Anda di halaman 1dari 12

RELASI REKURSIF

1. Pendahuluan Relasi rekursif sering juga disebut relasi berulang. Relasi ini mendefinisikan s ebuah barisan dengan memberikan nilai ke-n yang dikaitkan dengan suku suku sebelumnya. untuk mendefinisikan sebuah barisan, relasi berulang memerlukan nilai awal yang sudah ditentukan. Secara formal relasi berulang ini didefinisikan sebagai sebuah relas i berulang untuk barisan a0, a1, a2, . . . merupakan sebuah persamaan yang mengkaitkan an d engan a0, a1, a2, . . . , an-1. Syarat awal untuk barisan a0, a1, a2, . . . adalah nilai-n ilai yang diberikan secara eksplisit pada beberapa suku dari barisan tersebut. Banyak permasalahan dalam matematika yang dapat dimodelkan dalam bentuk relasi rekursif, kombinatorik merupakan salah satunya. Misal Pn menyatakan banyaknya permutasi dari n objek berbeda, maka P1 = 1 karena hanya ada satu permutasi dari 1 objek. Untuk n = 2 terdapat n kemungkinan posisi dari satu objek dan setiap kemungkinan posisi dari satu objek akan diikuti oleh permutasi dari n 1 objek. Karena banyaknya per mutasi dari n 1 objek ini adalah Pn 1 maka terdapat hubungan Pn = Pn 1 dengan demikian P1 = 1 ; Pn = Pn 1 , n = 2 (2. 1. 1)

Bentuk diatas disebut relasi rekursif untuk Pn, banyaknya permutasi dari n objek . P1 = 1 disebut kondisi awal sedangkan Pn = Pn 1 disebut bagian rekusif dari rela si rekursif tersebut. Contoh barisan fibonacci (1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, ...). misalkan Fn menya takan suku ke-n dari barisan tersebut, perhatikan bahwa n 3, suku ke-n dari barisan tersebut ada lah jumlah dari dua suku sebelumnya, sehingga relasi rekursif untuk Fn ditulis: F1 = 1 , F2 = 1; Fn = Fn-1 + Fn 2 , n = 3

Dalam relasi tersebut terdapat dua kondisi awal yaitu F1 = 1 dan F2 = 1. Jika ko ndisi awal dirubah, maka barisan fibonacci yang diperoleh akan berbeda dengan di atas Berdasarkan contoh diatas terlihat bahwa suatu fungsi numeric (a0, a1, a2, ..., ar, ...) dan sembarang r, suatu persamaan yang mengaitkan ar dengan satu atau lebih ai, i < r , dinamakan relasi rekursif (recurrence relation) atau disebut juga persamaan beda . Nilainilai awal yang diketahui dinamakan syarat batas (boundary condition).

2. JENIS-JENIS RELASI REKURSIF a. Relasi Rekurensi Linier Berkoefisien Konstan

Bentuk umum bagian rekursif dari suatu relasi rekursif linier berderajat k dapat ditulis sebagai berikut: an + C1 an-1 + C2 an-2 + + Ck an-k = f(n)

dimana Ci , untuk i =1, 2, 3, ,k adalah konstanta dan f(n) adalah sebuah fungsi numerik dengan variabel n, dan C0 0. Relasi rekursifnya disebut relasi rekursif dengan koefisien konstanta Jika f(n) = 0 maka relasi rekursifnya disebut homogen Jika f(n) 0 maka relasi rekursifnya disebut nonhomogen Contoh 1 1. 2an + 2an-1 = 3n adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 1 2. tn = 7tn-1 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 1 3. an an-1 an-2 = 0 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 2 4. bn-3 3bn = n+3 adalah sebuah relasi rekurensi linier berderajat 3 5. a0 = a1 =1; an = a0an-1 + a1an-2 + ... + an-1a0, n 1 adalah relasi rekursif n onlinier 6. D0 = 1; Dn = n Dn-1 + (-1)n, n 1 adalah relasi rekursif linier nonhomogen den gan koefisien nonkonstanta Suatu relasi rekursif berderajat k terdiri dari sebuah bagan rekursif dan k kond isi awal berurutan. Relasi rekursif demikian mendefenisikan tepat satu fungsi Contoh 1. Diberikan Relasi Rekursif an . an.1 + an.2 , apakah termasuk bentuk a) b) c) d) homogen linear berapakah derajatnya ? tentukan koefisien

Penyelesaian : an . an.1 . an.2 .. an . an.1 . an.2 . 0 a) karena fn = 0 maka termasuk homogen b) karena tidak ada perkalian dua variable maka RR tersebut linear,

c) an-k = an-2 maka k = 2, artinya berderajat 2 d) karena h1 (n) . .1 (koefisien dari an.1 ), dan h2 (n) . .1(koefisien dari an. 2 ), maka mempunyai koefisiennya konstan,

contoh 2 Tentukan sifat-sifat dari RR an . nan.1 . (.1) Penyelesaian : an . nan.1 . (.1)n an b. Relasi Rekursif Linear Homogen Dengan Koefisien Konstanta

Bentuk umum dari relasi rekursif linier homogen dengan koefisien konstanta adala h sebagai berikut : (2.2.1) Dengan k kondisi awal, untuk 1= i = k, = konstanta. Pada bagian ini akan dikembangkan suatu teknik untuk menyelesaikan relasi rekurs if. Untuk maksud tersebut diperlukan teorema berikut: Teorema 2.2.1: (prinsip superposisi). Jika ( ) ( ) berturut-turut adalah solusi dari: ( ), (2.2.2) dan ( ) (2.2.3) Maka untuk sebarang konstanta ^ ^ , ^ ( ) ^ ( ) adalah sebuah solusi dari: ^ ( ) ^ ( ) (2.2.4) Bukti : karena ( ) ( ) berturut ( ) ( ) ( ) ( ) ( ), dan ( ) ( ) ( ) ( ) ( ), Misal : ^ ( ) ^ ( ), maka ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) turut adalah solusi dari (2.2.2) dan (2.2.3) maka

^ ( ) ^ ( ) Ini berarti ^ ( ) ^ ( ) solusi dari (2.4) terbukti Sebagai akibat dari teorema 2.2.1 diperoleh teorema berikut: Teorema 2.2.2 : jika ( ) ( ) ( ), adalah solusi , (2.2.5) maka ^ ( ) ^ ( ) ^ ( ) juga solusi dari (2.2.5) untuk sebarang konstanta ^ ^ ^. Untuk menyelesaikan relasi (2.2.1), pertama-tama misalkan , untuk menentukan x, substitusikan dengan pada (2.2.1) dimana i.{n, n-1, n-2, ..., n-k} . Diperoleh Bagi kedua ruas persamaan tersebut dengan diperoleh : (2.2.6) Persamaan (2.2.6) disebut persamaan karakteristik dari relasi rekursif homogen d engan koefisien konstanta. Pada umumnya persamaan (2.2.6) mempunyai k akar, beberapa diantaranya mungkin bilangan kompleks. Jika adalah k akar-akar (yang berbeda) dari persamaan (2.2.6), maka ; 1= i = k adalah penyelesaian dari Berdasar teorema 2.2.2 jika g1(n), g2(n), ..., gk(n) berturut-turut adalah solusi dari maka ^ ^ ^; ^ ^ ^ adalah penyelesaian dari . Dengan demikian solusi umum dari relasi rekursif (2.2.1) adalah = ^ ^ ^ (2.2.7) Dari persamaan (2.2.7) dan k kondisi awal akan terbentuk suatu sistem persamaan yang terdiri dari k persamaan dengan k variabel ^ ^ ^ . Jika penyelesaian dari sistem persamaan ini kita substitusikan ke persamaan (2.2.7), diperoleh solusi dari rel asi rekursif (2.2.1). Contoh: Selesaikan relasi rekursif berikut dengan akar karakteristik a0 = 0, a1 = -1 ; an = 7an-1 12an-2, solusi dari

penyelesaian:

misalnya an = xn : x 0 maka bentuk rekursif an = 7an-1 xn = 7xn-1 12xn-2, ekuivalen dengan xn 7xn-1

12an-2 menjadi

12xn-2 = 0

bagikedua ruas dengan xn-2, sehingga diperoleh persamaan karakteristik x2 7x + 12 = 0

dengan akar-akar karakteristiknya x1 = 4 dan x2 = 3 sehingga solusi homogen (umum) dari relasi rekkursif tersebut adalah an(h) = + an(h) = + ............................(1) karena kondisi awal a0 = 0 dan a1 = -1 maka dari persamaan (1) diperoleh persamaan + ......................................(2) + ......................................(3) Dari persamaan (2) dan (3) diperoleh c1 = -1 dan c2 = 1 subtitusi nilai c1 dan c2 ke pers (1) sehingga diperoleh solusi homogen (khusus) dari relasi rekursif berikut an = -1 . 4n an = - 4n 3n 1 . 3n

Contoh 2.2.1: Selesaikanlah hubungan rekursif berikut: = = , n =3 Penyelesaian : persamaan karakteristik dari rekursif ini adalah , yang akar-akarnya v dan v , sehingga solusi umum dari relasi rekursif adalah: ( v ) ( v ) Karena kondisi awal dan , maka dari (i) diperoleh sistem persamaan

berikut:

1 = ( v ) ( v ) 1 = ( v ) ( v ) Selanjutnya dari persamaan (ii) dan (iii) didapat dan Substitusikan nilai kepersamaan (i)diperoleh penyelesaian sebagai berikut: ( ) ( v ) ( )( v ) Perlu dicatat bahwa untuk setiap n = 1, adalah bilangan bulat non negatif, walau formula dari melibatkan irrasional