Anda di halaman 1dari 16

1

Latar belakang
Anggaran perencanaan dan pengendalian manajemen berperan penting dalam organisasi sektor publik. Tidak seperti di sektor bisnis yang menjadikan anggaran sebagai dokumen rahasia perusahaan sehingga tertutup dengan pihak luar, di sektor publik anggaran merupakan dokumen publik yang bisa diakses oleh publik untuk diketahui, diberi masukan, dikritisasi, dan diperdebatkan. Anggaran sektor publik harus bersifat partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan anggaran agar aspirasi dan kebutuhan publik dapat diakomodasikan dalam anggaran. Anggaran sektor publik merupakan blue print organisasi tentang rencana program dan kegiatan yang akan dilakukan serta masa depan yang harus diwujudkan. Anggaran merupakan rencana jangka pendek organisasi yang dinyatakan dalam bentuk keuangan, berupa APBN dan APBD. Bentuk keuangan dari anggaran ini akan melalui empat proses penyusunan anggaran, yaitu perencanaan, pengesahan, pelaksanaan, dan pelaporan atau pertanggungjawaban. Anggaran sektor publik memiliki peran yang sangat penting bagi negara maupun daerah, karena mencakup aspek makro dan aspek mikro. Di dalam penganggaran sektor publik tidak lepas dari aspek perilaku dan politik. Permasalahan 1. Peran anggaran sektor publik 2. Jenis-jenis anggaran sektor publik 3. Proses penyusunan anggaran 4. Aspek perilaku dan politik penganggaran sektor publik Tujuan Untuk menjelaskan secara detail tentang empat pembahasan di atas.

BAB 3 PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK


Anggaran perencanaan dan pengendalian manajemen berperan penting dalam organisasi sektor publik. Tidak seperti di sektor bisnis yang menjadikan anggaran sebagai dokumen rahasia perusahaan sehingga tertutup dengan pihak luar, di sektor publik anggaran merupakan dokumen publik yang bisa diakses oleh publik untuk diketahui, diberi masukan, dikritisasi, dan diperdebatkan. Anggaran sektor publik harus bersifat partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan anggaran agar aspirasi dan kebutuhan publik dapat diakomodasikan dalam anggaran. Anggaran sektor publik merupakan blue print organisasi tentang rencana program dan kegiatan yang akan dilakukan serta masa depan yang harus diwujudkan.

Peran anggaran sektor publik


Anggaran merupakan rencana jangka pendek organisasi yang dinyatakan dalam bentuk keuangan. Anggaran sektor publik yang dipresentasikan dalam APBN dan APBD menggambarkan tentang rencana keuangan dan masa akan datang mengenai jumlah pendapatan, belanja, surplus/defisit, pembiayaan serta program kerja dan aktivitas yang dilakukan. Peran anggaran sektor publik dapat dilihat dari aspek makro dan mikro. Aspek makro yang dimaksud adalah peran anggaran dalam tatanan makro ekonomi, sosial, dan politik suatu negara. Sedangkan aspek mikro adalah peran anggaran dalam suatu organisasi yang dilihat dari sudut pandang manajerial organisasi. Peran anggaran dari aspek makro 1. Anggaran sebagai alat alokasi Untuk mengalokasikan anggaran ke dalam urusan, fungsi, organisasi, dan program kerja. 1. Alokasi berdasarkan urusan Urusan organisasi meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib merupakan bidang-bidang yang menjadi kewajiban pemerintah untuk melaksanakannya, sedangkan urusan pilihan merupakan bidang-bidang tertentu yang menjadi pilihan untuk dikembangkan. Urusan wajib pemerintah meliputi

a. Pendidikan b. Kesehatan c. Pekerjaan umum d. Perumahan rakyat e. Penataan ruang f. Perencanaan pembangunan g. Perhubungan h. Lingkungan hidup i. Pertanahan j. Kependudukan dan catatan sipil k. Pemberdayaan perempuan l. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera m. Sosial n. Tenaga kerja o. Koperasi dan UKM p. Penanaman modal q. Kebudayaan r. Pemuda dan olah raga s. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri t. Pemerintahan umum u. Kepegawaian v. Pemberdayaan masyarakat dan desa w. Statistik x. Kearsipan y. Komunikasi dan informasi Urusan pilihan meliputi : a. Pertanian b. Kehutanan c. ESDM d. Pariwisata e. Kelautan dan perikanan f. Perdagangan g. Perindustrian h. Transmigrasi

2. Alokasi berdasarkan fungsi Meliputi : a. Pelayanan umum b. Ketertiban dan ketentraman c. Ekonomi d. Lingkungan hidup e. Perumahan dan fasilitas umum f. Kesehatan g. Pariwisata dan budaya h. Pendidikan i. Perlindungan sosial j. Agama k. Pertahanan 3. Alokasi berdasarkan organisasi Anggaran dapat dialokasikan berdasarkan organisasi sesuai dengan struktur organisasi yang ada. 4. Alokasi berdasarkan program Berupa plafon anggaran untuk setiap program kerja dan rincian anggaran, biaya program yang terdiri atas belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal untuk pelaksanaan anggaran. 2. Anggaran sebagai alat distribusi Untuk mendistribusikan pendapatan atau sumber daya publik agar terjadi pemerataan dan keadilan ekonomi. 3. Anggaran sebagai alat stabilisasi Untuk menciptakan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik, untuk menciptakan stabilitas sosial, juga dapat digunakan untuk menciptakan stabilitas politik. Peran anggaran dari aspek mikro 1. Anggaran sebagai alat perencanaan Anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. Anggaran sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. Juga digunakan untuk:

a. Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang ditetapkan b. Merenecanakan berbagi program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi serta merencanakan alternatif sumber pembiayaannya c. Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah disusun d. Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi. 2. Anggaran sebagai alat pengendalian Digunakan untuk menghindari adanya overspending, underspending, dan salah sasaran (misappropriation) dalam pengalokasian anggaran. dapat dilakukan melalui 4 cara, yaitu: a. Membandingkan kinerja aktual dan kinerja yang dianggarkan b. Menghitung selisih anggaran (favourable dan unfavourable variances) c. Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan (controllable) dan tidak dapat dikendalikan (uncontrollable) atas suatu varian d. Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun berikutnya 3. Anggaran sebagai alat koordinasi dan komunikasi Anggaran publik merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan. Yang disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan organisasi. Selain itu, anggaran publik juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif. 4. Anggaran sebagai alat penilaian kinerja Kinerja eksekutif dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. 5. Anggaran sebagai alat motivasi Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan stafnya agar bekerja secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai. 6. Anggaran sebagai kebijakan fiskal Digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 7. Anggaran sebagai alat politik Anggaran merupakan dokumen politik sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Pembuatan anggaran publik membutuhkan political skill, coalition building, keahlian

bernegosiasi dan pemahaman tentang prinsip manajemen keuangan publik oleh para manajer publik. 8. Anggaran sebagai alat menciptakan ruang publik Anggaran publik tidak boleh diabaikan oleh pemerintah. Masyarakat, LSM, perguruan tinggi dan berbagai ormas harus terlibat dalam proses penganggaran publik.

Jenis-jenis anggaran sektor publik


1. Line item budget Dasar line item budget yaitu sifat (nature) dari penerimaan dan pengeluaran. Line item budget tidak memungkinkan untuk menghilang item-item penerimaan atau pengeluaran yang telah ada dalam struktur anggaran, walaupun sebenarnya secara riil item tertentu sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada periode sekarang. Satusatunya tolak ukur yang dapat digunakan adalah semata-mata pada ketaatan dalam menggunakan dana yang diusulkan. Hal ini berarti tidak dapat dilakukan penilaian kinerja secara akurat. Struktur line item dilandasi alasan adanya orientasi sistem anggaran yang dimaksudkan untuk mengontrol pengeluaran. Contohnya seperti pendapatan dari pemerintah atasan, pendapatan dari pajak, atau pengeluaran untuk gaji, pengeluaran untuk belanja barang, dsb, bukan berdasar pada tujuan yang ingin dicapai dengan pengeluaran yang dilakukan. Line item budget termasuk kategori sistem penganggaran yang cukup tua sehingga disebut bagian dari sistem anggaran tradisional. Sistem anggaran dengan pendekatan line item budget memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan. Line item budget merupakan sistem anggaran yang menyajikan belanja berdasarkan input atau sumber daya yang digunakan. Line item budget berfokus pada input yang memberikan informasi tentang berapa banyak dibelanjakan. Kelemahan item budget yaitu kurang dapat

menginformasikan tentang efesiensi anggaran karena tidak dilakukan pengkaitan antara input dengan autput. Line item budget lebih berfokus pada pemuatan keputusan tentang input, tetapi tidak mengukur efesiensi dan efektivitas program. Oleh karena itu sistem line item budget kurang baik untuk mengukur akuntabilitas kinerja yang menekankan pelaksanaan value for money ( ekomomi, efesiensi, efektivitas). Line item budget hanya mngukur efesiensi dan efektivitas organisasi ( Shah, 2007)

Dengan sistem line item budget, kinerja anggaran diukur dengan tingkat serapan anggaran. Kempuan untuk menghabiskan atau menghabiskan anggaran menjadi salah satu indicator penting untuk mengukur keberhasilan organisasi. Sebagai akibatnya dalam praktik sering terjadi perilaku birokrat yang selalu berusaha untuk menghabiskan anggaran tanpa melihat hasil dan kualitas ( Bastian, 2006). Kelebihan item budget adalah sederhana dan mudah mengadministrasikannya serta cukup baik untuk pengendalian input, membantu perencanaan serta penetapan prioritas. Manfaat lain yaitu, adanya spesifikasi batas anggaran dalam proses alokasi anggaran dan memastikan bahwa unit kerja tidak melakukan pengeluaran melebihi dari batas anggaran. 2. Incremental budget Incrementalism yaitu hanya menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya dengan menggunakan data tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menyesuaikan besarnya penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian yang mendalam. Sifat Incrementalism cederung menerima konsep harga pokok pelayanan historis tanpa memperhatikan apakah pelayanan tertentu masih dibutuhkan atau tidak, apakah pelayanan terdistribusi adil dan merata atau tidak, apakah pelayanan diberikan secara ekonomis dan efisien, serta apakah pelayanan mempengaruhi pola kebutuhan publik. Kelemahan anggaran tradisional (Line Item Budget dan Incremental Budget) : a. Hubungan yang tidak memadai (terputus) antara anggaran tahunan dengan rencana pembangunan jangka panjang; b. Incremental Budget menyebabkan sejumlah besar pengeluaran tidak pernah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya; c. Lebih berorientasi pada input daripada output; d. Sekat-sekat antar departemen yang kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan sulit dicapai; e. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal/investasi; f. Anggaran tradisional bersifat tahunan; g. Sentralisasi penyiapan anggaran dan informasi yang tidak memadai menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran; h. Persetujuan anggaran yang terlambat; i. Aliran informasi (sistem informasi finansial) yang tidak memadai yang menjadi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.

Incremental budget merupakan sistem penganggaran yang hanya menambah dan mengurangi jumlah anggaran dengan menggunakan data anggaran tahun lalu sebagai dasar perencanaan tahun sekarang atau anggaran taun sekarang menjadi dasar perencanaan anggaran tahun depan. Kelebihan sistem incremental budget adalah cocok untuk penganggaran kegiatan yag sifatnya rutin dan selalu dilakukan, misalnya kegiatan kegiatan administrasi kantor, pemeliharaan dan operasional, rutin organisasi. Kelemahan sistem incremental budget antara lain : karena menggunakan anggaran tahun lalu sebagai dasar pengangaran maka seringkali terjadi duplikasi anggaran. Anggaran semestinya tidak diperlukan lagi tetapi masih tetap dianggarkan sehingga menyebabkan pemborosan anggaran. Selain itu dasar kenaikan dan penurunan pos anggaran terkadang tidak melalui analisis yang memadai sesuai dengan kebutuhan anggaran yang rasional. Jika anggaran tahun lalu dijadikan dasar merupakan anggaran tidak efesien, maka sangat mungkin inefesien anggaran akan terus berlanjut. Kemudian dijabarkan dalam rencana operasional yang berisi program kerja bserta target kinerjanya. Program analisis terkait dengan analisis biaya dan manfaat untuk masing-masing program serta alokasi penganggaranya. PPBS 3. Planning, programming, budgeting system (PPBS) Merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori sistem yang berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi. PPBS tidak mendasarkan pada struktur organisasi tradisional yang terdiri dari divisi-divisi, namun berdasarkan program, yaitu pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. PPBS adalah salah satu model penganggaran yang ditujukan untuk membantu manajemen pemerintah dalam membuat keputusan alokasi sumber daya lebih baik. Langkah implementasi PPBS : a. Menentukan tujuan umum organisasi dan tujuan unit organisasi dengan jelas. b. Mengidentifikasi program-program dan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. c. Mengevaluasi berbagai alternatif program dengan menghitung cost benefit dari masing-masing program. d. Pemilihan program yang memiliki manfaat besar dengan biaya yang kecil.

e. Alokasi sumber daya ke masing-masing program yang disetujui. Karakteristik PPBS : a. Fokus pada tujuan dan aktivitas (program) b. Menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang akan datang c. Mempertimbangkan semua biaya yang terjadi d. Dilakukan analisis secara sistematik atas berbagai alternatif program Kelebihan PPBS : a. Memudahkan dalam pendelegasian tanggung jawab dari manajemen pumcak ke manajemen menengah b. Dalam jangka panjang dapat mengurangi beban kerja c. Memperbaiki kualitas pelayanan melalui pendekatan sadar biaya dalam perencanaan program d. Lintas departemen e. Menghilangkan program yang overlapping atau bertentangan dengan pencapaian tujuan organisasi f. PPBS menggunakan teori marginal utility Kelemahan PPBS : a. Membutuhkan sistem informasi yang canggih, ketersediaan data, adanya sistem pengukuran, dan staff yang memiliki kapabilitas yang tinggi b. Implementasi PPBS membutuhkan biaya yang besar c. PPBS sulit diimplementasikan walaupun bagus secara teori d. Mengabaikan realitas politik dan organisasi e. Merupakan teknik anggaran yang statistically oriented f. Pengaplikasian PPBS menghadapi masalah teknis. Seiring dengan terjadinya gerakan reformasi sector publik yang membawa konsepkonsep baru seperti new publik management (NPM), reinventing government, result oriented, management (ROM), market public basic administration, post bureaucratic paradigm, managerialsm, dan sebagainya maka terjadi pula reformasi managemen keuangan dan akuntansi sector publik. Salah satu aspek reformasi managemen keuangan dan akuntansi sector publik adalah adanya upaya mereformasi anggaran dari sistem

10

anggaran tradisional menjadi anggaran modern yang beriorentasi pada pendekatan new publik management. Anggaran modern sector publik tersebut antara lain yaitu planning, programming, budgeting system (PPBS), zero based budgeting (ZBB), performens budgeting dan budgeting for result (BFR). Kemudian dijabarkan dalam rencana operasional yang berisi program kerja bserta target kinerjanya. Program analisis terkait dengan analisis biaya dan manfaat untuk masing-masing program serta alokasi penganggarannya. PPBS meliputi tiga level managemet yaitu : 1. Manajemen kebijakan (policy management) : berisi identifikasi kebutuhan analaisis, pilihan alternative program, pemilihan program, dan alokasi anggaran. 2. Manajemen sumber daya (resource management) : berisi penetapan sistem pendukung utama berupa perbaikan struktur anggaran dan praktk managemen keuangan. 3. Manajemen program (program management) : berisi implementasi kebijakan, strategi, program, dan kegiatan, akuntansi, pelaporan, dan evaluasi. 4. Zero based budget (ZBB) Tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu untuk menyusun anggaran tahun ini, namun penentuan anggaran didasarkan pada kebutuhan saat ini. Proses implementasi ZBB : a. Identifikasi unit-unit keputusan b. Penentuan paket-paket keputusan Paket keputusan mutually-exclusive Adalah paket-paket keputusan yang memiliki fungsi yang sama. Apabila dipilih salah satu paket kegiatan atau program, maka konsekuensinya adalah menolak semua alternatif yang lain. Paket keputusan incremental Merfleksikan tingkat usaha yang berbeda (dikaitkan dengan biaya) dalam melaksanakan aktivitas tertentu. Terdapat base package di dalamnya. c. Merangking dan mengevaluasi paket keputusan Keunggulan ZBB : a. Jika dilaksanakan dengan baik dapat menghasilkan alokasi sumber daya secara lebih efisien b. ZBB berfokus pada value for money

11

c. Memudahkan mengidentifikasi terjadinya inefisiensi dan ketidakefektifan biaya d. Meningkatkan pengetahuan dan motivasi staff dan manajer e. Meningkatkan partisipasi manajemen level bawah dalam proses penyusunan anggaran f. Merupakan cara yang sistemik untuk menggeser status quo dan mendorong organisasi untuk selalu menguji alternatif aktifitas dan pola perilaku biaya serta tingkat pengeluaran Kelemahan ZBB : a. Prosesnya memakan waktu lama, tidak praktis, biaya besar, kertas kerja menumpuk b. Menekankan manfaat jangka pendek c. Implementasi ZBB membutuhkan teknologi yang maju d. Merangking dan mereview merupakn pekerjaan yang melelahkan dan membosankan e. Untuk perangkingan dibutuhkan staff yang memiliki keahlian yang mungkin tidak organisasi f. Memungkinkan munculnya kesan keliru bahwa semua paket keputusan harus masuk dalam anggaran g. Menimbulkan masalah keperilakuan dalam organisasi 5. Performance budget (anggaran berbasis kinerja) Merupakan sistem penganggaran yang dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara anggaran (input) dengan keluaran (output) dan hasil (outcome) yang diharapkan dari kegiatan dan program termasuk efesiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut. Dilakukan dengan mengaitkan setiap anggaran program dan kegiatan dengan target kinerja, indikator kinerja, capaian kinerja, standart satuan harga (SSH), anlisis standart belanja (ASB) dan standart pelayanan minimal (SPM). Zero based merupakan sistem penganggaran yang berisi nol atau mulai dari nol. ZBB tidak menjadikan anggaran tahun lalu sebagai dasar penyusunan anggaran tahun sekarang sebagai mana dalam lne item budget dan incremental budget. ZBB menjadikan setiap anggaran merupakan anggaran yang abru sehingga dimulai dari nol. Kelebihan ZBB antara lain anggaran didasarkan kebutuhan riil bukan sekedar mengulang dan meneruskan program lama sehingga hal ini dapat mengurangi terjadinya duplikasi dan pemborosan anggaran. Kelemahan ZBB adalah penyususnannya cukup rumit dan sulit dalam implementasinya. Dalam penyusunan anggaran dengan pendekatan ZBB terdapat tiga langkah dasar yaitu : 1. Identifikasi unit keputusan

12

2. Membuat paket-paket keputusan 3. Mereview dan meranking paket keputusan.

Proses penyusunan anggaran


1. Perencanaan / persiapan (preparation) Dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar taksiran pendapatan yang tersedia. Dalam persoalan estimasi terdapat faktor uncertainly (tingkat ketidakpastian) yang cukup tinggi. Pendekatan top down budget planning,bottom up, atau kombinasi antara top down dan up budget. Perencanaan anggaran yang menggunakan pendekatan top down rencana yang sudah ditetapkan oleh organisasi atasan sedangkan unit organisasi dibawahnya tinggal melaksanakannya. Sedangkan perencanaan anggaran dengan pendekatan bottom up atau disebut anggaran partisipasi, unit kerja mengajukan usulan anggaran sedangkan manajemen atasan mengevaluasi dan menyetujui usulan anggaran unit. Perencanaan anggaran sektor publik Indonesia dalam penyusunan RAPBN dan RAPBD menggunakan pendekatan partisipasi yaitu melibatkan unit kerja organisasi dan masyarakat dalam proses perencanaan anggaran. Tahapan atau siklus dalam proses penyusunan APBN sebagaimana yang diatur dalam PP Nomor 21 Tahun 2004 tentang penyusunan RKA-KL adalah sebagai berikut : Pertama, periode Januari s.d April, Kementerian dan Bappenas melakukan

penyusunan dan perencanaan besaran indikatif baik anggaran K/L maupun non K/L yang bersifat mengikat maupun tidak. Agar mencapai tahap hasil yang representatif dan untuk pencapaian efisiensi alokasinya, diperlukan penerapan sistem penganggaran yang kredibel sejak penerapan alokasi hingga pelaksanaan dan pertanggungjawaban. Menteri Negara PPN/ Bappenas dan menteri keuangan menetapkan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang pagu indikatif yang merupakan ancar-ancar pagu anggaran Kementrian Negara/Lembaga (K/L) untuk program sebagai acuan penyusunan rencana kerja K/L, setiap Kementerian Negara/Lembaga ( K/L ) menyiapkan rancangan-rancangan kerja K/L untuk tahun berikutnya yang berpedoman pada rencana kerja pemerintah. Dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia, K/L harus menyusun program dan kegiatan berdasarkan prioritas menyusun rencana kerja secara berjenjang sampai pada tingkat

13

satuan kerja agar dapat menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan disertai indikator kinerja atas keluaran yang dihasilkan. Kedua, Periode Mei s.d Agustus, pemerintah menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiscal dan kerangka ekonomi makro ke DPR selambat-lambatnya pertengahan bulan Mei tahun berjalan. Kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal pemerintah bersama DPR membahas kebijakan umum dan prioritas anggaran dengan hasil pembahasan kebijakan umum serta mempertimbangkan indikator kerangka ekonomi makro. Menteri keuangan kemudian menyusun rencana kerja anggaran kementerian negara atau lembaga (RKA-KL) dengan pendekatan (a) KPJM (b) penganggaran terpadu (c) penganggaran berbasis kinerja. Rencana kerja dan anggaran disusun K/L disampaikan dan dibahas dengan DPR yang hasilnya disampaikan kepada menteri keuangan dan menteri negara selambat lambatanya pada bula Juli. Kemudian, kementrian negara PPN akan menelaah kesesuaian antara hasil pembahasan bersama DPR dengan RKP, sedangkan kementrian keuangan akan menelaah kesesuaian antara RKA-KL hasil pembahasan bersama DPR dengan surat edaran menteri keuangan tentang pagu sementara yang telah disetujui tahun sebelumnya dan biaya yang telah ditetapkan. Selambat-lambatnya pertengahan Agustus pemerintah mengajukan nota keuangan dan RAPBN beserta RUU APBN dan himpunan RKA-KL ke DPR untuk dibahas bersama agar memperoleh persetujuan. Selanjutnya, pembahasan antara menteri keuangan selaku wakil pemerintah dan panitia anggaran DPR yang mengambil keputusan yang dilakukan selambat-lambat 2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan. Konsep DIPA disampaikan kepada menteri keuangan selaku bendahara umum negara selambat-lambatnya minggu kedua bulan desember hingga dapat disahkan menteri keuangan selambat-lambatnya tanggal 31 desember. DIPA yang telah disahkan oleh menteri keuangan merupakan dokumen anggaran sebagai otorisasi pengeluaran kegiatan KL. 2. Pengesahan (ratifikasi) Merupakan tahap yang melibatkan proses politik yang cukup rumit dan berat. Pimpinan eksekutif tidak hanya harus memiliki managerial skill, namun juga harus mempunyai political skill, salesmanship, dan coalition building. Pimpinan eksekutif harus

14

mempunyai kemampuan untuk menjawab dan memberikan argumentasi yang rasional atas segala pertanyaan-pertanyaan dan bantahan-bantahan dari pihak legislatif. 3. Pelaksanaan (implementation) Hal terpenting yang harus diperhatikan oleh manajer keuangan publik adalah dimilikinya sistem (informasi) akuntansi dan sistem pengendalian manajemen. 4. Pelaporan dan pertanggungjawaban Tahap terakhir siklus anggaran adalah pelaporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan anggaran dilaporkan dalam laporan realisasi anggranan (LRA) dan laporan operasi (LO). Laporan pelaksanaan anggaran merupakan bagia dari laporan pertanggungjawaban presiden dan kepala daerah yang harus disampaikan kepada dewan legislatif dan masyarakat. Tahap ini terkait dengan aspek akuntabilitas.

Aspek perilaku dan politik penganggaran sektor publik


Aspek perilaku dalam penganggaran sektor publik: 1. Partisipasi anggaran Merupakan pelibatan staf dan manajer dalam proses penyusunan anggaran. 2. Keterlibatan manajemen senior Keterlibatan manajemen senior tercermin dalam peran aktif tim anggaran pemerintah dalam memberikan arahan, evaluasi, dan koreksi terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh unit kerja. 3. Senjangan anggaran Merupakan selisih antara jumlah yang dianggarkan dengan kemampuan atau kebutuhan rill yang di miliki pengguna anggaran. Senjangan anggaran bisa positif apabila jumlah anggaran pendapatan lebih kecil daripada kemampuan rill yang dimiliki pengguna anggaran untuk menghasilkan pendapatan atau anggaran belanja lebih besar daripada kebutuhan rill belanja yang diperlukan unit kerja. Senjangan anggaran bisa juga negatif, apabila jumlah anggaran pendapatan lebih besar daripada kemampuan rill yang dimiliki pengguna anggaran untuk menghasilkan pendapatan atau anggaran belanja lebih kecil daripada kebutuhan rill belanja yang diperlukan unit kerja. Aspek politik dalam penganggaran sektor publik: 1. Penentuan kebijakan anggaran (budget policy)

15

Berisi target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah yang disertai dengan proyeksi pendapatan, alokasi belanja, sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. 2. Penentuan prioritas program dan plafon anggaran Politik anggaran juga dapat terjadi dalam proses penentuan prioritas program dan plafon anggaran. Hal ini dimungkinkan terjadi karena program yang dianggap prioritas atau penting oleh legislatif belum tentu sama dengan yang diajukan oleh eksekutif. 3. Penentuan alokasi anggaran Plafon Anggaran masih bersifat global belum rinci. Adapun rincian anggaran terdapat dalam penetuan alokasi anggaran untuk masing-masing urusan, fungsi, unit kerja, program, dan kegiatan. Penentuan alokasi anggaran lebih banyak terjadi di wilayah eksekutif. Politik anggaran dalam penentuan alokasi anggaran terjadi antara pengguna anggaran dengan tim anggaran eksekutif. Seringkali terjadi permasalahan politik dalam alokasi anggaran terkait dengan kedekatan pimpinan. Misalnya pengguna anggaran yang memiliki kedekatan dengan pimpinan mendapat alokasi anggaran yang lebih banyak dibandingkan yang tidak memiliki kedekatan. 4. Pembahasan anggaran Politik anggaran juga terjadi pada tahap pembahasan anggaran antara eksekutif dengan legislatif. Bahkan pada tahap pembahasan anggaran ini nuansa politiknya lebih tinggi deibandingkan tahap-tahap sebelumnya. Pembahasan anggaran di tingkat legislatif dilakukan dalam dua tahap, yaitu pada tingkat komisi atau badan anggaran legislatif dan pada sidang paripurna dewan. 5. Perubahan anggaran Perubahan atau revisi anggaran biasanya dilakukan pemerintah dalam pertengahan tahun anggaran berjalan. Revisi anggaran dapat dilakukan jika terdapat hal-hal berikut: a. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum anggaran. b. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran antara antarunit organisasi, antarkegiatan, dan antarjenis belanja. c. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan. d. Keadaan darurat seperti bencana alam.

16

e. Keadaan luar biasa, yaitu keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan atau pengeluaran dalam anggaran mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50%. Perubahan anggaran harus melalui pembahasan dan persetujuan dewan. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan terjadi politik anggaran dalam proses revisi anggaran. 6. Pertanggungjawaban anggaran Pada tahap pertanggungjawaban anggaran, legislat fakan meminta pertanggungjawaban eksekutif dan menilai kinerja anggaran. Legislatif dapat menggunakan perannya sebagai pemegang hak anggaran (budget), hak legislasi, dan hak pengawasan untuk menekan eksekutif dalam pertanggungjawaban eksekutif tersebut. Oleh karena itu dukungan politik, koalisi dan komunikasi politk antara eksekutif dengan legislatif sangat penting dalam setiap tahapan penganggaran.

Ringkasan
Anggaran sektor publik memiliki peran yang sangat penting dalam organisasi sektor publik. Anggaran berfungsi sebagai alat alokasi, distribusi dan stabilisasi. Anggaran juga berfungsi sebagai alat perencanaan, pengendalian, koordinasi, motivasi, penilaian kinerja dan alat politik. Jenis anggaran yang dapat diterapkan di sektor publik, yaitu line item budget, incrmental budget, zero based budget, planning programing budgeting system, dan performance budget. Secara umum proses penganggaran terdiri atas persiapan anggaran, ratifikasi, implementasi, pelaporan dan pertanggungjawaban.

Daftar pustaka
Mardiasmo. 2005. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi Mahmudi. 2011. Akuntansi Sektor Publik.