Anda di halaman 1dari 2

WOUND HEALING

. Penyembuhan luka, sebagai proses biologis normal dalam tubuh manusia, dicapai melalui empat fase yang sangat terprogram yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Luka yang menunjukkan gangguan penyembuhan, diantaranya termasuk luka akut yang tertunda dan luka kronis yang telah gagal mencapai kemajuan dalam tahap penyembuhan normal. Luka tersebut sering menjadi keadaan peradangan patologis karena proses penyembuhannya tidak lengkap atau tidak terkoordinasi. Luka yang paling kronis adalah ulcer yang berhubungan dengan iskemia, diabetes melitus. Penyembuhan luka yang optimal pada orang dewasa mencakup hal- hal berikut yaitu : (1) hemostasis yang cepat, (2) inflamasi yang sesuai, (3) diferensiasi sel mesenkim, proliferasi, dan migrasi ke daerah luka, (4) angiogenesis yang tepat; (5) re epitelisasi

(pertumbuhan kembali jaringan epitel diatas permukaan luka), dan (6) sintesis yang tepat,cross link, dan keselarasan kolagen untuk memberikan kekuatan untuk penyembuhan jaringan. Hemostasis dimulai segera setelah terluka, yaitu dengan kostriksi vaskular dan pembentukan fibrin clot. Bekuan dan jaringan sekitar luka melepaskan sitokin dan growth factor seperti : transforming growth factor (TGF)-, platelet-derived growth factor (PDGF), fibroblast growth factor (FGF), and epidermal growth factor (EGF). Setelah perdarahan terkontrol, sel sel inflamasi bermigrasi ke dalam luka ( kemotaksis ) dan memicu fase inflmasi. Fase inflamasi ditandai dengan infiltrasi netrofil, makrofag dan limfosit. Fungsi netrofil adalah untuk membersihkan mikroba infasiv dan debris selular pada daerah yang terluka, makrofag memainkan banyak peran dalam penyembuhan luka. Pada awal luka, makrofag melepaskan sitokin yang memicu respon inflamasi dengan merekrut dan mengaktifkan leukosit. Makrofag juga bertanggungjawab untuk merangsang dan membersihkan sel apoptosis (termasuk neutrofil), sehingga membuka jalan bagi resolusi peradangan. Selagi makrofag membersihkan sel apoptosis mereka mengalami transisi fenotipik ke keadaan reparative yang merangsang

keratinosit, fibrolas, dan angiogenesis untuk memicu regenerasi jaringan. Dengan cara ini, makrofag memicu transisi ke fase proliferasi penyembuhan. Limfosit T bermigrasi ke dalam luka mengikuti sel inflamasi dan makrofag, puncaknya pada fase akhir proliferasi tahap renovasi awal.

Peran limfosit T tidak sepenuhnya dipahami. Beberapa studi menunjukkan bahwa infiltrasi sel-T yang tertunda tertunda bersamaan dengan penurunan konsentrasi sel T di daerah yang terluka dikaitkan dengan gangguan penyembuhan luka,

sementara Penelitian yang lain melaporkan bahwa sel CD 4 + (sel T-helper) memiliki peran positif dalam penyembuhan luka dan sel CD8 + (T-supresor-sitotoksik sel) memainkan peran penghambatan penyembuhan luka (Swift et al, 2001;. Park dan Barbul, 2004). Fase proliferatif umumnya mengikuti dan tumpang tindih dengan fase inflamasi, dan ditandai dengan re epitelialisasi pada bagian yang luka. Pada dermis reparative, fibroblast dan sel endothel adalah sel yang paling menonjol dan mendukung pertumbuhan kapiler, pembentukan kolagen, dan pembentukan jaringan granulasi pada daerah yang terluka. Dalam dasar luka, fibroblas memproduksi kolagen serta glikosaminoglikan dan proteoglikan, yang merupakan komponen utama matriks ekstraselular . Setelah proliferasi dan sintesis matriks ekstraselular kuat, penyembuhan luka memasuki tahap renovasi akhir, yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Guo,S., L.A. DiPietro. Factors Affecting Wound Healing. J Dent Res 89(3) 2010