Anda di halaman 1dari 28

ABSTRAK

Kasus Demam Berdarah sudah menjadi perhatian Internasional. Jumlah kasus di seluruh Dunia 50 jt per tahun. Indonesia terbesar di Dunia, stelah Thailand. Sejak ditemukan tahun 1968 di Surabaya. Jumlah penderita terus meningkat setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena curah hujan yang tinggi di tambah Sanitasi lingkungan yang tidak bagus. Berdasakan data profil Kesehatan kota Medan tahun 2007, diwilayah kerja Puskesmas Medan Sunggal jumlah bangunan/rumah yang diperikas sebanyak 6761 rumah yang bebas jentik 3297 (58%). Jenis Penelitian adalah deskriptif untuk menggambarkan pengetahuan kepala keluarga tentang PSN-DBD. Sampel pada penelitian ini berjumlah 85 orang kepala keluarga. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa umur pendidikan dan pekerjaan kepala keluarga berpengaruh terhadap kesadaran PSN. Kepala keluarga berpengetahuan baik sebanyak 49 orang (57,6%), pengetahuan kepela keluarga yang berumur kuarang dari 30 tahun berpengetahuan baik sebanyak 3 orang (3,5%) berumur 30-40 tahun berpengetahuan baik sebanyak 13 orang (15,3%) dan berumur diatas 40 tahun berpengetahuan baik 33 orang (38,8%), berdasarkan pendidikan SMU mayoritas berpengetahuan baik 26 orang (66,4%), Perguruan tinggi berpengetahuan baik 16 orang (18,8%), berdasarkan pekerjaan kepala keluarga PNS berpengetahuan baik sebanyak 14 orang (16,5%), Wiraswasta berpengetahuan baik 29 orang (34,1%). Kesimpulan penelitan di Kelurahan Sunggal Kec. Medan Sunggal umur diatas 40 tahun kesadaran PSN lebih baik , pendidikan SMU mempunyai kesadaran pengetahuan lebih baik dan pekerjaan wiraswasta pengetahuan lebih baik Untuk itu diharapkan agar Puskesmas dan Kelurahan meningkatkan program penyuluhan mengenai pemberantasan sarang nyamuyk yang mengikut sertakan peran masyarakat dalam memutuskan siklus nyamuk Aedes aegypti.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah (RPJM) 2004-2009, salah satu program di bidang kesehatan adalah pencegahan dan pemberantasan penyakit, termasuk wabah penyakit menular. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini juga mendesak untuk diberantas, karena telah menjadi wabah tahunan yang memakan korban jiwa ratusan orang setiap tahunnya (Antonius, 2005). Menurut Nadesul (2007), akibat dari penyakit Demam Berdarah Dengue juga bisa lebih dahsyat dari kasus AIDS (Acquired Immuno Defeciency Syndrome) karena dapat langsung menghilangkan nyawa manusia, juga karena gejala dan tandanya tidak selalu tampil nyata sehingga sulit dikenali sehingga seringkali terlambat diobati dan akibatnya fatal. DBD merupakan penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis dengan penyebaran geografis mirip dengan malaria. Demam dengue banyak terjangkit di daerah tropis dan subtropis. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita demam dengue tiap tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena curah hujan di Asia yang sangat tinggi terutama di Asia timur dan selatan ditambah dengan sanitasi lingkungan yang tidak

bagus. WHO memperkirakan lebih dari 500.000 dari 50 juta kasus demam dengue memerlukan perawatan di rumah sakit. Lebih dari 40% penduduk dunia hidup di daerah endemis demam dengue. Kasus penyakit demam berdarah di Indonesia termasuk terbesar di dunia setelah Thailand. Setiap tahunnya, sejak penyakit ini ditemukan pada tahun 1968 hingga tahun 1998, rata-rata 18 ribu penderita mesti dirawat. Dan dari jumlah tersebut, sekitar 700 sampai 750 penderita meninggal dunia. Kasus Luar Biasa (KLB) demam berdarah terjadi di Indonesia, tepatnya di Jakarta, pada tahun 1998 yang mencapai angka penderita 15.452 dan angka kematian 134 orang wabah demam berdarah pertama kali terjadi pada tahun 1780 secara bersamaan di Asia, Afrika dan Amerika Utara. Wabah besar global di mulai di Asia Tenggara pada tahun 1950 dan hingga 1975 demam berdarah ini telah menjadi penyebab kematian utama di antaranya yang terjadi pada anak-anak (Wirawan, 2008). Kasus demam berdarah sudah menjadi perhatian internasional

dengan jumlah kasusnya di seluruh dunia mencapai 50 juta pertahun. Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit DBD. KLB terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate(CFR) = 2%. Pada

tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). Depkes menetapkan 12 provinsi KLB DBD (Sianturi,2004). Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi

penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air. Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan (Depkes,2006). Berdasarkan data profil kesehatan Kota Medan Tahun 2007, Puskesmas Medan sunggal melakukan pemeriksaan terhadap

rumah/bangunan yang bebas dari jentik nyamuk aedes, ternyata dari jumlah bangunan/rumah yang diperiksa sebanyak 6.761, hanya 3.297 (58%) rumah yang/bangunan yang bebas jentik. Hal ini membuktikan bahwa masih belum optimalnya kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di wilayah kerja Puskesmas Medan Sunggal.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis ingin mengetahui bagaimana Gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang

pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah dengue (PSN-DBD) di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah dengue (PSN-DBD) di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk DBD berdasarkan umur di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari

Tahun 2009. b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk DBD berdasarkan pendidikan di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009. c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk DBD berdasarkan pekerjaan di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas

Untuk lebih meningkatkan pemberdayan kepala keluarga melalui kegiatan penyuluhan dengue. dalam penanggulangan demam berdarah

2. Bagi Institusi

Sebagai bahan masukkan bagi institusi pendidikan untuk dapat melanjutkan penelitian tentang gambaran pengetahuan kepala

keluarga dalam pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue.

3. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti nantinya dalam melaksanakan program penanggulangan demam berdarah dengue.

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah dengue di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

B. Lokasi dan waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian a. Penelitian ini dilakukan di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2009, dengan alasan karena temuan kasusnya lebih banyak di Puskesmas Medan Sunggal .

2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan Bulan Januari Tahun 2009

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Seluruh kepala keluarga di Lingkungan II Kelurahan Sunggal

Kecamatan Medan Sunggal sebanyak 108.

2. Sampel Penghitungan besar sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus sampel seperti dikutip dari Soekidjo (2002). N n = ________ 1 + N (d) Keterangan : n = Besar sampel minimal N = Jumlah populasi = 108 d = Derajat ketepatan yang digunakan ( = 0,05) 108 n = ______________

1 + 108 (0,05)

85 orang

D. No Variabel Defenisi

Defenisi Operasional Paramet er Alat Ukur Skala Ukur Ordinal 1. < 30 tahun 2. 30 40 tahun 3. > 40 tahun Skor

Operasional 1. Umur Umur kepala keluarga yang dihitung berdasarka n ulang tahun yang terakhir Pendidika Pendidikan n formal yang pernah dilalui oleh kepala keluarga Pekerjaa Aktivitas/kegi n atan yang mendapatk an upah

1. < 30 Kuision tahun er 2. 30 40 tahun 3. > 40 tahun

2.

1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. Pergur uan Tinggi 1. PNS 2. Karyawan 3. Wiraswast a 4. Pegawai swasta

Kuision er

Ordinal

3.

Kuision er

Ordinal

1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. Pergurua n Tingi 1. PNS 2. Karyawa n 3. Wiraswa sta 4. Pegawai

4.

Pengetah uan kepala keluarga tentang pembera ntasan sarang nyamuk

Segala sesuatu yang diketahui kepala keluarga tentang pemberantas an sarang nyamuk

Kegiatan pembera ntasan sarang nyamuk

Kuision er

swasta Ordinal 1. Penget ahuan kurang , bila menja wab < 60% soal yang

benar 2. Penge tahuan cukup, bila menja wab 60 75% soal yang benar 3. Penge tahuan Baik, jika menja wab > 75% soal yang benar

E. Tehnik Pengumpulan Data 1. Data primer adalah data diperoleh dari hasil jawaban terhadap kuesioner yang diberikan kepada responden. 2. Data skunder adalah data yang diperoleh dari Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009.

F. Aspek Pengukuran Aspek pengukuran dilakukan terhadap kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di . Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009. Tiap-tiap item pertanyaan berdasarkan jawaban dari semua pertanyaan yang diberikan dapat dikategorikan pengetahuan dengan skala pengukuran sebagai berikut: Pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk a. Penilaian pengetahuan kurang baik, jika jawaban yang benar 60 % dari masing-masing item pertanyaan. b. Penilaian pengetahuan cukup , jika jawaban yang benar 60% - 75% dari masing-masing item pertanyaan. c. Penilaian pengetahuan baik, jika jawaban yang benar 75% dari masing-masing item pertanyaan.

G. Pengolahan Data

Pengolahan data menggunakan distribusi frekuensi untuk melihat gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah dengue (PSN-DBD) di Lingkungan II Kelurahan

Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 dan sebelum data dianalisa maka dilakukan pengolahan data dengan cara : 1. Editing (Pemeriksaan data) Dilakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan, data diperiksa

dan diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang kembali. 2. Coding (pemberian kode) Data yang telah diedit di kode dalam pentabulasiannya. 3. Tabulating (Pemasukan data dalam tabel) Setelah data di kode kemudian ditabulasikan ke dalam tabel distribusi frekuensi.

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Pengetahuan kepala keluarga bervariasi yaitu dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 Total Persentase

Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Pengetahuan Kurang Pengetahuan Cukup Pengetahuan Baik Total

16 20 49 85

18,8 23,5 57,6 100,0

Pada tabel 1 dapat dilihat mayoritas pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal yaitu kepala keluarga mayoritas yang berpengetahuan baik yaitu ada sebanyak 49 orang (57,6%), dan minoritas kepala keluarga yang mempunyai pengetahuan kurang ada sebanyak 16 orang (18,8%).

B. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Umur Umur kepala keluarga bervariasi yaitu kepala keluarga yang berumur kurang dari 30 tahun, umur 30 sampai 40 tahun, dan umur diatas 40 tahun dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2 : Distribusi Frekuensi Pengetahuan Kepala keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Umur di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasn Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Kurang Cukup Baik n % n % n % 1 1,2 1 1,2 3 3,5 0 0 5 5,9 13 15,3 15 17,6 14 16,5 33 38,8 16 18,8 20 23,5 49 57,6

Umur

Total

Persen tase 5,9 21,2 72,9 100,0

< 30 Tahun 30 40 Tahun > 40 Tahun Total

5 18 62 85

Pada tabel 2 dapat dilihat mayoritas pengetahuan kepala keluarga berdasarkan umur adalah kepala keluarga yang berumur kurang dari 30 tahun mayoritas berpengetahuan baik ada sebanyak 3 orang (3,5%) dan minoritas berpengetahuan kurang dan cukup masing-masing ada sebanyak 1 orang (1,2%). Kepala keluarga yang berumur diantara 30-40 tahun yang berpengetahuan baik ada sebanyak 13 orang (15,3%) dan minoritas yang berpengetahuan cukup ada sebanyak 5 orang (5,9%). Kepala keluarga yang

berumur diatas 40 tahun yang berpengetahuan baik ada sebanyak 33 orang (38,8%), dan minoritas yang berpengetahuan cukup ada sebanyak 14 orang (16,5%).

C.

Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Pendidikan Kepala keluarga yang mempunyai tingkat pendidikan yang tertinggi

yaitu D3/Perguruan Tinggi dan pendidikan yang terendah yaitu Sekolah Dasar. Distribusi tingkat pendidikan kepala keluarga 2009, dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Pengetahuan Kepala keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Kurang Cukup Baik n % n % n % 12 14,1 1 3 3,5 1,2 1 1,2 8 4 4,7 9,4 2 5,3 10 26,3 26 66,4 1 1,2 1 1,2 16 18,8 16 18,8 20 23,5 49 57,6

Tingkat Pendidikan SD SLTP SMU Perguran Tinggi Total

Tot al 16 13 38 18 85

Perse ntase 18,8 15,3 44,7 21,2 100,0

Pada tabel 3 dapat dilihat mayoritas pengetahuan kepala keluarga berdasarkan tingkat pendidikan adalah kepala keluarga yang berpendidikan SD mayoritas memiliki pengetahuan yang kurang baik ada sebanyak 12 orang (14,1%) dan minoritas berpengetahuan cukup ada sebanyak 1 orang (1,2%) , kepala keluarga yang berpendidikan SLTP mayoritas mempunyai pengetahuan cukup ada sebanyak 8 orang (9,4%) dan minoritas mempunyai pengetahuan yang kurang ada sebanyak 1 orang (1,2%). Kepala keluarga yang berpendidikan SMU mayoritas yang mempunyai pengetahuan yang baik ada sebanyak 26 orang (66,4%), dan minoritas mempunyai pengetahuan yang kurang ada sebanyak 2 orang (5,3%). Kepala keluarga yang berpendidikan perguruan tinggi mayoritas mempunyai pengetahuan yang baik ada sebanyak 16 orang (18,8%), dan minoritas berpengetahuan kurang dan cukup masing-masing ada sebanyak 1 orang (1,2%).

D.

Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Status Pekerjaan Pengetahuan kepala keluarga juga dibedakan berdasarkan status

pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Pengetahuan Kepala keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Tingkat Pekerjaan di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Kurang Cukup Baik n % n % n % 1 1,2 3 3,5 14 16,5 0 0 1 1,2 1 1,2 14 16,5 15 17,6 29 34,1 1 1,2 1 1,2 5 5,9 16 18,8 20 23,5 49 57,6

Pekerjaan

Tot al 18 2 58 7 85

Persen tase 21,2 2,4 68,2 8,2 100,0

PNS Karyawan Wiraswasta Pegawai swasta Total

Pada tabel 4 dapat dilihat pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue berdasarkan pekerjaan kepala keluarga adalah mayoritas kepala keluarga yang bekerja sebagai PNS berpengetahuan baik ada sebanyak 14 orang (16,5%) dan minoritas yang berpengetahuan kurang baik ada sebanyak 1 orang (1,2%). Kepala keluarga yang bekerja sebagai karyawan mayoritas yang mempunyai pengetahuan yang cukup dan baik ada sebanyak 1 orang (1,2%). Kepala keluarga yang bekerja wiraswasta mayoritas berpengetahuan baik ada sebanyak 29 orang (34,1%) dan minoritas yang mempunyai pengetahuan yang kurang ada sebanyak 14 orang (16,5%). Kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai swasta mayoritas mempunyai pengetahuan baik ada

sebanyak 5 orang (5,9%), dan minoritas berpengetahuan kurang dan cukup masing-masing sebanyak 1 orang (1,2%).

BAB V PEMBAHASAN

A. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Kepala keluarga mayoritas yang berpengetahuan baik yaitu ada sebanyak 49 orang (57,6%), dan minoritas kepala keluarga yang mempunyai pengetahuan kurang ada sebanyak 16 orang (18,8%). Menurut Notoatmojo (2003), bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil tahu manusia, ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Penginderaan panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut asumsi penulis bahwa Kepala keluarga sudah dapat memahami dan mengerti bahwa penyebab demam Berdarah Dengue adalah melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (betina). Meskipun kepala keluarga sudah memahami tentang bahaya demam berdarah tetapi kasus demam berdarah masih ada dijumpai, hal ini disebabkan masih kurangnya kemauan kepala keluarga secara rutin melaksanakan kegiatan gotong royong, sehingga dilakukan. program pemberantasan sarang nyamuk sering sekali tidak

B. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Umur Pengetahuan kepala keluarga berdasarkan umur yaitu pengetahuan

kepala keluarga mayoritas berpengetahuan baik berumur diatas 40 tahun ada sebanyak 33 orang (38,8%) dan minoritas berpengetahuan kurang dan cukup masing-masing ada sebanyak 1 orang (1,2%). Kepala keluarga yang berpengetahuan kurang berumur dibawah 30 tahun ada sebanyak 1 orang (1,2%). Menurut Notoatmojo (2003) orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola pengetahuan menurut golongan umur. Pengelompokan umur pada masyarakat disesuaikan dengan pemanfaatan sumber informasi yang diterima. Menurut asumsi penulis bahwa makin bertambahnya umur seseorang maka informasi yang dilihat dan diterima juga semakin banyak, sehingga dapat lebih paham dan mengerti mengenai informasi yang diterimanya.

C. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Pendidikan Pengetahuan kepala keluarga berdasarkan tingkat pendidikan adalah kepala keluarga yang berpendidikan SMU mayoritas memiliki pengetahuan yang baik ada sebanyak 26 orang (66,4%) dan minoritas berpengetahuan kurang dengan pendidikan SLTP ada sebanyak 1 orang (1,2%).

Menurut

Notoatmojo

(2003),

bahwa

pendidikan

adalah

proses

pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. Menurut asumsi penulis bahwa tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap intelektualnya semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin tinggi tingkat intelektualnya. Menurut asumsi penulis bahwa tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap intelektualnya semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin tinggi tingkat intelektualnya. Kepala keluarga mayoritas mengetahui bahwa Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa, dilakukan dengan cara penyemprotan racun serangga. Berbagai racun serangga termasuk yang dipergunakan sehari-hari dapat digunakan untuk membunuh nyamuk ini. Untuk membasmi aedes aegypti dengan racun serangga, maka penyemprotan perlu dilakukan di dalam maupun di halaman rumah. Hal ini mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada tumbuh tumbuhan atau benda-benda tergantung di dalam rumah dan di luar rumah. Penyemprotan harus dilakukan berulang-ulang kerena tiap hari ada nyamuk batu yang menetas (Wibowo, 2008). Kepala keluarga belum banyak mengetahui mengenai metode lingkungan, biologis dan kimiawi dalam penanggulangan demam berdarah dengue. Adapun metode yang dilakukan itu adalah metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat

perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia dan perbaikan mengganti/mengguras vas bunga tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya. Metde biologis yaitu dengan menggunakan ikan pemakan jentik ( ikan adu/ ikan cupang). Metode kimiawi yaitu dengan pengasapan/fogging (dengan menggunakan kemungkinan malathion penularan dan fenthion), sampai bergun batas untuk waktu mengurangi tertentu.

Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, (Kristina, 2004).

D. Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari. Kepala keluarga yang bekerja sebagai wiraswasta mayoritas

berpengetahuan baik ada sebanyak 29 orang (34,1%) dan minoritas yang bekerja sebagai karyawan pegawai swasta dan PNS yang berpengetahuan kurang baik ada sebanyak 1 orang (1,2%).

Menurut Notoatmodjo (2003), bahwa pekerjaan merupakan suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian penulis berasumsi bahwa kepala keluarga yang mempunyai kesibukan sehari-hari dapat meluangkan waktunya disaat libur bekerja untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara bersama-sama dengan kepala keluarga yang lain untuk membersihkan lingkungannya sendiri. Kepala keluarga memahami pentingnya kegiatan dalam pemberantasan sarang nyamuk tersebut, karena pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian nyamuk Aedes aegypti. Cara yang tepat guna dalam pemberantasan penyakit DBD adalah melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yaitu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jenis nyamuk penular demam berdarah dengan cara melakukan gerakan 3 M, yaitu menguras bak mandi, bak WC, mengganti air pada pot bunga setiap hari, menutup tempat penampungan air seperti tempayan, drum dan lainlain. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas seperti kaleng, ban dan lain - lain. Memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, gupi dan lain - lain) pada kolam - kolam hias yang ada di rumah / lingkungan rumah. Memasukkan racun pembasmi jentik (Larvasida) pada tempat penampungan air yang tidak dapat dikuras / ditutup rapat. Cara ini dikenal dengan istilah Abatesasi. Memasang kawat kasa di dalam rumah. Menghindari kebiasaan

menggantung pakaian dalam kamar. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai. Menggunakan kelambu pada saat tidur di siang hari dan memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk (Wibowo, 2008).

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah dengue (PSN-DBD) di Lingkungan II Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal Bulan Januari Tahun 2009 diperoleh kesimpulan : 1. Mayoritas pengetahuan kepala keluarga berpengetahuan baik yaitu ada sebanyak 49 orang (57,6%), dan minoritas kepala keluarga yang mempunyai pengetahuan kurang ada sebanyak 16 orang (18,8%). 2. Pengetahuan kepala keluarga berdasarkan umur yaitu mayoritas yang

berumur kurang dari 30 berpengetahuan baik ada sebanyak 3 orang (3,5%), berumur diantara 30-40 tahun yang berpengetahuan baik ada sebanyak 13 orang (15,3%) dan kepala keluarga yang berumur diatas 40 tahun yang

berpengetahuan baik ada sebanyak 33 orang (38,8%). 3. Pengetahuan kepala keluarga berdasarkan tingkat pendidikan yaitu kepala keluarga yang berpendidikan SD mayoritas memiliki pengetahuan yang

kurang baik ada sebanyak 12 orang (14,1%), berpendidikan SLTP berpengetahuan cukup ada sebanyak 8 orang (9,4%), berpendidikan SMU mayoritas yang mempunyai pengetahuan yang baik ada sebanyak 26 orang (66,4%) dan berpendidikan perguruan tinggi berpengetahuan yang baik ada sebanyak 16 orang (18,8%). 4. Pengetahuan kepala keluarga berdasarkan pekerjaan yaitu mayoritas kepala keluarga yang bekerja sebagai PNS berpengetahuan baik ada sebanyak 14

orang (16,5%), yang bekerja sebagai karyawan mayoritas yang mempunyai pengetahuan yang cukup dan baik ada sebanyak 1 orang (1,2%), yang bekerja wiraswasta berpengetahuan baik ada sebanyak 29 orang (34,1%), dan yang bekerja sebagai pegawai swasta mempunyai pengetahuan baik ada sebanyak 5 orang (5,9%).

B. Saran - saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah : 1. Bagi Puskesmas Agar lebih meningkatkan program penyuluhan mengenai pemberantasan sarang nyamuk Aedes Aegypti oleh masyarakat. 2. Bagi Masyarakat (Kepala keluarga) Sebagai dasar informasi agar para kepala keluarga dapat lebih

meningkatkan peran sertanya dalam pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue.

DAFTAR PUSTAKA Antonius, 2005, Kebijakan Pemberantasan Wabah Berdarah Dengue, www.theindonesianinstitute.com Depkes, 2006, Demam Berdarah, http://www.Depkes.go.id.2 Hindra I. Satari, SP(AK), 1997, Demam Berdarah Perawatan Di Rumah dan Rumah Sakit, Penerbit Puspa Swara, Jakarta. Kristina, 2004, Kajian Masalah Kesehatan, www.litbangkes.go.id, diakses tanggal 22 November 2008. Monica, Ester, 1999, Demam Berdarah Dengue, diagnosis, pengobatan, pencegahan dan pengendalian, Penerbit EGC Jakarta. Penyakit Demam

Nadesul, Handrawan, 2007, Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah, PT Gramedia, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. __________________, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Rezeki, H.Hadinegoro, 1999, Demam Berdarah Dengue, Penerbit FK UI, Jakarta. Sahrul, 2004, Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue, www.dkk-bpp.com. Sianturi, G 2004, Depkes Tetapkan 12 Provinsi KLB Demam Berdarah, www.kompas.co.id, diakses tanggal 17 November 2008. Sumarmo, Sunaryo Poorwo Soedarmo, 1988, Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak, Penerbit UI Press, Jakarta Wibowo, 2008, Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD), wordpress.com, 2008, diakses tanggal 17 November 2008. Wirawan, Demam Berdarah, http://medisiana.com, diakses tanggal 27 Juni 2008.