Anda di halaman 1dari 9

Bahaya Penggunaan Merkuri Dalam Sediaan Kosmetik

Disusun Oleh : Raden Bayu Indradi 260110100112

Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran 2011

Daftar Isi

1. Pendahuluan 1.1 Krim Pemutih.. 1.2 Mengenai Merkuri 2. Tinjauan Pustaka.. 2.1 Mekanisme Kerja Merkuri.. 2.2 Bahaya Penggunaan Merkuri

2 2 2 4 4 5

2.2.1 Bahan Teratogenik.. 5 3. Kesimpulan Daftar Pustaka. 7 8

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Krim Pemutih
Whitening cream yang merupakan campuran beberapa bahan kimia memiliki fungsi untuk menyamarkan noda hitam atau cokelat pada kulit. Krim pemutih dapat memutihkan kulit karena kandungan kimia dalam krim tersebut dapat mencegah hiperpigmentasi. Whitening cream bisa digolongkan sebagai kosmetik dan obat. Penggolongan tersebut didasarkan pada tingkat keamanan zat aktifnya. Kosmetik pemutih boleh diperjualbelikan dengan bebas di pasaran karena kandungan zat aktif di dalamnya sedikit, sedangkan penggunaan obat pemutih harus disertai dengan resep dan di bawah pengawasan dokter. Namun dalam kenyataannya, obat pemutih yang harusnya ditangani oleh dokter ini malah banyak dijual bebas di pasaran. Bahkan dengan kadar kandungan zat aktif berlebih untuk mendapatkan hasil yang instan . Sebenarnya telah ada standard tertentu mengenai kandungan zat aktif dalam kosmetik. Misalnya kandungan hidroquinon untuk kosmetik yang bisa dijual bebas di pasaran hanya diperbolehkan 2% dari netto produk, lebih dari itu harus diperlakukan sebagai obat. Asam retinoat yang berfungsi dalam pengelupasan sel-sel kulit hanya boleh dipakai di bawah pengawasan dokter. Selain kedua zat itu, krim pemutih juga bisa jadi mengandung zat aktif lain yang perlu diperhatikan kadar amannya seperti monobenzil dan monometil hidrokuinon, asam askorbat, albutin, alantoin, peroksida, bahkan zat-zat berbahaya seperti merkuri, cloquinol, dan vioform. Semua bahan itu rata-rata berfungsi sama, yaitu menghilangkan noda hitam, mencerahkan kulit, dan sekaligus menghaluskannya.

1.2.

Mengenai Merkuri
Merkuri atau raksa (Hg) adalah unsur kimia berbentuk logam yang sangat penting dalam

teknologi di abad modern saat ini. Merkuri adalah unsur yang mempunyai nomor atom (NA=80) serta mempunyai massa molekul relatif (MR=200,59). Merkuri diberikan simbol kimia Hg karena merupakan singkatan yang berasal bahasa Yunani Hydrargyricum yang berarti cairan perak. Bentuk fisik dan kimianya sangat menguntungkan karena merupakan satu-satunya logam yang berbentuk cair dalam temperatur kamar (25C), titik bekunya

paling rendah (-39C), mempunyai kecenderungan menguap lebih besar, mudah bercampur dengan logam-logam lain menjadi logam campuran (Amalgam/Alloy), juga dapat mengalirkan arus listrik sebagai konduktor baik tegangan arus listrik tinggi maupun tegangan arus listrik rendah sehingga merkuri banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri.

Uniknya bentuk kimia merkuri mempunyai pengaruh terhadap pengendapannya. Secara umum ada tiga bentuk merkuri yaitu :

a. Unsur Merkuri (Hg0) Mempunyai tekanan uap yang tinggi dan sukar larut di dalam air. Pada suhu kamar, kelarutannya kira-kira 60 mg/liter dalam air dan antara 5- 50 mg/liter dalam lipida. Bila ada oksigen, merkuri diasamkan langsung ke dalam bentuk ionik. Uap merkuri hadir dalam bentuk monoatom (Hg). Saluran pernapasan merupakan jalan utama penyerapan unsur raksa dalam bentuk uap.

b. Merkuri Anorganik (Hg2+ dan Hg2 2+) Di antara dua tahapan pengoksidaan, Hg2+ adalah lebih reaktif. Ia dapat membentuk kompleks dengan ligan organik, terutama golongan sulfurhidril. Contohnya HgCl2 sangat larut dalam air dan sangat toksik, sebaliknya HgCl tidak larut dan kurang toksik.

c. Merkuri Organik Merkuri organik adalah senyawa merkuri yang terikat dengan satu logam karbon, contohnya metil merkuri. Metil merkuri merupakan merkuri organik yang selalu menjadi perhatian serius dalam toksikologi. Ini karena metil merkuri dapat diserap secara langsung melalui pernapasan dengan kadar penyerapan 80%. Uapnya dapat menembus membran paru-paru. Di dalam darah, 90% dari metil merkuri diserap ke dalam sel darah merah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Mekanisme Kerja Merkuri
Jenis merkuri yang banyak digunakan pada kosmetika, obat pencahar, pemutih gigi, obat diuretik dan antiseptic adalah merkuri anorganik (Hg+, Hg2+). Senyawa merkuri ini dapat membentuk garam. Contohnya merkuri nitrat (Hg(NO3)2), merkuri klorida (HgCl2) dan merkuri oksida (HgO)Merkuri anorganik juga dapat terbentuk dari metabolisme merkuri metalik atau organomerkuri. Keracunan merkuri anorganik terutama meliputi masalah saluran pencernaan ( colitis, gingivitis, stomatitis, dan permasalahan kelenjar saliva) serta kelainan metabolismee tubuh (proteinuria, hematuria,dysuria dan uremia). Iritasi kulit dapat terjadi apabila senyawa ini kontak dengan kulit. Mekanismenya seperti ini : pada kulit kita banyak sekali terdapat pori, setiap pori tersebut terhubung dengan pembuluh darah. Krim yang dioleskan ke permukaan kulit tentu saja akan masuk juga ke pori-pori, selanjutnya terbawa masuk ke pembuluh darah dan akhirnya bisa menyebabkan gangguan sistem saraf, ginjal, serta organ tubuh lainnya. Setelah pemakaian bertahun-tahun, merkuri dapat mengendap di bawah kulit sehingga kulit akan menjadi biru kehitaman. Hal ini dapat berujung pada kanker dan merkuri itu akan mengendap di dalam ginjal yang berakibat terjadinya gagal ginjal yang sangat parah (bisa menyebabkan kematian). Merkuri dalam krim pemutih (yang mungkin tidak tercantum pada labelnya) dapat menimbulkan keracunan bila digunakan untuk waktu lama. Dalam tubuh manusia merkuri anorganik dapat membentuk kompleks dengan gluthation pada hati dan disekresikan dalam bentuk kompleks merkuri-glutathion atau merkuri-sistein. Selain membentuk kompleks dengan gluthation dan sistein, merkuri anorganik juga membentuk kompleks dengan garam empedu yang selanjutnya disekresikan bersamaan dengan feces. Sayangnya kompleks merkuri anorganik dengan garam empedu ini dalam usus besar dapat diabsorbsi kembali kedalam tubuh manusia.

2.2. Bahaya Penggunaan Merkuri


Pemakaian kosmetik yang mengandung Merkuri dapat mengakibatkan : 1. Dapat memperlambat pertumbuhan janin 2. Mengakibatkan keguguran (Kematian janin dan Mandul) 4

3. Flek hitam pada kulit akan memucat (seakan pudar) dan bila pemakaian dihentikan, flek itu dapat / akan timbul lagi & bertambah parah (melebar). 4. Efek REBOUND yaitu memberikan respon berlawanan (KULIT AKAN MENJADI GELAP/KUSAM SAAT PEMAKAIAN KOSMETIK DIHENTIKAN). 5. Bagi Wajah yang tadinya bersih lambat laun akan timbul flek yang sangat parah (lebar). 6. Dapat mengakibatkan kanker kulit.

Walau tidak seburuk efek merkuri yang tertelan (dari makanan ikan yang tercemar), tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Kendati cuma dioleskan ke permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk ke dalam darah, lalu ,memasuki system saraf tubuh. Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai gangguan system saraf, seperti tremor (gemetar), insomnia (tidak bisa tidur), pikun, gangguan penglihatan, ataxia (gerakan tangan tak normal), gangguan emosi, depresi dll.

2.2.1. Bahan Teratogenik


Merkuri termasuk salah satu bahan teratogenik. Teratogenik (teratogenesis) adalah istilah medis yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat monster. Dalam istilah medis, teratogenik berarti terjadinya perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio sehingga pembentukan organ-organ berlangsung tidak sempurna (terjadi cacat lahir). Di dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor 434.1 (2001), teratogenik adalah sifat bahan kimia yang dapat menghasilkan kecacatan tubuh pada kelahiran. Sebuah publikasi tahun 2010 menyebutkan bahwa ada 6 mekanisme teratogenik utama yang terkait dengan penggunaan obat-obatan: 1. Antagonisme asam folat (zat yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin), 2. Gangguan stimulasi sel saraf (Sistem persarafan yang merupakan suatu sistem regulasi di dalam tubuh janin), 3. Gangguan endokrin (Pada pertumbuhan dan perkembangan janin, dibutuhkan suatu metabolism yang normal dan kelak mempengaruhi perkembangan janin. sehingga jika dalam fase pertubuhan janin tersebut terganggu akibat kelainan metabolisme endokrin, tentunya akan berdampak pada bentuk dan performens janin).

4. Stres oksidatif, jika ini terjadi yang mungkin disebabkan oleh kelainan oksidatif hipoksia atau kekurangan oksigen janin, akan berdampak pada perkembangan otak sang janin, yang kelak berakibat retardasi mental. 5. Gangguan pembuluh darah janin, dapat berpengaruhi terhadap pertumbuhan janin, hal ini didasarkan bahwa fungsi pembuluh darah sebagai alat transportasi di dalam tubuh janin. 6. Gangguan reseptor-spesifik yang dimediasi oleh enzim teratogenesis. Jika gangguan ini terjadi sebagai manifestasi kelainan genetik, sehingga dapat diprediksi perkembangan janin kelak akan mengalami kelainan dan kecacatan tubuh.

Selain enam mekanisme di atas, diketahui prinsip-prinsip dan merupakan panduan pemahaman tentang zat teratogenik dan efeknya pada pengembangan janin, yaitu: 1. Kerentanan janin terhadap zat teratogen yang tergantung pada faktor genetik janin selama konsepsi, serta cara janin berinteraksi dengan faktor lingkungan yang merugikan tersebut. 2. Kerentanan dalam proses teratogenesis akan bervariasi dan tergantung pada tahap perkembangan janin didalam rahim pada saat terpapar oleh pengaruh yang merugikan tersebut. 3. Zat teratogenik tersebut, dapat berinteraksi dengan cara tertentu pada perkembangan sel-sel dan jaringan dalam menstimulasi berbagai rangkaian perkembangan abnormal janin. 4. Akses yang berpengaruh buruk dalam perkembangan jaringan janin, tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan teratogenik: seperti sifat dari zat teratogen, rute dan tingkat paparan pada ibu, demikian pula tingkat kemampuan zat teratogenik tersebut dalam melewati plasenta dan penyerapannya secara sistemik. 5. Secara umum, ada empat manifestasi akibat kelainan janin yaitu: Kematian, kelainan, retardasi pertumbuhan, serta kecacatan fungsional janin. 6. Manifestasi penyimpangan perkembangan janin, juga tergantung terhadapa tingkat dan dosis obat yang dikonsumsi yang berpengaruh terhadap perkembangan janin dan kerusakan yang ditimbulkannya.

BAB III KESIMPULAN

Sangat jelas, penggunaan merkuri dalam krim pemutih wajah lebih banyak bahaya daripada manfaatnya. Berbagai penyakit dapat muncul akibat penggunaan krim pemutih yang mengandung merkuri. Maka, penggunaan merkuri dilarang karena termasuk bahan berbahaya. Larangan penggunaan bahan berbahaya dalam kosmetik seperti mercury dan rhodamin telah tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.445/MENKES/PER/V/1998 tentang Bahan, Zat Warna, Substratum, Zat Pengawet dan Tabir Surya dalam Kosmetik dan Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.4.1745 tentang Kosmetik. Merkuri adalah bahan pemutih yang murah dan cepat reaksinya, tapi memiliki dampak negatif yang luar biasa. Selain bisa menimbulkan iritasi, bintik hitam, dan luka pada kulit, dalam jangka panjang penggunaan mercury bisa merangsang timbulnya kanker kulit ataupun kerusakan susunan saraf. Hanya karena ingin memiliki kulit wajah dan kulit tubuh yang putih secara instan, tidak berarti kita mengambil resiko yang bisa jadi penyesalan seumur hidup. Sebaiknya, konsumen jika memang ingin memutihkan kulit, hindari pemutih yang menggunakan merkuri dan juga hydroquinon. Lebih baik menggunakan pemuitih pemutih kulit alami seperti lulur, masker, lulur bengkuang, dll. Bahan bahan tersebut jelas lebih aman bagi kesehatan, sehingga tidak akan menimbulkan masalah baru setelah masalah pemutihan kulit selesai. Selain bahan alami dapat juga memilih produk produk pabrik, namun pilihlah produk-produk yang memiliki nomor registrasi BPOM, nama produsen atau pemegang lisensi secara jelas, dan telah memiliki standarisasi produk seperti CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik). Dengan adanya era pasar bebas maka konsumen juga harus lebih teliti dan kritis terhadap produk yang beredar di pasaran, terutama dari luar negeri. Pastikan integritas dari produsen dan penjual produk tersebut, agar tak lagi tertipu dengan promosi-promosi bombastis semata.

Daftar Pustaka

Admin. 2011. Wajahku Membahayakan Duniaku. Available online at http://www.chem.itb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=43:whiteningcream&catid=1:news&lang=en [diakses tanggal 1 September 2011]. Anonim. 2008. Bahaya Merkuri Pada Kosmetik. Available online at http://bocahiseng.blogspot.com/2008/11/bahaya-merkuri-pada-kosmetik.html [diakses tanggal 1 September 2011]. Fredrik. 2009. Stop Beli Kosmetik Mengandung Hydroquinon dan Mercury. Available online at http://www.skw.co.id/tips.php?id=276 [diakses tanggal 1 September 2011]. Ikrar, Taruna. 2010. Kecacatan Janin Akibat Makanan dan Obat Obatan. Available online at http://kabarinews.com/article/Berita_Amerika/Amerika_Kesehatan/Kecacatan_Janin_Akibat_M akanan_dan_ObatObatan/35465 [diakses tanggal 1 September 2011]. Maarif, Samsul. 2011. Makalah Teratogenik. Available online at http://www.unjabisnis.net/2011/01/makalah-teratogenik.html [diakses tanggal 1 September 2011]. Mafiki. 2011. Merkuri Anorganik. Available online at http://mafiki.com/informasi-mekanisme-merkurisebagai-pemutih [diakses tanggal 1 September 2011]. Tsani. 2011. Merkuri. Available online at http://tsani-oke.blogspot.com/2011/04/merkuri.html [diakses tanggal 1 September 2011].