Anda di halaman 1dari 8

A.

Pendahuluan

Usai Indonesia memperoleh peringkat investment grade (IG) dari dua lembaga rating yaitu Fitch dan Moody's diperkirakan akan meningkatkan jumlah dana asing yang memanfaatkan obligasi domestic (Yuni Astutik, 2012). Dengan memperoleh peringkat investment grade, membawa angin segar untuk peningkatan ekonomi lebih besar pada tahun 2012, tentunya dengan harapan semakin banyak investor yang akan berinvestasi di Indonesia.

Perkembangan dan kemajuan perusahaan, salah satunya dapat dilihat dengan produktifitas yaitu banyaknya barang atau jasa yang dihasilkan oleh pekerja dalam suatu kurun waktu tertentu. Salah satu masalah yang menghambat peingkatan produktifitas adalah masih tingginya angka kesakitan, kematian dan kecelakaan yang kerja di Indonesia yang dalam pelaksanaanya penyelanggaraan K3 dilaksanakan oleh pelaku usaha. Di Indonesia,

pelanggaran-pelanggaran terhadap K3 yang dilakukan perusahaan terhadap pekerjanya masih tingginya, hal ini dapat memberi dampak negatif

perkembangan perekonomian di Indonesia karena pekerja merupakan motor penggerak utama peningkatan nilai ekonomi. Menurut data Kemenakertrans pada tahun 2011, jumlah perusahaan yang mendapat peringatan berupa nota pemeriksaan tahap I sebanyak 7.468 perusahaan dan jumlah perusahaan yang mendapat peringatan keras berupa nota pemeriksaan tahap II berjumlah 1.472 perusahaan (Sumbawa, 2012).

Sementara pelanggaran

itu,

perusahaan

yang dan

telah norma

dinyatakan K3

melakukan 3.848

aturan

ketenagakerjaan

mencapai

perusahaan sedangkan jumlah perusahaan yang telah disidik dan di nota untuk diajukan ke pengadilan berjumlah 78 perusahaan. Dalam upaya penegakan hukum, pihak Kemenakertrans mengembangkan koordinasi dan kerjasama dengan aparat penegak hukum yakni, Polri, Kejaksaan Agung dan kalangan
1

pengacara (Sumbawa, 2012). Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan selama ini proses penegakan hukum bidang

ketenagakerjaan dilakukan melalui upaya atau pendekatan persuasif-edukatif kepada perusahaan dan pekerja/buruh dengan cara sosialisasi serta informasi tentang peraturan dan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan.

Berdasarkan data PT Jamsostek, selama semester I/2011, terdapat sekitar 48.515 kecelakaan kerja, sedangkan International Labour Organitation (ILO) mencatat setiap hari terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban fatal dengan 6.000 kasus. Di Indonesia, dari setiap 100.000 tenaga kerja ternyata terdapat sekitar 20 orang yang kondisinya fatal akibat kecelakaan kerja, sehingga tingkat keparahan kecelakaan kerja di seluruh dunia umumnya dan di Indonesia pada khusunya masih cukup tinggi (poskota, 2012).

Kecelakaan

kerja

erat

kaitannya

dengan

jumlah

pengawas

ketenagakerjaan yang saat ini hanya ada sebanyak 2.308 petugas. Jumlah tersebut dikatakan Arka belum memenuhi standar ideal jika dibandingkan jumlah perusahaan di Indonesia yang mencapai 208.813 perusahaan dengan 102,05 juta tenaga kerja. Idealnya dengan jumlah perusahaan lebih dari 200 ribu memiliki 5.000 tenaga pengawas ketenagakerjaan namun hingga Agustus 2010 hanya ada 2.308 tenaga pengawas. ada beberapa tantangan pengawasan ketenagakerjaan di antaranya tidak terdapat jalur instruitif ke daerah yang berakibat pelaksanaan pengawasan di masing-masing daerah berbeda-beda. Pusat juga tidak dapat mengatur posisi penempatan pengawas ketenagakerjaan walaupun seorang petugas ditunjuk dan diberhentikan Menakertrans, karena status kepegawaiannya adalah pegawai daerah. Terjadi disfungsi pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan diperburuk dengan adanya penempatan

pengawas di luar unit kepengawasan dan sebaliknya. Maka diperlukan peningkatan kerja sama dan koordinasi dengan seluruh provinsi, kabupaten dan kota melalui peningkatan manajemen pengawasa ketenagakerjaan (Antara, 2010).
2

B. Rumusan Masalah Dari penjelasan pada latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. 2. Masih tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia. Masih tingginya angka pelanggaran peraturan ketenaga kerjaan dan

norma K3 yang dilakukan perusahaan.

C. Pemecahan masalah

1. Penyelanggaraan SMK3 secara berkelanjutan Untuk mencegah tingginya angka kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan adanya peran serta pelaku usaha dan pekerja yang berkomitmen tentang K3. Komitmen perusahaan tersebut dapat di terapkan dengan penyelenggaraan sistem manajeman keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai dengan Permenaker No 05 tahun 1996 maupun OHSAS 18001 yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan

sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan kesehatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Pelaksanaan Sistem manajemen k3 yang berkelanjutan adalah terselangggaranya praktik-praktik maupun usaha-usaha terhadap K3 dengan adanya komitmen yang kuat dari perusahaan yang dalam pelaksanaannya tidak hanya pada kurun waktu tertentu tetapi wajib diselenggarakan selama adanya kegiatan usaha. Penyelnggaraan kegiatan SMK3 tidak berkelanjutan dapat dilihat dengan minimnya alokasi dana untuk departemen dalam
3

perusahaan yang menangani K3KL seperti HSE,SHE dan QHSE. Minimnya alokasi dana untuk penyelenggaraan K3 dapat menghambat keberhasilan program K3 yang akhirnya program tidak berkontribusi untuk kemajuan perusahaan. Alat pelindung diri yang sudah tidak layak pakai dan tidak

sesuai dengan tempat kerja, alat ukur parameter lingkungan yang minim, serta minimnya sumber daya manusia yang berkompeten merupakan beberapa contoh dari penyelanggaraan SMK3 yang tidak berkelanjutan. Penerapan Sistem manajemen K3 dibagi dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pengembanagan dan penerpan. Tahap persiapan erupakan tahapan atau langkah awal yang harus dilakukan oleh suatu organisasi/perusahaan. Langlah ini melibatkan lapisan manajemen dan sejumlah personel, mulai dari menyatakan komitmen sampai dengan kebutuhan sumber daya yang diperlukan, sedangkan tahap penerapan merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh

organisasi/perusahaan dengan melibatkan banyak personel, mulai dari menyelengggarakan penyuluhan dan melaksanakan sendiri kegiatan audit internal serta tindakan perbaikannya sampai melakukan sertifikasi. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat 10 langkah penerapan SMK3 berdasarkan OHSAS 18001:

1) Komitmen dan kebijakan puncak : pernyataan komitmen dan penetapan kebijakan untuk menerapkan sebuah Sistem manajemen K3 dalam organisasi/perusahaan yang dilakukan oleh manjemen puncak. Persiapan SMK3 tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen terhadap SMK3 tersebut. 2) Menetapkan cara penerapan : Bagaimana perusahaan/organisasi menerapkan SMK3. Kegiatan SMK3 dapat dilakukan dengan jasa konsultan atau tanpa menggunakan jasa konsultan.

Perusahaan/organisasi dapat menerapkan SMK3 tanpa menggunakan jasa konsultan, jika perusahaan/organisasi yang bersangkutan

memiliki personel yang mampu untuk mengorganisasikan orang dan


4

mengarahkan

orang.

Selain

itu,

perusahaan/organisasi

harus

memahami dan berpengalaman dalam standart sistem mmanajemen K3. 3) Membentukkelompok kerja penerapan : jika perusahaan akan membentuk kelompok kerja sebaiknya anggota kelompok kerja tersebut tediri atas seorang wakil dari setiap unit kerja. Biasanya

manajer unit kerja, hal ini penting Karen merkealah yang tentunya bertangggung jawab terhadap unit kerja yang bersangkutan. 4) Menetapkan sumber daya yang diperlukan : Sumber daya disini mencakup orang/personel perlengkapan,waktu dan dana 5) Kegiatan penyuluhan : kegiatan penyuluhan ini dapat dilakukan momitmen

dengan beberapa cara, misalnya dengan pernyataan

manajemen, melalui ceramah, surat edaran atau pembagian bukubuku yang terkait dengan SMK3. 6) Peninjauan sistem : kelompok kerja penerapan yang telah dibentuk kemudian mulai bekerja untuk meninjau sistem yang sedang

berlangsung dan kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang ada didalam SMK3. Peninjauan inindapat dilakukan dengan melalui dua cara yaitu dengan meninjau dokumen prosedur dan mennijau pelaksanaan. 7) Penyusunan jadwal kegiatan : jadwal kegiatan dapat disusun denngan mempertimbangkan ruang lingkup pekerjaan, kemampuan wakil manajemen dan kelompok kerja penerapan, dan keberadaan proyek. 8) Pengembangan SMK3 : kegiatan yang dapat dilakukan guna pengembangan SMK3 antara lain mencakup dokumentasi,pembagian kelompok,penyusunan bagan alir,penulisan manual SMK3,prosedur, dan instruksi kerja. 9) Penerapan sistem : peerapan sistem dapat diterapkan dengan cara angggota kerja mengumpulkan seluruh stafnya dan menjelaskan mengenai isi dokumen tersebut, anggota kelompok kerja bersama staf unit kerjanya mulai mencoba menerapkan hal-hal yang telah ditulis,
5

dan mengumpulakan catatn K3 dan rekaman tercatat merupakan bukti tertulis terhadap pelaksanaan kegiatan.

yang

10) Proses sertifikasi : kegiatan sertifikasi terhadap perusahaan. Sertifikasi dapat dilakukan oleh lembaga sucfindo terhadao Permenaker 05/Men/1996 dan utnutk OHsas 18001:1999 organisasi bebas menentukan lembaga sertidfikasi mana yang diinginkan. Untuk itu disarankan memilih lembaga sertifikasi OHSAS 108001 yang paling tepat.

2. Peningkatan

Sanksi

pidana

untuk

pelaku

usaha

yang

tidak

menyelenggarakan kegiatan K3 Proses penegakan hukum bidang ketenagakerjaan dilakukan melalui upaya atau pendekatan persuasif-edukatif kepada perusahaan dan

pekerja/buruh dengan cara sosialisasi serta informasi tentang peraturan dan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan. Dalam tahapan awal

penerapan K3, pemerintah memberdayakan para pengawas ketenagakerjaan untuk melakukan pembinaan dan sosialiasi kepada perusahaan-perusahaan dan pekerja/buruh agar bisa menjalankan peraturan ketenagakerjaan. Pelanggaran K3 yang dilakukan perusahaan untuk tahap pertama akan diberikan nota pertama sebagai peringatan untuk memperbaiki kesalahannya. Jika perusahaan mengabaikan peringatan pertama maka akan diberi peringatan tahap kedua dan ketiga dan harus segera di tindak lanjuti dengan SPDP (Surat Perintah Dimulainya Penyidikan) untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) untuk kepentingan pengadilan, kata Muhaimin (Sumbawa, 2012). Begitulah tahapan proses pelanggaran hukum terhadap perusahaan yang melanggar aturan tentang K3. Program K3 akan berjalan apabila penegakan hukum juga disertai dengan sanksi hukum yang berat agar menimbulkan efek jera. Kalau tidak ada sanksi penegakan hukum tidak akan berjalan sehingga tidak akan menimbulkan efek jera bagi pelanggaran K3 (Ali Azwar, 2012). Keterbatasan
6

modal, ekonomi dan berbagai krisis selama beberapa puluh tahun terakhir ini, membuat pelanggaran perusahaan terhadap K3 hanya terbatas pada pembinaan. Untuk membuat efek jera terhadap perusahaan hendaknya proses hukum tidak hanya tindakan pembinaan tetapi harus mengarah pada penegakan hukum pidana sehingga pelaku usaha lebih sadar akan pentingnya K3 dan yang akhirnya akan tercapai Indonesia yang berbudaya K3. Menurut ketentuan pasal 15 UU No. 1/1970, pemerintah memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturan K3 dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp100.000.

Daftar Pustaka Antara. 2011, Angka Kecelakaan Kerja Tahun 2010 Turun. Diakses dari http://Antaranews.com, Januari 2012 Astutik Yuni. 2012, Indonesia memperoleh peringkat investment grade (IG) dari dua lembaga rating.Diakses dari http://infopublik.org/index.php?page=news&newsid, Januari 2012 Permenaker Republik Indonesia No 05/Men/1996 tentang SMK3 PP No. 1/1970 pasal 15 UU tentang sanksi pelanggaran K3
7

Poskota.

2012,

Pelanggaran

K3

bisa

dipidana,

Diakses

dari

http://www.poskotanews.com, Januari 2012 Sumbawa, 2012, Perusaahn langgar norma k3 tahun 2012 . Diakses dari http://www.sumbawanews.com/berita/kemnakertrans-3848-perusahaanatiran-norma-keselamatan-kerja-tahun-2011, Januari 2012