Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional yang diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Guna mewujudkan hal tersebut berbagai upaya telah dilakukan, yang salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat atau kader posyandu (Depkes, 2007). Menurut MDGs (Millenium Development Goals) di tingkat ASEAN, AKB (Angka Kematian Bayi) di Indonesia masih tergolong tertinggi yaitu 35 per seribu kelahiran hidup, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, yaitu Singapura (3 per seribu kelahiran hidup), Brunei Darussalam (8 per seribu kelahiran hidup), Malaysia (10 per seribu kelahiran hidup), Vietnam (18 per seribu kelahiran hidup) dan Thailand (20 per seribu kelahiran hidup). AKBA (Angka Kematian Balita) di Indonesia juga masih tergolong tertinggi yaitu jumlahnya 44 kematian per seribu kelahiran hidup. Menurut Riskesdas 2007, penyebab kematian utama bayi adalah ganguan pernapasan (35,9%) dan berat lahir rendah (32,4%), sedangkan kematian pada balita paling banyak diakibatkan oleh diare, pneumonia dan hal yang berlatar pada kekurangan gizi. Menurut BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Jawa Barat (2006) yang dikutip dari Octaviani,dkk (2008) bahwa pada tahun 1989-2000 intervensi gizi dari pemerintah memang lebih cepat dilakukan saat petugas pos pelayanan terpadu (posyandu) menemukan kasus gizi kurang maupun gizi buruk pada anak balita. Namun,

Universitas Sumatera Utara

saat ini dari 250.000 posyandu di Indonesia, hanya 40% yang masih aktif. Sehingga hanya sekitar 43% anak balita yang terpantau status gizinya. Pelayanan posyandu mencakup pelayanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pemberantasan penyakit menular dengan imunisasi, penanggulangan diare dan gizi serta adanya penimbangan balita. Sasaran penduduk posyandu adalah ibu hamil, ibu menyusui, pasangan usia subur dan balita. Program posyandu merupakan strategi jangka panjang untuk menurunkan angka kematian bayi (infant mortality rate), angka kelahiran bayi (birth rate), dan angka kematian ibu (maternal mortality rate) turunnya (Infant mortality rate, birth rate, maternal mortality rate) di suatu daerah merupakan standart keberhasilan pelaksanaan program terpadu di suatu wilayah tersebut. Untuk mempercepat penurunan angka tersebut diperlukan peran serta masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan posyandu karena posyandu adalah milik masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat dan ditujukan untuk 2007). Posyandu merupakan perpanjangan tangan puskesmas untuk menekan kasus gizi buruk. Menurut BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Jawa Barat (2006) yang dikutip dari Octaviani,dkk (2008) bahwa pada tahun 1989-2000 intervensi gizi dari pemerintah memang lebih cepat dilakukan saat petugas pos pelayanan terpadu (posyandu) menemukan kasus gizi kurang maupun gizi buruk pada anak balita. Namun, saat ini dari 250.000 posyandu di Indonesia, hanya 40% yang masih aktif. Sehingga hanya sekitar 43% anak balita yang terpantau status gizinya. kepentingan masyarakat (Koto,

Universitas Sumatera Utara

Menurut Gesman dkk (2008) menyimpulkan bahwa pemantauan pertumbuhan balita di posyandu belum dimanfaatkan untuk memonitoring kemungkinan terjadinya peningkatan gizi buruk. Hal ini berarti bahwa kedatangan ibu yang memiliki balita ke posyandu sangatlah penting untuk mencegah ketidakmampuan (Disability Limitation) masyarakat dalam menghadapi gizi buruk di rumah tangga. Keterbatasan petugas yang mempunyai fungsi rangkap dalam melakukan tugasnya di puskesmas mengakibatkan tidak semuanya pelacakan kasus gizi buruk dapat di deteksi sedini mungkin, sehingga balita ditemukan sudah dalam kondisi yang tidak baik. Untuk itu puskesmas sangat memerlukan partisipasi para kader dalam membantu saat kegiatan posyandu dan juga diluar kegiatan posyandu. Para kader dapat membantu petugas puskesmas dalam mendeteksi secara dini balita yang berat badannya tidak naik setiap bulannya dan tidak datang ke posyandu. Revitalisasi posyandu sedang giat-giatnya dilakukan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan banyak posyandu di Indonesia yang mulai tidak aktif. Ketidakaktifan ini disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam maupun dari luar posyandu. Faktor yang berasal dari luar posyandu diantaranya tingkat pendidikan masyarakat sekitar, keadaan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar serta jumlah balita di daerah sekitar. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam posyandu itu sendiri diantaranya dana, kader dan sarana prasarana (Suwandono, 2006). Menurut Dijen Binakesmas Depkes RI (2009) bahwa kinerja posyandu mengalami penurunan, hal tersebut diketahui dari cakupan balita yang datang ke

posyandu turun dari 60% menjadi 43% sehingga, banyak ditemukan balita yang tidak

Universitas Sumatera Utara

ditimbang dan tidak mendapat immunisasi yang mengakibatkan semakin meningkatnya prevalensi gizi kurang yang dapat berlanjut menjadi gizi buruk. Menurut Hemas (2005), kenyataan beberapa tahun terakhir ini, di beberapa daerah kinerja dan partisipasi kader posyandu dirasakan menurun, hal ini disebabkan antara lain krisis ekonomi, kejenuhan kader karena kegiatan yang rutin, kurang dihayati sehingga kurang menarik, atau mungkin jarang dikunjungi petugas. Sedangkan posyandu merupakan institusi strategis, karena melalui posyandu berbagai permasalahan kesehatan seperti gizi dan KB dapat diketahui sejak dini, termasuk jika ada anak balita yang mengalami gangguan tumbuh kembang. Penelitian atau informasi mengenai penyelenggaraan posyandu diantaranya laporan hasil lokakarya nasional posyandu di Yogyakarta, hasil penelitian Hadju (2000) tentang peran dan kinerja posyandu di tiga propinsi yaitu Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi selatan menemukan 70% posyandu tidak memiliki kader terlatih dalam kegiatan posyandu dan 85% kader posyandu tidak aktif, kelengkapan alat/sarana yang dibutuhkan posyandu kurang mencukupi. Selama tiga bulan terakhir lebih 75% ibu-ibu berkunjung ke posyandu, tetapi cuma 35% yang berkunjung ke posyandu setiap bulannya, sedangkan kunjungan anak ke posyandu setiap bulannya hanya 40% dari total kunjungan anak di posyandu. Kondisi ini diperkirakan karena kurangnya kemampuan kader baik pengetahuan maupun keterampilan kader mengelola posyandu. Banyaknya kader yang drop out atau rendahnya kinerja kader dalam kegiatan posyandu yang menyebabkan semua tugas-

Universitas Sumatera Utara

tugas yang dilaksanakan kader tidak optimal, serta sumber daya posyandu yang tidak memadai. Banyaknya hal yang mempengaruhi kinerja kader yang salah satunya adalah peran kader dalam melakukan penimbangan balita. Kegiatan penimbangan di posyandu dimaksudkan untuk memantau status gizi balita. Berdasarkan Susenas (Survei Kesehatan Nasional) tahun 2001 diperoleh cakupan penimbangan balita D (Ditimbang) dan S(Sasaran) atau (D/S) di posyandu secara nasional sebesar 45%, sedangkan target D/S secara nasional lebih dari 80.%. Menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Tahun 2007 cakupan penimbangan balita lebih kurang empat kali selama enam bulan terakhir di propinsi Sumatera Utara sebesar 45,4%. Menurut Timple (1992) bahwa kinerja yang optimal didorong oleh kuatnya motivasi seseorang. Kinerja dipergunakan manajemen untuk melakukan penilaian secara periodik mengenai efektifitas operasional suatu organisasi berdasarkan sasaran, standard dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya. Peningkatan kinerja dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh motivasi. Menurut Terry (1977) bahwa motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsangnya untuk

melakukan tindakan-tindakan. Selain itu menurut Hurigck (1978) bahwa motivasi merupakan minat seseorang melakukan sesuatu. Minat merupakan suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan obyek yang menarik baginya. Menurut Timple (1992) kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target, sasaran/kriteria yang

Universitas Sumatera Utara

telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktorfaktor tersebut terdiri atas faktor instrinsik individu atau SDM (Sumber Daya Manusia) dan ekstrinsik yaitu kepemimpinan, sistem, tim dan situasional. Menurut Timple (1992) terdapat dua kategori dasar atribusi yang bersifat internal atau disposisional dan yang bersifat eksternal atau situasional yang dapat mempengaruhi kinerja. Faktor Internal (disposisional) yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang, misalnya kinerja seseorang baik disebabkan karena kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak berusaha untuk memperbaiki kemampuannya. Faktor Eksternal (situasional) yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan, seperti perilaku, sikap dan tindakantindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja dan iklim organisasi. Faktor internal dan faktor eksternal ini merupakan jenis-jenis atribusi yang mempengaruhi kinerja seseorang. Jenis-jenis atribusi yang dibuat para karyawan memiliki sejumlah akibat psikologis dan berdasarkan kepada tindakan. Kinerja kader posyandu mengalami penurunan hal ini dibuktikan dengan penelitian Mastuti (2003) terhadap kader posyandu di Di Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Bulan Maret Tahun 2003, bahwa persentase kader aktif nasional adalah 69,2% dan persentase kader drop out sebesar 30,8%. Menurut Syafridah (2003) bahwa kader yang drop out adalah sebagai tulang punggung keluarga, dan Berdasarkan studi terdahulunya bahwa angka drop out

Universitas Sumatera Utara

kader sangat tinggi atau rata-rata 50%, penyebab utamanya karena tidak adanya sistim penghargaan bagi kader. Sedangkan menurut Monteiro,dkk (2009) menyatakan bahwa kader muda yang masih dalam usia pencari kerja lebih tinggi drop outnya dibanding kader yang sudah tua. Penelitian yang dilakukan oleh Satoto, et.al tahun 2002 pada 72 Posyandu di Jawa Barat dan Jawa Tengah, menyatakan bahwa terjadinya krisis ekonomi menyebabkan kegiatan pemantauan pertumbuhan, pelayanan gizi dan pelayanan kesehatan dasar di posyandu mengalami penurunan sampai 28%. (Depkes RI, 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Syarifah et al (1991) yang ditulis dalam Health Service Research hasil studinya tentang peranan kader kesehatan dalam pembangunan kesehatan masyarakat perkotaan di Kotamadya Medan menyimpulkan bahwa 60% kader berperan tinggi dalam pembangunan kesehatan perkotaan, 24%

sedang, dan 16% rendah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya peran kader terhadap pembangunan kesehatan perkotaan adalah motivasi kerja kader, pengakuan, dan kemampuan kader melaksanakan tugas. Selain itu penelitian lain yang dilakukan Sibuea (1992), menyatakan bahwa sebagian besar kader memerlukan imbalan (upah/insentif) dan hal yang dirasakan oleh para pembina kader di Kecamatan Cipayung tahun 2001 bahwa kader merasa bangga dengan adanya pengakuan baik dari kelompok, masyarakat dan pemerintah, dan adanya upayan untuk melestarikan kader dengan melakukan berbagai bentuk penghargaan. Menurut Basyir, dkk (2008) bahwa faktor ekstrinsik merupakan faktor pendukung dalam meningkatkan keaktifan kader posyandu. Faktor ekstrinsik dalam

Universitas Sumatera Utara

kegiatan posyandu yang berupa fasilitas posyandu

dan sarana pendukung dapat

meningkatkan keaktifan kader dalam melaksanakan kegiatan posyandu. Pemberdayaan kader melalui pelatihan, penyegaran, dan cerdas cermat, serta pengadaan alat masak dan kebutuhan operasional, supaya kader posyandu dapat meningkatkan kinerja dan fungsi sehingga mampu mengemban tugasnya untuk meningkatkan gizi keluarga. Insentif yang diberikan kepada kader, adanya kemudahan bagi kader dalam pegobatan di puskesmas dan pengurusan KTP (Kartu Tanda Penduduk) juga memberikan motivasi tersendiri bagi keaktifan kader posyandu. Berdasarkan data Profil Kesehatan Kota Medan (2008) di wilayah kerja puskesmas Amplas ditemukan kasus gizi buruk paling banyak (43 orang balita). Cakupan penimbangan balita sebesar 50,85% (7.021 balita yang ditimbang dari 13.811 balita). Rendahnya penimbangan balita ke posyandu merupakan salah satu indikator outcome posyandu yang rendahnya. Balita yang tidak melakukan penimbangan setiap bulannya di wilayah kerja posyandunya tidak dapat dipantau pertumbuhannya, dengan kondisi tersebut sangat diperlukan keaktifan kader dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah dan melakukan penimbangan balita, agar dapat memantau tanda awal untuk mendeteksi secara dini berat badan balita setiap bulannya. Balita yang

mempunyai KMS (Kartu Menuju Sehat) di wilayah kerja Puskesmas Amplas sebanyak 7.021 (49,16%) dari 13.811 balita, sehingga tidak sesuai dengan pencapaian target 100%, hal ini menunjukkan bahwa cakupan pemberian KMS menjadi sangat rendah. Balita yang seharusnya mempunyai KMS karena masih dalam fase pertumbuhan, telah

Universitas Sumatera Utara

kehilangan kesempatan di posyandu untuk mendapat pelayanan sebagaimana yang terdapat dalam KMS tersebut. Kegiatan pelayanan posyandu wilayah kerja puskesmas Amplas dari tahun 2007 2009 adalah sebagai berikut : Tabel 1.1. Cakupan Kegiatan Pelayanan Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas Amplas Tahun 2007-2009 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kegiatan Frekuensi penimbangan Rerata kader tugas Rerata cakupan D/S Cakupan Kumulatif KIA Cakupan Kumulatif KB Cakupan Immunisasi Program Tambahan Cakupan dana sehat Tahun 2007 12 kali 3 orang 38,42% 64,7% 60,4% 67,3% Tahun 2008 12 kali 2 orang 50,85% 57,3% 64,6% 65,5% Tahun 2009 12 kali 2 orang 54,23% 38,9% 67,8% 61,3% -

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun pada tahun 2007 sampai tahun 2009 rerata cakupan D/S pada balita yang melakukan penimbangan, frekuensi penimbangan di posyandu mengalami peningkatan di bandingkan tahun sebelumnya, tetapi peningkatan tersebut masih jauh bila dibandingkan target yang telah ditetapkan secara nasional yaitu diatas 80%. Hasil dari wawancara yang dilakukan dengan petugas posyandu, setiap bulan kegiatan posyandu selalu berjalan, tetapi cakupan penimbangan balita masih rendah, kemungkinan ini disebabkan karena rendahnya kunjungan ibu ke posyandu untuk memantau pertumbuhan balitanya, selain itu masih kurang aktifnya kader mengunjungi sasaran sebelum dan sesudah hari pelaksanaan posyandu. Di wilayah kerja Puskesmas Amplas memiliki posyandu yang paling banyak diantara posyandu wilayah kerja puskesmas se-Kota Medan yaitu 69 posyandu, yang

Universitas Sumatera Utara

memiliki 5 orang kader tiap posyandu (sebanyak 345 orang kader), dan setelah dilakukan penelusuran bahwa pada tahun 2007 2009 strata posyandu tersebut masih dalam kategori madya. Berdasarkan informasi yang diterima pada bagian Promosi Kesehatan Sub Dinas PKPL (Penyuluhan Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan) Dinas Kesehatan Kota Medan, bahwa kader posyandu hanya mendapatkan imbalan yang minim setiap bulan dalam kegiatan posyandu. Hal ini menyebabkan menurunnya aktivitas kader dalam meningkatkan pemberdayaannya di masyarakat, khususnya dalam membantu tenaga kesehatan dalam melaksanakan program-program kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Berdasarkan data yang diterima dari petugas posyandu di Puskesmas Amplas, hanya 2 atau 3 orang kader posyandu saja yang aktif setiap bulannya sewaktu kegiatan posyandu dilakukan (66,9%). Hal ini menunjukkan bahwa dengan turunnya kinerja kader untuk membantu pelayanan di posyandu, maka cakupan program yang ditetapkan tidak akan berhasil secara maksimal, khususnya dalam menekan kasus gizi kurang dan gizi buruk.

1.2. Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka yang menjadi permasalahan adalah Bagaimana hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan kinerja kader posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Amplas Tahun 2011.

Universitas Sumatera Utara

1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan penelitian , maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan motivasi intrinsik (minat dan kemampuan) dan motivasi ekstrinsik (fasilitas posyandu, pelatihan, pembinaan, insentif, penghargaan dan dukungan dari masyarakat) dengan kinerja kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Amplas Tahun 2011.

1.4. Hipotesis Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka sebagai hipotesis dalam penelitian adalah : 1. Ada hubungan motivasi intrinsik (minat dan kemampuan) dengan kinerja kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Medan Amplas Tahun 2011. 2. Ada hubungan motivasi ekstrinsik (fasilitas posyandu, pelatihan, pembinaan, insentif, penghargaan dan dukungan dari masyarakat) dengan kinerja kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Amplas Tahun 2011.

1.5. Manfaat Penelitian a. Memberikan masukan bagi instansi terkait yaitu puskesmas, pihak kecamatan serta kelurahan dalam rangka peningkatan, pembinaan yang efektif dan efesien terhadap kinerja kader posyandu diwilayahnya. b. Secara teoritis dapat mendukung pengembangan ilmu kesehatan masyarakat, serta dapat dimanfaatkan sebagai acuan ilmiah untuk pengembangan ilmu kesehatan khususnya tentang pemberdayaan kader-kader kesehatan masyarakat

Universitas Sumatera Utara

dengan peningkatan motivasi dan kinerjanya, guna membantu peningkatkan kesehatan masyarakat dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita di wilayah setempat.

Universitas Sumatera Utara