Anda di halaman 1dari 6

Pemanfaatan Bacteria Pendegradasi Limbah Air Sungai Secara Umum Berbagai kegiatan eksplorasi, eksploitasi, transportasi melalui media

sungai dan laut, sering menghasilkan kejadian kebocoran tumpahan minyak ke lingkungan. Tumpahan minyak di sungai dan laut telah berdampak terhadap pencemaran multidimensi bagi makhluk hayati sungai dan laut itu sendiri, usaha perikanan, usaha pariwisata, sampai kepada tingkat kerusakan sungai dan laut (Edwards & White 1999). Beberapa sungai juga menjadi tempat melakukan pembuangan limbah industri maupun domestik yang mengakibatkan pencemaran terhadap sungai itu sendiri, sungai sangat penting untuk kepentingan umum seperti sumber air baku, tempat sumber air minum, dan berbagai aktivitas lain seperti pariwisata dan aktivitas perikanan, sungai yang tercemar memerlukan perhatian dan tindakan bioremediasi yang lebih optimum dengan memanfaatkan teknologi biostimulasi dan bioaugmentasi. Aplikasi teknologi bioremidiasi memerlukan data dasar diversitas jenis dan fungsi fisiologis mikroba sungai maupun laut. Bakteri mampu mendegradasi bahan kimia berbahaya dalam lingkungan menjadi air dan gas yang tidak berbahaya (CO2) (Vidali 2001). Menurut Yamikov et al. (2004), ada beberapa jenis bacteria yang mampu menjadi indikator tercemarnya air sungai yaitu Bakteri koliform yang merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai indikator, di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak. [1] Berdasarkan penelitian, bakteri koliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker. [1] Selain itu, bakteri pembusuk ini juga memproduksi bermacam-macam racun seperti indol dan skatol yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya berlebih di dalam tubuh. [1] Bakteri koliform dapat digunakan sebagai indikator karena densitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air. [2] Bakteri ini dapat mendeteksi patogen pada air seperti virus, protozoa, dan parasit. [2] Selain itu, bakteri ini juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi daripada patogen serta lebih mudah diisolasi dan ditumbuhkan.[2] Mikroorganisme indikator adalah sekelompok mikroorganisme yang digunakan sebagai petunjuk kualitas air. [1] Mikroorganisme indikator telah digunakan untuk mendeteksi dan menghitung kontaminasi tinja di air, makanan, dan sampel lainnya. [1] Untuk digunakan sebagai mikroorganisme indikator, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi oleh mikroorganisme tersebut, kendati demikian, persyaratan ini tidak mutlak untuk dipenuhi seluruhnya, tergantung kondisi yang ada. Syaratnya antara lain[1]:

1. Dapat digunakan untuk berbagai jenis air 2. Mikroorganisme harus muncul bila patogen enterik dan sumber polusi muncul 3. Tidak ada di air yang terpolusi 4. Mudah diisolasi, murah, mudah diidentifikasi, dan mudah dihitung 5. Lebih banyak jumlahnya dan lebih tahan dibanding patogen 6. Bukan merupakan patogen 7. Tidak berkembang biak di air 8. Merespon perlakuan dan kondisi lingkungan 9. Kepadatan indikator harus berkaitan langsung dengan derajat polusi 10. Menjadi bagian dari mikroflora dalam saluran pencernaan hewan berdarah panas Mikroorganisme indikator dapat dibedakan menjadi indikator bakteri, indikator virus, dan indikator protozoa [1] Terdapat lima bakteri yang umum digunakan sebagai indikator Koliform tidak termasuk dalam taksonomi bakteri namun hanya istilah untuk menyebutkan kelompok mikroorganisme yang berada di air. Ciri-ciri bakteri koliform adalah gram negatif, berbentuk batang, merupakan anaerob fakultatif yang dapat memfermentasikan laktosa dengan pembentukkan asam dan gas pada suhu 35 C selama 24-48 jam. Memiliki enzim tambahan yaitu sitokrom oksidase dan beta-galaktosidase. Koliform dapat ditemukan di saluran pencemaran hewan, tanah, atau secara alami pada sampel lingkungan. Pada keadaan normal, koliform terdapat di air dalam jumlah standar dan dapat diukur, namun bila terjadi pencemaran air, jumlah koliform akan menjadi banyak dan dapat melebihi jumlah bakteri patogen lain.[2] Oleh karena itu, koliform dapat digunakan sebagai indikator pencemaran air.[2]. Jika terdapat bakteri koliform dalam air, belum tentu bakteri patogen juga ada di air tersebut, namun jika bakteri koliform terdapat dalam jumlah besar maka perlu diperiksa kembali keberadaan bakteri patogen lain.[2] Koliform tinja Digunakan untuk mendeteksi pencemaran tinja. Merupakan bakteri termotoleran yang dapat beradaptasi dengan cara stabilisasi protein pada suhu di saluran pencernaan. Koliform tinja dapat melakukan fermentasi dengan menghasilkan asam dan gas pada suhu 44.5 C. Koliform tinja memiliki korelasi yang kuat dengan pencemaran tinja hewan berdarah panas. Untuk mendeteksi E.coli pada koliform tinja secara lebih spesifik dapat digunakan enzim MUG yang aka[n berpendar dengan sinar UV[1].

Streptococcus feses dan Enterococcus Merupakan mikrobiota pada manusia dan hewan. Contoh Streptococcus pada manusia adalah S. faecalis dan S. Faecium Clostridium Merupakan mikrobiota pada hewan berdarah panas dan limbah. Sifatnya lebih stabil dibanding patogen dan memiliki spora sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi polusi yang terjadi di waktu lampau[1]. Pseudomonas Digunakan sebagai indikator kolam renang selain Staphylococcus aureus. Memiliki sifat tahan terhadap desinfeksi kimiawi. Berpigmen pyocyanin dan dapat berpendar[1]. Merupakan mikrobiota pada hewan berdarah panas dan limbah. Sifatnya lebih stabil dibanding patogen dan memiliki spora sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi polusi yang terjadi di waktu lampau[1]. Bacteroides spp. dan Bifidobacteria spp. Banyak ditemukan di feses 100 kali dibanding yang lain. Kedua bakteri ini sulit dideteksi karena bersifat sangat anaerob dan dapat musnah bila terkena oksigen, sehingga untuk mendeteksi perlu kondisi yang sangat anaerob pula. Beberapa jenis Bacteroides spesifik pada manusia[1]. Beberapa parameter kualitas air di bedakan menjadi kualitas fisik, kimia dan biologi. Parameter fisik yaitu : bau, Jumlah zat padat terlarut, kekeruhan, rasa, warna, suhu dan daya hantar listrik. Sedangkan untuk parameter kimia anorganik yaitu : air raksa, aluminium, rsen, barium, besi, florida, kadmium, kesadahan CaCO3, klorida, kromium valensi 6, mangan, natrium, nitrat sebagai N, nitrit sebagai N, perak, pH, selenium, seng, sianida, sulfat, sulfida sebagai H2S, tembaga, timbal, DO, nikel, sedangkan kimia organik yaitu: aldrin dan dieldrin, benzona, benzo,clordane, 2,4D dan DDT, detergent, hexachlorobenzene, lindane, metoxychlor, pentachlorophenol, pestisida total, zat organik (KMnO4), endrin, fenol, karbon kloroform ekstrak, minyak dan lemak, organofosfat dan carbanat, PCD, senyawa aktif biru metilen, toxaphene dan BHC. Sedangkan parameter microbiologik yaitu: tinja koliform dan total koliform, Dari parameter chemical tersebut ada beberapa jenis bacteri yang umum digunakan untuk mendegradasi pollutions yaitu: Bacillus, Micrococcus, staphylococcus, pseudomonas, eschershia, Shigella, Xanthomonas, Acetobacter, Citrobacter, Enterobacter, Moraxella and Methylococcus dari 771 bacteri yang teridentifikasi melalui methode isolasi bacteri tersebut yang sering di gunakan dan memiliki kemampuan dalam mendegradasi kandungan kimia.

Sedangkan parameter yang umum digunakan untuk menguji kualitas air adalah: physical characteristics (air, Water temperature, transparancy dan electrical conductivity) and chemical characteristics (pH, DO, BOD, COD, CO3, HCO3, SO4, NO2, NO3, and PO4) and than babteria indicators of faecal pollution (total koliformas, faecal coliforms and faecal streptococci) the bacteria pathogenic were identified as E coli, Salmonella, Choleraesuis, Streptococcus faecium and Pseudomonas aeuroginosa. Bakteri ada di mana-mana, tanpa kita sadari bakteri memecah selulosa pada setiap kehidupannya, baik itu dalam hal fermentasi makanan ataupun memperbaiki nitrogen dalam tanah, di antara sejumlah kegiatan lainnya. Mengingat mereka di mana-mana dan memiliki keanekaragaman fungsi, bioteknologi telah mencari penggunaan baru untuk berbagai jenis organisme mikroskopis, seperti mengkonsumsi tumpahan minyak atau bahkan menangkap gambar. Sekarang ahli biologi di University College Dublin di Irlandia telah menemukan bahwa keturunan Pseudomonas putida dapat diperoleh dengan secukupnya dalam diet minyak styrene murni (minyak bekas Styrofoam yang dipanaskan) dan, dalam proses, pengubahan dari masalah lingkungan kepada yang lebih berguna, yaitu biodegradable plastik.

BIODEGRADASI PLASTIK Bakteri : Methylococcus capsulatus

Kemampuan : menghancurkan plastik Peranan : mengatasi pencemaran plastik

BIODEGRADASI MINYAK BUANGAN Bakteri : Pseudomonas sp

Kemampuan : memanfaatkan minyak sebaga sumber makanannya Peranan : mengatasi pencemaran minyak

BIODEGRADASI AIR BUANGAN Bakteri : Nitrobacter sp, Nitrosomonas sp, Pseudomonas sp, Beggiota sp

Kemampuan : sebagai lumpur aktif penyaring air limbah Peranan : pengolahan limbah cair

Pada umumnya limbah cair pabrik secara keseluruhan maupun limbah pabrik tahu ini langsung dibuang ke sungai melalui saluran-saluran. Bila air sungai cukup deras dan lancar serta pengenceran cukup (daya dukung lingkungan masih baik) maka air buangan tersebut tidak menimbulkan masalah. Tetapi bila daya dukung lingkungan sudah terlampaui, maka air buangan yang banyak mengandung bahan-bahan organik akan mengalami proses peruraian oleh jasad renik dapat mencemari lingkungan. Parameter air limbah tahu yang biasanya diukur antara lain temperatur, pH, padatan-padatan tersuspensi (TSS) dan kebutuhan oksigen (BOD dan COD). Temperatur biasanya diukur dengan menggunakan termometer air raksa dengan skala Celsius. Nilai pH air digunakan untuk mengekpresikan kondisi keasaman (konsentrasi ion hidrogen) air limbah. Skala pH berkisar antara 1-14; kisaran nilai pH 1-7 termasuk kondisi asam, pH 7-14 termasuk kondisi basa, dan pH 7 adalah kondisi netral Siregar, 2005). Padatan-padatan Tersuspensi/TSS (Total Suspended Solid) digunakan untuk menentukan kepekatan air limbah, efisiensi proses dan beban unit proses. Pengukuran yang bervariasi terhadap konsentrasi residu diperlukan untuk menjamin kemantapan proses kontrol (Siregar, 2005). Kebutuhan oksigen dalam air limbah ditunjukkan melalui BOD dan COD. BOD

(Biological Oxygen Demand) adalah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi senyawa-senyawa kimia. Nilai BOD bermanfaat untuk mengetahui apakah air limbah tersebut mengalami biodegradasi atau tidak, yakni dengan membuat perbandingan antara nilai BOD dan COD. Oksidasi berjalan sangat lambat dan secara teoritis memerlukan waktu tak terbatas. Dalam waktu 5 hari (BOD5), oksidasi organik karbon akan mencapai 60%-70% dan dalam waktu 20 hari akan mencapai 95%. COD adalah kebutuhan oksigen dalam proses oksidasi secara kimia. Nilai COD akan selalu lebih besar daripada BOD karena kebanyakan senyawa lebih mudah teroksidasi secara kimia daripada secara biologi. Pengukuran COD membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat, yakni dapat dilakukan selama 3 jam, sedangkan pengukuran BOD paling tidak memerlukan waktu 5 hari. Jika korelasi antara BOD dan COD sudah diketahui, kondisi air limbah dapat diketahui (Siregar, 2005). Tabel 3. Tipe Kisaran Temperatur dari Berbagai Jenis Bakteri
Tipe Bakteri Cryopilic Mesopilic Thermopilic Temperatur oC Range Optimum -2-30 12-18 20-45 25-40 45-75 55-65

Proses biologi anaerobik merupakan sistem pengolahan air limbah jenis industri tahu yang banyak digunakan. Pertimbangan yang dilakukan adalah mudah, murah dan hasilnya bagus. Proses biologi anaerobik merupakan salah satu sistem pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme yang bekerja pada kondisi anaerob. Kumpulan

mikroorganisme, umumnya bakteri, terlibat dalam transformasi senyawa komplek organik menjadi metana. Selebihnya terdapat interaksi sinergis antara bermacam-macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Kelompok bakteri non metanogen yang bertanggung jawab untuk proses hidrolisis dan fermentasi tardiri dari bakteri anaerob fakultatif dan obligat. Mikroorganisme yang diisolasi dari digester anaerobik adalah Bifidobacterium spp., Clostridium spp., Peptococcus anaerobus, Lactobacillus,

Desulphovibrio spp.,

Corynebacterium spp.,

Actonomyces, Staphylococcus, and Eschericia coli (Metcalf and Eddy, 2003). Refrence: (Edwards & White 1999). (Vidali 2001). Yamikov et al. (2004), (Siregar, 2005). (Metcalf and Eddy, 2003).