeksi ini memanfaatkan prinsip elektromagnetisasi arus listrik dialirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet didalamnya. metode ini hanya bisa diterapkan untuk material ferromagnetik. medan magnet yang dibangkitkan harus tegak lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir inspeksi 4. maka akan timbul arus eddy yang kemudian menginduksi adanya medan magnet. Selain itu metode ini juga hanya diterapkan pada bahan logam saja. Gambar E.

Radiography Inspection Pada metode ini sinar X dan siner gamma digunakan untuk menemukan cacat pada material yang menggunakan prinsip sinar X dipancarkan menembus material yang diperiksa saat menembus objek. Gelombang ultrasonic yang digunakan memiliki frekuensi 0. Gelombang suara akan terpengaruh jika ada void. retak.5 Ultrasonic Inspection/8/ 6. Jika ada cacat pada material. Ultrasonic inspection ini sering digunakan Kelompok 19 112 . sebagian sinar akan diserap sehingga intensitasnya berkurang.2. Gambar E. atau delaminasi pada material.3 Aplikasi NDT di dunia Industri Salah satu contoh penggunaan visual test pada dunia industry adalah dengan menggunakan ultrasonic inspection. hasil rekaman pada film inilah yang akan memperlihatkan bagian material yang mengalami cacat. Gambar E. maka intensitas yang terekam dalam film tentu akan bervariasi.2. Gelombang ultrasonic ini dibangkitkan oleh transducer dari bahan piezoelektri yang dapat menubah energi listrik menjadi energi getaran mekanik kemudian menjadi energi listrik lagi. Intensitas akhir kemudian direkam dalam film yang sensitif.5 – 20 MHz.6 Gamma-ray Crawler /9/ 2.Laporan Akhir Mateerial Teknik yang ditransmisi atau dipantulkan diamati dan interpretasikan.

Laporan Akhir Mateerial Teknik

untuk pengecekan berkala pada pabrik yang banyak menggunakan pipa dalam proses produksinya. alat ultrasonic inspection yang digunakan berupa portable, sehingga mudah untuk dibawa oleh inspecter untuk mengecek pada daerah yang diperlukan.

Gambar E.2.7 Inspeksi dengan Ultrasonic Inspection /10/

Gambar E.2.8 Pengubah gelombang Ultrasonic menjadi Grafik Digital /10/

Kelompok 19

113

Laporan Akhir Mateerial Teknik

BAB III METODOLOGI 3.1 Peralatan 1. Spesimen uji 2. Kaca Pembesar 3. Seperangtkat alat uji dari penetran, developer, dan cleaner a. Skema Alat a. Visual Test

Gambar E.3.1 Skema alat

b. Visible Dye penetrant

Gambar E.3.2 Skema alat 3.3 Prosedur Percobaan

Kelompok 19

114

Laporan Akhir Mateerial Teknik

Visual test : 1. Bersihkan spesimen dengan tissue, dan pastikan specimen dalam keadaan bersih, kering, dan tidak ada kontaminan di permukaan specimen. 2. Lakukan pengamatan dibawah white-lihgt dengan menggunakan bantuan kaca pembesar. 3. Tandai letak cacat specimen 4. Sketsa specimen dan gambarkan letak cacat specimen berikut. Dye Penetrant Test : 1. Bersihkan dengan menggunakan tissue ddan cleaner, dan pastikan specimen dalam keadaan bersih, kering, dan tidak ada kontaminasi di ermukaan specimen 2. Semprotkan cairan penetrant diseluruh permukaan yang ingin diamati, paqstikan tidak ada penetran yang menggenang dipermukaan spesimen 3. Diamkan spesimen (min 10 menit – max 2 jam) untuk dwell time 4. Bersihkan sisa penetran dengan menggunakan tissue byang telah dibasahi dengan cairan solvent 5. Keringkan specimen 6. Semprotkan developer keseluruh permukaan specimen, pastikan lapisan developer tipis 7. Diamkan specimen (min 10menit – max 2 jam) untuk development time 8. Amati specimen dibawah white-light dengan bantuan kaca pembesar 9. Tandai indikasi cacat pada seluruh permukaan 10. Lakukan pengecekan ulang dengan metoda touch up 11. Sketysa cacat pada specimen yang vtelah dievaqluasi dan gambarkan letyak cacat specimen tersebut 12. Bersihkan specimen dengan menggunakan cairan solvent remover 13. Letakan specimen ke tempat semula

Kelompok 19

115

1 foto alat dan bahan b. cacat akibat pengelasan Retak.Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.4. Alat dan bahan Gambar E. cacat hasil pengelasan 2 Dye Penetrant 10 4. Dye-penetrant test Kelompok 19 116 .1 Tabel data hasil pengujian No 1 Jenis Pengujian Visual test Jumlah Cacat 5 Jenis Cacat Retak.2 foto specimen c.2 Foto Pengujian a.4. Visual test Gambar E.

Laporan Akhir Mateerial Teknik Gambar E.4.4 foto specimen setelah dibersihkan kembali Gambar E.3 foto specimen diberi cairan penetran Gambar E.5 foto specimen setelah disemprot developer a.4.4. Analisa Kelompok 19 117 .

kemudian kita oleskan secfara merata ke permukaan specimen agar cairan developer bekerja dengan baik. yaitu Non Destructive Test kita melakukan nya dengan dua metode. yaitu: 1. Setelah spesimen dibersihkan dan dilap dengan tisu sampain bersih. cairan penetran yang berwarna merah disemprotkan kepada specimen. Agar cairan tersebut masuk (penetrasi) kedalam cacat-cacat atau retak-retak pada permukaan secara baik dan maksimal. Setelah specimen bersih. Cairan dibiarkan selama 10 menit.Laporan Akhir Mateerial Teknik Pengujian dilaskukan pada sambungan pengelasan. lalu cairan developer yang berguna untuk menghambat sisa penetran yang ada dalam crack. ini lebiah akurat karena cairan developer yang terlah diberikan tadi kurang maksimal dalam mengangkat cairan penetran. pengujian dengan menggunakan metoda Dye penetrant test. Setelah ditunggu beberapa saat terlihat ada cairan penetran yang tampak pada permukaan specimen setelah developer disemprot kemudian dibersihkan. Dye penetreant test Jadi pada keduanya kita Cuma mengamati apakah ada cacat yang tampak pada permuykaan benda uji. jadi cairan developer diberikan kepada tissue. Kelompok 19 118 . Setelah disemprot.prot dengan cleaner. Visual test 2. jarak penyemprotan sekitar 30 cm dan dilakukan searah (tidak bolak balik). disemprotkan tipis searah specimen. Setelah itu material kembvali dibersihkan dfengan tisu dan claeaner. Dari warna penetran yang terdapat pada permukaan itulah kiata melighat cacat yang terjadi. Yang pertama dilakukan. Kita bias menggunakan metode touch up . ini bertujuan agar permukaan specimen bersih dan tidak ada bekas-bekas material lain yang vmenempel pada specimen. Hal ini agar permukaan terkena cairan penetran secara merata dan cfairan tidak ada yang menumpuk. Sebelumnya benda uji dise. Pada pengujian kjali ini. Jika kita ragu pada satu cacat material.

Visual tes hanya nampak 4 cacat. Dengan kata lain NDT adalah pengujian untuk control kualitas (quality control) terhadap suatu material tersebut . sedangkan pengujian yang lain untuk mengtetahui sifat mekaniknya Kelompok 19 119 . Pengujian NDT sangat sangat penting dilakuakan. Didapatkan banyak cacat yang berbeda antara kedua metode ini.Laporan Akhir Mateerial Teknik Padas metode visual kita hanya bias melihat secara lansung dimana adanya cacat setelah spersimen diberikan. ujadi ki9ta bandingkan antara keduia metode ini . Sedang kan padamn dye penetrant test hanya dapat 10 cacat pada specimen yang sama. metode dye penetrant test lebih efektif dari pada metode visual test. karena pengujian ini berguna untuk mengecek produk yang akan dipasarkan. Jadi dengan kata lain.

Kelompok 19 120 . Metode dye penetrant test lebih efektif untuk mengetahui jumlah cacat dari pada metode visual test. 5. 2. Pratikan diharapkan teliti dalam melihat cacat yang ada.1 Kesimpulan Pengujian NDT adalah pengujian yang tidak merusak yang bertujuan untuk quality control (perawatan).Laporan Akhir Mateerial Teknik BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Saran 1. Diharapkan pratikan membersihkan specimen dengan baik. Ini dapat dilihat dari jumlah cacat yang didapat dari masingmasing metode.

partikel magnet akan terakumulasi dengan adanya polarisasi. magnetik partikel. energy mekanis akan dikembalikan oleh flaw ke transduser menjadi energy listrik. intertisi d. dan radiography test? a. dislokasi garis dislokasi f. selanjutnya cairan penetrant yang terperangkap di dalam crack akan diserap oleh developer. ultrasonic. Ultrasonic test prinsip kerjanya : energi listrik dikonversi menjadi energi mekanis oleh transduser kedalam benda uji. Jenis cacat internal dan eksternal ? . subtitusi c.cacat internal a. Jelaskan batasan dan prinsip dasar dari pengujian liquid penetrant.Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM 1. vagancy b. Batasan : -permukaan bersih -crack harus membuka ke permukaan : dislokasi yang arah geraknya sejajar dengan garis : kekosongan atom : penggantian atom : penyisipan atom : penyisipan oleh atom sendiri : dislokasi yang arah geraknya tegak lurus terhadap b. self intertisi e. liquid penetrant test prinsip kerjanya : cairan penetrant di aplikasikan kepermukaan benda uji. Kelompok 19 121 . Batasan : komponen yang kecil dan tipis. c. dislokasi ulir dislokasi 2. magnetik partikel test prinsip kerjanya : benda uji dimagnetisasi dan partikel magnet ditaburkan kepermukaan benda uji.

medan magnet pada benda akan berinteraksi dengan medan magnet pada kumparan. Keterbatasan dari metoda ini yaitu hanya dapat diterapkan pada permukaan yang dapat dijangkau. arus eddy kemudian menginduksi adanya medan magnet.Laporan Akhir Mateerial Teknik d.adanya perbedaan density terhadap ketebalan. Selain itu. cari di internat mengenai eddy current test ? inspirasi ini memanfaatkan prinsip electro magnet. maka akan terbangkit arus eddy. radiography test prinsip kerjanya : radiasi yang dihasilkan oleh isotop/ generator melalui benda uji. 3. Batasan : . prinsipnya arus listrik di alirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet didalamnya. dan mengubah impedansi bila ada cacat. -crack harus sejajar dengan beban. -resiko radiasi. Kelompok 19 122 .sensitivity turun dengan bertambahnya ketebalan. jika medan magnet ini dikenakan pada logam yang akan diinspeksi. . metoda ini juga hanya diterapkan pada bahan logam saja.

viscositas rendah. Kelompok 19 123 . 2. Jelaskan tentang pengujian joke magnetization ? Pengujian ini adalah pendektesian cacat dengan menggunakan kerapatan fluks magnet dengan melewati specimen yang akan diperiksa.bewarna . Sifat : . sehingga cairan bias masuk pada cacat.Terangkan batasan serta sifat dari cairan penetrant ? Batasanya hanya pada permukaan. tidak bias digunakan pada permukaan kasar. berlapis.Laporan Akhir Mateerial Teknik TUGAS SETELAH PRAKTIKUM 1. Sketsa ide anda untuk melakukan inspeksi cacat halus pada material Dengan menggunakan microscop Penggunaanya : specimen langsung diamati dengan menggunakan kroscop. 3. berpori. sensitive terhadap kontaminasi dari luar.