Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM PENANGANAN PASCA PANEN PENGENALAN ALAT-ALAT PEMROSESAN BENIH

NAMA KELOMPOK M. MUKHLIS (512008011) April ( ) Andreas ( ) PROGDI : AGRO EKO TEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2012

DASAR TEORI Berdasrkan undang-undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 1992 tentang system Budidaya pertanian Bab 1 Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 4, benih didefinisikan senabai berikut: Benih tanaman, selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman. Dari definisi diatas jelas bahwa benih dapat diperoleh dari perkembangbiakan secara generative maupun secara vegetative. Yang diproduksi untuk tujuan tertentu, yaitu pengembangbiakan tanaman. Dengan pengertian ini maka kita dapat membedakan antara benih (agronomy seed/seed) dengan biji (grain) yang dipakai untuk konsumsi manusia (food stuff) dan hewan (feed). Benih tanaman terdiri dari tiga komponen, yaitu embriyo, endosperm/daun lembaga dan kulit benih (seed coat). Namun demikian ada benih tanaman tertentu yang tidak memiliki endosperm/daun lembaga sehingga pada waktu proses pengecambahan benih dibutuhkan makanan cadangan buatan, misalnya pada anggrek. Benih memiliki berbagai bentuk sehingga memerlukan berbagai alat atau metode ketika melakukan pemrosesan benih agar kondisi benih tetap baik.(Hendarto Kuswanto, 1996)

Setelah benih dirontok/diekstraksi dan dikeringkan, kualitas benih dipandang dari dari segi kemurnian benih mengalami penurunan dan belum memadai untuk dimintakan sertifikat sebelum di pasarkan. Penurunan kualitas tersebut, disebabkan benih masih tercampur dengan kotoran-kotoran yang berasal dari bafian buah yang berupa kulit buah, tangkai atau bagian lain yang terbawa pada waktu panen, perontokan, benih yang rusak, benih yang tidak sesuai dengan deskripsi pada rposes pengeringan benih. Campuran yang terdapat pada benih (impurities) dapat berupa materi yang memiliki ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari benih. Oleh karena itu benih perlu dipisahkan atau dibersihkan dari kotoran tersebut agar kualitas benih meningkat, sebelum benih tersebut dimintakan / diuji di laboratorium Balai Penelitian dan Sertifikasi Benih (B.P.S.B). Untuk memisahkan kotoran kotoran yang tercampur dengan benih, dapat dilakukan secara manual ataupun secara mekanis tergantung pada jumlah benih yang diproduksi dan pertimbangan ekonomis dalam rangka memperoleh harga benih yang terjangkau oleh petani pengguna benih. Proses pembersihan/pemisahan Proses pemisahan yang kotoran yang tercampur dengan benih dilakukan secara bertahap terutama apabila proses proses pemisahan benih tersebut dilakukan secara mekanis. Adapun tahapantahapan kegiatan tersebut dilakukan sebagai berikut: 1. Precleaning

Setelah perontokan/ekstraksi, dapat terjadi benih tercampur dengan kotoran yang berukuran relative besar. Dikhawatirka materi ini dapat mengganggu kerja mesin yang akan digunakan dalam proses selanjutnya, oleh karena itu, pada tahap ini yang dipisahkan hanyalah kotoran yang berukuran relative labih besar daripada ukuran benih. Proses ini biasanya disebut sabagai Scalping. Dengan demikian, apabila berdasarkan pengamatan tidak tampak adanya materi/kotoranyang relative besar, maka proses ini tidak perlu dilakukan. 2. Basic Cleaning Mesin yang digunakan dalam tahap ini secara prinsipial adalah sama dengan mesin yang digunakan dalam tahap Precleaning, hanya ukuran sareingannya lebih halus. Pelaksanaan proses ini untuk memisahkan materi yang masih tercampur dengan benih setelah proses precleaning. 3. Post Cleaninig. Tahapan kegiatan ini jarang dilakukan karena pada umunya benih telah cukup bersih setelah diproses dengan basic cleaninig. Tahapan kigiatan ini hanya dilakukan apabila setelah proses basic cleaninig ternyata masih terdapat materi/kotoran yang memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan benih, sehingga tidak tidak dipisahkan melalui tahapan basic cleaning. Dengan demikian diperlukan mesin yang dapat digunakan untuk untuk memisahkan materi tersebut dari benih, misalnya pemisahan yang dilakukan berdasarkan warna, berat jenis benih, serta ukuran secara teliti. Pada proses ini biasa disebut sabagai proses separation and grading. Apabila benih selesai diproses hingga ke tahap ini, maka benih akanmemiliki presentase kemurnian benih yang sangat tinggi dan hal ini dapat hanya dilakukan pada kelas-kelas benih tertentu saja, misalnya kelas breeder seed atau kualitas benih extantion seed pada varietas yang memiliki nilai ekonomis tinggi. (Hendarto Kuswanto, 2003).

ALAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. BAHAN Air screen Cleaner (Vac away) Air screen Cleaner (Mini vac) Five minute Sieve Shaker Portable Sieve Shaker Spiral Separator Air Blast Seed Cleaner

Benih campuran CARA KERJA 1. 2. 3. 4. Timbang seed lot benih awal ( catat hasilnya) Siapkan wadah penampung benih pada setiap pintu keluar Hidupkan mesin. Catat luaran yang diperoleh dari tiap pintu: a. Timbang benih luaran dari tiap pintu. b. Benih yang dimaksud (ukiurn & homogenitasnya). c. Nama varietas lain & kotoran yang dimaksud.

PENGAMATAN Bandingkan efektifitas dan efisiensinya alat/mesin dalam membersihkan /memilah benih. (benih yang paling banyak & bersih anda peroleh menggunakan alat/mesin apa dan diperoleh (keluar) dari pintu mana?

DAFTAR PUSTAKA Kuswanto. Hendarto, 1996, Dasar-Dasar Teknologi Produksi dan Sertifikasi Benih, Andy, Yogyakarta Kuswanto. Hendarto, 2003, Teknologi Pemrosesan Pengemasan dan Penyimpanan Benih, Kanisius, Yogyakarta